Skip navigation

Ada banyak makanan2 unik di luar sana. Mulai dari pas saya bocah waktu itu makan ikan pari, pas saya mulai menjadi food blogger, hingga hari ini… di saat saya sudah berkelana 10 ribu kilometer ke Finlandia dan mencicipi sesuatu yang unik sampai sesuatu yang bisa kita sebut premium. Ada satu bahan makanan yang buat saya selalu punya tempat tersendiri di hati: jamur. Ah jamur doang, apa serunya sih? Bukan jamur doang, bukan sekedar soal jamurnya, tapi soal apa yang di dalam jamur itu.

Mengingat masa kecil, saya yang hobi banget main video game PS berjudul Harvest Moon, ada satu jamur yang menarik perhatian buat saya, jamur bernama truffle.

truffle-hm

Ini dari bentuknya, bukan truffle. Ini matsutake, jamur yang juga mahal. Ntah siapa yang nerjemahin jadi gitu!

Jamur ini memiliki nilai jual yang tinggi di game ini lho. Saya tumbuh dan masih bertanya2 itu apa. Hingga dekade 2000an akhir, baru saya tahu seberapa besar nilai jamur ini! Jamur ini per 1 kilogram bisa laku 3000 dolar Amerika hingga 30000 untuk truffle putih! Saya bersyukur udah beberapa kali nyicip. Sebagai topping pizza, tambahan buat kentang goreng, sampai IRISAN LANGSUNG di atas pasta. Emang, kenyataannya jamur ini emang spesial. Punya rasa yang mirip keju, telur, dan kadang bawang putih dengan tekstur agak keras kayak keju yang kering. Saya beberapa kali kepikiran gimana cara menanam jamur ini, sempat saya diajak di proyek penanaman jamur ini tapi sayangnya ga berlanjut.

Beberapa hari lalu (Jumat lalu, 23 Desember 2016)…

truffle-rino

Makjang… truffle all you can take!

Teman saya, Rino, pamer foto ketika dia makan di buffet salah satu hotel di Jakarta dan dia nyomot truffle. Truffle hitam… ntah, harusnya ini truffle hitam Perigord dari Perancis (Tuber melanosporum) yang satu kilogram nya 3000 dolar itu.

Buffet

Buffet

Buffet

Ya… kalian ga salah liat, buffet. Terus dia nanya, mendingan diapain. Saya bilang kalo saya bisa kultur pake media agar kentang dekstrosa (Potato Dextrose Agar, PDA), terus ditransfer ke pohon inang. Ya! Logikanya segampang itu kan?? Kita berhasil nantinya dan kita bisa kaya!! Saya pun akhirnya minta ama Rino… dan dikasih :v

truffle

Di atas tisu, sebelum dibungkus

Hmmm… saya mending buat PDA langsung atau saya ngontak Pak Nyoman ya… itu pikiran saya waktu itu. Pak Nyoman, Dr. Nyoman Pugeg Aryantha adalah dosen mikologi di ITB, dosen saya dan saat ini dekan SITH ITB. Kalau saya buat PDA, saya seenggaknya bisa mengkultur dan yang saya perlu lakukan tinggal nyari pohon yang pas, tapi itu peluangnya 50%… Kalau saya kirim ke Pak Nyoman, beliau pasti tahu apa yang harus dilakukan dong, cuma gimana ngirim ke Bandung? Di sisi lain, Rino bilang kalo dia mau investasi dana kalau emang bisa… kalo emang bisa…

Kalo pake JNE, berapa lama? Oke, akhirnya saya kirim chat WhatsApp ke beliau…

Saya: Assalamu’alaikum pak, maaf mengganggu. Saya dan teman saya di jakarta dapat “sampel segar” (truffle, foto di atas) ini pak di hotel. Sebaiknya di apakan ya pak?

(4 jam lebih kemudian)

Pak Nyoman: Wow fresh truffle… wah nothing we can do. Walau bisa mengisolasi, dia butuh tanaman inang sub temperata dan iklim juga tidak bisa di tropis

Saya: Kita tidak bisa pakai spesies analog di tropis pak?

PN: Climate juga tidak cocok

Saya: Truffle butuh dormansi ya pak?

PN: Iya sebagai umumnya ascomycete perlu masa dorman sclerotium

Kalo ahlinya sendiri udah ngomong gini dengan detail (beda ama kasus Rafflesia dulu karena soal teknis yang belum banyak, ini udah lebih banyak diketahui… apalagi truffle itu mikoriza), saya pun bingung mau apa. Terus saya ke dapur dan untuk buat PDA aja ga ada wadahnya (mana dapur saya jorok pula). Akhirnya saya memilih buat diamkan jamurnya dulu di dalam lipatan tisu, dan dimasukkan lagi dalam botol selai berisi beras kering yang udah saya sterilkan di oven microwave.

Empat hari kemudian…

Saya buka botol selainya… dan UDAH BAU TRUFFLE. Buset! Berapa banyak senyawa aromatik jamur ini?? Awalnya saya mengira kalo bau truffle ini hanya bisa menyebar lewat perantara cairan atau kontak langsung, yang menjelaskan bagaimana dalam jumlah sedikit aja dia bisa memberi aroma dan rasa ke makanan, atau buat menginfusi minyak zaitun satu botol (dengan potongan kecil aja). Tapi ternyata ini aromanya kuat banget sampe satu botol, sampe beras2nya, dan tisu2nya jadi bau truffle! (Wah anjir… beras terinfusi truffle ini bisa saya jual berapa ya??)

truffle-rice-flea

Bahkan kutu berasnya pun kena… yak, kutu seharga Rp 100 ribu!

Terus saya buka tisunya… sial! Udah mulai ada miselium jamur! Wah gawat!!

Akhirnya saya ambil yang tersisa dan belum jamuran, saya ambil minyak zaitun di dapur dan saya cemplungkan truffle nya ke sana.

truffle-oil

Minyak truffle… modal 70rb (minyaknya doang, truffle kan dikasih), untuk ngebuat benda 500rb!

Terus saya buka hari ini (tanggal 27 Desember 2016), wew! Minyaknya udah wangi truffle! Serius, berapa banyak senyawa aromatik di jamur ini??

…dan gimana kondisi jamur itu sendiri?

img_9397

Yha……

Ummmm… saya harus apa nih?? Saya harus apa?? SAYA HARUS A…… oke tenang2… mari kita buat medium PDA dadakan!

img_9398

Sugar, potato, and everything nice…

Oke, potong kentang, gula sedikit, air panas… rendam, tusuk2 kentangnya, tuang ke botol… oke, ga ada agar, jadilah kaldu kentang dekstrosa (Potato Dextrose Broth, PDB) versi dadakan!

img_9399

Masukkan potongan jamurnya!

Ummmm… yah… ntah lah…

(Bakal di update!)

-AW-

Sudah 3 tahun nampaknya setelah saya waktu itu ngebuat artikel blog saya yang pertama dan membahas xenobiologi. Oke, kita lihat sedikit…

  1. Artikel pertama saya (dibuat Feb 2013), saya nampaknya masih mendefinisikan xenobiologi sebagai ilmu yang secara spekulatif membahas kemungkinan seperti apa kehidupan yang asing, khususnya di luar angkasa dan sisi alternatif dari evolusi makhluk hidup yang ada. Acuan saya masih sederhana – buku2 Dougal Dixon (After Man, Man After Man, The New Dinosaurs, dan The Future is Wild), artikel2 Prof. Dirk Schulze-Makuch (yang tahun ini baru pensiun)
  2. Artikel kedua saya (dibuat Okt 2014), saya mulai membaca artikelnya Markus (Dr. Markus Schmidt, saya berani manggil nama karena udah pernah ketemuan, kita panggil aja Dr. Schmidt) dan juga mengacu ke beberapa hal yang dibahas di International Conference for Xenobiology (XB1) Genoa. Di sini, selain membahas dengan koridor spekulatif seperti yang pertama, saya menambahkan konsep xenobiologi modern yang berbasis molekuler. Aspek yang juga dibahas adalah kontainmen biologis dengan basis asam nukleat xenobiotika (XNA).

Sekarang, ternyata perkembangan ilmu pengetahuan itu sangat pesat! Sejujurnya sejak 2 tahun lalu itu, saya belajar lebih banyak lagi. Antara saya belajar dari buku Dr. David Darling dan Prof. Dirk Schulze-Makuch, belajar dari jurnal terbaru Dr. Schmidt, Dr. Vitor B. Pinheiro, dan Dr. Phil Holliger… yang beruntungnya saya temui langsung di International Conference for Xenobiology (XB2) Berlin tahun ini!

img_2016

Kebanggaan tahun ini!

Definisi dari Xenobiologi

Selain dengan pendekatan sains, saya juga akan masukkan pendekatan seni. Emang, xenobiologi itu apa??

Menurut Dr. Holliger:

“Creation of biomolecules and ultimately organisms with an expanded chemical repertoire not found elsewhere in nature”

“Pembuatan biomolekul dan secara utuhnya sebuah organisme dengan komponen kimia yang terekspansi dan tidak dapat dijumpai di alam” – komunikasi personal dengan beliau

Sementara di sisi lain,

“Xenobiology is basically an intersection of biology in general, astrobiology, and synthetic or artificial life”

“Xenobiologi pada dasarnya adalah titik temu biologi secara umum, astrobiologi, dan (sistem) kehidupan sintetik atau buatan” – Popa (2010)

Lalu, coba kita cari… xenobiologi itu sendiri adalah kata yang sudah kuno dan beberapa ilmuwan dan ahli sepakat kata itu berubah jadi eksobiologi, lalu astrobiologi. Terus, kok bisa ada biologi sintetik di sini dan astrobiologi? Hubungannya apa??

Oke, di jurnal yang sedang saya susun, saya akan punya definisi saya sendiri:

Xenobiologi adalah ilmu multidisiplin yang membahas kehidupan yang asing secara alami, mencakup kehidupan yang belum pernah kita temui atau masih hipotetikal, dan kehidupan yang asing, berbeda dengan yang alami, tercipta secara sintetik dengan campur tangan manusia

Atau, khusus di blog ini…

Xenobiologi adalah ilmu multidisiplin yang membahas kehidupan yang asing secara alami, mencakup kehidupan yang belum pernah kita temui atau masih hipotetikal, dan kehidupan yang asing, berbeda dengan yang alami, tercipta secara sintetik dengan campur tangan manusia. Definisi hipotetikal merangkul konsep filosofi ‘patafisis (semua fiksi yang diuraikan akan menjadi fakta) untuk makhluk asing dari seluruh multisemesta (multiverse), seluruh kemungkinan alur waktu (timeline), yang belum ditemui di semesta ini di bagian lain ruang angkasa, dan tersembunyi di dalam bumi. Definisi sintetik terletak dari makhluk asing yang tercipta dengan campur tangan manusia dengan bahan2 sintetik, sehingga sangat berbeda dengan makhluk yang ada secara alami

Sebelumnya, saya udah membuat “guideline” dari xenobiologi:

xenobiota-cover-3

Lima aspek xenobiologi

Sebenarnya ini cover dari page Xenobiota, tapi gambar ini bakal sangat membantu. Ehem… jadi ada lima aspek dari xenobiologi, yang sebelumnya saya hanya sebut 2 di artikel sebelumnya, sekarang menjadi:

  1. Kehidupan yang berada di segala kemungkinan multisemesta. Mencakup semua makhluk yang dianggap fiksional, termasuk makhluk mitologi (misal naga), makhluk dalam film (misal Pokemon), dan semacamnya. Konsep “fiksi” dianggap tidak ada dalam ‘patafisika. Kondisi – Spekulatif.
  2. Kehidupan yang berada di segala kemungkinan cabang alur waktu. Bagaimana kemungkinan evolusi makhluk hidup jutaan tahun mendatang? Bagaimana evolusi makhluk hidup jika dinosaurus tidak punah? Kondisi – Spekulatif.
  3. Kehidupan yang berada di dalam semesta ini, di bagian ruang angkasa yang belum terjangkau, dan spekulasi makhluk hidup jika mereka benar2 ada di planet/badan angkasa yang kita kenal. Misal, kehidupan di Mars, Jupiter, dll. Kondisi – Spekulatif, semi nyata (belum ditemukan).
  4. Kehidupan yang saat ini masih tersembunyi dan berada di Bumi. Mengikuti konsep hipotesis “shadow biosphere” yang dicetuskan Dr. Carol. E. Cleland dan Dr. Shirley D. Copley. Kondisi – Semi nyata
  5. Kehidupan sintetik yang memiliki komponen biokimia berbeda dengan organisme alami. Tercipta demikian agar memiliki batas untuk tidak berinteraksi secara genetik dengan organisme alami (biokontainmen). Kondisi – Sintetik.

Banyak juga yak… daripada ribet contoh langsung aja deh!

Xenobiologi – Segala Kemungkinan Kehidupan di Multisemesta (Omnibiota omniversalensis – Life in Alternate Universe)

Konsep yang pertama mencakup semua kemungkinan makhluk hidup di omnisemesta (semua multiversal, secara ruang). Sebut makhluk yang kalian di film, mulai dari Pokemon, Digimon, naga di Game of Thrones, naga di How to Train Your Dragon, dll. Sebagian menyebut mereka makhluk fiktif, yah… padahal dengan jumlah semesta (universe) yang secara teori bisa saja lebih dari satu (multiverse), siapa yang tahu kalo makhluk2 itu ada di semesta lain? Tiap semesta bisa aja punya kondisi konstanta fisika yang berbeda lho. Api yang dingin, gravitasi yang mendorong bukan menarik, pertumbuhan yang kebalik, dll. Cara gampang bayanginnya misal kayak Thor di Marvel Universe, yang dalam mitologi dianggap dewa, ternyata merupakan alien. Secara morfologi dan fisiologi bisa aja mereka berbeda dengan manusia, dan itu yang membuat mereka dianggap dewa. Atau, lihat ilustrasi dari game Portal 2 (Valve) ini:

screen-shot-2016-12-13-at-6-05-43-pm

Bayangkan di multisemesta, ada macam2 bumi karena konstanta fisikanya beda2. Ada bumi yang malam terus, siang terus, yang 90º miring, yang lebih kecil, yang datar, yang bentuknya kayak donat, atau piramida…

screen-shot-2016-12-13-at-6-05-49-pm

…dan masing2 “bumi” itu penghuninya bisa aja bukan manusia, tapi ikan yang pintar, cephalopoda, atau semacamnya (Gambar: Portal 2 – Valve)

Dengan pendekatan xenobiologi yang memungkinkan segala kumungkinan, kita bisa saja menggambar makhluk yang kita kenal sebagai berikut (klik untuk memperbesar – gambar oleh Christopher Stoll):

Xenobiologi – Segala Kemungkinan Perubahan Kehidupan di Sejarah Yang Ada (Alternative timeline)

Apa yang terjadi jika kepunahan dinosaurus 65 juta tahun lalu itu ga pernah terjadi? Apa mungkin mereka mengisi relung ekologis makhluk yang seharusnya ada sekarang? Skenario spekulatif ini sudah pernah digambarkan oleh paleontolog yang nyentrik, Dr. Dougal Dixon di bukunya “The New Dinosaurs”. Bayangin ankilosaurus seperti bison, atau pterosaurus seperti jerapah, kayak gini (klik untuk memperbesar):

 

Selain itu, kira2 bagaimana kehidupan di Bumi 200 juta tahun lagi? Dr. Dixon dan timnya membuat karya lebih ilmiah lagi di buku selanjutnya “The Future is Wild”, seperti ini (klik untuk memperbesar):

Penjabaran xenobiologis ini tidak terbatas segala skenario alternatif, yang bisa aja mengubah alur evolusi makhluk2 ini.

Xenobiologi – Makhluk Yang Mungkin Ada di Angkasa Luar Sana

Xenobiologi sendiri sebelumnya adalah sebuah istilah yang merupakan pendahulu dari astrobiologi, sebelum unsur astrokimia, astrogeologi, dan asal usul kehidupan dimasukkan. Beda dengan astrobiologi yang fokus ke kondisi lingkungan astronomis, xenobiologi fokus ke perkiraan makhluk hidup yang bisa ada di Mars, Europa, Titan, dan lain sebagainya. Saya akan menyertakan konsep makhluk autotrof alternatif selain pengguna cahaya dan kimia, konsep ini dibuat Prof. Dirk Schulze-Makuch dan rekan2nya, sebagai berikut (gambar dibuat ulang oleh saya sendiri, klik untuk memperbesar):

speculative-autotrophs

Termoautotrof (A), osmoautotrof (B), kinetoautotrof (C), dan magnetoautotrof (D)

Di Bumi, kita mengenal dua jenis autotrof: fotoautotrof (organisme yang mensintesis makanannya sendiri dengan cahaya) dan kemoautotrof (dengan kimia). Di planet lain, di mana cahaya dan kimia bukan hal yang dominan, bisa saja sumber lain digunakan seperti panas, gradien osmosis, gerakan, dan medan magnet, seperti gambar di atas.

