Lewati navigasi

Tag Archives: wisata

Hmmm… saya lagi mau berbagi cerita yang cukup panjang. Semua berawal dari kegalauan pikiran dan perasaan dari Agustus hingga awal September lalu. Saya cerita ke kiri-kanan, saya ngobrol dengan teman2 saya, dan akhirnya saya pun menyadari bahwa di atas kesedihan hidup, pasti ada hal2 kebahagiaan yang belum terkuak. Awal Cerita (Yogyakarta – September 2014) Semua berawal dari rasa keingintahuan dan rencana yang sudah saya susun dari Agustus sebagai pelampiasan diri waktu itu. Saya mengontak akun Yogyakarta Culinary Community, dan via adik kelas saya, Putri, saya pun juga mendapatkan info bahwa ada komunitas biologi sintetika di UGM, tempat saya kuliah saat ini. “Tunggu… sebenarnya galau kenapa Dit?” mungkin itu pertanyaan pertama. Saya akan sedikit jujur… soal hasil penelitian tesis yang acakadut, masalah sedikit soal percintaan, dan rasa suntuk di mana saya ga tau mau apa lagi saat itu. Akumulasi… Berusaha pelan2 untuk mengikuti kata teman saya, Inez, buat ikut komunitas buat mencari energi positif, akhirnya saya melakukan kontak seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama, dan menyusun Protokol PROMETHEUS untuk misi ketika join tim Synthetic Biology UGM atau SynBio UGM. Apa sih rencana2 saat itu? Untuk Yogya Culinary Community:

  1. Mencari link ke restoran dan chef di Yogya
  2. Mencari link ke media di Yogya
  3. Mencari naungan untuk bidang blog makanan
  4. Mencari sponsor buat wisata kuliner
  5. Mencari teman2 sebidang dalam hal kuliner dan blog makanan

…dan Protokol PROMETHEUS. Singkatnya, Prometheus adalah dewa (dalam hal ini adalah titan) dalam legenda Yunani yang memberikan api pengetahuan dari para dewa kepada manusia walau pada akhirnya dia dihukum dan disiksa dalam keabadian untuk itu. Misi besar ini adalah mempelajari dan konversi ilmu yang saya dapatkan dari Bandung waktu itu, terima kasih Pak Indra (Dr. Indra Wibowo) dan Khrisna, untuk saya bawa ke teman2 di Yogya. Kenapa konversi? Kebutuhan komunitas itu beda… Menyadari bahwa saya mendapatkan “api” ilmu biologi sintetika dan biologi molekuler di ITB, saya merasa ingin membagikannya ke teman2 di UGM yang baru saja mau mendirikan komunitasnya (sementara di ITB sudah sangat jauh). Melakukan ini, saya menyadari bahwa semua itu memang ada alasannya… dan mungkin ini adalah takdir saya untuk ke Yogya yang saya tak sadari. Setelah beberapa lama… saya pun dikontak Mas Brian dan ternyata komunitas kuliner akan mengadakan kumpul2. Awalnya saya pikir bakal rame… ternyata di Yogya memang baru sedikit. Akhirnya untuk pertama kalinya, gathering komunitas itupun dilakukan di Dixie, Yogya pada tanggal 14 September lalu. Di sana, saya ketemu Mbak Rina dengan blog nya yang legendaris di Yogya, Lala yang SANGAT EKSPRESIF, Mas Adhi yang kalem, dan Mas Brian sendiri (yang diem2 garing parah). Alhamdulillah, kami dapat makan dengan voucher Rp 300.000,00 untuk ber-5! Kemudian kami ikut lomba blog di Cupuwatu Resto pada tanggal 21 September! Ga ada yang menang dari kami… tapi ya sudahlah. Di sana, kami ketemu anggota baru di komunitas, si cantik meganekko Clara yang menjadi idola di grup WA kami (ini semua gara2 Mas Brian), dan Mbak Ratna yang sangat nomaden.

IMG_9175

Dari kiri: Lala, saya, Clara, (atas) Mas Adhi, (bawah) Mbak Ratna, dan Mas Brian

Saat lomba… saya adalah penulis paling eksentrik…

IMG_9172

Ini pas lomba… yang super ngebingungin itu…

Kenapa saya eksentrik?? Karena sebenarnya kami per orang peserta hanya mendapatkan 1 makanan dan minuman saja. Namun buat saya, yang namanya review restoran itu… mana bisa kalo cuma makan 1 jenis dan ga nyoba kiri kanan?? Yak, saya akui, itu lomba teraneh yang pernah saya ikuti. Saya waktu itu memesan Malon BBQ dan Es Pelangi, kiri saya Lala memesan Malon Peking dan Es Campur Tape Ijo, kanan saya Clara  memesan Malon Bumbu Kuning dan Es Campur. Apa ntah saya memang ga bisa diem, saya pun jalan2 dan liat. Alhasil saya dapet sepiring nasi kebuli yang uenak… dan nyomotin 1 kaki Malon Halilintar ini…

IMG_9171

Kaki kanannya (dari arah sini) ilang!

Ah lupa… Malon atau Manuk Londo ini adalah burung puyuh impor dari Perancis yang disajikan di Cupuwatu. Pulang2 dari lomba, kami benar2 kelelahan (walau saya sempat internetan bentar di kampus). Kondisi under pressure, makan, dan nulis dalam waktu dengan konten yang diarahkan membuat saya kelelahan fisik dan pikiran. Normalnya, nulis 3 artikel pun bukan masalah buat saya, orang saya aja nulis 5 artikel buat majalah ShoppingMagz aja dulu cuek kok dalam 2-4 jam. Ini… cuma 1 artikel, saya udah lemes.

Di sisi lain, secara paralel… saya dan Putri akhirnya bertemu Nuha, anak biologi UGM 2010. Pertama kali ketemu, aura anak ini sangat berwibawa. Gak heran, secara reflek saya memanggilnya dengan prefiks, “Mas” ketika ketemu. Di Perpustakaan Pusat UGM, Nuha menjelaskan bahwa SynBio UGM sudah bertemu beberapa ahli dan kita mendapat arahan dalam hal DIY BIO (Do It Yourself Biology) yang memungkinkan kita membuat alat2 lab dengan murah dan mudah dan ga harus beli jutaan rupiah di toko lab, tapi bisa jauh lebih murah dengan rakitan sendiri dan komponen seadanya. Cuma kalimat saya untuk mereka, adalah biologi sintetika adalah konsep bioinformatika dan biologi molekuler, kita harus punya proyek terkait spesimen biologis karena kita bukan penjual alat2. 4 hari setelahnya, saya ketemu Sanka, anak bio UGM 2010 juga… cuma aura anak ini asik dan (kayaknya) agak urakan. Jadi… (sori San), dari awal saya manggil langsung nama… TAPI… setelah itu Nuha pun jadi saya panggil tanpa prefiks. Dengan kumpul sama Sanka, Ayu (bio UGM 11), Jaler dan Sahal (SI UGM 13), kita jadi tahu bahwa akan ada 2 ilmuwan luar yang akan mengunjungi kita nantinya di akhir tahun: Prof. Dr. Parvez Alam dari Finlandia yang ahli biomimetika, dan Dr. John Cumbers dari NASA yang pernah memegang iGEM. Hmmm… nampaknya saya perlu bertemu orang2 ini! Ah ya! Saya pun akhirnya menetapkan untuk ikut acara seminar di Malang yang diselenggarakan Universitas Brawijaya, terkait biologi sintetika dan juga pelatihan bioinformatika.

Di lain momen juga, berhubung saya sudah tidak ada kuliah (murni tinggal penelitian tesis dan seminar), saya pun dengan isengnya ikut kelas (sit in, tanpa absen dan daftar di KRS) di Fakultas Kehutanan UGM, yaitu kelas Silvikultur (Kelas V) dan saya pun bertemu seseorang bernama Ikhsan yang ternyata alumni Adik Irma Tebet, Jakarta dan teman sekelas sepupu saya, Anggit. Dunia memang sempit saudara2. Di kelas ini saya belajar bahwa di balik penebangan kayu, prosedur legal dan penanaman itu sangat panjang! Sekarang saya tau kalau penebangan ilegal itu separah apa dampaknya. Saya juga ikut kuliah Propagasi Vegetatif di fakultas yang sama. Saya jadi belajar proses dibalik stek, cangkok, dan semacamnya secara fisiologis. Keisengan saya belum selesai! Saya ikut sit in di Fakultas Filsafat UGM dan mengambil Bioetika, kemudian Metafisika/Ontologi, dan terakhir Filsafat Bahasa. Bioetika… karena saya penasaran bioetika dari sisi filsafat etika itu seperti apa padahal saya biasanya belajar dari sisi ilmiahnya. Metafisika… membahas realitas dan keberadaan… ini cukup dalem… tapi terima kasih Prof. Joko Siswanto… kuliah ini jadi dinamis dan kocak! Filsafat Bahasa… karena saya ingin mempelajari semiotika. Keingintahuan saya soal Semiotika berakar dari guru saya Rizki sensei di Jakarta. Ilmu mengenai pemahaman simbol dan tanda ini kemudian saya pelajari dengan ikut kelas di Fakultas Ilmu dan Bahasa UGM, kelas S2 Semiotika sebagai tambahan yang saya pelajari di Filsafat. Kelas itu… cukup berhasil membuat saya pusing melihat perombakan puisi Sapardi Djoko Damono… dekonstruksi untuk melihat deiksi (penunjuk subjek), tempat, ruangan, dll yang bahkan memakan waktu 2 jam sendiri. Untung di kelas itu ada 2 cewek hot (ampas lu Dit!)… yah seenggaknya ada pemandangan. Tapi dari tanggal 25, saya bakal menghilang untuk sebulan dari UGM demi misi ke Malang, Surabaya, Jakarta, dan Bandung!

Kisah Persahabatan dan Pengetahuan Yang Abstrak di Malang (26-28 September 2014)

Pagi tanggal 26, saya sudah tiba di Stasiun Lempuyangan dari jam 7:20 WIB untuk menunggu Sanka dan Ayu… kami bertiga yang berangkat duluan saat itu sementara yang lain ada kuliah dan praktikum sampai sore, baru menyusul. Sanka baru dateng jam 8 waktu itu. Serius… waktu itu adalah pertama kalinya saya naik kereta kelas Ekonomi. Jam 8:40 WIB, kami naik kereta Logawa ke Surabaya. Saya sebelahan tapi bersebrangan ama lorong sama Sanka, kanan saya ada Dira anak Arsitek UII 2010, seberang saya ada seorang ibu dan anaknya. Ayu ada di kursi lain karena ia memesan tiket sendiri. Sepanjang jalan, saya cerita kepada Sanka, Dira… yang mau mendaki Gunung Bromo (sehingga tujuan kita juga sama, ke Malang setelah transit di Stasiun Gubeng, Surabaya), dan ibu2 yang ceritanya SANGAT SANGAR! Gimana ngga? Ibu ini pernah merasakan tinggal di area konflik Timor Timur (sekarang Timor Leste), nyaris mati kena tembak gara2 pistol dipegang bocah, punya kemampuan pre-kognisi dan tau tanda2 kematian orang lain, pernah sendirian menghadapi preman demi nolong anaknya dan berhasil, ngelobi orang di atas perahu sehingga dapat tempat tidur, dan juga cerita soal anak2nya. Anak pertamanya perempuan… feminin dan pemalu, anak keduanya juga perempuan… tapi tomboy… dan anak ketiga nya adalah laki2… yang ternyata anak angkat, yang waktu itu ikut ke Jombang.

Sesampainya di Surabaya jam 14:45 WIB … kami langsung memesan tiket ke Malang. Ternyata, kami harus menunggu sampai jam setengah 7. Bingung, akhirnya kami makan di warung. Saya memesan ayam goreng tanpa nasi dan segelas soda gembira yang ternyata porsinya sangat gembira (gede). Ngobrol2 sampai jam setengah 5, kami pun ngemper di depan lobi stasiun. Dira dan para pendaki gunung pun ikut menunggu bersama kami. Alhamdulillah sore itu, dikasih roti sama teman dan senior Sanka waktu itu.

IMG_9219

Trio Leo SynBio UGM… nangkring di depan stasiun.

Jam 6, saya berpindah ke ruang tunggu karena akhirnya kami boleh masuk. Saya pun mendapat kabar dari Pak Indra bahwa Pak Sony (Dr. Sony Suhandono… legenda genetika dan biologi molekuler ITB yang membuat edible vaccine, vaksin hepatitis di pisang sehingga dengan cuma makan pisang, kita bebas hepatitis) akan ikut ke Malang. Wiiiii…

Akhirnya sore itu jam 18:40 WIB dengan kereta Penataran Ekspress, kami bertiga lanjut ke Malang dengan biaya Rp 25.000,00. Di Malang, kami tiba jam 21:30 WIB. Ayu dijemput saudaranya, sementara saya dan Sanka dijemput ketua dari SynBio UB/iGEM UB bernama Wira dan seorang panitia lain gadis manis berkerudung bernama Nira. Gak lama kemudian dan setelah ngobrol2 di jalan di atas motor bersama Wira… sambil menikmati sejuknya malam kota Malang dan indahnya taman Malang di bawah sorotan lampu jalanan yang berwarna kuning itu, kami tiba di penginapan KOSABRA.

Gak lama abis itu…

Saya (AW): San, makan lah yuk!

Sanka (IS): Yuk lah mas… ke mana tapi?

AW: Jalan aja dulu, ntar nemu…

(beberapa saat kemudian)

AW: Sepi amat ya… ini jalan raya kosong banget…

IS: Setauku Malang itu udah sepi dari jam 8an, mas

(ketemu kafe di kejauhan, ga jauh dari jalan keluar kompleks tempat penginapan)

AW: San, kayaknya asik tuh buat di blog saya… ke sana ga?

IS: Ayo aja lah mas!

Alhasil, saya dan Sanka makan malam ke restoran The Amsterdam. Suasananya rada ajaib. Para pelayan yang kayaknya mulai ngantuk gara2 pas saya nanya agak2 ga nyambung, lagu disko, dan cuma ada beberapa orang di sana… biar gitu, restoran itu sangat cozy dan enak buat duduk2. Ikut rekomendasi, akhirnya saya memesan Cheese Burger dan Sanka memesan Nasi Goreng Amsterdam… yang saya juga cicipi buat saya tulis di blog karena saya bertekat untuk mendapatkan tulisan dari kunjungan2 ini.

The Amsterdam - Cheese Burger

Inilah burger saya…

Puas makan (review ada di blog saya ya), kami pun pulang ke penginapan. Sampe malem, saya ngeracunin si Sanka sama video PewDiePie sama hal2 random apapun yang ada di laptop saya, tapi juga termasuk seminar XB di Genoa 2014 (XB: Xenobiology). Lewat jam 1 dini hari, saya baru ngantuk.

Esok paginya…

AW: San, anak2 yang lain udah pada nyampe?

IS: Mereka nyampe jam 4, lanjut mandi di stasiun…

AW: Gile…

Lagi, dijemput Wira dan Nira (wah berima)… kami pergi ke Universitas Brawijaya jurusan Biologi, tapi saya mampir ke toko dulu buat beli tiket kereta Penataran Ekspress buat besok. Si mbak2 yang melayani beli tiket itu… manis *plak*. Oke… tapi jujur, mata saya seger banget di Malang… pemandangannya bagus dengan penataan taman yang sangat bagus dan ga ada macet, dan “pemandangan” lainnya… sumpah… bening2… *oke stop*

Akhirnya kami ngumpul di UB dan khususnya Nuha lagi sibuk mempersiapkan presentasi pihak UGM. Setelah registrasi dan bayar (dan beli kaos), kami pun masuk ruangan…

IMG_9247

Dari kiri: Sanka, Nuha, Amel (Ghifi ketutupan), saya, dan Jaler. Mau seminar… narsis sikit dulu lah!

Seminar biologi sintetika pagi itu diisi oleh Pak Rifa’i (Muhaimin Rifa’i, S.Si, Ph.D.Med.Sc), dosen UB lulusan Meidai (Nagoya University) ini menjelaskan tentang biomedika khususnya tentang regulasi dari sel T-regulator yang bisa berguna untuk macam2 hal khususnya transplantasi karena sifatnya yang menekan pembelahan sel dan ini berpeluang untuk diamati lebih lanjut. Jeda, kemudian Pak Widodo (Widodo, Ph.D.Med.Sc) dosen UB lulusan S1 UB, S2 ITB, dan S3 Tsukuba University yang sempat berdiskusi singkat dengan saya mengenai peluang biologi sintetika tanaman. Beliau sangat luwes dalam menjelaskan definisi biologi sintetika yang menyangkut sistem biologis dan perbandingannya dengan rekayasa genetika yang ga lebih dari konsep rekayasa pada gen. Selesai itu, pihak SynBio ITB menjelaskan sistem deteksi aflatoksin dari Aspergilus niger pada kedelai yang menggunakan rekayasa pada bakteri Escherichia coli. Saya… ga bisa berkata apa2 melihat kemajuan penelitian mereka… fix, saya harus bertemu Pak Indra nanti di Bandung buat nyari ide dan diskusi! Terus, dilanjutkan dengan penjelasan Nuha soal DIY BIO, progress SynBio UB oleh Wira, dan video SynBio UI.

IMG_9257

Nuha sedang presentasi.

Abis itu? Sesi narsis…

IMG_9259

Saya dan teteh2 cantik dari S2 ITB…

IMG_9260

Sesi foto abis seminar yang formal…

IMG_9262

…dan yang gak formalnya…

Keluar seminar, kami makan siang dan menyempatkan diskusi dengan pihak SynBio UB dan ITB mengenai apa aja yang diperlukan. Ya… ternyata yang diperlukan adalah memang proyek dan publikasi sebelum selanjutnya kita lanjut ke fase yang lebih tinggi.

Abis diskusi, kita memutuskan buat jalan2…

IMG_9269

…dan narsis lagi!

SynBio UGM dan UB akhirnya memilih buat jalan2 (yang ITB balik, kayaknya mereka dapat tugas tambahan dari Pak Sony). Saya pun mengikuti ide Nira buat makan ke Burger Buto! Kami semua jalan keluar kampus (dan saya menikmati liat2 “pemandangan” di dalam kampus UB… dan pemandangan beneran di mana saya suka taman di kampus UB dan gedung2nya yang desainnya modern itu) dan kita lanjut naik angkot. Sejak momen ini… persepsi saya ke Nuha dan Sanka yang tadinya kalem dan berwibawa… Jaler, Ghifi, dan Sahal yang kalem dan senyum2 doang… Amel yang juga agak jaim… berubah total… bukan karena makanan… tapi karena…

Screen Shot 2014-10-01 at 3.55.47 PM

…minuman abstrak ini!!

10346516_10202874011517383_1422153747164465528_n

JREEEEENGG! *tulisan ini ga disponsori oleh Creso ataupun Burger Buto*

Dari kiri ke kanan: Sahal, Jaler, saya, Ghifi, Nuha, Sanka, (saya lupa namanya), Nira, Amel… dan yang motret, Putri.

Makan burger berukuran abnormal di Burger Buto (ada di blog saya lho), cerita Nuha sama Sanka tentang film Idiocracy, dan minum Creso yang berdampak ngakak tanpa alasan jelas (tanya Ghifi), ngebuat saya nyaris keram perut sore itu. Setelah puas makan, kita… beli Creso lagi dan nyegat angkot buat di-carter untuk nganterin Amel dan Putri ke kosan Nira, dan lanjut ke penginapan.

Malam itu, saya, Nuha, Sanka, Jaler, Ghifi, Sahal, dan Azza (anak bio UB) terkontaminasi otaknya gara2 nonton film Idiocracy. Setelah diusir mas2 penjaga buat nonton selanjutnya di kamar dan Azza akhirnya pulang… dan sampe film akhirnya abis, saya pun lanjut cerita2 sama Sahal dan Jaler sampe malem sebelum akhirnya pindah ke kamar… di mana Ghifi udah tepar. Gak lama, Sanka dateng dan juga tepar… saya menyusul sejam kemudian… jam 22:00 WIB waktu itu kalo ga salah.

Besoknya, kami datang ke workshop bioinformatika. Pagi itu kami makan di warung KOSABRA setelah check out dari penginapan.

IMG_9304

Makan pagi…

IMG_9306

“Mie Ayam Jamur” versi warung KOSABRA… bahkan saya bingung jamurnya di mana.

Saya ke UB bareng Wira karena saya harus nuker tiket pulang sementara yang lain naik angkot. Makasih yak temen2 yang bawa koper saya! Selanjutnya di UB… lab bioinformatika… kami belajar menggunakan aplikasi Pymol, Hex, dan Chimera untuk melihat konformasi protein dan interaksinya dengan zat2 tertentu.

IMG_9309

Mas Rizky sedang mengarahkan workshop.

Konyolnya, aplikasi itu agak memakan memori dan di komputer meja saya… aplikasinya crash. Akhirnya saya nengok punya Sanka dan Sahal aja. Setelah beres (jam 10:30 WIB), kami makan saya ketemu seseorang dari biologi ITS bernama Misbah yang tertarik soal biologi sintetika tapi di ITS belum ada. Namun diskusi kita terpotong akibat obrolan Creso sama Jaler, dkk. Abis itu, kami sholat dan satu persatu kami berpisah.

IMG_9313

Narsis lagi…

Nuha sama Sanka nunggu di lab karena mereka pulang sore naik bus, Putri diantar Nira ke terminal untuk pulang lebih awal, Amel, Sahal, Jaler, dan Ghifi naik kereta langsung ke Yogya. Saya pun diantar Wira ke stasiun… ngeliat jalan, saya rasa saya bakal kangen Malang. Jam 15:40 WIB… akhirnya kereta Penataran Ekspress pun tiba menjemput. Di jalan… saya duduk sendiri dan di seberang bangku ada 3 orang. Mengusir kejenuhan, saya mendengarkan lagu sambil melihat matahari terbenam di ufuk barat di langit biru yang cerah dan cakrawala yang terlihat jelas.

IMG_9319

Sore hari di Penataran Ekspress.

Menulis Ulang Masa lalu (Surabaya 28-30 Oktober 2014)

Setibanya di Stasiun Gubeng Surabaya, saya dijemput Pak Taqim. Beliau adalah juru mudi yang setia kerja di perusahaan tempat bapak saya kerja, Unilever, bahkan dari ketika dulu saya masih tinggal di Surabaya kelas 6 SD. Di perjalanan, saya pun mampir di toko yang sama ketika saya kelas 7-8 (1-2 SMP) suka mampir, Papaya di Margorejo buat beli kroket, onigiri, dan roti tuna. Abis itu mampir ke Togamas buat nayri buku Bioetika… hasilnya nihil dan saya langsung melanjutkan perjalanan. Saya malam itu menginap di kediaman Mbak Susi (saya manggilnya tante sih), beliau sangat baik dan mengenalkan ke 2 orang anaknya, Eka dan Iko. Eka saat ini sekolah… kelas 12 (3 SMU) IPS dan mau mengambil kuliah di jurusan Psikologi. Iko, adiknya adalah bocah yang sangat supel, ramah, dan jago main piano. Saya setelah disuguhi makan, saya menyeritakan banyak hal yang saya alami ketika kuliah untuk bekal Eka. Ketika waktu menunjukkan jam 21:30 (saya sampai di rumah jam 19:30, dan makan jam 20:00), saya masuk kamar, menyalakan AC, dan membuka laptop sebelum akhirnya tidur.

Esok harinya, Pak Taqim menjemput saya jam 9 pagi. Sejujurnya saya ga punya rencana apa2 di Surabaya karena sebenarnya saya hanya menunggu hari Selasa yang saya memesan di hari itu karena saya niat awalnya mengejar harga tiket pesawat lebih murah. Pagi itu… saya memutuskan untuk pergi ke sekolah SMP saya dulu… SMPN 13 Surabaya.

IMG_9336

Ini SMP saya lho dulu…

Saya ketemu Bu Ngateni (Wali kelas 7(1)F) yang dulu galak banget sama saya, terus Bu Endah (Wali kelas 8(2)B) yang sangat keibuan, dan Pak Har yang waktu itu menjabat wakil kepala sekolah… beliau kebapakan, tegas, tapi sangat ramah. Menariknya… sekolah di sini dikenai Rp 0 buat SPP!! Meski demikian guru2 ini bilang anak2 butuh motivasi lebih biar lebih rajin lagi. Setelah beberapa saat, saya jalan2 di lorong… saya inget jalan2 di sana beberapa belas tahun lalu sama sahabat2 saya Rino (bukan Rino yang di Jakarta), Alan, Bagus, dan Wahyu di sana.

IMG_9330

Lorong ini dulu ga sebagus ini…

IMG_9332

Pintu masuk kelas 8(2)B… dulu ga sekeren ini juga.

Penasaran… mereka ke mana ya sekarang?

AW: Pak… saya bingung… ke mana ya sahabat2 saya sekarang…

Pak Har: Kamu ke tata usaha aja, cek arsip angkatan kamu…

Akhirnya setelah mengecek nomer induk temen2 saya, saya pun dapet biodata tercatat mereka (dan juga beberapa cewek tercantik di kelas waktu itu… fufufufu) untuk saya potret dengan HP saya. Setelah itu… saya dengan Pak Taqim lanjut ke ITS. Awalnya saya mau ketemua Misbah, tapi ternyata saya lupa nyatat nomer kontak dia. Sampe sana, setelah dengan randomnya saya jalan2 ke depan HIMABIO ITS yang kosong, saya malah ngobrol2 sama 3 mahasiswa 2014 bernama Ika, Afif, dan Dicky. Mereka nampaknya tertarik dengan mikrobioteknologi. Saya pun cerita sekilas soal biologi sintetika, astrobiologi, dan… blog kuliner saya. Mereka malah jadi ngobrol soal makanan Korea. Hahaha… bzzz…

Dari sana, saya jajan ke Galaxy Mall. Saya makan di restoran rekomendasi Nadya (temen SD), di The Spaghetti’s dan makan makanan penutup di BlackBalls (keduanya segera di-review di blog). Abis itu, saya pergi ke 3 Togamas dan 1 toko buku Uranus. Buku Bioetika dan Metafisika itu nampaknya memang udah abis. Terus mampir toko, beli Creso, saya pun duduk2 di depan kompleks rumah Mbak Susi.

Langit biru…

10665797_10152746917087154_7129610180071647063_n

…dan Creso…

Baru saya neguk minuman ini… dengan randomnya saya dikontak orang India yang ngebaca blog saya. Saya cerita ke Sanka, dia langsung ngakak.

Malam itu, saya disuguhi Spaghetti Saus Ayam dan makan bareng Eka dan Iko, kedua ortu mereka belum pulang. Malam itu saya sempat mencari nama2 teman2 saya yang ada di database SMP tadi. Saya menemukan Rino… nampaknya akhirnya saat ini dia sudah kerja. Tapi ke mana yang lainnya? Setelah ngobrol soal fotografi sama Ichang dan soal bahan kimia pestisida sama Putri, saya tidur. Jam 20:00 WIB, saya terlalu capek… saya pun ketiduran sampai jam 2… dan lanjut sampai pagi

Hari terakhir di Surabaya, setelah sarapan dan sharing cerita sambil bilang kalo ada apa2 Eka atau Iko bisa bebas ngontak saya kapan aja, akhirnya saya pamit sama Mbak Susi dan diantar Pak Taqim ke Bandara Juanda. Setelah sampai di bandara, saya berpamitan sama Pak Taqim dan saya langsung masuk buat check in tiket saya di counter AirAsia. Bandara Juanda jauh berubah semenjak 2 tahun lalu, apalagi dari pas dulu pertama kali saya melihat pas masih tinggal di Surabaya.

PR saya di Jakarta adalah mempersiapkan materi kuliah biologi sintetika buat UGM dengan mengadaptasikan slide kuliah yang saya dapet di ITB (karena itu hak cipta Bu Maelita, Pak Sony, dan Pak Indra… akhirnya saya memutuskan buat versi baru yang bener2 saya tambahin materi terbaru untuk SynBio UGM), konsultasi ke Pak Indra, bertemu founder SynBio ITB Indra, Joko, dan Tonton di Bandung buat minta tips.

Setelah panggilan boarding penumpang pesawat penerbangan QZ-7693 dan tiket saya diperiksa petugas AirAsia yang cantik dan mukanya mirip Marzia (pacarnya Felix AKA PewDiePie), saya pun naik pesawat… dan dapat kursi nomor 30D nomor 2 dari belakang, dekat WC. Yah, sisi baiknya ini tempat mangkal pramugari… dan sebelah saya cuma 1 orang (tengahnya kosong). Sebelah saya… yah… cantik juga… cuma tampangnya agak angkuh. Ah sudahlah… saatnya liat peragaan keselamatan, dan saya pun pura2 jadi pilot di kursi saya sendiri…

Engine full thrust… 80 knots… Vee-one… Rotate… Positive climb, gear up…

…dan pesawat Airbus A320-300 dengan mesin ganda CFM series itu dengan berdaya dorong 76.000 lb itu pun mengudara dengan cepatnya dengan level ketinggian 360 dari SUB ke CGK.

(bersambung, kayaknya)

Iklan

Siapa yang ngga tau istilah “Tugas Akhir” atau TA? Istilah ini kadang menjadi hal yang cukup mengerikan di mata para mahasiswa yang akan lulus. Bagi ada yang belum tau, TA adalah serangkaian proyek penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data yang akan ditulis di skripsi/tesis/disertasi, dan di cerita ini tentu aja… skripsi. Mendengar cerita teman saya, banyak yang mati2an kerja demi TA, gonta-ganti topik, revisi karena ga disetujui pembimbing. Gitu deh, horror kan? Terus gimana menurut saya? Ya buat saya ini adalah cerita paling epic yang menjadi titik ubah hidup saya! Kenapa? Karena saya penelitian TA nya di National Institute of Education – Nanyang Technological University (NIE-NTU), Singapura selama 1 minggu lebih! Dari cerita ini, saya akan menceritakan asal-muasal munculnya nama yang saya refer di blog ini sebelumnya yang juga menjadi drammatis personae di cerita ini: Dr. Totik Sri Mariani M.Agr (Bu Totik, dosen pembimbing TA saya; inisial di percakapan cerita ini: TSM), Dr. Any Fitriany (Bu Any, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, UPI, Bandung; kolega nya Bu Totik, inisial: AF), dan Associate Professor (Profesor Muda) Tet Fatt Chia (Prof. Chia, peneliti dan dosen NIE NTU, inisial: TFC).

Kita mulai perjalanan cerita ini! *jeng jeng jeng!!*

Saya di Singapura

Saya di samping Merlion. Ga usah nanya kenapa bajunya malah Bali. Foto ini diambil Bu Any.

Saya berangkat 1 Oktober 2010 ke Singapura. Kondisi saya agak kacau waktu itu. Momen saya putus dengan mantan pacar saya yang pertama akhir Agustus masih cukup segar di kepala saya. Malam sebelum pergi pun saya berharap pergi ke Singapura ini akan jadi “hiburan” tersendiri, dan saya pun memutar lagu di laptop saya, “Wake Me Up When September Ends” oleh Green Day. Terus bagaimana cerita saya bisa pergi ke Negeri Singa ini? Oke, flash back.

Bulan Mei 2010, saya masih semester 6 kuliah saya dan ada mata kuliah yang disebut Metodologi Penelitian (Metpen) yang di ujung kuliah ini kami dipersiapkan untuk menulis proposal tugas akhir. Tak terkecuali saya, yang dengan random-nya membuat proposal mengenai semangka tanpa biji. Proposal ini akan diajukan ke para dosen narasumber yang jadi dosen pembimbing tugas akhir. Saya yang baru tau penelitian saya adalah dengan Bu Totik, saya langsung menemui beliau… dan cukup absurd. Kenapa? Temen2 saya yang denger saya dibawah bimbingan beliau pada kaget. Beliau itu adalah dosen yang terkenal sangat pendiam terhadap para (plural ya) mahasiswa yang diajarnya sekalipun. Oke, lalu saya menemui beliau…

AW (saya): *ketok pintu* Permisi, bu…

TSM: Kamu ini siapa ya?

AW: Saya Adit, bu… bedasarkan pemberitahuan di dinding TU (Tata Usaha), ibu adalah dosen narasumber saya…

TSM: Oh, kita ketemu besok ya, saya sedang sibuk sekarang.

AW: Baik bu…

Besoknya saya pun menghadap beliau lagi, dan beliau membawa saya ke ruang rapat yang di dalamnya ada Bu Tita Puspita, teknisi Lab Fisiologi Tumbuhan yang super gaul dan legendaris, dan Bu Any. Baru saya duduk, Bu Totik langsung menjelaskan rencana penelitian kami yang akan dilakukan di Singapura. Dan dengan “lugunya”, saya bertanya…

AW: Bu, artinya penelitian kita akan dilakukan di Singapura?

TSM: Iya, betul…

Saya mencoba menahan rasa ga percaya  bercampur senang saya. Selepas kumpul, saya diskusi dengan Bu Tita dan beliau bilang bahwa sebaiknya saya ikut proyek beliau (Bu Totik) aja untuk TA saya. Wow, bahkan saya ga perlu ngajuin proposal! Lucky!!

Saya turun ke lantai dasar gedung kampus saya, dan semua pada ga percaya. Wajar… ini gila soalnya…

Setelahnya hingga saya berangkat, saya latihan inisiasi tanaman Aglaonema (itu, tanaman hias yang daunnya warna-warni) untuk kultur jaringan. What did you know? Gilanya adalah untuk ke Singapura ini saya perlu spesimen tanaman ini sebanyak 1000 tunas! Seribu, para pembaca sekalian… SERIBU! Tapi tenang, ini bukan 1000 candi… ini masih mungkin. Tapi ternyata ini hanya latihan yang Bu Totik minta saya untuk latihan agar saya bisa menguasai dasar metode kultur jaringan secara steril. Bu Tita lah yang dengan sakti dan cekatannya, bagai Kaminoan Cloners di Star Wars, mampu menginisiasi 1000 tunas lebih dalam eksten Mei-September 2010.  Saya pun mengamati laju pembentukan tunas (banyaknya tunas yang muncul dari 1 gugus tunas yang terpisah di setiap subkultur) dan membuat grafiknya untuk saya serahkan ke Bu Totik.

Memang apa sih penelitian ini? Jadi kami berencana mengamati proses mutagenesis (pembentukan mutan) tanaman Aglaonema yang diinduksi dengan senyawa kimia yang bernama N-nitrosometilurea (NMU); tadinya mau pakai etil metana sulfonat (EMS) tapi ga jadi karena diklaim kurang efektif. Lalu kenapa mutan? Kami berencana membuat Aglaonema var. Kochin menjadi berwarna merah putih dari tanaman induk yang berwarna merah dan hijau. Dengan kata lain kami ingin memblok gen yang mengenkripsi klorofil (pigmen hijau daun) dan antosianin (pigmen merah-biru di tanaman) secara mutagenesis acak.

Aglaonema Kochin

Aglaonema varietas Kochin yang murni, belum diubah. Dokumentasi pribadi.

Memang apa yang diharapkan dengan hasil penelitian ini? Tanaman ini adalah tanaman hias kan? Bayangkan aja, kita bisa jual di acara2 hari besar RI seperti 17 Agustus. Untuk ini kita perlu bangun nurseri, dan karena ini kita bisa menarik tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Lalu? Kita jual ke negara tetangga kita, Singapura, yang kemerdekaannya ga jauh dari tanggal itu, 9 Agustus. Dengan ekspor, kita mendapat devisa.

Kembali ke timeline awal. 1 Oktober, saya berangkat ke Singapura dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) sendiri, naik pesawat AirAsia ke Changi International Airport (SIN). Para dosen (Bu Totik & Bu Any) naik dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung (BOD). Tapi untunglah, saya bisa melawan rasa takut akibat acrophobia saya (takut ketinggian) karena baca doa, makan turkey sandwich, dan ultimately, a must-try, Uncle Chin’s Chicken Rice! Nasi dengan infusi kaldu ayam dan bumbu, dengan irisan ayam panggang yang berbumbu bawang putih, cabe (saya rasa cuma sedikit, kurang terasa), dan jahe yang khas yang di letakkan atas nasi. Memang rasanya agak kering karena ini adalah makanan pre-heat pesawat, cuma rasanya enak banget!! Saya merogoh kocek sekitar Rp 35 ribu rupiah, atau SGD 5.00. Tersedia di penerbangan Indonesia AirAsia (QZ).

Inflight Menu - Chicken Rice

That Epic Goodness. Gambar di crop dari sini.

Sesampainya di Changi, saya ambil barang, ketemu Bu Totik dan Bu Any, lalu naik taksi ke NTU. Rasanya cukup awkward buat saya, baru kali ini saya pergi untuk penelitian bareng dosen. Saya ngrasa terisolasi dari teman2 saya yang berada 700 Km di selatan sana. Perjalanan cepat naik taksi ini pun membuat saya berpikir, gimana ya biar gak galau? Secara random, taksi ini nyasar ke Nanyang Polytechnic karena misinformasi. Selang beberapa lama, tibalah kami di area NTU, Hall of Residence 8. Ini adalah kompleks asrama mahasiswa NTU. Bu Totik check in dan memberikan saya kabel LAN. Kami naik tangga, menyusuri lorong, naik tangga sampai lantai 3, dan tibalah kami di modul tamu asrama ini. Tempatnya cukup wah seperti apartmen mini. Ada dapur, mesin cuci, tempat jemuran dalam ruangan, ruang TV, meja makan, 2 kamar termasuk 1 master room untuk Bu Totik dan Bu Any, dan 1 single room buat saya. Di dalam kamar ada 1 AC, meja belajar, 1 tempat tidur personel, dan lucunya… ada kipas angin. Ada AC ada kipas angin… aneh juga pikir saya waktu itu. Kamar ada di lantai 2, ruang kumpul dan dapur tadi ada di lantai 1. Di pojokan lantai 1, di samping meja makan, dekat rak sepatu, ada pojok kosong yang ada colokan kabel LAN. Beberapa hari kedepan, itu akan jadi “tempat mojok” saya buat internetan. Beres unpacking, kami ke NIE buat menaruh kultur Aglaonema yang dibawa, makan (gila lah… kantinnya ada McD, Subway, KFC, dan Sakae Sushi! Lebih sakti lagi, McD nya lagi promo… mereka jual Double Fillet ‘o Fish, Double Chicken Burger, Double Cheeseburger, dan sadisnya… Mega Mac… Big Mac adalah burger susun 2, maka Mega Mac adalah Big Mac susun 2, 4 burger jadi satu! Tapi saya ga beli karena bakal mabok kekenyangan), lalu kemudian saya ke minimarket kampus buat beli adapter listrik lubang 3.

Noraknya… malam itu saya galau parah. Oke, lupakan soal ini… cukup tau clue nya aja.

