Lewati navigasi

Tag Archives: sarsaparilla

Mengikuti rasa penasaran saya (lagi), perjalanan ini pun berlanjut. Cerita kedua saya ini terfokus ke pencarian, mencoba menentukan area distribusi, dan dalam sisi kuliner… mencoba rasanya.

Oke, jadi waktu itu saya dalam pencarian 1 hari itu saya tidak menemukan merk selain Indo Saparella (merk sarsaparilla terbaru). Alasan? Waktu itu di Soto Kadipiro I habis, di Bale Raos jualnya Indo Saparella padahal waktu itu saya penasaran sama merk lain yang lebih kuno, terus Kak Wijna (sang kakak kelas di SMU) bilang ada tapi di daerah Kotagede yang lebih jauh, sampai saya pun melanjutkan baca2 lagi. Saya menemukan petunjuk bahwa sarsaparilla merk Ay Hwa dijual di sebuah agen travel di daerah Pasar Kembang.

Hari Selasa (01 April 2014), hari itu saya mau ke Progo Dept. Store buat beli kipas akibat Yogya yang makin panas. Waktu itu saya pun teringat dengan lokasi untuk jual sarsaparilla Ay Hwa itu,

Jl. Pasar Kembang no. 78.

Akhirnya saya turun shelter TransYogya di dekat Jlagran Lor, bukan di Malioboro seperti biasanya.

Kesan pertama sama pertokoan di Jalan Pasar Kembang… susunan nomornya awalnya terlihat agak membingungkan tapi lama kelamaan terbaca polanya. Setelah nomornya mendekati angka 70an, saya pun mulai mempertajam penglihatan saya. Sampai mata saya mendeteksi adanya tumpukan botol Ay Hwa. Dengan muka (sok) polos dan kayak orang kepanasan (karena hari itu menurut Yahoo! Suhu Yogya lagi 33˚C dengan index UV 13 atau kondisi radiasi ekstrim), saya bilang, “Mas, di sini ada sarsaparilla ya? Berapa harganya?”

Akhirnya dengan merogoh kocek Rp 4 ribu, saya mencicipi “mbahe sarsaparilla” ini. Rasa sarsaparilla nya lebih dapat walau agak sedikit asam yang saya cukup familiar dengan minuman yang sodanya diinduksi secara tradisional. Sodanya memang lebih dikit sih.

Ay Hwa Sarsa

Akhirnya…

Setelah puas, saya jalan lagi. Kepikiran, karena kebetulan mau pulang dan om saya lagi mencari sarsaparilla, kenapa ga saya bawakan dari sini aja?

Jumat (04 April 2014), saya pun ke sana lagi buat membeli 4 botol untuk saya bawa ke Jakarta, kalau ada uang lebih (gawat, saya overspent di awal bulan ini) saya mau bawa 4 Ay Hwa dan 2 Indo Saparella ke Jakarta. Tapi ternyata… sarsaparilla nya habis. Alhasil, saya pun memesan minuman lain yang ada, limun (soda) leci rilisan Ay Hwa juga. Terus ada info yang membuat saya… “Heh??” Alasannya, inilah percakapan saya dengan pemilik sebuah usaha rental tersebut.

AW: Ya udah pak, jadi saya ke sini lagi kapan? Soalnya Selasa depan saya mau pulang.

Pak: Oh, biasanya Senin udah dateng kok. Panjenengan (Jawa Krama Inggil: Anda, bahasa terhalus dari “kamu”) pulang naik kereta, tha?

AW: Iya pak… hmmm… Senin ya…

Pak: Atau Selasa juga boleh.

AW: Tapi mepet sih pak. Senin deh. Oh iya, Rp 5000 ya kalau sama botol?

Pak: Lha ndak mas, 1 botolnya aja Rp 15 rb, isinya Rp 4 rb. Ya Rp 20 rb jadinya.

AW: HAH? Botolnya Rp 15 rb??

Pak: Iya mas, kalo leci ini, baru sama botolnya Rp 5rb.

AW: Kok beda ya pak?

Pak: Ya beda, ini pake botol baru yang harganya Rp 2rb aja. Sarsaparilla itu pake botol lama yang dibersihkan terus dipakai lagi.

Saya pun penasaran, sebotol limun leci Ay Hwa ini rasanya seperti sirup leci yang saya beli dari abang2 pas SD, esens nya kerasa dengan suntikan soda manual yang saya deskripsikan tadi. Botolnya baru, berbeda dengan botol buat sarsaparilla.

Ay Hwa Leci

Leci Ay Hwa… produk lain non sarsaparilla dari Ay Hwa selain sirop Efata.

Iya sih, botol sarsaparilla kawat tutupnya aja udah karatan dan keramik tutupnya kadang pecah. Saya pun nanya2, seberapa lama siklus cuci-isi-minum ini udah terjadi. Jawaban si bapaknya cukup membuat saya kaget. Dia meminta saya melakukan perhitungan matematis, mbah saya (Alm. Roeslan Suroso) lahir tahun 1927, beliau meninggal tahun 2002, dan sekarang tahun 2014. Asumsi si bapak ini tahun 1970an sudah minum dan mbah saya suka dari dulu, artinya diperkirakan mbah saya suka dari umur 15 tahunan, itu artinya tahun 1942, awal Perang Dunia Kedua dan Indonesia vs Jepang. Andai masih ada, mbah sekarang 87 tahun, dan sarsaparilla itu minuman khas bangsawan Yogya dari lama. Jadi dengan perkiraan A dari tahun 1942, artinya siklus itu sudah berjalan 72 tahun, atau perkiraan B dari tahun 1970 jadi 44 tahun. Oke, mendekati setengah abad. Box berisi botol diambil tiap minggu untuk dicuci, dan dikembalikan lagi. 1 tahun 52 minggu. Untuk A, 72 x 52 = 3744 siklus, dan B 2288 siklus. Itu sesuatu.

Ay Hwa Sarsa - Plug

Sangat… jadul… dan… okay…

Mereka menggunakan botol reuse untuk minuman2nya. Oke lah, saya percaya kok untuk hal kebersihannya. Untuk limun yang leci, si bapak bilang ini bisa pakai botol baru dengan tutup botol konvensional. Buat sarsaparilla, menggunakan botol bertutup kawat berkeramik. Saya nanya, botolnya nambah atau kurang? Beliau bilang cenderung ngurang. Logis, jika ada orang kayak saya yang pengen bawa ke luar, jelas berkurang. Lalu botol pecah.

Bukannya saya buruk sangka, khususnya ama orang sekarang. Jelas aja penjualannya kalah. Kenapa? Pertama, menggunakan kawat yang karatan ini, orang udah mikir… ini minuman apa dan aman gak? Kedua, orang sekarang menilai awal suatu produk dari ketertarikan desain kemasan yang beragam, melihat botol sarsaparilla yang tadi mungkin cuma orang yang punya mbah yang kayak saya yang bakal tetap beli, orang kota yang lain?

Sebenarnya gak ada yang salah dengan sistem reuse karena air galon kemasan pun juga menerapkan sistem ini. Kotor? Dalam distribusi, air galon kemasannya bisa lebih kotor2an ketimbang sarsaparilla ini. Ini sebenarnya adalah strategi penghematan sumber daya yang baik. Cuma kayaknya persepsi orang atas botolnya aja sih. Faktor desain seperti yang saya sebutkan tadi, untuk menarik minat konsumen muda era 2010an ini, kemasan harus dibuat semenarik mungkin, atau sebercerita mungkin. Bagian ini yang agak missing dari Ay Hwa sehingga kalah dengan Indo Saparella yang kemasannya unik, seperti botol potion dari game RPG.

Oke, itu pelajaran siang hari itu. Setelah satu jam ngobrol itu, saya pun beranjak. Baru menginjakkan kaki di bus, saya membuka blog lain internet dan menemukan pabrik sarsaparilla merk Manna ada di Jl. Dagen no. 60.

Akhirnya akibat rasa penasaran, sekaligus siang ini saya mikir mau ketemu temen dari Jakarta, Azza di stasiun, saya pun sehabis sholat jum’at kembali naik bus dan turun di shelter Malioboro II. Kebetulan cuma beberapa meter dari Jalan Dagen.

Setelah berjalan dan memperhatikan dengan seksama karena lagi2 pengurutan nomornya agak membuat saya bingung, saya pun ketemu bapak2 tukang becak.

Pak becak (PB): Mas mau nyari penginapan?

AW: Nggak kok pak, saya tinggal di Yogya.

PB: Oh iya, tha? Nyari apa kalo gitu mas?

AW: Ini pak, nomor 60 itu di mana ya?

PB: Itu… gedung itu…

AW: Itu yang tempat sarsaparilla itu?

PB: Limun itu? Oh itu tutup udah lama banget mas, udah 6 tahunan. Kayaknya pindah ke Semarang.

AW: Hah? Selama itu?? Terus itu sekarang jadi apa?

PB: Jadi hotel, itu… Hotel Dafam.

AW: Oh gitu, oke deh pak. Makasih ya pak!

PB: Sama2 mas…

Waduh, saya melupakan detail kalau tempat produksi Manna itu udah jadi hotel, atau saya kelewat penasaran ya. Ah ya sudah lah.

Keesokan harinya, saya lagi2 ke Moro Seneng setelah sarapan. Tujuan? Saya penasaran aja soal Minerva.

Sesampainya…

AW: *nunjukin gambar botol Minerva* Mas, di sini masih ada ini ga?

Mas: Wah, udah ga ada mas…

AW: Adanya yang sarsaparilla yang botol kecil ya?

Mas: Iya…

Okay. Artinya kemungkinan yang tersisa bener2 Ay Hwa dan Indo Saparella. Ini bener2 kayak persaingan mbah vs cucu. Sejujurnya, jangan sampai 2 minuman ini runtuh deh walau beda brand. Kenapa? Soalnya 2-2nya harapan terakhir sarsaparilla di Yogya ini. Indo Saparella udah jago dalam distribusi dan pengemasannya, Ay Hwa… belum… dan untuk mensupport sistemnya, dia membuat sirup dan minuman lain. Rada kayak Manna, cuma semoga ga tutup juga.

Selanjutnya, kayaknya perjalanan fase akhir saya soal sarsaparilla di Yogya bakal lebih ke pabriknya. Saya bakal coba main ke pabrik 2 perusahaan itu.

Yak, nantikan saja cerita saya selanjutnya! (bersambung)

PS: Cerita sebelumnya klik ke sini.

-AW-

Iklan

Cerita ini saya masukkan ke blog ini (bukan blog Kulinerologi) karena ini lebih bercerita ke perjalanan saya, bukan ke minumannya. Kisah yang sudah sempurna mengenai minumannya nantinya akan dipublikasikan ke sana.

Semua berawal… dari kejadian sekitar 14 tahun lalu.

Sejujurnya, saya merasa beruntung karena saya hidup dalam keluarga saya yang bisa dibilang petualang, sejarawan… ya karena dulu alm. kakek (dari bapak saya) ikut berperang dalam perang sebelum kemerdekaan sehingga beliau memiliki banyak kisah di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, dan kisah2 itu menjadi kisah yang menarik untuk kami sekeluarga dengarkan ketika menyeruput teh di sore hari, dan keluarga saya pun menjaga tradisi2 lama, tapi tidak pula konservatif. Saya bisa bilang berada di generasi peralihan di negara ini. Sebelum generasi ’89 atau ’80 akhir, generasi yang ada kebanyakan adalah generasi lama yang konservatif sebagai mana yang mungkin kebanyakan orang tahu memiliki peraturan2 ketat dalam kehidupan, dan setelah generasi ini, era modernisasi dimulai. Mulai dimanjakan oleh teknologi, dan peraturan2 pun mulai melunak. Saya beruntung lahir di tahun 89.

