Skip navigation

Tag Archives: pengalaman

Mungkin di blog ini, sebelumnya… saya pernah membahas mengenai komunitas ini. Kali ini, saya akan bercerita lebih jelas tentangnya.

XBI Icon

Logo kami. Dibuat dengan sangat berkonsep oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Selama setahun ke belakang, banyak orang bertanya mengenai kami: Siapa sih kami? Apa visi kami? Nope… kami bukan komunitas yang saya bangun untuk menguasai dunia. Ya mungkin itu rencana sampingan (hehehe…) tapi bukan, menguasai dunia SAJA itu bukan agenda kami. Nama kami mungkin di beberapa orang yang mendengar emang agak ambigu. Xenos dalam bahasa Yunani artinya asing, bios artinya kehidupan. Visi awal kami memang berkutat pada pembuatan dan pencarian kehidupan2 yang tidak kita kenal. Tapi sekarang visi kami adalah mencari persepsi2 lain atas fenomena yang terjadi di dunia sains, khususnya biologi. Kita memandang sesuatu dari kacamata positif: Semua itu ada, karena susuatu yang tiada atau fiksional adalah ide yang belum terwujud atau sebenarnya terjadi di lini waktu semesta yang lain. Bingung? Bayangkan seolah semesta itu ga cuma satu. Ada semesta lain di mana api itu dingin, air mengalir ke atas, air itu menyalakan api, manusia itu berasal dari nenek moyang dinosaurus bukan primata, dan lain2. Kita kadang mengkotak2kan imajinasi dengan logika. Maka visi kami yang lain adalah menjembatani keduanya, dan kemudian berbagi ilmu atas “temuan” kami setelah kami “bertapa” di “kotak imajinasi” kami.

“Kalian gila ya?”

Mungkin ya… mungkin ngga. Dari kacamata siapa dulu? Konsep2 kami memang di luar konsep yang sebelumnya dianggap normal. Kami rela dianggap gila, cuma kalian harus tau apa itu gila dan kenapa kami senang dianggap beda.

Oke, saya ga mau cerita teknis atau kampanye. Kalian mau masuk sini? Itu urusan kalian dengan kami (khususnya saya) nanti ya.

Dari Ensiklo ke Xenocerebral ke Xenobiota

Waktu saya berumur 10 tahun, saya sudah merasa sok2an menjadi ilmuwan cilik. Saya sering eksperimen dengan tumbuhan dan saya suka sekali baca buku. Apalagi buku bergambar, saya orangnya visual kinestetika soalnya. Waktu itu saya punya teman2 di kelas 4 SD itu, saya akui… sejak dulu saya punya passion berlebih soal sains, dan saya suka ngebawa teman2 saya ke arah yang sama. Kelas 4, saya dan “geng” saya, hobi menggali tanah di sekolah… buat cari undur2 di pasir (larva dari serangga keluarga Myrmeleontidae) dan berharap menemukan kapak batu jaman Megalithikum di tanah.

axes-stones

Kapak batu (sumber gambar: geology.lnu.edu.ua)

Di ruang belajar saya waktu itu, saya kemudian membayangkan saya bisa menjadi ketua dari negara yang berjalan dengan azas sains yang saya namakan Ensiklo. Karena kemudian saya hidup pindah ke kota2 lain karena bapak urusan kerja, saya pun mengubur mimpi soal Ensiklo, karena dasarnya hanya sayalah yang memegangnya… teman2 saya ntah apapun yang mereka pikirkan tentang ide itu.

Waktu berjalan di masa akhir kuliah S1… saya memasang pseudonim diri saya, Xenocerebral. Entah, menulis nama dengan huruf X itu rasanya… keren! Akhirnya pseudonim ini menjadi “alter ego” saya di dunia maya. Nama itu sendiri artinya “otak yang asing”. Sekali lagi, saya suka dengan sains… apalagi sesuatu yang ga konvensional, ga umum. Lantas saya suka xenobiologi, dan astrobiologi.

Kemudian saya S2. Ide berawal dari bagaimana anak2 di biologi UGM di Yogya dengan kreatifnya membangun komunitas sains bernama SynBio UGM. Saya merasa… membangun komunitas di Yogya itu adalah ide bagus karena atmosfernya sangat ramah dan kondusif untuk berkumpul. Menumpang eksis dengan bantuan acara SynBio waktu itu, saya pun memperkenalkan konsep komunitas ini. Awalnya saya menyebut “Project Xenocerebral: Xenobiota”. Sounds badass, eh? Selesai saya bahas ide di depan bocah2 biologi UGM ini akhir tahun 2014, kami pun mengadakan kumpul perdana.

Untitled-1

Poster buat ngumpul. Masih pake logo Xenocerebral.

Dengan mimpi dan ide2, yang kadang anak2 ini pun masih rada bingung, sebelum presentasi SynBio UGM, saya nekat membuat grup dan setelah presentasi saya mengundang anak2 mahasiswa ini. Mereka yang awal di grup… ada Arfan (Biologi UB Malang 2012), Putri (Budidaya Pertanian UGM 2011), Agha (alumni Biologi UI 2008)… adalah mereka yang saya percaya berpotensi sebagai pemegang inti dari komunitas ini karena… Arfan, saya tau dia suka ide2 gila, Putri, dia saya anggap adik sendiri dan murid sendiri… saya banyak menanamkan ilmu ke kepala dia, dan Agha, dia adalah biang dari ilmu2 aneh di kepala saya, mulai dari biologi spekulatif sampai astrobiologi dari sejak saya lulus SMU. Setelah saya umumkan, mereka datang satu per satu ke grup sebelum grup ini saya jadikan grup tertutup… Ghea (Biologi UGM 2012), Nana (Biologi UGM 2012), Sahal (Biologi UGM 2013), Annisa Resa, Iim, Elory, Ahmad (Biologi UGM 2014). Dengan juga saya masukkan Sanka dan Nuha (Biologi UGM 2010) ke dalamnya biar rame…

Maka dengan segala casciscus yang saya keluarkan hari itu… tanggal 20 Februari 2015, Xenobiota pun lahir!

Soal logo… konsep gabungan DNA organik dan DNA sintetik itupun dirancang oleh Iman, kami pun sepakat menjadikannya logo yang kami banggakan. Oh iya, ga lama setelah kami berdiri… 1 anak dari jurusan Elektronika dan Instrumen angkatan 2013, Jaler… pun masuk. Dia satu2nya “gadgeteer” di komunitas ini.

Perjalanan Dimulai

Awalnya, kami hanyalah penebar konsep. Bahasan di dalam grup ga lebih dari sharing paper2 berbau astrobiologi, xenobiologi molekuler (tentang XNA dan asam nukleat ortogonal lainnya), biologi spekulatif, dan semacamnya. Saya ingat betul, hanya beberapa orang2 ini yang merespons, namun saya pada mereka yang secara rutin nongol buat komentar maupun cuma nge-like. Sistem kami waktu itu adalah “institusi bawah tanah” (apa coba) yah… anggap aja semacam “mock” dari Area 51. Maka secara konsep, tempat di mana kami berkumpul dan membahas ide2 gila, kami menamainya “Xenobiota Institute”. Namun istilah itu kami simpan hanya untuk kami, kenapa? Takut dianggap institusi ilegal dan ntar bayar ini itu, sama kedua… kepanjangan!

Capek dengan ngomongin konsep melulu… saya pun memutar otak. Saya mengundang mereka ke lab saya ketika saya mengerjakan tesis… waktu itu saya kemudian mengajarkan “workshop kilat” cara ekstraksi RNA, pembuatan cDNA, dan reaksi berantai polimerase (EN: Polymerase Chain Reaction, PCR). Ternyata seru! Ngeliat mereka2 ini senang, bisa mendapatkan ilmu baru, dan menyusup ke lab Pemuliaan Tanaman dan Genetika FAPERTA UGM di hari Sabtu itu sangat seru! Rasa puas ditambah… karena TIDAK semua orang di sini mendapatkan kesempatan bermain di lab untuk ekstraksi RNA. Alasan? Mahal! Saya kemudian merasa pendanaan pendidikan di universitas2 di Indonesia itu ga rata banget. Ketika di suatu institusi proyek sangat kencang, mendirikan iGEM adalah hal mudah, di sisi lain… jangankan menyentuh konsep biologi sintetika, ekstraksi gen aja adalah pekerjaan yang wah buat beberapa kalangan! Di UGM ini, ekstraksi RNA adalah kerjaan lab yang cukup elit… bahkan buat saya. Di ITB pas S1, ekstraksi RNA itu udah bagian dari praktikum rutin! Di sini… kerasa, ngekstrak 1 sampel itu saya harus merogoh kocek Rp 150 ribu… 50 untuk ekstrak RNA, 100 untuk pembuatan cDNA dengan enzim transkriptase balik. Tapi bersyukur, ilmu2 dari ITB itu bisa saya bawa ke sini… saya pun jadi suka pas ke ITB mengambil bahan2 kuliah dari dosen dan membagikannya ke anak2 Xeno (red: Xenobiota… biar gampang nyebutnya). Saya sebut, Protokol Prometheus. Dari Titan/Dewa Primordia Yunani yang membagikan api pengetahuan ke manusia pertama.

Lagi… saya senang melihat mereka tersenyum…

IMG_2813

Yeah… dengan ekstra duckface dari Elory…

Awalnya, saya agak pusing ketika dosen pembimbing saya menambahkan saya kerjaan buat ekstrak RNA… awalnya saya kesal kenapa ketika saya lulus ITB, biologi sintetika masuk di sana… awalnya saya bingung, kenapa biologi sintetika itu HARUS jadi iGEM…

Ternyata… everything leads to some reasons… including why I am standing here

IMG_3088

Kita pun makin rame…

Dengan “sok2an” mendirikan divisi yang kami sebut departemen yang terbagi jadi (dengan bahasa yang lebih manusiawi) biologi molekuler (kode: MXSB), bioteknologi dan postbiology sibernetika (ABPB), astrobiologi dan biologi antariksa (ABSB), biologi spekulatif (AXSB), dan proyek rahasia/kerjaan sektor X kami (MTTM), kami mulai berjalan dengan melakukan riset sederhana dengan bahan2 seadanya/konsep DIY (Do-It-Yourself) science dan biohacking (ngotak-atik materi biologi dengan bahan seadanya dan lab secukupnya… agak life hack untuk biologi). Personel kita bertambah 2 orang yang punya kekuatan ilmu yang unik, astrobiologi, bidang yang ga semua orang punya di UGM… mereka adalah Bintang dan Tius (Biologi UGM 2013). Dunia kami pun semakin luas dengan Misbah (Biologi ITS 2012) bergabung, dan Rifa (Neurosains Surya University 2014) juga bergabung. Sayangnya, hingga tulisan ini saya terbitkan, kami belum sempat banyak membuat proyek. Karena kami agak kesulitan gerak di luar UGM.

Saat itu… semua keran ide dibuka selebar2nya… lebih lebar dari mulut saya ketika makan Quad Burger (burger dengan 4 daging)… (apa sih Dit). Saking ngalirnya… khususnya dengan tuntutan buat batere tanah dari Sahal dan Ghifi (Mikro Pertanian UGM 2011) dan Arfan yang mulai ngasih ide terus tapi ga tau mau gimana mulainya… saya mulai garuk2 kepala. Ini juga yang kemudian ngebuat saya agak nutup diri beberapa jam dari Arfan. It’s likeI want to escape for a while… and can we talk ANYTHING but this first? I need a break.

Saya tau… akhirnya saya pun berusaha jalan pelan2…

Akhirnya proyek pertama kami… batere tanah (Soil Battery) yang berbasis sel bahan bakar mikrobia pun berjalan. Bagannya cuma tanah sawah yang gelap dan hangat (jangan tertukar sama kotoran sapi yang masih segar ya), pelat tembaga, pelat seng, toples, dan kabel. Oh ya… multimeter untuk mengukur. Konsepnya adalah pemanfaatan aliran elektron akibat reaksi redoks yang dilakukan mikroba tanah dan menjadi sumber listrik. Di jurnal, hanya 700 mV listrik yang dihasilkan…

Kami berhasil menghasilkan 1 V!! Cuma dari tanah! Mau liat bahasan lengkapnya, klik sini.

IMG_3206

Sedang dirakit…

Proyek kedua… ekstraksi DNA skala lab itu adalah kerjaan yang lumayan mahal! Bahkan dengan penggunaan protokol CTAB aja, saya menghabiskan Rp 50rb per sampel… sementara untuk tesis saya habis juga untuk proses trial and error sampai 80an sampel! Hampir di beberapa universitas yang mengajarkan biologi, ada protokol standar untuk ekstraksi DNA: Menggunakan sabun… iya, sabun! Tapi awalnya pertanyaan kami, terus gimana? Bisa ga hasil ekstraksi dengan sabun ini dipakai buat PCR? Karena kalau iya… ini bakal murah banget!

IMG_3822

Hasil ekstraksi DNA dari biji jagung… klik untuk memperbesar, itu yang putih2 itu adalah pita2 DNA yang terkompresi.

Ternyata jawabannya: BISA!

Waktu itu awalnya yang mengerjakan adalah saya, Ghea, Resa, Nana, Eka, percobaan pertama gagal… hal ini terjadi akibat inhibisi alkohol pada proses enzimatik ketika PCR. Akhirnya besoknya, saya mengulang prosedurnya… melibatkan pengeringan dan juga pemanasan yang tujuannya merusak adanya DNA nuklease/DNAse yang bisa saja ada pada suhu tinggi. Kemudian saya menambahkan satu bahan lagi… yang ternyata mahal… DNA hexamer primer.

Secara logika, jika heksamer ditambah, harusnya ada kemungkinan heksamer menempel secara acak dan membantu penggandaan/penyalinan DNA ketika PCR. Dengan primer STS ZmSh1 (Zea mays Shrunken1 – Gen pengkode enzim pada proses biosintesis sukrosa-pati, sukrosa sintase), ternyata kami dapat DNA nya dan bisa di PCR-kan!

11659347_1458154301169943_2677078233065035844_n

Ada pitanya lah ya… dan di DNA mentah, ternyata tanpa pemanasan… DNA jadi lebih pendek, diduga kena DNAse. Prosedurnya? Klik sini.

Bravo! Inilah tim kami…

IMG_3828

Abaikan yang depan…

Selama kerja… saya banyak memutar otak (buat nyari ide2 alternatif dan tambahan) bareng Ghea. Kami pengen, hanya dengan bahan2 seadanya dan pengerjaan singkat ini, kami bisa dapat banyak hal. Ekstrimnya dalam pengerjaan ini, kami bertapa di hari Sabtu di lab… sampai di taraf kami berdua kena omel Mbak Mus yang mau pakai mesin PCR. Yah, itu suatu cerita 🙂

Kemudian, penelitian DNA ini pun disempurnakan lagi datanya oleh Putri yang mencoba dengan variasi2 sabun, mulai sabun mandi, shampo, sampe sabun pel… protokolnya mirip, dan hasil bisa dilihat di sini.

Sebenarnya apa sih tujuan akhirnya? Kami ingin… kita bisa mengambil DNA dan memanipulasinya di manapun kita berada dengan cara yang mudah. Kalau perlu suatu saat kita bisa rekayasa genetika tanpa harus di lab atau kalo perlu bermain biologi sintetika. Ide ini… saya sebut “Gene Sorcery Protocol”.