Besoknya adalah momen yang gila. Pernah ga sih kalian terpikir jalan2 sama dosen saat nugas? Ya inilah momen yang saya alami! Tanggal 2 Oktober adalah hari Sabtu. Kami bertiga jalan2 ke Merlion dibawah langit biru dan cahaya matahari yang terik. Seenggaknya ditemani lagunya Miranda Cosgrove yang diputar di telinga saya pagi itu, “Raining Sunshine” (OST nya Cloudy With A Chance of Meatballs; film yang saya tonton pas saya di kamar, hari pertama ini). Sorenya, di social media, Plurk, di salah satu postingan rekan seangkatan saya, saya ketemu seorang gadis, adik kelas saya angkatan 2010. Lucunya, 2 bulan kemudian dia jadi pacar saya (sekarang mantan saya). Emang, kadang hal2 tak terduga bisa terjadi lho di hidup kita!

Besoknya, saya menemani ibu2 dosen ini ke Singapore Zoo. Cuacanya super lembab.

Crowned Stork

Ini adalah salah satu penghuni Singapore Zoo, African Crowned Stork. Hasil jepret sendiri.

Must-try menu? Coba Fish n’ Chip dan Sandwich di cafe mereka! Ah iya! Cobain jus di botol panjang yang aneh. Botolnya bisa disimpan buat suvenir lho!

Senin, 4 Oktober 2010. Penelitian dimulai! Untuk pertama kalinya, saya bertemu Prof. Chia. Hari pertama kami baru briefing dan di bawah bimbingan Prof. Chia, kami mulai menyentuh alat yang bernama particle gene gun (pistol partikel gen). Woohoo… ini sci-fi banget! Kerennya, alat ini dibuat atas spek permintaan Prof. Chia sendiri. Beda dengan gene gun konvensional yang menggunakan gas bertekanan tinggi, alat ini menggunakan mesiu sebagai sumber ledakan. Pelurunya? Serbuk tungsten (Wolfram, simbol tabel periodik W) yang tidak larut kemana2. Konsepnya sederhana, peluru direndam senyawa NMU dengan konsentrasi pengenceran yang sudah kami atur, lalu dimasukkan ke pelet nilon untuk ditembakkan ke atas jaringan tanaman dalam kondisi hampa udara (udara disedot pompa). Ternyata untuk penelitian saya memerlukan 500 tunas, karena 500 tunas lagi akan digunakan oleh Bu Totik dan Bu Any untuk percobaan mereka sendiri. Simpelnya, kami bekerja di 2 lab yang berbeda. 500 tunas ada di dalam sekitar 100-150 cawan petri plastik. Hari pertama secara personal saya memprediksi berapa jumlah optimal yang bisa saya kerjakan sehingga besoknya bisa saya tambah lagi eksekusi perlakuannya. Hari ini saya lakukan sekitar 20 penembakkan. Merasa mampu, besoknya saya naik hingga 30-35 penembakkan. Hari ini saya juga belajar bahwa di bawah bimbingan Bu Totik, saya makan 4 kali sehari: makan pagi, makan siang, makan sore, dan makan malam. Gratis sih… tapi makanannya di situ… gila2an. Alamat naik berat badan, ya… saya pun sepulangnya nambah 5 Kg dari 80 Kg jadi 85 Kg. Saya juga jadi tau bahwa Bu Totik itu jalannya cepat sekali. Bu Any pun setuju dan mengerti bahwa beliau yang lulusan Nagoya Daigaku (Meidai) ini melakukan semuanya dengan sangat cepat dan efisien. Perjalanan dari lab ke kantin NTU itu cukup menguras energi, karena perlu melewati tangga yang tinggi sekali di lorong.

Di Lab

Saya selama 5 hari itu. Di samping saya ada tabung “pistol partikel gen” itu. Dipotret Bu Any.

Selasa, 5 Oktober 2010. Masih sama dengan kuantitas penembakkan ditinggikan. Suasana di Lab of Molecular Genetics itu dingin dan sepi, saya pun memasang headphone. Pas makan siang, Prof. Chia ikut dengan kami untuk menunjukkan lokasi kantin yang jalannya “lebih manusiawi.” Percakapan seru terjadi…

TFC: Dr. Totik, do you know that there is a mycorrhiza that priced very expensive in this world?

TSM: What kind of mycorrhiza is it?

TFC: This mycorrhiza priced thousands of dollars for every kilograms!

TSM: Wow! What is it?

AW: *nimbrung mode: ON* Professor, is that mycorrhiza is truffle?

TFC: Correct! So you know about it, Adit?

Wow, I hit the jackpot! Pas makan siang kami jadi ngebahas jamur mikoriza legendaris bernama truffle ini dan tentang karya2 Prof. Chia lainnya. Ga nyangka, pengetahuan gw soal jamur ini dari game PS1 Harvest Moon kebawa ke sini. Sorenya di Hall of Residence 8.

TSM: Adit, nanti kamu ikut penelitian yang truffle ya…

AW: Wah, iya bu??

TSM: Iya, kamu kan ngerti soal jamur ini.

Wow… lagi… dapet proyek lagi… oke, saya ga mau komen soal ini.

Rabu, 6 Oktober 2010. Masih kayak kemarin. Malamnya si prof nraktir kami makan di Jurong Point. Makan dengan lengkap sampai makanan penutup, dan keliling2 untuk melihat hal2 unik. Si prof menjelaskannya ke kami di bagian jamu khas Cina.

Dinner w/ Prof

Makan Malam di Jurong Point. Kiri ke kanan: Prof. Chia, saya, Bu Any, Bu Totik.

Kamis sampai Jumat masih eksekusi perlakuan ke Aglaonema dan akhirnya selesai! Sembari mencari literatur pustaka skripsi dan menyusunnya, saya ingin menunjukkan kepada 2 dosen saya ini gimana rasa truffle itu. Akhirnya saya menemukan restoran bernama Spizza. Saya sudah pernah memesan sebelumnya di Indonesia dan tau bagaimana mengkustomisasi pesanan saya. Saya pesan yang mirip Pizza Margherita (cuma saus tomat), lalu saya minta extra black truffle ke atasnya. Truffle hitam ini sudah dihaluskan. Tapi rasanya yang unik, agak seperti keju ini masih terasa kuat.

Pizza Truffle

Truffle itu ada di bagian yang hitam itu. Foto oleh saya sendiri.

Selama weekend, saya menunjukkan pizza ini, ke Singapore Science Center (di sana saya sekaligus mencari oleh2 berupa Astronaut’s Ice Cream, coba cari di Google deh!) dan kemudian mencari oleh2 seperti coklat di Takashimaya bersama 2 ibu dosen ini. Mereka membeli sepatu, dan pas balik di Jurong Point, saya ngiri setengah mampus ketika Bu Totik beli iPad di depan saya!! Gyaaah!! Malam sebelum balik ini, lagu “For A Lifetime” nya Melee terdengar di headphone di mana laptop saya terhubung ke playlist tetangga saya. Hehehe…

Besoknya kami sebelum pulang mengambil kultur kami dan berfoto bareng di depan NIE-NTU…

Di Depan NIE

Dari Kiri ke Kanan: Saya, Prof. Chia, Bu Totik, Bu Any. Foto diambil oleh orang lewat yang kami minta tolong.