Kembali lagi, dulu… suatu sore, saya ingat (alm) mbah kakung menaruh botol2 yang bentuknya unik (khususnya tutupnya) di meja makan di rumah. (Ket: AW: saya, RS: mbah saya, Roeslan Soeroso)

AW: Mbah, ini apa?

RS: Ini limun…

AW: Apa tuh?

RS: Cobain aja…

Percakapan barusan kurang lebih seperti itu, dari apa yang saya ingat. Saya pun menyodorkan gelas dan minum. Rasanya… seperti root beer, cuma beda. Yang saya ingat lagi, mbah sempat mampir ke restoran… ntah, sate? Soto? Atau apa? Yang saya ingat cuma bentuknya yang sangat kuno. Desain arsitektur kuno Indonesia yang khas dengan frame kayu, dan rumah makan itu ramai sekali. Hingga hari ini (Senin, 31 Maret 2014) saya ga ada ide itu di mana. Karena memori 1 dekade itu bisa dibilang memori kuno di kepala saya. Intinya, mbah membeli beberapa botol minuman itu di sana.

Satu setengah dekade berlalu, mbah udah meninggal, dan kehidupan berlanjut. Saya kuliah di S2 Pemuliaan Tanaman FAPERTA UGM sekarang. Sebagai food blogger, saya pun penasaran dengan memori tadi. Sampai saya mendapatkan, minuman yang saya minum dulu itu namanya limun sarsaparilla setelah melakukan browsing termasuk ke blog buatan Labib Akmal Basyar ini.

Sarsaparilla, pada dasarnya merupakan minuman yang diambil dari herba sarsaparilla (Smilax regelii, Killip & Morton) sebagai sumber rasa awal (namun sekarang dalam wujud essens saja), dan umumnya merupakan minuman berkarbonasi atau bersoda (dikenal sebagai limun). Perlu dibedakan dengan root beer, walaupun sarsaparilla merupakan salah satu dari komponen yang ditambahkan ke dalam root beer, selain ekstrak akar sassafras (Sassafras albidum), akar lycorice (Glycyrrhiza glabra), getah birch (Betula sp), dan banyak lagi. Minuman ini adalah minuman kesukaan kalangan bangsawan Jawa di masa lalu. Kemungkinan asalnya dibawa oleh para pedagang VOC di era kedudukannya di Indonesia. Saat ini, minuman ini merupakan minuman langka. Menurut blog ini, dari sekian banyak merk, yang tersisa kini hanya 3: Minerva, Ay Hwa, dan Indo Saparella (yang paling baru).

Rasa penasaran saya berawal pula dari kunjungan saya ke Sate Kuda Gondolayu.

skg-saparella-2  skg-saparella-1

Segelas sarsaparilla, merk Indo Saparella.

Membaca blog tadi dan mendapatkan alamat pembuatan sarsaparilla merk Indo Saparella ada di Jalan Magelang Km 6,1, sementara Ay Hwa berada di Jalan Pandega Marta no. 100. Wah, Jalan Pandega Marta masih berada di dalam lingkar pencarian saya karena dekat dengan kos saya.

Akhirnya saya pun mampir ke sana dengan motor dibonceng teman saya, Taufiq. Sayangnya, saya tidak dapat minuman ini karena limunnya langsung dijual ke sebuah daerah di Jalan Pasar Kembang (yang ketika saya tanya, saya ga ngerti itu di mana), tapi saya hanya dapat sirup sarsaparilla yang merupakan bagian dari Ay Hwa dengan merk Efata. Saya beli dengan harga sekitar Rp 18.000,00 satu botol besar. Buat yang tidak terbiasa, aromanya seperti balsam atau minyak pijat. Cuma rasanya enak!

Ay Hwa - Efata

Ini sirupnya, sudah dikasih air.

Yah, mungkin lain kali saya bisa mencari lagi, pikir saya.

Hampir sebulan kemudian, ketika bapak saya datang ke Yogya, saya pun kembali “dibangunkan” dari periode vakum saya dalam misi pencarian ini dengan minum sarsaparilla di Wisma MMUGM yang lagi dipromosikan. Harga, Rp 13.000,00.

IS - Glass

Kemasannya… merknya… familiar…

Saya pun juga menemukan sarsaparilla merk Indo Saparella ini di minimarket dekat kosan saya di daerah Jalan Agro. Wah, minuman ini bangkit ke kejayaannya lagi kah?

Akhirnya, hari ini… 31 Maret 2014 pagi ini saya memutuskan buat tracking restoran yang disebutkan memiliki minuman sarsaparilla selain merk itu: Ay Hwa di Soto Kadipiro, Jalan Wates, dan Minerva di Moro Seneng, Jalan Magelang. Bangun pagi, nugas sebentar di kampus, berangkat. Saya naik TransYogya koridor 3A hingga Ngabean dan saya berjalan ke pertigaan di arah utara tempat itu dan jalan melewati 1 pertigaan dan 1 perempatan ke arah barat. Saya menyebrang ke arah utara jalan. Tibalah saya ke Soto Kadipiro I. Tempatnya PERSIS seperti yang saya ingat di memori saya 1 setengah dekade lalu dengan deskripsi yang saya sebut tadi. Misi, datang, nyari minum, bayar, cabut.

AW: Permisi, di sini ada sarsaparilla?

Mbak2: Wah, maaf mas… habis…

Mas2: Wah iya mas… habis…

AW: Oke…

TIDAAAAAAAAAAAAK!! Oke, lebay… tapi serius, saya liat botol2 sarsaparilla merk Ay Hwa itu dan semuanya habis. Nggak sih, ada yang masih ada isinya, cuma saya ga berani mengambil risiko. Iya lah, itu sisa dari kapan coba??

Ay Hwa - Empty (1)  Ay Hwa - Empty (2)

Yah… habis…

Perhatikan bentuk kemasannya, itu benar2 dari apa yang saya ingat pas mbah saya beli. Botol kaca yang antik, label juga antik, dengan tutup keramik berkawat. Serius, ini kan distribusinya hanya terbatas, tapi tiap hari apa? Saya penasaran soalnya!

AW: Mbak, selain di sini ada di mana lagi ya?

Mbak2: Coba di seberang (Soto Kadipiro II) deh, mas…

AW: Sip, makasih, mbak…

Saya pun nyeberang… tapi yang mereka jual itu yang Indo Saparella. Saya pun keluar lagi. Bukannya saya anti sama merk ini, cuma karena ini yang paling terdistribusi luas, saya mikir mau belinya belakangan aja. Nanti pas udah mau pulang di minimarket dekat kosan.

Akhirnya saya menyebrang lagi dan jalan ke arah barat, di perempatan, saya belok ke kiri, jalan ke arah utara dan saya naik TransYogya koridor 2B setelah jalan sejauh 1.6 Km dari lokasi turun tadi. Saya pun turun di shelter portable Perempatan Jalan Magelang, menyeberang dan melangkah 150-250 m ke utara, saya pun menemukan restoran Moro Seneng. Misi sama, datang, pesan minum, bayar, pulang. Tambahan kali ini, lihat menu.

AW: Mas, ada sarsaparilla?

Mas2: Maaf mas, lagi habis… biasanya ada *jalan ke kardus Indo Saparella* tapi belum datang lagi… mau pesan yang lain?