Xenobiologi – Makhluk Yang Tersembunyi di Bumi

Konsep hipotesis “Shadow biosphere” yang dicetus Cleland and Copley pada tahun 2005 merupakan gambaran bahwa kehidupan asing bisa saja tersembunyi di Bumi, dan makhluk2 tadi belum tentu memiliki proses biokimia yang sama dengan kita. Bagaimana hal ini terjadi? Bisa aja mereka muncul akibat adaptasi lingkungan ekstrim dan proses spesiasi yang mengisolasi mereka secara geografis yang juga ekstrim, sehingga mereka benar2 langka dan tersamarkan. Hipotesis lain adalah kemungkinan adanya proses pembentukan makhluk hidup (biogenesis) yang berbeda secara proses atau waktu dari makhluk hidup yang ada sekarang, yaitu 5 milyar tahun lalu, hipotesis ini bisa disebut “Second Genesis” dan dibahas dalam jurnal buatan Davies dan Lineweaver pada tahun 2005. Proses2 hipotetikal ini memungkinkan untuk melahirkan makhluk2 lebih dari ekstremofil yang kita ketahui.

13876677_1654178768234161_6529910144602858176_n

Ansestral kehidupan kedua di Bumi?

Dulu kita nyaris menemukan organisme seperti ini yaitu mikroba Halomonas strain GFAJ-1 yang sempat dikira memanfaatkan arsenat untuk komponen asam nukleatnya menggantikan fosfat. Namun hal ini terbantahkan karena ternyata GFAJ-1 hanya organisme yang toleran dengan hidup di lingkungan arsenat berlimpah. Kita memiliki banyak organisme ekstremofil di planet ini termasuk Monocercomonoides, organisme eukaryota yang tidak memiliki mitokondria, namun sejauh ini belum ditemukan organisme dengan proses biokimia yang berbeda dengan kita. Tapi, melihat luasnya permukaan Bumi dan dalamnya kerak Bumi, bukan tidak mungkin ada tempat yang kita tidak tahu dan belum terpetakan, dan di sana terdapat kehidupan yang asing. Bahkan dengan definisi ini, makhluk gaib yang berbasis energi seharusnya termasuk kategori ini lho.

Xenobiologi – Makhluk Hidup Sintetik

Ini adalah definisi xenobiologi yang paling maju seperti yang sebelumnya dijelaskan oleh Dr. Holliger, dan disebutkan dalam jurnal Dr. Schmidt di tahun 2010. Xenobiologi yang merupakan level tertinggi dari ilmu biologi rekayasa (di atas rekayasa genetika dan biologi sintetika) ini diciptakan untuk memberi batasan antara makhluk hidup sintetik dan alami. Batasan ini bertujuan agar makhluk hidup sintetik ini tidak “mencemari” keragaman genetika organisme natural, dan pemisahan ini dilakukan dengan merekayasa asam nukleat xenobiotika (XNA) yang memisahkan mereka dari sistem alami DNA-RNA (Schmidt dan de Lorenzo, 2016; Torres et al., 2016) .

Screen Shot 2014-10-16 at 10.36.24 PM

Asam nukleat berbasis treosa (TNA) dan heksosa (HNA), contoh jenis XNA (Schmidt, 2010)

Selain itu, yang saya baca, organisme sintetik ini bisa dirancang untuk menghasilkan produk yang tidak disintesis makhluk hidup alami, misalnya integrasi basa nukleotida baru untuk introduksi asam amino baru, hingga introduksi jalur metabolisme baru seperti siklus Calvin ke mikroba seperti E. coli (dipaparkan Dr. Niv Antonovsky dari Weizmann Institute di XB2), dan mengubah siklus Calvin agar lebih efisien dalam mengikat karbon (Dr. Tobias Erb dan Dr. Anton Bar-Even dari Max Planck Institute di XB2).

Perkembangan sejauh ini, mereka masih terus melakukan pengujian, dan dipaparkan Dr. Vitor Pinheiro bahwa beliau dan tim nya termasuk kolaborasi dengan Dr. Phil Holliger akan menguji coba XNA ke makhluk hidup atau secara in vivo.

Saya sendiri dengan pacar saya, Ghea, dan dua dosen saya di Åbo Akademi University saat ini sedang membuat paper terkait xenobiologi, khususnya tentang XNA. Dalam setahun ke depan, kemungkinan saya juga akan membuat lagi. Menuju prakiraan XB3 tahun 2018, saya akan membawa 3 publikasi xenobiologi terkait XNA. Tentang apa itu? Tunggu aja tanggal mainnya 🙂

Membahas xenobiologi memang membuat kita menembus batas atau zona abu2 yang menghubungkan sains dengan seni sebagai data spekulatif. Empat dari lima komponen xenobiologi sendiri yang saya sebutkan (selain yang sintetik) merupakan biologi spekulatif semua. Tapi semua yang spekulatif ini sebenarnya akan menjadi nyata jika kita benar2 menemukan alien di luar sana dan menelitinya secara langsung.

“Omne possibile exegit existere”

“Semua hal yang mungkin menunggu untuk menjadi nyata” – Gottfried Wilhelm Leibniz dalam de Veritatibus Primis (1686), ungkapan yang menjadi motto XB2 Berlin

-AW-

Bibiografi:

Ambrogelly, A., Palioura, S. and Söll, D., 2007. Natural expansion of the genetic code. Nature chemical biology, 3(1), pp.29-35.

Antonovsky, N., Gleizer, S., Noor, E., Zohar, Y., Herz, E., Barenholz, U., Zelcbuch, L., Amram, S., Wides, A., Tepper, N., Davidi, D., Bar-On, Y., Bareia, T., Wemick, D.G., Shani, I., Malitsky, S., Jona, G., Bar-Even, A., and Milo, R., 2016. Sugar Synthesis from CO2 in Escherichia coli. Cell, 166(1), pp.115-125.

Cleland, C.E. and Copley, S.D., 2005. The possibility of alternative microbial life on Earth. International Journal of Astrobiology, 4(3-4), pp.165-173.

Darling, D. and Schulze-Makuch, D., 2016. The Extraterrestrial Encyclopedia. First Edition Design Publishing, New York.

Davies, P.C. and Lineweaver, C.H., 2005. Finding a second sample of life on Earth. Astrobiology, 5(2), pp.154-163.

Erb, T.J., Kiefer, P., Hattendorf, B., Günther, D. and Vorholt, J.A., 2012. GFAJ-1 is an arsenate-resistant, phosphate-dependent organism. Science,337(6093), pp.467-470.

Impey, C., 2011. The living cosmos: our search for life in the universe. Cambridge University Press, pp.189.

Karnkowska, A., Vacek, V., Zubáčová, Z., Treitli, S.C., Petrželková, R., Eme, L., Novák, L., Žárský, V., Barlow, L.D., Herman, E.K. and Soukal, P., 2016. A eukaryote without a mitochondrial organelle. Current Biology, 26(10), pp.1274-1284.

Kim, J.I. and Cox, M.M., 2002. The RecA proteins of Deinococcus radiodurans and Escherichia coli promote DNA strand exchange via inverse pathways. Proceedings of the National Academy of Sciences, 99(12), pp.7917-7921.

Lodders, K. 2010. Exoplanet Chemistry. In: Barnes, R. ed., 2010. Formation and evolution of exoplanets. Glasgow, John Wiley & Sons, pp.169.

Malyshev, D.A., Dhami, K., Lavergne, T., Chen, T., Dai, N., Foster, J.M., Corrêa, I.R. and Romesberg, F.E., 2014. A semi-synthetic organism with an expanded genetic alphabet. Nature, 509(7500), pp.385-388.

Mix, L.J., 2009. Life in Space: Astrobiology for Everyone. Harvard University Press, pp.4-5.

Muller, A.W. and Schulze-Makuch, D., 2006. Thermal energy and the origin of life. Origins of Life and Evolution of Biospheres, 36(2), pp.177-189.

Pinheiro, V.B., Taylor, A.I., Cozens, C., Abramov, M., Renders, M., Zhang, S., Chaput, J.C., Wengel, J., Peak-Chew, S.Y., McLaughlin, S.H. and Herdewijn, P., 2012. Synthetic genetic polymers capable of heredity and evolution. Science, 336(6079), pp.341-344.

Popa, R., 2010. Necessity, futility and the possibility of defining life are all embedded in its origin as a punctuated-gradualism. Origins of Life and Evolution of Biospheres, 40(2), pp.183-190.

Reaves, M.L., Sinha, S., Rabinowitz, J.D., Kruglyak, L. and Redfield, R.J., 2012. Absence of detectable arsenate in DNA from arsenate-grown GFAJ-1 cells. Science, 337(6093), pp.470-473.

Sagan, C. and Salpeter, E.E., 1976. Particles, environments, and possible ecologies in the Jovian atmosphere. The Astrophysical Journal Supplement Series, 32, pp.737-755.

Schmidt, M., 2010. Xenobiology: a new form of life as the ultimate biosafety tool. Bioessays, 32(4), pp.322-331.

Schmidt, M. and de Lorenzo, V., 2016. Synthetic bugs on the loose: containment options for deeply engineered (micro) organisms. Current opinion in biotechnology38, pp.90-96.

Schmitt-Kopplin, P., Gabelica, Z., Gougeon, R.D., Fekete, A., Kanawati, B., Harir, M., Gebefuegi, I., Eckel, G. and Hertkorn, N., 2010. High molecular diversity of extraterrestrial organic matter in Murchison meteorite revealed 40 years after its fall. Proceedings of the National Academy of Sciences,107(7), pp.2763-2768.

Schulze-Makuch, D. and Irwin, L.N., 2002. Energy cycling and hypothetical organisms in Europa’s ocean. Astrobiology, 2(1), pp.105-121.

Schulze-Makuch, D. and Irwin, L.N., 2008. Life in the universe: expectations and constraints. Springer Science & Business Media.

Stoeckenius, W., 1981. Walsby’s square bacterium: fine structure of an orthogonal procaryote. Journal of bacteriology, 148(1), pp.352-360

Taylor, A.I. and Holliger, P., 2015. Directed evolution of artificial enzymes (XNAzymes) from diverse repertoires of synthetic genetic polymers. Nature Protocols, 10(10), pp.1625-1642.

Taylor, A.I., Pinheiro, V.B., Smola, M.J., Morgunov, A.S., Peak-Chew, S., Cozens, C., Weeks, K.M., Herdewijn, P. and Holliger, P., 2015. Catalysts from synthetic genetic polymers. Nature, 518(7539), pp.427-430.

Torres, L., Krüger, A., Csibra, E., Gianni, E. and Pinheiro, V.B., 2016. Synthetic biology approaches to biological containment: pre-emptively tackling potential risks. Essays in Biochemistry60(4), pp.393-410.

Ward, P., and Brownlee D., 2000. Rare Earth: Why Complex Life is Uncommon in the Universe. Copernicus Book, New York.

Wolfe-Simon, F., Blum, J.S., Kulp, T.R., Gordon, G.W., Hoeft, S.E., Pett-Ridge, J., Stolz, J.F., Webb, S.M., Weber, P.K., Davies, P.C. and Anbar, A.D., 2011. A bacterium that can grow by using arsenic instead of phosphorus. Science, 332(6034), pp.1163-1166.

Wew, udah lama banget ya sejak terakhir saya nulis? Saya pengen nulis, tapi bingung mau nulis apa. Hahaha… dan kali ini, saya pengen nulis pake bahasa santai aja deh.

Ga nyangka yak… udah akhir 2016 aja. Sejujurnya buat saya, ini adalah tahun tergila dalam hidup saya. Kenapa? Ini adalah tahun paling random dan paling susah ditebak daripada semua tahun yang pernah saya lewatin. Mulai dari menapakkan kaki di Finlandia dan Jerman, sampai jadi bocah satu2nya dari Indonesia yang nongol di International Conference for Xenobiology 2 (XB2), Berlin, 24-26 Mei 2016 lalu.

Mungkin ada yang nanya, kok saya jadi jarang nulis di blog ini. Hmmm… gimana ya saya jawabnya. Bingung.

Kadang, pas saya nulis artikel blog ilmiah kayak dulu, saya sering masukin tulisan yang kontennya merupakan ide. Hal ini jadi perdebatan dalam diri saya apa saya harus nulis di blog atau buat ke tulisan yang lebih formal. Dilemanya adalah antara saya menyajikan ide di blog yang kesannya pertanggungjawaban referensinya rendah (walau saya selalu taro referensi di bawahnya, tapi hey, kalian ga mungkin mensitasi blog saya kan? yang ada kalian dimarahi dosen kalian atau asisten kalian), ditambah ide saya bisa aja dicuri orang dengan gampang… dan saya harus menulis dengan tenaga ekstra untuk nulis jurnal (yang sebenarnya ga masalah amat sih). Kalo kalian bingung dengan maksud tulisan saya yang berupa ide adalah ini:

Plant Bioprinting: Novel Perspective For Plant Biotechnology

Itu adalah tulisan saya tentang cara mencetak alias nge-print tumbuhan. Ya, kalian ga salah baca. Bayangin kalian punya printer dengan “tinta” berisi sel meristematik tumbuhan dan zat pengatur tumbuh (auksin, sitokinin, dll). Kalian pasti bisa mencetak tumbuhan dengan itu dong? Oke, awalnya saya mau taro di sini, di blog ini. Masalahnya, selain orang akan melihat ini sekedar sebagai ide gila (alias dipandang sebelah mata), kalaupun ada yang tertarik kalian akan bingung menjadikan ini referensi sebagai bahan karena ini cuma artikel blog. Sementara kalau dalam format jurnal di atas, kalian bisa dengan asoy-nya kalian nulis ini sebagai referensi kayak gini:

Wicaksono, A., Teixeira, J.A. and Silva, D., 2015. Plant Bioprinting: Novel Perspective For Plant Biotechnology. Journal of Plant Development22.

Jadi gitu deh, walau saya harus kerjasama dengan tenaga ahli (Dr. Teixeira da Silva adalah ahli tumbuhan yang tinggal di Jepang) dan menghadapi revisi lebih kejam daripada pas saya nulis skripsi dan tesis, cuma demi relevansi… why not?

Selain ide ilmiah, ide2 abstrak saya seperti ide yang berunsur fantasi (misal tentang saya role-playing sebagai sisi lain saya yang penyihir, Astrax) dan saya menulis “paper” dalam format beda, atau saat saya ada ide lain berupa karya seni, saya merasa bahwa saya harus menulis di media formal, misal di deviantART. Karya2 saya yang makanan pun juga masuk ke blog kedua saya, The Hungry Biologist.

Jadi pada akhirnya, yang tersisa di blog ini adalah… adalah… ya… ga lebih dari cerita2 pribadi, pengalaman, atau uneg2 ga jelas kayak gini.

Terus kenapa kamu ga tulis aja pengalaman kemarin pas di Finlandia?

Saya tau ada yang bakal nanya itu. Oke, sesuai judul tulisan ini, saya mau jelasin. Perjalanan 8 bulan di Finlandia dan Eropa secara umum itu emang mengesankan. Saya bisa aja ubah itu jadi cerita bersambung bertema pengalaman yang rada komedi. Masalahnya, ada beberapa cerita yang harus saya tutup alias sensor. Bukan karena saya melakukan tindakan ga sesuai peraturan, tapi ini menyangkut orang lain!

Beberapa hal yang kalian harus tau:

  1. Dosen pembimbing saya dipecat dengan alasan ga jelas. Pemberitahuannya bahkan H-1, jam 10 malam! Dia ga sendiri, seorang teknisi paling berbakat di lab kami (beliau memegang 11 instrumen dan 4 lab) juga kena pecat. Mungkin tepatnya PHK, karena penjelasan mereka adalah karena Finlandia memotong biaya anggaran ke kampus, otomatis kampus harus mengurangi pegawai. Pertanyaannya, kenapa harus orang paling kontributif kayak mereka??
  2. Setelah poin 1, sisi di mana saya telah melewati 4 bulan di sana, saya ga tau mau ke mana lagi. Semua profesor harus punya dana jelas sebelum merekrut mahasiswa. Saya telah mengajukan dana dari 11 lembaga dan semua menolak saya (kemarin saya dapat anggaran dari CIMO dan hanya 8 bulan, ngga penuh selama periode PhD saya). Kesulitan ini membuat saya berpikir harus pergi dari negara itu untuk mencari tempat untuk lanjut PhD, sekaligus dengan berat, saya jadi meragukan negara yang dielu2kan sebagai negara pendidikan terbaik di dunia itu. Oh, lagi, mulai 2017, Finlandia menarik biaya EUR 11,000 per tahun dari mahasiswa non Eropa, dengan kata lain, ga gratis lagi. Kalo kalian mau yang gratis, silahkan ke Jerman.
  3. Saya mungkin terbang ke Berlin untuk XB2, itu pengalaman mengesankan! Tapi ga semua ceritanya menurut saya oke buat diceritakan. Selain cerita soal kerennya xenobiologi yang mungkin saya bisa tulis nanti, saya melakukan kebodohan yang bikin malu diri saya sendiri! Misal, karena saya sendiri, saya ga tau mau ngobrol ke siapa, saya jadi ngekor salah satu ahli di sana (ngikutin terus), saya foto dengan dua ahli idola saya, tapi saya minta tolong ahli lain buat motret! (eugh), dan saya kena alergi selama di sana. Intinya, walau kedengaran lucu, saya rada malu, apalagi kalo nama mereka ditulis di blog ini juga.
  4. Kalau saya cerita, saya merasa cerita yang saya tulis bakal berakhir ngambang! Semua masih berjalan setelah saya pulang dari Finlandia. Gimana arah Xenobiota? Ke mana jadinya saya bakal ngisi waktu sebelum kuliah S3 lagi? Gimana perjuangan saya buat kuliah lagi dengan sekarang gagal LPDP? Semua masih dalam proses. Saya bukan orang yang akan cerita dengan banyak bumbu, saya selalu cerita apa adanya.

Yang jelas… saya akan belajar dan mencari ilmu tentang biologi molekuler dan xenobiologi. Soal Xenobiologi, mungkin saya pernah bahas di blog ini, tapi saya akan jelaskan lebih dalam nantinya, ntah segera, atau nanti di 2017.

Satu hal, terima kasih udah membaca tulisan2 saya di blog ini. Blog ini akan ditulis dengan Bahasa Indonesia selama itu bukan mencakup teman2 saya di luar sana (beda ama blog The Hungry Biologist yang akan pakai Bahasa Inggris). Blog ini akan saya isi dengan ulasan ilmu2 baru yang saya dapatkan secara umum (kalo secara khusus akan saya tulis di jurnal atau media formal) dan juga cerita perjalanan saya.

Itu dulu deh… udah banyak!

PS: Saya sering dikontak via e-mail soal anggar, saya ga bisa ngasih kontak sang pelatih lagi karena udah berjarak 3 tahun dan validitasnya udah ga jelas. Sebaiknya langsung ke PB IKASI aja di Gelora Bung Karno ya!

-AW-

Halo pembaca semua! Aduh, maafkan saya yang udah lama banget ga ngepost. Banyak cerita yang mau saya ceritakan, cuma saya ga tau dari mana saya harus mulai!

Jadi, pertama saya mau bilang, bahwa alamat blog makanan saya, “The Hungry Biologist” pindah alamat dari sebelumnya:

awkulinerologi.wordpress.com

Jadi:

thehungrybiologist5889.wordpress.com

Jujur, pergantian alamat tanpa tautan ini merugikan saya karena flow viewer harian yang tadinya 200-300 turun drastis jadi 8-20 per hari. Ah sudahlah… saya mengganti ini biar kedepannya ga bingung dengan nama blog saya yang itu. Untuk The Hungry Biologist, selama itu trip makanan di luar negeri, artikel blog ditulis dalam bahasa Inggris, sementara untuk kunjungan dalam negeri akan saya tulis dengan bahasa Indonesia (kecuali kondisi spesial yang di mana saya harus dengan bahasa Inggris). Kalo blog ini? Senyamannya saya aja. Hahaha. Kayaknya dalam bahasa Indonesia yang bisa diubah di Google Translate deh kalo teman saya ada yang mau baca. Karena saya merasa cerita dengan bahasa Indonesia akan lebih cair, tapi mungkin ada momen saya pake bahasa Inggris juga. Hehehe…

Itu dulu paling. Cerita 6 bulan saya di Turku mungkin akan menyusul!

-AW-

I can’t believe it, it’s almost there! After all the time passed, the day after tomorrow, I’ll go to Finland. The longest flight I’ve ever have for around 15 hours from Jakarta, Indonesia to Amsterdam, Netherland. After that, for 4-5 hours, I’ll be transferred to another flight from Amsterdam to Helsinki, the capital city of Finland, then followed by travelling by bus, from Helsinki go westward to Turku. There, I’ll meet my supervisor bro-fessor, Prof. Parvez Alam.

You probably wondered how’s my feeling just right now…

My answer: Between nervous, afraid, and so happy…

Perhaps… writing all of this article, I put a lot of my prayers in it. How so?

Let me explain to you, one by one. I feel nervous, because… first and the main reason, it’s my farthest flight I’ve ever had, at night, and I also carrying my samples in my baggage, some mudskippers for my doctorate thesis. It’s all in my imagination, I know, what if they took it from me? What if they have to hold me in security for some time? Another thing is… I’m kinda acrophobia. I height the feel of falling by height. I love plane, you know? Putting these 2 together is paradoxical. Perhaps in my way, aside of trying to sleep, I’ll playing by myself by pretending as a pilot. That’s my favourite stuff. But then… I hate turbulence! My point is… I feel nervous of what might happen on the journey. I trust in God, for sure.

I feel afraid… because I hate uncertainty. Fortunately, I’ve grown and learn a lot since my undergraduate time. Before my departure, I acquired both gift and loss. Gifts, aside my scientific community, Xenobiota rose and its sound reach more connections from some students in Makassar, in University of Hasanudin to the ear of Hackteria director, Dr. Marc Dusseiller in Swiss, to CEO of Biofaction, Dr. Markus Schmidt. That’s the best achievement so far in term of scientific community and that occurred only less than 1 year! Later, I published 2 papers in one year! Next thing and the most important one, I have new girlfriend (name is hidden for now, until she told her parents then it’ll be okay), she’s caring, she’s as crazy as me, she’s talented, we talk less daily because we both busy with our own academical and scientific routines… but we talk in our own pattern. I love her so much. And for my loss, my parent divorced. Now my siblings are living with my dad. When I go, I will be away from them… my family and the young lady (I prefer to mention her by this, she’s no longer a little girl) that I love. I know that 9-10 months is long, but I believe it will be short.

Again, I hate and afraid of uncertainty. But I always put them in my prayers… my family, myself, and her… as my loved one. I prayed so hard, that they will be okay. And especially for her… I wish that one day in 3-5 years from now, I wish that I can marry her. Aameen to God. Other thing is, although I’m quite ambivert, I have extrovert side (that sometime can be annoying when I’m starting to share my problem in motor mouth). In a country as big as Finland, it’s only 5 millions of population in there. I’m afraid if I will be lonely. And lonely is my enemy, when I’m alone… I tend to be overthinking, and my mind will be truly chaos… and dark. I wish in an instant, I will meet new friends, and I mean it… friends. Those who I can share my problem with, not just the matter of hangout and for happy time. I’ll need that. A lot. Sleeping with my head full of questions is a nightmare.

Primal fear… a lot of story of my friends who lost their parents while they’re studying abroad. It’s a paranoia fuel… but all I can do is pray, and tell them to take care of themselves. For the rest, it’s all in my prayers.

Next, I’m afraid if I can’t make it for funding until next year. I really want some fundings for our researches in here, from European or Asian, or global fundings and scholarship… anything… anything but from my own country. I know Prof. Parvez always remind me to be open minded, but defeating my reluctance… and probably unexplained hatred for government and their affiliates in my country. Perhaps because they ignoring some scientists in here and from time to time, all I heard is corruption in bureaucracy, leachers and plagiarisms, I know there are good people… thus I believe, there’s something I hold really strong so then I refused to go for Indonesian scholarship, although I wish to try in time. Will I? I started to pissed when they heard that the university should be in top list. My university in Finland is not on their list. A person I know was saying that I have to go to the list of the best university. But for God’s sake… I go to Finland and trust on it, because my professor is proven to be really qualified and very open minded! I planned to make bigger link, even to that top universities in the world, so then they will say nothing more to me. I know, listening to all people are bad. Thankfully, I feel confidence on my move. My next moves between 2016 to 2020.

And then… I feel happy… of course! One of my deepest prayer in answered! I always wanted to go abroad to study. Learning a lot after passing “The Period of Great Learning” (Sept 2014 to Sept 2015), I want to make a massive network of international research, expanding Xenobiota, and making new network with chefs throughout the globe, starting in Finland! I will make a cool robot in the lab with Prof. Parvez and his team, meet new awesome scientists, outside… new cooks, new chefs. And probably I can learn to collect edible mushroom in the forest! I will cherish my moment, and I want to go to Japan in 2017, and to attend on Bio Fiction (probably in Vienna, Austria) in 2018. Japan… because it’s been my lifelong dream, aside of my current prayer so my girlfriend will be graduate soon and claimed her master degree in Nara, Japan, I wish to meet a scientist who’s become a wonderful contributor of my papers in Kagawa. Then, I want to learn about their cultures, their foods (I’m not an otaku… I’m a culture enthusiast), and I want to learn about how they raise their plants (melons, mangoes, and more). They have… special treatment on how they grow their foods and I wish to know their secrets. While in Europe… well, Europe is a core of ancient cultures in medieval. In Paris, I wish to visit the renown and legendary alchemist’s house of Nicolas Flammel! May I found something there? I’m curious!

You know… aside of my fear, all darkness in me… I still carry my child-self in me. Who think I’m a supreme overlord scientist, a wizard, and more. I carry my imaginations in me. All I wish, is when the time is come for me to go home and meet my family, then marry my girlfriend… I have tons of story to tell about. A new legend to share. Honestly, after married, we’re not intended to have a child directly after that. We want to walk and travel. Only then, the story of us will be matured.

All of these… are my loudest prayers and hope.

All I want is inner peace, not a spotlight. Let my thoughts and my masterpieces will be, but not me. Not my individual me. I want to sit down, enjoy my meal, while reading some trends in science… and culinary stuffs in a quiet cafe.

For those who think that all of these are idealistic bullshit and daylight wet dream… all I can say is go fuck yourself.

I believe what I want to believe. And I’ll be there to make my dreams, our dreams come true.

Bismillah… by the name of Allah…

All that can’t be spoken loudly in the air, will be whispered in the silence of prayer.

PS: After today, my blog articles… in both The Hungry Biologist and in here, can be both in English or Bahasa Indonesia for wide or specific audiences.

THB-Indonesia-Finland

-AW-

Saya mendadak pengen nulis soal ini karena sejujurnya udah lama banget mau nulis. Awalnya pengen nulis di blog sebelah “The Hungry Biologist”, tapi kayaknya saya mau bahas lebih umum deh. Pertama2, mari kita renungi gambar ini:

12105917_10153657328457154_1558432107850781961_n

“Kekinian” sumber gambar dari Path, kayaknya kalo dari watermark itu karya @Pinkinyo.

Di era milenial ini, saya merasa ironis. Kenapa? Sebenarnya saya sejak SMU udah tau betapa yang namanya tren di negara kita itu kadang jadi viral. Cuma dulu penyebarannya ga segampang sekarang semenjak internet menjadi media sosial yang setiap orang bisa akses kapanpun dan setiap orang punya andil sebagai penyebar berita. Kalian menemukan sesuatu, kalian potret, sebar di dunia maya, ada apresiasi, besoknya booming, dan setelah lama kemudian… ulangi dari awal.

Soal makanan… saya pun sekarang merasa cukup vakum dalam memberikan tulisan di blog. Kenapa? Saya kehabisan sesuatu buat saya tulis! Ketika tahun 2013 saya menjadi kontributor majalah, saya melihat… wah, ternyata jadi penulis dan jurnalis makanan itu seru, kita bisa ngasih komentar dan orang ngebaca. Terus berkembang jadi… wah, jadi kritikus seru ya, menantang buat kita bisa nyari tau atas apa yang kita mau kritik. Sekarang… saya harus nyari celah lagi, karena… everyone’s a critic now! Sekarang, karena faktor tren, segala sesuatu jadi homogen, dan kadang mau saya review pun hasilnya ga jauh beda. Mereka yang niat akan dapat poin bagus, mereka yang cenderung latah hasilnya akan minus atau saya ga akan tulis.

Bayangkan gini dari gambar di atas: Semenjak sebuah usaha martabak manis membuka konsep martabak dengan taburan coklat premium atau taburan2 ga umum lainnya atau… dengan campuran seperti teh hijau atau red velvet, sekarang bisnis martabak manis atau kue cubit dengan konsep serupa itu ada di mana. Jelekkah itu? Ngga kok… dari satu sisi. Walaupun sebut saja kadang saya ga nolak kalo ada yang ngasih saya martabak dengan Toblerone, saya ntah gimana masih menikmati martabak manis tradisional dengan keju, coklat, dan kacang dengan ekstra Wisjman butter yang harum. Karena, mungkin karena saya udah cukup tua ya… karena buat saya, martabak manis ya kayak gitu! Kalo martabak manis ditambah teh ijo atau lain2 jadinya di lidah saya bukan martabak manis! Saya tau kue Red Velvet yang merupakan kue coklat diberi warna merah oleh bit atau pewarna dengan icing krim keju. Tapi ya udah, itu kue yang beda. Jadi sekarang, ketika ada martabak A-Z membuka gerai martabak manis kekinian, saya akan bilang… “Buat martabak manis coklat, kacang, keju nya ya… nanti saya cek rasanya”

“Tapi kok kayaknya lo ga dukung banget sih Dit? Ini kan bentuk kreativitas!”

Awalnya kreatif, akhirnya latah. Gini deh, secara definisi… apa sih martabak manis? Kenapa bentuknya kayak gitu? Sejarahnya gimana? Emang saya tau? Ngga. Cuma memori pertama saya pas saya ditraktir om saya martabak manis tahun 1994 (saya masih 4 taun, pas TK nol kecil), martabak manis ya pake kacang, keju, coklat, dan mentega yang wangi. Gini, berapa dari mereka yang menjual makanan kekinian itu, tau kriteria dasarnya?

Ah mungkin saya ngomong gini, jadi ngerti kenapa seluruh dosen dan guru saya bilang… “Yang penting konsep, sisanya mau gimanapun terserah. Tapi tanpa konsep, semua itu nol”

Saya bingung dengan adanya pergeseran makna martabak manis itu… Yah, itu masih 1 masalah. Selanjutnya saya mau bahas gimana sekarang saya berusaha “berevolusi” dari penulis makanan yang mengulas restoran ke restoran, ke sesuatu yang lebih luas.

Sekarang, ada Zomato, ada Qraved, ada TripAdvisor, di belahan dunia lain ada Yelp, dan lain2. Perlahan2 saya bertanya, dengan media tadi, apa dong peran kami sebagai penulis makanan? Apa peran kami tergantikan karena semua orang berhak memberi kritik dan penilaian?

Setelah lama berpikir, ternyata jawabannya BELUM. Menariknya, dengan adanya media2 tadi, penulis makanan seharusnya sadar… peran mereka sebagai penyedia ilmu kuliner harus ditingkatkan. Ga bisa namanya kita hanya tau “Oh tempat ini enak karena blablabla… terus enak buat ngumpul”

Seorang penulis makanan, harus tahu apa yang mereka makan. Mulai dari konsepnya, sampai bagaimana versi paling enaknya itu kriterianya seperti apa, kita harus tahu melebihi orang awam. Itu mutlak. Bukan restorannya, bukan lokasinya. Kecuali kalian adalah penilai restoran. Kalau kalian hanya sebatas bisa merekomendasikan lokasi, semua orang juga bisa sekarang.

Wahai penulis makanan, jangan biarkan kalian ditanya “Makanan X yang enak di mana ya?” karena kalau begitu, apa bedanya kalian sama aplikasi smartphone? Buat diri kalian jadi orang yang membuat orang bertanya2, makanan X yang enak itu kayak gimana. Di mananya, itu biar mereka yang cari sendiri. Ini berlaku ketika kalian dengan teman kalian yang ga terlalu dekat, kecuali kalian sekarang lagi di mobil dan bingung mau makan apa. Perlahan2 mikir, saya kayaknya bakal lebih berkelana mencari konsep suatu makanan deh ketimbang ngulas restoran lagi. Makanan2 di daerah lain dan di negara lain.

Tren latah yang paling bahaya saat ini adalah: Budaya spons. Saya mau nanya sama kalian, kasih contoh minimal 3 jenis batik! Oh atau gini deh, bisa ga kalian nyanyiin 3 lagu daerah di Indonesia? Sebutkan bunyi Pembukaan Undang-Undang dasar 1945! Hal ironis ini digambarkan dengan sempurna oleh Nurfadli Mursyid di komik Tahilalats. Ya, boleh lah kalian ikut Halloween, terus ngasih coklat di Valentine (tolong jangan bahas ini dari sisi agama karena saya lagi ga bahas itu), atau pesta di Tahun Baru. Cuma tolong dong, kalian harus ingat dan belajar budaya kita sendiri. Ingat bumi kita yang kita pijak, jangan terlena melihat rumput tetangga, apalagi terlalu lama mendongak melihat langit. Kita boleh kebarat2an, ketimur2an, ketimurtengahan, keangkasaan (lo kira jadi orang Mars, Dit??), tapi kalian harus punya kebanggaan buat ke-Indo2an! Ini penting, karena suatu saat kalian akan di luar, kalian akan selalu membawa bendera kita. Ada profesi yang lebih dianggap di luar negeri daripada di sini. Gapapa kalian keluar dan kerja di sana, tapi jangan lupa buat berbagi ketika pulang di sini, atau membantu teman2 kita yang Indonesia yang belum mampu berkesempatan ke luar, dan tetap bersilaturahmi ketika sesama jadi perantau.

Ah… saya ngomong mulai ga jelas dan ngalor-ngidul.

Ya udah lah… bodo amat. Kalo bingung ya monggo baca lagi dari atas… :v

-AW-

Mungkin di blog ini, sebelumnya… saya pernah membahas mengenai komunitas ini. Kali ini, saya akan bercerita lebih jelas tentangnya.

XBI Icon

Logo kami. Dibuat dengan sangat berkonsep oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Selama setahun ke belakang, banyak orang bertanya mengenai kami: Siapa sih kami? Apa visi kami? Nope… kami bukan komunitas yang saya bangun untuk menguasai dunia. Ya mungkin itu rencana sampingan (hehehe…) tapi bukan, menguasai dunia SAJA itu bukan agenda kami. Nama kami mungkin di beberapa orang yang mendengar emang agak ambigu. Xenos dalam bahasa Yunani artinya asing, bios artinya kehidupan. Visi awal kami memang berkutat pada pembuatan dan pencarian kehidupan2 yang tidak kita kenal. Tapi sekarang visi kami adalah mencari persepsi2 lain atas fenomena yang terjadi di dunia sains, khususnya biologi. Kita memandang sesuatu dari kacamata positif: Semua itu ada, karena susuatu yang tiada atau fiksional adalah ide yang belum terwujud atau sebenarnya terjadi di lini waktu semesta yang lain. Bingung? Bayangkan seolah semesta itu ga cuma satu. Ada semesta lain di mana api itu dingin, air mengalir ke atas, air itu menyalakan api, manusia itu berasal dari nenek moyang dinosaurus bukan primata, dan lain2. Kita kadang mengkotak2kan imajinasi dengan logika. Maka visi kami yang lain adalah menjembatani keduanya, dan kemudian berbagi ilmu atas “temuan” kami setelah kami “bertapa” di “kotak imajinasi” kami.

“Kalian gila ya?”

Mungkin ya… mungkin ngga. Dari kacamata siapa dulu? Konsep2 kami memang di luar konsep yang sebelumnya dianggap normal. Kami rela dianggap gila, cuma kalian harus tau apa itu gila dan kenapa kami senang dianggap beda.

Oke, saya ga mau cerita teknis atau kampanye. Kalian mau masuk sini? Itu urusan kalian dengan kami (khususnya saya) nanti ya.

Dari Ensiklo ke Xenocerebral ke Xenobiota

Waktu saya berumur 10 tahun, saya sudah merasa sok2an menjadi ilmuwan cilik. Saya sering eksperimen dengan tumbuhan dan saya suka sekali baca buku. Apalagi buku bergambar, saya orangnya visual kinestetika soalnya. Waktu itu saya punya teman2 di kelas 4 SD itu, saya akui… sejak dulu saya punya passion berlebih soal sains, dan saya suka ngebawa teman2 saya ke arah yang sama. Kelas 4, saya dan “geng” saya, hobi menggali tanah di sekolah… buat cari undur2 di pasir (larva dari serangga keluarga Myrmeleontidae) dan berharap menemukan kapak batu jaman Megalithikum di tanah.

axes-stones

Kapak batu (sumber gambar: geology.lnu.edu.ua)

Di ruang belajar saya waktu itu, saya kemudian membayangkan saya bisa menjadi ketua dari negara yang berjalan dengan azas sains yang saya namakan Ensiklo. Karena kemudian saya hidup pindah ke kota2 lain karena bapak urusan kerja, saya pun mengubur mimpi soal Ensiklo, karena dasarnya hanya sayalah yang memegangnya… teman2 saya ntah apapun yang mereka pikirkan tentang ide itu.

Waktu berjalan di masa akhir kuliah S1… saya memasang pseudonim diri saya, Xenocerebral. Entah, menulis nama dengan huruf X itu rasanya… keren! Akhirnya pseudonim ini menjadi “alter ego” saya di dunia maya. Nama itu sendiri artinya “otak yang asing”. Sekali lagi, saya suka dengan sains… apalagi sesuatu yang ga konvensional, ga umum. Lantas saya suka xenobiologi, dan astrobiologi.

Kemudian saya S2. Ide berawal dari bagaimana anak2 di biologi UGM di Yogya dengan kreatifnya membangun komunitas sains bernama SynBio UGM. Saya merasa… membangun komunitas di Yogya itu adalah ide bagus karena atmosfernya sangat ramah dan kondusif untuk berkumpul. Menumpang eksis dengan bantuan acara SynBio waktu itu, saya pun memperkenalkan konsep komunitas ini. Awalnya saya menyebut “Project Xenocerebral: Xenobiota”. Sounds badass, eh? Selesai saya bahas ide di depan bocah2 biologi UGM ini akhir tahun 2014, kami pun mengadakan kumpul perdana.

Untitled-1

Poster buat ngumpul. Masih pake logo Xenocerebral.

Dengan mimpi dan ide2, yang kadang anak2 ini pun masih rada bingung, sebelum presentasi SynBio UGM, saya nekat membuat grup dan setelah presentasi saya mengundang anak2 mahasiswa ini. Mereka yang awal di grup… ada Arfan (Biologi UB Malang 2012), Putri (Budidaya Pertanian UGM 2011), Agha (alumni Biologi UI 2008)… adalah mereka yang saya percaya berpotensi sebagai pemegang inti dari komunitas ini karena… Arfan, saya tau dia suka ide2 gila, Putri, dia saya anggap adik sendiri dan murid sendiri… saya banyak menanamkan ilmu ke kepala dia, dan Agha, dia adalah biang dari ilmu2 aneh di kepala saya, mulai dari biologi spekulatif sampai astrobiologi dari sejak saya lulus SMU. Setelah saya umumkan, mereka datang satu per satu ke grup sebelum grup ini saya jadikan grup tertutup… Ghea (Biologi UGM 2012), Nana (Biologi UGM 2012), Sahal (Biologi UGM 2013), Annisa Resa, Iim, Elory, Ahmad (Biologi UGM 2014). Dengan juga saya masukkan Sanka dan Nuha (Biologi UGM 2010) ke dalamnya biar rame…

Maka dengan segala casciscus yang saya keluarkan hari itu… tanggal 20 Februari 2015, Xenobiota pun lahir!

Soal logo… konsep gabungan DNA organik dan DNA sintetik itupun dirancang oleh Iman, kami pun sepakat menjadikannya logo yang kami banggakan. Oh iya, ga lama setelah kami berdiri… 1 anak dari jurusan Elektronika dan Instrumen angkatan 2013, Jaler… pun masuk. Dia satu2nya “gadgeteer” di komunitas ini.

Perjalanan Dimulai

Awalnya, kami hanyalah penebar konsep. Bahasan di dalam grup ga lebih dari sharing paper2 berbau astrobiologi, xenobiologi molekuler (tentang XNA dan asam nukleat ortogonal lainnya), biologi spekulatif, dan semacamnya. Saya ingat betul, hanya beberapa orang2 ini yang merespons, namun saya pada mereka yang secara rutin nongol buat komentar maupun cuma nge-like. Sistem kami waktu itu adalah “institusi bawah tanah” (apa coba) yah… anggap aja semacam “mock” dari Area 51. Maka secara konsep, tempat di mana kami berkumpul dan membahas ide2 gila, kami menamainya “Xenobiota Institute”. Namun istilah itu kami simpan hanya untuk kami, kenapa? Takut dianggap institusi ilegal dan ntar bayar ini itu, sama kedua… kepanjangan!

Capek dengan ngomongin konsep melulu… saya pun memutar otak. Saya mengundang mereka ke lab saya ketika saya mengerjakan tesis… waktu itu saya kemudian mengajarkan “workshop kilat” cara ekstraksi RNA, pembuatan cDNA, dan reaksi berantai polimerase (EN: Polymerase Chain Reaction, PCR). Ternyata seru! Ngeliat mereka2 ini senang, bisa mendapatkan ilmu baru, dan menyusup ke lab Pemuliaan Tanaman dan Genetika FAPERTA UGM di hari Sabtu itu sangat seru! Rasa puas ditambah… karena TIDAK semua orang di sini mendapatkan kesempatan bermain di lab untuk ekstraksi RNA. Alasan? Mahal! Saya kemudian merasa pendanaan pendidikan di universitas2 di Indonesia itu ga rata banget. Ketika di suatu institusi proyek sangat kencang, mendirikan iGEM adalah hal mudah, di sisi lain… jangankan menyentuh konsep biologi sintetika, ekstraksi gen aja adalah pekerjaan yang wah buat beberapa kalangan! Di UGM ini, ekstraksi RNA adalah kerjaan lab yang cukup elit… bahkan buat saya. Di ITB pas S1, ekstraksi RNA itu udah bagian dari praktikum rutin! Di sini… kerasa, ngekstrak 1 sampel itu saya harus merogoh kocek Rp 150 ribu… 50 untuk ekstrak RNA, 100 untuk pembuatan cDNA dengan enzim transkriptase balik. Tapi bersyukur, ilmu2 dari ITB itu bisa saya bawa ke sini… saya pun jadi suka pas ke ITB mengambil bahan2 kuliah dari dosen dan membagikannya ke anak2 Xeno (red: Xenobiota… biar gampang nyebutnya). Saya sebut, Protokol Prometheus. Dari Titan/Dewa Primordia Yunani yang membagikan api pengetahuan ke manusia pertama.

Lagi… saya senang melihat mereka tersenyum…

IMG_2813

Yeah… dengan ekstra duckface dari Elory…

Awalnya, saya agak pusing ketika dosen pembimbing saya menambahkan saya kerjaan buat ekstrak RNA… awalnya saya kesal kenapa ketika saya lulus ITB, biologi sintetika masuk di sana… awalnya saya bingung, kenapa biologi sintetika itu HARUS jadi iGEM…

Ternyata… everything leads to some reasons… including why I am standing here

IMG_3088

Kita pun makin rame…

Dengan “sok2an” mendirikan divisi yang kami sebut departemen yang terbagi jadi (dengan bahasa yang lebih manusiawi) biologi molekuler (kode: MXSB), bioteknologi dan postbiology sibernetika (ABPB), astrobiologi dan biologi antariksa (ABSB), biologi spekulatif (AXSB), dan proyek rahasia/kerjaan sektor X kami (MTTM), kami mulai berjalan dengan melakukan riset sederhana dengan bahan2 seadanya/konsep DIY (Do-It-Yourself) science dan biohacking (ngotak-atik materi biologi dengan bahan seadanya dan lab secukupnya… agak life hack untuk biologi). Personel kita bertambah 2 orang yang punya kekuatan ilmu yang unik, astrobiologi, bidang yang ga semua orang punya di UGM… mereka adalah Bintang dan Tius (Biologi UGM 2013). Dunia kami pun semakin luas dengan Misbah (Biologi ITS 2012) bergabung, dan Rifa (Neurosains Surya University 2014) juga bergabung. Sayangnya, hingga tulisan ini saya terbitkan, kami belum sempat banyak membuat proyek. Karena kami agak kesulitan gerak di luar UGM.

Saat itu… semua keran ide dibuka selebar2nya… lebih lebar dari mulut saya ketika makan Quad Burger (burger dengan 4 daging)… (apa sih Dit). Saking ngalirnya… khususnya dengan tuntutan buat batere tanah dari Sahal dan Ghifi (Mikro Pertanian UGM 2011) dan Arfan yang mulai ngasih ide terus tapi ga tau mau gimana mulainya… saya mulai garuk2 kepala. Ini juga yang kemudian ngebuat saya agak nutup diri beberapa jam dari Arfan. It’s likeI want to escape for a while… and can we talk ANYTHING but this first? I need a break.

Saya tau… akhirnya saya pun berusaha jalan pelan2…

Akhirnya proyek pertama kami… batere tanah (Soil Battery) yang berbasis sel bahan bakar mikrobia pun berjalan. Bagannya cuma tanah sawah yang gelap dan hangat (jangan tertukar sama kotoran sapi yang masih segar ya), pelat tembaga, pelat seng, toples, dan kabel. Oh ya… multimeter untuk mengukur. Konsepnya adalah pemanfaatan aliran elektron akibat reaksi redoks yang dilakukan mikroba tanah dan menjadi sumber listrik. Di jurnal, hanya 700 mV listrik yang dihasilkan…

Kami berhasil menghasilkan 1 V!! Cuma dari tanah! Mau liat bahasan lengkapnya, klik sini.

IMG_3206

Sedang dirakit…

Proyek kedua… ekstraksi DNA skala lab itu adalah kerjaan yang lumayan mahal! Bahkan dengan penggunaan protokol CTAB aja, saya menghabiskan Rp 50rb per sampel… sementara untuk tesis saya habis juga untuk proses trial and error sampai 80an sampel! Hampir di beberapa universitas yang mengajarkan biologi, ada protokol standar untuk ekstraksi DNA: Menggunakan sabun… iya, sabun! Tapi awalnya pertanyaan kami, terus gimana? Bisa ga hasil ekstraksi dengan sabun ini dipakai buat PCR? Karena kalau iya… ini bakal murah banget!

IMG_3822

Hasil ekstraksi DNA dari biji jagung… klik untuk memperbesar, itu yang putih2 itu adalah pita2 DNA yang terkompresi.

Ternyata jawabannya: BISA!

Waktu itu awalnya yang mengerjakan adalah saya, Ghea, Resa, Nana, Eka, percobaan pertama gagal… hal ini terjadi akibat inhibisi alkohol pada proses enzimatik ketika PCR. Akhirnya besoknya, saya mengulang prosedurnya… melibatkan pengeringan dan juga pemanasan yang tujuannya merusak adanya DNA nuklease/DNAse yang bisa saja ada pada suhu tinggi. Kemudian saya menambahkan satu bahan lagi… yang ternyata mahal… DNA hexamer primer.

Secara logika, jika heksamer ditambah, harusnya ada kemungkinan heksamer menempel secara acak dan membantu penggandaan/penyalinan DNA ketika PCR. Dengan primer STS ZmSh1 (Zea mays Shrunken1 – Gen pengkode enzim pada proses biosintesis sukrosa-pati, sukrosa sintase), ternyata kami dapat DNA nya dan bisa di PCR-kan!

11659347_1458154301169943_2677078233065035844_n

Ada pitanya lah ya… dan di DNA mentah, ternyata tanpa pemanasan… DNA jadi lebih pendek, diduga kena DNAse. Prosedurnya? Klik sini.

Bravo! Inilah tim kami…

IMG_3828

Abaikan yang depan…

Selama kerja… saya banyak memutar otak (buat nyari ide2 alternatif dan tambahan) bareng Ghea. Kami pengen, hanya dengan bahan2 seadanya dan pengerjaan singkat ini, kami bisa dapat banyak hal. Ekstrimnya dalam pengerjaan ini, kami bertapa di hari Sabtu di lab… sampai di taraf kami berdua kena omel Mbak Mus yang mau pakai mesin PCR. Yah, itu suatu cerita 🙂

Kemudian, penelitian DNA ini pun disempurnakan lagi datanya oleh Putri yang mencoba dengan variasi2 sabun, mulai sabun mandi, shampo, sampe sabun pel… protokolnya mirip, dan hasil bisa dilihat di sini.

Sebenarnya apa sih tujuan akhirnya? Kami ingin… kita bisa mengambil DNA dan memanipulasinya di manapun kita berada dengan cara yang mudah. Kalau perlu suatu saat kita bisa rekayasa genetika tanpa harus di lab atau kalo perlu bermain biologi sintetika. Ide ini… saya sebut “Gene Sorcery Protocol”.

Lalu… kami punya maskot baru: BAWANG bernama Onionie dengan nama akrab Dr. Onie.

XB - Happy Ied Mubarak

Versi Idul Fitri!

Kenapa bawang? Karena bawang berlapis2… seolah menyimpan rahasia. Awalnya ide ini gara2 saya sama Ghea sering ngomongin Deep Web yang menggunakan domain .onion yang hanya bisa dibuka dengan Tor. Kami berdua menduga bahwa ada informasi2 psycho atau gila tersembunyi di sana karena Deep Web identik dengan transaksi ilegal, organisasi kriminal, dan lain2… bahkan mungkin, ada konspirasi tersimpan di dalamnya. Sejaun ini sih… ternyata Deep Web cuma tempat pedofil ngumpul dan web nya banyak yang mati. Jadi… yah… krik2… Cuma, kami pun tetap mengidolakan bawang!

Hingga terpikir, buat kami membayangkan jika… kita mengambil listrik dari sumber makhluk hidup, tanpa membunuhnya… konsep ini diasumsikan menyempurnakan batere kentang dan lemon. Untuk itu, kami menggunakan: BAWANG! Kenapa? Bawang berlapis2, asumsinya dia akan cukup terpartisi sehingga jika 1 bagian dilukai, yang lain akan tetap hidup.

IMG_4178

3 bawang dalam rangkaian seri… 542 milivolt, lumayan!

20150728133318

…dan yang paling penting, bawangnya tumbuh!

Kami pun berpikir lebih jauh…

86551

Kami coba di talas…

11950303_10204753184821362_1137679172696712835_o

…di batang singkong…

105960

…pohon…

IMG_5403

…pohon di kuburan…

IMG_5404

…dan pohon yang dianggap keramat (di sini pohon beringin).

Apa yang kita inginkan?

  1. Cukup dengan kutipan kata “Sayang sekali pohon tidak menghasilkan wifi, hanya oksigen”. Ya benar, terus kita ga ngapa2in? Proyek bioelektrik ini bertujuan biar bagaimana kita mengambil listrik dari tumbuhan, sehingga nanti kita bisa pakai dari sumber ini untuk wifi, charger gadget, sampai lampu atau alat2 lain! Ini adalah bahan murah!
  2. Kenapa dengan kuburan dan pohon keramat? Pohon yang dikeramatkan diasumsikan memiliki “energi lebih besar”, secara hipotetikal pun mereka tidak ada yang berani ganggu… maka bagaimana mereka tumbuh dan menyerap nutrisi mereka akan optimal, asumsinya… listriknya akan lebih besar yang didapat. Ternyata sama juga sih sama pohon di luar kuburan.

Untuk proyek listrik ini, saya berterima kasih banget sama Jaler, Sahal, dan Ghifi (untuk yang batere tanah). Tanpa mereka, ide2 gila ini ga bakal jalan!

Suatu ketika, saya juga mulai berpikir untuk memperkenalkan tentang astronomi dan astrobiologi ke mereka. Dengan bantuan Bintang, malam itu ada Jaler, Ahmad, dan Ghea juga, kami belajar bagaimana mengetahui posisi mata angin dengan melihat bintang, identifikasi bintang umum dan konstelasi di langit, kemudian barulah saya ajarkan soal eksoplanet atau planet2 di luar tata surya, DAN kemungkinan ada tidaknya kehidupan di sana dengan kajian astrobiologi. Cukup “romantis” karena malam minggu kami semua menatap langit yang sama… *tsaaah*

Kemudian kompleksitas komunitas ini bertambah dengan masuknya guru (muda) saya yang mengajarkan saya Bahasa Jepang dan konsep semiotika bahasa, Rizki Mustafa Arisun (Sastra Jepang S2 UI 2012). Lengkap deh segala bahan2 kegilaan di sini!

Setelah 1 semester berkarya, kemudian kami memutuskan untuk “tur” ke 2 kota. Pertama: Makassar. Kampung halaman Ghea, Arfan, dan Ahmad. Kebetulan Arfan dan Ghea lagi pulang, saya ajak mereka ke Universitas Hasanudin.

IMG_4500

Lagi… abaikan yang depan…

Kami bertemu 4 mahasiswi dari sana dan kami sharing apa yang kami dapatkan. Ternyata di UNHAS mereka baru merintis perkembangan biologi molekuler. Kami juga bertemu Ibu Zaraswati Dwyana dan ngobrol2, serta kami berkata kalau kami diminta untuk mengajar atau sharing ilmu2 ini, kami siap.

Sebulan kemudian saya lulus S2.

Sebulan setelahnya… saya ke Bengkulu, ke tanah Rafflesia. Saya bertemu 3 anak Rekayasa Kehutanan SITH-R ITB 2012 dan 2013 yang 2 tertarik dengan Xenobiota, mereka adalah Reza, Shandy, dan Wahyu… berempat, kami ikut simposium internasional!

IMG_0649

Dari kiri: Wahyu, Reza, saya, Shandy.

IMG_0703

Saya, Reza, Wahyu, Shandy. Momen di mana saya seolah jadi dosen.

Di sini, kami berburu informasi mengenai puspa langka Indonesia: Rafflesia, hingga kami menemui para ahli Rafflesia: Bu Sofi Mursidawati, Pak Agus Susatya, Pak Edhi Sandra, dan Pak Jamili Nais. Alhamdulillah, di waktu yang sama… publikasi saya tentang Rafflesia pun TERBIT! Ini akan menjadi awal perkembangan bioteknologi Rafflesia yang sangat saya ingin mulai di Indonesia! Cuma yah, saya belum sempat bertemu lagi dengan mereka bertiga di Bandung/Jatinangor dan berbicara tentang ide2 gila seperti sama mereka yang di Yogya.

Perjalanan kami mencapai puncak pertama ketika kami bertemu dengan seorang MVP dari Hackteria Swiss, Dr. Marc R. Dusseiller yang bersamaan, kami nimbrung di acara yang dibuat oleh Bio-Faction, Austria di bawah Dr. Markus Schmidt (yap… orang yang di artikel2 sebelumnya saya sering sebut karena menjadi penulis ide tentang biologi sintetika dan xenobiologi serta XNA) dan koordinasi dengan Asisten Profesor dari NUS, Dr. Denisa Kera, acara itu… BIO-FICTION. Saya berbagi hasil2 penelitian kami mulai dari yang kami benar2 lakukan… hingga spekulatif…

XBI - AXSB - Aerohydrozoan XBI - AXSB - Zephyrophyta

Aerobiota adalah konsep jika di Jupiter ada kehidupan yang terbang, dan Zephyrophyta adalah konsep tumbuhan Kinetoautotrof.

Kemudian kami juga nonton pagelaran film pendek berisi konsep2 sains dan seni yang diputar di Vienna tahun 2014 lalu.

12036503_10207963089341884_9035770172877409003_n

Kerjasama dengan Hackteria Swiss, SynBio UGM, Permahami, dan BioArtNergy UGM.

“It’s just the very first page, not where the storyline ends” – Taylor Swift, lagu “Enchanted” di album “Speak Now”

Saya kehabisan kata2, karena tanpa dirasa… mereka telah menjadi bagian perjalanan saya di Yogya. Awalnya, saya semua serba sendiri dan berbicara sama teman2 S2, semua rasanya beda karena kita sama dewasa dan bahkan ada yang lebih dewasa dari saya. Sering saya pulang ke Jakarta karena kangen rumah. Setelah ketemu mereka, saya merasa nyaman di Yogya karena saya ngerasa punya orang2 yang begitu dekat dengan perjalanan hidup saya.

11391628_10153354406657154_3433753271932713027_n

Ketika saya seminar hasil tesis… Ghea dan Jaler pun dateng…

11800559_10153487524757154_3269875455344985594_n

Pas saya wisuda, Sahal dan Jaler pun dateng (lagi).

Saya bakal pergi buat S3 di Finlandia, mungkin saya meniggalkan mereka2 ini. Orang2 pada mikir, saya pergi… mereka gimana? Nggak… kami ga pecah. Buat saya, Xenobiota itu bukan cuma komunitas, tapi keluarga. Mereka berhasil memberikan sesuatu yang membuat saya merasa sangat dekat dengan mereka hingga saat ini. Dari Xenobiota komunitas GAMA Biosintetika di bawah Sahal pun lahir, dan koordinasi kami dengan UB, ITS, dan ITB pun masih baru dimulai.

Namun gimana kalau suatu saat setelah saya pergi pergerakan kami berhenti? Protokol Kapsul Bakteria. Saya akan membuat sistem inti tetap ada, komunikasi tetap ada, mau ada anggota baru… saya tahan kecuali mereka rela jadi spektator atau mau memberikan sumbangan ide dan mau melakukannya. Saya sendiri membuat mereka… angkatan pertama Xenobiota sebagai benih2, yang saya harap akan tumbuh ke manapun mereka akan pergi nantinya setelah lulus. Kami akan tetap membangun jaringan dari satu tempat ke tempat lain, satu institusi ke institusi lain. Kami ingin belajar ilmu yang saat ini kami hanya mendengarnya sayup2 dari berita dan buku.

Buat saya…

Dari Xenobiota, saya mendapatkan mereka yang saya anggap keluarga. Mereka yang saya anggap adik. Dan mereka yang saya anggap dekat.

Untuk kalian…

Biar saya pergi, tolong bawa nama Xenobiota sebagai atribut kalian. Saya ingin ketika kalian berhasil S2 ke luar negeri atau suatu saat jadi pendidik di daerah2, saya bisa menengok kalian dan kita berkolaborasi lagi dengan penelitian lebih seru lagi. Mimpi saya adalah melihat kalian berdiri sebagai orang2 yang penting dan berkontribusi untuk kemajuan sains dan seni di Indonesia dan dunia, menjadi orang yang membuka mata atas kemurnian sains, dan menjadi orang yang selalu menumbuhkan bibit rasa keingintahuan pada generasi selanjutnya. Doa saya, kalian bisa lanjut pendidikan kalian setinggi2nya, dan yuk… kita ketemu bareng di puncak dunia dan jadi inspirator… 🙂

-AW-

Pagi menjelang siang, saya duduk diam menunggu konsultasi laporan proyek dengan Pak Bambang, seorang dosen biologi UGM. Tiga bulan hitungan mundur dimulai sebelum saya terbang melanjutkan studi S3 Teknik Kimia di Åbo Akademi University, Turku, Finlandia dan saya akan meninggalkan sementara begitu banyak hal di Indonesia. Keluarga, teman2, kolega, bahkan pacar saya sendiri. Sendiri, menarik napas dan mendengarkan semua suara yang tertangkap di telinga di gedung biologi UGM ini membawa saya ke momen nostalgia. Ditambah kemarin malam dan beberapa saat waktu lalu… di Line, saya melihat anak2 Xenobiota yang kebanyakan adalah anak biologi UGM angkatan 2014 mulai mengeluh harus mengerjakan tugas laporan praktikum dan tugas yang menumpuk setelah melewati minggu UTS. Tak terkecuali pacar saya sendiri yang sedang melewati tahun akhirnya…

A: Kamu ntar bakal sibuk sampe malem yah?

G: Hmmm kayaknya sih iya, bakal penuh sampe malem… masih ada sisa laporan yang harus dikoreksi sama ngerjain laporan praktikum…

Yah… baiklah… .___.

Lantas… pagi ini… saya tiba2 kangen rasanya dengan kehidupan S1 saya. Saya kangen dengan datang pagi ke kampus, sudah “diterror” dengan soal pendahuluan alias pre-test pas jadi praktikan, ngerjain laporan praktikum dengan laptop sambil dengerin lagu, ATAU… ngerjain laporan praktikum yang panjangnya menyaingi sajadah saya karena disulam (di ITB dulu, 1 minggu sebelum praktikum, semua diagram alir sudah ditulis di buku yang disebut “jurnal” itu; laporan ditulis di buku yang sama, lantas ga bisa kalau halamannya ditambal manual dengan kertas buku). Tahun selanjutnya ketika jadi asisten praktikum, saya ingat H-1 harus briefing materi dengan dosen di ujung lorong SITH ITB, besoknya datang 1 jam lebih awal, berjas lab, alat udah stand by, saat praktikum… mata harus fokus ke materi, ke dosen, plus ke bocah2 di depan saya yang kadang urakan, kadang ribut, kadang kayang atau salto atau joget2 kayak belatung… malamnya, aduh, ini laporan niat apa nggak sih ngerjainnya?? (buat yang dulunya anak praktikan saya, Sisi, Dine, Lisa, Yesie, dkk… sabar ya) Intinya menguras energi! Itu masih biasa… seenggaknya untuk asprak lab se-Indonesia mungkin mengalami itu… APALAGI yang asprak lapangan!

Mungkin juga… hari ini adalah genap 6 tahun lalu kami kuliah lapangan super asik ke Bali Barat dan Kintamani.

“Dit, gimana sih rasanya jadi mahasiswa SITH ITB?”

Mau tau? Oke…

Tahun Pertama

SITH ITB angkatan 2007 itu adalah angkatan terakhir yang merasakan praktikum Biologi Umum, setelah kami adanya Konsep Biologi dan itu ga ada praktikum bahkan ga ada kuliah lapangan (kulap). Itu doang? Nope… seminggu kami dijajalkan dengan TIGA praktikum… Biologi Umum, Fisika Dasar, dan Kimia Dasar. Buat saya, tahun ini adalah mimpi buruk! Masih berusaha menyesuaikan kuliah, gagal move on sama gebetan pas SMU, kadang sotoy atau sok ngerasa bisa bahwa materi taun pertama (TPB ITB) ini sama dengan SMU, itu adalah jebakan Batman! Lantas IPK saya pun di bawah standar saat itu. Saya juga ga ngerti gimana dosen itu sangat heterogen dan kita harus paham satu2. Soal praktikum, saya untuk pertama kalinya pusing dengan bagaimana kakak2 asprak itu memberi arahan (karena ga semuanya jago ngomong plus ada yang tampangnya galak… mana asprak saat itu sama juga kakak tadis ospek himpunan… mereka kelar praktikum langsung pasang jaket himpunan di medan ospek! Mampus lah aku!). Dari semua itu, saya kagum sama Kak Yola (Biologi 2004) yang ngajar Biologi Umum-nya asik, sabar menghadapi kami, asik sebagai temen ngobrol, cuma… tiba2 dia ngasih nilai 40… hiks. Ngerasain kuliah lapangan pertama, munculah sesosok pria (naon) bernama Kang Arief alias Kang Meded (Biologi 2004) yang namanya masih bergaung di dunia biologi sistematik ITB sampai SEKARANG! Beliau… saya ga ngerti waktu itu, bisa apal sekian ratus nama latin tumbuhan LENGKAP hingga tingkat famili dan spesies!! Kemudian ada teman saya Okta (Biologi 2007 juga) yang ntah gimana ngerti gitu juga! Well, ada 7 manusia super yang ilmu biosistematika nya di atas rata2… mereka disebut TAXON 6… Kang Meded… tumbuhan, Kang Ezak (Biologi 2003)… tumbuhan juga, Teh Agri (Biologi 2004)… tumbuhan dan beberapa yang lain, Teh Mika (Biologi 2004)… sama kayak Teh Agri, Kang Andri (Biologi 2005)… serangga, dan sang ranger ke-6… Okta sendiri yang ngerti tumbuhan.

Kuliah lapangan BiUm kami ke Taman Buah Mekarsari dan Kebun Raya Cibodas-Gunung Gede-Pangrango. Ini untuk pertama kalinya saya bisa sangat deket dengan teman2 seangkatan saya! Mana dengan ultra random nya di penginapan bersama kami itu… ada ulat kecil yang menggantung bak tirai diberanda! Weks!! Cuma ga masalah… it’s fun! Walau saya ntah berapa kali jatuh kepleset di kulap itu…

1930055_19718342153_2180_n

Di air terjun di Gunung Gede-Pangrango. Kami potret bareng asprak kami, Teh Gita.

Setelah itu, tahun pertama berakhir. SITH 2007 terbagi jadi Biologi dan Mikrobiologi dengan rasio 70 dan 40. Saya selain pengalaman tadi, saya ngerasa ga puas dengan nilai2 di tahun ini! Untung, saya berhasil menambal nilai saya di semester berikutnya dan saya ga jadi DO. Antara tahun pertama dan kedua, saya jadi panitia penata tertib kelompok (Taplok) di program Inisiasi Keluarga Mahasiswa ITB (InKM) alias ospek kampus. Outcome setelahnya? Saya yang tadinya cuek dan pendiem, jadi lebih talkative bahkan ke anak SITH 2008 yang saat itu kayak bocah banget. Yah, saya suka liat junior2 saya yang lucu :3 #nopedo

Tahun Kedua

Tahun kedua itu seru dan merupakan transformasi awal kami sebagai peneliti. Tapi transformasi yang paling nyentrik adalah:

Cewek2 Biologi kalem + Proyek Anatomi Fisiologi Hewan (Anfiswan) + Praktikum Biologi Perkembangan Hewan (Perwan) –> Cewek Biologi Psycho

Awalnya “KYAAAAA tikus!!”

Akhirnya “MANA TUH TIKUS GW TIBAN!!”

Tahun kedua itu adalah sarana yang sangat psycho tapi seru (apa coba) buat kami, cuma merupakan definisi Holocaust buat tikus, mencit, marmut, dan katak/kodok. Bayangin! Waktu itu, di mata kuliah proyek Anfiswan, kami diajarkan bagaiman menyuntik mencit atau tikus dengan logam berat untuk diamati jaringannya, kemudian di praktikum biosistematik kami diajarkan untuk mengawetkan binatang dengan formalin! Soal prosesnya saya ga mau bilang karena saya bisa aja dituntut kaum vegan atau PETA. Demi sains… yeah saya setuju sama GLaDOS di Portal…

“For science, you monster”

Kuliah biosistematika, kami menjelajah Gunung Tangkuban Parahu dari puncak ke lereng dekat perkebunan. Saya merasakan buang air besar di WC yang ditinggalkan (penting ya Dit), dan juga merasakan makan buah beri liar di hutan sama batang begonia… thanks to Kang Meded. Terus kuliah besarnya ke Pantai Pangandaran, kami pertama kali diajari membuat awetan kupu2 di Ladang Cikamal yang terik dan ada rusanya. Saya keringetan sampai baju saya basah karena di sana sangat terik mataharinya meski lembab. Menariknya, saya sempat merasakan beli cumi goreng garing dengan CUMI SEGAR gara2 kelaparan akibat dari pagi evaluasi pengamatan DAN saya nyaris ketinggalan! Oke… itu ngaco…

1588_51360612153_9168_n

Kakak2 Asprak Biosistematika sedang absurd

1924160_41800287153_6346_n

Briefing di Puncak Tangkuban Parahu (Kulap Biosistematika 2)

1927606_45569777153_7396_n

Kuliah lapangan 3 di Pangandaran…

Oh iya, kemudian ada praktikum genetika. Di ITB, praktikum ini berkutat pada pengenalan kromosom, bermain2 sama lalat buah (Drosophila melanogaster) mutan berikut menyilangkannya dengan semena2, membiarkan medianya bau busuk, dan eter menyebar ke seisi ruangan dan buat mabok, ekstraksi DNA, dan sedikit pengenalan soal PCR.

Ada cerita seru di praktikum ini. Jadi ceritanya kami harus menyilangkan lalat buah (acara 3), akan tetapi… ternyata praktikum yang agendanya 2 minggu ini terpotong libur lebaran. Alhasil kami semua diminta ngelakuin di rumah (kampung halaman masing2) dengan perangkat lengkap, lalat yang disilangkan, media, sama bius (eter). Di kelompok, saya satu tim (1 kelompok dibagi2 per 2 orang) dengan teman saya Vina (biologi 2007). Kami dapat mutan miniature (sayapnya kecil banget sampe lalatnya ga bisa terbang) dan ebony (badannya hitam). Di Jakarta… setelah itu… semua jadi suram: eter menguap ke kamar, media mengering, lalat tewas. Terus gimana di laporan?? Tulisan di bawah ini disalin dari manuskrip laporan aslinya:

2.3.1 DATA KELOMPOK

Percobaan yang kami lakukan sekelompok bisa dibilang gagal. Saat kami membawa botol media berisi lalat ke kampung halaman kami saat liburan lebaran ini nampaknya mengalami masalah perbedaan kondisi dengan di Bandung. Lalat-lalat mutan miniature betina yang ada pada saya hanya bisa bertahan sesaat dan kemudian mati kena infeksi jamur. Kemudian larva pun tumbuh hingga menjadi F1. Kemudian masalah pun terulang saat dipindahkan ke botol media yang baru. Lalat pun terinfeksi jamur. Ditambah dengan suhu panas Jakarta, media pun mengering & suhu menjadi cocok untuk pertumbuhan bakteri. Itu ditandakan dengan adanya perubahan bau botol media yang awalnya berbau pisang agak beralkohol (karena adanya ragi) saat ini menjadi berbau busuk menyengat. Saya sempat ingin mengulang namun masalah yang sama menimpa botol induk, sehingga saya tidak bisa mengulang.

Sama halnya dengan lalat pasangan praktikum saya, Vina. Bedanya, yang merupakan lalat mutan miniature adalah lalat jantan. Dan setelah saya mengontak Vina, ternyata mengalami masalah yang sama; media yang mengering.

Ntah gimana yang asprak kami pikir setelah kami nulis ini… kayaknya sih laporan saya dicoret. Lupa saya dapat nilai berapa.

2433304-just_read_super

Diasumsikan ini adalah ekspresi asprak yang meriksa.

Selesai sesi itu, saya dengan kurang ajar nya minta lalat yang sisa dari teman2 saya. Saya buat media sendiri di rumah dengan tabung Erlenmeyer yang saya beli, pisang yang dilumatkan, dan busa dari sofa kosan saya yang berantakan. Lalatnya mutan miniature dan eyemissing (matanya kecil banget sampe ga bisa jalan stabil). Saya silangkan… saya lupa hasilnya gimana, cuma bayangin anaknya suram banget kalo mewarisi 2 mutasi induknya tadi.

1931038_39291722153_9034_n

Mutant Fly Farmer from The Abyss. Oh, BTW itu di kosan saya…

Semester berikutnya, kontras dengan sebelumnya, nuansanya lebih tentang tumbuhan karena kebanyakan kuliahnya adalah tentang tumbuhan seperti fisiologi tumbuhan, struktur dan perkembangan tumbuhan, dan proyek tumbuhan (Protum). Dengan kata lain… ini surga buat saya… seharusnya. Tapi bisa mengerti bahasa2 dosen DAN asprak di kuliah2 tumbuhan ini… rasanya cukup sulit! Kadang saya udah dengan yakinnya mikir A ternyata B, kadang mikir B ternyata A, gitu deh. Ga tau kenapa. Tapi ngerasain bermain dengan auksin (regulator tumbuh tumbuhan yang menyebakan sel memanjang ke bagian tunas dan ujung akar) dan juga ngerti soal cara kultur jaringan tumbuhan itu seru!

1923187_72066127153_5735371_n

Narsis lv: Rak Kuljar Tumbuhan.

2961_83963837153_3750449_n

Kuliah lapangan Protum di Lembang. Kami dikelilingi hijaunya tanaman selada aeroponik.

Yang sadis… biologi perkembangan hewan. Saya waktu itu dapat kelas Bu Marsel. Kuliah ini kadang mengandung nausea fuel atau bahkan nightmare fuel akibat body horror. Sesuai namanya, kita diajarkan bagaimana hewan tumbuh dari momen terbentuknya sel ovum dan sperma, pembentukan zigot, morula, blastula, gastrula, hingga neurula. Dari situ masih lucu. Yang ga lucu, momen ketika tahap perkembangan lanjut di mana bagian2 primordia tertentu gagal melipat, menutup, atau membentuk suatu organ… itu SANGAT HORROR! Dengan kata lain, kita melihat bagaimana janin cacat akibat proses perkembangan yang gagal atau akibat induksi kimia. Lantas, di bagian praktikum pun kami ada momen menyuntik tikus hamil dengan kadmium untuk melihat gimana anaknya gagal terbentuk. Oke… cukup. Legenda praktikum saat itu adalah Teh Tazy (Biologi 2005) yang sangat telaten memberi materi tambahan buat kami sebelum ujian dengan bahasa yang SUPER ASIK!

2209_62435507153_7863_n

Lihatlah senyum2 psikopat ini yang sedang membedah tikus… saya khawatir kalo ini dimasukin di FB lagi bisa jadi bahan gunjingan dan membuat kami terkenal. PS: Kiri dan kanan itu asprak saya waktu itu, Kak Hani dan Kak Randy.

1923187_68235502153_5939117_n

Ini adalah Teh Tazy… sedang menjelaskan pembentukan bumbung neural pada ayam… (kalo ga salah).

Selain yang disebutkan, ada praktikum biokimia dan kimia organik. Cuma cerita saya ga terlalu banyak karena yang saya inget cuma protein, asam amino, asam sulfat pekat, dan semacamnya. Damn you brain

Akhir tahun kedua… saya masih mikir kenapa saya ga nyantol2 sama cewek SITH 2008. Yeah, sekarang sih saya ngerti kenapa. Belum nyerah, akhirnya saya jadi ketua divisi pembina kelompok alias Binok di ospek HIMASITH Nymphaea atau PPN 2009 saat itu. Lanjut, saya jadi ketua divisi dokumentasi Pengenalan Ruang Organisasi Keluarga Mahasiswa (PROKM… nama lain di tahun itu buat INKM sih) yang merangkap pendiklat Taplok.

10400654_123226092153_6301188_n

Should I say more? (Ket: Itu anak2 SITH 2008)

Still… ga ada yang nyantol. Suram.

Tahun Ketiga

Tahun ketiga itu adalah tahun yang buat saya paling baper. Di semester ini ada kuliah proyek ekologi (disingkat Proeko) di mana  kami merasakan 3 kulap: Kulap kecil hanya di sekitar kampus termasuk kawasan Babakan Siliwangi di mana kami belajar menggunakan alat2 penelitian ekologi sederhana seperti sling hygrometer, Lamotte water sampler, Ekman grab, luxmeter, dan lain2. terus ke 3 lokasi kawasan Situ Lembang yang merupakan kawasan hutan dan hulu sungai, Curug (Air Terjun) Cimahi yang dekat desa dan airnya segar, dan Kali Pajagalan yang sangat suram dan kami bahkan dapat cacing sutra (indikator air kotor) dan “bom lokal yang mengapung”, SERTA… MEGA KULAP TAMAN NASIONAL BALI BARAT – GUNUNG BATUR KINTAMANI!!!

1934237_163260472153_4256570_n

Kelompok proyek ekologi saya… saat itu di daearah Situ Lembang.

1934237_163260577153_4633114_n

Versi seangkatan… di depan Situ Lembang (Ket: Situ itu artinya “danau”)

Saya ga bakal membahas kulap kecil dan sedang kami itu, cuma mega kulap kami ini… sangat indah, hingga beberapa orang di dalamnya cinlok. Bagaimana ya saya mendeskripsikannya?

Picture this: Kalian dikumpulkan SEANGKATAN pagi2 buta di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Udara sejuk, langit cerah, kita merasakan matahari terbit di waktu dosen kita memberi penjelasan awal dan kemudian foto bersama. Kemudian kita naik kereta ekonomi Bandung-Surabaya, Pasundan, dengan 1 gerbong semuanya tempat kita. Di dalamnya kita melihat aneka rupa wajah teman2 kita, dari yang makan terus, keliling ga jelas, tidur sampe ngiler, dengerin musik, cerita2 satu sama lain, main kartu, dengerin cerita masa muda Pak Gede dan Bu Endah, dan bahkan ada yang curcol… ada juga sih yang pacaran. Perjalanan kita dari pagi itu, melewati kota Yogya jam 4 sore, melewati Stasiun Solo Balapan jam 5 sore, dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng jam 12 malam. Sesampainya, kita bergegas dengan sigap memindahkan peti2 harta karun penelitian kita yang berisi binokuler hingga alat2 tadi dari kereta ke bus. Setelah seharian penuh di kereta yang anginnya dari jendela, kita naik bus AC yang membawa kita ke kawasan Pasir Putih… melewati malam, dan kita terbangun untuk sholat subuh dan juga sarapan pagi. Seusainya, kita lanjut… kita menyebrang Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Kita pun potret2 di atas kapal feri yang melintasi selat, langit saat itu berawan, tapi laut itu biru. Setelah menyebrang, tibalah kita di kantor pusat Taman Nasional Bali Barat (TNBB), di situ kita yang cowok menaruh barang2 di aula, dan yang cewek ke penginapan (sekali lagi… penginapan khusus kantor TNBB!). Siang itu, kita melihat lokasi penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) dan pengamatan burung. Pulang, kita ngantri mandi dan istirahat (yang cowok). Abis itu kita bebas…

1917890_185153867153_602080_n

Pagi itu di sebuah gerbong Kereta Pasundan.

1917890_185157262153_4945672_n

Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk.

1917890_185169397153_6519768_n

Kelakuan bocah2 di depan tempat penangkaran Jalak Bali.

1917890_185669412153_6433005_n

Jalak Bali.

Besoknya, kita pengamatan ke Teluk Gilimanuk setelah pagi itu hujan cukup deras. Kita duduk di atas terpal mengamati burung, disapa matahari terbit yang nongol di balik awan hujan, dan munculah pelangi ganda pagi itu. Masih kurang bagus? Kita pengamatan terumbu karang dengan melakukan snorkling di Pulau Menjangan… situs selam yang terkenal di dunia internasional yang berada di Bali Utara! Langit biru, air laut biru, angin sepoi2, dan hari yang cerah. Bintang laut, koral, dan kerang raksasa siap menyapa kalian di balik kacamata selam kalian! Tak jarang, momen2 ini dipakai foto2, bahkan ada asprak (sebut saja Kak Imam dan Kak Ira, Biologi 2006) yang sok2 foto pra-wedding lho! (PS: Terus mereka sekarang beneran nikah lho!!). Sepulangnya, kita istirahat, Pak Gede setelah de-briefing memutar video yang diambil pas nyelam. Kita ketawa2 bareng karena ada yang celananya menggelembung di bagian pantat. Besoknya lagi, kita jalan dengan bus lewat Pantai Lovina untuk melihat lumba2, namun sayang ga ada. Di bus, kita karaoke bareng… tanpa membedakan dosen, asprak, dan mahasiswa. Sampai di Gunung Batur, udara dingin, penasaran rasanya sama tempat penginapan malam itu. Ternyata, kita punya kenalan alumni yang buka resort bulan madu! Yang cewek dapat kamar resort berbentuk rumah panggung, asprak dan dosen di rumah resort dengan kolam renang di depannya dan Danau Kintamani di sisinya, yang cowok… kita dapat aula… yang menghadap Danau Kintamani langsung, bersebelahan dengan bar dan panggung rindik Bali. Di malam hari, tanpa polusi, ribuan bintang menyapa kita. Udara dingin bukanlah apa2 walau kita harus keluar untuk memasang perangkap cahaya dan Malaise trap.

1917890_185673297153_1397584_n

Mentari terbit di Teluk Gilimanuk.

1917890_185673307153_3674237_n

Pelangi ganda.

1917890_185673367153_955218_n

Pantai di Pulau Menjangan.

1917890_185211372153_2488303_n

Pengamatan siang itu.

1917890_185675917153_1268159_n

Sore hari di Resort Kedisan, Kintamani.

1917890_185389332153_2108568_n

Persiapan pengambilan sampel air.

1917890_185680177153_1205386_n

Mentari terbit di sekitar Gunung Batur.

1917890_185413412153_5386728_n

Pengamatan ekosistem sabana.

1917890_185425872153_4693965_n

Sampling terakhir di lereng gunung bagian hutan. Waktu itu sedang membuat plot pengukuran.

Paginya, setalah bangun menghirup udara segar di bawah sejuta bintang di langit subuh, kita mendaki Gunung Batur. Padang rumput yang coklat, matahari terbit, dan kebersamaan kita ketika berjalan. Sempurna. Memang, kita di sana mengambil data, cuma kita melakukannya dengan gembira di tengah keseriusan kita. Seusainya, kita pulang dan makan. Sorenya kita pengamatan di hutan Gunung Batur. Kita bisa melihat mata2 para asprak yang sangat kelelahan sore itu. Kitapun lelah, cuma ya sudah. Setelah sampel di tangan kita, kita turun bukit dan kembali ke penginapan dengan truk. Malam itu energi terkuras rasanya, dengan energi tersisa kita berusaha mengkompilasi sampel kita sebelum pulang esok hari. Pulang. Semua terasa begitu cepat. Seketika, Bu Endah menghentikan proses identifikasi sampel malam itu.

“Para praktikan proeko 2009, identifikasi dan kompilasi data malam ini kita hentikan saja. Saya rasa kita semua sudah sangat kelelahan dan besok masih ada serangkaian acara sebelum pulang. Kami para dosen dan segenap tim asisten mengucapkan terima kasih atas usaha kalian hari ini, dan dari kami… kami sudah mempersiapkan api unggun dan jagung bakar untuk kalian menikmati malam terakhir di sini sebelum pulang. Manfaatkan waktu yang tersisa bersama teman2 kalian, dan selamat malam”

Sekejap, rasa kantuk itu sirna. Kita semua menghangatkan diri di dekat api unggun dan menyantap jagung bakar bersama. Kita bermain game dan saling bercerita. Bahkan teman kita yang paling pendiam pun bisa bercerita dengan serunya. Beberapa orang bahkan terlihat cinloknya. Kita semua tertawa malam itu. Kita semua mengabadikannya dengan foto bersama.

1917890_185426017153_6335564_n

Malam api unggun.

1917890_185684802153_6541802_n

Pagi itu di Resort Kedisan.

1917890_185655207153_4376558_n

Foto di Kedisan.

1917890_185655257153_1277058_n

Ini… “Sesi Pemujaan (Sesat) Asisten oleh Praktikan”

1917890_185655282153_7759993_n

Para asisten dan dosen (cewek).

1917890_185655287153_7988375_n

Mencari masjid untuk jumatan di Kuta.

Esoknya, kita memberi persembahan kepada pemilik penginapan dan foto bersama di lokasi, dan foto bersama lagi di kaki Gunung Batur per kelompok plus asisten, foto bareng para asisten dan juga tim dosen beserta medik. Kitapun berjalan ke Pantai Kuta (walau yang cowok kepotong jumatan) dan membeli oleh2 sebelum lanjut pulang melewati kantor Taman Nasional Bali Barat. Sore itu di saat matahari terbenam, saya mendengarkan lagu “Lembayung Bali” oleh Saras Dewi… dan sedih rasanya berpisah dengan Bali…

“Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung Bali…”

Kembali… naik kapal feri malam itu, dan menuju Stasiun Surabaya Gubeng. Sesampainya waktu menunjukkan jam 1 pagi. Kita semua tidur di stasiun. Jam 4, kita sholat subuh dan mendengar cerita Pak Gede dan Bu Endah sembari menunggu kereta. Di kereta, yang tersisa adalah lelah, sampel pengamatan, dan memori yang tak akan terlupakan.

Saya menghela napas sesampainya di Stasiun Kiaracondong jam 11 malam itu dan ketika sampai di kosan, saya sedih karena merasa semua momen tadi yang kayak mimpi itu udah lewat. Time flies on one week. Besoknya… jreeeng!! Saatnya kompliasi data lagi… dan bau formalin menyengat hidung! Plus… laporan dengan data segunung…

Gilanya lagi, semester itu Proeko bukan satu2nya mata kuliah praktikum-proyek. Ada 1 lagi: Proyek Biologi Sel dan Molekuler (Probiselmol). Proyeknya cukup nyentrik! Ekstraksi RNA, kultur sel hewan, dan main2 sama sel purna dari tulang paha dan PLASENTA MANUSIA. Segala “permainan” di sini perlu sterilitas tinggi, baik dari alat2, lab, sampai kitanya sendiri (maksudnya perlengkapan SOP kita… anunya sih jangan steril lah ya!). Cukup seru rasanya walau juga was2 ketika bermain dengan sel hewan yang lebih bawel dari sel tumbuhan.

Semester selanjutnya… ada kuliah dengan praktikum terakhir (yaaah) kami, biologi perilaku. Kuliah ini adalah penyempurna segala sesuatu yang membuat kami jadi anak yang rada psycho. Gimana ngga? Kita main dengan kecoak cuma buat ngamatin perilakunya, terus ikan, sampai cacing pipih atau Planaria yang kita belah2 terus ternyata masih hidup dan jadi 2 dan 3 (tergantung ngebelahnya). Kuliah lapangan kami, pergi ke Pulau Peucang, salah satu pulau di ujung barat Pulau Jawa yang berbatasan dengan kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.

Kemudian ada satu lagi yang saat itu HANYA SAYA yang melakukannya: Menjadi pionir anak biologi yang ambil mata kuliah di program studi Astronomi, yaitu Astrobiologi. Saat ini, kita mungkin sering banget denger soal penemuan planet di luar tata surya yang identik dengan mencari kehidupan di luar sana… ya ga? Kuliah ini membekali kita tentang asal-usul kehidupan dan kondisi2 di luar angkasa sana yang mungkin mendukung kehidupan. Waktu itu, saya kuliah hanya bertiga dengan 2 orang anak teknik fisika 2005. Anehnya, kelas itu seharusnya buat S2! Hal berkesan adalah saya jadi sering sharing dengan dosen yang sekarang jadi salah satu panutan saya, Pak Taufiq Hidayat yang dulunya adalah ketua pengurus Observatorium Bosscha. Dasar oportunis, saya pun bilang beliau buat ijin pengamatan bintang malam2. Beruntung! Saya ditemui dengan Pak Mohammad Irfan, salah seorang astronom di Bosscha yang mengajarkan saya melihat benda langit saat itu dengan teleskop Unitron. Yah, walau ngarep buat pake teleskop Zeiss (yang gede itu) sih. Cuma seru ngeliat Saturnus, Mars, Venus, Alpha Centauri 1 dan 2, Sirius, dan lainnya saat itu! Bahkan, serasa anggota olimpiade astronomi, malam itu saya bermalam di Bosscha, hehehe. Beberapa bulan kemudian, saya sadar bahwa Pak Irfan itu dulu ada di film Petualangan Sherina sebagai figuran yang jadi astronom.

29411_415259352153_7296614_n

Di bawah Teleskop Raksasa Zeiss di Observatorium Bosscha.

Tahun ketiga… setelah 20 tahun 10 bulan 15 hari 19 jam 25 menit… saya akhirnya punya pacar! Sayangnya hanya bertahan 2 bulan karena faktor orang tua dia…

Tahun Keempat

Awal tahun keempat berawal dengan kegalauan (tsaaah), meski demikian… saya harus mengakui bahwa saya itu beruntung sekali di awal tahun keempat. Alasannya? Dapat dosen pembimbing Bu Totik Sri Mariani, saya pun ikut proyek ke Singapura tanpa saya perlu buat proposal penelitian! Menjalani penelitian di National Institute of Education (NIE) Nanyang Technological University (NTU) itu adalah cerita yang saya ga mungkin bakal lupakan. “Bermain” pistol partikel untuk transformasi menggunakan bubuk tungsten dan senyawa mutagen nitrosometilurea (NMU) pada 500 tunas Aglaonema untuk membuat tanaman merah putih itu menarik… dan kedengerannya sangat badass!

65128_473677237153_6918716_n

Penelitian skripsi dulu gan!

Di sisi lain, waktu itu akhirnya ngerasain jadi asprak Probiselmol. Tiap minggu kita nongkrong di ujung lorong lantai 3 untuk briefing asisten. Kadang, saya ngerasa ga signifikan karena selain saya orangnya kaliber nya cukup “dewa” untuk menjelaskan fenomena2 di kuliah ini. Tak terkecuali dosennya, Bu Marsel dan Bu Fenny. Kadang, pas waktunya praktikum berjalan saya bolak-balik nanya asisten lain atau Bu Fenny kalau bingung… makanya, saya ngerasa abal banget jadi asisten. Seenggaknya sampai saya ngerti konsepnya, begitu ngerti… yak, I have the game with me! Di sini saya berubah jadi asisten pelit nilai… (jangan ditiru ya dek).

58940_464390107153_158341_n

Asprak Probiselmol yang absurd… dengan praktikan bocah… yang jauh lebih absurd…

Sisa tahun keempat ini ga ada yang terlalu menonjol, kuliahnya gitu2 aja dan paling saya ambil 2 mata kuliah astronomi lagi: Eksplorasi Angkasa Luar dan Astronomi dan Lingkungan. Sedihnya, keduanya bahkan ga A kayak pas Astrobiologi. Sebagian besar di waktu tahun keempat ini teman2 udah pada sibuk di lab masing2. Momen ketemuan paling cadas adalah jadi SwaSTA (Mahasiswa Sibuk TA) yang datang sebagai momok mengerikan di ospek himpunan maupun kampus. Tahun keempat saya punya pacar waktu itu, dia anak biologi 2010. Tapi yah, bertahan 8 bulan. Kadang kalo ngobrol ama temen diejek, “Sebulan lagi lahir tuh Dit padahal”. Ya kali! Itu pun putusnya sebelum wisuda. Itu kemudian sempet jadi alasan saya ga ke ITB nyaris 1 tahun.

Lebay? I know… namanya juga masih labil. Sekarang mah… ya… ngga!

Waktu berlalu… lagi, sebentar lagi saya S3. Kangen rasanya dengan semua yang di atas. Kemarin S2 pun rasanya beda. Saya meneliti dalam tingkat profesional, fun? Itu iya, cuma rasanya beda. Ga kayak pas S1. Ga usah gitu, sekarang saya pacaran aja udah mikir gimana ntarnya. Ga haha hihi kayak dulu. Tapi bukan berarti saya ga menikmati. Cuma, jadi orang dewasa itu ribet ya, cuma itulah hidup. Kadang kita takut jadi dewasa, padahal tumbuh itu mutlak, dewasa itu hasil proses.

Biarkan deh, saya tersenyum mengingat cerita2 di atas.

Buat temen2 SITH 2007, kakak2 asisten, para dosen SITH, dan bocah2 2008 ke bawah… mendadak saya jadi kangen kalian deh…

-AW-

Malam Minggu kali ini rasanya cukup beda buat saya. Sudah lumayan lega karena habis ujian komprehensif yang artinya saatnya nulis lagi, beresin proposal, revisi dikit, dan ngolah data. Lusa saya pun pulang bentar ke Jakarta buat perpanjang paspor dan tes TOEFL. Yang membuat beda lainnya adalah karena malam ini saya sedang berada di hotel Grand Aston Yogya. Sendirian. Thanks to menang lomba makan Black Hot Dog kemaren, saya dapat voucher nginep semalam di sini! Itung2 mau nyoba nge-review hotel (rencananya besok mulai nulis), saya udah nyicip2 banyak di sini dengan deposit Rp 200rb.

Ngomong2… balik ke topik. Saya belum ngantuk malam ini, daripada ga jelas kayak para jomblo-ers yang ngenes (sori ya… saya single ga jomblo!) mari produktif. Obrolan malam ini adalah tentang buku terlarang.

Pernah gak sih kalian punya buku yang ga umum atau sangat kontroversial di rumah atau kos atau di komputer?

“Maksud lo bokep Dit?”

Uy… bukan. Buku yang apa ya… rada bahaya. Temen saya, punya literatur isi pentagram yang konon bisa manggil King Solomon atau manggil setan. Ga ngerti buat apa. BTW, maksud saya di sini lebih kayak buku yang ada di bagian khusus perpustakaan, bagian rahasia atau bagian terlarang… yang di mana bagian itu ga bisa disentuh sembarangan pembaca. Di rumah saya ada! Untungnya… ga seekstrim buku ritual kayak punya temen saya itu yang ntah dia punya dari mana dan buat apa.

IMG_2786

Random ya…

Oke, manggil alter-ego saya ah… Astrax… uy!

Astrax Viridium Albireo (AVA): Ada apa Dit? Malam2 begini aku di Verudinia pemandangannya sedang bisa dikatakan lumayan…

Verudinia World Map

Peta dunia Verudinia. Klik untuk memperbesar!

Hmmmm… dengar2 di sana ada perpustakaan tersembunyi yang bukunya hanya ‘untuk orang tertentu’ ya?

AVA: Hmmm… di sini, perpustakaan terkompleks di Verudinia itu ada di Vox. Maksudku perpustakaan yang diketahui ya. Ntah dari semua peninggalan2 masa lampau di sini mungkin ada lagi ntah di mana, tapi yang benar2 ada di perkotaan hanya di Vox. Ngomong2, itu… bukumu… memangnya tentang apa?

Buku di atas itu… Kiri bawah… seri buatan Michael Scott, Secret of The Immortal Nicolas Flammel. Dari novel itu, saya belajar soal sihir sebagai kekuatan potensi manusia, kekuatan primal, bukan tersier yang berbahaya. Atas2 itu dari kiri atas ke kanan… buku2 pengembangan psikis. Versi studi aslinya, bukan novel. Setelah tahun 2011, saya jadi agak tertarik dengan studi parapsikologi… kemampuan psikis dalam skala psikologi dan ilmiah, bukan sebagai pseudosains atau kajian agama. Sisanya yang random ada tentang ‘dowsing’, teknik aneh di mana dirimu bisa mencari benda dengan kayu atau semacamnya, terus ada tentang Alchemist.

AVA: Menarik… menurut “Book of Xenos”, dan mungkin aku pernah cerita… sihir itu sendiri sebenarnya ada dua: Sihir primal, yang di duniamu disebut kekuatan psikis yang ada di setiap orang, dan Sihir mediasi. Aku rasa sihir mediasi itu paling berbahaya, karena ada keterikatan kontrak dengan pemilik asli kekuatan itu. Di duniaku saja sudah dilarang karena paling sering dipakai untuk kepentingan jahat, apalagi di duniamu… aku rasa itu dilarang di semua agama di duniamu kan?

AVA: Oh ya… di Vox, perpustakaan kami tidak jauh dengan Aquila, akademi tinggi sihir tempat aku studi sihir tingkat lanjut, mungkin cuma beda beberapa blok. Ada tiga tingkat atas, yang isinya bisa diakses oleh siapapun untuk lantai dasar yang isinya adalah novel, buku2 hiburan, dan buku2 biasa, lalu untuk para pekerja profesional untuk lantai dua… biasanya para tabib istana, ahli medis, penyembuh, hingga alkimia suka ke sana untuk mencari referensi ramuan. Lantai tiga isinya adalah buku2 berat atau dasar studi tertentu, para master, petinggi2 seringkali ke sana untuk mempertajam pengetahuan dasar mereka. Lalu… lantai satu bawah tanah… adalah tempat para penyihir, minimal kaliber Arch Wizard (para asisten master di Aquila) menyusun penelitian atau studi tertentu mereka di sana. Di tengah ruangan, ada lorong terkunci… untuk ‘Sang Terpilih’

Emangnya… penyihir di sana levelnya apa aja? Biar jelas aja… sebelum lanjut lagi…

AVA: Penyihir muda… itu adalah seperti lulusan SD-SMP di duniamu. Penyihir dasar… lulusan SMU. Hingga taraf ini, mereka baru bisa menguasai sihir elemen dasar atau teknik2 dasar. Masuk akademi tinggi seperti di Aquila, biasanya akan menjadi dua tipe: Penyihir non akademik atau cuma disebut ‘Penyihir Lanjut’, dan ‘Arch Wizard’. Dari kata ‘Wizard’ yang artinya peyihir, dan ‘Arch’ atau ketua, tingkat ini mereka sudah punya pengikut atau murid dan dipanggil guru atau master. Semacam asisten akademik di duniamu. Mereka dipilih master tinggi atau mereka mampu menunjukkan kemampuan yang berbeda dari penyihir biasa. Untuk kasusku itu ekstrim… karena mereka melihat sesuatu padaku dan mereka merasa aku bisa masuk ke ‘Lorong Terlarang’ perpustakaan itu.

Di atas itu ada ‘High Arch Wizard’ yang terbagi jadi yang biasa, senior, dan ‘Grand’, mereka adalah master tinggi. Terpilih setelah mengikuti beberapa misi panjang dan berhasil. Biasanya tingkatan ini stagnan. Mereka berhak memegang 20 penyihir dan 7 Arch Wizard. Kemampuan mereka adalah membuat lingkaran sihir dan sigil pada bidang 3 dimensi, dan rapalan singkat. Jika diangkat oleh ArchMagus (nanti dijelaskan), maka jadilah ‘Royal Arch Wizard’, mereka sangat mobile antara kota2, sekolah2, dan istana kaisar karena mereka juga pejabat tinggi, panglima, dan setara profesor di duniamu. Mereka bisa mengeluarkan sihir besar tanpa membuat lingkaran sihir. Memegang posisi pimpinan atas 7 High Arch Wizard. Di Verudinia ini sendiri hanya ada sekitar 33 jabatan ini.

Di atas lagi ada Arch Magus. Dialah jenderal besar, laksamana armada, marsekal tertinggi penyihir di dunia, yang memegang jalur koordinasi langsung di bawah Sang Kaisar. ‘Arch’ yang artinya ketua, ‘Magus’ di sini mewakili semua pemilik jenis sihir… Alkimia (Alchemist),penyihir (baik Wizard, Sorcerer, dkk). Bisa menembus gerbang dimensi dan teleportasi tanpa mantera. Di bawah kaisar, ada dia, dan Jenderal Armada yang memegang semua pasukan non magis

Screen Shot 2015-03-07 at 11.16.14 PM

High Arch Wizard, pakaian upacara dan perang.

Wow… kompleks juga ya. Oke, balik lagi. Artinya dirimu pernah ke lorong tadi?? Terus ada apa aja di sana?

AVA: Sepanjang 100 meter pertama lorong yang gelap, lalu lorong yang isinya teka-teki yang harus dijawab agar bisa lanjut. Oh ya… ada beberapa tengkorak di sana… di satu bagian ada lorong berisi buku2 tua yang berbahaya seperti Necronimia, buku nekromansia (sihir pembangkit mayat), dan ilmu2 yang hanya penyihir minimal setingkat ‘High Arch Wizard’ yang bisa mengerti tanpa terpengaruh sisi gelapnya, dan di ujung itu ada gerbang besar yang hanya bisa dibuka dengan mantera energi matahari ‘Lux Solis’. Kemudian ada jalan menurun yang spiral. Di sana ada akar Pohon Kehidupan yang berpendar hijau-biru… sebut saja di duniamu… bioluminesens. Tapi bukan karena kimia, mereka punya kekuatan magis. Menariknya, ketika kita bertanya, sulur pohon itu akan memberikan lembaran bacaan atau buku yang tidak akan ditemui di manapun dan hanya bisa dibaca orang yang diberikan saja. Waktu itu, aku mendapat tongkat sihir ‘Virgum Vitae’ (Tongkat Kehidupan) dan Pecahan Buku Xenos yang akhirnya harus aku susun. Pecahan buku itupun isinya tentang sihir membuat kehidupan, kehidupan… bukan membangkitkan yang mati seperti Necronimia. Lalu aku ketika ada di posisi High Arch Wizard, aku mendapat Relik Cryptos. Jika aku memakainya, aku bisa terhubung dengan dunia tersembunyi Verudinia. Duniaku ini… kompleks.

Gila… segitunya ya. Di sana, dirimu pernah gak akhirnya menemukan apa itu ‘sihir’ sesungguhnya dan kenapa ia tidak bisa dijabarkan sains manapun?

AVA: Salah satu guruku, High Arch Wizard Lawrence, dan Royal Arch Wizard Pendragon Argyra, bilang padaku. Sihir dan kekuatan psikis adalah kekuatan yang tidak bisa diciptakan, mengalir, dan tidak bisa dimusnahkan. Mereka berosilasi dan memiliki frekuensi yang selalu berubah. Itulah kenapa ia tidak bisa dijabarkan, tapi hanya bisa digenggam oleh mereka yang bisa atau berlatih menggenggamnya. Kekuatan ini secara tak sadar bangkit karena sugesti, dan secara sadar… adalah energi osilasi tadi, yang diserap aura kita sebagai kekuatan, dan dibentuk oleh imajinasi kita. Oleh karena itu, para penyihir itu rata2 kompleks, filosofis, kreatif, dan imajinatif… dan punya otak yang sanggup menahan hal2 skizofrenik. Selain itu mereka peka dengan alam di sekitarnya, perubahan energi, adanya gangguan, mereka paham adanya ancaman atau adanya entitas yang mereka ingin temui. Indera mereka terlatih. Sekarang aku mau bertanya, di buku2mu… memang dijabarkan seperti apakah sihir atau kekuatan psikis itu?

Saya setuju dengan dua hal tadi: Kekuatan yang ada di diri, dan kekuatan yang lahir karena entitas lain. Di buku2 saya, disebut bahwa kekuatan psikis itu dekat dengan kekuatan sugesti. Karena dianggap apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, yang kita inginkan, dan yang akan terjadi… semua adalah selaras. Dasar pengembangan kekuatan psikis sendiri adalah melatih kepekaan panca indera dan kemampuan visualisasi imajinasi… seperti membanyangkan gajah terbang dan gajah terbang berwarna hijau buat latihan awal.

Penasaran… bagaimana sejarah sihir di Verudinia? Kenapa sihir dan sains di sana bisa berdampingan sementara di sini sangat ribut?

AVA: Di duniamu, orang takut dengan hal2 yang tidak mereka ketahui dan sulit dijabarkan nalar. Begitu orang2 di duniamu mempercayai sesuatu paham tanpa logika, mereka akan jadi orang2 radikal yang tidak toleran. Di sini… kami percaya… Dewi Vitae… Sang Awal Kehidupan, menjadikan manusia pertama. Anaknya, Xerus… alias Xenos… membuat hal2 anomali di dunia ini, lahirlah sihir dan itu diwariskan dalam jiwa kami, dan semua orang mengerti, dan mampu bertoleransi, itu pun kami juga menggunakannya sebaik mungkin. Bukan semena2, kami punya undang2, dan regulasi ketat. Oh ya, walau kami punya dewa, kami juga percaya Tuhan. Dia lah yang menciptakan dewa2 itu dan alam raya ini. Mungkin definisi ini berbeda di duniamu ya. Prasasti Dewa Atmos menunjukkan bahwa mereka pun datang dari tempat nan jauh di sana, peradaban yang maju, tapi mereka bukan Tuhan. Mungkin kami… hanya eksperimen dewa2 itu atau upaya mereka menciptakan dunia ini agar ramai dan teratur.

Aku rasa, aku tidak bisa memberi penjelasan lebih lanjut… mungkin engkau bisa bertanya pada anak cucu kami yang sudah memiliki peradaban sangat maju? Semoga mereka masih bisa memegang Prinsip Dualisme Magi-Scientiae buatan Dewi Vitae itu… atau, sihir akan musnah…

Selalu menarik diskusi denganmu, Astrax… ngomong2, cuplikan dikit dong Buku Xenos itu apa isinya?

AVA: Kepingan pertama berisi dasar kehidupan, energi magis, dan anomali patafisis. Kepingan kedua berisi tentang jalur waktu, cabangnya, dan alam tak tampak. Kepingan ketiga berisi ilmu biologi prinsipal semua makhluk yang dirangkum jadi satu, dan dualisme sihir-tubuh. Kepingan keempat… akupun tidak tahu.

Oh ya, boleh aku melihat buku2 sihirmu? Aku butuh untuk kajian Xenobiota…

AVA: Ada… aku akan mengirimkannya ke alam pikiranmu. Gunakan dengan bijak dan jangan sembarangan diberikan ke orang lain…

Dirimu… artinya tahu aku bisa bicara dengan siapa orang di masa depan itu karena kau bisa melihat aliran waktu masa depan?

AVA: Ya… tapi masa depan selalu berubah. Mungkin… hmmm… kau bisa menemui seseorang bernama… Artura…

Oh begitu… kalo gitu udah ya, mungkin lain kali kita diskusi lagi! Malam, Astrax!

AVA: Malam Dit!

Wew… saya bahkan bingung barusan saya ngapain ya… rada skizofrenik… atau terlalu visual atas Alter-Ego sendiri… hahaha.

-AW-

Wow, udah lama juga ya sejak saya nulis2 di blog ini! Whew!

Banyak hal udah terjadi. Semenjak momen perjalanan ke Malang-Jakarta-Bandung, saya bertemu dengan orang2 super yang kemudian mengeskalasi dan mengakselerasi perjalanan karir saya dengan sangat cepat!

Gimana ya saya mulai cerita? Hmmm. Di Bandung di bulan Oktober 2014 itu, saya 2 kali bermalam di rumah Pak Indra. Adalah kebanggaan buat saya bertemu seorang dosen yang sangat merangkul mahasiswanya, dan terlebih lagi fotonya muncul ketika tim iGEM ITB presentasi di UB. Kalian tahu? Kadang saya berpikir bahwa saya itu bisa menyerap dan menyalin aura semangat orang di sekitar saya! Lho kok? Malam itu saya cerita sekilas soal perjalanan saya di Malang ke Pak Indra, dan cerita sedikit tentang Xenobiologi dengan nunjukin paper garapan Dr. Markus Schmidt ke beliau. Kita sepakat bahwa paper itu ide gila. Yak, khususnya buat kita yang di Indo yang masih panas2nya dengan SynBio dan iGEM. Apalagi kemudian saya mendapatkan info bahwa iGEM team kita, dari UI dan ITB bawa 2 medali emas, UB dan UT Sumbawa bawa 2 perunggu. Yang buat cengok adalah perkataan guru saya (yang kayaknya saya ga perlu sebut demi kenyamanan bersama).

“Kok topik kalian kurang fun sih?”

Kurang fun disini adalah topiknya terkesan formal. Penelitian dan solusi, semua menjadi sebuah proyek dosen-mahasiswa yang judulnya ajeg buat ditulis di jurnal. Pelajaran sih, kayaknya ketika saya nanti mendirikan iGEM team buat UGM harus lebih freak artinya.

Seolah belum penuh apa yang saya “serap” selama di Bandung dari Pak Indra dan Joko (cerita2 dia soal ke Boston dan lain2), balik dari Jakarta, ternyata saya dipertemukan dengan seorang professor super nyentrik. Prof. (Adj) Parvez Alam nama beliau. Seseorang yang disebut Sanka sebagai seorang ahli biomimetika dari Finlandia. Gak nyangka, perjalanan hidup saya setelah bertemu beliau saat itu ternyata memasuki garis asimptot logaritmik positif dan ilmu yang bahkan membuat persepsi saya dengan profesor2 sebelumnya berubah total!

Selama meneliti di proyek beliau, saya belajar banyak hal. Khususnya soal spontanitas, inovasi, keberanian, semangat, kasih sayang, dan kegigihan. Ngobrol banyak dengan seorang petinggi Fighting For Lives yang bahkan kenal Cecep dan Yayan Ruhyan ini (asli greget parah!), saya menemukan sisi di diri saya yang mungkin tergerus usia sejak kecil. Gimana nggak, beliau yang menerbitkan 24 publikasi ilmiah selama beliau PhD dan sekitar 13 publikasi per tahun ini mengajarkan sesuatu: Caranya melakukan hal segila itu adalah dengan memulainya, ga ada yang lain! Menariknya, saya mendapatkan proyek penelitian dengan beliau di hari kedua kami baru bertemu!! Beliau adalah seorang professor dan dosen yang sejujurnya saya kagumi. Kemampuan beliau untuk mengubah ide jadi penelitian, kemampuan beliau untuk melihat suatu ide abstrak bahkan soal mitologi dan agama secara filosofi itu pantas saya acungkan jempol!

Dalam dua bulan, saya yang jujur merasa gitu2 aja… ya mungkin saya mentor SynBio UGM, cuma selain itu ya mungkin hidup saya garing, saya pun mendirikan Project Xenocerebral: Xenobiota Inisiative melibatkan adek kelas saya: Putri, Arfan, kemudian Wira, Vina, Gathot, Nadira (tapi kemudian saya coret karena jarang aktif, mungkin kalau dia mau masuk lagi baru saya tarik lagi).

XBI Icon

Versi akhir logonya. Hak cipta karya oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Saya mengajarkan materi2 biologi sintetika, saya pun menyelipkan inisiasi Xenobiota di materi terakhir. Saya menjelaskan fokus kita di komunitas Xenobiota ini adalah ke arah astrobiologi, biologi sintetik, biologi spekulasi, bio-art, xenobiologi (dalam semua 2 artinya), hingga parapsikologi dan biomimetika balik (nanti saya bahas lain kali)! Dalam sekejap malam hari itu, 25 orang sah masuk grup! Kegilaan ini berlanjut hingga saya bertemu ketua tim iGEM UI, Siska Yuliana Sari dan mengajaknya ikut komunitas ini!

Di kelas penutup Prof. Parvez, beliau menunjukkan bahwa beliau meng-handle sekitar 5 proyek di Indonesia, dan masih ada lagi di luar sana. Proyek2 beliau ga main2! Dengan saya, beliau meneliti biomekanika dan histologi ikan glodok. Dengan Sanka, beliau meneliti diatom dan udang pistol yang mampu membuat gelembung dengan letupan berefek sonoluminesens dengan kecepatan 60 Km/h dan suhu 5000 K dan masih banyak lagi! Dalam dua bulan kami membelah pulau Jawa dari Pangandaran ke Surabaya dan Pamekasan, Madura dan kami bertemu orang2 random yang ga biasa kita temui di hari2 biasa.

Sepulangnya beliau, saya berpikir bahwa saya harus bisa lebih spontan dan inovatif lagi!

Yah, tahun 2014 itu… dari yang awalnya kepikiran buat paper jurnal tentang tesis doang, saya akhirnya buat paper spekulatif tentang penanaman tanaman di badan2 antariksa seperti Mars, Venus, Luna (bulan), dan Asteroid. Belum selesai! Oktober, paper saya bertambah 1: Pengamatan biomekanika ikan glodok.

Seiring waktu berjalan, Xenobiota Institute pun berhasil saya dirikan dengan utuh! Ide penelitian saya pun bertambah lagi! Dengan Arfan saya sedang berencana menggarap 2 paper: Interaksi XNA dengan DNA dan RNA serta polimerase natural secara proses interaksi dinamika molekuler, sama pembahasan ekstensi dogma sentral biologi molekuler dengan adanya XNA.

Berapa? 5…

Februari… Prof. Parvez memutuskan paper ikan glodoknya dibagi 2: Biomekanika dan histologi.

Jadi… 6…

Di kantong… saya masih ada 3 lagi, tentang kuljar non-aseptik dan Rafflesia. Rafflesia saya pikir bisa ditunda dulu, apalagi setelah penemuan paper Dr. Lazarus Agus Sukamto tahun 2010 yang akhirnya beliau berhasil menginduksi kalus Rafflesia arnoldii dengan penambahan senyawa pikloram (mau papernya? e-mail saya aja… mau meneliti? saya ikut kontribusi sini!) cuma belum berhasil membentuk embrio somatik. Kemudian ada tentang bioprinter sel tanaman…

Oke… 9… cukup! Kalau semuanya jadi… dalam setahun paper saya jadi 14 jika ditambah hasil pas S1.

Sekarang pun, Xenobiota Institute (XBI atau XI) sedang sibuk menginisasi tim iGEM UGM untuk XI team yang 2013-2014. Untuk anggota senior kayak Arfan, saya aktif mencari2 link ke luar sana. Saya sudah mengontak Prof. Dr. Jeff J. Doyle dan ternyata beliau ramah sekali. Beliau adalah pencetus protokol isolasi DNA tanaman dengan asam setil trimetil asetat (CTAB), anehnya paper beliau itu tidak ada di mana2. Untung beliau ngasih saya (mau? e-mail saya sini). Saya juga udah berhasil mengontak Dr. Philips Holliger, dan saya berharap bisa dapat masukan soal konferensi xenobiologi selanjutnya dan kolaborasi penelitian XNA. Terus juga secara singkat dengan Dr. John Cumbers dari NASA. Kemudian Afif mengingatkan saya untuk pelan2 dan hati2. Kayaknya saya perlu stop dulu.

Klimaksnya adalah kemudian, saya dengan Prof. Parvez dan temannya, Prof. Adolfo, saya sedang menyusun proposal penelitian untuk selanjutnya kalau tembus beasiswa (kali ini aamiin deh!) saya akan kuliah di Finlandia buat S3!

Di sisi lain… berhasil ketemu pihak media Yogya, review Kulinerologi si AW pun terekspansi ke level hotel bintang 4-5! Sekarang saya berhasil mencapai 91 artikel dan 70 ribu pembaca untuk blog saya satu itu! Makasih ya semua!

Terakhir… otak saya terpikir ide: Saya kayaknya mau buat blog lagi soal… review hotel!

Ide ini muncul setelah dalam 1 bulan saya udah nginep di 2 hotel (Hotel Ibis Style Malang dan Hotel Harper Yogya), dan bakal 1 lagi (Hotel Grand Aston). Penasaran, bisa gak ya? Hahahaha…

Ah, kenapa saya jadi hiperaktif gini?

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life