Saya pun dari Changi balik ke Jakarta (CGK) dan sampai rumah, ngedrop oleh2, terus naik travel ke Bandung untuk siap2 bimbingan lagi besoknya.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik kali ini:

  1. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita, khususnya di luar harapan yang berlebihan. Yang kita perlu lakukan adalah syukuri apa yang kita miliki dan berdoa sambil berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.
  2. Cintai ilmumu, maka ilmumu akan memberikan sesuatu kembali kepadamu.
  3. Banyak hal yang terjadi di luar persepsi kita. Ada orang yang pendiam, tapi ternyata baik. Oleh karena itu kita tidak boleh berburuk sangka. Dalam perjalanan kali ini, jujur saya melihat sisi Bu Totik yang orang2 lain jarang bisa lihat di kampus.
  4. Uang bukan segalanya, tapi uang adalah reward yang bisa diraih siapa saja selama mereka niat.

Sejak saat itupun, saya ga pernah ragu untuk terus mencari ilmu, melakukan penelitian2, dan bertanya kepada para ahli. Saya bersyukur sudah diberi pengalaman tak terlupakan seperti ini.

-AW-

Ada yang tau pohon beringin kembar di Alun-Alun Kidul (Selatan) Keraton Yogyakarta? Yang ini nih!

Beringin Kembar Keraton

Diambil tanggal 23 Maret 2013, malem2. Keren ya?

Ada sebuah cerita di masyarakat… entah saya perlu menyebutnya takhayul atau mitos, yang mengatakan bahwa jika kita berhasil melewati jalan di antara kedua pohon ini, maka keinginan kita akan tercapai.

Orang yang membaca kalimat di atas pasti berpikir satu di antara ini:

  1. Ah, syirik itu! Berdoa ya kepada Tuhan sama kerja kalo keinginan mau tercapai! Masa percaya sama pohon??
  2. Ah, kalo ga mungkin! Ya kali keinginan bisa dateng begitu aja tanpa kerja!

Kalo kalian berpikir hal semacam 2 poin di atas, maka selamat… saya akan bilang, “PEMIKIRAN ANDA SANGAT DANGKAL!”

Ada sebuah pesan moral yang sesungguhnya bisa didapat dari urban legend satu ini. Ya, waktu itu saya bersama kedua sohib saya, Aria dan Dwiki. Aria yang berperan sebagai ahli budaya di perjalanan ini, Dwiki yang berperan sebagai penguji di lapangan, dan saya yang mencoba menganalisis melakukan penelitian untuk mengeceknya. Berikut prosedurnya:

  1. Yang diuji diminta menutup matanya.
  2. Yang diuji diminta jalan lurus. Pengamat hanya boleh mengatakan kalo ia ada di sekitarnya, ga boleh bilang dia jalannya lurus apa ngga dan harus mendampingi si yang diuji sampai dia bener2 belok dari arah pohon, nabrak pohonnya, atau bener2 udah melewati jalan di tengah pohonnya.
  3. Faktor internal yang diamati: langkah kaki, arah gerakan, apa yang dirasakan si yang diuji.
  4. Faktor eksternal yang diamati: lekuk permukaan tanah yang dilewati (adanya rumput, akar pohon, tanah pasir, dll).

Hasilnya:

  1. Kecepatan kayuh kaki kanan-kiri masing2 itu beda.
  2. Pola gerakan kaki masing2 itu beda (ada yang ngayuh ke atas banget, ada yang nyeret).
  3. Tanah yang dilewati kita itu ada yang mulus (rata berpasir), sedikit cekungan, berumput, ada naikan dikit, dan ada yang dilewati akar pohon beringin.
  4. Suasana rame, bombardir suara dari segala penjuru kadang bikin puyeng.
  5. Saat mata ditutup, kita fokus ke 2 hal: posisi kepala terhadap arah lurus yang dipersepsikan otak, dan posisi gerak kedua telapak kaki terhadap arah lurus di atas tanah.

Sadarkah kalian bahwa dari hasil penelitian singkat itu bisa ditarik kesimpulan yang bijak berupa:

  1. Bagaimana orang melangkah itu beda caranya, itu adalah signature setiap orang. Ekstrimnya, ada yang pincang dan ada yang ngga. Well, yang penting percaya diri! Kita harus bisa menghargai diri kita sendiri dengan percaya pada diri kita sendiri dalam menghadapi masalah, dengan cara kita sendiri.
  2. Dalam hidup itu, semua yang dilakukan untuk mencapai keinginan itu belum tentu mulus. Efek interaksi dengan orang2 di sekitar kita (baik itu pujian dan hujatan), mulus-tidaknya jalan kita itu adalah pelajaran yang bisa kita ambil selalu. Semua tergantung bagaimana kitanya, ambil sebagai pelajaran, atau berhenti karena menyerah? Winner never quit, quitter never win!
  3. Hal yang paling penting, jika kita punya keinginan adalah FOKUS! Ada yang pernah menonton film/baca novel “5 cm”? Ada kutipan kata yang sangat menarik di dalamnya yang intinya adalah taruh cita-cita kita 5 cm di depan kening kita, dengan begini kita akan fokus dan akan terus maju untuk mengejarnya. Iya dong! Dengan analogi beringin ini juga bisa. Jika kita ga fokus, kita akan nyasar dan nabrak. Kalo kita ga mau melangkah, kita akan ada di tempat yang sama.

Bagaimana? Itu adalah “resep” yang ditinggalkan leluhur kita untuk kita mengejar keinginan kita. Terkadang hal2 yang kita anggap takhayul itu ada sisi benarnya bukan? Kita saja yang kadang malas melihatnya lebih dalam lagi. Peninggalan leluhur kita itu adalah sakral, karena mereka bisa melihat makna atas segala sesuatu lebih baik dari kita, dan mereka sangat apik dalam menyusun cerita2 legenda dan pesan2 kepada kita. Berbeda dengan kita yang terbuai dengan segala kepraktisan karena hidup di jaman yang serba instan ini. Untuk itu, saya mau ucapkan kalimat yang dulu waktu kecil saya pernah dengar dari lagunya Sherina, “Lihatlah Lebih Dekat.”

“Lihat segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai… lebih bijaksana. Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar… Lihat s’galanya lebih dekat, dan kau akan mengerti.”

-AW-

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life