Lalu… kami punya maskot baru: BAWANG bernama Onionie dengan nama akrab Dr. Onie.

XB - Happy Ied Mubarak

Versi Idul Fitri!

Kenapa bawang? Karena bawang berlapis2… seolah menyimpan rahasia. Awalnya ide ini gara2 saya sama Ghea sering ngomongin Deep Web yang menggunakan domain .onion yang hanya bisa dibuka dengan Tor. Kami berdua menduga bahwa ada informasi2 psycho atau gila tersembunyi di sana karena Deep Web identik dengan transaksi ilegal, organisasi kriminal, dan lain2… bahkan mungkin, ada konspirasi tersimpan di dalamnya. Sejaun ini sih… ternyata Deep Web cuma tempat pedofil ngumpul dan web nya banyak yang mati. Jadi… yah… krik2… Cuma, kami pun tetap mengidolakan bawang!

Hingga terpikir, buat kami membayangkan jika… kita mengambil listrik dari sumber makhluk hidup, tanpa membunuhnya… konsep ini diasumsikan menyempurnakan batere kentang dan lemon. Untuk itu, kami menggunakan: BAWANG! Kenapa? Bawang berlapis2, asumsinya dia akan cukup terpartisi sehingga jika 1 bagian dilukai, yang lain akan tetap hidup.

IMG_4178

3 bawang dalam rangkaian seri… 542 milivolt, lumayan!

20150728133318

…dan yang paling penting, bawangnya tumbuh!

Kami pun berpikir lebih jauh…

86551

Kami coba di talas…

11950303_10204753184821362_1137679172696712835_o

…di batang singkong…

105960

…pohon…

IMG_5403

…pohon di kuburan…

IMG_5404

…dan pohon yang dianggap keramat (di sini pohon beringin).

Apa yang kita inginkan?

  1. Cukup dengan kutipan kata “Sayang sekali pohon tidak menghasilkan wifi, hanya oksigen”. Ya benar, terus kita ga ngapa2in? Proyek bioelektrik ini bertujuan biar bagaimana kita mengambil listrik dari tumbuhan, sehingga nanti kita bisa pakai dari sumber ini untuk wifi, charger gadget, sampai lampu atau alat2 lain! Ini adalah bahan murah!
  2. Kenapa dengan kuburan dan pohon keramat? Pohon yang dikeramatkan diasumsikan memiliki “energi lebih besar”, secara hipotetikal pun mereka tidak ada yang berani ganggu… maka bagaimana mereka tumbuh dan menyerap nutrisi mereka akan optimal, asumsinya… listriknya akan lebih besar yang didapat. Ternyata sama juga sih sama pohon di luar kuburan.

Untuk proyek listrik ini, saya berterima kasih banget sama Jaler, Sahal, dan Ghifi (untuk yang batere tanah). Tanpa mereka, ide2 gila ini ga bakal jalan!

Suatu ketika, saya juga mulai berpikir untuk memperkenalkan tentang astronomi dan astrobiologi ke mereka. Dengan bantuan Bintang, malam itu ada Jaler, Ahmad, dan Ghea juga, kami belajar bagaimana mengetahui posisi mata angin dengan melihat bintang, identifikasi bintang umum dan konstelasi di langit, kemudian barulah saya ajarkan soal eksoplanet atau planet2 di luar tata surya, DAN kemungkinan ada tidaknya kehidupan di sana dengan kajian astrobiologi. Cukup “romantis” karena malam minggu kami semua menatap langit yang sama… *tsaaah*

Kemudian kompleksitas komunitas ini bertambah dengan masuknya guru (muda) saya yang mengajarkan saya Bahasa Jepang dan konsep semiotika bahasa, Rizki Mustafa Arisun (Sastra Jepang S2 UI 2012). Lengkap deh segala bahan2 kegilaan di sini!

Setelah 1 semester berkarya, kemudian kami memutuskan untuk “tur” ke 2 kota. Pertama: Makassar. Kampung halaman Ghea, Arfan, dan Ahmad. Kebetulan Arfan dan Ghea lagi pulang, saya ajak mereka ke Universitas Hasanudin.

IMG_4500

Lagi… abaikan yang depan…

Kami bertemu 4 mahasiswi dari sana dan kami sharing apa yang kami dapatkan. Ternyata di UNHAS mereka baru merintis perkembangan biologi molekuler. Kami juga bertemu Ibu Zaraswati Dwyana dan ngobrol2, serta kami berkata kalau kami diminta untuk mengajar atau sharing ilmu2 ini, kami siap.

Sebulan kemudian saya lulus S2.

Sebulan setelahnya… saya ke Bengkulu, ke tanah Rafflesia. Saya bertemu 3 anak Rekayasa Kehutanan SITH-R ITB 2012 dan 2013 yang 2 tertarik dengan Xenobiota, mereka adalah Reza, Shandy, dan Wahyu… berempat, kami ikut simposium internasional!

IMG_0649

Dari kiri: Wahyu, Reza, saya, Shandy.

IMG_0703

Saya, Reza, Wahyu, Shandy. Momen di mana saya seolah jadi dosen.

Di sini, kami berburu informasi mengenai puspa langka Indonesia: Rafflesia, hingga kami menemui para ahli Rafflesia: Bu Sofi Mursidawati, Pak Agus Susatya, Pak Edhi Sandra, dan Pak Jamili Nais. Alhamdulillah, di waktu yang sama… publikasi saya tentang Rafflesia pun TERBIT! Ini akan menjadi awal perkembangan bioteknologi Rafflesia yang sangat saya ingin mulai di Indonesia! Cuma yah, saya belum sempat bertemu lagi dengan mereka bertiga di Bandung/Jatinangor dan berbicara tentang ide2 gila seperti sama mereka yang di Yogya.

Perjalanan kami mencapai puncak pertama ketika kami bertemu dengan seorang MVP dari Hackteria Swiss, Dr. Marc R. Dusseiller yang bersamaan, kami nimbrung di acara yang dibuat oleh Bio-Faction, Austria di bawah Dr. Markus Schmidt (yap… orang yang di artikel2 sebelumnya saya sering sebut karena menjadi penulis ide tentang biologi sintetika dan xenobiologi serta XNA) dan koordinasi dengan Asisten Profesor dari NUS, Dr. Denisa Kera, acara itu… BIO-FICTION. Saya berbagi hasil2 penelitian kami mulai dari yang kami benar2 lakukan… hingga spekulatif…

XBI - AXSB - Aerohydrozoan XBI - AXSB - Zephyrophyta

Aerobiota adalah konsep jika di Jupiter ada kehidupan yang terbang, dan Zephyrophyta adalah konsep tumbuhan Kinetoautotrof.

Kemudian kami juga nonton pagelaran film pendek berisi konsep2 sains dan seni yang diputar di Vienna tahun 2014 lalu.

12036503_10207963089341884_9035770172877409003_n

Kerjasama dengan Hackteria Swiss, SynBio UGM, Permahami, dan BioArtNergy UGM.

“It’s just the very first page, not where the storyline ends” – Taylor Swift, lagu “Enchanted” di album “Speak Now”

Saya kehabisan kata2, karena tanpa dirasa… mereka telah menjadi bagian perjalanan saya di Yogya. Awalnya, saya semua serba sendiri dan berbicara sama teman2 S2, semua rasanya beda karena kita sama dewasa dan bahkan ada yang lebih dewasa dari saya. Sering saya pulang ke Jakarta karena kangen rumah. Setelah ketemu mereka, saya merasa nyaman di Yogya karena saya ngerasa punya orang2 yang begitu dekat dengan perjalanan hidup saya.

11391628_10153354406657154_3433753271932713027_n

Ketika saya seminar hasil tesis… Ghea dan Jaler pun dateng…

11800559_10153487524757154_3269875455344985594_n

Pas saya wisuda, Sahal dan Jaler pun dateng (lagi).

Saya bakal pergi buat S3 di Finlandia, mungkin saya meniggalkan mereka2 ini. Orang2 pada mikir, saya pergi… mereka gimana? Nggak… kami ga pecah. Buat saya, Xenobiota itu bukan cuma komunitas, tapi keluarga. Mereka berhasil memberikan sesuatu yang membuat saya merasa sangat dekat dengan mereka hingga saat ini. Dari Xenobiota komunitas GAMA Biosintetika di bawah Sahal pun lahir, dan koordinasi kami dengan UB, ITS, dan ITB pun masih baru dimulai.

Namun gimana kalau suatu saat setelah saya pergi pergerakan kami berhenti? Protokol Kapsul Bakteria. Saya akan membuat sistem inti tetap ada, komunikasi tetap ada, mau ada anggota baru… saya tahan kecuali mereka rela jadi spektator atau mau memberikan sumbangan ide dan mau melakukannya. Saya sendiri membuat mereka… angkatan pertama Xenobiota sebagai benih2, yang saya harap akan tumbuh ke manapun mereka akan pergi nantinya setelah lulus. Kami akan tetap membangun jaringan dari satu tempat ke tempat lain, satu institusi ke institusi lain. Kami ingin belajar ilmu yang saat ini kami hanya mendengarnya sayup2 dari berita dan buku.

Buat saya…

Dari Xenobiota, saya mendapatkan mereka yang saya anggap keluarga. Mereka yang saya anggap adik. Dan mereka yang saya anggap dekat.

Untuk kalian…

Biar saya pergi, tolong bawa nama Xenobiota sebagai atribut kalian. Saya ingin ketika kalian berhasil S2 ke luar negeri atau suatu saat jadi pendidik di daerah2, saya bisa menengok kalian dan kita berkolaborasi lagi dengan penelitian lebih seru lagi. Mimpi saya adalah melihat kalian berdiri sebagai orang2 yang penting dan berkontribusi untuk kemajuan sains dan seni di Indonesia dan dunia, menjadi orang yang membuka mata atas kemurnian sains, dan menjadi orang yang selalu menumbuhkan bibit rasa keingintahuan pada generasi selanjutnya. Doa saya, kalian bisa lanjut pendidikan kalian setinggi2nya, dan yuk… kita ketemu bareng di puncak dunia dan jadi inspirator… 🙂

-AW-

Iklan

Pagi ini… tepat di umur 24 tahun 11 bulan ini (yak sebulan lagi!). Saya tiba2 pengen berbagi buat yang bertanya ke saya,

“Dit, apa mimpi yang sekaligus cita2 terbesar lo sebagai ilmuwan atau yah… calon profesor nantinya?”

Ada 12… mungkin ini aneh karena angkanya kebetulan sama dengan “Twelve Labours of Hercules“, yak… ini kurang lebih…

1. Ingin menanam di luar angkasa dan tanah selain bumi.

1

Bersamaan dengan didengungkannya rencana SPX 2020 oleh NASA yang pada 2 bulan lalu masih merupakan proposal penelitian, saya sejujurnya ingin mencari kesempatan untuk bisa bergabung dengan mereka di rencana MPX (Mars Plant Experimentation) dan LPX (Lunar Plant Experimentation). Untuk itu saya saat ini masih membuat paper bersama seorang dosen saya yang memiliki keahlian di bidang astronomi, sebelum saya mencoba lebih lanjut mengontak NASA (harapannya kejelasan keberterimaan proposal penelitian mereka ke markas pusat NASA udah dalam kondisi diterima. Emang subjek mereka apa? Tanaman Arabidopsis thaliana dengan tolak ukur perubahan CO2. Tapi sejujurnya, saya seminimal2nya pengen menaruh tanaman saya (ntah biji atau kultur jaringan) di ISS (International Space Station). Atas majunya perkembangan usaha saya ini, saya sejujurnya mau bilang makasih sedalam2nya pada Nita yang ngedukung saya terus.

2. Ingin melakukan modifikasi pada protokol standar kultur jaringan tanaman sehingga kita bisa melakukannya dengan efisien dan bisa di mana saja.

2

Ide ini sudah saya pikirkan sejak tahun 2013 lalu dan baru menghangat lagi setelah saya bertemu Pak Kris. Begini, kalian ada yang nonton Doraemon? Kalian pernah lihat yang bagaimana Doraemon mengeluarkan alat berbentuk tabung terbuka, dia ambil 1 sampel tanaman (daun atau apapun) begitu aja, dimasukin ke tabung, boom! Tanaman identik pun tumbuh. Kontras dengan teknologi saat ini yang kita masih ambil sampel tanaman, bawa ke lab, nyalakan laminar, siapkan bahan, inisiasi secara steril, subkultur 3x, aklimatisasi, baru jadi. Lama oy! Ya, saya tau semuanya butuh proses. Tapi kenapa sejauh ini belum ada yang menemukan cara agar metode ini bisa diperingkas? Ketika saya bertemu dosen2 tertentu, mereka sibuk ke pengembangan sampelnya, bukan ke metodenya. Pola pikir konvergen, bukan divergen. Mimpi saya, nanti anak cucu kita ga perlu repot2 ke lab, cukup petik, tanam, tumbuh.

3. Ingin melakukan mikropropagasi pada tanaman RafflesiaRhizanthes, dan Sapria yang konon masih belum bisa dilakukan.

3

Kultivasi tanaman satu ini merupakan tantangan. Saya belum pernah usaha kultivasi tanaman holoparasit lain selain Cuscuta atau tali putri (Švubová & Blehová, 2013). Dengan telah dijelaskan sebelumnya bahwa telah dilakukan usaha kultur jaringan baik oleh Dra. Sofi Mursidawati (LIPI) dan Dr. Lazarus Agus Sukamto (LIPI) (Sukamto, 2001), hingga saya sendiri (Wicaksono, 2013) tapi seluruhnya berakhir dengan kematian sampel pasca pencoklatan. Saya yakin, kayaknya masih ada cara yang belum dilakukan.

4. Ingin merekayasa tanaman yang bisa tumbuh lebih cepat daripada aslinya.

4

Semua berawal dari ide adek kelas saya, Athena Syarifa atau yang dipanggil Rifa. Dia, di satu sesi kumpul pada tahun 2012 di ekstrakurikuler SMU saya, Al-Izhar Science Community (ASC), saya bertanya kepada yang lain dan jawaban dia lah yang paling konkrit dan membuat saya dapet ide. Akhirnya, dengan izin Rifa, saya pun berniat ngebawa ini ke penelitian saya nantinya (salah satu proposal S3 saya) dan ini adalah paper yang tanggal 10 Juli 2014 besok akan saya persembahkan kepada Dr. Ir. Widodo Hadisaputro sebagai makalah penelitian yang menjadi nilai ujian akhir saya. Jadi, thanks ya Fa… wish me luck!

Tapi tunggu, emang bisa? Saya nemu 2 paper menarik yaitu pada metode transgenik over-ekspresi dengan set gen AtAHA2 (fokus ke protein sintesis molekul energi, ATP), AtPHOT2 (protein Phototropin 2 yang merespon cahaya), AtKAT1 (protein saluran ion K+), AtAKT1 (protein transporter K+) (Wang, et al. 2014), dan pengurangan ekspresi enzim Ribulosa Bifosfat Karboksilase/Oksigenase (RuBisCO) untuk efisiensi pengikatan substrat CO2 yang berlimpah (biar ga rebutan) dengan metode antisens yang membuat terjadinya pembungkaman gen (Hudson, et al. 1992).

5. Ingin mempelajari apakah tanaman bisa benar2 memiliki pola bahasa non-verbal dan peradabannya sendiri.

5

Inspirasi ide ini didapat dari sang guru saya yang gila, Rizki Musthafa Arisun. Tapi kalian kepikiran ga? Bahwa di balik diamnya tanaman, bukan berarti mereka bisu kan? Mereka memiliki pola sistem yang beranalogi sistem saraf dengan auksin sebagai neurotransmitternya, jaringan vaskuler sebagai neuronnya, bagian anterior hewan teranalogi di bagian basal tanaman dan posterior di bagian apikal, kerennya lagi juga menurut Baluska, et al. (2006), otak tanaman adalah di akar. Akar memiliki intelenjensia yang menentukan ke mana tanaman harus “bergerak” mencari nutrisi. Tambahan, tanaman itu bisa “menjerit minta tolong” saat ada herbivora (Dicke & Baldwin, 2010) dan bahkan ternyata bisa memancing karnivora predator untuk menyerang herbivora, serta “bilang” ke tanaman lain yang masih aman buat siap2 produksi metabolit sekunder (Dicke, et al. 2003).

Tanaman dengan bahasa kimiawi alias non verbal ini, ternyata memiliki bahasa kompleks dalam komunitasnya. Mungkin, seperti di film Kamen Rider Gaim, di mana hutan Helheim bisa berusaha memanipulasi organisme yang lebih tinggi untuk proses penyebaran dan berperang buat mereka, hal itu bukan hal yang baru jika tanaman sudah beradaptasi sekian lama.

6. Ingin mengimplementasi nukleotida sintetik ke tanaman untuk produksi protein baru.

6

Tahun ini, kita digemparkan dengan penggunaan 2 nukleotida selain Adenin, Guanin, Timin, dan Sitosin, yaitu d5SICS (X) yang berpasangan dengan dNaM (Y) dan berhasil diterapkan pada Escherichia coli (Malyshev, et al. 2014). Mimpi saya, karena kita tahu bahwa tanaman adalah organisme pabrik raksasa, kita seharusnya bisa mengimplementasi sintesis protein non esensial yang kita perlukan dengan menaruh kode2 tambahan itu di tanaman atau mempelajari apa yang bisa dilakukan dengan penambahan kode basa nukleat tersebut.

7. Ingin mengeprint 3D tanaman yang berfungsi penuh.

7

Ide ini muncul udah lama dan diperhangat dengan diskusi di jaringan sosial, Quora, dengan Vikas Kukreja, mahasiswa bioteknologi dari Velore Institute of Technology, India. Terbayangkah kalian mencetak 3D tanaman kalian sendiri, dari sebuah gambar yang kalian inginkan, cetak, aktivasi, dan tanaman yang dicetak/print benar2 tumbuh? Keren ya kalo berhasil. Masalah yang perlu saya kejar adalah bagaimana perubahan wujud sel ketika diferensiasi tanaman yang perlu dipelajari (karena pada hewan udah jelas, proses dari totipotensi, ke pluripotensi, ke multipotensi, ke yang sangat spesifik… unipotensi, pada tanaman? semua sel adalah totipotensi kecuali sel2 mati pada xylem dan sklerenkim dan bisa berdediferensiasi kapan saja ketika diinduksi hormon tanaman sebagaimana riset oleh para pendahulu kultur jaringan, Murashige dan Skoog (1962). Yang lainnya, apakah efek penyusunan secara vertikal-multilapisan pada sel tanaman, apakah memiliki dampak? Ini perlu diteliti.

8. Ingin menanam jamur konsumsi yang mikoriza untuk tujuan produksi massal yang terkontrol.

8

Kalian tahu jamur matsutake (Tricoloma matsutake), jamur kantarel yang wangi aprikot (Cantharellus cibarius) dan truffle (Tuber spp)? Kenapa jamur2 mikoriza ini sampai sekarang ga bisa diproduksi massal ga seperti jamur tiram, merang, kuping, dll yang bisa booming kapan aja? Coba dipikir…

9. Ingin mempelajari kelebihan2 yang ada pada varietas tanaman atau jamur di dunia yang memiliki predikat sebagai bahan makanan termahal di dunia sehingga bisa diterapkan ke organisme konsumsi lain.

9

Kalian tahu kentang varietas La Bonnotte dari Perancis yang tumbuh pada lahan bersalinitas tinggi yang bahkan dipupuk dengan rumput laut yang konon rasanya sangat gurih dan per kilogramnya lebih dari 20 Euro? Kalian tau Melon Yubari, Semangka Densuke, Mangga Ooma? Varietas2 ini memiliki kehebatan, ntah mulai dari kemampuan tumbuh natural yang unik, dan pola perlakuan tanam yang beda, sehingga bisa dihargai lebih dari Rp 500rb per buah. Kalau ini bisa dipelajari dan diterapkan, kita bisa melakukan perbaikan tanam pada tanaman pangan lainnya, atau mencoba menanam varietas2 mahal itu sendiri!

10. Ingin menciptakan organisme baru dengan biologi sintetik.

10

Mimpi tergila saya yang rada play God. Menguasai kode genetika, biologi sintetika, xenobiologi, nilai2 estetika seni, kita bisa menciptakan makhluk hidup jenis baru dari nol!

11. Ingin mempelajari teknologi omika berbasis biologi sintetik dan xenobiologi.

11

Dengan terekstensinya basa nukleotida jadi 6 dan 160 potensi protein menjadi terbuka, ilmu genomika, transkriptomika, proteomika, hingga metabolomika pasti akan berubah. Saya penasaran bagaimana kode2 itu satu persatu terbuka menjadi asam2 amino baru yang ditranslasikan.

12. Ingin membalikkan proses translasi dari protein ke RNA.

12

Membaca jurnal oleh Nashimoto (2001), saya jadi penasaran: Bagaimana akhir penyempurnaan Dogma Sentral yang hanya tinggal pembalikan protein ke kode genetis saja? Saya berharap bisa berkontribusi dalam upaya satu ini. Karena bayangkan! Kalian berhasil membuat protein baru dengan metode pemotongan gen, penambahan gen, bagaimana kalau setelah jadi protein kita balikkan saja ke kode nukleotida, dan kita simpan. Kita bisa memproduksi tanpa harus melakukan pemotongan dan penambahan lagi! Efisien!

Terlepas dari 12 ini, ada beberapa yang minor… ada keinginan saya untuk membandingkan penggunaan iradiasi gamma dengan penggunaan sinar dari akselerator partikel untuk melihat perbedaan mutasi pada tanaman dan dampaknya, dan juga ada keinginan saya untuk menggunakan tanaman untuk mengekstrak logam mulia dari tanah. Penelitian2 ini sifatnya minor dan kalau kalian baca dan larinya ga lebih dari keisengan saya yang diakibatkan dari ketertarikan saya ke teori2 fisika partikel dan fitoekstraksi.

Ide2 yang gila ya? Ideal ya? Ya! Cuma saya percaya bisa ngelakuin ini semua, baik oleh saya sendiri, satu tim kolega saya, anak2 didik2 saya, sampai mungkin keturunan2 saya. Orang2 yang dengar mimpi ini cuma mangap, senyum, atau ketawa. Saya jadi inget kata teman saya, Putra, pas kumpul Couchsurfing Yogya kemarin:

“Kejar mimpi lo walau itu gila! Tau kapan mimpi lo dianggap gila? Itu adalah pas orang2 di sekitar lo ngetawain mimpi lo pas lo cerita. Tapi jangan peduliin! Keep going!”

Mimpi dan cita2 kita adalah punya kita, batas antara kita bisa atau tidak bukan ada di bisa atau tidaknya, tapi mau atau tidaknya kita bergerak dan mengusahakannya setiap hari hingga itu tercapai!

-AW-

—-

Referensi

Dicke, M. A.A. Agrawal, J. Bruin (2003). Plants talk, but are they deaf? Trends in Plant Science 8(9): 403-405.

Dicke, M., I.T. Baldwin (2010). The evolutionary context for herbivore-induced plant volatiles: beyond the ‘cry for help’. Trends in Plant Science 15(3): 167-175.

Hudson, G.S., J.R. Evans, S. von Caemmerer, Y.B.C. Arvidsson, T.J. Andrews (1992). Reduction of Ribulose-1,5-Biphosphate Carboxylase/Oxygenase Content by Antisense RNA Reduces Photosynthesis in Tobacco Plants. Plant Physiology 98: 294-302.

Malyshev, D.A., K. Dhami, T. Lavergne, T. Chen, N. Dai, J.M. Foster, I.R. Corrêa Jr, F.E. Romesberg (2014). A semi-synthetic organism with an expanded genetic alphabet. Nature 509(7500): 385-388.

Murashige, T., F.K. Skoog (1962). A revised medium for rapid growth and bio assays with tobacco tissue cultures. Physiologia Plantarum 15(3): 473-397.

Nashimoto, M. (2001). The RNA/Protein Symmetry Hypothesis: Experimental Support for Reverse Translation of Primitive Proteins. Journal of Theoretical Biology 209(2): 181-187.

Sukamto, L.A. (2001). Upaya Menumbuhkan Rafflesia arnoldii Secara In-Vitro. Prosiding Seminar Nasional Puspa Langka Indonesia p: 31-34.

Švubová, R., A. Blehová (2013). Stable transformation and actin visualization in callus cultures of dodder (Cuscuta europaea). Biologia g8(4): 633-640.

Wang, Y., K. Noguchi, N. Ono, S. Inoue, I. Terashima, T. Kinoshita (2014). Overexpression of plasma membrane H+-ATPase in guard cell promotes light-induced stomatal opening and enhances plant growth. Proceeding of The National Academy of Sciences 111(1): 533-538.

Wicaksono, A. (2013). Observation of Tissue Culture of Young Holoparasitic Rafflesia patma Knob In Activated Carbon Added Murashige-Skoog Medium. Scribd Document.

Halo pembaca! Berhubung nanti malam kita memasuki tanggal 1 Ramadhan 1435 H, saya ingin mengucapkan mohon maaf atas kesalahan baik dalam kata2 ataupun lisan yang pernah terucap, semoga amal ibadah puasa kita yang merayakan bulan suci ini diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan baik. Aamiin…

Kali ini, cerita saya lebih ke tentang sebuah restoran berbasis pesan antar (delivery) di Bandung, yang saat ini sudah tidak ada. Masih ada kaitannya dengan bulan suci, resto satu ini meninggalkan banyak kesan untuk saya.

Pertama2, buat kalian… mahasiswa-mahasiswi, bagaimana persiapan puasa kalian dalam sisi material (maksudnya bahan pangan)? Apakah selama bulan Ramadhan ini kalian pesan katering rutin yang akan mengantarkan tiap sahur, apakah kalian memang suka jalan2 pas sahur sehingga kalian udah punya spot langganan atau restoran yang dituju, apakah kalian suka masak, atau… kalian jarang sahur? Apapun itu, saya yakin di tiap diri kalian yang kuliah di se-antero tanah air khususnya pasti punya cerita soal itu.

Termasuk saya… kisah makan sahur saya selama 4 tahun di masa kuliah S1 saya beda2 dulu di Bandung. Tahun pertama, saya memesan katering dari Kantin Koboy Cisitu. Saya sejujurnya males makan nasi buat katering, kenapa? Porsinya ga kira2… porsi di mana lauk dikit sementara nasi berlimpah. Saya soalnya kalau makan lebih suka banyak lauk daripada karbo. Jadi biasanya saya menggantinya dengan kentang atau ga pesan nasi sama sekali. Konyolnya, suka missed info ke mereka ini. Gimana? Tau2 dikasih nasi segudang, terus sisanya jamuran di kosan saya dan paling konyol dari soal katering… mereka pernah datang 5 menit sebelum imsak! Alhasil, setelah itu saya mengurungkan niat buat katering lagi di tahun selanjutnya.

Tahun kedua, saya memilih buat membeli bumbu nasi goreng kalengan rasa tuna kesukaan saya. Yah, ini adalah poin plus kosan saya yang ada di kawasan Cisitu Lama IX ini punya fasilitas asik berupa dapur, nasi bebas ambil, dan air minum dispenser (walau merknya ga jelas… dan konon jarang dibersihin). Alhasil saya pun masak tiap sahur… (walau kadang kelewat males jadi cuma makan roti… atau sahurnya bablas).

Tahun ketiga… ini yang akan menjadi highlight cerita saya kali ini.

400457_284589158255561_1240943883_n

Saat itu, di Bandung ada sebuah restoran yang udah saya sebutkan tadi bernama Farfalle Pasta. Restoran ini sangat unik karena tempatnya virtual; dengan kata lain kita hanya bisa memesan via telepon, SMS, dan bahkan kerennya… via teknologi Yahoo! Messenger (YM)! (terakhir di 2011 bahkan bisa pesan via website di mana PHD dan yang lain belum bisa fasilitas ini!). Dahsyatnya lagi, tidak ada minimum order payment, ga ada pajak harga (gw rasa harganya udah masuk pajak)… dan di atas segalanya, porsinya ga main2 DAN RASANYA ENAK BANGET! Resto satu ini mampu mengungguli restoran sekelas Pizza Hut (karena rasa masak-ulang nya kerasa banget… ga terlalu seger) dan bahkan Warung Pasta pada saat itu (yang terlalu berair… konsistensi creamy nya jelek). Andai Kulinerologi si AW sudah ada dari dulu, saya akan kasih cawang penuh (√√√√√). Bukan karena hanya rasanya yang hampir menyaingi makanan bintang lima, kreativitas menu, keunikan rasa, kemudahan dalam pemesanan, hingga feedback yang sangat positif membuat saya ga akan ragu memberi nilai penghormatan sebesar itu!

“Lo ga lebay kan, Dit? Emang makanannya gimana? Liat lah!”

Soal makanan, tempat ini menyediakan pasta sebagai makanan utamanya. Tersedia dalam porsi S (Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00), M (Rp 10.000,00 – Rp 13.000,00), L (~ Rp 15.000,00) (dan terakhir pesan ada XL… sekitar Rp 21.000,00 dan seinget saya ada XXL buat senampan penuh buat hajatan, Rp 50.000,00 an). Menunya tersedia mulai dari pasta otentik (Bolognese, Carbonara, Alfredo), hingga hasil kreativitas mereka sendiri. Walaupun yang kita dapat setelah sampai bentuknya ga sesuai yang di gambar, porsinya… gak main2!

dsc00966

Kurang lebih ini… porsi M, Spicy Tuna Sweet Fusili (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

“Dit… gw tau lo udah lupa mungkin… tapi dengan sisa2 memori yang mungkin masih ada… tolong deskripsiin dong gimana rasanya!”

Meh… bawa2 memori. Curcol sedikit, tahun ketiga kuliah akhir adalah momen pertama kali seumur hidup saya dapat pacar. Namun sayang perjalanannya ga mulus akibat ga direstui oleh ortu pacar (mantan) saya waktu itu. Thanks to Rino yang kebetulan waktu itu ada dan juga thanks to resto ini. Hubungannya? Ah saya lupa… hingga 2010, tempat ini menyediakan fasilitas pre-order untuk sahur! Catatannya, pesan pas malamnya atau maksimal jam 2 atau traffic antar nya bakal membludak.

Kesukaan saya… Fettucine Alfredo w/ Barbecue Mushroom…

421269_323718664342610_302239243_n

Maaak… kangen gw makan yang ini! (Sumber: Page FB)

Fettucine yang dimasak dengan saus krim dan mentega (butter), ditambah dengan potongan jamur kancing yang ditumis dengan saus barbecue dan bawang bombay. Rasanya? Susah dijabarkan dengan kata2. Rasa manis-spicy dari jamur dinetralisir dengan rasa mild dan gurih dari krim di pastanya. Hmmmmmmm~

Kedua, Spicy Tuna Sweet Fusili… yang satu ini emang agak pedes, manis, asam. Tuna dimasak dengan saus tomat, cabe, bawang putih, dan pasta fusilli. Nendang banget!

Ketiga… saya lupa, seinget saya… Fettucine w/ Creamy Rosemary Chicken. Ini dahsyat sih! Fettucine, dimasak dengan ayam yang udah ditumis, dikasih krim yang terinfusi herba rosemary yang wangi dan manis. Gileeeee!

Keempat, yang lucu… ada pasta kalo ga sala Fettucine with Choco Sauce. Ini manis. Pake saus krim coklat pake mentega, jadi rasanya manis2, asin, gurih gitu. Sempurna, dikasih keju mozzarella. Maaaaaak!

Bahkan… kelima… Spaghetti Bolognese nya sendiri… manis, dagingnya kerasa dan herba2 di dalamnya kerasa, ada oregano, rosemary, basil, dll. Rasa tomatnya juga ga main2!

Sekarang udah kebayang? Dengan harga yang asik, sahur saya jadi ga galau berkesan!

Komentar saya cuma satu waktu itu… ini restoran namanya “Farfalle”… kan artinya pasta kupu2… kok ga ada yang pake pasta kupu2?

Screen Shot 2014-06-28 at 9.48.04 AM

Ini lho!

Sampe sekitar 2011 awal (curcol lagi: ketika saya sama mantan kedua saya), saya (kami) suka memesan pasta2 dari Farfalle buat makan bareng. Lalu menjelang saya lulus, tempat ini udah ga bisa buat pesan sahur, dan… mereka buat restoran di kawasan Pasteur, Bandung. Awalnya, gw mikir… wah keren… dari delivery… ke resto!

Tapi sayangnya… itu ga bertahan lama. Awal 2012, mereka lenyap… ntah kenapa. Emang sih, saya udah di Jakarta.

Tahun 2014 ini… pas saya cek. Bahkan restorannya udah ga ada (di Foursquare ada, tapi lokasi ga ada di kenyataannya)…

Ternyata…

Screen Shot 2014-06-28 at 9.55.51 AM

2009-2013 (sumber cek: sini)

Domain Farfalle Pasta udah expired. Kenapa ya mereka tutup? Masa sih setelah buka, mereka jadi bangkrut?

Damn… jujur saya bakal kangen sama ini…

pasta

Dat website… (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

Walaupun beberapa gambarnya masih ada di Page FB mereka sih, cuma man… I miss to eat their pasta!

Serius… kalo ada yang tau ternyata saya salah (baca: ternyata masih ada), tolong kasih tau saya di komen ya! Saya pengen banget bisa makan ini lagi kalo saya ke Bandung. Banyak kenangan dengan saya makan makanan di sana.

Moral cerita:

  1. Di era yang serba sibuk ini, kayaknya bisnis makanan delivery bisa dibilang menjanjikan. Alasan? Ga perlu tempat besar untuk restoran, cuma butuh dapur dan kurir antarnya.
  2. Setiap orang pasti punya makanan yang memiliki kenangan saat makan… ntah karena keluarga, teman, pacar, mantan, istri, siapapun… itu lah kenapa makanan itu spesial buat saya. Terlebih lagi kalau dimasaknya dengan ide original dan dimasak sepenuh hati.

PS: Tahun keempat? Saya puasanya banyak di rumah saya karena tahun keempat di bulan Juli-Agustus skripsi saya udah beres (laptop ilang… terus saya putus ama mantan saya yang kedua *curcol*)

-AW-

Kemarin saya berkunjung ke sebuah kedai kopi, Klinik Kopi, Yogya. Atmosfer mereka yang adem, di dalamnya saya pun bertemu dengan para pengunjung setia yang kerap berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada saya. Salah satu di antara yang saya temui adalah Bapak Kristio Budiasmoro atau Pak Kris, seorang dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan praktisi kultur jaringan. Sejujurnya saya senang dan sependapat dengan prinsip beliau. Beliau mengatakan bahwa kultur jaringan harus dibuat semudah mungkin dan sepraktis mungkin. Ternyata di luar kultur jaringan pun, beliau punya pengalaman2 yang unik!

 

Kultur Jaringan Tanpa Sterilisasi #4 – Modifikasi Protokol Untuk Inisiasi Di Luar Laminar dan Di Human

Oke, ini saya gabungkan artikel nomer 4 seri ini ke artikel ini sebagai lanjutan seri ke-3 sebelumnya…

Beberapa bulan lalu, beliau melakukan kultur jaringan di tengah hutan, dan metode yang sama akan dilakukan di akhir Juli atau Agustus nanti untuk mempropagasi Dipterocarpus di Nusa Kambangan.

Saya sempat bertanya kepada beliau, “Pak, memang tanaman itu cepat layu atau bagaimana sehingga bapak tidak bisa membawanya ke lab untuk inisiasi?”

Jawaban beliau, “Bukan masalah layu, kita harus ingat bahwa ketika kita membawa tanaman dari hutan, tanaman itu tidak sendiri. Pada waktu yang sangat cepat sekalipun, mikroba kontaminan bisa tumbuh dan akan semakin menyulitkan untuk disterilkan.”

Lalu, apa strategi beliau? Ini:

Untuk melakukan kuljar di hutan, siapkan plastik besar, sarung tangan, medium kultur, botol inisiasi, akuades, alat2 kultur standar (skalpel, cawan petri, dan pinset), dan satu barang paling esensial chlorox yang masih tersegel pada kemasannya. Pertama, percikkan chlorox dengan merata ke plastik besar, masukkan semua alat2 dan bahan ke dalam plastik tersebut. Lalu, ambil calon eksplan dengan sesegera mungkin dan masukkan ke botol inisiasi berisi klorox yang sudah diatur untuk proses inisiasi. Hal menarik di sini adalah proses ini tidak menggunakan pembakar Bunsen. Lakukan proses standar di dalam kantung plastik hingga pencucian dan pemindahan ke media. Beliau dalam proses ini lebih menyarankan menggunakan media cair karena lebih mengurangi kontak ke udara yang bisa saja terkontaminasi. Setelah proses beres, segel botol kultur. Hebatnya, beliau melaporkan bahwa hasilnya tidak terkontaminasi!

Selain ini, Pak Kris ini pernah melakukan inisiasi di lab, tapi di luar laminar air flow. Beliau cuma mengatakan bahwa kuncinya, “Bekerjalah di meja yang sudah disemprot chlorox, dan jangan bergerak lebih dari sejengkal dari api (di pembakar Bunsen)”

Setidaknya, ini adalah upaya protokoler atau metodologikal yang lebih efisien waktu dan lebih praktis walau masih menggunakan protokol aseptik, tapi kecepatan dan efisiensi metode ini perlu dikembangkan lagi.

 

Penggunaan Pisang Sebagai Media Kultur Jaringan

Sebetulnya ada banyak upaya untuk melakukan kultur jaringan tanpa menggunakan media kimiawi racikan di lab pada umumnya seperti Murashige-Skoog (MS), Schenk-Hildebrandt (SH), Gamborg, dll. Yang pernah saya dengar adalah menggunakan air kelapa, ubi, dan juga yang Pak Kris pernah coba adalah menggunakan pisang.

Dari cerita beliau, pisang diproses sebagai potongan (tidak dihaluskan). Saya sempat bertanya, “Memang ada apa dengan pisang? Ada auksin dan sitokinin, kandungan vitamin, atau apa?”

Jawaban beliau, “Pisang di sini punya kandungan potassium (kalium) yang bagus dan diperlukan sama tanaman eksplan. Saya pernah mencoba kuljar pakai media pisang, dan menariknya akar tanaman (eksplan)nya tumbuh mendekati potongan pisang.”

Menarik juga…

 

Penggunaan Kontroversial Human Blood Serum Sebagai Media Kultur Jaringan

Oke, cerita Pak Kris tentang penggunaan Human Blood Serum (HBS) ini cukup mengundang pertanyaan. Sederhana saja, “Kok bisa??”

Sayangnya, saya lupa menanyakan lebih lanjut mengenai alasan beliau memilih zat ini untuk tambahan ke media kultur beliau. Saya jadi belum tahu, apakah beliau memang lagi bereksperimen, atau ada kandungan tertentu yang beliau ingin lihat.

Menariknya (tapi saya belum mengeceknya)…

Pak Kris (KB): Jangan salah, mas… manusia juga menghasilkan auksin lho!

Saya (AW): Auksin?? Kelasnya apa pak? IAA?

KB: Iya, IAA… percaya atau nggak, di urin manusia pun ada auksinnya lho, makanya itu jadi salah satu alasan tanaman yang kena urin cukup bereaksi…

AW: Di urin??

KB: Iya ada sih, cuma hitungannya dalam ppm (part per million). Intinya tubuh manusia itu punya auksin… ntah ya, mungkin ini alasan bahwa manusia pun bisa “berinteraksi” dengan tanaman…

 

Kultivasi In-Vitro Tanaman Holoparasit

Ini yang membuat saya kagum. Beliau ternyata pernah mencoba kultivasi tanaman parasit juga secara in-vitro.

AW: Bapak pernah nyoba juga??

KB: Iya, pernah mas…

AW: Tanamannya holoparasit (parasit murni) pak? Apa ya? Cuscuta (tali putri, parasit tanaman teh yang kuning kayak benang itu)?

KB: Bukan… ada lagi… <beliau menyebutkan, tapi saya lupa apa… kalo gak salah ada “D” nya>

AW: Itu… jaringan apa yang bapak pakai?

KB: Oh, saya pakai bijinya…

Beliau menjelaskan, bahwa pada dasarnya perkecambahan biji tanaman holoparasit itu berbeda dari tanaman biji pada umumnya. Biji tanaman holoparasit itu memerlukan interaksi dengan jaringan tanaman inangnya untuk membentuk haustoria saat berkecambah. Haustoria adalah “akar” tanaman holoparasit yang tumbuh di jaringan inangnya.

Untuk itu, yang diperlukan adalah buah tanaman holoparasit yang segar dan mengandung biji hidup, dan jaringan tanaman inang yang sudah ditumbuhkan sebelumnya. Sayangnya, saya lupa bertanya, pada kondisi seperti apa jaringan inangnya? Berupa pucuk matang, pucuk muda, bisa berupa akar, atau bahkan kalus?

Prosedur inisiasi yang beliau lakukan, uniknya bahkan tidak memerlukan senyawa kimia. Lalu? Bakar permukaan buahnya sebentar, lalu ambil bijinya. Karena biji itu tersegel rapi di dalam buah, maka kemungkinan kontaminasi biji ini rendah sehingga buah cukup dibakar sebentar permukaannya. Kemudian biji tersebut dipindahkan (dengan protokol aseptik standar atau seperti yang dijelaskan di awal artikel ini) ke jaringan tanaman inang yang sudah dikultur sebelumnya.

Beliau mengatakan bahwa tanaman parasit tersebut pun tumbuh dengan baik!

Pendapat tambahan dari saya, namun peluang kesuksesan metode ini semua tergantung dengan sifat dan “kebandelan” tanaman parasitnya itu sendiri.

 

Tanaman Yang Kesepian

Hahaha… judulnya lucu, saya bilang seperti ini karena sesuai dengan perkataan Pak Kris sendiri.

KB: Mas, tahu gak tanaman itu bisa kesepian?

AW: Hah? Bagaimana pak?

KB: Iya, bisa…

Pak Kris berkata bahwa beliau punya tanaman anggrek. Tumbuhnya merana dan enggan berbunga. Tetapi ketika beliau menambahkan tanaman kedua yang baru beliau beli, anggrek itu pun “bahagia” dan mau berbunga dengan baik dan bahkan mekarnya bisa bersama2. Pak Kris menambahkan, “Mas kalau punya pohon apel juga gitu mas. Kalo ga mau berbuah, tanam lagi… atau pindahin ke kebunnya di Malang! Hahaha…”

Yah pak, ga mungkin juga saya gotong tanamannya jauh2 ke Malang…

 

Pohon Kola

Cerita terakhir… ini cukup kontroversial…

Jadi, ada pohon yang namanya pohon kola (Cola nitida). Pohon ini adalah asal dari minuman kola yang kita kenal sekarang.

Masalahnya, buah ini punya kandungan zat stimulan-afrodisiak yang membuat kita ngerasa kalem. Hmmm… agak kayak ganja, tapi dalam batas toleran (mungkin karena ga ada yang pake juga di sini). Buahnya konon rasanya pahit, tapi kalo dikunyah lama2 agak manis dan kayak kola. Tapi, karena kandungan itu lah, akhirnya minuman kola hanya menggunakan essens saat ini… atau juga menggunakan rasa alternatif dari pala (Myristica fragrans).

Walau sifatnya gitu, karena ga selebay ganja dan jamur psylocibin… saya jujur penasaran mau nyoba…

Begitulah! Seru yah! Kapan2 saya mau ngobrol2 lagi!

 

Tambahan, saya bakal nulis artikel turunan dari sini nantinya:

-Yang ini udah pasti, update lanjutan tentang KJTS

-Bahan media kuljar yang bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita

-HBS, tubuh manusia, sintesis auksin, dan komunikasi dengan tanaman

-Kultur tanaman parasit

-Komunikasi non-verbal pada tanaman di komunitasnya

-Pohon kola dan asal minuman kola

 

Nantikan artikel asik selanjutnya dan sesi obrolan lainnya!

-AW-

Mereka bilang… minuman terkadang merupakan cermin sifat peminumnya. Yah, saya sejujurnya agak sedikit terinspirasi dengan kisah di film Indo yang judulnya Claudia & Jasmine. Sang protagonis, Jasmine (Kirana Larasati) suka minum kopi pahit, ketika ditanya kenapa ga dikasih krim atau tambahan lain ia pun menjawab itu secara tidak langsung adalah gambaran kelamnya masa lalu dia.

Tapi buat Anda para pembaca yang suka minum kopi pahit, mungkin interpretasinya beda. Apakah mungkin Anda itu orang yang konservatif? Apresiatif atas originalitas nilai seni yang ada pada kopi itu sendiri? Anda orangnya keras? Itu mungkin perkiraan2 sekilas dari saya.

Kontras dengan Jasmine di atas, ketika saya mampir ke warung kopi, saya malah suka kopi manis dengan susu. Atau mungkin… seperti apa yang akan saya ceritakan selanjutnya mengenai minuman favorit saya di kedai kopi Starbucks.

IMG_5527

Segelas Venti Caramel Cream Frappuccino dan tugas atau tulisan hari ini…

Saya royal atau elit? Jujur… terlepas saya yang bisa santai dengan hanya makan tempe sepiring penuh tanpa nasi setiap saatnya, saya suka bersenang2 dengan cara saya sendiri. Itu jawaban saya kalau ada yang mengira2 demikian karena saya minum di Starbucks. Terserah Anda, saya punya jawaban saya sendiri.

Oke, kembali lagi. Caramel Cream Frappuccino… Dit, ini gak ada kopi2nya. Iya, emang! You don’t say!

Saya jaraaaang sekali beli sesuatu yang ada kopinya di Starbucks. Selain minuman ini, saya suka beli jus buahnya atau Green Tea Latte. Cuma Green Tea Latte buat saya itu lebih ke teman ngobrol santai atau teman baca buku, sudah. Sementara Caramel Cream Frappuccino selain kedua itu, banyak hal lagi yang bisa saya ceritakan.

Minuman ini diracik dengan susu atau krim, dicampur dengan esens karamel, es, lalu diblender. Setelah itu, minuman yang sudah tercampur rata diberi whip cream, dan diberi saus karamel di atasnya. Ya, ini kabar buruk buat kadar gula Anda. Apalagi jika saya memesan dengan saus karamel ekstra.

Untuk saya, minuman ini adalah refleksi bahwa saya itu… cheerful, kekanakkan (saya mengakui itu), ngebawa santai hal-hal keras di sekitar saya, suka hal-hal manis, enerjik (walau bukan berarti saya atletis), rada opportunis, tapi saya ga suka masalah yang dibuat ribet atau jika seseorang meminta saya untuk menjadi sangat serius berpikir dalam suatu hal yang sebenarnya itu bukan hal yang rumit.

Sebenarnya saya sudah suka minuman ini sejak saya pertama kali mengenal Starbucks di sekitar tahun 2003-2004 di Plaza Indonesia. Tapi meski kadang2 saya suka mencoba racikan minuman yang lain, saya memilih buat kembali memesan minum ini lagi dan lagi.

Banyak cerita menemani saya ketika saya memesan minuman ini, mulai dari kisah yang waktu itu saya tulis, sampai cerita lain lagi. Termasuk pas saya ngebuat si mbak barista di Starbucks di Jakarta grogi gara2 saya, “Mbak, kali ini ga salah nyampur lagi kan?” sampe dia ngasih saus karamel dengan porsi gilanya…

IMG_1571

Mbak… santai mbak…

Selain itu, minuman ini adalah pendamping saya menulis skripsi, menulis proposal penelitian ke Nagoya (yang ga jadi), nulis laporan2 praktikum, dan juga tesis. Bahkan lahirnya blog2 ini (Log si AW yang udah 10.500 views, Kulinerologi si AW yang udah 14rb views, dan… Kisah Sang Mentari yang baru nongol) lahir dari hasil tegukan minuman ini…

Minuman yang enerjik dengan nilai kalori yang sadis… tapi manisnya… cukup menunjukkan manisnya hidup saya…

Ah itu dulu ah, cerita random saya…

-AW-

 Alter ego (Latin: Alter — Yang lain, Ego — Aku; Aku yang lain), kadang istilah ini bisa mewakili diri seseorang yang terpendam, dan kadang dengan seramnya diasosiasikan dengan mereka yang memiliki kepribadian ganda atau banyak. Lalu apakah saya berkepribadian banyak? Hmmm… secara penyakit… mungkin ngga. Bagi saya, 5 sosok ini ada di dalam diri saya, antara sebagai teman imajiner saya, atau kalau seperti di film Avatar: The Last Airbender, ini seperti refleksi diri saya yang bisa saya panggil ketika saya sedang Avatar State.

Saya yang menciptakan mereka di pikiran saya dan saya punya tujuan untuk membentuk mereka.

Ada yang lahir karena perasaan cinta antara saya dan mantan saya (dulu), ada yang lahir sebagai imajinasi saya dengan teman saya, ada yang lahir ketika saya merenung.

Mereka bilang, sebaik2nya kata orang lain, diri sendiri lah yang paling penting untuk menjawab keputusan itu. Tapi, kadang sendiri itu ga enak. Kita bisa memberi nasihat orang lain dengan persepsi kita ketika mereka bermasalah dengan hidup kita, tapi ketika kita sendiri yang tertimpa masalah yang sama, kadang responnya malah beda. Di sinilah, saya menciptakan advisor personal buat saya sendiri yang akan ada ketika saya fokus. Diri saya yang akan menasihati saya sendiri.

Jadi ada siapa aja?

  1. High ArchWizard Astrax Viridium Albireo (inisial AA). Karakter yang tercipta tahun 2010 akhir akibat cerita “The Wizard” (yang ga selesai2 setelah putus, selain karena idenya kebanyakan, ending buku pertama masih gantung karena ga tau karakter mantan saya mau saya apain) buatan saya untuk mantan saya, Icha. Setelah kami putus, saya memilih buat nyimpan karakter ini buat diri sendiri. Penyihir tinggi Kekaisaran Regulon dari ibukota Aestiva yang memulai karir sihirnya di sekolah tinggi sihir, Aquilla di kota Vox. Lahir dari darah penghuni ring terdalam kota, yang artinya ia adalah orang cukup berada. Cukup kreatif dan berpikir ke luar batas, terlepas kecerobohannya dalam banyak hal. Bijak, selalu penasaran, ambisius, tapi sangat menaungi, apalagi Astrax adalah seorang guru. Karena sifat eksploratifnya, ia dipromosikan menjadi ArchWizard di umur 20 (normalnya 25-30), dan menjadi High ArchWizard di umur 25. Sebentar… Arch itu artinya ketua. Memang gelar ini diberikan buat para mentor dan guru yang menaungi penyihir2 lain, seperti yang Astrax lakukan saat ini. Wizard… adalah penyihir yang mempelajari dan menggunakan sihir untuk banyak penerapan dan filosofi, dan juga adalah scholar. Berbeda dengan Sorcerer yang menggunakan sihir dengan bebas. Oke, balik lagi… Alter ego saya yang ini berperan lebih kepada pemberi nasihat yang sejuk, halus, dan bijak, atau pemberi kesimpulan analisis terkait hal2 magis dan sihir. Kita kadang capek kan membahas hal2 sihir karena jatuhnya ke kokologi? Kita buat perbedaan dengan lahirnya Astrax, dan kita bawa dia ke blog ini!
  2. Emperor Jack Otzius “The Fallgiver” (gabungan forgiver dan fall, karena kerjaannya yang menggunakan kekuatannya untuk membuat sesuatu jatuh) (inisial JO). Kaisar galaksi, ilmuwan yang akan melakukan apapun agar ambisinya terbukti. Tercipta dari waktu saya SMU, kelas 1-2, sebagai sisi Sith Lord dalam diri saya yang saat itu lagi tergila2 dengan Star Wars (ekuivalen Lord Rmith di Rino), epitet Darth Xenos. Cyborg di bagian tangan (keduanya) karena kecelakaan, dan menggunakan implan di bagian kaki dan otaknya untuk mengamplifikasi energi dirinya. Berusaha melakukan apapun agar menaklukan sesuatu yang ia inginkan dengan persuasi halus (tapi fatal) miliknya dan sangat anti buat kalah terang2an. Terlepas sifatnya yang cenderung pendiam, ketika ia merasa lelah akan sesuatu, ia akan menjadi agresif. Membawa 2 lightsaber berwarna ungu dan hijau cyan yang menggunakan kristal cair terinfusi energi murni midichlorian. Muncul di saat khayalan ilmiah saya yang di luar bioetika keluar (misal mau membuat virus baru) atau kalau lagi sangat ambisius, Jack akan muncul memberikan arahan agar saya tetap fokus. Mungkin Jack sesekali akan saya munculkan ke blog ini… kalo idenya… manusiawi.
  3. Nupaaktuk “The Ancient Tree” (inisial N), pohon tua yang bisa menjelma menjadi manusia. Lahir sebagai imajinasi antara saya, Cipo, dan Dwiki ketika membuat cerita. Sang penjaga daerah sakral di hutan suci. Pendiam dan bijak. Muncul kalau saya lagi sangat antusias atas suatu ilmu baru, Nupaaktuk datang memberikan kebijaksanaan atas ilmu2 yang baru saya dapatkan itu sehingga bisa berguna di waktu lain juga.
  4. Sang Pengelana (initial W, dari Wanderer). Lahir dari imajinasi sesaat ketika saya lagi diam, dan menasihati Abi (adek kelas saya angkatan XVIII di SMU). Sosok yang misterius dan tidak mau menyebutkan namanya. Memiliki kemampuan sihir seperti Astrax, tapi tidak memiliki kemauan untuk hal2 sosial atau mengajarkan secara formal. Sang Pengelana memutuskan buat berkelana akibat dirinya merasa belum puas atas yang ia dapatkan, ingin mencari sesuatu yang ia belum ketahui dan ingin tahu apa yang ia harus lakukan di dunia ini. Muncul ketika saya lagi berpikir dalam tapi abstrak, dan berusaha mencari nilai filosofi atas hal2 yang abstrak.
  5. Sang Matahari (initial S, dari Sol). Avatar diri saya sendiri yang lahir juga sebagai arti dari nama saya (Adhityo –> Raditya –> Matahari). Api terbesar di sistem tata surya. Memberikan kehangatan kepada semua, tetapi juga destruktif karena kekuatannya. Sadar dengan itu, ia hanya selalu di atas dan memberi kekuatan kepada yang lain dari jauh. Matahari ini juga refleksi zodiak saya, Leo (Capricorn = batu/gunung, Aquarius = angin lembab musim semi, Pisces = samudera/laut, Aries = api/api lilin, Taurus = pasir, Gemini = angin sejuk musim gugur, Cancer = sungai, Virgo = lumpur, Libra = angin panas/dingin, Scorpio = telaga, Sagitarius = magma/lava) yang oleh karena itu sering muncul sebagai metafora harian saya dengan orang2 sekitar saya. Muncul sebagai sisi diri saya yang suka mengamati dari kejauhan dan memberi petuah.

Begitulah… sayangnya belum ada gambar jelasnya. Mungkin kapan2 saya gambar. Dari 5, hanya 4 yang punya cerita untuk bisa ditulis ke blog ini (kecuali Nupaaktuk), hanya 3 yang ceritanya dalam/konkrit (minus Jack), hanya 2 yang tau tujuan pribadinya (minus pengelana), dan hanya 1 yang menjadi persona saya yang paling sering di pikiran saya (cuma Astrax).

Intinya… mereka lahir karena saya perlu berbicara dengan diri saya sendiri sewaktu2 ketika saya lelah dengan segalanya di dunia ini yang selalu mengkritik dan bilang apa yang harus saya lakukan.

-AW-

Pertama2 selamat tahun baru 2014! Semoga tahun ini kita semua semakin produktif lagi! Aamiin…

Malam ini… saya dapat request dari seorang junior saya yang penasaran bagaimana saya bisa ngebut nulis paper dari dulu. Yah, emang ga ada salahnya berbagi tips sedikit. Gimana cara menghadapi TA yang konon menakutkan (TA termasuk penelitian dan papernya) Hehehe…

Pertama, saya suka menulis. Kedua, saya itu orangnya rada2 suka mendramatisasi. Maksud poin kedua dalam bahasa seorang teman saya adalah: Imajinasi saya dan kenyataan kadangkala bersatu dengan tinggal menjetikkan jari aja. Saya schizophrenic? Ngga… Suka mengkhayal? Iya… Mimpi mulu dong? Ga juga… saya selalu pakai mimpi saya untuk maju. Kalau gagal? Sebagai ilmuwan, saya sadar… walau kegagalan itu sakit, ada setiap hasil di kegagalan. Saya ngambil spesimen, saya tanam, ga tumbuh, saya masih bisa nulis teori kenapa tanaman itu ga tumbuh, dan di bagian saran… saya tinggal masukkan aja apa yang kira2 jadi dugaan solusi. Jadi, ketika saya mau buka lagi, saya tau mau nambahin apa. Singkat kata, hidup jangan dibuat susah!

Satu hal lagi… setelah baca ini, pembaca akan mengerti mengapa menggunakan jasa penulisan skripsi instan itu adalah salah…

Sekarang, dengan basic hal2 barusan, ayo kita melangkah ke permasalahan. Sebenarnya yang namanya tugas akhir alias TA itu… penelitian yang bisa jadi 2 tipe kan? Antara kita yang mengajukan proposal, atau kita ikut proyek dosen. Kalau proposal kita sendiri, pastikan penelitian yang kita ajukan adalah penelitian yang kita suka. Itu mutlak, dan tanpa kecuali. Kalau itu proyek dosen, harusnya kita cukup cermat bahwa kita memilih dosen narasumber tersebut karena beliau memiliki sebuah minat atas penelitian yang kita suka. Tahap satu ini beres, sekarang saatnya melangkah ke tahap selanjutnya: Eksekusi, yang terbagi jadi 2 tahap paralel – penulisan paper (skripsi, tesis, atau disertasi) dan penelitian di lapangan/lab.

Saya melihat tahap eksekusi itu bagaikan menjalankan sebuah misi di game. Dosen kita itu bagaikan NPC (Red: Non Playable Character) yang memberikan sebuah misi besar. Taruhlah dosen saya, Pak Aziz, atau Bu Totik waktu itu. Mereka memberikan misi yang panjang dan besar, dengan poin pengalaman (experience) yang tinggi. Sekarang, misi itu adalah menyilangkan 4 macam jagung untuk saya, diamati hasilnya baik secara visual (fenotip) atau molekuler (genotip). Kebetulan, saya belum pernah meneliti sedalam ini. Maka, dengan merasa bahwa saya bakal dapat hal seru dengan perjalanan penelitian ini, maka ini akan jadi bahan bakar penyemangat saya.

Kunci utama dalam misi ini, kita tentu sudah tahu dan kita punya tujuan masing2 (sesuai minat). Lalu kunci pendukung yang harus diingat adalah:

  1. Kerjakan dengan disiplin.
  2. Pastikan kita selalu bahagia.
  3. Sinkronisasikan gerak tubuh kita dengan stimulus tambahan.
  4. Tahu batas kekuatan tubuh.
  5. Beri hadiah kepada diri kita sendiri.
  6. Hargai setiap momen, biar kita mendapat sesuatu di ujungnya.

Oke, 6 poin di atas saya tulis tanpa negasi. Yang artinya saya ingin ini semua tertanam di kepala kita dengan murni (otak manusia itu tidak menerima negasi seperti kata tidak, jangan, dilarang, atau semacamnya… kalimat affirmasi itu adalah sugesti kuat untuk kita).

Kerjakan dengan disiplin. Menunda2 itu bukan sesuatu yang baik. Kecuali ini terkait poin 4 yang akan dibahas nanti. Kerjakan penelitian kita dengan deadline yang kita buat sendiri, bukan buatan dosen. Jujur, saya ingin liburan, saya ingin jalan2, saya ingin punya waktu sama teman2 saya. Tapi pilih mana? Sibuk dulu baru senang, atau senang dulu atau sibuk? Saya pilih pertama… karena saya udah merasakan ga enaknya jadi deadliner. Dari dulu… iya deadlining itu kompak karena banyak orang di sekitar kita yang begitu. Tapi masa kita mau terjebak di lingkaran setan rame2 terus? Saya sih ogah, dan saya mengajak pembaca sekalian buat maju. Lakukan semuanya dengan jadwalGunakan semua aplikasi komputer atau telepon yang tersedia, manfaatkan semua teknologi sebagai alat pengingat atau mempermudah langkah kita. Saya selalu atur deadline saya di aplikasi kalendar laptop yang tersinkronisasi ke telepon genggam saya dengan Cloud Storage System, begitu juga dengan pengingat (Reminder) dan notes. Untuk penelitian di lapangan, segera lakukan! Di tahap awal penulisan paper, saya selalu membuat kerangkanya terlebih dahulu. Yah… simpelnya, saya cuma nulis “Bab I – Pendahuluan” dan seterusnya sampai “Lampiran”. Hari selanjutnya, saya nulis sub-bab, misal “1.1 Latar Belakang” dan seterusnya. Selanjutnya, saya yakin kita pernah yang namanya “mengarang bebas” kan di ujian essai? Di sini lah bagian serunya. Karena saya emang suka membaca pas tahap sarjana (tugas paper menumpuk, buku referensi itu2 aja, tapi makin lama makin banyak), saya selalu ingat buku2 penting: Campbell et al. – Biologi Umum, Hartwell et al. – Genetika, Alberts – Biologi Sel, Madigan et al. – Mikrobiologi, Taiz & Zeiger – Fisiologi Tanaman. 4 buku ini selalu saya ingat. Kemudian, mengarang bebas lah sesuai pengetahuan yang kita punya, baik itu di bagian pendahuluan sampai bagian tinjauan pustaka. Tapi kosongkan bagian detail atau spesifik, misal kalau di saya mengenai jalur biosintesis dan taksonomi. Oke, kalau pembaca mengikuti langkah yang saya beri, harusnya kita udah sampai di bab 3 (Metodologi) dan progress sudah 30%. Sekarang, dengan karangan bebas yang sudah tersedia, cari jurnal atau buku yang kita anggap mendukung setiap kalimat2 kita. Kalau ada yang mendukung, kasih bubuhan pustaka di ujungnya… simpel (kayak: Wicaksono, 2013). Kalau ada yang kurang, tambahkan. Kalau ada yang salah, koreksi. Di akhir tahap ini, kita sudah 40-50%. Tinggal menunggu hasil. Laporkan ke dosen pembimbing, mereka pasti senang. Sambil menunggu hasil penelitian, kita sudah belajar banyak karena udah membuka banyak buku dan jurnal. Pesan moralnya: Secara psikologis, otak kita akan puas saat kita melihat apa yang kita kerjakan udah banyak. Buat banyak dulu, baru koreksi. Ini biar ga ngaret.

Pastikan kita selalu bahagia. INI PENTING! Semakin kita bahagia, semakin cepat kita bertindak. Hal ini disebabkan karena ketika kita bahagia, seluruh tubuh kita terafeksi. Pastikan kita selalu semangat, senang, tertantang, atau tertarik saat kita melakukan penelitian atau penulisan TA. Bahkan saya menganjurkan, kalo bisa pas di tahap ini… jatuh cinta aja sekalian. Heh? Ga bisa?? Yah… nasib… Hahahaha…

IMG_3568

Lihat, betapa kuatnya efek rasa senang dan cinta terhadap tubuh kita *tsaaah*.

Sinkronisasikan tubuh kita dengan stimulus tambahan. Yang saya maksud di sini bukanlah minuman berenergi, minuman ion, bahkan jamu. Tapi sesuatu yang lebih simpel lagi. Pas saya nulis, musik bisa memicu cepat-lambatnya saya menulis, seperti metronom bagi pianis. Ada 2 jenis lagu buat saya: Pertama, lagu untuk motorik, kedua, lagu pemicu memori. Kalau saya mau tenang nulisnya, ini kalau saya lagi nulis bagian yang bercerita banget (baca: latar belakang atau metodologi), saya putar lagunya Enya, Vanessa Mae, Karl Jenkins (Adiemus), atau Mike Oldfield. Mau cepat? Saya pasang lagunya Green Day, Linkin Park… itu ekstrimnya sih… tapi lagu kayak “You Belong With Me” nya Taylor Swift cukup ngasih energi, terus “Let It Go” (yang udah nonton Frozen pasti tau) nya Idina Menzel juga bisa. Ups… ini lagu2 saya cukup melankolis juga yak. Hahaha… Itu buat motorik, memori? Memori juga dibagi lagi jadi 2: Memori sebagai bahan utama, atau memori sebagai pendukung. Bahan utama… biasanya kalau kalian punya memori yang punya jembatan keledai atau nyambung2in lagu sebagai bahan pengingat (mnemonic), cari lagu yang bisa buat kalian ingat sama pas kalian belajar ama dosen, atau kuliah lapangan, untuk ingat detail2 penting. Untuk memori pendukung? Masa sih kalian ga punya lagu yang buat kalian senyum2 sendiri inget pacar, gebetan, saudara, temen2 deket, atau keluarga? Apa? Galau?? Ya jangan yang galau!

Tahu batas kekuatan tubuh. Beberapa waktu lalu, saya mendapat berita bahwa seorang mahasiswi Indonesia di Malaysia meninggal gara2 kerja non stop selama 3 hari. Kesimpulannya, istirahat itu penting. Usahakan tidur 1-3 jam. Ini biasanya disebut power nap. Kalau saya sih ga gini. Saya selalu pasang checkpoint. Terus tidur. Benar2 tidur. Tapi, di samping saya ada laptop yang saya hibernate atau nyalakan, tapi dalam kondisi sleep. Sehingga pas saya buka, jreeng! File kita masih ada, secara psikologis mengingatkan kita untuk terus melanjutkan.

Beri hadiah kepada diri kita sendiriReward and punishment. Nggak sih… reward-nya aja. Kenapa? Karena udah jelas, di sini punishment-nya adalah kalau kita telat. Gimana caranya dong? Nih ya… janjikan sama diri kita sendiri, kalau kerjaan kita udah sekian persen, kita boleh mendapatkan sesuatu. Misal saya, setelah 1 sub-bab, saya bisa beli makan. 1 sub-bab lagi, boleh nonton film seri kesukaan saya, dan seterusnya. Setelah ngerjain yang lebih besar lagi… misal kita berhasil buat 1 bab, pergi keluar… jalan2, atau main lah sana ke tempat temen. Lebih besar lagi deh, udah sampe 40% dari tadi 25%,  pulang ke Jakarta! *ini kalo saya lagi libur* Reward-nya banyak ya? Yah… siapa sih yang ga suka hadiah? Jadikan penghargaan ini sebagai motivasi, bukan alasan malas2an.

Hargai setiap momen, biar kita mendapat sesuatu di ujungnya. Saya pro sama pendapat bahwa bekerjalah sesuai bidang kita. Ya gini deh… saya kuliah di pertanian atau biologi. Saya harus buka jalan, bahwa nantinya saya bisa semakin ahli lagi di bidang ini. Terus, kenapa saya kemarin sempat banting setir ke bidang kuliner? Itu sih namanya hobi yang membangun yang saya temuin pas saya kelaparan nulis proposal penelitian. Fotografi? Siapa sih yang ga suka yang indah2? Motret bunga, motret bintang, bahkan motret seorang cewek senyum aja… *aduh* itu bisa jadi penyemangat. Ketika seseorang melihat isinya, orang lain akan terinspirasi. Lagi2, hobi yang membangun. Seiring kita menekuni bidang kita dengan senang dan pikiran terbuka, hal2 baru pasti akan datang dengan sendirinya kok.

Wah, kok detail TA nya cuma 1 poin ya yang intens? Karena emang gitu! Kita semua udah dapet tutorial, arahan, atau semacemnya dari dosen. Tapi kita punya sejuta alasan untuk ngaret, males2an, atau bahasa kerennya prokrastinasi. Tinggal itu aja yang perlu dibuang.

Lakukan semuanya dengan bahagia, iringi dengan cinta, infusi dengan semangat, maka hal yang rasanya berat akan jadi ringan, atau bahkan ga kerasa sama sekali. Karena ketika kita melakukan sesuatu dengan cinta, maka pekerjaan akan menjadi seperti hobi.

Jadi… udah bab berapa sekarang? Saya udah bab 3 di bulan 1 penelitian saya. Kok bisa lancar nulisnya? Karena… saya selalu jatuh cinta *plak* saya selalu menemukan semangat di tiap hal yang saya sukai.

Doain Juni udah beres yah!

-AW-

Wah, sudah lama rasanya saya tidak menulis di blog ini. Bahkan sekarang sudah lewat 7500 viewer. Terima kasih buat yang mau membaca!

Sekarang ini, selain saya sibuk dengan blog kuliner saya, saya sendiri lagi agak kewalahan dengan kuliah saya. Saat ini saya sedang mengambil program Pemuliaan Tanaman di Pascasarjana Fakultas Pertanian UGM, Yogya. Memasuki tempat ini, saya sejujurnya sempat culture shock. Kenapa? Saya hanya bersepuluh di kelas, itu pun satu angkatan masuk. Awalnya, saya sudah stand by dengan segala individualisme kuliah, sebagaimana yang saya telah ditempa sebelumnya di Bandung. Berpikir sejenak, di S1 saja kompetisi antar mahasiswa di biologi ITB itu gila2an, bagaimana di S2? Alhamdulillah, kekhawatiran saya itu tidak sepenuhnya benar. Karena individualisme yang dituntut di S2 ini adalah lebih ke inisiatif untuk tesis dan membuat tugas. Alasan? Godaan di sini banyak. Buat malas2an, dan buat jalan2. Gangguan dalam 1 semester lumayan macamnya, mulai dari putus cinta, jalan2 ke Bandung, jalan2 ke Singapura, sampai makan2 di restoran Aceh yang membuat saya sakit perut akibat kepedasan.

Oke, tadi itu cuma basa-basi. Mengingat kembali, skripsi saya yang edan pisan itu (baik isinya, sampai panjang namanya).

Pengaruh Pemberian Senyawa Nitrosometilurea Terhadap Pembentukan Daun Variegata Merah Putih Pada Tanaman Aglaonema Dengan Metode Bombardir Partikel.

Mengutip Raditya Dika, judul skripsi emang panjang dan intimidatif, saya setuju sekali. Saya akan membahas penelitian saya satu itu dengan bahasa awam. Begini, tau tanaman Aglaonema kan? Tanaman hias yang daunnya warna-warni dan bercorak aneka ragam. Yang namanya tanaman hias, butuh peningkatan keragaman untuk menambah nilai jual. Untuk bisa seperti itu, cara paaaaling gampang adalah penyilangan. Masalah? Lama. Bayangin, buat dapat 1 hasil silang, dibutuhkan 1-2 umur hidup yang melibatkan tanaman induk dan anakan. 2 generasi, dan bisa 2 musim. Solusi? Bermain dengan metode mutasi atau mutagenesis. Tanaman diklon dengan kultur jaringan, tambah mutagen yang diinginkan untuk perlakuan (fisik dengan radiasi, atau kimiawi dengan senyawa2 seperti nitrosometilurea tadi). BAM! Hasilnya macam2. Bisa ada warna putihnya, warnanya memudar, atau semacamnya. Waktu? Paling cuma 3 bulan untuk perlakuan awal, tambah 6 bulan untuk stabilisasi setelah dipindahkan ke tanah. Cuma 1 generasi. Masalahnya ya itu, lebih mahal. Penelitian saya fokus ke multiplikasi klon dari tunas samping Aglaonema hingga 500 tunas. Dibawa ke NTU, diberi NMU dengan cara ditembak, didiamkan di ruang gelap selama 3 minggu, ditumbuhkan di rak cahaya, dan diamati. Hasilnya menarik. 8 mutan dihasilkan. Pelajaran yang saya dapat: Manipulasi materi genetik dengan mutasi. Pertanyaan lanjutan: Terus apa? Seperti hasil mutasi pada umumnya, hasilnya acak. Andai saya mau tanaman dengan hasil berparameter warna yang diinginkan, saya butuh mencari tau apa yang harus saya manipulasi, dan saya otak-atik.

Dari ITB, saya mendapat bimbingan dari Ibu Dr. Totik Sri Mariani, M.AGr dan arahan dari seorang professor (sekarang udah mengundurkan diri dari profesinya) dari NIE-NTU, Prof. Tet Fatt Chia. Saya dapat segudang ilmu.

Sekarang, di bawah sayap UGM, saya bertemu Bapak Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc yang akan menjadi pembimbing tesis saya. Beruntung pula, dengan diskusi beberapa saat dengan beliau, saya akhirnya mendapatkan rencana penelitian tesis saya untuk menyilangkan jagung dan analisis molekuler. Berhubung belum berjalan, saya ga mau spoiler judulnya. Saya akan belajar analisis genetika molekuler di sini. Metode marka mikrosatelit atau Single Sequence Repeats (SSR) dan deteksi gen spesifik antosianin, pigmen warna merah-biru-ungu di tanaman.

Marka mikrosatelit atau SSR itu apa? Bayangin gini: Kita punya DNA sebagai rak genetik kita yang tersusun dari 4 huruf: A, G, T, dan C. Kode yang begitu banyak itu tersimpan pada inti sel kita. Ada kondisi di mana kode2 itu bakal ngebentuk pola yang bisa berulang, kayak AAGCAAGCAAGC atau semacamnya. Pola ini namanya mikrosatelit (mengenai definisi, mohon koreksi kalau ada salah). Mikrosatelit DNA ini bisa dideteksi untuk mencari kekerabatan antar gen pada varietas2. Terus deteksi gen (DNA) antosianin? Kita semua tau, ada namanya proses metabolisme. Misal di manusia, untuk tubuh kita membuat pigmen merah di darah (hemoglobin) itu kompleks: DNA ditranskrip jadi RNA, RNA ditranslasi jadi protein awal yang bakal dilipat jadi protein spesifik dan dengan aparatus golgi bakal dibawa ke bagian spesifik sel atau luar sel. Protein ini bisa memicu gen lain untuk memulai pembuatan protein lain, atau protein ini membantu proses pembentukan senaywa tertentu sebagai biokatalisator atau enzim. Aduh, kok ribet ya… gini deh:

DNA –> RNA –> Protein A –> Protein yang bisa mempengaruhi DNA –> DNA mengekspresikan protein B –> Protein B membuat senyawa 1 –> Senyawa 1 diubah dengan protein lain (2) jadi senyawa 2, dst hingga senyawa X didapat.

Nah, intinya ada banyak bagian dari DNA yang diperlukan untuk membuat protein A, B, C, dan seterusnya untuk proses pembuatan senyawa X di tubuh. Yang kita bisa deteksi, bagian DNA mana sih yang mengkode protein A, B, C, dan seterusnya? Ini bisa dilacak, dan ngebantu untuk analisis perbandingan. Misal ada tanaman warnanya merah, ungu, pink, dll. Pola ekspresi gen antosianinnya pasti beragam. Ntah senyawa yang dihasilkan sedikit, atau ada proses yang beda akibat protein tambahan atau ada protein yang gak ada. Ini bisa dideteksi, dan inilah yang bakal saya lakuin semester depan untuk tesis.

Hmmm… mutasi, analisis genetika, selanjutnya apa ya? Saya sejujurnya pengen belajar soal rekayasa genetika. Apa? Pembaca ada yang anti organisme hasil rekayasa genetika (GMO)? Hei2, sebentar. Saya, di sini mau belajar punya alasan sendiri dan atas ambisi sendiri. Bukan untuk bikin ribut dan mencemari planet dengan makhluk2 aneh buatan saya. Nanti akan saya bahas.

