Skip navigation

Buat para peneliti biologi atau pertanian yang berkonsentrasi ke budidaya jaringan, kadang kita suka terkendala dengan peracikan media kimiawi yang kadang campuran dan bahan stok nya bisa jadi hanya ada di lab atau harus memesan dahulu. Padahal sebenarnya, media ini bisa lho kita buat dari bahan yang sangat sederhana dan ada di sekitar kita!

Tulisan ini saya adaptasikan dari page Facebook milik Pak Novi Syatria dari Bengkulu dengan page usaha miliknya David Tissue Culture.

Sebagai referensi, media umum di lab kita adalah media Murashige-Skoog (MS), B5, Schenk-Hildebrandt (SH), Gamborg, dan lainnya. Media2 tersebut memiliki kandungan unsur hara (nutrisi) makro, mikro, vitamin, dan gula. Sisanya, untuk pemadat di sini menggunakan agar2 komersial.

Media pertama dibuat dengan menggunakan campuran pupuk Hyponex atau Gandasil D (note: Gandasil D merupakan pupuk perangsang daun, saya asumsikan memiliki sitokinin dan vitamin untuk ini di dalamnya).

Media Hyponex/Gandasil D atau Vitabloom D

  1. Siapkan air dalam gelas ukur sebanyak 500 mL.
  2. Untuk media 1 L, timbang Hyponex 2 gram, gula pasir 20 gram, dan agar 7-8 gram.
  3. Masukkan Hyponex/Gandasil D/Vitabloom D, gula, agar ke dalam gelas piala berisi air 500 mL satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 L. Masak campuran media hingga mendidih.
  4. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  5. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf

Sisanya, kita pun sebenarnya bisa memanfaatkan bahan2 dapur di sekitar kita. Siapkan kentang, ubi, tomat, dan air kelapa muda sebagai bahan dasar. Oh ya, karbon aktif atau arang aktif bisa kita peroleh dengan menggerus obat diare, Norit.

Media Berbahan Kentang atau Ubi (Untuk Kultur Jaringan Anggrek)

  1. Siapkan air dalam gelas ukur sebanyak 500 mL dan air kelapa muda sebanyak 150 mL (untuk media 1 L).
  2. Timbang 500 gram kentang, kupas, cuci, potong.
  3. Rebus kentang ke dalam 1.5 L air hingga menyusut 300 ml. Saring air rebusan kentang.
  4. Untuk larutan 1 L, timbang gula pasir 20 gram, agar bubuk 7-8 gram, dan arang aktif 0.5 gram .
  5. Masukkan air rebusan kentang, gula, agar, karbon aktif, air kelapa ke dalam gelas ukur kimia berisi air 500 mL satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 liter. Masak media hingga mendidih.
  6. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  7. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf.

Terakhir, media dengan kandungan unsur kalium atau potassium yang tinggi menggunakan pisang atau tomat. Kedua buah ini juga memiliki vitamin C atau asam askorbat yang berfungsi mengurangi kemungkinan pelepasan polifenol yang menyebabkan pencoklatan (browning) pada media.

Media Berbahan Tomat/Pisang Raja/Pisang Ambon

  1. Siapkan air dalam gelas piala sebanyak 500 ml dan air kelapa muda sebanyak 150 mL (untuk media 1 L)
  2. Timbang 300 gram tomat, potong dan keruk bijinya hingga menyisakan daging buahnya. Haluskan dengan blender, ambil sarinya dengan menyaring jusnya.
  3. Untuk media 1 L, timbang gula pasir 20 gram, agar 7-8 gram, dan karbon aktif 0.5 g.
  4. Masukkan air rebusan kentang, gula, agar, karbon aktif, air kelapa ke dalam gelas piala berisi air 500 ml satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 liter. Masak media hingga mendidih.
  5. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  6. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf.

Jadi… tertarik mau nyoba? Kultur jaringan ga seribet itu lho walau perlu ketelitian ekstra dalam pembuatannya!

-AW-

Iklan

2 Comments

  1. Hati-hati mas, karbon dan vitamin C kadang menyulitkan pemadatan media. konsentrasinya harus pas.

    • Ah iya, saya pernah baca… itu ngebuat media jadi lebih loose…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: