Lewati navigasi

Tag Archives: otak

Mumpung suasana masih cukup segar dengan segala kehebohan Ujian Nasional (UN), saya akan bahas masalah dunia pernilaian di sistem akademik kita bedasarkan sudut pandang saya sendiri.
Nilai & NIM

Rage comic: Nilai & NIM, buatan saya sendiri (emang udah ada yang posting di Kaskus, di YeahMahasiswa, atau di manapun kalo ada yang repost, kalo ga percaya cari aja di Google Search NIM ini (keyword: 10607032, NIM, ITB) salah satu yang muncul pasti nama saya!)

Oke kita mulai, percaya atau ngga… rata2 tiap saya ngobrol sama adek kelas saya, buat mereka yang namanya angka di nilai itu sangatlah penting, bahkan ada yang bilang “sakral.” Coba kita cek… saya beberapa saat lalu nanya ke beberapa responden (yang namanya ga bakal saya sebut)…

Anak SMP: Kalo aku nilainya jelek, mama bisa bunuh (baca: marah2) aku!

Anak SMU: Sumpah aku kesel nilainya jelek, masa aku kalah sama *temen anak ini*?? Padahal aku udah belajar mati2an!

Anak kuliahan: Nilai itu penting lah! Kalo IPK ntar jelek, mau kerja di mana coba??

Mari kita rangkum maknanya, bagi anak SMP nilai itu adalah bentuk presentasi yang bisa dipersembahkan kepada orang tua. Ya, saya tau rasanya kok. Apalagi pas saya SD dulu kalo nilai saya jelek, saya takutnya setengah mati. Soalnya saya ga bisa bohong dan pasti nunjukin nilai saya ke ortu begitu ada. Pulang sekolah, saya gemetaran. Pas SMP, saya pernah nyembunyiin nilai dulu, pas mood bapak atau mama saya udah bagusan, baru saya tunjukin. Respon saya setelah itu adalah secara otomatis duduk ke meja belajar dan belajar lagi.

Pas SMU, nilai itu adalah ajang kompetisi dan harga diri! Anak2 SMU adalah mereka yang sedang dalam tahap mencari jati dirinya. Karena itu, persaingan adalah sesuatu yang seru! Bersaing untuk apa? Untuk bisa jadi murid favorit guru, untuk bisa pamer ke lawan jenis dan begitu mereka kagum, mereka jadi pengen belajar sama kita (SAYA BANGET!), untuk bisa diakui sama temen2 (parahnya, bisa jadi… untuk bisa diakui sebagai sumber contekan ama temen), atau semacemnya. Puncaknya, nilai ini berguna untuk beasiswa bagi ada yang mau ambil demi biaya perguruan tinggi.

Bagaimana dengan era perkuliahan (S1)? Nilai2 itu adalah stok masa depan. Untuk mencari kerja, untuk mencari beasiswa S2, bahkan untuk melamar pasangan pun kadang perlu IPK!

Terus bagaimana? Buat saya… nilai itu lebih besar maknanya dari sebuah parameter kompetisi belaka!

Ada yang nonton film India yang judulnya 3 Idiots?

Threeidiots2

AAL IZZ WEEEELLL!

Rancho/Wangdu di sini mengajarkan kepada kita dan membuktikan sama si presiden kampus, Virus, bahwa hidup dengan kompetisi dengan sekedar beracuan nilai itu salah dengan cara meminta seisi kelas (termasuk si Prof. Virus) mencari dalam 30 detik arti kata FARHANITRATE & PRERAJULISATION di buku manapun! Hasilnya? Ga ada satupun yan bisa! *spoiler alert*

Rancho: “No one get the answer? Now rewind your life by a minute. When I asked this question, were you excited? Curious? Thrilled that you’d learn something new? Anyone? Sir? No… you all got into a frantic race. What’s the use of such method, even if you come first. Will your knowledge increase? No, just the pressure. This is a college, not a pressure cooker. Even a circus lion learns to sit on a chair in fear of the whip. But you call such a lion “well trained”, not “well educated”

Virus: “Hello! This is not a philosophy class! Just explain those two words!”

Rancho: “Sir, these words don’t exist. These are my friends’ name, Farhan & Raju.

Virus: “QUIET! Nonsense! Is this how you’ll teach engineering??”

Rancho: “No, sir. I wasn’t teaching you engineering. You’re an expert at that. I was teaching you how to teach and I’m sure one day you’ll learn. Because unlike you, I never abandon my weak students. Bye, sir!”

Lihat? Belajar itu harus berakar dari rasa suka atas bidang yang kita ambil. Sejak kita SMU, kita mungkin ada yang mengalami penjurusan ke kelas IPA, IPS, atau mungkin ada yang Bahasa. Di kuliah, kita sudah memilih fakultas dan jurusan di dalamnya dari awal. Memilih… kitalah yang memilih. Kalaupun kita terpaksa, salah jurusan akibat penjurusan oleh fakultas, diminta oleh orang tua. Ngga seharusnya kita semua meratapi. Hei, hidup ini bukan penyesalan! Hanya pembelajaran dari waktu ke waktu!

Saya sendiri, sudah mendalami bidang sains sejak SMU itu karena saya tumbuh di bawah ajaran almarhum kakek saya yang sejak kecil sudah mengajarkan astronomi dan biologi sederhana tentang kesehatan, bapak saya sendiri adalah lulusan teknik mesin walaupun sekarang menjadi sales director, beliau diwaktu saya kecil terbiasa memperbaiki alat2 di rumah, dan mama saya adalah seorang dokter gigi yang sejak kecil selalu peduli urusan gigi, makanan, dan obat2an saya. Itu saya… saya tau ga semua orang melewati ini. Tapi apa yang saya pelajari? Saya cinta dengan sains karena dengan sains saya merasa semakin dekat dengan pengetahuan di alam yang Allah berikan kepada kita semua. Ya, kadang nilai saya jelek. Saya akui NUN (Nilai Ujian Nasional) SMU saya pas2an, dan IPK saya juga. Tapi apa saya menyesalinya? Tidak… Saya bangga bisa dapat sesuatu di luar kebanyakan orang.

Saya mempelajari bahwa untuk bisa mencintai ilmu kita, kita harus membawanya dengan imajinasi. Simpelnya, saat kita jatuh cinta sama seseorang, kita pasti membayangkan orang itu berdua selamanya dengan kita dan semacamnya kan? Saya? Saya yang terus terang sejak kecil suka manga Jepang, Doraemon, Ninja Hatori, P-Man, beberapa seri Digimon, dan Cyborg Kurochan, lalu berlanjut dengan kecintaan saya terhadap beberapa seri fiksi ilmiah, Star Wars, Avatar (film), Alien Quadrilogy, The Island, StarCraft Series, Portal, Half Life dan sebagainya pun mempelajari bahwa mimpi kita dengan sains adalah gerbang masa depan. Coba bayangkan imajinasi Fujiko F. Fujio yang sudah membayangkan TV Waktu yang ukurannya sederhana di jaman 70an itu. Sekarang, kita ada laptop yang bahkan ukurannya lebih tipis, dan banyak orang yang punya, termasuk saya saat mengetik blog ini! Lihat, betapa kuatnya imajinasi seseorang! Bahkan game saja (misal Half Life dan StarCraft) itu banyak ide2 yang dituangkan di dalamnya dan menunggu untuk direalisasikan dengan sains atau dijabarkan dengan sains!

Saat kuliah, saya belajar bahwa seni-teknologi-sains adalah satu tubuh, sama dengan helm-baju zirah-pedang di medan pertempuran. Sains tanpa teknologi, ga ada gunanya kita belajar sains. Sains tanpa seni, kaku. Teknologi tanpa seni, ga laku! Maksudnya jadi apa? Ketika belajar sesuatu, bayangkanlah! Gunakan imajinasi kalian! Saat saya belajar fisika, saya membayangkan bagaimana konsep gauss gun, partikel yang lebih cepat dari cahaya, suhu terendah di alam semesta, lalu di kimia saya membayangkan apa yang terjadi jika struktur dasar kita bukan karbon tapi silikon, apa yang terjadi jika orbital ada lebih dari g (kan ada s, p, d, f untuk saat ini), dan di biologi… LEBIH BANYAK LAGI, dan inilah yang membuat saya kuliah di biologi. Kesimpulannya? Dari satu ilmu, satu teori, bayangkanlah apa yang bisa kita dapat, apa yang bisa kita genggam, jika ilmu itu semakin tinggi, hingga kita bisa melakukan apapun?? Bukankah imajinasi yang membawa kita ke masa depan dengan ilmu yang kita punya sekarang?

Selesai kuliah, saya menemui orang2 dengan latar berbeda. Bidang sosial dan sastra, orang2 ini menjadi teman terdekat saya juga. Saya mulai belajar (baca ini), bahwa segala sesuatu karya manusia itu memiliki makna. Bahkan mitos, legenda, takhayul, dan mungkin misteri2 di sekitar kita itu semua ada penjabarannya (baca contohnya di sini) lho! Di jaman dahulu, segala sesuatu dibuat dengan konsep yang wah! Berbeda dengan kita yang hidup dengan keinstanan dan terlena dengan makna yang serba praktis. Kita pun jadi mudah mengiyakan sebuah informasi. Kita tahu saat ini informasi yang kita dapat itu ada banyak dan belum semuanya benar!

Kembali lagi ke bahasan awal… maka dari itu, saya mau kita semua, memaknai ilmu yang kita dapatkan lebih dari sebuah nilai yang bertuliskan A, B, C, D, E, atau angka2! Ketahuilah apa yang kalian pelajari, maknanya, dampaknya, gunanya, sehingga ga jadi kosong. Senang hatilah jika kalian diajari sesuatu. Kita sebagai manusia dianugerahi kemampuan yang sangat banyak. Segala sesuatu ini bukan masalah bisa atau tidak, tapi mau atau tidak mau. Bapak saya pernah bilang…

“Ga ada yang susah di dunia ini, challenging iya… tapi ngga susah.”

Agama saya, Islam, mengajarkan bahwa segala ujian yang kita terima saat kita hidup itu ga akan melebihi batas kemampuan kita sendiri dan Allah meminta kita untuk selalu berpikir dan terus mencari tahu. Surat pertama di Al-Qur’an pun bunyinya “Iqra'” atau “Bacalah!” Agama lain saya rasa juga begitu. Atheis? Saya rasa orang2 atheis justru adalah mereka yang sangat kritis untuk mencari tahu. Masa kita yang beragama kalah?

Jadi, tolong gunakan rasa penasaran kalian untuk terus mencari. Bukan sekedar berkompetisi. Ketahuilah apa yang kalian pelajari. Cintailah, maka kalian akan mendapatkan makna dari ilmu kalian. Maka kalian akan tahu sebuah makna, lebih dari nilai di atas kertas yang terus jadi masalah di negara kita. Masa depan kalian itu lebih dari sekedar tulisan nilai UN kalian, kawan! Tapi nilai tunjukanlah bahwa nilai kalian itu tinggi, karena kalian mengerti, terlebih lagi menjadi ukuran cintanya kalian terhadap ilmu kalian!

Nilai 100 tersempurna didapat jika kalian belajar dan mengerti sekali apa yang kalian pelajari. Nilai 100 yang biasa hanyalah untuk mereka yang menganggap ilmu itu pelajaran yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri, keluar SMU atau kuliah menguap semuanya. Nilai 100 kalian adalah yang sempurna kan?

Jadilah insan terhebat yang menguasai sains, teknologi, dan seni, demi agama kalian. Kita butuh orang seperti ini di dunia demia masa depan yang lebih baik.

Tulisan di blog ini saya persembahkan buat adek2 kelas saya yang hebat yang baru dan akan UN nantinya, Gibran, Sarah, Afif, Galih, Abi, Albar, Umar, Vanny, Sajeela, Kinasih, Joma, Fattah, dkk. Serta untuk para guru saya di SMU yang luar biasa, Almh. Bu Yanti, Pak Hari Prasetyo, Pak Yosserin, dan Pak Gito. Yang karena mereka, kecintaan saya terhadap sains semakin tinggi!

Cheers!

AW

————-

Iklan: Baca majalah ini yak! Hehehe… ShoppingMagz #8 – Edisi April 2013

Iklan

Suatu malam, tepatnya tanggal 30 Juni 2012, saya sedang berada di sebuah mall di kawasan Bandung yang bernama Paris van Java (PVJ). Saya hari ini pergi dari Jakarta karena diajak teman saya Rino, dan waktu itu teman saya Deedo, Dwiki, dan Bene juga ikut. Acara hari ini pada dasarnya milik Rino, karena dia ada janji buat semacam pagelaran film indie di Blitz. Dwiki yang juga seorang sinematografer juga diajak Rino.

