Skip navigation

Tag Archives: random

Ada banyak makanan2 unik di luar sana. Mulai dari pas saya bocah waktu itu makan ikan pari, pas saya mulai menjadi food blogger, hingga hari ini… di saat saya sudah berkelana 10 ribu kilometer ke Finlandia dan mencicipi sesuatu yang unik sampai sesuatu yang bisa kita sebut premium. Ada satu bahan makanan yang buat saya selalu punya tempat tersendiri di hati: jamur. Ah jamur doang, apa serunya sih? Bukan jamur doang, bukan sekedar soal jamurnya, tapi soal apa yang di dalam jamur itu.

Mengingat masa kecil, saya yang hobi banget main video game PS berjudul Harvest Moon, ada satu jamur yang menarik perhatian buat saya, jamur bernama truffle.

truffle-hm

Ini dari bentuknya, bukan truffle. Ini matsutake, jamur yang juga mahal. Ntah siapa yang nerjemahin jadi gitu!

Jamur ini memiliki nilai jual yang tinggi di game ini lho. Saya tumbuh dan masih bertanya2 itu apa. Hingga dekade 2000an akhir, baru saya tahu seberapa besar nilai jamur ini! Jamur ini per 1 kilogram bisa laku 3000 dolar Amerika hingga 30000 untuk truffle putih! Saya bersyukur udah beberapa kali nyicip. Sebagai topping pizza, tambahan buat kentang goreng, sampai IRISAN LANGSUNG di atas pasta. Emang, kenyataannya jamur ini emang spesial. Punya rasa yang mirip keju, telur, dan kadang bawang putih dengan tekstur agak keras kayak keju yang kering. Saya beberapa kali kepikiran gimana cara menanam jamur ini, sempat saya diajak di proyek penanaman jamur ini tapi sayangnya ga berlanjut.

Beberapa hari lalu (Jumat lalu, 23 Desember 2016)…

truffle-rino

Makjang… truffle all you can take!

Teman saya, Rino, pamer foto ketika dia makan di buffet salah satu hotel di Jakarta dan dia nyomot truffle. Truffle hitam… ntah, harusnya ini truffle hitam Perigord dari Perancis (Tuber melanosporum) yang satu kilogram nya 3000 dolar itu.

Buffet

Buffet

Buffet

Ya… kalian ga salah liat, buffet. Terus dia nanya, mendingan diapain. Saya bilang kalo saya bisa kultur pake media agar kentang dekstrosa (Potato Dextrose Agar, PDA), terus ditransfer ke pohon inang. Ya! Logikanya segampang itu kan?? Kita berhasil nantinya dan kita bisa kaya!! Saya pun akhirnya minta ama Rino… dan dikasih :v

truffle

Di atas tisu, sebelum dibungkus

Hmmm… saya mending buat PDA langsung atau saya ngontak Pak Nyoman ya… itu pikiran saya waktu itu. Pak Nyoman, Dr. Nyoman Pugeg Aryantha adalah dosen mikologi di ITB, dosen saya dan saat ini dekan SITH ITB. Kalau saya buat PDA, saya seenggaknya bisa mengkultur dan yang saya perlu lakukan tinggal nyari pohon yang pas, tapi itu peluangnya 50%… Kalau saya kirim ke Pak Nyoman, beliau pasti tahu apa yang harus dilakukan dong, cuma gimana ngirim ke Bandung? Di sisi lain, Rino bilang kalo dia mau investasi dana kalau emang bisa… kalo emang bisa…

Kalo pake JNE, berapa lama? Oke, akhirnya saya kirim chat WhatsApp ke beliau…

Saya: Assalamu’alaikum pak, maaf mengganggu. Saya dan teman saya di jakarta dapat “sampel segar” (truffle, foto di atas) ini pak di hotel. Sebaiknya di apakan ya pak?

(4 jam lebih kemudian)

Pak Nyoman: Wow fresh truffle… wah nothing we can do. Walau bisa mengisolasi, dia butuh tanaman inang sub temperata dan iklim juga tidak bisa di tropis

Saya: Kita tidak bisa pakai spesies analog di tropis pak?

PN: Climate juga tidak cocok

Saya: Truffle butuh dormansi ya pak?

PN: Iya sebagai umumnya ascomycete perlu masa dorman sclerotium

Kalo ahlinya sendiri udah ngomong gini dengan detail (beda ama kasus Rafflesia dulu karena soal teknis yang belum banyak, ini udah lebih banyak diketahui… apalagi truffle itu mikoriza), saya pun bingung mau apa. Terus saya ke dapur dan untuk buat PDA aja ga ada wadahnya (mana dapur saya jorok pula). Akhirnya saya memilih buat diamkan jamurnya dulu di dalam lipatan tisu, dan dimasukkan lagi dalam botol selai berisi beras kering yang udah saya sterilkan di oven microwave.

Empat hari kemudian…

Saya buka botol selainya… dan UDAH BAU TRUFFLE. Buset! Berapa banyak senyawa aromatik jamur ini?? Awalnya saya mengira kalo bau truffle ini hanya bisa menyebar lewat perantara cairan atau kontak langsung, yang menjelaskan bagaimana dalam jumlah sedikit aja dia bisa memberi aroma dan rasa ke makanan, atau buat menginfusi minyak zaitun satu botol (dengan potongan kecil aja). Tapi ternyata ini aromanya kuat banget sampe satu botol, sampe beras2nya, dan tisu2nya jadi bau truffle! (Wah anjir… beras terinfusi truffle ini bisa saya jual berapa ya??)

truffle-rice-flea

Bahkan kutu berasnya pun kena… yak, kutu seharga Rp 100 ribu!

Terus saya buka tisunya… sial! Udah mulai ada miselium jamur! Wah gawat!!

Akhirnya saya ambil yang tersisa dan belum jamuran, saya ambil minyak zaitun di dapur dan saya cemplungkan truffle nya ke sana.

truffle-oil

Minyak truffle… modal 70rb (minyaknya doang, truffle kan dikasih), untuk ngebuat benda 500rb!

Terus saya buka hari ini (tanggal 27 Desember 2016), wew! Minyaknya udah wangi truffle! Serius, berapa banyak senyawa aromatik di jamur ini??

…dan gimana kondisi jamur itu sendiri?

img_9397

Yha……

Ummmm… saya harus apa nih?? Saya harus apa?? SAYA HARUS A…… oke tenang2… mari kita buat medium PDA dadakan!

img_9398

Sugar, potato, and everything nice…

Oke, potong kentang, gula sedikit, air panas… rendam, tusuk2 kentangnya, tuang ke botol… oke, ga ada agar, jadilah kaldu kentang dekstrosa (Potato Dextrose Broth, PDB) versi dadakan!

img_9399

Masukkan potongan jamurnya!

Ummmm… yah… ntah lah…

(Bakal di update!)

-AW-

Wew, udah lama banget ya sejak terakhir saya nulis? Saya pengen nulis, tapi bingung mau nulis apa. Hahaha… dan kali ini, saya pengen nulis pake bahasa santai aja deh.

Ga nyangka yak… udah akhir 2016 aja. Sejujurnya buat saya, ini adalah tahun tergila dalam hidup saya. Kenapa? Ini adalah tahun paling random dan paling susah ditebak daripada semua tahun yang pernah saya lewatin. Mulai dari menapakkan kaki di Finlandia dan Jerman, sampai jadi bocah satu2nya dari Indonesia yang nongol di International Conference for Xenobiology 2 (XB2), Berlin, 24-26 Mei 2016 lalu.

Mungkin ada yang nanya, kok saya jadi jarang nulis di blog ini. Hmmm… gimana ya saya jawabnya. Bingung.

Kadang, pas saya nulis artikel blog ilmiah kayak dulu, saya sering masukin tulisan yang kontennya merupakan ide. Hal ini jadi perdebatan dalam diri saya apa saya harus nulis di blog atau buat ke tulisan yang lebih formal. Dilemanya adalah antara saya menyajikan ide di blog yang kesannya pertanggungjawaban referensinya rendah (walau saya selalu taro referensi di bawahnya, tapi hey, kalian ga mungkin mensitasi blog saya kan? yang ada kalian dimarahi dosen kalian atau asisten kalian), ditambah ide saya bisa aja dicuri orang dengan gampang… dan saya harus menulis dengan tenaga ekstra untuk nulis jurnal (yang sebenarnya ga masalah amat sih). Kalo kalian bingung dengan maksud tulisan saya yang berupa ide adalah ini:

Plant Bioprinting: Novel Perspective For Plant Biotechnology

Itu adalah tulisan saya tentang cara mencetak alias nge-print tumbuhan. Ya, kalian ga salah baca. Bayangin kalian punya printer dengan “tinta” berisi sel meristematik tumbuhan dan zat pengatur tumbuh (auksin, sitokinin, dll). Kalian pasti bisa mencetak tumbuhan dengan itu dong? Oke, awalnya saya mau taro di sini, di blog ini. Masalahnya, selain orang akan melihat ini sekedar sebagai ide gila (alias dipandang sebelah mata), kalaupun ada yang tertarik kalian akan bingung menjadikan ini referensi sebagai bahan karena ini cuma artikel blog. Sementara kalau dalam format jurnal di atas, kalian bisa dengan asoy-nya kalian nulis ini sebagai referensi kayak gini:

Wicaksono, A., Teixeira, J.A. and Silva, D., 2015. Plant Bioprinting: Novel Perspective For Plant Biotechnology. Journal of Plant Development22.

Jadi gitu deh, walau saya harus kerjasama dengan tenaga ahli (Dr. Teixeira da Silva adalah ahli tumbuhan yang tinggal di Jepang) dan menghadapi revisi lebih kejam daripada pas saya nulis skripsi dan tesis, cuma demi relevansi… why not?

Selain ide ilmiah, ide2 abstrak saya seperti ide yang berunsur fantasi (misal tentang saya role-playing sebagai sisi lain saya yang penyihir, Astrax) dan saya menulis “paper” dalam format beda, atau saat saya ada ide lain berupa karya seni, saya merasa bahwa saya harus menulis di media formal, misal di deviantART. Karya2 saya yang makanan pun juga masuk ke blog kedua saya, The Hungry Biologist.

Jadi pada akhirnya, yang tersisa di blog ini adalah… adalah… ya… ga lebih dari cerita2 pribadi, pengalaman, atau uneg2 ga jelas kayak gini.

Terus kenapa kamu ga tulis aja pengalaman kemarin pas di Finlandia?

Saya tau ada yang bakal nanya itu. Oke, sesuai judul tulisan ini, saya mau jelasin. Perjalanan 8 bulan di Finlandia dan Eropa secara umum itu emang mengesankan. Saya bisa aja ubah itu jadi cerita bersambung bertema pengalaman yang rada komedi. Masalahnya, ada beberapa cerita yang harus saya tutup alias sensor. Bukan karena saya melakukan tindakan ga sesuai peraturan, tapi ini menyangkut orang lain!

Beberapa hal yang kalian harus tau:

  1. Dosen pembimbing saya dipecat dengan alasan ga jelas. Pemberitahuannya bahkan H-1, jam 10 malam! Dia ga sendiri, seorang teknisi paling berbakat di lab kami (beliau memegang 11 instrumen dan 4 lab) juga kena pecat. Mungkin tepatnya PHK, karena penjelasan mereka adalah karena Finlandia memotong biaya anggaran ke kampus, otomatis kampus harus mengurangi pegawai. Pertanyaannya, kenapa harus orang paling kontributif kayak mereka??
  2. Setelah poin 1, sisi di mana saya telah melewati 4 bulan di sana, saya ga tau mau ke mana lagi. Semua profesor harus punya dana jelas sebelum merekrut mahasiswa. Saya telah mengajukan dana dari 11 lembaga dan semua menolak saya (kemarin saya dapat anggaran dari CIMO dan hanya 8 bulan, ngga penuh selama periode PhD saya). Kesulitan ini membuat saya berpikir harus pergi dari negara itu untuk mencari tempat untuk lanjut PhD, sekaligus dengan berat, saya jadi meragukan negara yang dielu2kan sebagai negara pendidikan terbaik di dunia itu. Oh, lagi, mulai 2017, Finlandia menarik biaya EUR 11,000 per tahun dari mahasiswa non Eropa, dengan kata lain, ga gratis lagi. Kalo kalian mau yang gratis, silahkan ke Jerman.
  3. Saya mungkin terbang ke Berlin untuk XB2, itu pengalaman mengesankan! Tapi ga semua ceritanya menurut saya oke buat diceritakan. Selain cerita soal kerennya xenobiologi yang mungkin saya bisa tulis nanti, saya melakukan kebodohan yang bikin malu diri saya sendiri! Misal, karena saya sendiri, saya ga tau mau ngobrol ke siapa, saya jadi ngekor salah satu ahli di sana (ngikutin terus), saya foto dengan dua ahli idola saya, tapi saya minta tolong ahli lain buat motret! (eugh), dan saya kena alergi selama di sana. Intinya, walau kedengaran lucu, saya rada malu, apalagi kalo nama mereka ditulis di blog ini juga.
  4. Kalau saya cerita, saya merasa cerita yang saya tulis bakal berakhir ngambang! Semua masih berjalan setelah saya pulang dari Finlandia. Gimana arah Xenobiota? Ke mana jadinya saya bakal ngisi waktu sebelum kuliah S3 lagi? Gimana perjuangan saya buat kuliah lagi dengan sekarang gagal LPDP? Semua masih dalam proses. Saya bukan orang yang akan cerita dengan banyak bumbu, saya selalu cerita apa adanya.

Yang jelas… saya akan belajar dan mencari ilmu tentang biologi molekuler dan xenobiologi. Soal Xenobiologi, mungkin saya pernah bahas di blog ini, tapi saya akan jelaskan lebih dalam nantinya, ntah segera, atau nanti di 2017.

Satu hal, terima kasih udah membaca tulisan2 saya di blog ini. Blog ini akan ditulis dengan Bahasa Indonesia selama itu bukan mencakup teman2 saya di luar sana (beda ama blog The Hungry Biologist yang akan pakai Bahasa Inggris). Blog ini akan saya isi dengan ulasan ilmu2 baru yang saya dapatkan secara umum (kalo secara khusus akan saya tulis di jurnal atau media formal) dan juga cerita perjalanan saya.

Itu dulu deh… udah banyak!

PS: Saya sering dikontak via e-mail soal anggar, saya ga bisa ngasih kontak sang pelatih lagi karena udah berjarak 3 tahun dan validitasnya udah ga jelas. Sebaiknya langsung ke PB IKASI aja di Gelora Bung Karno ya!

-AW-

I can’t believe it, it’s almost there! After all the time passed, the day after tomorrow, I’ll go to Finland. The longest flight I’ve ever have for around 15 hours from Jakarta, Indonesia to Amsterdam, Netherland. After that, for 4-5 hours, I’ll be transferred to another flight from Amsterdam to Helsinki, the capital city of Finland, then followed by travelling by bus, from Helsinki go westward to Turku. There, I’ll meet my supervisor bro-fessor, Prof. Parvez Alam.

You probably wondered how’s my feeling just right now…

My answer: Between nervous, afraid, and so happy…

Perhaps… writing all of this article, I put a lot of my prayers in it. How so?

Let me explain to you, one by one. I feel nervous, because… first and the main reason, it’s my farthest flight I’ve ever had, at night, and I also carrying my samples in my baggage, some mudskippers for my doctorate thesis. It’s all in my imagination, I know, what if they took it from me? What if they have to hold me in security for some time? Another thing is… I’m kinda acrophobia. I height the feel of falling by height. I love plane, you know? Putting these 2 together is paradoxical. Perhaps in my way, aside of trying to sleep, I’ll playing by myself by pretending as a pilot. That’s my favourite stuff. But then… I hate turbulence! My point is… I feel nervous of what might happen on the journey. I trust in God, for sure.

I feel afraid… because I hate uncertainty. Fortunately, I’ve grown and learn a lot since my undergraduate time. Before my departure, I acquired both gift and loss. Gifts, aside my scientific community, Xenobiota rose and its sound reach more connections from some students in Makassar, in University of Hasanudin to the ear of Hackteria director, Dr. Marc Dusseiller in Swiss, to CEO of Biofaction, Dr. Markus Schmidt. That’s the best achievement so far in term of scientific community and that occurred only less than 1 year! Later, I published 2 papers in one year! Next thing and the most important one, I have new girlfriend (name is hidden for now, until she told her parents then it’ll be okay), she’s caring, she’s as crazy as me, she’s talented, we talk less daily because we both busy with our own academical and scientific routines… but we talk in our own pattern. I love her so much. And for my loss, my parent divorced. Now my siblings are living with my dad. When I go, I will be away from them… my family and the young lady (I prefer to mention her by this, she’s no longer a little girl) that I love. I know that 9-10 months is long, but I believe it will be short.

Again, I hate and afraid of uncertainty. But I always put them in my prayers… my family, myself, and her… as my loved one. I prayed so hard, that they will be okay. And especially for her… I wish that one day in 3-5 years from now, I wish that I can marry her. Aameen to God. Other thing is, although I’m quite ambivert, I have extrovert side (that sometime can be annoying when I’m starting to share my problem in motor mouth). In a country as big as Finland, it’s only 5 millions of population in there. I’m afraid if I will be lonely. And lonely is my enemy, when I’m alone… I tend to be overthinking, and my mind will be truly chaos… and dark. I wish in an instant, I will meet new friends, and I mean it… friends. Those who I can share my problem with, not just the matter of hangout and for happy time. I’ll need that. A lot. Sleeping with my head full of questions is a nightmare.

Primal fear… a lot of story of my friends who lost their parents while they’re studying abroad. It’s a paranoia fuel… but all I can do is pray, and tell them to take care of themselves. For the rest, it’s all in my prayers.

Next, I’m afraid if I can’t make it for funding until next year. I really want some fundings for our researches in here, from European or Asian, or global fundings and scholarship… anything… anything but from my own country. I know Prof. Parvez always remind me to be open minded, but defeating my reluctance… and probably unexplained hatred for government and their affiliates in my country. Perhaps because they ignoring some scientists in here and from time to time, all I heard is corruption in bureaucracy, leachers and plagiarisms, I know there are good people… thus I believe, there’s something I hold really strong so then I refused to go for Indonesian scholarship, although I wish to try in time. Will I? I started to pissed when they heard that the university should be in top list. My university in Finland is not on their list. A person I know was saying that I have to go to the list of the best university. But for God’s sake… I go to Finland and trust on it, because my professor is proven to be really qualified and very open minded! I planned to make bigger link, even to that top universities in the world, so then they will say nothing more to me. I know, listening to all people are bad. Thankfully, I feel confidence on my move. My next moves between 2016 to 2020.

And then… I feel happy… of course! One of my deepest prayer in answered! I always wanted to go abroad to study. Learning a lot after passing “The Period of Great Learning” (Sept 2014 to Sept 2015), I want to make a massive network of international research, expanding Xenobiota, and making new network with chefs throughout the globe, starting in Finland! I will make a cool robot in the lab with Prof. Parvez and his team, meet new awesome scientists, outside… new cooks, new chefs. And probably I can learn to collect edible mushroom in the forest! I will cherish my moment, and I want to go to Japan in 2017, and to attend on Bio Fiction (probably in Vienna, Austria) in 2018. Japan… because it’s been my lifelong dream, aside of my current prayer so my girlfriend will be graduate soon and claimed her master degree in Nara, Japan, I wish to meet a scientist who’s become a wonderful contributor of my papers in Kagawa. Then, I want to learn about their cultures, their foods (I’m not an otaku… I’m a culture enthusiast), and I want to learn about how they raise their plants (melons, mangoes, and more). They have… special treatment on how they grow their foods and I wish to know their secrets. While in Europe… well, Europe is a core of ancient cultures in medieval. In Paris, I wish to visit the renown and legendary alchemist’s house of Nicolas Flammel! May I found something there? I’m curious!

You know… aside of my fear, all darkness in me… I still carry my child-self in me. Who think I’m a supreme overlord scientist, a wizard, and more. I carry my imaginations in me. All I wish, is when the time is come for me to go home and meet my family, then marry my girlfriend… I have tons of story to tell about. A new legend to share. Honestly, after married, we’re not intended to have a child directly after that. We want to walk and travel. Only then, the story of us will be matured.

All of these… are my loudest prayers and hope.

All I want is inner peace, not a spotlight. Let my thoughts and my masterpieces will be, but not me. Not my individual me. I want to sit down, enjoy my meal, while reading some trends in science… and culinary stuffs in a quiet cafe.

For those who think that all of these are idealistic bullshit and daylight wet dream… all I can say is go fuck yourself.

I believe what I want to believe. And I’ll be there to make my dreams, our dreams come true.

Bismillah… by the name of Allah…

All that can’t be spoken loudly in the air, will be whispered in the silence of prayer.

PS: After today, my blog articles… in both The Hungry Biologist and in here, can be both in English or Bahasa Indonesia for wide or specific audiences.

THB-Indonesia-Finland

-AW-

Malam Minggu kali ini rasanya cukup beda buat saya. Sudah lumayan lega karena habis ujian komprehensif yang artinya saatnya nulis lagi, beresin proposal, revisi dikit, dan ngolah data. Lusa saya pun pulang bentar ke Jakarta buat perpanjang paspor dan tes TOEFL. Yang membuat beda lainnya adalah karena malam ini saya sedang berada di hotel Grand Aston Yogya. Sendirian. Thanks to menang lomba makan Black Hot Dog kemaren, saya dapat voucher nginep semalam di sini! Itung2 mau nyoba nge-review hotel (rencananya besok mulai nulis), saya udah nyicip2 banyak di sini dengan deposit Rp 200rb.

Ngomong2… balik ke topik. Saya belum ngantuk malam ini, daripada ga jelas kayak para jomblo-ers yang ngenes (sori ya… saya single ga jomblo!) mari produktif. Obrolan malam ini adalah tentang buku terlarang.

Pernah gak sih kalian punya buku yang ga umum atau sangat kontroversial di rumah atau kos atau di komputer?

“Maksud lo bokep Dit?”

Uy… bukan. Buku yang apa ya… rada bahaya. Temen saya, punya literatur isi pentagram yang konon bisa manggil King Solomon atau manggil setan. Ga ngerti buat apa. BTW, maksud saya di sini lebih kayak buku yang ada di bagian khusus perpustakaan, bagian rahasia atau bagian terlarang… yang di mana bagian itu ga bisa disentuh sembarangan pembaca. Di rumah saya ada! Untungnya… ga seekstrim buku ritual kayak punya temen saya itu yang ntah dia punya dari mana dan buat apa.

IMG_2786

Random ya…

Oke, manggil alter-ego saya ah… Astrax… uy!

Astrax Viridium Albireo (AVA): Ada apa Dit? Malam2 begini aku di Verudinia pemandangannya sedang bisa dikatakan lumayan…

Verudinia World Map

Peta dunia Verudinia. Klik untuk memperbesar!

Hmmmm… dengar2 di sana ada perpustakaan tersembunyi yang bukunya hanya ‘untuk orang tertentu’ ya?

AVA: Hmmm… di sini, perpustakaan terkompleks di Verudinia itu ada di Vox. Maksudku perpustakaan yang diketahui ya. Ntah dari semua peninggalan2 masa lampau di sini mungkin ada lagi ntah di mana, tapi yang benar2 ada di perkotaan hanya di Vox. Ngomong2, itu… bukumu… memangnya tentang apa?

Buku di atas itu… Kiri bawah… seri buatan Michael Scott, Secret of The Immortal Nicolas Flammel. Dari novel itu, saya belajar soal sihir sebagai kekuatan potensi manusia, kekuatan primal, bukan tersier yang berbahaya. Atas2 itu dari kiri atas ke kanan… buku2 pengembangan psikis. Versi studi aslinya, bukan novel. Setelah tahun 2011, saya jadi agak tertarik dengan studi parapsikologi… kemampuan psikis dalam skala psikologi dan ilmiah, bukan sebagai pseudosains atau kajian agama. Sisanya yang random ada tentang ‘dowsing’, teknik aneh di mana dirimu bisa mencari benda dengan kayu atau semacamnya, terus ada tentang Alchemist.

AVA: Menarik… menurut “Book of Xenos”, dan mungkin aku pernah cerita… sihir itu sendiri sebenarnya ada dua: Sihir primal, yang di duniamu disebut kekuatan psikis yang ada di setiap orang, dan Sihir mediasi. Aku rasa sihir mediasi itu paling berbahaya, karena ada keterikatan kontrak dengan pemilik asli kekuatan itu. Di duniaku saja sudah dilarang karena paling sering dipakai untuk kepentingan jahat, apalagi di duniamu… aku rasa itu dilarang di semua agama di duniamu kan?

AVA: Oh ya… di Vox, perpustakaan kami tidak jauh dengan Aquila, akademi tinggi sihir tempat aku studi sihir tingkat lanjut, mungkin cuma beda beberapa blok. Ada tiga tingkat atas, yang isinya bisa diakses oleh siapapun untuk lantai dasar yang isinya adalah novel, buku2 hiburan, dan buku2 biasa, lalu untuk para pekerja profesional untuk lantai dua… biasanya para tabib istana, ahli medis, penyembuh, hingga alkimia suka ke sana untuk mencari referensi ramuan. Lantai tiga isinya adalah buku2 berat atau dasar studi tertentu, para master, petinggi2 seringkali ke sana untuk mempertajam pengetahuan dasar mereka. Lalu… lantai satu bawah tanah… adalah tempat para penyihir, minimal kaliber Arch Wizard (para asisten master di Aquila) menyusun penelitian atau studi tertentu mereka di sana. Di tengah ruangan, ada lorong terkunci… untuk ‘Sang Terpilih’

Emangnya… penyihir di sana levelnya apa aja? Biar jelas aja… sebelum lanjut lagi…

AVA: Penyihir muda… itu adalah seperti lulusan SD-SMP di duniamu. Penyihir dasar… lulusan SMU. Hingga taraf ini, mereka baru bisa menguasai sihir elemen dasar atau teknik2 dasar. Masuk akademi tinggi seperti di Aquila, biasanya akan menjadi dua tipe: Penyihir non akademik atau cuma disebut ‘Penyihir Lanjut’, dan ‘Arch Wizard’. Dari kata ‘Wizard’ yang artinya peyihir, dan ‘Arch’ atau ketua, tingkat ini mereka sudah punya pengikut atau murid dan dipanggil guru atau master. Semacam asisten akademik di duniamu. Mereka dipilih master tinggi atau mereka mampu menunjukkan kemampuan yang berbeda dari penyihir biasa. Untuk kasusku itu ekstrim… karena mereka melihat sesuatu padaku dan mereka merasa aku bisa masuk ke ‘Lorong Terlarang’ perpustakaan itu.

Di atas itu ada ‘High Arch Wizard’ yang terbagi jadi yang biasa, senior, dan ‘Grand’, mereka adalah master tinggi. Terpilih setelah mengikuti beberapa misi panjang dan berhasil. Biasanya tingkatan ini stagnan. Mereka berhak memegang 20 penyihir dan 7 Arch Wizard. Kemampuan mereka adalah membuat lingkaran sihir dan sigil pada bidang 3 dimensi, dan rapalan singkat. Jika diangkat oleh ArchMagus (nanti dijelaskan), maka jadilah ‘Royal Arch Wizard’, mereka sangat mobile antara kota2, sekolah2, dan istana kaisar karena mereka juga pejabat tinggi, panglima, dan setara profesor di duniamu. Mereka bisa mengeluarkan sihir besar tanpa membuat lingkaran sihir. Memegang posisi pimpinan atas 7 High Arch Wizard. Di Verudinia ini sendiri hanya ada sekitar 33 jabatan ini.

Di atas lagi ada Arch Magus. Dialah jenderal besar, laksamana armada, marsekal tertinggi penyihir di dunia, yang memegang jalur koordinasi langsung di bawah Sang Kaisar. ‘Arch’ yang artinya ketua, ‘Magus’ di sini mewakili semua pemilik jenis sihir… Alkimia (Alchemist),penyihir (baik Wizard, Sorcerer, dkk). Bisa menembus gerbang dimensi dan teleportasi tanpa mantera. Di bawah kaisar, ada dia, dan Jenderal Armada yang memegang semua pasukan non magis

Screen Shot 2015-03-07 at 11.16.14 PM

High Arch Wizard, pakaian upacara dan perang.

Wow… kompleks juga ya. Oke, balik lagi. Artinya dirimu pernah ke lorong tadi?? Terus ada apa aja di sana?

AVA: Sepanjang 100 meter pertama lorong yang gelap, lalu lorong yang isinya teka-teki yang harus dijawab agar bisa lanjut. Oh ya… ada beberapa tengkorak di sana… di satu bagian ada lorong berisi buku2 tua yang berbahaya seperti Necronimia, buku nekromansia (sihir pembangkit mayat), dan ilmu2 yang hanya penyihir minimal setingkat ‘High Arch Wizard’ yang bisa mengerti tanpa terpengaruh sisi gelapnya, dan di ujung itu ada gerbang besar yang hanya bisa dibuka dengan mantera energi matahari ‘Lux Solis’. Kemudian ada jalan menurun yang spiral. Di sana ada akar Pohon Kehidupan yang berpendar hijau-biru… sebut saja di duniamu… bioluminesens. Tapi bukan karena kimia, mereka punya kekuatan magis. Menariknya, ketika kita bertanya, sulur pohon itu akan memberikan lembaran bacaan atau buku yang tidak akan ditemui di manapun dan hanya bisa dibaca orang yang diberikan saja. Waktu itu, aku mendapat tongkat sihir ‘Virgum Vitae’ (Tongkat Kehidupan) dan Pecahan Buku Xenos yang akhirnya harus aku susun. Pecahan buku itupun isinya tentang sihir membuat kehidupan, kehidupan… bukan membangkitkan yang mati seperti Necronimia. Lalu aku ketika ada di posisi High Arch Wizard, aku mendapat Relik Cryptos. Jika aku memakainya, aku bisa terhubung dengan dunia tersembunyi Verudinia. Duniaku ini… kompleks.

Gila… segitunya ya. Di sana, dirimu pernah gak akhirnya menemukan apa itu ‘sihir’ sesungguhnya dan kenapa ia tidak bisa dijabarkan sains manapun?

AVA: Salah satu guruku, High Arch Wizard Lawrence, dan Royal Arch Wizard Pendragon Argyra, bilang padaku. Sihir dan kekuatan psikis adalah kekuatan yang tidak bisa diciptakan, mengalir, dan tidak bisa dimusnahkan. Mereka berosilasi dan memiliki frekuensi yang selalu berubah. Itulah kenapa ia tidak bisa dijabarkan, tapi hanya bisa digenggam oleh mereka yang bisa atau berlatih menggenggamnya. Kekuatan ini secara tak sadar bangkit karena sugesti, dan secara sadar… adalah energi osilasi tadi, yang diserap aura kita sebagai kekuatan, dan dibentuk oleh imajinasi kita. Oleh karena itu, para penyihir itu rata2 kompleks, filosofis, kreatif, dan imajinatif… dan punya otak yang sanggup menahan hal2 skizofrenik. Selain itu mereka peka dengan alam di sekitarnya, perubahan energi, adanya gangguan, mereka paham adanya ancaman atau adanya entitas yang mereka ingin temui. Indera mereka terlatih. Sekarang aku mau bertanya, di buku2mu… memang dijabarkan seperti apakah sihir atau kekuatan psikis itu?

Saya setuju dengan dua hal tadi: Kekuatan yang ada di diri, dan kekuatan yang lahir karena entitas lain. Di buku2 saya, disebut bahwa kekuatan psikis itu dekat dengan kekuatan sugesti. Karena dianggap apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, yang kita inginkan, dan yang akan terjadi… semua adalah selaras. Dasar pengembangan kekuatan psikis sendiri adalah melatih kepekaan panca indera dan kemampuan visualisasi imajinasi… seperti membanyangkan gajah terbang dan gajah terbang berwarna hijau buat latihan awal.

Penasaran… bagaimana sejarah sihir di Verudinia? Kenapa sihir dan sains di sana bisa berdampingan sementara di sini sangat ribut?

AVA: Di duniamu, orang takut dengan hal2 yang tidak mereka ketahui dan sulit dijabarkan nalar. Begitu orang2 di duniamu mempercayai sesuatu paham tanpa logika, mereka akan jadi orang2 radikal yang tidak toleran. Di sini… kami percaya… Dewi Vitae… Sang Awal Kehidupan, menjadikan manusia pertama. Anaknya, Xerus… alias Xenos… membuat hal2 anomali di dunia ini, lahirlah sihir dan itu diwariskan dalam jiwa kami, dan semua orang mengerti, dan mampu bertoleransi, itu pun kami juga menggunakannya sebaik mungkin. Bukan semena2, kami punya undang2, dan regulasi ketat. Oh ya, walau kami punya dewa, kami juga percaya Tuhan. Dia lah yang menciptakan dewa2 itu dan alam raya ini. Mungkin definisi ini berbeda di duniamu ya. Prasasti Dewa Atmos menunjukkan bahwa mereka pun datang dari tempat nan jauh di sana, peradaban yang maju, tapi mereka bukan Tuhan. Mungkin kami… hanya eksperimen dewa2 itu atau upaya mereka menciptakan dunia ini agar ramai dan teratur.

Aku rasa, aku tidak bisa memberi penjelasan lebih lanjut… mungkin engkau bisa bertanya pada anak cucu kami yang sudah memiliki peradaban sangat maju? Semoga mereka masih bisa memegang Prinsip Dualisme Magi-Scientiae buatan Dewi Vitae itu… atau, sihir akan musnah…

Selalu menarik diskusi denganmu, Astrax… ngomong2, cuplikan dikit dong Buku Xenos itu apa isinya?

AVA: Kepingan pertama berisi dasar kehidupan, energi magis, dan anomali patafisis. Kepingan kedua berisi tentang jalur waktu, cabangnya, dan alam tak tampak. Kepingan ketiga berisi ilmu biologi prinsipal semua makhluk yang dirangkum jadi satu, dan dualisme sihir-tubuh. Kepingan keempat… akupun tidak tahu.

Oh ya, boleh aku melihat buku2 sihirmu? Aku butuh untuk kajian Xenobiota…

AVA: Ada… aku akan mengirimkannya ke alam pikiranmu. Gunakan dengan bijak dan jangan sembarangan diberikan ke orang lain…

Dirimu… artinya tahu aku bisa bicara dengan siapa orang di masa depan itu karena kau bisa melihat aliran waktu masa depan?

AVA: Ya… tapi masa depan selalu berubah. Mungkin… hmmm… kau bisa menemui seseorang bernama… Artura…

Oh begitu… kalo gitu udah ya, mungkin lain kali kita diskusi lagi! Malam, Astrax!

AVA: Malam Dit!

Wew… saya bahkan bingung barusan saya ngapain ya… rada skizofrenik… atau terlalu visual atas Alter-Ego sendiri… hahaha.

-AW-

Wow, udah lama juga ya sejak saya nulis2 di blog ini! Whew!

Banyak hal udah terjadi. Semenjak momen perjalanan ke Malang-Jakarta-Bandung, saya bertemu dengan orang2 super yang kemudian mengeskalasi dan mengakselerasi perjalanan karir saya dengan sangat cepat!

Gimana ya saya mulai cerita? Hmmm. Di Bandung di bulan Oktober 2014 itu, saya 2 kali bermalam di rumah Pak Indra. Adalah kebanggaan buat saya bertemu seorang dosen yang sangat merangkul mahasiswanya, dan terlebih lagi fotonya muncul ketika tim iGEM ITB presentasi di UB. Kalian tahu? Kadang saya berpikir bahwa saya itu bisa menyerap dan menyalin aura semangat orang di sekitar saya! Lho kok? Malam itu saya cerita sekilas soal perjalanan saya di Malang ke Pak Indra, dan cerita sedikit tentang Xenobiologi dengan nunjukin paper garapan Dr. Markus Schmidt ke beliau. Kita sepakat bahwa paper itu ide gila. Yak, khususnya buat kita yang di Indo yang masih panas2nya dengan SynBio dan iGEM. Apalagi kemudian saya mendapatkan info bahwa iGEM team kita, dari UI dan ITB bawa 2 medali emas, UB dan UT Sumbawa bawa 2 perunggu. Yang buat cengok adalah perkataan guru saya (yang kayaknya saya ga perlu sebut demi kenyamanan bersama).

“Kok topik kalian kurang fun sih?”

Kurang fun disini adalah topiknya terkesan formal. Penelitian dan solusi, semua menjadi sebuah proyek dosen-mahasiswa yang judulnya ajeg buat ditulis di jurnal. Pelajaran sih, kayaknya ketika saya nanti mendirikan iGEM team buat UGM harus lebih freak artinya.

Seolah belum penuh apa yang saya “serap” selama di Bandung dari Pak Indra dan Joko (cerita2 dia soal ke Boston dan lain2), balik dari Jakarta, ternyata saya dipertemukan dengan seorang professor super nyentrik. Prof. (Adj) Parvez Alam nama beliau. Seseorang yang disebut Sanka sebagai seorang ahli biomimetika dari Finlandia. Gak nyangka, perjalanan hidup saya setelah bertemu beliau saat itu ternyata memasuki garis asimptot logaritmik positif dan ilmu yang bahkan membuat persepsi saya dengan profesor2 sebelumnya berubah total!

Selama meneliti di proyek beliau, saya belajar banyak hal. Khususnya soal spontanitas, inovasi, keberanian, semangat, kasih sayang, dan kegigihan. Ngobrol banyak dengan seorang petinggi Fighting For Lives yang bahkan kenal Cecep dan Yayan Ruhyan ini (asli greget parah!), saya menemukan sisi di diri saya yang mungkin tergerus usia sejak kecil. Gimana nggak, beliau yang menerbitkan 24 publikasi ilmiah selama beliau PhD dan sekitar 13 publikasi per tahun ini mengajarkan sesuatu: Caranya melakukan hal segila itu adalah dengan memulainya, ga ada yang lain! Menariknya, saya mendapatkan proyek penelitian dengan beliau di hari kedua kami baru bertemu!! Beliau adalah seorang professor dan dosen yang sejujurnya saya kagumi. Kemampuan beliau untuk mengubah ide jadi penelitian, kemampuan beliau untuk melihat suatu ide abstrak bahkan soal mitologi dan agama secara filosofi itu pantas saya acungkan jempol!

Dalam dua bulan, saya yang jujur merasa gitu2 aja… ya mungkin saya mentor SynBio UGM, cuma selain itu ya mungkin hidup saya garing, saya pun mendirikan Project Xenocerebral: Xenobiota Inisiative melibatkan adek kelas saya: Putri, Arfan, kemudian Wira, Vina, Gathot, Nadira (tapi kemudian saya coret karena jarang aktif, mungkin kalau dia mau masuk lagi baru saya tarik lagi).

XBI Icon

Versi akhir logonya. Hak cipta karya oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Saya mengajarkan materi2 biologi sintetika, saya pun menyelipkan inisiasi Xenobiota di materi terakhir. Saya menjelaskan fokus kita di komunitas Xenobiota ini adalah ke arah astrobiologi, biologi sintetik, biologi spekulasi, bio-art, xenobiologi (dalam semua 2 artinya), hingga parapsikologi dan biomimetika balik (nanti saya bahas lain kali)! Dalam sekejap malam hari itu, 25 orang sah masuk grup! Kegilaan ini berlanjut hingga saya bertemu ketua tim iGEM UI, Siska Yuliana Sari dan mengajaknya ikut komunitas ini!

Di kelas penutup Prof. Parvez, beliau menunjukkan bahwa beliau meng-handle sekitar 5 proyek di Indonesia, dan masih ada lagi di luar sana. Proyek2 beliau ga main2! Dengan saya, beliau meneliti biomekanika dan histologi ikan glodok. Dengan Sanka, beliau meneliti diatom dan udang pistol yang mampu membuat gelembung dengan letupan berefek sonoluminesens dengan kecepatan 60 Km/h dan suhu 5000 K dan masih banyak lagi! Dalam dua bulan kami membelah pulau Jawa dari Pangandaran ke Surabaya dan Pamekasan, Madura dan kami bertemu orang2 random yang ga biasa kita temui di hari2 biasa.

Sepulangnya beliau, saya berpikir bahwa saya harus bisa lebih spontan dan inovatif lagi!

Yah, tahun 2014 itu… dari yang awalnya kepikiran buat paper jurnal tentang tesis doang, saya akhirnya buat paper spekulatif tentang penanaman tanaman di badan2 antariksa seperti Mars, Venus, Luna (bulan), dan Asteroid. Belum selesai! Oktober, paper saya bertambah 1: Pengamatan biomekanika ikan glodok.

Seiring waktu berjalan, Xenobiota Institute pun berhasil saya dirikan dengan utuh! Ide penelitian saya pun bertambah lagi! Dengan Arfan saya sedang berencana menggarap 2 paper: Interaksi XNA dengan DNA dan RNA serta polimerase natural secara proses interaksi dinamika molekuler, sama pembahasan ekstensi dogma sentral biologi molekuler dengan adanya XNA.

Berapa? 5…

Februari… Prof. Parvez memutuskan paper ikan glodoknya dibagi 2: Biomekanika dan histologi.

Jadi… 6…

Di kantong… saya masih ada 3 lagi, tentang kuljar non-aseptik dan Rafflesia. Rafflesia saya pikir bisa ditunda dulu, apalagi setelah penemuan paper Dr. Lazarus Agus Sukamto tahun 2010 yang akhirnya beliau berhasil menginduksi kalus Rafflesia arnoldii dengan penambahan senyawa pikloram (mau papernya? e-mail saya aja… mau meneliti? saya ikut kontribusi sini!) cuma belum berhasil membentuk embrio somatik. Kemudian ada tentang bioprinter sel tanaman…

Oke… 9… cukup! Kalau semuanya jadi… dalam setahun paper saya jadi 14 jika ditambah hasil pas S1.

Sekarang pun, Xenobiota Institute (XBI atau XI) sedang sibuk menginisasi tim iGEM UGM untuk XI team yang 2013-2014. Untuk anggota senior kayak Arfan, saya aktif mencari2 link ke luar sana. Saya sudah mengontak Prof. Dr. Jeff J. Doyle dan ternyata beliau ramah sekali. Beliau adalah pencetus protokol isolasi DNA tanaman dengan asam setil trimetil asetat (CTAB), anehnya paper beliau itu tidak ada di mana2. Untung beliau ngasih saya (mau? e-mail saya sini). Saya juga udah berhasil mengontak Dr. Philips Holliger, dan saya berharap bisa dapat masukan soal konferensi xenobiologi selanjutnya dan kolaborasi penelitian XNA. Terus juga secara singkat dengan Dr. John Cumbers dari NASA. Kemudian Afif mengingatkan saya untuk pelan2 dan hati2. Kayaknya saya perlu stop dulu.

Klimaksnya adalah kemudian, saya dengan Prof. Parvez dan temannya, Prof. Adolfo, saya sedang menyusun proposal penelitian untuk selanjutnya kalau tembus beasiswa (kali ini aamiin deh!) saya akan kuliah di Finlandia buat S3!

Di sisi lain… berhasil ketemu pihak media Yogya, review Kulinerologi si AW pun terekspansi ke level hotel bintang 4-5! Sekarang saya berhasil mencapai 91 artikel dan 70 ribu pembaca untuk blog saya satu itu! Makasih ya semua!

Terakhir… otak saya terpikir ide: Saya kayaknya mau buat blog lagi soal… review hotel!

Ide ini muncul setelah dalam 1 bulan saya udah nginep di 2 hotel (Hotel Ibis Style Malang dan Hotel Harper Yogya), dan bakal 1 lagi (Hotel Grand Aston). Penasaran, bisa gak ya? Hahahaha…

Ah, kenapa saya jadi hiperaktif gini?

Halo pembaca! Berhubung nanti malam kita memasuki tanggal 1 Ramadhan 1435 H, saya ingin mengucapkan mohon maaf atas kesalahan baik dalam kata2 ataupun lisan yang pernah terucap, semoga amal ibadah puasa kita yang merayakan bulan suci ini diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan baik. Aamiin…

Kali ini, cerita saya lebih ke tentang sebuah restoran berbasis pesan antar (delivery) di Bandung, yang saat ini sudah tidak ada. Masih ada kaitannya dengan bulan suci, resto satu ini meninggalkan banyak kesan untuk saya.

Pertama2, buat kalian… mahasiswa-mahasiswi, bagaimana persiapan puasa kalian dalam sisi material (maksudnya bahan pangan)? Apakah selama bulan Ramadhan ini kalian pesan katering rutin yang akan mengantarkan tiap sahur, apakah kalian memang suka jalan2 pas sahur sehingga kalian udah punya spot langganan atau restoran yang dituju, apakah kalian suka masak, atau… kalian jarang sahur? Apapun itu, saya yakin di tiap diri kalian yang kuliah di se-antero tanah air khususnya pasti punya cerita soal itu.

Termasuk saya… kisah makan sahur saya selama 4 tahun di masa kuliah S1 saya beda2 dulu di Bandung. Tahun pertama, saya memesan katering dari Kantin Koboy Cisitu. Saya sejujurnya males makan nasi buat katering, kenapa? Porsinya ga kira2… porsi di mana lauk dikit sementara nasi berlimpah. Saya soalnya kalau makan lebih suka banyak lauk daripada karbo. Jadi biasanya saya menggantinya dengan kentang atau ga pesan nasi sama sekali. Konyolnya, suka missed info ke mereka ini. Gimana? Tau2 dikasih nasi segudang, terus sisanya jamuran di kosan saya dan paling konyol dari soal katering… mereka pernah datang 5 menit sebelum imsak! Alhasil, setelah itu saya mengurungkan niat buat katering lagi di tahun selanjutnya.

Tahun kedua, saya memilih buat membeli bumbu nasi goreng kalengan rasa tuna kesukaan saya. Yah, ini adalah poin plus kosan saya yang ada di kawasan Cisitu Lama IX ini punya fasilitas asik berupa dapur, nasi bebas ambil, dan air minum dispenser (walau merknya ga jelas… dan konon jarang dibersihin). Alhasil saya pun masak tiap sahur… (walau kadang kelewat males jadi cuma makan roti… atau sahurnya bablas).

Tahun ketiga… ini yang akan menjadi highlight cerita saya kali ini.

400457_284589158255561_1240943883_n

Saat itu, di Bandung ada sebuah restoran yang udah saya sebutkan tadi bernama Farfalle Pasta. Restoran ini sangat unik karena tempatnya virtual; dengan kata lain kita hanya bisa memesan via telepon, SMS, dan bahkan kerennya… via teknologi Yahoo! Messenger (YM)! (terakhir di 2011 bahkan bisa pesan via website di mana PHD dan yang lain belum bisa fasilitas ini!). Dahsyatnya lagi, tidak ada minimum order payment, ga ada pajak harga (gw rasa harganya udah masuk pajak)… dan di atas segalanya, porsinya ga main2 DAN RASANYA ENAK BANGET! Resto satu ini mampu mengungguli restoran sekelas Pizza Hut (karena rasa masak-ulang nya kerasa banget… ga terlalu seger) dan bahkan Warung Pasta pada saat itu (yang terlalu berair… konsistensi creamy nya jelek). Andai Kulinerologi si AW sudah ada dari dulu, saya akan kasih cawang penuh (√√√√√). Bukan karena hanya rasanya yang hampir menyaingi makanan bintang lima, kreativitas menu, keunikan rasa, kemudahan dalam pemesanan, hingga feedback yang sangat positif membuat saya ga akan ragu memberi nilai penghormatan sebesar itu!

“Lo ga lebay kan, Dit? Emang makanannya gimana? Liat lah!”

Soal makanan, tempat ini menyediakan pasta sebagai makanan utamanya. Tersedia dalam porsi S (Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00), M (Rp 10.000,00 – Rp 13.000,00), L (~ Rp 15.000,00) (dan terakhir pesan ada XL… sekitar Rp 21.000,00 dan seinget saya ada XXL buat senampan penuh buat hajatan, Rp 50.000,00 an). Menunya tersedia mulai dari pasta otentik (Bolognese, Carbonara, Alfredo), hingga hasil kreativitas mereka sendiri. Walaupun yang kita dapat setelah sampai bentuknya ga sesuai yang di gambar, porsinya… gak main2!

dsc00966

Kurang lebih ini… porsi M, Spicy Tuna Sweet Fusili (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

“Dit… gw tau lo udah lupa mungkin… tapi dengan sisa2 memori yang mungkin masih ada… tolong deskripsiin dong gimana rasanya!”

Meh… bawa2 memori. Curcol sedikit, tahun ketiga kuliah akhir adalah momen pertama kali seumur hidup saya dapat pacar. Namun sayang perjalanannya ga mulus akibat ga direstui oleh ortu pacar (mantan) saya waktu itu. Thanks to Rino yang kebetulan waktu itu ada dan juga thanks to resto ini. Hubungannya? Ah saya lupa… hingga 2010, tempat ini menyediakan fasilitas pre-order untuk sahur! Catatannya, pesan pas malamnya atau maksimal jam 2 atau traffic antar nya bakal membludak.

Kesukaan saya… Fettucine Alfredo w/ Barbecue Mushroom…

421269_323718664342610_302239243_n

Maaak… kangen gw makan yang ini! (Sumber: Page FB)

Fettucine yang dimasak dengan saus krim dan mentega (butter), ditambah dengan potongan jamur kancing yang ditumis dengan saus barbecue dan bawang bombay. Rasanya? Susah dijabarkan dengan kata2. Rasa manis-spicy dari jamur dinetralisir dengan rasa mild dan gurih dari krim di pastanya. Hmmmmmmm~

Kedua, Spicy Tuna Sweet Fusili… yang satu ini emang agak pedes, manis, asam. Tuna dimasak dengan saus tomat, cabe, bawang putih, dan pasta fusilli. Nendang banget!

Ketiga… saya lupa, seinget saya… Fettucine w/ Creamy Rosemary Chicken. Ini dahsyat sih! Fettucine, dimasak dengan ayam yang udah ditumis, dikasih krim yang terinfusi herba rosemary yang wangi dan manis. Gileeeee!

Keempat, yang lucu… ada pasta kalo ga sala Fettucine with Choco Sauce. Ini manis. Pake saus krim coklat pake mentega, jadi rasanya manis2, asin, gurih gitu. Sempurna, dikasih keju mozzarella. Maaaaaak!

Bahkan… kelima… Spaghetti Bolognese nya sendiri… manis, dagingnya kerasa dan herba2 di dalamnya kerasa, ada oregano, rosemary, basil, dll. Rasa tomatnya juga ga main2!

Sekarang udah kebayang? Dengan harga yang asik, sahur saya jadi ga galau berkesan!

Komentar saya cuma satu waktu itu… ini restoran namanya “Farfalle”… kan artinya pasta kupu2… kok ga ada yang pake pasta kupu2?

Screen Shot 2014-06-28 at 9.48.04 AM

Ini lho!

Sampe sekitar 2011 awal (curcol lagi: ketika saya sama mantan kedua saya), saya (kami) suka memesan pasta2 dari Farfalle buat makan bareng. Lalu menjelang saya lulus, tempat ini udah ga bisa buat pesan sahur, dan… mereka buat restoran di kawasan Pasteur, Bandung. Awalnya, gw mikir… wah keren… dari delivery… ke resto!

Tapi sayangnya… itu ga bertahan lama. Awal 2012, mereka lenyap… ntah kenapa. Emang sih, saya udah di Jakarta.

Tahun 2014 ini… pas saya cek. Bahkan restorannya udah ga ada (di Foursquare ada, tapi lokasi ga ada di kenyataannya)…

Ternyata…

Screen Shot 2014-06-28 at 9.55.51 AM

2009-2013 (sumber cek: sini)

Domain Farfalle Pasta udah expired. Kenapa ya mereka tutup? Masa sih setelah buka, mereka jadi bangkrut?

Damn… jujur saya bakal kangen sama ini…

pasta

Dat website… (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

Walaupun beberapa gambarnya masih ada di Page FB mereka sih, cuma man… I miss to eat their pasta!

Serius… kalo ada yang tau ternyata saya salah (baca: ternyata masih ada), tolong kasih tau saya di komen ya! Saya pengen banget bisa makan ini lagi kalo saya ke Bandung. Banyak kenangan dengan saya makan makanan di sana.

Moral cerita:

  1. Di era yang serba sibuk ini, kayaknya bisnis makanan delivery bisa dibilang menjanjikan. Alasan? Ga perlu tempat besar untuk restoran, cuma butuh dapur dan kurir antarnya.
  2. Setiap orang pasti punya makanan yang memiliki kenangan saat makan… ntah karena keluarga, teman, pacar, mantan, istri, siapapun… itu lah kenapa makanan itu spesial buat saya. Terlebih lagi kalau dimasaknya dengan ide original dan dimasak sepenuh hati.

PS: Tahun keempat? Saya puasanya banyak di rumah saya karena tahun keempat di bulan Juli-Agustus skripsi saya udah beres (laptop ilang… terus saya putus ama mantan saya yang kedua *curcol*)

-AW-

Halo pembaca! Hmmm… di pos ini, saya mau ngebahas sesuatu yang cukup menarik, walaupun with some hints of absurdity (kayak biasanya). Oke, semua bermulai dari penemuan ini di internet:

Screen Shot 2014-06-20 at 9.51.50 AM

Errrr…

Sebelum Anda melanjutkan untuk membaca, saya mau bertanya ya… apa yang Anda pikir ketika membaca tulisan di gambar di atas itu?

“Ah, dasar W**a kelewat maniak!”

“Ah bego!”

“Cih, mending gw beli sepatu baru!”

“Kurang kerjaan banget sih!”

Orang yang berpikir positif mungkin bakal jawab…

“Hahaha… kreatif juga…”

“Lumayan tuh buat koleksi!”

“Uhhhhhh… Nabilah…” *oke yang ini ngaco udah ada yang mendesah kayak gini*

Gimana? Ada yang punya jawaban lain? Haha… kalo ada monggo dijawab di kolom komentar!

“Terus kalo kamu sendiri gimana, Dit?”

Pertanyaan bagus! Ini yang akan saya bahas segila2nya!

Pertama… asumsikan saya punya akses dan cukup kaya buat beli segala “pernak-pernik” barang kimia buat CSI-grade molecular analysis, oke?

Andai itu iklan masih baru, pertama… ayo kita beli! Nah, setelah kita dapet botolnya… tolong jangan ngendus2 atau jilat! Langkah selanjutnya, pake sarung tangan latex standar lab. Terus, bawa ke lab biologi molekuler, mana aja bisa… tapi kalo ada yang buat studi forensik bakal bagus. Sekarang, asumsikan kita di lab. Bedasarkan jurnal dari Journal of Forensic Science dalam penelitian oleh Kopka, et al. (2011), yang bisa kita lakukan adalah 2 hal: meneteskan larutan buffer lisis ke spesimen, atau dengan menggunakan kapas kecil yang diberi buffer lisis. Kondisi tetap, kita harus pake sarung tangan!

Dari botol Nabilah yang kita beli itu, aslinya ada 2 area yang bisa kita sampling: Area samping dari botol, dan mulut botol. Satu hal yang kita harus pasrahkan, menurut laporan Viaznikova dan Mussivand yang saya dapat dari web Promega hari ini (21 Juni 2014) adalah sudah resiko bahwa DNA yang bisa didapat dari sidik jari atau bekas kontak dengan kulit di benda itu punya risiko kontaminasi yang tinggi dan cuma ada sedikit.

Oke, di sini mungkin saya bakal pake kapas ber-reagen lisis buat ke bagian mulut botol. Ga usah gede2, setelah dibasahkan mungkin cuma sebesar biji salak. Terus saya milih mulut botol kenapa? Karena… lihat gambar, bagian samping botol udah dipegang2, ntah sama berapa orang. Ini bisa merusak kemurnian sampel kita. Dengan asumsi bagian mulut botol masih bekas Nabilah, jadi kita pake itu aja. Cuma yang saya mikir adalah apakah sampel kita udah rusak atau belum akibat efek asam dari Pocari Sweat atau rusak akibat lisis oleh asam2 atau senyawa2 dari mikroflora yang kebawa dari mulut Nabilah. Di mulut, di bibir apa lagi, kandungan mikroba itu berlimpah lho (apalagi belom sikat gigi!). Di mulut, ada mikroba jenis StreptococcusLactobacillusSpirochetes, dll (Rogers, 2008; Wescombe & Heng, 2009). Beberapa di antaranya itu menghasilkan asam (Madigan, et al. 2012).

Nah! Kita udah sampel kita di kapas! Tahap selanjutnya adalah lisis dengan larutan lisis dalam jumlah lebih banyak. Kita pisah kapas dengan pinset ke dalam beberapa tabung microfuge 2 mL dengan hati2, dalam ukuran sama, dan jangan sampe kapasnya rusak atau berantakan. Terus kasih 50-100 micro L buffer lisis. Di metode oleh Kopka, et al. (2011) tadi, proses dilakukan di termomikser dalam suhu 60ºC dalam 3 jam dengan kecepatan revolusi 600 RPM. Abis itu, dilanjutkan dengan sentrifugasi 15000G selama 1 menit. Kita kemudian bakal dapat larutan berisi DNA, kita pindahkan ke tabung baru yang steril dan disentrifugasi lagi 1 menit pada 750G. Nah, di sini kita udah dapet DNA dalam jumlah sangat sangat sangat sangat kecil. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah amplifikasi. Amplifikasi bisa dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan menggunakan primer DNA random (yang saya duga berspesifikasi sangat minim sehingga bisa nempel langsung) atau kalau di metode tadi menggunakan primer urutan Short Tandem Repeat (STR). Dari situ, kita bakal punya DNA yang banyak dari jumlah awal yang sedikit setelah amplifikasi sekian puluh siklus pada mesin Thermal Cycler! Dah, selamat… lo punya DNA Nabilah!

Damn… I’m freak… well, I know that!

Terus? Lumayan, kalian bisa pamer dengan ngasih tali ke tabung mikrofuge kalian… bilang ada DNA Nabilah di dalamnya. Atau mau lebih gila?

Oke saudara2… kita punya genetic blueprints dari seorang penyanyi JKT48. Walau ntah itu lengkap atau ngga ya. Tapi ada ide lagi di mana kita bisa menyisipkan DNA itu ke dalam sel ovum segar. Pertama, kita harus nyimpen DNA tadi sebagai 1 bagian genom inti sel lengkap (ntah belum nemu saya caranya). Kedua, siapkan sel ovum manusia segar, buang intinya, masukkan DNA kloning kita. Induksi pembelahan sel dengan kejutan listrik. Proses ini disebutkan Wilmut, et al. (1997) bisa menghasilkan klon sel dari pembelahan dengan genom identik dengan induk. Terakhir, taro sel klon ini ke rahim. Jadi deh…

Oke Dit… lo berhasil jadi ilmuwan gila yang diprotes orang2 kayaknya abis ini. Ah ya udah lah ya. Sebenernya saya cuma mau berbagi dikit soal protokol ekstraksi DNA dari barang yang biasanya buat ilmu forensik dan program ulang dari sel untuk kloning.

“Oke lah kalo yang itu… kalo yang ini gimana??”

Screen Shot 2014-06-20 at 9.42.27 AM

Oh Tuhan, kok ada yang beginian ya?? Oke… berpikir positif.

Hey! Kecoa itu organisme keren lho! Keren dari mana?? Serangga pada ordo Blattodea ini udah ada dari jutaan tahun lalu. Itu satu, kecoa bisa dijadiin pengamatan biologi perilaku (etologi). Terus bisa dijadiin studi mikrobiologi dan ketahanan Salmonella yang kebawa di perut dia (Paul, et al. 1992).

“Cuma Dit, kecoa kan bisa ditemuin di mana2”

Ummmm…

Ummmmmmmm…

Ummmmmmmmmmm…

Iya juga ya…

Oke, bye!

Pesan Moral: Di dunia di mana berita tersebar luas dengan gampangnya, di mana kita bisa menjadi redaksi berita kita sendiri, di mana hoax2 melayang dnegan bebas, di mana kampanye hitam gampang memancing emosi orang sampe merusak pertemanan… belajarlah melihat sesuatu dari persepsi yang berbeda dan elegan. Segala sesuatu di dunia ini punya tujuan dan fungsi walaupun terlihat bodoh, hina, atau ga penting. Hanya mereka yang mau belajar dan kreatif yang akan bisa melihat dunia dari arah lain. Kalian tahu? Saya prediksi… masa depan dunia ada di tangan ilmuwan nyentrik yang menguasai sains, teknologi, dan konsep state of the art dari keilmuwannya, insinyur inovatif dan visioner, wirausahawan kreatif, dan seniman2 visioner yang mau berkontribusi kepada masyarakat. Jadi, daripada capek2 melihat sisi jelek… belajarlah melihat dari sisi lain yang gak normal. Di saat ini, perbedaan adalah abnormalitas atau anomali, padahal semua itu lebih dari itu. Sama dengan indahnya harmonisasi persamaan, diversitas perbedaan adalah rahmat Tuhan Semesta Alam.

-AW-

Referensi

Kopka, J., M. Leder, S.M. Jaureguiberry, G. Brem, G.O. Boselli (2011). New Optimized DNA-Extraction Protocol for Fingerprints Deposited on A Special Self-Adhesive Security Seal and Other Latent Samples Used for Human Identification. Journal of Forensic Science 56(5): 1235-1240.

Madigan, M.T., J.M. Martinko, D.A. Stahl, D.P. Clarke (2012). Brock Microbiology of Microorganisms 13th ed. New York: Pearson Benjamin-Cummings.

Paul, S. A.M. Khan, M.A. Baqui, M. Muhibullah (1992). Evaluation of the common cockroach Periplaneta americana (L.) as carrier of medically important bacteria. The Journal of Communicable Diseases. 24(4): 206-210.

Rogers, A.H. (2008). Molecular Oral Microbiology. Norfolk: Caister Academic Press.

Viaznikova, M., T. Mussivand (diakses 2014). Can fingerprint be used as a reliable DNA source? Link, diakses 21 Juni 2014.

Wescombe, P.A., N.C.K. Heng, et al. (2009). Streptococcal bacteriocins and the case for Streptococcus salivarius as model oral probiotics. Future Microbiology 4(7): 819-835.

Wilmut, I., A.E. Schnieke, J. McWhir, A.J. Kind, K.H.S. Campbell (1997). Viable offspring derived from fetal and adult mammalian cells. Nature 385(6619): 810-813.

Mereka bilang… minuman terkadang merupakan cermin sifat peminumnya. Yah, saya sejujurnya agak sedikit terinspirasi dengan kisah di film Indo yang judulnya Claudia & Jasmine. Sang protagonis, Jasmine (Kirana Larasati) suka minum kopi pahit, ketika ditanya kenapa ga dikasih krim atau tambahan lain ia pun menjawab itu secara tidak langsung adalah gambaran kelamnya masa lalu dia.

Tapi buat Anda para pembaca yang suka minum kopi pahit, mungkin interpretasinya beda. Apakah mungkin Anda itu orang yang konservatif? Apresiatif atas originalitas nilai seni yang ada pada kopi itu sendiri? Anda orangnya keras? Itu mungkin perkiraan2 sekilas dari saya.

Kontras dengan Jasmine di atas, ketika saya mampir ke warung kopi, saya malah suka kopi manis dengan susu. Atau mungkin… seperti apa yang akan saya ceritakan selanjutnya mengenai minuman favorit saya di kedai kopi Starbucks.

IMG_5527

Segelas Venti Caramel Cream Frappuccino dan tugas atau tulisan hari ini…

Saya royal atau elit? Jujur… terlepas saya yang bisa santai dengan hanya makan tempe sepiring penuh tanpa nasi setiap saatnya, saya suka bersenang2 dengan cara saya sendiri. Itu jawaban saya kalau ada yang mengira2 demikian karena saya minum di Starbucks. Terserah Anda, saya punya jawaban saya sendiri.

Oke, kembali lagi. Caramel Cream Frappuccino… Dit, ini gak ada kopi2nya. Iya, emang! You don’t say!

Saya jaraaaang sekali beli sesuatu yang ada kopinya di Starbucks. Selain minuman ini, saya suka beli jus buahnya atau Green Tea Latte. Cuma Green Tea Latte buat saya itu lebih ke teman ngobrol santai atau teman baca buku, sudah. Sementara Caramel Cream Frappuccino selain kedua itu, banyak hal lagi yang bisa saya ceritakan.

Minuman ini diracik dengan susu atau krim, dicampur dengan esens karamel, es, lalu diblender. Setelah itu, minuman yang sudah tercampur rata diberi whip cream, dan diberi saus karamel di atasnya. Ya, ini kabar buruk buat kadar gula Anda. Apalagi jika saya memesan dengan saus karamel ekstra.

Untuk saya, minuman ini adalah refleksi bahwa saya itu… cheerful, kekanakkan (saya mengakui itu), ngebawa santai hal-hal keras di sekitar saya, suka hal-hal manis, enerjik (walau bukan berarti saya atletis), rada opportunis, tapi saya ga suka masalah yang dibuat ribet atau jika seseorang meminta saya untuk menjadi sangat serius berpikir dalam suatu hal yang sebenarnya itu bukan hal yang rumit.

Sebenarnya saya sudah suka minuman ini sejak saya pertama kali mengenal Starbucks di sekitar tahun 2003-2004 di Plaza Indonesia. Tapi meski kadang2 saya suka mencoba racikan minuman yang lain, saya memilih buat kembali memesan minum ini lagi dan lagi.

Banyak cerita menemani saya ketika saya memesan minuman ini, mulai dari kisah yang waktu itu saya tulis, sampai cerita lain lagi. Termasuk pas saya ngebuat si mbak barista di Starbucks di Jakarta grogi gara2 saya, “Mbak, kali ini ga salah nyampur lagi kan?” sampe dia ngasih saus karamel dengan porsi gilanya…

IMG_1571

Mbak… santai mbak…

Selain itu, minuman ini adalah pendamping saya menulis skripsi, menulis proposal penelitian ke Nagoya (yang ga jadi), nulis laporan2 praktikum, dan juga tesis. Bahkan lahirnya blog2 ini (Log si AW yang udah 10.500 views, Kulinerologi si AW yang udah 14rb views, dan… Kisah Sang Mentari yang baru nongol) lahir dari hasil tegukan minuman ini…

Minuman yang enerjik dengan nilai kalori yang sadis… tapi manisnya… cukup menunjukkan manisnya hidup saya…

Ah itu dulu ah, cerita random saya…

-AW-

 Alter ego (Latin: Alter — Yang lain, Ego — Aku; Aku yang lain), kadang istilah ini bisa mewakili diri seseorang yang terpendam, dan kadang dengan seramnya diasosiasikan dengan mereka yang memiliki kepribadian ganda atau banyak. Lalu apakah saya berkepribadian banyak? Hmmm… secara penyakit… mungkin ngga. Bagi saya, 5 sosok ini ada di dalam diri saya, antara sebagai teman imajiner saya, atau kalau seperti di film Avatar: The Last Airbender, ini seperti refleksi diri saya yang bisa saya panggil ketika saya sedang Avatar State.

Saya yang menciptakan mereka di pikiran saya dan saya punya tujuan untuk membentuk mereka.

Ada yang lahir karena perasaan cinta antara saya dan mantan saya (dulu), ada yang lahir sebagai imajinasi saya dengan teman saya, ada yang lahir ketika saya merenung.

Mereka bilang, sebaik2nya kata orang lain, diri sendiri lah yang paling penting untuk menjawab keputusan itu. Tapi, kadang sendiri itu ga enak. Kita bisa memberi nasihat orang lain dengan persepsi kita ketika mereka bermasalah dengan hidup kita, tapi ketika kita sendiri yang tertimpa masalah yang sama, kadang responnya malah beda. Di sinilah, saya menciptakan advisor personal buat saya sendiri yang akan ada ketika saya fokus. Diri saya yang akan menasihati saya sendiri.

Jadi ada siapa aja?

  1. High ArchWizard Astrax Viridium Albireo (inisial AA). Karakter yang tercipta tahun 2010 akhir akibat cerita “The Wizard” (yang ga selesai2 setelah putus, selain karena idenya kebanyakan, ending buku pertama masih gantung karena ga tau karakter mantan saya mau saya apain) buatan saya untuk mantan saya, Icha. Setelah kami putus, saya memilih buat nyimpan karakter ini buat diri sendiri. Penyihir tinggi Kekaisaran Regulon dari ibukota Aestiva yang memulai karir sihirnya di sekolah tinggi sihir, Aquilla di kota Vox. Lahir dari darah penghuni ring terdalam kota, yang artinya ia adalah orang cukup berada. Cukup kreatif dan berpikir ke luar batas, terlepas kecerobohannya dalam banyak hal. Bijak, selalu penasaran, ambisius, tapi sangat menaungi, apalagi Astrax adalah seorang guru. Karena sifat eksploratifnya, ia dipromosikan menjadi ArchWizard di umur 20 (normalnya 25-30), dan menjadi High ArchWizard di umur 25. Sebentar… Arch itu artinya ketua. Memang gelar ini diberikan buat para mentor dan guru yang menaungi penyihir2 lain, seperti yang Astrax lakukan saat ini. Wizard… adalah penyihir yang mempelajari dan menggunakan sihir untuk banyak penerapan dan filosofi, dan juga adalah scholar. Berbeda dengan Sorcerer yang menggunakan sihir dengan bebas. Oke, balik lagi… Alter ego saya yang ini berperan lebih kepada pemberi nasihat yang sejuk, halus, dan bijak, atau pemberi kesimpulan analisis terkait hal2 magis dan sihir. Kita kadang capek kan membahas hal2 sihir karena jatuhnya ke kokologi? Kita buat perbedaan dengan lahirnya Astrax, dan kita bawa dia ke blog ini!
  2. Emperor Jack Otzius “The Fallgiver” (gabungan forgiver dan fall, karena kerjaannya yang menggunakan kekuatannya untuk membuat sesuatu jatuh) (inisial JO). Kaisar galaksi, ilmuwan yang akan melakukan apapun agar ambisinya terbukti. Tercipta dari waktu saya SMU, kelas 1-2, sebagai sisi Sith Lord dalam diri saya yang saat itu lagi tergila2 dengan Star Wars (ekuivalen Lord Rmith di Rino), epitet Darth Xenos. Cyborg di bagian tangan (keduanya) karena kecelakaan, dan menggunakan implan di bagian kaki dan otaknya untuk mengamplifikasi energi dirinya. Berusaha melakukan apapun agar menaklukan sesuatu yang ia inginkan dengan persuasi halus (tapi fatal) miliknya dan sangat anti buat kalah terang2an. Terlepas sifatnya yang cenderung pendiam, ketika ia merasa lelah akan sesuatu, ia akan menjadi agresif. Membawa 2 lightsaber berwarna ungu dan hijau cyan yang menggunakan kristal cair terinfusi energi murni midichlorian. Muncul di saat khayalan ilmiah saya yang di luar bioetika keluar (misal mau membuat virus baru) atau kalau lagi sangat ambisius, Jack akan muncul memberikan arahan agar saya tetap fokus. Mungkin Jack sesekali akan saya munculkan ke blog ini… kalo idenya… manusiawi.
  3. Nupaaktuk “The Ancient Tree” (inisial N), pohon tua yang bisa menjelma menjadi manusia. Lahir sebagai imajinasi antara saya, Cipo, dan Dwiki ketika membuat cerita. Sang penjaga daerah sakral di hutan suci. Pendiam dan bijak. Muncul kalau saya lagi sangat antusias atas suatu ilmu baru, Nupaaktuk datang memberikan kebijaksanaan atas ilmu2 yang baru saya dapatkan itu sehingga bisa berguna di waktu lain juga.
  4. Sang Pengelana (initial W, dari Wanderer). Lahir dari imajinasi sesaat ketika saya lagi diam, dan menasihati Abi (adek kelas saya angkatan XVIII di SMU). Sosok yang misterius dan tidak mau menyebutkan namanya. Memiliki kemampuan sihir seperti Astrax, tapi tidak memiliki kemauan untuk hal2 sosial atau mengajarkan secara formal. Sang Pengelana memutuskan buat berkelana akibat dirinya merasa belum puas atas yang ia dapatkan, ingin mencari sesuatu yang ia belum ketahui dan ingin tahu apa yang ia harus lakukan di dunia ini. Muncul ketika saya lagi berpikir dalam tapi abstrak, dan berusaha mencari nilai filosofi atas hal2 yang abstrak.
  5. Sang Matahari (initial S, dari Sol). Avatar diri saya sendiri yang lahir juga sebagai arti dari nama saya (Adhityo –> Raditya –> Matahari). Api terbesar di sistem tata surya. Memberikan kehangatan kepada semua, tetapi juga destruktif karena kekuatannya. Sadar dengan itu, ia hanya selalu di atas dan memberi kekuatan kepada yang lain dari jauh. Matahari ini juga refleksi zodiak saya, Leo (Capricorn = batu/gunung, Aquarius = angin lembab musim semi, Pisces = samudera/laut, Aries = api/api lilin, Taurus = pasir, Gemini = angin sejuk musim gugur, Cancer = sungai, Virgo = lumpur, Libra = angin panas/dingin, Scorpio = telaga, Sagitarius = magma/lava) yang oleh karena itu sering muncul sebagai metafora harian saya dengan orang2 sekitar saya. Muncul sebagai sisi diri saya yang suka mengamati dari kejauhan dan memberi petuah.

