Skip navigation

Kemarin saya berkunjung ke sebuah kedai kopi, Klinik Kopi, Yogya. Atmosfer mereka yang adem, di dalamnya saya pun bertemu dengan para pengunjung setia yang kerap berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada saya. Salah satu di antara yang saya temui adalah Bapak Kristio Budiasmoro atau Pak Kris, seorang dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan praktisi kultur jaringan. Sejujurnya saya senang dan sependapat dengan prinsip beliau. Beliau mengatakan bahwa kultur jaringan harus dibuat semudah mungkin dan sepraktis mungkin. Ternyata di luar kultur jaringan pun, beliau punya pengalaman2 yang unik!

 

Kultur Jaringan Tanpa Sterilisasi #4 – Modifikasi Protokol Untuk Inisiasi Di Luar Laminar dan Di Human

Oke, ini saya gabungkan artikel nomer 4 seri ini ke artikel ini sebagai lanjutan seri ke-3 sebelumnya…

Beberapa bulan lalu, beliau melakukan kultur jaringan di tengah hutan, dan metode yang sama akan dilakukan di akhir Juli atau Agustus nanti untuk mempropagasi Dipterocarpus di Nusa Kambangan.

Saya sempat bertanya kepada beliau, “Pak, memang tanaman itu cepat layu atau bagaimana sehingga bapak tidak bisa membawanya ke lab untuk inisiasi?”

Jawaban beliau, “Bukan masalah layu, kita harus ingat bahwa ketika kita membawa tanaman dari hutan, tanaman itu tidak sendiri. Pada waktu yang sangat cepat sekalipun, mikroba kontaminan bisa tumbuh dan akan semakin menyulitkan untuk disterilkan.”

Lalu, apa strategi beliau? Ini:

Untuk melakukan kuljar di hutan, siapkan plastik besar, sarung tangan, medium kultur, botol inisiasi, akuades, alat2 kultur standar (skalpel, cawan petri, dan pinset), dan satu barang paling esensial chlorox yang masih tersegel pada kemasannya. Pertama, percikkan chlorox dengan merata ke plastik besar, masukkan semua alat2 dan bahan ke dalam plastik tersebut. Lalu, ambil calon eksplan dengan sesegera mungkin dan masukkan ke botol inisiasi berisi klorox yang sudah diatur untuk proses inisiasi. Hal menarik di sini adalah proses ini tidak menggunakan pembakar Bunsen. Lakukan proses standar di dalam kantung plastik hingga pencucian dan pemindahan ke media. Beliau dalam proses ini lebih menyarankan menggunakan media cair karena lebih mengurangi kontak ke udara yang bisa saja terkontaminasi. Setelah proses beres, segel botol kultur. Hebatnya, beliau melaporkan bahwa hasilnya tidak terkontaminasi!

Selain ini, Pak Kris ini pernah melakukan inisiasi di lab, tapi di luar laminar air flow. Beliau cuma mengatakan bahwa kuncinya, “Bekerjalah di meja yang sudah disemprot chlorox, dan jangan bergerak lebih dari sejengkal dari api (di pembakar Bunsen)”

Setidaknya, ini adalah upaya protokoler atau metodologikal yang lebih efisien waktu dan lebih praktis walau masih menggunakan protokol aseptik, tapi kecepatan dan efisiensi metode ini perlu dikembangkan lagi.

 

Penggunaan Pisang Sebagai Media Kultur Jaringan

Sebetulnya ada banyak upaya untuk melakukan kultur jaringan tanpa menggunakan media kimiawi racikan di lab pada umumnya seperti Murashige-Skoog (MS), Schenk-Hildebrandt (SH), Gamborg, dll. Yang pernah saya dengar adalah menggunakan air kelapa, ubi, dan juga yang Pak Kris pernah coba adalah menggunakan pisang.

Dari cerita beliau, pisang diproses sebagai potongan (tidak dihaluskan). Saya sempat bertanya, “Memang ada apa dengan pisang? Ada auksin dan sitokinin, kandungan vitamin, atau apa?”

Jawaban beliau, “Pisang di sini punya kandungan potassium (kalium) yang bagus dan diperlukan sama tanaman eksplan. Saya pernah mencoba kuljar pakai media pisang, dan menariknya akar tanaman (eksplan)nya tumbuh mendekati potongan pisang.”

Menarik juga…

 

Penggunaan Kontroversial Human Blood Serum Sebagai Media Kultur Jaringan

Oke, cerita Pak Kris tentang penggunaan Human Blood Serum (HBS) ini cukup mengundang pertanyaan. Sederhana saja, “Kok bisa??”

Sayangnya, saya lupa menanyakan lebih lanjut mengenai alasan beliau memilih zat ini untuk tambahan ke media kultur beliau. Saya jadi belum tahu, apakah beliau memang lagi bereksperimen, atau ada kandungan tertentu yang beliau ingin lihat.

Menariknya (tapi saya belum mengeceknya)…

Pak Kris (KB): Jangan salah, mas… manusia juga menghasilkan auksin lho!

Saya (AW): Auksin?? Kelasnya apa pak? IAA?

KB: Iya, IAA… percaya atau nggak, di urin manusia pun ada auksinnya lho, makanya itu jadi salah satu alasan tanaman yang kena urin cukup bereaksi…

AW: Di urin??