Dari rekayasa genetika, saya mau mengejar ilmu biologi sintetik (synthetic biology). Ilmu yang “God-like” karena berusaha membuat makhluk hidup yang diinginkan ini, memang ingin banget saya pelajari. Siapa sih yang ga mau ngebuat sel fungsional, dengan karakter yang diinginkan, dan bisa dengan kode2 yang mencerminkan nama kita di DNA nya? Lucu sih, saya mau. Emang kenapa? Mau jadi dewa? Nggak. Saya cuma mau mencari batas, batas tertinggi pengetahuan manusia atas kehidupan yang Tuhan berikan di bawah langit-Nya yang tanpa batas ini. Harapannya, ditengah keributan manusia atas agama di bumi ini yang semakin abstrak, semakin ekslusif dan merasa benar, bahkan untuk agama saya sendiri, dan tentu dengan bantuan kitab agama saya dan bimbingan Sang Pembawa Berita-Nya, saya ingin mencari definisi hidup dan ilmu Tuhan yang bisa saya dapati sendiri. Saya ateis? Saya sekuler? Ngga, saya berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan sebisa saya sendiri, karena saya bingung sama pemimpin2 agama saya saat ini. Itu aja.

Balik lagi ke hal keilmuwan tadi. Terus gimana? Saya bingung sih, dari UGM ini, saya harus lompat ke mana? Saya mau jadi dosen, tapi saya juga mau belajar ke seberang sana. Saya pengen ke Eropa atau Jepang untuk tahap PhD saya. Pertanyaannya, topik apa yang akan menjembatani saya dari ilmu biotek saya tentang mutasi dan analisis genetika, ke biologi sintetik ini, lalu saya harus ke mana?

Saya harus tahu, karena tahun depan, usaha saya… untuk semua ini harus jalan, dan segala proses kehidupan saya bakal berputar lebih cepat lagi dari tahun 2013 ini (yang bahkan udah cepat banget menurut saya).

-AW-

DISCLAIMER: Saya sudah lama tidak mengontak Ibu Rita, MOHON untuk TIDAK mengontak saya untuk menanyakan nomor beliau. Terima kasih.

Halo pembaca! Aduh maaf ya saya ngebiarin blog ini vakum terlalu lama karena saya fokus ke blog saya yang tentang makanan dari kemaren akibat banyaknya review yang harus dibuat terkait kerjaan saya. Waktu itu saya juga mau nulis tentang aliran santōryu (3 pedang) tapi belum bisa karena belum sempat diuji coba lagi. So, well… saya rasa saya mau cerita tentang pengalaman unik saya dulu kemarin di bulan Juli. Ilmu pedang memang sudah merupakan ilmu lama yang diajarkan turun temurun. Tiap bagian dunia memiliki seni dan ajaran penggunaan serta filosofinya masing2. Waktu itu saya sudah menuliskan bagaimana petualangan saya dengan kendo (yang saat ini lagi mau lanjut di Yogya lagi dari Jakarta) dan kali ini,  saya akan menceritakan pengalaman lain dengan ilmu pedang (saya rasa sih) dan tidak dari timur dunia, melainkan dari barat. Apakah itu? Anggar… atau fencing.

Pedang Anggar

Saya lupa… ini floret atau degen ya…

Semua berawal dari mimpi saya di suatu malam. Saya ntah bagaimana mendapat pikiran yang mengatakan bahwa:

“Dit, lo udah nyoba aliran pedang Jepang, Kendo. Kenapa lo ga coba Anggar yang dari Eropa? Coba deh, lo tertarik menyelami dunia pedang kayak seorang swordsman sejati kan?”

Oke, saya bangun tidur. Hal itu anehnya masih nempel di kepala saya. Terekam dalam memori. Saya rasa ada benarnya juga. Saya pun iseng ngobrol ama bapak…

“Dit, tunjukkin antusias kamu sama hal2 baru. Coba aja. Jadikan sesuatu pengalaman baru. Kamu tertarik nyoba anggar? Why not? Buat diri kamu selalu penasaran.”

Singkat kata, oke… bapak ngajarin saya buat kepo. Ini di sisi lain, hal yang udah build in di kepala pacar saya (ups… kesebut deh Tus :p ).

Balik lagi, pagi itu pun saya memasang soundtrack epik di telinga saya sembari mencari info soal anggar di Jakarta. Ketik ini… ketik itu… BAM! Saya pun mendapatkan lokasi ini:

PB IKASI (Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia)

Stadion Gelora Bung Karno Pintu I. Senayan.

2425228_wNyOEYt9sIjoaOVGSj4EeFS9oFx_S_USfjsfo9US2Z4

Dalam pencarian sesuatu, saya biasanya akan terdorong mencari tempat yang bersangkutan terlebih dahulu, in other word… reconnaissance. Insting dasar saya yang suka jalan2. Siang hari itu, saya pun tiba. Pas masuk, suasananya ga seperti yang saya duga. Orang banyak yang duduk di sekitar tempat itu, tapi ga ada hawa2 yang menunjukkan bahwa orang2 ini berasal dari PB IKASI. Saya melihat tempat latihan, tapi kosong. Kemudian di kanan ada kantor IKASI, tapi saya bahkan ga yakin ini kantornya buka atau ngga. Sempat bertanya, akhirnya saya pun diajak ke kantor IKASI dan bertemu seorang bapak. Beliau memberi saya nomer seorang ibu bernama Rita, dan karena saya tau saya mau pindah ke Yogyakarta, saya pun mendapat beberapa nama. Sang bapak itu menyebutkan bahwa latihan diadakan hari Selasa dan Kamis pada jam 4 sore, lalu Sabtu jam 10 pagi.

Akhirnya saya mencoba ke sana… 2 kali… dan ga nemu mereka yang latihan. Akhirnya saya pun memberanikan diri mengontak Bu Rita…

AW: Permisi, apa benar ini dengan Bu Rita, ketua perkumpulan anggar di PB IKASI Jakarta? BR: Iya saya RITA anggar. Dengan siapa ya? Terima kasih AW: Nama saya Adit, saya waktu kemarin ke IKASI untuk mau bertanya2 soal latihan dan lain2nya. Kalau saya boleh tau, kapan saja ya sesi latihannya biar saya bisa ke sana? Soalnya saya tertarik untuk ikut BR: Ok Adit, kamu bisa datang hari Kamis jam 5 sore di hall PB anggar stadion Snayan? Kamu umur berapa? Tinggi? Rumah dan sekolah dimana? AW: Saya umur 23, tinggi 174 cm, rumah di Jakarta Selatan (Pasar Minggu) dan saya lagi mau S2 di UGM. Adakah hal lain yang perlu saya persiapkan? BR: Latihan anggar awal kali membosankan. Tapi kalau sudah bisa main sangat mengasikkan. Jadi kamu mau main harus sabar dan tekun dan rajin. Pakai baju olahraga dan latihan kamis sore di Stadion. Ok? AW: Oke, saya akan ke stadion hari kamis sore 🙂

Saya pun penasaran. Siapakah beliau ini? Yang jelas beliau pasti sudah punya nama karena beliau adalah ketua pelatih dan berada di PB IKASI pusat di Jakarta. Mencari nama beliau agak membutuhkan trik. Pas dapat, saya kaget.

Rita Hehanusa Piri

Ibu Gloria Florence Hehanusa, biasa dipanggil Rita Piri. Beliau adalah mantan atlet senior anggar yang sekarang menjadi pelatnas anggar. Wow… sekalinya saya bertemu orang baru, orang itu adalah MVP (Sumber: Kompas Olahraga)

Kaget, saya pun menaruh post di Facebook. Ternyata ada respon dari orang yang ga saya duga, senior saya di Biologi ITB, Agung Kusumanto. Dia nanya, kenapa saya kenal dia? Saya pun cerita kalo saya mau ikut anggar. Eh, ternyata Bu Rita ini pernah jadi pengurus asrama nya Agung! Wow… dunia sempit.

Kamis itu, saya menculik mengajak adek kelas sekaligus teman dekat saya, Radian Agusta (panggil aja Radian) buat ke sana ikut latihan. Masuk tempat latihan, saya disambut beberapa atlet anggar yang laki2. Yang perempuan di sisi lain, keliatannya masih muda dan rada pemalu. Ga bohong, anak2 itu masih keliatan di sekitar atau bawah bangku SMU. Saya pun ga bertemu Bu Rita, tapi saya bertemu 2 pelatih. Dua orang ibu paruh baya. Mereka awalnya menanyakan, saya tipe floret, degen, atau sabel? Saya bingung. Mereka bilang kalau begitu kami harus latihan dan biar nantinya kami ditentukan ke arah mana (walaupun jika kami mau memilih tipe pedang kami sendiri, tidak apa2).

Penjelasan singkat. Ada 3 jenis pedang di anggar:

  1. Floret atau foil. Bentuknya langsing dan bisa meliuk dengan mudah pas ditusuk. Pengguna pedang ini hanya bisa menyerang bagian torso poros tubuh lawan (ga boleh kena tangan, leher ke atas, dan kaki).
  2. Degen atau epée. Bentuknya segitiga langsing dan sudutnya tidak tajam. Pengguna pedang ini bisa menyerang seluruh tubuh lawan. Dengan kata lain, pelindung harus dipasang penuh ketika duel.
  3. Sabel atau sabre. Bentuknya segitiga beralur, agak tajam, dan kaku. Pengguna pedang ini hanya bisa menyerang bagian atas tubuh lawan (di atas pinggang).

 Saya persingkat cerita saya untuk ke beberapa minggu ke depan. Saya diajarkan stance dasar di anggar.

  1. Kaki dibuka 90˚dengan kaki kiri posisi normal, kaki kanan menghadap kanan.
  2. Kaki ditekuk. Tangan keduanya di belakang atau dipinggang (di level berikutnya tangan kanan ke depan, posisi memegang pedang). Kepala menghadap searah kaki kanan sebagai arah depan. Ini posisi anggar yang menjadi dasar untuk maju, mundur dan nyerang.
  3. Untuk maju, kaki kanan diangkat, maju dan diletakkan perlahan di bagian tumit, baru dijatuhkan bagian depannya dan bersama dengan kaki kiri diangkat dan maju satu langkah.
  4. Untuk mundur, kaki kiri diangkat, maju ke arah sebaliknya dari kaki kanan, dan diletakkan perlahan di tepi kaki bagian kanan, baru dijatuhkan bagian kirinya dan bersama dengan kaki kanan diangkat dan bergerak ke kaki kiri satu langkah.

Saya gak bohong, ini latihannya menguras keringat. Satu sesi dari jam 5 sampai jam 6 (waktu buka puasa waktu itu), bener2 bikin kering. Di tambah sebelum latihan, saya harus lari keliling GBK dulu (normalnya 2 keliling, tapi saya 1 keliling… karena saya menjaga stamina saya waktu itu biar ga kaget). Gerakannya pun beda dengan Kendo. Kendo meminta kaki kita dalam bergerak untuk diseret. Dalam anggar, gerakannya adalah melangkah dan ga boleh diseret. Seiring latihan, Rino pun ikut, plus seorang temen deket saya lagi yang juga antusias ama anggar bernama Tami Justisia atau Tami.  Saat latihan, kadang para atlet ini juga turut membantu dan memberi semangat, misalnya Sheila. Gadis SMP yang sangat antusias ini pernah mengajar kami dan nampaknya baru ketemu, dia langsung deket sama Tami, kayak kakak-adek aja. Hehe… lucu sih (as in cute) sih ngeliat mereka latihan dan ngobrol2 waktu itu (jangan mikir aneh2!). Saya, yang pernah merasakan menjadi pengajar, jiwa saya yang kadang capek atau suntuk sama hal2 sekitar kerjaan dan lain2 (biasa, anak muda) pun kembali tenang melihat senyum anak2 yang dari SD sampai udah atlet profesional itu memberi semangat, senyum dan tertawa bareng. Saya di satu sisi belajar bahwa ternyata inilah atlet. Mereka sama2 bersaing, tapi mereka juga melakukan aktivitas yang berat bareng2, dan karena satu tim… saling mendukung dan saling menjaga satu sama lain adalah hal yang esensial di sini. Suatu ketika, pada akhirnya Bu… eh Tante Rita (ya, kami semua dengan para pelatih memang sangat akrab, bahkan kami memanggilnya mami atau tante di sini) pun datang. Melihat saya latihan, beliau bilang saya harus semangat latihan rutin biar badan saya kurus. Saya bertanya…

AW: Hah? Iya gitu tante bisa kurus dengan gini?? TR: Iya lah! Kamu di sini kan bakal banyak gerak! AW: Penasaran tante, ini ga ngencangin otot perut tapi kan? Lebih ke kaki gitu… TR: Kata siapa, malah perut yang nahan beban kamu kan pas turun? AW: Oh gitu ya tante!

Wah, perut juga! Uhm… maklum, saya lagi berusaha ngurangin berat badan, selain buat jaga kesehatan, lumayan lah… ada sesuatu yang bisa saya pamerin ke pacar saya. Hehehe… Ada hal yang saya ingat dari ucapan Tante Rita kepada kami semua ketika menutup sesi latihan rutin:

“Saya percaya bahwa kalian bukan orang sembarangan. Anggar adalah olah raga yang memadukan otak dan otot. Kita jelas menggunakan otot untuk gerak dan menyerang. Otak kita gunakan untuk mengatur strategi kita untuk menyerang lawan. Tidak semua orang bisa bisa menyeimbangkan keduanya. Itulah mengapa saya percaya bahwa kalian adalah orang yang otaknya encer!”

Kami pun latihan rutin sampai Agustus tiba. Tami masih antusias, Radian pindah ke Bandung karena dia kuliah di SBM ITB angkatan 2013, saya sibuk ngurus Yogya, Rino? Dia ga terlalu mau mendalami. Suatu hari, Rino ngomong ke saya:

AM: Gw jujur lucu sih ngeliat lo. AW: Kenapa emang? AM: Ya lo baru sekarang2 ngambil bela diri dan baru ngerasain antusiasnya. AW: Ya udah sih No, gw tau lo udah tae kwon do dari SD. AM: Ngga, gw ngeliatnya lucu aja… lo baru ikut dan lo excited ngasih tau yang lain. Di satu sisi lo bisa keliatan jago, padahal belum. Orang bisa overestimate lo lho ntar. AW: Gini lah gw, No. Gw kalo antusias ama sesuatu ya gini. Gw emang kayak bocah. Gw suka, gw bilang ke orang2 sekitar gw. Emang lo liat anggar ini gimana? AM: Gw tertarik, tapi gw ga berniat ngedalamin sih. Beda sama lo. AW: Ha? Gw ikut ini iseng doang tau! AM: Hah?? Tapi lo kayaknya niat banget! AW: Lo kan yang ngajarin gw, No… keisengan akan membawa lo ke tempat yang lebih tinggi. Gw setuju. Tapi kalo gw, setelah gw iseng… gw akan memastikan gw punya sesuatu yang menunjukkan gw pernah antusias di situ, achievement untuk gw raih. Di Kendo, gw udah punya shinai, gw perlu latihan lagi biar dapet hakama dan gi terus dapet bogu. Gw ga berniat jadi atlet Kendo, tapi kalo gw bisa jadi… gapapa, karena gw juga bakal seneng. Buat gw seru, lo ngelakuin sesuatu yang lo suka dengan awal iseng, tapi lo bisa mendapatkan sesuatu dan nilai di situ. Begitu juga anggar, gw nanti bakal bisa punya pedangnya. Gw bisa ikut kejuaraan nasional dan menang? Itu bakal jadi sesuatu, No. Sesuatu yang sangat tinggi, dimulai dari keisengan doang! AM: Wah, asik! Hahaha… gw kirain lo ikut karena lo pengen serius banget. Eh, bener juga lo!

Saya pun belajar, ketika kaluan iseng… cobalah keisengan itu diarahkan, sehingga kalian mendapat achievement biar itu ga ada hubungannya ke kerjaan kalian atau apapun, tapi sebagai hobi. Lalu, jadikan achievement tadi mengarahkan diri kalian ke achievement lain! Di dunia kita hidup sekarang ini, hanya mereka yang tekun, niat, kreatif, gigih, dan inovatiflah yang akan bertahan di masa depan! Oke, kembali lagi. Di menjelang akhir pertemuan sebelum lebaran kemarin, Tante Rita menemui kami bertiga (saya, Rino, Tami, minus Radian). Beliau menentukan bahwa kami sebaiknya nanti jadi pemakai degen. Beliau melihat kami bakal bisa menyerang ke seluruh tubuh dan dengan degen kami tidak akan kesusahan untuk restriksi area serang. Saya senang saat Tante Rita udah menentukan ini. Setelah Lebaran, saya pun makin sibuk. Mengurus masuk UGM, artikel majalah yang harus saya kebut, dan urusan2 lain. Gak kerasa tiba waktunya saya buat ke Yogya. Rada sedih dan ga enak rasanya, bahkan saya belum pamit sama Tante Rita dan anak2 yang lain. Cuma saya kedepannya akan mencoba memegang selalu yang beliau beri kepada kami. Semangat, kemauan untuk berlatih, dan semoga aja… di Yogya, selain saya ikut Kendo, saya juga bisa ikut anggar lagi. Saya ga mau mengecewakan diri saya yang udah sejauh ini maju, dan harapan Tante Rita kepada saya. Terakhir saya ngomong ke Tami, bahkan beliau juga mau mencarikan tempat latihan untuk saya di Yogya. Saya tersentuh. Yah… insya Allah. Saya akan aktif lagi nantinya dengan menyeimbangkan dengan jadwal rutin saya! Tunggu aja yah, Tante Rita…

PS: Update 230315 – Jika kalian tertarik, saya menyarankan kalian buat datang ke Pengurus Besar IKASI di GBK dan mampir sendiri ke kantornya, atau datang sendiri ke latian dan menemui mereka. Saya merasa kurang nyaman memberikan nomor Tante Rita yang mungkin nambah sibuk akhir2 ini. Toh kalau kalian ke sana, kalian bisa dapat info lebih jelas atau mungkin bertemu beliau langsung.

-AW-

Shiai

Shiai dengan bōgu ( = baju pelindung), saya aja masih belum boleh pake bōgu…

Langsung ke cerita, Taiyōmaru (太陽丸, Sang Lingkaran Matahari, lengkapnya sih Sabu-ku Taiyōmaru, さぶく太陽丸) di sini bukanlah nama orang, bukan nama anjing juga (kalo ada yang menyambungkannya ke nama anjing ninja di Ninja Hattori, Shishimaru). Itu adalah nama daitō shinai (大刀竹刀), pedang bambu panjang yang saya punya yang selalu menemani saya untuk latihan kendō. Ya, saya ikut kendō, aliran senjata pedang dari Jepang yang merupakan turunan dari kenjutsu. Kendō (剣道) sendiri secara bahasa terdiri dari ken (剣) dan (道) yang bisa diartikan menjadi pedang dan aliran/jalan filosofi.

Sejarah singkat sebagai latar belakang, saya ikut kendō sebenarnya ceritanya berawal dari ketertarikan sama ilmu pedang dan inspirasi dari Roronoa Zoro di manga One Piece. Saya dulu sempat mendaftarkan diri di ITB walau hanya ikut sebentar di unit kendō situ gara2 kewalahan sama kesibukan tahun pertama. Kurikulum ITB 2007 ada 3 praktikum untuk tahun persiapannya.  Waktu itu saya baru belajar kamae-samae (langkah mengeluarkan pedang ke posisi siap (kamae-tō) dan menaruhnya kembali ke posisi istirahat (samae-tō)), suri-ashi (すり足) atau menyeret kaki, yang menjadi dasar. Kemudian sempat belajar mengayun bambu (belum boleh pegang shinai) untuk pukulan men (面, ke arah ubun-ubun kepala dari topeng pelindung). Apa yang menjadi drive saya waktu itu masih sederhana: nyoba2, dan syukur2 bisa ngeluarin jurus keren. Lebih lagi, saya akhirnya tau ada yang namanya sistem pedang ganda atau nitōryu (二刀流). Senpai (atau senior) saya, Pandu, waktu itu bilang… yang jelas itu susah. Saya mengerutkan dahi. Masa sih?

Karena kesibukan kampus, akhirnya saya vakum… selama hampir 6 tahun. Ntah, mereka yang pernah ambil kendō bareng saya mungkin aja udah lupa. Bahkan para senpai saya.

Setelah 6 tahun, dan didorong untuk mulai lagi, saya pun bergabung ke klub latihan kendō di UI. Klub ini berencana untuk menjadi unit, tapi saya diajarkan para senpai yang ternyata lebih muda dari saya, Adit (angkatan 2009), Tama (sang ketua, 2010), Rinov (2010), Ian (2010), dan beberapa lainnya. Saya ikut bareng Dwiki dan Aji.

Setelah inisiasi suri-ashi lagi selama 2 pertemuan, latihan men, dan beberapa stance awal (duduk seiza, mokusō, dan rei). Tapi bersama klub ini, saya belajar teknik pemanasan yang baru saya dapatkan: gaya tebasan atas-bawah atau jōge suburi (上下素振り), sentakan ke arah ubun2 atau shomen suburi (書面素振り), tebasan semi-diagonal ke samping topeng pelindung atau sayumen suburi (白湯面素振り), dan tebasan atas bawah dengan cepat atau haya suburi (早素振り).

Selang beberapa bulan, saya pun dipertemukan dengan si Taiyōmaru. Setelah saya lepas segel merahnya, para senpai saya dan temen2 yang lain pada angkat shinai dan “ngajak kenalan”. Saya pun jadi motodachi (istilah kendō: dia yang berperan sebagai penahan tebasan untuk latihan tanpa melibatkan alat pelindung lengkap). Yeah, Taiyōmaru pun menjalankan peran pertamanya.

Waktu terus berjalan. Si pedang bambu ini saya sadari perlahan2 membawa saya ke pengetahuan dan filosofi yang lebih dalam. Tetap berpegang sama mimpi saya untuk bisa jadi kendoka nitoryu ntah kapan, tapi saya terbawa untuk semakin berusaha untuk bijak dalam berpikir.

Pelajaran pertama:

Ian: Saat nebas, jangan kelamaan mikir. Setelah hitungan kedua, bersamaan sama suri-ashi ke depan, langsung tebas!

Tebasan men itu butuh skill, presisi, kecepatan, dan tenaga untuk diterapkan. Kesalahan umum adalah orang lupa menarik badannya ke depan sebelum menebas, dan ada jeda antara mengayun shinai ke atas sebelum dilecutkan untuk men, seolah mikir dulu. Semua ini harus dengan spontan dan kecepatan. Waktu latihan waktu itu bareng Taiyōmaru, saya pun sadar. Dalam beberapa aspek hidup, saya kebanyakan mikir. Saya suka ragu di titik terakhir eksekusi. Sederhananya ini: Saya pernah mau memecahkan balok bata. Deedo, teman saya, mengarahkan saya bahwa memukul harus dengan hentakan bertenaga yang cepat. Saya? Awalnya saya cepat tapi melambat, seolah otak saya lebih mementingkan “Nanti sakit” atau “Nanti luka” atau semacamnya. Saya tidak boleh seperti ini. Saya harus bisa menjalankan apa yang harus saya jalankan. Saya harus lebih tegas.

Beruntung, walau masih harus tetap saya asah, saya makin spontan atas menjalankan ide2 di pikiran saya. Keraguan adalah lawan. Biar begitu, pemikiran tetap harus dilakukan, tapi sebelum eksekusi, bukan saat eksekusi.

Pelajaran kedua:

Adit-senpai: Lo mau nyoba pake men* kan?

Saya: Iya…

Adit-senpai: Oke, nih pake *sambil memakaikan men* Terus, pake kote** ya! Kita shiai***!!

Saya: APA??

Adit-senpai: Gantian lah, masa gw mulu yang jadi dummy?? Sekalian nyobain rasanya pukulan men kalo pake men. *nengok ke Tama* Tama, lo jadi jurinya ya!

Tama: Sip…

<akhirnya kami siap2>

Adit-senpai: Dit, kamae lo yang bener dong!

<mulai, kena 3 men, 1 kote, untung saya ga pake dō****, lebih parah lagi, kena tsuki*****>

Adit-senpai: Dit, kamae lo ngaco. Lo kebuka banget! Makanya gw bahkan bisa tsuki.

Tama: Lo kena kiai****** udah ciut yak?

Keterangan:

* = men (面) itu adalah topeng pelindung, pukulan men dianggap sah kalo kena ubun2 tanpa interupsi.

** = kote (小手) adalah sarung tangan pelindung, pukulan kote sah kalo kena bagian itu tanpa interupsi.

*** = shiai (試合) adalah pertarungan atau kompetisi dalam bahasa Jepang.

**** =  (胴) adalah pelindung perut dan dada, pukulan do sah kalo kena sisi kanan/kiri perut tanpa interupsi.

***** = tsuki (突き) adalah tusukan ke bagian tenggorokan lawan, biasanya akan kena bagian tenggorokan dari men, berguna buat mengancam lawan dan juga menjadi acuan bahwa pertahanan tengah kita bolong.

****** = kiai (気合い) adalah teriakan menyerang, saat melakukan tebasan men, kote, do, dan tsuki, kita harus menyebutkan ini atau kita ga dinilai juri saat shiai, selain itu juga ada teriakan yang mungkin kita tau seperti “Hiaaaaatt!!” sambil menyerang lawan yang jelas tujuannya adalah menjatuhkan mental lawan.

Tamparan keras buat saya, saya masih gampang terpengaruh oleh serangan psikologis. Gaya kamae saya yang menjadi dasar saja sudah salah, jelas aja Adit-senpai bisa nyerang dengan gampang. Apalagi kena tsuki, pertanda sempurna bahwa bahkan titik tengah saya udah bolong dan saya lengah.

Shiai sama Adit-senpai ini cukup gila. Taiyōmaru pun sampai renggang talinya. Beruntung dia gapapa.

Saya harus belajar untuk menguatkan mental dan bertekad keras untuk menjalankan apa yang harus saya lakukan, dan ga boleh gampang terdistraksi serangan psikologis dari sekitar saya yang berdampak ke goncangan emosi saya. Banyak dampak yang bisa dihasilkan dari ini.

Misal: Cowo mau nembak cw. Kalo mental dia hari itu udah jatuh dari saat dia ketemu saja dengan si cw, kayak si cw seolah ngeluarin kiai dengan suara indahnya dan instead of dengan tatapan mata yang menakutkan tapi dengan tatapan yang indah, well… sehebat apapun track PDKT, jangan harap semua berakhir baik.

Yeah, tapi itu cuma contoh kasus… fiktif. Tapi itulah, mental dalam pengerjaan sesuatu memang harus stabil. Lawan di hidup ini bukan cuma lawan yang mengancam kita, tapi pertanggungjawaban ke mereka yang butuh kita lindungi dan sayangi, dan kegigihan kita akan sesuatu akan selalu diuji.

Pelajaran ketiga:

Adit-senpai: Sekarang kita kakari (geiko) ya. 10 kali terus muter. Serangan men non stop. Serang, maju, balik badan, serang lagi, dan seterusnya. Ga boleh berhenti!!

Kakari geiko (素振り) adalah sesi latihan serangan intensif (terus menerus) dan pendek yang tujuannya adalah untuk melatih kesiagaan dan kesiapan, serta membangun jiwa dan stamina yang kuat.

Hari itu, baru kali ini saya ngerti. Agak obvious sih dan harusnya dari awal, cara menyerang utama dalam kendō kan adalah dengan tangan kiri. Saya harus genggam ujung shinai, si Taiyōmaru, dengan tangan kiri dengan kuat. Tangan kanan hanya mengarahkan.

Sepuluh kali masing2 (20 total) serangan men dengan kiai dan suri-ashi cepat ke Adit-senpai dan Rinov-senpai, itu bener2 capek. Saya sampai sesak napas, dan badan bagian kiri saya gemetaran. Memang mungkin karena saya masih belum biasa. FYI, suri-ashi itu yang mendorong adalah kaki kiri. Jadi bagian tubuh kiri saya kali ini benar2 diuji.

Saya jadi belajar sesuatu. Khususnya adalah ke fungsi kiai itu sendiri dan latihan short-term-focusing dan accuracy-power-gaining in second. Saat kita capek, ternyata teriakan kiai itu benar2 bisa mendorong kita untuk maju lagi. Wajar kalo kita bisa lihat di anime bahwa tokoh pemainnya yang sudah mau mati pun bisa menyerang dengan kuat dengan segala alasan yang membuatnya harus bertarung dalam satu serangan dan satu teriakan. Sisanya saya belajar bahwa kesigapan dalam waktu singkat itu penting. Apalagi dalam memimpin, baik memimpin diri, dan orang lain (tim). Jika kita lama dalam memutuskan, bisa aja semuanya berakhir berantakan.

Contoh kasus: Seorang pilot dalam keadaan darurat. Segala instrumen peringatan berbunyi, diri kita panik, pemandangan visual bisa saja berantakan. Tapi pilot harus tenang dan bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Mengendalikan pesawat, mengatur instrumen terbang, dan utamanya… mengendalikan situasi. Karena jika panik, nyawa ratusan penumpang bisa melayang termasuk kru dan dirinya sendiri. Dengan berpikir jernih dalam keadaan bahaya sekaligus, pilot ini bisa saja membalikkan situasi dan membuat para penumpang memberikan tepuk tangan setelah mendarat dengan tenang.

Hehe… sudah lumayan yang saya dapatkan. Semoga saya bisa dapatkan ilmunya lagi. Saya masih mau belajar kendō lagi sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi, dan saya ingin bisa nitōryu. Sesusah apapun kata senpai saya, biar saya sendiri yang menentukan seberapa susahnya itu. Terus maju, menyerang dan menyerang. Karena di kendō ada prinsip: 防御のための防御なし。(Ja: Bōgyo no tame no bōgyo nashi = tidak ada istilah bertahan untuk bertahan). Untuk bertahan, menyeranglah, atau majulah.

Kendō, yang jelas mengajarkan untuk menguatkan mental, menghormati lawan, membangkitkan kepercayaan diri, dan menjaga diri agar tetap rendah hati, bukan untuk menyerang dan menyakiti. Karena kenyataannya, shinai itu sendiri tidak dibuat untuk melukai lawan.

Taiyōmaru, tolong bawa saya ke sisa perjalanan saya. Semoga di tiap tebasan ke lawan, ada kebijaksanaan yang selalu bisa dipetik. Juga, pertemukan saya dengan saudara mu yang belum muncul… Tsukimaru (月丸, Sang Lingkaran Bulan).

-AW-

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life