AW: *lihat menu, makanannya ada yang dimasak dengan bahan yang tidak dianjurkan oleh agama saya…* Hmmm… nggak deh mas, makasih ya…

Di tempat tadi tidak ada tanda2 sarsaparilla merk Minerva. Berganti total ke Indo Saparella yang pabriknya dalam radius dekat kah?

Akhirnya saya pun pulang, jalan 1 Km ke timur, naik TransYogya dari shelter Hotel Santika di Jalan Jenderal Sudirman, saya naik koridor 3B dan turun di shelter portable MMUGM. Mampir minimarket, saya pun beli sebotol sarsaparilla dengan harga Rp 13,500.00. Yah, lumayan daripada pulang dengan tangan kosong.

IS - Tube

Satu2nya yang saya bawa siang ini.

Tiba di kosan, menaruh tas, bersandar di beranda. Teman kos saya, Tama dan Deni pun menghampiri saya.

Deni: Gimana kak? Dapet minumannya?

AW: Ini…

Deni: Oh, itu sih di kampus gw (di sekolah vokasi UGM) dijual, sama botolnya Rp 8000,00.

AW: Hah? Murah amat!

Deni: Emang itu berapa?

AW: Di minimarket Rp 13.500,00

Tama: Itu di Palembang juga dijual *nunjukin HP, ada minuman sarsaparilla… lupa merknya… botol kecil kayak botol obat*

AW: Oh iya…

Tama: Yang lo minum itu udah beda. Rasanya udah lebih deket ke root beer. Mungkin biar narik pasar kali, soalnya orang2 kan suka root beer. Yang asli ga gitu, lo pernah makan permen sarsaparilla kan? Kayak gitu…

Deni: Yang aromanya kayak balsem itu?

AW: Oh iya gw tau… *ke kamar, nunjukin bekas botol Efata, ngebuka biar mereka ngehirup* Kayak gini kan?

Tama: Iya…

Hmmm… kayaknya saya bener2 harus balik lagi ke Soto Kadipiro I kapan2. Sama saya ada yang miss, di Pasar Kembang no. 78 ada biro travel yang katanya jual merk Ay Hwa. Plus, di restoran Bale Raos di area dekat Alun-Alun Kidul Keraton, dijual minuman sarsaparilla dengan susu. Saya harus mencoba lain kali!

Penasaran… kapan ya ada waktu luang lagi buat nyari minuman ini lagi? (bersambung kapan2)

PS: Cerita seri Soda van Indonesië (Soda dari Indonesia) ini ada 2 bagian, bagian pertama merupakan seri tentang sarsaparilla, dan kedua nanti tentang kawista, soda khas Rembang. Jadi, tunggu aja kelanjutannya!

PPS: Terima kasih kepada bung Labib Akmal Basyar, yang walau tidak saya kontak terlebih dahulu, blognya cukup memberikan inspirasi, referensi lokasi, dan pembangkit kenangan atas minuman antik ini… 🙂

Detail perjalanan hari ini:

Rute Hari Ini

Peta oleh Maps (OS X – Mavericks), editing dengan Adobe Photoshop CS 5.

Rute biru = rute dengan jalan kaki, rute hijau = rute dengan TransYogya. Lama perjalanan hari ini: Berangkat dari Shelter KOPMA UGM Jam 8:45 WIB, sampai Soto Kadipiro Jam 10 WIB, sampai Moro Seneng Jam 10:30 WIB, sampai kembali di kosan jam 11:30WIB. Total 2 jam 45 menit.

Klik peta untuk memperbesar.

Info Lokasi Utama:

Soto Kadipiro I, Jalan Wates. Yogyakarta. Peta lokasi bisa dilihat di Foursquare.

Moro Seneng, Jalan Magelang no. 56. Peta lokasi bisa dilihat di Foursquare.

-AW-

Daisies and Weapons Journal

opinions, thoughts, experiences in a simple journal.

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

Gesti Saraswati

A Personal Blog of Gesti Saraswati

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life