Lewati navigasi

Tag Archives: opini

Saya memutuskan buat menulis ini, setelah nampaknya orang2 melihat aneh status saya

Screen Shot 2014-09-13 at 8.03.01 PM

Hmmm… kontroversial kah? Saya sebenarnya ga melihat ada yang aneh. Beberapa minggu lalu, sebelum nonton Lucy, seorang teman dekat saya bertanya sama saya, “Film2 sekarang bahaya, nunjukkin kalo manusia terobsesi jadi tuhan.” Jawaban saya?

“Manusia akan mencari jalan untuk mengikuti jejak Penciptanya. Tapi manusia tidak akan pernah bisa menjadi Tuhan sampai kapanpun. Itu mengapa, selalu ada sang perantara di setiap agama. Mereka yang terpilih untuk menurunkan ilmu Tuhan, seperti travo pada listrik, sehingga manusia bisa mencernanya. Tapi mereka pun bukanlah Tuhan atau berlaku seperti Tuhan, mereka juga manusia, namun terpilih.”

Saya pun jujur dapat banyak hal setelah nonton Lucy. Terlepas dari asal2annya teori mengenai persentase otak yang disajikan, namun di film itu secara implisit menunjukkan apa batas antara manusia dengan segala potensinya dengan “sosok” yang Godlike karena memiliki sifat omnipotensi dan omnipresensi yang dimiliki.

michelangelo_-_creation_of_adam

Sekedar ilustrasi batas… “Creation” oleh Michelangelo.

Menurut saya, secara fisis Tuhan memegang 3 sifat: Omnipotensi, Omnipresensi, dan Omnisaintik. Omnibenevolensi itu lari ke sifat seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, dsb sehingga saya lepas dari aspek bahasan utama… karena juga 3 aspek itu adalah sesuatu yang manusia saling berburu untuk bisa menguasai dengan apa yang mereka punya. Ah tambahan, saya membahas ini secara universal, persepsi personal mengenai ini tapi semua orang boleh komentar soal ini. Intinya, saya ga mau bahas secara agama spesifik.

Omnipotensi… adalah aspek Maha Bisa atau Maha Kuasa. Ini adalah sifat yang menggambarkan entitas yang bisa menciptakan, menjaga, dan merusak sesuatu dari hal yang secara tak hingga kecil sampai tak hingga besarnya dalam periode sekejap ataupun berkala dengan semua berada di dalam kendali entitas itu sendiri. Entitas pemilik sifat ini bahkan memiliki jawaban atas pertanyaan paradoks di luar nalar…

“Jika entitas Omnipotent mampu menciptakan segalanya, bisakah ia menciptakan sesuatu yang tidak bisa ia hancurkan?”

Sampai kapanpun ini akan terus menjadi paradoks karena kita melihatnya sebagai manusia.

Untuk mencapai sifat ini, manusia sudah banyak melakukan hal seiring perkembangan teknologi yang mereka kembangkan sendiri. Kita bisa lihat secara signifikan betapa canggihnya ilmu fisika dan biologi saat ini, kita pun semakin dekat dengan penciptaan. Bedasarkan sekuens ilmu yang awalnya dari filsafat metafisika, astronomi, fisika, kimia, biologi, antropologi, sosiologi, dan seterusnya… dari bagaimana manusia merenung tentang bintang, kita bisa memegang kekuatan bintang! Ya, fusi nuklir… fusi 4 inti atom hidrogen menjadi 2 inti atom helium dengan energi yang dilepaskannya. Tahun 2012, kita pun menemukan Higgs Boson yang berkontribusi pada massa suatu zat, tinggal menunggu waktu kita akan bisa memanipulasi massa benda.

Biologi? Sebagai peneliti bioteknologi, dan sebagaimana tertulis di status Facebook saya… saya sudah menyebutkan. Sejak Miescher menemukan asam nukleat, Watson-Crick menjabarkan sifatnya, kita yang awalnya menguasai teori yang seabad sebelumnya dijelaskan Mendel bahkan kemudian menurut Hardy-Weinberg, lalu kita menguasai mutasi genetis dan epigenetis dengan kita mampu menggunakan mutagen dalam pemuliaan makhluk hidup. Tak lama, kita menguasai rekayasa genetika. Kita menemukan berbagai vektor transfer genetika, biolistik (bombardir partikel), bakteriotransfer, viral transfer, infeksi langsung, dan semacamnya. Awal dekade 2010, kita masuk kebangkitan biologi sintetika. Rekayasa genetika secara ekstrim di mana kita bisa mengubah rancang bangun makhluk hidup dari nol. Lahirnya Mycoplasma laboratorium di Craig Venter Institute adalah bukti nyatanya. Tahun 2014 ini, tengah dekade ini… di Genoa, Italia… dilakukan konferensi xenobiologi pertama di dunia. Ilmu ini memungkinkan kita suatu saat nanti untuk merancang dan membuat makhluk hidup dari nol dengan konformasi yang berbeda dari semua yang ada. Ah ya, sebelumnya saya pernah bahas mengenai xenobiologi sebagai ilmu biologi alien. Hal yang perlu kita ketahui, alien pun bisa kita buat. Suatu saat, sistem taksonomi, morfologi, anatomi, dan histologi akan bertambah dengan munculnya makhluk2 sintetis. Takut? Jangan… bersiap2 lah. Ingat bahwa di bawah nano masih ada piko, femto, dan seterusnya? Ya… di atas nanoteknologi ada pikoteknologi di mana kita diduga bahkan bisa merancang senyawa dan atom, dan femtoteknologi di mana kita merancang atom dengan penguasaan teknologi rekayasa sub-partikel.

Omnipresensi, adalah sifat yang mengacu bahwa entitas pemilik sifat ini ada di mana2, untuk setiap persepsi, dan lokasi. Pendekatan atas sifat ini ditandai dari majunya teknologi komunikasi dan transportasi manusia. Kita mengetahui bahwa semenjak teknologi ditemukannya gelombang radio oleh Guglielmo Marconi, lahirnya telepon oleh Alexander Graham Bell, penerbangan perdana oleh Wright bersaudara, kita sekarang menikmati dunia di mana segala sesuatu tidak ada batasnya. Internet ada di setiap tempat dalam wujud wireless frequency atau wifi dan hampir kita semua memiliki alat yang memanfaatkan sinyal itu. Kita terhubung satu sama lain bisa dengan video atau sekedar voice, jarak ribuan kilometer bukan menjadi halangan lagi. Pesawat semakin canggih dengan teknologi komputer yang luar biasa, dan mesin yang membawa kita terbang ribuan kilometer jaraknya. Penerbangan ke luar angkasa pun telah menjadi misi yang kita telah lakukan berkali2. Lalu? Kita masih menunggu pemanfaatan hologram untuk komunikasi. Kemudian kalau saya ga salah komunikator yang mengirimkan sensasi sentuhan berupa pelukan, bahkan aroma pun sudah berhasil ditemukan.

Hukum ketiga Arthur C. Clarke, teknologi yang sangat maju akan tak terbedakan dari sihir. Lalu bagaimana dengan fenomena parapsikologis, bilokasi atau multilokasi? Di atas kemampuan kleirvoyans dan proyeksi astral, konon kemampuan yang belum diuji kebenarannya menyebutkan ada beberapa orang mampu berada di dua lokasi sekaligus. Tapi bahasan parapsikologi akan saya bahas lain kali, intinya pemahaman kita untuk pendekatan ini masih kurang.

Dengan hologram super yang mampu mereplikasi diri lengkap dengan sensasi aroma dan suara nantinya, kita bisa berada di lebih dari 1 lokasi. Namun jurang pemisah antara multilokasi ke omnilokasi masih sangat sulit dijabarkan. Dengan teknologi komunikator implan yang memungkinkan kita untuk terkoneksi dengan orang di manapun, masih belum menjabarkan omnipresensi. Untuk mencapai ini, manusia harus mampu melebur ke dalam semesta. Gambarannya, di film Lucy, Lucy berubah menjadi biomassa, dan menghilang menjadi partikel2 Lucy. Apa mungkin kita harus menguasai perpindahan kesadaran (consciousness transfer) terlebih dahulu untuk memanipulasi lingkungan?

Terakhir, Omnisaintifik. Aspek ini adalah sifat Maha Mengetahui, mengetahui segala sesuatu baik sangat dekat secara tak hingga (lebih dari menempel; menjadi satu) atau jauh secara tak terhingga, besar atau kecil secara tak hingga, cepat secara tak hingga ataupun tiada gerakan. Entitas pemegang sifat ini mampu menjadi Setan Laplace (Laplace’s Demon) yang mampu menjawab aspek ketidakpastian Heisenberg ataupun persoalan Schrodinger; dengan kata lain… mampu mengetahui apapun, dimanapun, siapapun, bagaimanapun, dan mengapapun.

Pendekatan saat ini mungkin adalah aspek komunikasi terkait media sosial. Gimana ngga? Di Facebook, kita dapat berita dari lembaga berita ataupun orang lain. Kalimat “Setiap orang berpotensi jadi reporter” saat ini memang sudah bisa disahkan. Kita salah ngomong, kita masuk internet. Liat aja Flo dari FH UGM kemaren. Heboh, dari kejadian 1 orang.

Tapi mengenai pengetahuan, orang kadang ada yang haus dengan pengetahuan, tapi ada pengetahuan yang kita ga mau dapatkan. Takdir kematian kita atau orang yang kita cintai, jodoh kita atau orang lain, kita jelas bakal galau kan kalo tau? Tapi bagi entitas yang tidak memerlukan itu, maka pengetahuan2 itu gak lebih dari pengetahuan saja. Tidak ada keterkaitan emosi itu diperlukan jika seseorang menginginkan pendekatan langsung ke sifat omnisaintifik ini. Cuma… otak kita punya batas untuk mengetahui segala sesuatu. Untuk ini, kita perlu memperbesar daya simpan otak kita, ataupun memperbesar sesuatu yang menjadi otak kita. Memori transendental dengan kata lain.