Saya lupa jelasnya, waktu itu saya merasa agak suntuk. Lupa sih penyebabnya, sekedar galau tanpa alasan, atau ntah kenapa. Yang jelas mood saya sedang tidak bagus. Kemudian karena beberapa hal ngaco yang terjadi dalam interaksi dengan teman2 saya itu malah membuat saya tambah ga enak hati. Lantas saya ijin untuk pergi sendiri. Karena dengan sendiri, tidak ada yang akan terluka atau kesal karena sikap saya. Berusaha mendinginkan kepala, saya pun berpikir untuk pergi ke Starbucks di sana untuk duduk, internetan pake laptop, dan baca buku. Ntah bagaimana, malam itu saya teringat ucapan teman dekat saya, Cipo…

“Dit, kalo lo lagi kesal kadang lo ngebuat semua orang di sekitar lo jadi ga nyaman banget sama lo. Coba itu lo kendaliin… senyum deh…”

Agak susah, tapi kalo saya ga bisa menutup rasa kesal saya dengan senyum, diklat olah rasa saya dulu pas jadi perangkat batalyon divisi tata tertib kelompok (Taplok) di kampus gagal dong. And so… smile, I shall

Di Starbucks

Di kasir…

Tiba lah saya di Starbucks, ternyata ramai sekali dan hampir semua meja penuh. Senyum… senyum… dan senyum… *tarik napas*

Barista (co): Malem mas, mau beli apa nih?

Saya: Venti Caramel Cream Frappuccino dong…

B(co): Sip… malem minggu gini, sendirian aja mas? Ga bareng siapa2?

Saya: Bareng temen sih, cuma mereka lagi pada sibuk liat film indie di Blitz, saya jadinya mau baca buku aja di sini

B(co): Yah, kalo malem minggu gini baca buku mah ga asik mas… rame sih

Saya: Hahaha… yah, udah biasa kok…

Udah nyoba senyum, yang ngajak ngobrol cowo. Tapi seenggaknya saya jadi seneng ada yang ngajak ngobrol… eh, tiba2…

Barista (cwmanis lagi): Semuanya Rp 45rb ya mas…

Saya: *ngeluarin dan ngasih kartu debit*

B(cw): Masih kuliah mas?

Saya: Saya akhir taun lalu baru aja lulus…

B(cw): *dengan muka hepi* Wah, selamat dulu dong kalo gitu! Kuliah di mana nih? UI?

Saya: Saya kuliah di ITB kemarin…

B(cw): Oh ITB, kebetulan adek saya juga kuliah di sana. Hehehe…

Saya: Oh ya? Jurusan apa?

B(cw): Dia angkatan 2009, jurusan Teknik Sipil

Saya: Wah, pasti cowo ya?

B(cw): Ngga, dia cw… namanya *memori saya tentang nama dia terhapus, sial!*, oh iya… ini nomer PIN debit nya…

Saya: Oh oke2…

B(cw): Sip, oke deh mas… makasih yaa!

Sumpah saya nge-zonk. Saya bahkan ga nanya langsung nama barista barusan! Padahal boleh juga tuh sekali2 saya ajak jalan! Setelah minuman saya abis, dengan kedok mau beli minuman lagi, kali ini Green Tea Latte, saya nyoba ngecek nama si barista tadi. Yes nemu! Mau tau? Ada deeh… Ah ya tapi ga sempet ngobrol lagi soalnya Starbucks lagi rush hour weekend.

Saya pun duduk sejenak, menghela napas. Ntah kenapa saya merasa baru aja dapat pelajaran. Coba saya tadi murung, pasti saya ga bakal dapet pengalaman barusan. Pastinya… semua orang suka senyum, karena dengan senyum semua orang akan nyaman kepada kita. Andaikan saya tadi gak senyum, mungkin ini adalah teguran dari Tuhan yang menyampaikan bahwa, ngapain murung? Lihatlah dunia di luar, alasan untuk berbahagia karena berbagi dengan orang lain itu lebih banyak dari alasan untuk bersedih karena hal sepele.

Saya pun kembali bersandar dan membaca eBook novel yang berjudul “The Enchantress” karya Michael Scott yang ada di smartphone milik saya sambil menyeruput Green Tea Latte yang tadi saya beli. Baru saya bersandar, saya mendengar sebuah percakapan yang nampaknya diungkapkan secara berapi2; menunjukkan bahwa percakapan yang disampaikan seru sekali.

Le Nguping

Kurang lebih kondisinya seperti ini, di meja samping saya (yang ada laptopnya itu meja saya), orang yang duduk sendiri itu yang sedang membahas topik yang keliatannya seru itu.

Nguping mode: ON… (ket: Saya lupa dialognya gimana, cuma intinya kayak gini)

Mas2 1, si pembawa topik (MM1): *dari obrolan yang saya ga tau itu apa*…kecerdasan seseorang itu dipengaruhi dengan bagaimana dia mampu menggunakan kedua belah otaknya dengan baik. Dengan kata lain, mereka yang pintar itu punya otak kanan dan kiri yang sinkron

Mas2 2, penanggap (MM2): Oh gitu ya…  terus gimana?

MM1: Dulu itu Einstein, yang kita kenal sebagai salah satu orang jenius di dunia, ternyata sering ngelakuin 3 hal latihan untuk melatih otaknya…

MM2: Wah, seperti gimana itu mas?

Saya pun membuka TextEdit (Notes ga ada di Mac OS X Lion, saya belum upgrade OS) dan menyatatnya satu2…

  1. Einstein suka membuat dua gambar yang berbeda dengan kedua tangannya di satu kertas. Misal tangan kiri menggambar lingkaran dan tangan kanan menggambar kotak.
  2. Einstein suka membaca buku di 2 halaman yang berbeda jauh. Misal halaman pertama adalah halaman 5, halaman kedua adalah halaman 20. Lalu keduanya dilanjutkan secara perlahan2 secara paralel.
  3. Einstein suka membaca sebuah buku, sambil mendengarkan ceramah atau kuliah yang tidak berhubungan sama sekali dengan bukunya.

Sejujurnya saya masih mempertanyakan sumber 3 hal di atas. Tapi kedengarannya valid

MM1: Dengan latihan seperti itu, otaknya bisa membaca suatu hal secara 3 dimensi; kita semua masih secara 2 dimensi…

Mungkin 3 dimensi di sini adalah bisa multitasking. Keren juga ya konsepnya! Kayaknya hal seperti ini bisa dilatih agar kita bisa fokus untuk mengerjakan beberapa hal sekaligus. Mungkin orang bilang yang namanya fokus itu adalah mengerjakan 1 hal saja, kenyataannya… di jaman yang semuanya serba cepat ini, kita akan tertinggal jika kita terlalu lama fokus akan 1 hal.

Saya pun teringat lagi… kayaknya ini adalah pelajaran buat saya agar saya bisa menanggapi dan mengerjakan beberapa hal secara bersamaan dengan lebih rapi lagi.

Ga disangka, 2 jam lebih sudah terlewatkan. Teman2 saya memanggil saya karena mereka sudah selesai.

Ga nyangka saya mengalami hal menarik seperti ini di tempat yang tak terduga. Pelajaran utama yang saya ambil:

Senyum, sapa, buka hati, buka pikiran, dan salam.

Semoga lain kali saya bisa dapat pelajaran seru lagi… 🙂

-AW-

Keterangan: Barista adalah peracik kopi dan minuman yang ada di sebuah kafe.

Gambar di atas saya diambil dari kumpulan rage comics yang modif sendiri :p

The_Aura_of_Water_Droppings_by_VongneeseShaper5889

Yak, lagi2 saya membuka sesi obrolan. Jujur sih, saya lagi seneng banget diskusi ama orang dan lagi belum nemu ide buat ditulis dan dikembangin yang berasal dari diri sendiri. Mungkin berikutnya saya akan menemukan ide buat itu. Hehehe.

Obrolan kali ini, saya mendapat pelajaran menarik dari teman dekat saya bernama Anggraini Suwito yang akrab dipanggil Rey. Dia lulusan Raffles College of Art Singapura. Sambil menyeruput Red Velvet Latte, malam ini kami membahas soal pesan2 yang bisa ditangkap oleh tubuh secara tersirat atau di bawah kesadaran kita.

Menyambung dari posting saya sebelumnya tentang pemikiran keras saat di WC, Rey menyampaikan ke saya bahwa saat kita di WC dan diam, otak kita berada di kondisi theta. Kondisi seperti ini adalah kondisi di saat sugesti2 bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar (dengan kata lain, ini adalah kondisi yang ditrigger para ahli hipnotis untuk memberi perintah kepada targetnya). Menariknya adalah, kondisi seperti ini adalah kondisi yang bisa dimanfaatkan pasangan untuk menambah kemesraan hubungan mereka. Bingung kan? Saya juga awalnya. Caranya adalah dengan memasukkan pesan implisit positif ke dalam omongan.

