Skip navigation

Tag Archives: tren

Saya mendadak pengen nulis soal ini karena sejujurnya udah lama banget mau nulis. Awalnya pengen nulis di blog sebelah “The Hungry Biologist”, tapi kayaknya saya mau bahas lebih umum deh. Pertama2, mari kita renungi gambar ini:

12105917_10153657328457154_1558432107850781961_n

“Kekinian” sumber gambar dari Path, kayaknya kalo dari watermark itu karya @Pinkinyo.

Di era milenial ini, saya merasa ironis. Kenapa? Sebenarnya saya sejak SMU udah tau betapa yang namanya tren di negara kita itu kadang jadi viral. Cuma dulu penyebarannya ga segampang sekarang semenjak internet menjadi media sosial yang setiap orang bisa akses kapanpun dan setiap orang punya andil sebagai penyebar berita. Kalian menemukan sesuatu, kalian potret, sebar di dunia maya, ada apresiasi, besoknya booming, dan setelah lama kemudian… ulangi dari awal.

Soal makanan… saya pun sekarang merasa cukup vakum dalam memberikan tulisan di blog. Kenapa? Saya kehabisan sesuatu buat saya tulis! Ketika tahun 2013 saya menjadi kontributor majalah, saya melihat… wah, ternyata jadi penulis dan jurnalis makanan itu seru, kita bisa ngasih komentar dan orang ngebaca. Terus berkembang jadi… wah, jadi kritikus seru ya, menantang buat kita bisa nyari tau atas apa yang kita mau kritik. Sekarang… saya harus nyari celah lagi, karena… everyone’s a critic now! Sekarang, karena faktor tren, segala sesuatu jadi homogen, dan kadang mau saya review pun hasilnya ga jauh beda. Mereka yang niat akan dapat poin bagus, mereka yang cenderung latah hasilnya akan minus atau saya ga akan tulis.

Bayangkan gini dari gambar di atas: Semenjak sebuah usaha martabak manis membuka konsep martabak dengan taburan coklat premium atau taburan2 ga umum lainnya atau… dengan campuran seperti teh hijau atau red velvet, sekarang bisnis martabak manis atau kue cubit dengan konsep serupa itu ada di mana. Jelekkah itu? Ngga kok… dari satu sisi. Walaupun sebut saja kadang saya ga nolak kalo ada yang ngasih saya martabak dengan Toblerone, saya ntah gimana masih menikmati martabak manis tradisional dengan keju, coklat, dan kacang dengan ekstra Wisjman butter yang harum. Karena, mungkin karena saya udah cukup tua ya… karena buat saya, martabak manis ya kayak gitu! Kalo martabak manis ditambah teh ijo atau lain2 jadinya di lidah saya bukan martabak manis! Saya tau kue Red Velvet yang merupakan kue coklat diberi warna merah oleh bit atau pewarna dengan icing krim keju. Tapi ya udah, itu kue yang beda. Jadi sekarang, ketika ada martabak A-Z membuka gerai martabak manis kekinian, saya akan bilang… “Buat martabak manis coklat, kacang, keju nya ya… nanti saya cek rasanya”

“Tapi kok kayaknya lo ga dukung banget sih Dit? Ini kan bentuk kreativitas!”

Awalnya kreatif, akhirnya latah. Gini deh, secara definisi… apa sih martabak manis? Kenapa bentuknya kayak gitu? Sejarahnya gimana? Emang saya tau? Ngga. Cuma memori pertama saya pas saya ditraktir om saya martabak manis tahun 1994 (saya masih 4 taun, pas TK nol kecil), martabak manis ya pake kacang, keju, coklat, dan mentega yang wangi. Gini, berapa dari mereka yang menjual makanan kekinian itu, tau kriteria dasarnya?