Ah, ada lagi sebenarnya 1 sifat Tuhan: Abadi atau imortalitas. Manusia pun juga berusaha mengejar pengetahuan itu, kan? Mulai dari teknologi cryopreservation, sampai upaya untuk mentransfer isi otaknya ke dalam alat dan semacamnya. Tapi dari sini pertanyaannya, dengan memori kita abadi, apakah kita hidup? Apakah dengan memori kita abadi, kita telah merangkul imortalitas? Tapi yang saya sadari juga ada 1 hal: Keabadian juga bisa menjadi kutukan. Gimana ngga, mau kita ngeliat orang yang kita sayang mati lebih cepat dari kita dan terjadi berulang2 hingga akhir waktu?

Yah… memiliki 1 sifat di atas, kita belum menjadi Tuhan… bahkan sayangnya memiliki 3 itu pun kita belum menjadi Tuhan. Karena menjadi Tuhan memerlukan semua aspek yang bahkan hanya Tuhan yang tahu dan kita ga tau sekarang, sesuatu yang saya sendiri belum tahu. Itulah, kita sebagai manusia akan berusaha mencari ilmu Tuhan, tapi manusia akan menjadi gila kalau terlalu banyak bertanya dan berpikir mengenai cara menjadi Tuhan.

Kita tidak akan menjadi Tuhan, tidak bahkan untuk semesta yang kita buat sendiri. Meski demikian, kita ga punya hak untuk menahan pikiran para pencari Tuhan itu. Karena sebagian dari mereka ingin mencari titik terdekat antara dirinya dan Tuhannya.

-AW-

Iklan

Oke… ini pembahasan kontroversial akhir2 ini yang ntah kenapa muncul. Muncul di web2 (kalo ga salah di Buzzfeed) sama bahkan dibahas lebih detail di TvTropes untuk Frozen bagian Headscratchers sampai 3 sesi.

Sekarang… mari kita lihat lagi…

let_it_go_dress_transformation_by_djklink20009-d6wxrx0

Jujur saya suka bagian ini karena banyak hal… mulai dari ini adegan paling SUSAH dibuat sama animator (salah dikit, rambutnya copot), emang keren banget… sama… buat saya… cewek yang ngelepas ikatan rambut itu… keliatan seksi :p (oke lupakan). (Gambar dicomot dari: sini)

Lalu di mana perdebatannya?

  1. Ke mana baju lamanya??
  2. Gimana ngebuatnya?? Itu kan dari es! Ga dingin apa… atau… kan es tajem2 gitu!
  3. Kok bisa ga meleleh??

Oke… saya ga bakal jawab, saya bakal serahkan ke alter-ego diri saya, seseorang yang saya ciptakan tahun 2010 di pikiran saya, seorang penyihir di dunia ciptaan saya sendiri, level dia High ArchWizard (level dosen utama, di bawah professor di dunia terkait), kita panggil Astrax Albireo. Oke silahkan… *switch*

Ehem… oke, salam semuanya… aku Astrax. Pertanyaan ini menarik, aku nampaknya bisa mengerti kebingungan kalian. Ada kuliah yang aku bawa di Sekolah Tinggi Sihir Aquilla, program studi Aplikasi dan Teknologi Sihir (ATS): ATS-303 MagiTech (Magic & Technology)… yah, karena ini umumnya teori dan cukup bersinggungan dengan sains, ini 2 SKS, dan ATS-201 Ilmu Transmutasi Sihir, 2 SKS teori, 1 SKS praktikum. Oke, mari kita bahas.

“Ke mana baju lamanya?”

Ummm… aku masih agak mencerna kata2 ini. Apakah kalian membayangkan ketika Elsa melepas bajunya ketika membuat baju barunya? Wew… implikasinya rada vulgar kalau menurut saya. Secara simbolik, ketika transisi baju lama ke baju baru itu menyisakan 100% baju lama, ini mengesankan Elsa ganti baju secara terang2an di tengah film dan saya sendiri perlu membekukan si sutradara. Oh maaf… no offense! Kalau ada baju robek? Kesannya ganti bajunya melewati proses menyakitkan. Ayo lah, kalian mungkin mengira aku ini berpikir kotor? Aku hanya menjelaskan dari sisi interpretasi saja.

Lalu apa jawabannya? Konversi sempurna. Yang bersambung ke jawaban pertanyaan kedua…

“Gimana ngebuatnya?? Itu kan dari es! Ga dingin apa… atau… kan es tajem2 gitu!”

Aku mengerti kebingungan kalian karena kalian bukan penyihir. Kuliah Transmutasi, aku mengajarkan kepada para muridku bahwa selain membuat dari elemen di sekitar mereka, mereka juga bisa membuat benda A berubah menjadi benda B. Bagaimana caranya? Gunakan energi sihir yang ada untuk mengubah konfigurasi atom benda terkait. Sihir di sini berkembang dan terbentuk bedasarkan imajinasi kalian, jadi tentu kalian harus punya imajinasi yang cukup kuat untuk ini! Pikiran kalian harus out-of-the box.

Untuk seorang putri mahkota yang hidup di istana yang dikelling salju setiap musim dan istananya sendiri dibangun dengan konsep artistik Nordik yang luar biasa, harusnya Elsa sudah mengerti konsep seni dan memiliki imajinasi yang hebat. Kita bisa melihat Elsa bisa mengerti konsep fraktal (patahan tak terhingga) pada kepingan salju. Artinya? Bukan tidak mungkin ia bisa mengkonversi baju yang merupakan jalinan polimer selulosa berisi atom2 karbon, menjadi es. Seluruhnya dari es? Bisa. Atau Elsa memecahkan struktur2 kainnya menjadi serbuk (pada suhu dingin, ini bukan tidak mungkin), sehingga ketika berpadu dengan es, warna es nya menjadi lebih tua dan tidak transparan. Atau lagi… ia melapisi kain di area bawah sampai torso atasnya sehingga memiliki warna yang lebih pudar. Ingat, dari hijau ke biru es itu tidak terlalu jauh. Yang 100% berubah adalah bagian tangan dan 100% terbentuk sendiri adalah bagian sayap jubahnya.

Elsa bisa membuat istana dari konversi uap udara yang begitu tipis, atau mungkin karena pola berdirinya istana itu dari bawah, ia menarik air2 dari salju pegunungan yang berlimpah menjadi struktur bangunan.

Secara sekuensial terbentuknya baju, Elsa melapisi baju bagian bawahnya dengan energinya, mengubah warnanya (atau mengubah bentuknya), dan dengan sisa kekuatan pertama ia membentuk bagian lengan… yang makanya warnanya adalah transparan ketimbang bagian torso, dan terakhir membentuk jalinan2 mikro membentuk sayap jubahnya. Plus… membuat pola2 rosemailing salju sebagai sentuhan artistik akhirnya! Menarik bukan? Untuk menghemat sedikit energinya, ia menarik es2 di bawah kakinya (di lantai istana esnya) untuk mengubah bajunya, jadi ia tidak perlu mengumpulkan uap air di sekitarnya menjadi es lebih banyak lagi. Kecuali di bagian atas, yang kita bisa melihat ia membuatnya dari udara tipis dengan template lengan baju lamanya. Lagi, konversi sempurna. Es sifatnya kaku, ia menjalin es pada sisa benang pada bajunya. Voila! Hasilnya akan halus.

Ga dingin? Elsa kan bilang, “The cold never bothered me anyway

Seorang penyihir (dalam arti sini adalah sorcerer/ess) akan sangat terbiasa dengan elemen yang menjadi kekuatannya. Itu sudah pasti. Aku adalah penyihir (dalam terjemahan wizard) yang mempelajari mengapa ini terjadi. Simpel. Pikir saja, dari mana sihir itu keluar? Dari tubuh kan? Secara natural, penyihir… dengan kemampuan genetis langkanya sudah memiliki sihir primal yang membuatnya imun terhadap backfire sihirnya sendiri. Kalau tidak? Pas penyihir mengeluarkan api, ia akan terbakar.

Jadi, wajar Elsa ga kedinginan dengan bajunya. Kok ga sakit? Es kan tajam! Kata siapa? Ga semua es itu membentuk jarum. Dengan tangan seorang putri yang berumur 20an tahun seperti Elsa, es yang tercipta pasti halus.

Itu sihir primal atau primer, dan sihir yang keluar itu disebut sihir sekunder. Lalu ada lagi sihir tersier, yang akan menjawab…

“Kok ga meleleh? Misal pas Anna meluk Elsa… kan pelukan itu hangat!”

Sudah pasti badan elsa mengeluarkan sihir primer yang membuat es yang ia kenakan tidak meleleh. Di kuliah MagiTech, kita membahas bahwa penyihir perlu memperdalam pengetahuannya atas elemen2. Air bisa jadi es, bisa jadi uap, bahkan bisa jadi plasma ketika sangat panas. Es… bisa terbentuk pada suhu 0˚C pada tekanan atmosfer ruang, tapi… juga bisa terbentuk pada 37˚C (suhu tubuh) pada tekanan yang lebih tinggi… atau bahkan pada 130 K pada tekanan 1 Giga Pascal atau 9820 atmosfir. Ini disebut Es XV (cari aja Ice XV). Kita tidak tahu kan, apa secara sadar Elsa bisa mengendalikan tekanan di sekitarnya, atau ia secara magis bisa mengikat molekul2 air sehingga semua teratur dengan energi tambahan (sihir) dan bukan tekanan fisika. Apa? Kalian lelah belajar ilmu termodinamika? Aduh…