Suami: *sedang bongkar muatan di WC*

Istri: Sayang, nanti mau makan apa?

Sepele emang. Mungkin bisa aja si suami mikir “Ini istri gw ngapain deh, gw lagi ngeden gini nanya2 gw” atau “Wah, istri gw baik bener pagi2 gini. Ada apaan yak?” Weits! Jangan mikir yang negatif dulu! Di sinilah justru sisi menariknya!

Dalam ajaran agama manapun, kita pasti diajari untuk bersikap lemah lembut kepada siapapun. Terlebih lagi kepada orang tua, pasangan, dan anak kita. Ternyata ucapan itu tidak bohong. Sekarang coba dipikir. Saat otak kita berada di kondisi theta dan siap menerima pesan2 apapun dan saat percakapan di atas terjadi, kata “Sayang” yang terucap lembut oleh sang istri akan terserap secara subconscious. Memberi pesan tersirat: Istriku baik dan sayang sama aku. See?

Lebih teraplikasi lagi, kalo dibisikkan ke telinga anak/adek/sepupu/pasangan/teman (iseng banget) kalo dia lagi mengigau. Kondisi otak saat itu terjadi juga pada kondisi theta. Rey memberi contoh di pengalaman dia tadi. Dia punya saudara yang masih kecil dan bandel. Suatu saat bocah itu tidur dan mengigau, Rey datang ke sisi si bocah, dari telinganya dia membisikkan pelan2:

Kamu itu anak yang baik, berbakti kepada orang tua, dan baik sama Rey.

Beberapa kali secara berulang2. Setelah beberapa kali, si bocah itu jadi lebih nurut. Wow. Mungkin sekarang saya ngerti, kenapa orang tua di jaman dulu biasa di sisi anaknya pas tidur, sambil ngelus2 kepala anaknya dan bilang kayak gitu, dan anaknya tumbuh nurut dan jadi anak yang baik ke mereka. Logis juga kalo di antara para pembaca ada yang nonton film kartun Dexter’s Laboratory di episode yang dia dengerin kaset pelajaran Bahasa Perancis semalaman (smabil tidur) dan saat kalimatnya nyangkut di “Omelette au fromage” (Pr: omelet keju), besoknya Dexter seharian cuma ingat ngomong itu doang!

Hal lain adalah bahasa tubuh. Adalah lebih efektif saat kita menatap mata lawan bicara kita dengan muka yang penuh perhatian, tutur kata yang lemah lembut, dan kalau perlu kontak tangan. Kontak tangan? Kita sebenarnya tau kok konsep ini. Gini deh: Saat kita di samping teman kita, teman kita ngotot, akan lebih ngena kalau kita menegur dia dengan nada yang lebih rendah intonasinya, bahasa yang sopan, dan dengan tangan menempel di bahu teman kita. Kalau di kasus yang Rey ceritakan, dia menegur bapak2 yang sedang merokok dengan sambil menempelkan tangannya di bahu si bapak itu (yang lagi duduk) dan bilang,

Pak, maaf, bisa dimatiin rokoknya?

Ah… apa ya… tadi kayaknya kalimatnya Rey lebih alus dari itu. Ya intinya gitu deh!

Kesimpulannya, pesan2 tersirat itu kadang terlupakan oleh kita, khususnya para pria (saya rasa, saya jujur cukup iya sih). Dari bahasan saya sebelumnya, bahkan ada simbol2 penting yang terlupakan oleh kita di kehidupan sehari2 yang sebenarnya bermakna penting untuk memberi sugesti positif kepada alam bawah sadar kita, sehingga kita bisa menjadi diri yang lebih baik. Kemudian, sikap santun dan lembut, akan selalu mengalahkan kekerasan lawan kita. Petarung aikido bisa dengan lembutnya membalikkan energi lawannya. Tetesan lembut air bisa melubangi batu karang. Kelembutan tutur kata kita, akan bisa meluluhkan hati yang beku.

Gambar: http://vongneeseshaper5889.deviantart.com/art/The-Aura-of-Water-Droppings-106215650

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life