Ah mungkin saya ngomong gini, jadi ngerti kenapa seluruh dosen dan guru saya bilang… “Yang penting konsep, sisanya mau gimanapun terserah. Tapi tanpa konsep, semua itu nol”

Saya bingung dengan adanya pergeseran makna martabak manis itu… Yah, itu masih 1 masalah. Selanjutnya saya mau bahas gimana sekarang saya berusaha “berevolusi” dari penulis makanan yang mengulas restoran ke restoran, ke sesuatu yang lebih luas.

Sekarang, ada Zomato, ada Qraved, ada TripAdvisor, di belahan dunia lain ada Yelp, dan lain2. Perlahan2 saya bertanya, dengan media tadi, apa dong peran kami sebagai penulis makanan? Apa peran kami tergantikan karena semua orang berhak memberi kritik dan penilaian?

Setelah lama berpikir, ternyata jawabannya BELUM. Menariknya, dengan adanya media2 tadi, penulis makanan seharusnya sadar… peran mereka sebagai penyedia ilmu kuliner harus ditingkatkan. Ga bisa namanya kita hanya tau “Oh tempat ini enak karena blablabla… terus enak buat ngumpul”

Seorang penulis makanan, harus tahu apa yang mereka makan. Mulai dari konsepnya, sampai bagaimana versi paling enaknya itu kriterianya seperti apa, kita harus tahu melebihi orang awam. Itu mutlak. Bukan restorannya, bukan lokasinya. Kecuali kalian adalah penilai restoran. Kalau kalian hanya sebatas bisa merekomendasikan lokasi, semua orang juga bisa sekarang.

Wahai penulis makanan, jangan biarkan kalian ditanya “Makanan X yang enak di mana ya?” karena kalau begitu, apa bedanya kalian sama aplikasi smartphone? Buat diri kalian jadi orang yang membuat orang bertanya2, makanan X yang enak itu kayak gimana. Di mananya, itu biar mereka yang cari sendiri. Ini berlaku ketika kalian dengan teman kalian yang ga terlalu dekat, kecuali kalian sekarang lagi di mobil dan bingung mau makan apa. Perlahan2 mikir, saya kayaknya bakal lebih berkelana mencari konsep suatu makanan deh ketimbang ngulas restoran lagi. Makanan2 di daerah lain dan di negara lain.

Tren latah yang paling bahaya saat ini adalah: Budaya spons. Saya mau nanya sama kalian, kasih contoh minimal 3 jenis batik! Oh atau gini deh, bisa ga kalian nyanyiin 3 lagu daerah di Indonesia? Sebutkan bunyi Pembukaan Undang-Undang dasar 1945! Hal ironis ini digambarkan dengan sempurna oleh Nurfadli Mursyid di komik Tahilalats. Ya, boleh lah kalian ikut Halloween, terus ngasih coklat di Valentine (tolong jangan bahas ini dari sisi agama karena saya lagi ga bahas itu), atau pesta di Tahun Baru. Cuma tolong dong, kalian harus ingat dan belajar budaya kita sendiri. Ingat bumi kita yang kita pijak, jangan terlena melihat rumput tetangga, apalagi terlalu lama mendongak melihat langit. Kita boleh kebarat2an, ketimur2an, ketimurtengahan, keangkasaan (lo kira jadi orang Mars, Dit??), tapi kalian harus punya kebanggaan buat ke-Indo2an! Ini penting, karena suatu saat kalian akan di luar, kalian akan selalu membawa bendera kita. Ada profesi yang lebih dianggap di luar negeri daripada di sini. Gapapa kalian keluar dan kerja di sana, tapi jangan lupa buat berbagi ketika pulang di sini, atau membantu teman2 kita yang Indonesia yang belum mampu berkesempatan ke luar, dan tetap bersilaturahmi ketika sesama jadi perantau.

Ah… saya ngomong mulai ga jelas dan ngalor-ngidul.

Ya udah lah… bodo amat. Kalo bingung ya monggo baca lagi dari atas… :v

-AW-

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life