Intinya, yang bisa aku simpulkan adalah:

  1. Sihir itu merupakan energi, dan mengikuti hukum termodinamika, sihir dari manusia itu tidak bisa diciptakan, tapi diubah dari energi lain. Buktinya, penyihir yang mengeluarkan energinya terus2an akan lemas. Selain itu sihir akan terarah ke luar sebagai ekstensi imajinasi si penyihir.
  2. Baju baru Elsa dibuat dari campuran baju lamanya dan es. Tidak ada yang musnah atau terbuang di sini. Semua berubah total, atau digunakan sepenuhnya.
  3. Sihir ada sihir primer yang merupakan kesatuan pada tubuh penyihir yang menjaganya, sihir sekunder yang ia keluarkan ke lingkungan, dan sihir tersier yang ia induksikan ke benda. Ini juga menjelaskan kenapa ada benda2 magis seperti jubah sihir, atau tongkat sihir. Keluar topik, Elsa menerapkan sihir tersier ketika membangun istana (ia menghimpun energinya melingkar di lantai dan dihempaskan ke atas membentuk pilar dan atap… dan hiasan), awan di atas Olaf, dan ini yang juga membuat es di istana (bagian ending, yang buat ice skating) tidak meleleh.

Begitu nampaknya penjelasanku siang ini… kembali ke Adit.

-AA-

Ya begitulah… semoga sudah cukup jelas penjelasannya!

-AW-

Screen Shot 2013-04-19 at 1.34.12 PM

Untuk saya, Tuhan itu ada di posisi omnipresent, ada sebagai zat yang satu kesatuan dengan semesta dan Maha Menciptakan, bukan sebagai posisi kekosongan yang lebih rendah daripada keberadaan sesuatu di alam ini. Segala sesuatu yang tidak tampak bukan berarti tidak ada. Sesuatu yang belum diketahui, belum tentu tidak mungkin. Ilmu kita saja yang belum sampai, kadang kita melupakan ini sehingga dengan mudahnya kita mengatakan ada atau tidak hanya dengan mengandalkan logika tak sempurna dan penginderaan fisik. (Note: Klik gambar untuk memperbesar)

-AW-

Mumpung suasana masih cukup segar dengan segala kehebohan Ujian Nasional (UN), saya akan bahas masalah dunia pernilaian di sistem akademik kita bedasarkan sudut pandang saya sendiri.
Nilai & NIM

Rage comic: Nilai & NIM, buatan saya sendiri (emang udah ada yang posting di Kaskus, di YeahMahasiswa, atau di manapun kalo ada yang repost, kalo ga percaya cari aja di Google Search NIM ini (keyword: 10607032, NIM, ITB) salah satu yang muncul pasti nama saya!)

Oke kita mulai, percaya atau ngga… rata2 tiap saya ngobrol sama adek kelas saya, buat mereka yang namanya angka di nilai itu sangatlah penting, bahkan ada yang bilang “sakral.” Coba kita cek… saya beberapa saat lalu nanya ke beberapa responden (yang namanya ga bakal saya sebut)…

Anak SMP: Kalo aku nilainya jelek, mama bisa bunuh (baca: marah2) aku!

Anak SMU: Sumpah aku kesel nilainya jelek, masa aku kalah sama *temen anak ini*?? Padahal aku udah belajar mati2an!

Anak kuliahan: Nilai itu penting lah! Kalo IPK ntar jelek, mau kerja di mana coba??

Mari kita rangkum maknanya, bagi anak SMP nilai itu adalah bentuk presentasi yang bisa dipersembahkan kepada orang tua. Ya, saya tau rasanya kok. Apalagi pas saya SD dulu kalo nilai saya jelek, saya takutnya setengah mati. Soalnya saya ga bisa bohong dan pasti nunjukin nilai saya ke ortu begitu ada. Pulang sekolah, saya gemetaran. Pas SMP, saya pernah nyembunyiin nilai dulu, pas mood bapak atau mama saya udah bagusan, baru saya tunjukin. Respon saya setelah itu adalah secara otomatis duduk ke meja belajar dan belajar lagi.

Pas SMU, nilai itu adalah ajang kompetisi dan harga diri! Anak2 SMU adalah mereka yang sedang dalam tahap mencari jati dirinya. Karena itu, persaingan adalah sesuatu yang seru! Bersaing untuk apa? Untuk bisa jadi murid favorit guru, untuk bisa pamer ke lawan jenis dan begitu mereka kagum, mereka jadi pengen belajar sama kita (SAYA BANGET!), untuk bisa diakui sama temen2 (parahnya, bisa jadi… untuk bisa diakui sebagai sumber contekan ama temen), atau semacemnya. Puncaknya, nilai ini berguna untuk beasiswa bagi ada yang mau ambil demi biaya perguruan tinggi.

Bagaimana dengan era perkuliahan (S1)? Nilai2 itu adalah stok masa depan. Untuk mencari kerja, untuk mencari beasiswa S2, bahkan untuk melamar pasangan pun kadang perlu IPK!

Terus bagaimana? Buat saya… nilai itu lebih besar maknanya dari sebuah parameter kompetisi belaka!

Ada yang nonton film India yang judulnya 3 Idiots?

Threeidiots2

AAL IZZ WEEEELLL!

Rancho/Wangdu di sini mengajarkan kepada kita dan membuktikan sama si presiden kampus, Virus, bahwa hidup dengan kompetisi dengan sekedar beracuan nilai itu salah dengan cara meminta seisi kelas (termasuk si Prof. Virus) mencari dalam 30 detik arti kata FARHANITRATE & PRERAJULISATION di buku manapun! Hasilnya? Ga ada satupun yan bisa! *spoiler alert*

Rancho: “No one get the answer? Now rewind your life by a minute. When I asked this question, were you excited? Curious? Thrilled that you’d learn something new? Anyone? Sir? No… you all got into a frantic race. What’s the use of such method, even if you come first. Will your knowledge increase? No, just the pressure. This is a college, not a pressure cooker. Even a circus lion learns to sit on a chair in fear of the whip. But you call such a lion “well trained”, not “well educated”

Virus: “Hello! This is not a philosophy class! Just explain those two words!”

Rancho: “Sir, these words don’t exist. These are my friends’ name, Farhan & Raju.

Virus: “QUIET! Nonsense! Is this how you’ll teach engineering??”

Rancho: “No, sir. I wasn’t teaching you engineering. You’re an expert at that. I was teaching you how to teach and I’m sure one day you’ll learn. Because unlike you, I never abandon my weak students. Bye, sir!”

Lihat? Belajar itu harus berakar dari rasa suka atas bidang yang kita ambil. Sejak kita SMU, kita mungkin ada yang mengalami penjurusan ke kelas IPA, IPS, atau mungkin ada yang Bahasa. Di kuliah, kita sudah memilih fakultas dan jurusan di dalamnya dari awal. Memilih… kitalah yang memilih. Kalaupun kita terpaksa, salah jurusan akibat penjurusan oleh fakultas, diminta oleh orang tua. Ngga seharusnya kita semua meratapi. Hei, hidup ini bukan penyesalan! Hanya pembelajaran dari waktu ke waktu!

Saya sendiri, sudah mendalami bidang sains sejak SMU itu karena saya tumbuh di bawah ajaran almarhum kakek saya yang sejak kecil sudah mengajarkan astronomi dan biologi sederhana tentang kesehatan, bapak saya sendiri adalah lulusan teknik mesin walaupun sekarang menjadi sales director, beliau diwaktu saya kecil terbiasa memperbaiki alat2 di rumah, dan mama saya adalah seorang dokter gigi yang sejak kecil selalu peduli urusan gigi, makanan, dan obat2an saya. Itu saya… saya tau ga semua orang melewati ini. Tapi apa yang saya pelajari? Saya cinta dengan sains karena dengan sains saya merasa semakin dekat dengan pengetahuan di alam yang Allah berikan kepada kita semua. Ya, kadang nilai saya jelek. Saya akui NUN (Nilai Ujian Nasional) SMU saya pas2an, dan IPK saya juga. Tapi apa saya menyesalinya? Tidak… Saya bangga bisa dapat sesuatu di luar kebanyakan orang.

Saya mempelajari bahwa untuk bisa mencintai ilmu kita, kita harus membawanya dengan imajinasi. Simpelnya, saat kita jatuh cinta sama seseorang, kita pasti membayangkan orang itu berdua selamanya dengan kita dan semacamnya kan? Saya? Saya yang terus terang sejak kecil suka manga Jepang, Doraemon, Ninja Hatori, P-Man, beberapa seri Digimon, dan Cyborg Kurochan, lalu berlanjut dengan kecintaan saya terhadap beberapa seri fiksi ilmiah, Star Wars, Avatar (film), Alien Quadrilogy, The Island, StarCraft Series, Portal, Half Life dan sebagainya pun mempelajari bahwa mimpi kita dengan sains adalah gerbang masa depan. Coba bayangkan imajinasi Fujiko F. Fujio yang sudah membayangkan TV Waktu yang ukurannya sederhana di jaman 70an itu. Sekarang, kita ada laptop yang bahkan ukurannya lebih tipis, dan banyak orang yang punya, termasuk saya saat mengetik blog ini! Lihat, betapa kuatnya imajinasi seseorang! Bahkan game saja (misal Half Life dan StarCraft) itu banyak ide2 yang dituangkan di dalamnya dan menunggu untuk direalisasikan dengan sains atau dijabarkan dengan sains!

Saat kuliah, saya belajar bahwa seni-teknologi-sains adalah satu tubuh, sama dengan helm-baju zirah-pedang di medan pertempuran. Sains tanpa teknologi, ga ada gunanya kita belajar sains. Sains tanpa seni, kaku. Teknologi tanpa seni, ga laku! Maksudnya jadi apa? Ketika belajar sesuatu, bayangkanlah! Gunakan imajinasi kalian! Saat saya belajar fisika, saya membayangkan bagaimana konsep gauss gun, partikel yang lebih cepat dari cahaya, suhu terendah di alam semesta, lalu di kimia saya membayangkan apa yang terjadi jika struktur dasar kita bukan karbon tapi silikon, apa yang terjadi jika orbital ada lebih dari g (kan ada s, p, d, f untuk saat ini), dan di biologi… LEBIH BANYAK LAGI, dan inilah yang membuat saya kuliah di biologi. Kesimpulannya? Dari satu ilmu, satu teori, bayangkanlah apa yang bisa kita dapat, apa yang bisa kita genggam, jika ilmu itu semakin tinggi, hingga kita bisa melakukan apapun?? Bukankah imajinasi yang membawa kita ke masa depan dengan ilmu yang kita punya sekarang?

Selesai kuliah, saya menemui orang2 dengan latar berbeda. Bidang sosial dan sastra, orang2 ini menjadi teman terdekat saya juga. Saya mulai belajar (baca ini), bahwa segala sesuatu karya manusia itu memiliki makna. Bahkan mitos, legenda, takhayul, dan mungkin misteri2 di sekitar kita itu semua ada penjabarannya (baca contohnya di sini) lho! Di jaman dahulu, segala sesuatu dibuat dengan konsep yang wah! Berbeda dengan kita yang hidup dengan keinstanan dan terlena dengan makna yang serba praktis. Kita pun jadi mudah mengiyakan sebuah informasi. Kita tahu saat ini informasi yang kita dapat itu ada banyak dan belum semuanya benar!

Kembali lagi ke bahasan awal… maka dari itu, saya mau kita semua, memaknai ilmu yang kita dapatkan lebih dari sebuah nilai yang bertuliskan A, B, C, D, E, atau angka2! Ketahuilah apa yang kalian pelajari, maknanya, dampaknya, gunanya, sehingga ga jadi kosong. Senang hatilah jika kalian diajari sesuatu. Kita sebagai manusia dianugerahi kemampuan yang sangat banyak. Segala sesuatu ini bukan masalah bisa atau tidak, tapi mau atau tidak mau. Bapak saya pernah bilang…

“Ga ada yang susah di dunia ini, challenging iya… tapi ngga susah.”

Agama saya, Islam, mengajarkan bahwa segala ujian yang kita terima saat kita hidup itu ga akan melebihi batas kemampuan kita sendiri dan Allah meminta kita untuk selalu berpikir dan terus mencari tahu. Surat pertama di Al-Qur’an pun bunyinya “Iqra'” atau “Bacalah!” Agama lain saya rasa juga begitu. Atheis? Saya rasa orang2 atheis justru adalah mereka yang sangat kritis untuk mencari tahu. Masa kita yang beragama kalah?

Jadi, tolong gunakan rasa penasaran kalian untuk terus mencari. Bukan sekedar berkompetisi. Ketahuilah apa yang kalian pelajari. Cintailah, maka kalian akan mendapatkan makna dari ilmu kalian. Maka kalian akan tahu sebuah makna, lebih dari nilai di atas kertas yang terus jadi masalah di negara kita. Masa depan kalian itu lebih dari sekedar tulisan nilai UN kalian, kawan! Tapi nilai tunjukanlah bahwa nilai kalian itu tinggi, karena kalian mengerti, terlebih lagi menjadi ukuran cintanya kalian terhadap ilmu kalian!

Nilai 100 tersempurna didapat jika kalian belajar dan mengerti sekali apa yang kalian pelajari. Nilai 100 yang biasa hanyalah untuk mereka yang menganggap ilmu itu pelajaran yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri, keluar SMU atau kuliah menguap semuanya. Nilai 100 kalian adalah yang sempurna kan?

Jadilah insan terhebat yang menguasai sains, teknologi, dan seni, demi agama kalian. Kita butuh orang seperti ini di dunia demia masa depan yang lebih baik.

Tulisan di blog ini saya persembahkan buat adek2 kelas saya yang hebat yang baru dan akan UN nantinya, Gibran, Sarah, Afif, Galih, Abi, Albar, Umar, Vanny, Sajeela, Kinasih, Joma, Fattah, dkk. Serta untuk para guru saya di SMU yang luar biasa, Almh. Bu Yanti, Pak Hari Prasetyo, Pak Yosserin, dan Pak Gito. Yang karena mereka, kecintaan saya terhadap sains semakin tinggi!

Cheers!

AW

————-

Iklan: Baca majalah ini yak! Hehehe… ShoppingMagz #8 – Edisi April 2013

Screen Shot 2013-02-11 at 6.38.26 PM

Saya lagi pengen iseng nulis uneg2. Saya ntah kenapa merasa cara gampang saat ini untuk terkenal atau eksis itu adalah melakukan hal bodoh. Iya gak?

Saya mikir, sekarang itu ada acara yang sifatnya tidak mendidik, padahal niatnya adalah ingin melawak, orang2nya main fisik; berlagak seperti orang bodoh. Ingin jadi presiden, gampang… nyolot aja di media sosial. Bahkan yang gak sengaja, misal emang ntah seseorang ingin membuat sebuah film yang “epic”, tapi malah jadi terkenal karena dihujat massa. Lucunya, kemudian ada orang2 yang membuat kritik atas acara itu dan mencerca habis2an. Memang, sebenarnya mereka juga salah (media nya), tapi sadar gak para pembaca sekalian, bahwa faktor penentu ketenaran dan keberlangsungan media itu sebenarnya adalah massa itu sendiri termasuk kita? Ya… kita adalah bagian dari massa.

Sekarang, sebenarnya kita sudah hampir bisa dibilang memasuki era augmented reality, atau realita yang terhubung. Terhubung? Ya, antara virtual dan realita hampir susah dibedakan. Kalau pembaca gak percaya, jawab pertanyaan2 di bawah ini dengan ya/tidak:

  1. Anda punya media sosial Twitter. Kemudian Anda menemukan angka follower Anda berkurang. Menggunakan situs ini, Anda menemukan bahwa unfollower itu adalah sahabat Anda sendiri. Apakah Anda kesal?
  2. Anda punya media sosial Facebook. Kemudian  Anda mendapati bahwa seseorang yang begitu dekat dengan Anda melakukan proses “unfriend” sehingga Anda bukan teman dia lagi di Facebook. Apakah Anda gelisah?
  3. Anda lebih mengikuti dan aktif mencari serta mengkomentari berita aktual di sosial media yang disebar oleh teman2 Anda atau halaman yang Anda “Like”. Apakah itu benar?

Saya gak mau sok tau, tapi kalo jawaban di atas kebanyakan adalah “Ya”, maka pembaca sekalian bisa dianalogikan dengan sebuah sel saraf di antara sel2 saraf lain yang saling terjalin satu sama lain di dunia ini. Sistem Augmented reality bisa disebut sebagai sebuah kumpulan otak individu yang berkerja dan berinteraksi di sebuah sistem.

Kembali lagi ke soal media dan kebodohan. Kalau pembaca kurang suka dengan sebuah artikel atau acara atau seseorang di media, memberi mereka kritik menurut saya adalah cara yang salah, kecuali mereka terbukti langsung mendengar kritik para pembaca sekalian, atau pembaca kenal secara personal orang2 yang bersangkutan atau bekerja dibalik media itu. Lalu kita harus bagaimana? Jawabannya gampang! Apakah itu? Diam.

“Silence is golden”

Istilah kuno ini ternyata memang benar. Bahkan di agama kita, kita diajarkan untuk diam saat kita ingin melawan tapi tidak punya kekuatan atau bukti yang kuat. Perlu diperhatikan, bahwa diam di sini adalah ketika kita sudah mencari tahu dengan pasti mengenai apa yang kita kurang suka itu. Kesalahan besar adalah kita menjadi diam dan apatis jika kita membenci sesuatu, padahal segala sesuatu di dunia itu memiliki alasan untuk muncul. Adalah kewajiban kita untuk mencari tahu latar belakang munculnya sesuatu yang kita benci itu.

Kita ambil contoh: Ada tokoh A. Dia nyolot banget di media sosial. Terus kita bahas itu orang mati2an di media itu atau kita tonton dia terus2an sambil mencerca. Itu adalah langkah yang menurut saya kurang tepat. Langkah yang tepat adalah: keluar dari media yang berisi komen2 panas itu, dan matikan TV atau radio. Mulailah mencari mengapa orang itu annoying dan menyebalkan. Apa? Males?? Ya udah, mending diem! Kalau mau mencerca, ya udah di luar media aja (mending pas saat ngobrol ama temen). Karena apakah kalian tau bahwa dengan kita nongkrong di depan TV atau radio, kita bisa menambah angka pembaca/pendengar di stasiun TV/radio itu dan menaikkan nilai rating? Nilai rating naik, staff mereka menganggap topik tentang orang itu layak dikupas terus. Hasil? Kita tambah capek!

Lihat? Memang… hidup itu bukan sekedar iya atau tidak. Tapi apakah kita bergerak untuk melihat lebih luas, atau kita memilih diam dan tidak merusak sistem lebih lanjut. Sayang sekali, kita sering lupa dengan hal ini. Gak terkecuali saya sendiri…

Semoga kita bisa membuat peradaban kita menjadi peradaban yang cerdas di masa depan!

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

Gesti Saraswati

A Personal Blog of Gesti Saraswati

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life