Begitulah… sayangnya belum ada gambar jelasnya. Mungkin kapan2 saya gambar. Dari 5, hanya 4 yang punya cerita untuk bisa ditulis ke blog ini (kecuali Nupaaktuk), hanya 3 yang ceritanya dalam/konkrit (minus Jack), hanya 2 yang tau tujuan pribadinya (minus pengelana), dan hanya 1 yang menjadi persona saya yang paling sering di pikiran saya (cuma Astrax).

Intinya… mereka lahir karena saya perlu berbicara dengan diri saya sendiri sewaktu2 ketika saya lelah dengan segalanya di dunia ini yang selalu mengkritik dan bilang apa yang harus saya lakukan.

-AW-

Halo pembaca… selamat malam! Di dini hari yang senyap ini… tiba2 saya mau sharing pengalaman yang baru saja saya lewati.

Begini, pernahkah kalian kelaparan di waktu lewat tengah malam? Mungkin buat anak rumahan, ini adalah hal mudah. Tinggal ke dapur, buka kulkas atau rak dapur… jreng! Makanan pun ditemukan. Buat anak kosan? Ini rumit… kita harus jalan dulu ke warung. Itu pun kalau buka. Buat saya? Lebih rumit lagi…

Makanan adalah hal artistik, gastronomik, esensial buat saya. Saya ga bisa jaim bahkan buat wanita yang sedang saya jatuh hati kepadanya sekalipun. Tapi sejujurnya, saya biasanya bisa menahan jika kondisi saya pada kondisi normal, bahkan bisa juga… ketika saya tidak bisa makan sama sekali, saya tidur. Namun ada kondisi di mana tiba2 badan saya tremor, bergetar… otak saya meminta saya buat makan. Ini repot. Malam ini, lebih repot. Otak saya meminta makanan manis. Lucunya, semua berawal dari ketika saya membuka artikel tentang makanan bernama Sweetbread… hidangan kelenjar timus anak sapi… kemudian saya menyambung ke “Sweetbread A La Gusteau” dari film Ratatouille. Tiba2… otak saya meminta saya makan makanan manis.

Jujur… bukan hal mudah berpikir jam 2 kurang pada dini hari. Logika berpikir, kreativitas abstrak, dan alam bawah sadar mulai berbaur karena ini biasanya adalah momen pas buat tidur. Otak saya berpikir buat jalan ke warung di depan (thanks Yogya yang punya warung makan 24 jam!) dan beli pisang molen. Saya pun keluar dan mengecek keadaan. Merasa semuanya sepi, saya pun ke luar kosan dan jalan.

Di sini lah, kreativitas alam bawah sadar dan rasa ingin tahu saya keluar secara naluriah. Sebagai tambahan, permainan psikis-psikologis pun keluar. Psikis? Yogya adalah tanah kerajaan purba yang sakral, bapak saya mengatakan bahwa tanah di Yogya adalah sakti. Segala bentuk hal2 mistis nampaknya masih cukup kental di sini. Lucunya, malam ini… rasa penasaran saya mengantarkan saya untuk berjalan 200 meter ke mulut jalan di area Karangbendo itu. Alasan? Mencari roti bakar. Otak saya seperti meraung2 minta roti bakar selai nanas. Oke lah, saya jalan…

Sepanjang jalan, saya berusaha keras buat terus berpikir dan membuat kepala saya tidak kosong. Konon, malam2 jalan sendiri… pikiran kosong… bahaya. Oke, saya berusaha konsentrasi soal makanan, dan berusaha membayangkan saya membuat pelindung di sekitar diri saya, saya membayangkan saya membuat pusaran energi pelindung dan saya mensugestikan diri saya: saya lapar, saya mau makan, dan bismillah… ga ada yang ganggu!

Sial, roti bakarnya udah ga jualan! Semua warung tenda udah tutup. Dalam 2 menit, mungkin cuma 1 kendaraan yang lewat di Jalan Agro malam ini. Suhu malam ini dingin, fokus saya mulai pecah… saya kedinginan. Ntah, mungkin saat ini suhunya 23˚C?

Semua baik2 saja denga fokus saya seadanya, cuma… begitu saya melewati area gelap, rasanya ga enak… seperti ada sesuatu yang berusaha masuk ke pikiran saya dan saya merasa ada yang mencoba mengikuti atau mengganggu. Saya fokus, jalan ke depan, agak menunduk… fokus ke makanan… jalan ke arah cahaya.

Ah, akhirnya… tiba juga saya di sebuah minimarket 24 jam, Smile. Saya melihat ada 2 mas2 penjaga nonton TV dengan muka ngantuk dan mereka melihat saya, ntah apa di benak mereka… mungkin mikir, “Ngapain ini orang malem2? Biasanya ini orang nongol siang2 atau pagi” Ya, satu di antara mereka kerap jaga di siang2 dan saya suka mampir ke toko itu.

Saya mencari minuman soda susu di kulkas, saya akhirnya beli Calpico Stroberi. Awalnya saya mau beli sarsaparilla, namun sayang… beda dengan yang saya jumpai di kedai Sate Kuda Gondolayu, ini harganya Rp 15rb. Sial… kemudian saya bingung mau beli apa. Saya mulai ga konsen… dingin… Akhirnya dengan menyimak harga sebisa mungkin, saya beli Happy Tos, keripik jagung. Saya tau rasanya agak manis, dan karbohidratnya bisa menahan saya dari kelaparan lagi. Konyolnya, pas saya bayar… komputer kasir nya nge-lag. Setelah 5 menit an, akhirnya baru saya bisa bayar… Rp 10rb. Oke lah… Yah, tinggal Rp 15rb di kantong buat besok.

Akhirnya saya membuka pintu setelah menghabiskan minuman saya di situ. Dingin…

Pas pulang… ntah kenapa otak saya mulai terkontaminasi rasa takut. Jalan balik lebih terasa gelap… sugesti2 ga bener muncul. Kayak, “Gimana kalo dari kegelapan ini muncul suara atau ada sesuatu yang tiba2 muncul?” Sial… kadang pengetahuan yang banyak itu bisa bahaya di kondisi gini. Apalagi kadang saya suka iseng di TvTropes ngebaca soal Primal Fear/Ketakutan Primer manusia… salah satunya adalah Sudden Sights (kemunculan tiba2) dan Darkness (kegelapan). Brrrr… hei otak… please… fokus! Jangan mikir ginian! Ditambah di sisi gelap jalan saya mulai rada halusinasi… ada kayak bayangan bulat… orb gelap… muter2… saya pun akhirnya jalan menunduk, fokus ke jalan. Serius… rasa takut di kondisi begini adalah bahaya. Konon… memberi dan memancing energi negatif ke sekitar kita…

Sampai akhirnya saya tiba di mulut jalan ke arah kosan. Melihat ada beberapa orang ngumpul… saya pun merasa tenang. Saya pun jalan terus… untunglah cahaya di sini banyak, khususnya karena ada warnet dan warung 24 jam. Beruntung saya memilih kosan di sini dulu. Saya pun mampir ke warung depan kosan saya. Sial… ga ada pisang molen. Akhirnya saya beli Nutrisari rasa mangga, dibungkus… lumayan… Rp 2rb. Lalu saya bergegas ke kamar kosan. Naik tangga… ini juga rasanya gimana gitu… pintu masuk kosan ini gelap… serasa masuk rumah di film2 horror. Untungnya, lantai 2 terang penuh dan saya segera masuk kamar.

Saya membuka minuman dan cemilan saya… menulis tulisan ini… setidaknya tremor saya hilang setelah saya minum dan ngemil ini, plus kamar saya memang hangat.

IMG_4587

Happy Tos dan Nutrisari (feat Aqua)

Memang badan saya aneh… kalo lagi kurang gula…

Pesan moral: Jika perjalanan malam seperti ini demi cemilan harus terjadi pada pembaca sekalian, usahakan bawa HP… saya tadi lupa… kalo perlu pasang lagu di earphone. Pastikan otak fokus dan dalam keadaan sadar. Musik setidaknya bisa menambah kewaspadaan kita (jika lagu yang terpasang juga pas).

Jadi… sekarang… setelah saya menulis… saya mau paksa diri saya buat tidur…

-AW-

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life