KB: Iya ada sih, cuma hitungannya dalam ppm (part per million). Intinya tubuh manusia itu punya auksin… ntah ya, mungkin ini alasan bahwa manusia pun bisa “berinteraksi” dengan tanaman…

 

Kultivasi In-Vitro Tanaman Holoparasit

Ini yang membuat saya kagum. Beliau ternyata pernah mencoba kultivasi tanaman parasit juga secara in-vitro.

AW: Bapak pernah nyoba juga??

KB: Iya, pernah mas…

AW: Tanamannya holoparasit (parasit murni) pak? Apa ya? Cuscuta (tali putri, parasit tanaman teh yang kuning kayak benang itu)?

KB: Bukan… ada lagi… <beliau menyebutkan, tapi saya lupa apa… kalo gak salah ada “D” nya>

AW: Itu… jaringan apa yang bapak pakai?

KB: Oh, saya pakai bijinya…

Beliau menjelaskan, bahwa pada dasarnya perkecambahan biji tanaman holoparasit itu berbeda dari tanaman biji pada umumnya. Biji tanaman holoparasit itu memerlukan interaksi dengan jaringan tanaman inangnya untuk membentuk haustoria saat berkecambah. Haustoria adalah “akar” tanaman holoparasit yang tumbuh di jaringan inangnya.

Untuk itu, yang diperlukan adalah buah tanaman holoparasit yang segar dan mengandung biji hidup, dan jaringan tanaman inang yang sudah ditumbuhkan sebelumnya. Sayangnya, saya lupa bertanya, pada kondisi seperti apa jaringan inangnya? Berupa pucuk matang, pucuk muda, bisa berupa akar, atau bahkan kalus?

Prosedur inisiasi yang beliau lakukan, uniknya bahkan tidak memerlukan senyawa kimia. Lalu? Bakar permukaan buahnya sebentar, lalu ambil bijinya. Karena biji itu tersegel rapi di dalam buah, maka kemungkinan kontaminasi biji ini rendah sehingga buah cukup dibakar sebentar permukaannya. Kemudian biji tersebut dipindahkan (dengan protokol aseptik standar atau seperti yang dijelaskan di awal artikel ini) ke jaringan tanaman inang yang sudah dikultur sebelumnya.

Beliau mengatakan bahwa tanaman parasit tersebut pun tumbuh dengan baik!

Pendapat tambahan dari saya, namun peluang kesuksesan metode ini semua tergantung dengan sifat dan “kebandelan” tanaman parasitnya itu sendiri.

 

Tanaman Yang Kesepian

Hahaha… judulnya lucu, saya bilang seperti ini karena sesuai dengan perkataan Pak Kris sendiri.

KB: Mas, tahu gak tanaman itu bisa kesepian?

AW: Hah? Bagaimana pak?

KB: Iya, bisa…

Pak Kris berkata bahwa beliau punya tanaman anggrek. Tumbuhnya merana dan enggan berbunga. Tetapi ketika beliau menambahkan tanaman kedua yang baru beliau beli, anggrek itu pun “bahagia” dan mau berbunga dengan baik dan bahkan mekarnya bisa bersama2. Pak Kris menambahkan, “Mas kalau punya pohon apel juga gitu mas. Kalo ga mau berbuah, tanam lagi… atau pindahin ke kebunnya di Malang! Hahaha…”

Yah pak, ga mungkin juga saya gotong tanamannya jauh2 ke Malang…

 

Pohon Kola

Cerita terakhir… ini cukup kontroversial…

Jadi, ada pohon yang namanya pohon kola (Cola nitida). Pohon ini adalah asal dari minuman kola yang kita kenal sekarang.

Masalahnya, buah ini punya kandungan zat stimulan-afrodisiak yang membuat kita ngerasa kalem. Hmmm… agak kayak ganja, tapi dalam batas toleran (mungkin karena ga ada yang pake juga di sini). Buahnya konon rasanya pahit, tapi kalo dikunyah lama2 agak manis dan kayak kola. Tapi, karena kandungan itu lah, akhirnya minuman kola hanya menggunakan essens saat ini… atau juga menggunakan rasa alternatif dari pala (Myristica fragrans).

Walau sifatnya gitu, karena ga selebay ganja dan jamur psylocibin… saya jujur penasaran mau nyoba…

Begitulah! Seru yah! Kapan2 saya mau ngobrol2 lagi!

 

Tambahan, saya bakal nulis artikel turunan dari sini nantinya:

-Yang ini udah pasti, update lanjutan tentang KJTS

-Bahan media kuljar yang bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita

-HBS, tubuh manusia, sintesis auksin, dan komunikasi dengan tanaman

-Kultur tanaman parasit

-Komunikasi non-verbal pada tanaman di komunitasnya

-Pohon kola dan asal minuman kola

 

Nantikan artikel asik selanjutnya dan sesi obrolan lainnya!

-AW-

Iklan

2 Comments

  1. Saya pengen nyoba kultur tanaman parasit dan anggrek spesi (yang ada di hutan) sebagaimana yang dico oleh Pak Kris. Pengen sesekali mampir ke lab nya Bapak.

    • Hehehe… saya juga Put. Tapi Pak Kris udah pindah lab katanya, akses beliau buat kuljar udah susah… .__.


One Trackback/Pingback

  1. By Auksin Pada Tubuh Manusia | Log si AW on 10 Mei 2014 at 7:20 pm

    […] Saya menulis ini sebagai riset pustaka lanjutan dari percobaannya Pak Kris di artikel sebelumnya di mana beliau bilang bahwa di urin dan Human Blood Serum ada auksin …. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: