Skip navigation

Sebelumnya saya pernah menulis di blog ini mengenai urusan yang satu ini. Cuma tadi malam dan pagi ini saya kepikiran buat membahasnya dengan lebih dalam.

Coba kalian pikirkan, teknologi kultur jaringan saat ini sudah sangat berkembang dengan variasi teknik yang ada. Mulai dari kultur suspensi, kultur sel tunggal, kultur sel hasil fusi protoplas, kultur anther, hingga kultur endosperma yang bisa menghasilkan tanaman triploid. Media nya pun bervariasi, mulai dari media yang sangat ternama racikan Toshio Murashige dan Folke Skoog, media MS (1962) untuk tanaman tembakau, kemudian dengan variasi lain ada media Errikson (ER), Heller (HE), dan Schenk-Hildebrandt (SH) yang mencakup nutrisi berbeda (dirangkum Gamborg, et al., 1976). Hebatnya lagi, sekarang media2 ini sudah tersedia dalam bentuk bubuk tinggal seduh. Wow… kayak kopi seduh bubuk 3in1! Semua udah ada di situ termasuk makro dan mikro nutrien, gula, vitamin, hingga pilihan ada tidaknya agar2.

Tapi di balik teknologi ini, saya masih merasakan ada 1 hal besar yang masih belum terpikirkan dan terpecahkan: Iya bahwa kita menggenggam teknologi totipotensi (kemampuan 1 sel untuk berkembang menjadi organisme utuh lagi) tanaman di tangan kita dan sudah bisa mengklon sekian banyak jenis tanaman (sejauh ini kecuali tanaman parasit) di sekitar kita mulai dari tanaman pangan hingga tanaman eksotis yang ada di kebun untuk diteliti. Tapi coba kita bayangkan:

  1. Andai kita harus pergi ke tengah hutan untuk mengambil sampel tanaman ornamental yang cantik untuk kita klon. Jarak tempuh lab ke hutan adalah 2-4 jam. Mungkin memang kita bisa membawa sampel kita dalam botol air atau ditutup dengan tisu. Tapi apa kita ga takut bakteri dan jamur di sampel kita terinkubasi dan berkembang di periode mobilisasi kita? Kita butuh mengembangkan cara untuk bisa mengkultur di lokasi sampling yang tidak perlu aseptik tapi bisa menekan pertumbuhan mikroba yang mengganggu dan ada di sampel kita, sehingga yang kita perlu lakukan di lab kita tinggal men-subkultur ke media yang lebih steril?
  2. Atau begini, tidak lelahkah kita sebagai laboran/teknisi/asisten riset dengan metode persiapan yang panjang? Saya pernah merasakan 3 hari untuk persiapan: 1 hari menimbang bahan (kalau ini wajar sih), 1 hari buat meracik dan sterilisasi plus menunggu media buat dingin, dan 1 hari baru inisiasi sampel. Di saat inisiasi pun prosedurnya banyak, kita mulai dari membersihkan laminar air flow, menyalakannya agar udara terhembus, menyalakan lampu UV selama 1 jam, baru kemudian kita melakukan inisiasi kultur. Itu pun repot, saya ga bohong. Harus dekat api kompor Bunssen, tangan sebisa mungkin ga bergerak di atas media atau sampel, tangan harus sebisa mungkin disemprot alkohol yang kadang buat orang tertentu bisa iritasi (saya pernah soalnya, waktu itu saya nyemprot 2-4 kali dalam 1 hari, pulang2 tangan saya merah2). Ini pun belum menjamin hasil kita bebas kontaminasi. Kecerobohan kita sekecil apapun, atau kecerobohan pihak pengelola laminar air flow yang tidak rutin menservisnya, bisa membuat kontaminasi. Apa ga bisa kita sekedar meracik media, terus kita menginisiasi kultur di tempat yang sama? Waktu lebih cepat, klon bisa lebih banyak karena waktu banyak, dan ga ribet!

Andai seperti di Doraemon, ambil daun, masukan ke media, klon tumbuh. Tapi kita masih punya harapan! Iya lah simpelnya Doraemon itu di abad 22 tahun 2112, media MS muncul di tahun 1962, dan sekarang di tahun 2014 kita sudah banyak variasi kultur untuk ini. Anggap kita masih ada 98 tahun (insya Allah) buat membuat media kultur jaringan tanaman non-aseptik (mari kita sebut MKJTNA) ini. Pertama, kita harus bedakan konsep septik dan non-aseptik di sini: Septik adalah adanya mikroba yang bisa mengkontaminasi, maka aseptik adalah ketidakadaan mikroba tersebut. Non-aseptik di sini artinya kita membuat mikroba kontaminan tidak bisa tumbuh di kondisi yang seharusnya mereka bisa tumbuh dan dalam kondisi kontak dengan udara di mana spora2 bakteri dan jamur sangat banyak.

Mari kita putar otak sejenak atas apa saja yang selama ini telah saya rumuskan:

  1. Jika kita mencari solusi atas masalah poin 1, apakah kita bisa membuat alat untuk mengkultur di hutan dengan tutup botol berpemanas atau semacamnya? Media padat atau cair kah yang lebih efektif?
  2. Ada media diferensiasi dan seleksi untuk mikroba. Biasanya digunakan antibiotik tertentu. Jika dengan konsentrasi yang tepat kita bisa tambahkan ke media kultur, kita seharusnya bisa menekan pertumbuhan mikroba kontaminan. Yang perlu diteliti di awal: Berpengaruhkan antibiotik ini pada pertumbuhan tanaman, mutagenesis, atau pembentukan variasi somaklonal? Jika ada konsentrasi letal (Lethal Dosage, LD), berapa konsentrasi antibiotik yang bisa ditambahkan?
  3. Adakah bakteri probiotik yang bisa ditambahkan pada kultur untuk mendukung pertumbuhan tanaman, tapi mampu melawan pertumbuhan kontaminan atau patogen? Jika tidak, bisakah kita rekayasa? Karena saya pernah belajar prinsip bahwa di dunia mikro, kompetisi bisa menekan pertumbuhan mikroba satu terhadap yang lainnya.

Untuk sekarang, mari jadikan ini ide kita dulu, lain kali akan saya bahas lagi. Saya berharap para dosen, peneliti, atau laboran, atau teman2 sekalian memberikan saya ide! Siapa tau seorang seniman malah bisa menjawab ini! (saya percaya ini karena ada konformasi protein yang 10 tahun diprediksi sama ilmuwan tapi ga beres2, tapi beres sama gamer dalam 1 bulan).

Nanti setelah saya mencari bacaan atau mendapat pengalaman lagi, saya akan tulis lagi soal MKJTNA ini lagi, dan mungkin dengan singkatan yang diperbaharui dan lebih simpel!

Referensi:

Gamborg, OL., T. Murashige, TA. Thorpe, IK. Vasil (1976). Plant Tissue Culture Media. In Vitro 12(7): 473-478.

Murashige, T., F. Skoog (1962). A Revised Medium For Rapid Growth and Bio Assays with Tobacco Tissue Culture. Physiologia Plantarum 15: 473-497.

-AW-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: