Lewati navigasi

Tag Archives: makanan

Oke malam itu, sesampainya gue di Stasiun Tokyo, modem gue udah abis baterenya, kaki gue udah berat banget, gue jalan sambil nyeret di sana… lumayan Tokyo Drift *badum tss!!*

Oh iya! Sebelum balik, gue dengan isengnya beli… matsutake kombu! Matsutake adalah jamur termahal di Jepang, dan gue beli versi irisannya yang diawetin di dalam sachet campur rumput laut alias kombu.

truffle-hm

Ilustrasi. Sumber: Harvest Moon

Terus gue transit Yamanote Line lagi ke Ikebukuro dan astaga, gue salah kereta dan dapet rute terjauh. Untung keretanya udah sepi jadi bisa duduk. Sampe Ikebukuro, gue sekuat tenaga jalan ke apartemen.

Sampai di apartemen gue langsung ambruk. Beruntung sih karena gue ama Arif emang kebagian tidur di ruang depan, dia di sofa, gue di karpet. Gue ga mau di sofa karena harus ngelipet kaki. Gue udah prediksi kalo gue harus ngelurusin badan sesempurna mungkin karena gue besok masih ada perjalanan jauh lagi: Niigata.

Sebelumnya, “Kyoto itu tempat yang dingin di Jepang, ini karena kota ini dikelilingi gunung” kata Hosokawa sensei. “Wah kalo di Indonesia kayak Bandung” jawab gue. “Oh gitu yah…”

“…dan besok saya mau ke Niigata naik Shinkansen”

“Wah?? Kamu ke sana sendiri?? Di sana mah lebih dingin lagi! Sama Niigata itu kotanya tenang banget” Kayaknya sampai titik ini Hosokawa sensei makin bingung sama gue. Lagi.

Cerita misi ke Niigata ini berawal dari rasa kepo berlebih dan akut gue atas paper yang ditulis Nashimoto (2001). Gue bahkan mungkin dari tahun 2012an lalu udah berusaha mengontak beliau, tapi alamat di e-mail itu udah ga ada. Sampai kemudian gue dengan kemampuan stalking level yakuza pas jaman S1 itu akhirnya pada Oktober 2017 ini berhasil menemukan lokasi baru beliau: Niigata University of Pharmacy and Applied Life Sciences (NUPALS).

Translasi Balik (Reverse Translation) adalah sebuah bagian misterius di dogma sentral biologi molekuler yang dinyatakan Francis Crick pada tahun 1958. Kita tau aliran DNA ke RNA dan ke Protein. DNA bisa replikasi, DNA transkripsi jadi RNA, dan RNA translasi jadi polipeptida penyusun protein. Lalu konsep “dogma” ini mulai luntur karena semakin terekspos bagian yang lainnya, RNA bisa transkripsi balik (reverse transcription) jadi DNA, RNA sense bisa disalin jadi RNA antisense di virus. Sama ada ilmuwan US (McCarthy et al., 1965) dan Jepang (Uzawa et al., 2002) (yang gue belum sempet kontak) berhasil mentranslasikan DNA langsung jadi polipeptida di lab, dengan ribosom bakteri yang dimodif dengan antibiotik. Sementara proses replikasi protein, protein jadi RNA alias translasi balik ini, masih misteri, dan ga jarang banyak yang menganggap hal ini gak mungkin karena beberapa alasan.

Seenggaknya, sampai Nashimoto sensei menjadi peneliti pertama di dunia yang pernah melakukan percobaan paling dekat dengan translasi balik, beliau merancang rtRNA dan kompleks kodon stop (sebagai titik awal translasi balik, kebalikan translasi) untuk membalikkan polipeptida Arginin (Arg) menjadi kodon lagi. Mekler (1967) pernah mengusulkan upaya memasangkan polipeptida ke antigen dan tRNA buat ngebalikin lagi jadi mRNA (prinsipnya ngebalikin posisi asam amino di bawah, antikodon tRNA di atas, terus antikodonnya di-transkripsi balik – masalahnya ini bakal ga ngurut), tapi sayangnya ga sesuai kaidah kalo menurut Gounaris (2010).

…dan dengan alasan inilah, gue perlu rela jalan kaki lagi di Niigata. Sendiri.

Sampe…

“Mas, Arif besok ikut ya!” kata Arif. “Hah?? Lah uangnya??” tegur gue. “Ntar minta bapak, berapa sih ke Niigata?”

Malam itu, ini bocah asli sporadis banget. Gue cek kan, harga PP sekitar 22ribu yen. 2 jutaan rupiah lebih. Terus dia ke kamar bapak… dan dapet duitnya.

Pret. Di sisi lain gue bersyukur ya Allah, bokap ada rejeki lebih. Seenggaknya gue ga sendiri di Niigata yang bahkan terdengar lebih asing buat gue. Hosokawa sensei bilang di sana spesialis sushi karena dekat pelabuhan.

Day 4 – Pagi2 jam 8 gue sama Arif jalan ke Stasiun Ikebukuro. Kami jalan udah kayak orang2an sawah karena kaki udah ga memadai lagi buat jalan. Konyolnya, kita sampai di JR Office jam 10, terus si Arif dapat JR Pass 5 hari (kalo gue seminggu – ini gara2 paket ini lebih murah, 18ribu buat 5 hari ketimbang beli tiket PP)

“Oke, jadi kalian mau pesen bangku ke Niigata?” kata mbak operator.

“Iya, jam?” lanjutnya, “Sesegera mungkin kalo bisa”

“Hmmm… kereta selanjutnya jam 10:45, kalian pesan dari… Ueno (yang paling mungkin)?” Gue shock. Ini mepet gila! Stasiun di Jepang kan gede2! “O…oke…”

“Kalian abis ini keluar ruangan ini dari pintu sebelah sini aja, langsung turun, Yamanote Line jalur 5, kurang lebih 20 menit sampe Ueno, kalian langsung ke platform Shinkansen. Oke, selamat pagi!”

*nengok Arif* “CEPETAN CHUY!!”

Monsters_University_Late_Slug

Ilustrasi. Sumber: Monster University (Pixar)

Jadi di sebelah kantor JR ada jalan kecil lewat kafe yang dari situ bisa langsung nembus tangga ke bawah. Ntah lah si mbak ngeliat gue ama Arif kayak Teletubbies pake bakiak 17 Agustus yang tandem itu. Gue bersyukur kereta komuter di Jepang selalu ada per beberapa menit dan tibalah kami di Ueno jam 10:25. Bahkan kami masih sempat beli onigiri 3 bungkus.

Ga ada cerita dramatis kayak kemarin pas di Shinkansen, karena kaki kami udah kayak mau jebol. Kami naik Jōetsu Shinkansen (上越新幹線), kereta MAX Toki tujuan sampe Niigata (terminus).

Sesampainya, di luar hujan. “Oke Rif, kita udah bisa liat sushi ama donburi di sekeliling kita” Jadi ada toko2 bernuansa kayu tapi modern ngejual sushi di stasiun. Selain itu menu khas nya ada sasadango (笹団子, dango dibungkus daun bambu – bukan, bukan Sasa merk micin itu).

img_4846

Selamat datang di Niigata… di hari yang hujan

Karena waktu yang mepet dan ntah dudul, akhirnya kami malah beli takoyaki di stasiun (bukannya makan apa gitu yang lebih jelas). “Rif, kita makan sushi nanti aja pas balik! Sekarang kita transit dulu ke Shin’etsu Line dan sesuai petunjuk Nashimoto sensei, kita turun ke Furutsu” dan kami pun jalan ke peron kereta lokal (yang bahkan ada yang gerbongnya cuma 2, gue curiga ini kereta bakal ngebawa gue ke dunia digital terus nanti berantem ngelawan Lucemon).

Setengah jam kemudian…

img_4852

BRUH…

img_4850

…kenapa kita diturunin cuma sampe Niitsu??

Kami terdampar di Stasiun Niitsu yang lokasinya cuma beda SATU STASIUN LAGI sama Furutsu. Cuma ada gue, Arif, dan satu kakek2 yang turun. Konyolnya lagi, sinyal internet kami langsung melambat drastis. Udah. Waktu udah menunjukkan jam 2. Satu jam menuju waktu janjian sama Nashimoto sensei. Setelah kami baca jadwal lagi, akhirnya kami naik tangga dan nyeberang peron lagi. Akhirnya keretanya datang dan tibalah kami di Stasiun Furutsu. Gue sama Arif tercengang.

Furutsu_040710

Stasiun Furutsu… dan ini kecil… banget. Sumber: Wikipedia – Gambar oleh Hitam1200 di Wikipedia Jepang (ditransfer dari ja.wikipedia ke Commons., CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=52344601

Kami terdiam melihat stasiun itu. Setelah dari kemarin2 melihat stasiun2 besar Jepang, sekarang kami melihat stasiun kecil yang ntah gue tinggal ngebayangin ada Nobita atau Chibi Maruko Chan lewat. Oke2 cukup. Setelah kami jalan lagi, kami pun sadar suasana kota kecil nya kerasa banget. Tenang, bahkan mobil jarang lewat, sekalinya ada truk eh dia malah ngetem ke Family Mart buat minum kopi. Sungainya bersih, yang kurang cuma cuacanya yang lagi berawan, dan kaki kami yang kurang sehat. Bahkan kondisinya ramah banget, sampai ada warga lokal menunduk dan bilang “Konnichiwa! (Selamat siang!)” kami membungkuk dan membalas. Melihat jam, ternyata sudah jam 2:50 siang! Ah, ini ga bakal keburu, dikit lagi, tapi kaki udah lambat banget!

Tibalah kami di NUPALS. Sebuah kampus keren, kayak NTU, tapi di tengah… kota kecil, bahkan berbatasan langsung sama perumahan warga. Jalan ke kampus menanjak, sangat asri, bentuknya modernistik, dan satpamnya… mirip banget Takeshi Hongo (Kamen Rider Ichigo, versi bapak2 yang di Kamen Rider Taisen). Masuk kampus, saat itu jam 3:07 sore, gue nanya resepsionis yang nampaknya kesulitan bahasa Inggris, untung gue udah printscreen e-mail Nashimoto sensei. Sementara Arif nunggu di ruang tengah, gue lanjut jalan. Sampai di depan ruangan, kayaknya bel nya langsung aktif, ada orang yang pas gue tunjukin langsung menemukan gue ke Nashimoto sensei.

img_4855

Gue dan Sang Legenda

“Selamat datang di Niigata!” beliau langsung menyambut gue. Di pojok ruangan keprofesoran itu (di meja depan ada mahasiswa lagi nugas, lanjut ada profesor asosiat, baru ada tempat khusus beliau), beliau duduk di tempat yang dikelilingi buku dan berkas termasuk jurnal, dihadapkan dua komputer. Beliau lalu cerita bahwa ada beberapa orang yang sempat menyangkal ide beliau, tapi di saat yang sama laboratorium milik Szostak (penerima Nobel) sibuk membahas teori beliau. Saat ini beliau belum aktif meneliti itu lagi dan masih sibuk mengerjakan penelitian terkait RNA.

“Ya, saya berencana melakukan penelitian itu suatu waktu nanti sebelum saya mati!”

Di umur beliau yang sudah sepuh, beliau masih semangat banget dengan penelitian2 molekuler. Penelitian beliau tentang translasi balik bersinggungan dengan konsep asal-usul kehidupan di Bumi, sementara gue berusaha menarik lebih jauh karena gue menyebutkan bahwa translasi balik bisa berguna untuk beberapa hal, termasuk biologi evolusi – untuk analisis kekerabatan fenotip dari protein individu masa lalu dengan masa kini. Ada setidaknya 4 permasalahan terkait translasi balik:

  1. Reduksi informasi dari 64 kodon ke 20 asam amino. Nashimoto sensei menyelesaikan masalah ini dengan membalikan 20 asam amino ke 20 kodon saja. Meski terjadi pengurangan, mungkin suatu saat nanti bakal menggunakan kodon lebih banyak. Mungkin, menurut gue. Walau artinya aplikasi biologi evolusi jadi tidak bisa diterapkan.
  2. Variasi gugus R asam amino. Ada 20 variasi gugus R di asam amino, sementara hanya ada 4 nukleotida yang lebih seragam. Nashimoto sensei menyebutkan untuk menyelesaikan masalah ini dengan membuat rtRNA (reverse translation RNA) berbentuk huruf T yang memiliki lekukan yang pas dengan gugus R, dan ini dibuat dengan metode SELEX (Systematic evolution of ligands by exponential enrichment – Evolusi sistematik ligan dengan perbanyakan eksponensial) yang dengan kata lain sistem mutasi dan seleksi dalam skala besar namun mikro.
  3. Ikatan peptida yang lebih stabil daripada ikatan fosfodiester pada asam nukleat. Perlu fungsi seperti enzim protease untuk memecah ikatan protein.
  4. Struktur protein yang beragam, ada primer, sekunder, dan tersier. Protein perlu dibuat primer terlebih dahulu. Konon saat ini sudah ada metoda membalikkan protein ke struktur primer (gue belum nyari).

Selain itu beliau memprediksi penggunaan struktur mirip ribosom sebagai rangka gerak diperlukan untuk translasi balik berkecepatan tinggi, namun dalam skala normal belum diperlukan.

Gue pun cerita ke beliau kalau gue ada latar kuliah Astrobiologi di Indonesia yang artinya gue juga mempelajari asal-usul kehidupan. “Saya ga mengira ada orang yang antusias hal ini ada di Indonesia sampai saya lihat kamu di sini!”

“Perlu ada orang2 muda yang melakukan penelitian2 gila untuk menyumbangkan inovasi ke dunia ini!” tambah beliau. Gue di sisi lain cerita kalau gue mau kuliah di Kyoto, gue ga nyolot atau ga bermaksud menyebarkan aura kompetisi antar kampus, tapi gue mau jujur kalau gue juga fokus ke biotek tanaman yang akan membawa gue ke penelitian molekuler lanjutan. Gue menyerahkan CV sama draft paper gue “Wah ini bagus!” kata beliau sekilas melihat gambarnya. Ah, alhamdulillah!

Terus ada orang2 lain datang, beliau ngomong dalam bahasa Jepang yang bilang gue neliti Astrofisika (wat??) dan lain2, terus mereka ngasih gue kartu nama dan salaman!

Di sisi lain gue cerita kalo gue ke sini ama Arif, “Kenapa kamu ga ajak aja dia ke sini, dingin di luar!” Terus gue “Uh… sensei, ada wifi gak?” Ternyata wifi nya keok. Randomnya, gue dikasih 2 kupon makan (karena tau kami berdua) di Negi Bouzu, deket stasiun, restoran seafood dan menyajikan sushi!

img_4856

Rejeki

“Nanti kamu hati2 ya di Niigata, kalo malem katanya ada orang Korut yang nyulik anak2 muda” Gue kayak… WAT?? “Kamu nanti balik ke Furutsu kan ya? Eh tunggu! Bus kampus jam berapa??” Beliau mengecek jadwal dan nampaknya 20 menit lagi, beliau minta mahasiswanya nganter gue sama Arif ke tempat bus. Kami berpamitan, dan mahasiswa beliau (yang bahasa Inggris nya masih belum lancar tapi berani ngomong) pun nganterin gue sampe ruang tengah.

Gue pun ga memungkiri bahwa gue salah ngomong ke bocah ini karena gue bilang perut Arif besar (perut = Onaka, gue ketuker ama kenyang = Ippai, besar = ooki na) dan gue ngomongnya apa?

Ooki na oppai desu” (dada besar)

069

Gue saat itu

Walau akhirnya gue berusaha memperbaiki kalimat gue dan orang ini udah nahan ketawa2. Dia cerita kalo dia umurnya 25 tahun dan lagi meneliti PTGS (Post Transcriptional Gene Silencing – Pembungkaman gen pasca transkripsi) pake RNA.

Akhirnya bus tiba, setelah berdesak2an dan tiba di Niitsu, dan dilihat penumpang lain karena ada 2 makhluk asing berbadan besar naik bus di sana.

“Cewek2nya oke, mas”

“Pret…”

Dalam setengah jam, tibalah kami ke Stasiun Niigata lagi. Kami jalan ke Negi Bouzu dan pesan fine cut nigiri sushi sama eat and compare sea urchin dan kami abis 6000 yen (setelah diskon 1000 yen!). Ikannya seger2 banget dan ini enak banget, melebihi resto manapun di Jakarta (kecuali Sushi Masa).

Mau beli sasadango, eh udah pada tutup. Akhirnya kami lanjut naik Shinkansen sampe Ueno (Tokyo) dan lanjut ke Ikebukuro.

“Mas, laper, Sukiya dulu yuk”

“Chuy, jauh. Cari makan yang sambil jalan aja deh”

Arif pun ngarahin buat jalan lewat jalan seberang. Cuma beda sebrang jalan, dan area itu banyak area XX yang bahkan dijagain bodyguard. Gue ama Arif ngebut aja jalan kaki, ga mau terlibat.

Tapi masih sempet2nya beli makan di Lawson. Kami beli onigiri (lagi) sama sesuatu yang bentuknya kayak salmon panggang, dalam kemasan tertutup.

Akhirnya kami tiba di apartemen. Kami langsung unboxing salmon itu. Pas dibuka, ternyata itu onigiri… lagi…

Day 5 – Dua hari ke belakang, kalo kita ngomong pake bahasa game nya, kami udah melewati 2 misi kelas S (Super) untuk bidang sains bioteknologi. Hari ini, misi kelas S terakhir… makanan. Kami makan ikan segar di Pasar Tsukiji, selesai. Bonus, kami makan makhluk aneh: Nanas Laut.

img_4919-1

Bukan rumah SpongeBob

Cerita lengkapnya di sini. Mana ditambah kami beli melon Yubari yang terkenal muahal itu (worth it tapi sih ceritanya). Abis itu karena duit mulai tekor dan khawatir laper mata lagi, kami balik ke apartemen, menunggu hal yang kami paling tunggu sore itu. Me-review kunjungan ke restoran belut berbintang Michelin 1: Unagi Kabayaki Hashimoto (jangan ketuker ama sensei yang namanya cuma beda 1 huruf). Rumah sederhana, dengan kualitas level dunia. Cerita lengkap di sini.

Malam itu kami pulang dengan perasaan puas. Walaupun kurang senang karena besok udah mau pulang!

Day 6 – Pulang. Ga banyak cerita. Pulang, makan di bandara, sampe Jakarta hujan. Plus langsung disambut kemacetan. Warbyasah. Gue udah kangen sama Jepang, dengan segala keteraturannya. Gue berdoa, semoga suatu saat nanti ada rejeki belajar di sana. Aamiin…

Sementara itu, Hosokawa sensei ngirim e-mail ke gue. Intinya penelitian utama gue diganti jadi mawar dan laju fotosintesis (sama kayak penelitian Doi sensei), sama perlu segera ngisi form2. Cuma form2 apa aja? Terus, boleh ga gue nambah aspek molekuler di penelitian itu?

…dan Nashimoto sensei: Tulisan kamu udah oke, cuma perdalam lagi. Saya sudah SEMBILAN TAHUN berkutat dengan itu.

Mampus gue… tapi oke lah, gue udah bilang ama beliau kalau gue bakal improve paper itu pake studi pustaka. Kita lihat aja apakah ini bisa mengimbangi penelitian 9 tahun beliau.

Target gue tahun depan:

-20 publikasi paper

-Buku Rafflesia jadi

-Minimal 1 paper terhubung ke biologi sintetik/xenobio

-Ada harapan beasiswa ke Kyoto

Sisanya sekarang gue perlu berdoa dan berusaha lebih baik lagi. Sambil ngajar dan berbagi ilmu yang gue punya. Karena satu hal yang pasti, ilmu gue akan berkah kalo dibagi2. Khususnya ke murid2 gue. Jujur, doa gue salah satunya adalah bisa meet up mereka di luar negeri dalam konteks bisnis atau penelitian (bukan jalan2).

Sementara gue juga berdoa, buat Ghea, semoga beasiswa dia untuk membawa dia ke Kyushu University bakal dipermudah. Aamiin.

Semangat lah!

-AW-

Iklan

Halo pembaca! Berhubung nanti malam kita memasuki tanggal 1 Ramadhan 1435 H, saya ingin mengucapkan mohon maaf atas kesalahan baik dalam kata2 ataupun lisan yang pernah terucap, semoga amal ibadah puasa kita yang merayakan bulan suci ini diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan baik. Aamiin…

Kali ini, cerita saya lebih ke tentang sebuah restoran berbasis pesan antar (delivery) di Bandung, yang saat ini sudah tidak ada. Masih ada kaitannya dengan bulan suci, resto satu ini meninggalkan banyak kesan untuk saya.

Pertama2, buat kalian… mahasiswa-mahasiswi, bagaimana persiapan puasa kalian dalam sisi material (maksudnya bahan pangan)? Apakah selama bulan Ramadhan ini kalian pesan katering rutin yang akan mengantarkan tiap sahur, apakah kalian memang suka jalan2 pas sahur sehingga kalian udah punya spot langganan atau restoran yang dituju, apakah kalian suka masak, atau… kalian jarang sahur? Apapun itu, saya yakin di tiap diri kalian yang kuliah di se-antero tanah air khususnya pasti punya cerita soal itu.

Termasuk saya… kisah makan sahur saya selama 4 tahun di masa kuliah S1 saya beda2 dulu di Bandung. Tahun pertama, saya memesan katering dari Kantin Koboy Cisitu. Saya sejujurnya males makan nasi buat katering, kenapa? Porsinya ga kira2… porsi di mana lauk dikit sementara nasi berlimpah. Saya soalnya kalau makan lebih suka banyak lauk daripada karbo. Jadi biasanya saya menggantinya dengan kentang atau ga pesan nasi sama sekali. Konyolnya, suka missed info ke mereka ini. Gimana? Tau2 dikasih nasi segudang, terus sisanya jamuran di kosan saya dan paling konyol dari soal katering… mereka pernah datang 5 menit sebelum imsak! Alhasil, setelah itu saya mengurungkan niat buat katering lagi di tahun selanjutnya.

Tahun kedua, saya memilih buat membeli bumbu nasi goreng kalengan rasa tuna kesukaan saya. Yah, ini adalah poin plus kosan saya yang ada di kawasan Cisitu Lama IX ini punya fasilitas asik berupa dapur, nasi bebas ambil, dan air minum dispenser (walau merknya ga jelas… dan konon jarang dibersihin). Alhasil saya pun masak tiap sahur… (walau kadang kelewat males jadi cuma makan roti… atau sahurnya bablas).

Tahun ketiga… ini yang akan menjadi highlight cerita saya kali ini.

400457_284589158255561_1240943883_n

Saat itu, di Bandung ada sebuah restoran yang udah saya sebutkan tadi bernama Farfalle Pasta. Restoran ini sangat unik karena tempatnya virtual; dengan kata lain kita hanya bisa memesan via telepon, SMS, dan bahkan kerennya… via teknologi Yahoo! Messenger (YM)! (terakhir di 2011 bahkan bisa pesan via website di mana PHD dan yang lain belum bisa fasilitas ini!). Dahsyatnya lagi, tidak ada minimum order payment, ga ada pajak harga (gw rasa harganya udah masuk pajak)… dan di atas segalanya, porsinya ga main2 DAN RASANYA ENAK BANGET! Resto satu ini mampu mengungguli restoran sekelas Pizza Hut (karena rasa masak-ulang nya kerasa banget… ga terlalu seger) dan bahkan Warung Pasta pada saat itu (yang terlalu berair… konsistensi creamy nya jelek). Andai Kulinerologi si AW sudah ada dari dulu, saya akan kasih cawang penuh (√√√√√). Bukan karena hanya rasanya yang hampir menyaingi makanan bintang lima, kreativitas menu, keunikan rasa, kemudahan dalam pemesanan, hingga feedback yang sangat positif membuat saya ga akan ragu memberi nilai penghormatan sebesar itu!

“Lo ga lebay kan, Dit? Emang makanannya gimana? Liat lah!”

Soal makanan, tempat ini menyediakan pasta sebagai makanan utamanya. Tersedia dalam porsi S (Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00), M (Rp 10.000,00 – Rp 13.000,00), L (~ Rp 15.000,00) (dan terakhir pesan ada XL… sekitar Rp 21.000,00 dan seinget saya ada XXL buat senampan penuh buat hajatan, Rp 50.000,00 an). Menunya tersedia mulai dari pasta otentik (Bolognese, Carbonara, Alfredo), hingga hasil kreativitas mereka sendiri. Walaupun yang kita dapat setelah sampai bentuknya ga sesuai yang di gambar, porsinya… gak main2!

dsc00966

Kurang lebih ini… porsi M, Spicy Tuna Sweet Fusili (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

“Dit… gw tau lo udah lupa mungkin… tapi dengan sisa2 memori yang mungkin masih ada… tolong deskripsiin dong gimana rasanya!”

Meh… bawa2 memori. Curcol sedikit, tahun ketiga kuliah akhir adalah momen pertama kali seumur hidup saya dapat pacar. Namun sayang perjalanannya ga mulus akibat ga direstui oleh ortu pacar (mantan) saya waktu itu. Thanks to Rino yang kebetulan waktu itu ada dan juga thanks to resto ini. Hubungannya? Ah saya lupa… hingga 2010, tempat ini menyediakan fasilitas pre-order untuk sahur! Catatannya, pesan pas malamnya atau maksimal jam 2 atau traffic antar nya bakal membludak.

Kesukaan saya… Fettucine Alfredo w/ Barbecue Mushroom…

421269_323718664342610_302239243_n

Maaak… kangen gw makan yang ini! (Sumber: Page FB)

Fettucine yang dimasak dengan saus krim dan mentega (butter), ditambah dengan potongan jamur kancing yang ditumis dengan saus barbecue dan bawang bombay. Rasanya? Susah dijabarkan dengan kata2. Rasa manis-spicy dari jamur dinetralisir dengan rasa mild dan gurih dari krim di pastanya. Hmmmmmmm~

Kedua, Spicy Tuna Sweet Fusili… yang satu ini emang agak pedes, manis, asam. Tuna dimasak dengan saus tomat, cabe, bawang putih, dan pasta fusilli. Nendang banget!

Ketiga… saya lupa, seinget saya… Fettucine w/ Creamy Rosemary Chicken. Ini dahsyat sih! Fettucine, dimasak dengan ayam yang udah ditumis, dikasih krim yang terinfusi herba rosemary yang wangi dan manis. Gileeeee!

Keempat, yang lucu… ada pasta kalo ga sala Fettucine with Choco Sauce. Ini manis. Pake saus krim coklat pake mentega, jadi rasanya manis2, asin, gurih gitu. Sempurna, dikasih keju mozzarella. Maaaaaak!

Bahkan… kelima… Spaghetti Bolognese nya sendiri… manis, dagingnya kerasa dan herba2 di dalamnya kerasa, ada oregano, rosemary, basil, dll. Rasa tomatnya juga ga main2!

Sekarang udah kebayang? Dengan harga yang asik, sahur saya jadi ga galau berkesan!

Komentar saya cuma satu waktu itu… ini restoran namanya “Farfalle”… kan artinya pasta kupu2… kok ga ada yang pake pasta kupu2?

Screen Shot 2014-06-28 at 9.48.04 AM

Ini lho!

Sampe sekitar 2011 awal (curcol lagi: ketika saya sama mantan kedua saya), saya (kami) suka memesan pasta2 dari Farfalle buat makan bareng. Lalu menjelang saya lulus, tempat ini udah ga bisa buat pesan sahur, dan… mereka buat restoran di kawasan Pasteur, Bandung. Awalnya, gw mikir… wah keren… dari delivery… ke resto!

Tapi sayangnya… itu ga bertahan lama. Awal 2012, mereka lenyap… ntah kenapa. Emang sih, saya udah di Jakarta.

Tahun 2014 ini… pas saya cek. Bahkan restorannya udah ga ada (di Foursquare ada, tapi lokasi ga ada di kenyataannya)…

Ternyata…

Screen Shot 2014-06-28 at 9.55.51 AM

2009-2013 (sumber cek: sini)

Domain Farfalle Pasta udah expired. Kenapa ya mereka tutup? Masa sih setelah buka, mereka jadi bangkrut?

Damn… jujur saya bakal kangen sama ini…

pasta

Dat website… (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

Walaupun beberapa gambarnya masih ada di Page FB mereka sih, cuma man… I miss to eat their pasta!

Serius… kalo ada yang tau ternyata saya salah (baca: ternyata masih ada), tolong kasih tau saya di komen ya! Saya pengen banget bisa makan ini lagi kalo saya ke Bandung. Banyak kenangan dengan saya makan makanan di sana.

Moral cerita:

  1. Di era yang serba sibuk ini, kayaknya bisnis makanan delivery bisa dibilang menjanjikan. Alasan? Ga perlu tempat besar untuk restoran, cuma butuh dapur dan kurir antarnya.
  2. Setiap orang pasti punya makanan yang memiliki kenangan saat makan… ntah karena keluarga, teman, pacar, mantan, istri, siapapun… itu lah kenapa makanan itu spesial buat saya. Terlebih lagi kalau dimasaknya dengan ide original dan dimasak sepenuh hati.

PS: Tahun keempat? Saya puasanya banyak di rumah saya karena tahun keempat di bulan Juli-Agustus skripsi saya udah beres (laptop ilang… terus saya putus ama mantan saya yang kedua *curcol*)

-AW-

Kisah ini… menggambarkan betapa randomnya saya di hari ini, tanggal 31 Maret 2014 ini. Ntah, apa yang ada di pikiran saya sehingga saya sangat mobile hari ini. Mulai dari kisah sebelum ini ketika saya mencari sarsaparilla, berlanjut di sore hari tentang kisah yang akan saya ceritakan ini. Sejujurnya… kisah ini berakar dari blog sama yang saya baca waktu itu. Hanya berasal dari rasa penasaran saya atas minuman yang disebut “Sapaitu”, sarsaparilla dicampur susu. Lokasi? Di Balé Raos, lingkungan keraton. Nyalakan GPS dan Foursquare, saya pun beranjak dari kampus jam 16:20 WIB sore. Naik TransYogya koridor 3A, turun di Pojok Keraton Kulon, dan jalan kaki yang nampaknya hampir 2 Km. Yak, saya lelah. Cuma saya ga mau keluarkan uang sepeserpun, akhirnya saya pun jalan walau godaan besar sekali untuk naik becak.

Ah iya, kenapa saya tulis lagi di sini? Bukan ke Kulinerologi? Karena… ceritanya abstrak! Yah, saya tulis sih di sana, tapi cuma tentang makanannya, bukan apa yang saya alami keseluruhan di sana.

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati area yang saya bahkan ga tau sama sekali, akhirnya saya tiba di Balé Raos. Tempatnya megah… sangat megah. Tapi sangaaaat sepi. Saya pun masuk, walau dengan muka lusuh dan berkeringat, saya harap saya ga dianggap orang aneh.

AW: Mbak, ini… restorannya buka kan?

Mbak: Iya buka kok, mas.

AW: Bisa pakai debit Mandiri?

Mbak: Bisa mas…

AW: Oh, oke deh!

Mbak: Mau duduk di sebelah mana, mas?

AW: Di sebelah sana…

Saya pun mengambil kursi outdoor yang paling terang. Alasan? Di dalam nampaknya sudah dipesan, dan di tempat ini saya setidaknya bisa memotret dengan baik.

Sejujurnya, saya sangat suka dengan pelayanan di sini. Free flow water, dan ada hors d’ouvre (cemilan pembuka) keripik jagung.

IMG_5599

Sedaaaaap…

Prosedur standar saya: Duduk, lihat menu, cari yang unik tapi harga terjangkau, pesan, menunggu, siapkan Evernote Food (apps ini adalah senjata andalan saya untuk menyimpan referensi hidangan yang saya pesan), makanan datang, potret, masukkan Evernote Food, makan/minum dan nikmati, bayar, pulang!

Menu pun tiba di tangan saya. Saya pun takjub. Ah ya… nama restoran ini adalah Balé Raos Royal Cuisine Restaurant ketika saya buka di Foursquare. Seisi menu, saya melihat daftar makanan yang merupakan makanan kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono VI hingga X (yang incumbent menjabat saat ini). Mengenai harga… jujur saya kagum dengan harganya yang lumayan terjangkau untuk sebuah royal banquet. Akhirnya saya mau memesan makanan dan minuman…

AW: Mbak, saya pesan bistik jawa dan sarsaparilla ya…

Mbak: Maaf mas, sarsaparilla nya sold out… (artinya es sapaitu nya juga ga ada)

AW: Yah… oke deh, es lemon tea aja…

Saya dari tadi membaca menu lagi dan lagi. Saya mempelajari pola di sini. Nampaknya pada periode kesultanan ke-6 dan sebelumnya, sajian kuliner di sini masih agak kuat pengaruh Jawa nya. Masuk periode ke-8, pengaruh Belanda mulai kental. Yang menarik adalah pada periode kesultanan ke-9, di bawah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelumnya, saya pernah ke museum keraton bersama Aria dan Dwiki di tahun 2013 awal. Kami menemukan bahwa… Sri Sultan ke-9 ini, nampaknya orang yang sangat multi-talenta, dan multi-tasker sekali. Bagaimana tidak? Beliau disebutkan pernah menjabat 20 jabatan dalam 1 waktu (mak… saya ngejabat 4 posisi aja mabok… pas PROKM ITB 2009… jadi kadiv dokumentasi, pendiklat taplok, perangkat materi divisi taplok, dan pendiklat lapangan… ah, dan saya ketua unit Klub Fotografi Nymphaea saat itu, oke… 5). Tapi yang keren, beliau suka eksperimen dapur dan juga merupakan fotografer. Salut untuk Kanjeng Sultan ke-9!

_MG_9662

Bumbu masak milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX…

_MG_9660

…dan kamera2 milik beliau.

Di menu, saya melihat banyak makanan yang merupakan makanan kesukaan Kanjeng Sri Sultan ke-9, dan juga ada salah satu masakan racikan beliau. Pesanan saya ini, Bistik Jawa merupakan makanan kesukaan beliau juga lho!

Tak lama, pesanan saya pun datang… (khusus ini, gambar dan review-nya saya taruh di blog saya yang Kulinerologi, artikel mengenai Bistik Jawa, Bale Raos)

Asli… enak… saya jadi ingat dulu mbah putri (dari bapak) pernah masak bistik Jawa juga buat saya. Masaknya sederhana, daging has dalam ditumis dengan sedikit minyak, mentega, merica, garam, dan potongan bawang bombai. Setelah daging matang, angkat. Sisa di wajan ditambah air hingga menggenang, tambah sedikit kecap dan saus tomat. Tambah garam jika kurang asin, atau jika terlalu asin tambah gula dan air. Ini menjadi sausnya. Abis itu, santap deh! Untuk yang saya makan di Balé Raos ini, mereka menggunakan daging cincang, jadi kayak beef burger steak, lalu dengan kentang tumbuk yang dipadatkan, jagung muda, brokoli, dan wortel rebus dijadikan sayur (sisanya dibahas di blog sebelah).

Ah… mantap! Setelah makan, saya pun bayar.

AW: Mbak, mint bill nya dong…

*ga lama kemudian*

Mbak: Mas, maaf… untuk debit Mandiri minimal Rp 100rb, BCA yang lebih rendah…

AW: Mbak… kok gak bilang dari tadi? Di sini ATM di mana ya?

Mbak: *nanya temen2nya* Itu dekat Pasar Ngasem.

AW: Mbak, itu jauh… harusnya bilang dari tadi kalau ada minimalnya. Gini deh mbak, ada yang bisa antarkan saya naik motor ke ATM?

Mbak: *nanya temen2nya*

Mas: Mas, saya aja deh yang antarkan…

AW: Oke deh… dan mbak, gini aja deh, ini saya ada Rp 50rb, saya bayar yang Rp 15rb nya (dari total Rp 65rb) dulu, nanti Rp 50rb nya dari ATM dari mas ini aja ya…

Akhirnya (dengan sangat2 merepotkan) saya diantar si mas naik motor. Saya pun nanya2 soal sarsaparilla nya, dan ternyata mereka pakai Indo Saparella. Wow, emang ini lagi booming banget ya. Si mas nya nanya saya kos di mana, saya pun jawab di Kaliurang.

Akhirnya lagi, saya ngambil uang di ATM BRI (Aaaargh! Kena charge!) dan ngasih ke si masnya. Tapi saya… masih dudul lagi…

AW: Mas, boleh numpang antar sampai halte TransYogya yang dekat sini ga?

Mas: Boleh mas, yang mana? Yang itu ya?

AW: Iya, yang Ngabean di situ kan?

Mas: Oke deh…

Lalu saya kasihkan uangnya dan diantarkan masnya sampai lampu merah shelter Benteng Keraton Kulon, dan saya pun pulang naik TransYogya koridor 3B seperti biasa.

Oke, jujur saya tertarik sama restoran itu… tapi dengan saya udah merepotkan gini, saya jadi kabur dulu deh…

Pesan moral:

Buat restoran: Tolong kasih tahu pelanggan mengenai adanya charge (untuk kartu kredit) dan minimum payment (untuk kartu debit) sebelum pelanggan memesan. Apalagi jika card machine nya rusak. Kalian ga mau ketemu pelanggan seperti saya atau BAPAK SAYA yang lebih keras lagi… saya masih toleran walau nyusahin, bapak saya? Kalian dijamin diam, walau ada manajer di situ.

Buat pelanggan: Tolong siapkan uang lebih di dompet kalian sebelum jalan2! Cash over card, no exception.

Apapun deh, semoga Kanjeng Sri Sultan tidak tepok jidat membaca cerita saya ini.

-AW-

Posting saya kali ini saya buat di blog ini karena… lebih banyak teori dan sesuatu yang sifatnya spekulatif (karena saya sendiri belum nyoba makanan2 di situ, dan beberapa bahan2 makanan di situ). Pagi ini, saya lagi mau iseng mengunjungi makanan2 ini lagi… karena pengen laper… dan penasaran.

Let’s see…

Ratatouille adalah film karya Disney Pixar yang sangat keren dan inspiratif buat saya. Film ini banyak memberikan ilham dalam bidang dunia kuliner buat saya, mulai dari bagaimana gambaran singkat penataan dapur haute cuisine, hingga kerasnya seorang kritikus makanan kepada restoran dan chef.

Screen Shot 2014-02-25 at 7.03.19 PM

…dan juga, film ini membuat saya ingin sekali pergi ke Perancis!

Mengenai makanan… ada 5 makanan yang ada di sini yang akan saya sorot…

Screen Shot 2014-02-25 at 6.27.51 PM

Jamur keju.

Hmmm… jamur chantarelle (dari bentuknya) adalah jamur yang biasa diburu di kawasan Eropa. Konon aromanya agak kayak peach, jamur ini favorit para chef di dapur. Ditambah keju… ntah saya belum ada gambaran keju apa, tapi kayaknya tipe keju keras yang aromanya kuat. Remy pada akhirnya bilang campuran yang kurang adalah saffron.

Saya cuma bisa mikir bahwa rasanya enak, kayak mushroom gratin (jamur, keju, krim). Dibuat bite size kayak gini kayaknya asik!

Screen Shot 2014-02-25 at 6.32.15 PM

Sup krim yang diracik Remy ini.

Masakan pertama Remy di dapur Gusteau. Ntah, awalnya apa… sup yang aromanya aneh, atau nyengat, atau bau…

Terus dikasih air lebih, daun thyme, keju, krim, bawang putih cincang, jamur kancing, daun bawang, sama ga tau yang terakhir itu apa yang ditambah sebelum Linguini memergoki Remy. Ntah, mungkin Remy ngasih air biar rasanya netral, krim buat meredam rasa biar jadi “mild”, nambah herba buat aroma, plus jamur… ya jamur itu punya properti menyerap komponen. Mungkin biar rasa “aneh” nya terkonsentrasi di jamur, dan rasa baru itu muncul? Hmmm… kayaknya rasanya bakal agak kayak sup krim jamur.

Screen Shot 2014-02-25 at 6.35.06 PM

Omelette buatan Remy.

Ini simpel sih. Omelette… dikasih potongan paprika (liat aja ada merah2nya), bawang (putih atau bombay), sama herba seperti basil yang dia comot dari kebun di seberang. Aromatik…

Screen Shot 2014-02-25 at 6.46.11 PM

Sweetbread A La Gusteau.

Nah, ini menarik. Sweetbread di sini, bukanlah roti. Sweetbread adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kelenjar2 pada sapi muda, atau kambing, atau domba… seperti kelenjar timus, pankreas, atau lambung, yang katanya memiliki rasa manis kalau dimasak. Di menu ini, digunakan lambung sapi muda yang sudah direndam terlebih dahulu (dengan bumbu pastinya), lalu dimasak dengan tentakel cumi2, dog rose (sejenis varietas bunga mawar) yang dihaluskan, telur geoduck, jamur putih kering, dan saus licorice-anchovy. Dijelaskan juga, sajian ini dianggap rasanya aneh bahkan sama Gusteau. Mari kita pikirkan…

Kayaknya Gusteau lagi eksperimen pas lagi buat ini…

Ah ya… dog rose itu sejenis bunga mawar yang katanya bisa dibuat sirop.

450px-Divlja_ruza_cvijet_270508

Ini bunganya (sumber: wiki)

Geoduck… kerang yang bentuknya aneh… banget. Ntah… terus diambil telurnya aja. Saya belum nyoba…

449px-Jrb_20081127_Mirugai_tsukiji_tokyo_japan_001

Aneh… (sumber: wiki)

Tambah saus licorice yang rasanya kayak mint… dicampur anchovy (kayak ikan teri, rasanya asin). Terus pakai tentakel cumi dan jamur kering. Wew… simfoni aroma dan rasa. Mungkin menu ini jadinya ngaco karena ga semua orang sanggup merasakan campuran itu. Lantas Remy ngasih saus yang dia olah dari minyak jamur truffle putih. Sausnya agak creamy… lagi, mungkin dengan ini rasanya jadi mild dan mengurangi rasa2 lain yang terlalu nano2.

Screen Shot 2014-02-25 at 6.59.24 PM

Ratatouille.

Nah, kalo Ratatouille buatan Remy yang bahkan sampai membuat Anton Ego terpana ini… diambil dari sajian modifikasi Ratatouille asli yang disebut Confit Byaldi. Resep bisa dicari di Youtube atau internet. Dibuat dari tomat, zucchini kuning dan hijau, dipanggang di atas saus tomat dan dimakan dengan saus kuning (saya belum nyoba). Kayaknya rasanya jadi versi lebih crispy atau dry nya Ratatouille karena sebagian sayuran pas dipanggang menyentuh saus tomat, sebagian menghadap ke atas (di bawah kertas).

Ah… ini yang saya dapet dari internet!

Saya pengen nyoba…

Jadi…

Gimana pendapat kalian?

-AW-

Baru2 ini, saya dapat sharing page di Facebook yang isinya kurang lebih seperti ini:

BANTU SHARE PADA TEMAN

JANGAN ABAIKAN, TOLONG DI BACA:

Anda dapat menyelamatkan nyawa seseorang dengan share ini.

Air Liur+Buah = Obat Cancer”

Dr. Stephen memperlakukan pasien sakit Cancer dgn cara yg “un-ortodoks” & banyak pasien Sembuh!

Ia percaya pd penyembuhan alami dlm tubuh terhadap penyakit.

Obat utk Cancer sdh ditemukan!

Anda percaya?

Saya berdukacita bagi pasien cancer yg meninggal di bwh perawatan konvensional.

Pasien cancer tdk seharusnya mati !

Menurut DR. Shu, 3 generasi Sinshe di Taiwan:

Makan buah segar dan caranya!

Ini sangat informatif!

Umumnya makan buah berarti membeli buah, cuci, memotongnya & masukkan ke dalam mulut kita?

Tapi tidak semudah yg kita pikirkan! Pengetahuan penting bagaimana & kapan harus makan buah.

Cara yg tepat makan buah;

+ TIDAK MAKAN BUAH-BUAHAN.

SETELAH ANDA MAKAN.

+ BUAH HARUS DIMAKAN PD SAAT PERUT KOSONG.

BUAH ADALAH MAKANAN PALING PENTING!

BAHAYA! Buah bercampur dgn makanan lain akan membusuk & menghasilkan gas sehingga lambung akan kembung!

Menurut penelitian Dr Herbert Shelton;

Jika Anda telah menguasai cara yg benar makan buah2an,

Anda memiliki;

umur panjang,

selalu sehat,

Penuh energi,

tubuh dan pikiran jadi nyaman & berat badan normal.

Makan buah yg utuh segar dan bersih (Bukan buah/Juice kemasan kaleng/botol Plastik) lebih baik dari pada minum jus.

Tapi jika terpaksa minum jus, maka minumlah seteguk demi seteguk secara perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur degan air liur Anda sebelum menelannya.

MINUM AIR ES SETELAH MAKAN = KANKER!!

Air dingin akan membuat makanan yang berminyak menjadi solid (beku)!

Hal ini akan menghambat proses pencernaan.

Ketika ‘lumpur’ tsb bereaksi dgn asam, maka akan jadi lemak bertoksin(Racun) & berbaris di dalam usus dan terserap dng sangat cepat! Sehingga menyebabkan Cancer!

Cara Terbaik adalah;

* Minum air hangat setelah makan

* Makan buah segar saat perut kosong.

(Buah + Air Liur Manusia = Obat Cancer).

=======

Note:

Ini adalah gambar pembedahan perut ketika proses operasi kanker lambung.

Lambung Bedah

——–

Resapi dulu sebentar… tarik napas…

OKE! SAYA AKAN KRITISI SECARA JELAS DAN TOTAL DENGAN PERSEPSI SAYA!

Pertama, obat kanker? Buah itu memang mengandung serat, vitamin, fruktosa, dan lain-lain. Air liur itu apa tau ngga? Air liur kita mengandung enzim ptyalin yang tidak lain merupakan enzim jenis amilase; mengubah karbohidrat kompleks pati atau amilum menjadi glukosa sederhana. Itu kenapa kalo kita makan roti atau nasi dan dikunyah sampai lama, rasanya akan jadi lebih manis. Di beberapa buah emang ada patinya dan bisa jadi gula sederhana pas kita makan. Di dalam air liur juga ada enzim lipase yang membantu mengurai lemak dan ini lah yang ngebantu bayi mencerna ketika lipase pankreas masih belum sempurna produksinya (Maton, 1993).

Di dalam air liur juga ada agen antibakteria, hormon gustin yang berperan dalam perkembangan sensor pengecap, dan iodin. Iodin yang kadarnya tergantung input iodin ke dalam tubuh kita ini berperan sebagai antioksidan, zat induktor apoptosis dan anti tumor yang berperan di dalam pencegahan penyakit di rongga mulut. Oke… mungkin ini yang disoroti ama penulis di atas. Tapi saya rasa ga ada hubungannya ama buah2an deh. Malah kalo kita mau coba, boleh! Pake makanan yang bisa nyerap air liur lebih banyak lah… kayak kentang tumbuk, roti, dan semacamnya… Satu hal tapi yang gw rasa, kadar iodin di air liur itu pasti sedikit banget. Jadi kalau pembaca merasa air liur ini adalah obat kanker? Saya rasa mungkin kita perlu air liur yang dikonsentrasikan sedemikian rupa untuk mengoptimalkan kadar iodin ini. So, I called this part of the myth: PLAUSIBLE.

Lanjut, makan buah sebelum makan… saya setuju. Sekali lagi saya ga mau menitikberatkan di hal kankernya ya. Terus apa? Makan buah di saat perut kosong itu membuat penyerapan nutrisi dan vitamin dari buah ini optimal di badan kita. Tapi ada disclaimer ya, jangan makan buah yang asam saat perut kosong. Nanti lambung kita malah sakit! Ah iya, ada juga… khusus lemon dan nanas, saya baru diberitahu oleh ibunya teman saya. Mungkin kita bisa bertanya kepada tukang jualan steak, atau sate, biasanya mereka tahu bahwa nanas bisa melunakkan daging. Ini berguna buat orang2 bergolongan darah A yang kurang kuat perutnya dalam mengkonsumsi daging merah dan malah bakal jadi buah konsumsi yang baik setelah kita makan.

Buah bakal busuk di lambung? Nggak bakal! Dari mana? Di lambung itu makanan ga bakal lama kok. Ditambah tingkat keasaman (pH) di lambung itu rendah sekali atau sangat asam karena ada asam klorida (HCl) di dalamnya. Bakteri di usus adalah bakteri yang bisa bertahan di pH serendah itu. Bakteri bawaan dari mulut atau luar? Belum tentu. Fermentasi di badan kita itu terjadi di usus, bukan lambung. Kalau kita kembung, saya rasa itu lebih ke jenis makanan yang kita konsumsi. Soda, kacang2an, ya… itu bisa menghasilkan gas. Tapi badan kita pun bisa meregulasikannya, maka dari itu kita bisa sendawa, atau buang angin. Kecuali kita makan dalam skala besar. Tapi sekali lagi, ga ada hubungannya sama buah2an setelah makan!

Soal jus, iya… itu kurang disarankan karena kadang jus sudah diberi pemanis, pengawet, atau bahkan pewarna buatan. Buah segar adalah yang lebih baik! Atau seenggaknya kalau kata saya ya, buat jus sendiri!

Terakhir, minum air dingin = kanker? Dari mana??  Untuk masuk ke lambung, air akan lewat kerongkongan. Suhu badan kita adalah 36-37˚ C. Saat air mengalir di dinding kerongkongan, air secara perlahan akan semakin hangat sampai tiba di lambung. Andaikan masih agak dingin, ga bakal lama. Tulisan di atas menyebutkan bahwa “lumpur” lemak yang bercampur dengan asam lambung akan jadi memicu kanker. Saya rasa lemak ga akan bereaksi di lambung dengan asam. Lemak2 ini baru akan terurai ketika terkena enzim lipase dari pankreas.

So, saya menyimpulkan:

  1. Buah memang baik sebagai appetizer tapi ada buah tertentu yang justru membantu pencernaan dan perlu dimakan terakhir
  2. Iodin di air ludah berpotensi untuk diteliti sebagai antikanker
  3. Minum air dingin ga akan menyebabkan kanker!

Begitu dari saya, saya harap kita di jaman yang media tersebar dengan luas ini bisa berhati2 dan menyaringnya dulu sebelum kita terima. Terlepas dari itu, saya akan sangat senang jika ada pembaca yang memberi masukan dan koreksi atas tulisan saya ini!

-AW-

Referensi

Maton, Anthea (1993). Human Biology and Health. Prentice Hall.ISBN 0-13-981176-1.

Sangat dianjurkan untuk membaca:

Fruit on Empty Stomach

Myth: Drinking Cold Water Causes Cancer

Pizza adalah santapan Italia favorit saya yang paling enak kalo dimakan pas lagi ngumpul2, walau kadang2 saya makan sendiri. Biar greget gitu, hahaha. Dalam sejarah saya membeli pizza, bisa dibilang cukup banyak cerita yang saya lewati. Salah satunya adalah di Izzi Pizza.

Izzi Pizza saya akui kehebatannya di masa SMU saya dulu, sekitar tahun 2004-2005. Saya mengenal restoran ini dari iklan dan voucher yang disuguhkan dalam majalah televisi kabel. Untuk saat itu, saya mengakui sangat mengagumi restoran ini karena variasi dari pizza yang ada dengan topping yang beragam. Baru kali itu saya punya kesempatan membeli dan memakan langsung pizza dengan topping khas Italia dan Mediterrania lainnya seperti capersartichoke, anchovy, dan zaitun. Bahkan variasi kejunya sangat mantap! Saya akui, saya patut memberi resto ini bintang 4 setengah.

Tahun berganti, promo sudah ga ada lagi, keluarga saya mulai ga suka dengan harganya yang naik. Pernah kemudian saya penasaran ke sana pada tahun 2009 dan kaget bahwa variasi itu menurun drastis, bahkan harganya melambung tinggi. Pada saat itu juga, saya mendengar kabar bahwa ada restoran baru muncul yang namanya Pizza Marzano. Saya sempat mengunjunginya dan wow… jujur saya kaget bahwa rasanya 80-95% mirip dengan Izzi Pizza di awal2, bahkan beberapa jenis pizza yang sudah tidak ada di Izzi sekarang ada di sana.

Kemarin (5 Maret 2013), saya pun mencoba membeli pizza di Izzi Pizza lagi di cabang Pejaten (baru buka) setelah mendengar rumor bahwa resto ini banting harga dan menjual pizza-pasta dengan sangat murah karena (katanya) terancam bangkrut. Setelah ini, saya akan bercerita 2 hal: pertama adalah mengenai pelayanannya, kedua mengenai makanannya.

Untuk pelayanannya, saya jujur agak kecewa. Pertama, “mas2 manajer” datang dengan baju kaos, muka garang, dan kayak orang bingung. Saya awalnya mengira dia bukan siapa2. Lalu, setelah saya memesan, dia terlihat kurang yakin dalam menggunakan mesin gesek kartu untuk pembayaran dan karena itu saya diminta bayar dengan tunai. Ya, baiklah… kebetulan saya sudah mempersiapkan uang tunai. Saya memesan pizza Izzi Classico dan Beef n’ Izzi ukuran besar. Ngaconya, ga ada alat hitung seperti kasir yang digunakan untuk menghitung biaya total tercetak. Si manajer malah hampir bingung sendiri menghitung harganya. Saya pun menghitung dengan manual dalam otak, dan kemudian cuma beda Rp 2k kurang dengan hasil perhitungan kalkulator.

Sedihnya, mereka kehabisan jamur untuk Izzi Classico dan saya mengatakan bahwa itu tidak masalah, untung juga mereka mau menambah potongan daging sebagai gantinya. Yang lebih menyedihkan lagi, saya melihat mereka membuat garlic bread hanya dengan mengoleskan margarin dan bukan mentega di atas roti yang nampaknya sudah berumur di luar penyimpan (karena permukaannya agak terlihat keras dan alot). Oke, mungkin saya berburuk sangka dan mungkin itu adalah mentega (butter, bukan margarin) dengan bawang, soalnya saya ga liat sama sekali ada yang mengeluarkan bawang putih tumbuk atau segar untuk dicampur dengan mentega itu. Yang paling membuat saya kecewa adalah bagaimana mereka menyebut makanan pesanan pelanggan. Saya memesan fettuccine, dan mereka menyebutnya apa? Oke… maaf: Pecun (definisi Bahasa Indonesia: Pecun = PSK/Pekerja Seks Komersial). Hei! Kalo kalian mau menjual makanan, perlakukan makanan kalian sebagai barang berharga! Saya tahu makanan adalah hal yang biasa di pinggir jalan atau kalian tidak suka ama makanan2 di sini, cuma tolong ya… kalian pikir itu lucu saat kalian menyebutkannya di depan pelanggan? Ya… ada untungnya saya ga pake baju formal penuh, karena dengan seperti ini saya ga dianggap berduit dan tidak diprioritaskan; dianggap setara.

Setelah ini, peristiwa yang cukup komikal terjadi setelah seorang perempuan muda yang nampaknya pegawai di sekitar tempat itu dan berparas cantik, manis gitu, cukup lucu sih buat gw, hehehe. Jeda beberapa menit, pizza sudah mau jadi. Munculah percakapan yang kira2 seperti ini:

Chef 1: Eh udah mau jadi nih.

Chef 2: Mana dusnya??

Manajer: Eh iya2!

Chef 1: Ah lo bukannya nyiapin!

Alhasil dia pergi ke rak dus pizza yang agak tinggi dan letaknya ada di depan si mbak cantik (eaaa). Konyolnya, dus pizza ukuran besar ada di rak yang paling tinggi dan dia gak nyampe ke atas. Si mbak spontan ketawa kecil.

Manajer: Aduh, ga nyampe!

Saya: Sini mas saya bantu… *jinjit dan ngambil*

Manajer: *muka meme: Okay* Sip… makasih mas. 1 lagi ya…

Saya: Oke2…

Dengan saya jinjit dan sekali ngambil, si mbak makin ketawa. Gak lama kemudian semua makanan pun jadi. Saya pun membantu si chef 2 menutup kardus yang sudah berisi pizza. Lalu…

Saya: Mas, saosnya 3 aja ya… ga usah banyak2

Manajer: *ngebalikin saos, dan masukin 3 di masing2 dus*

Saya: Maksud saya 3 aja dari semuanya, mas

Mbak cantik: *ketawa kecil*

Manajer: *bingung sendiri* Eh, gw taro tali rafia di mana ya?? *jalan ke belakang, nyari2*

Saya: *muka nahan facepalm*

Daripada kelamaan, saya pikir pizza cukup mudah dibawa dengan kardusnya yang besar. Saya pun mengambil semuanya, dengan muka hampir menahan ketawa saya menoleh ke si mbak dan si mbak mau ketawa lagi pas saat saya jalan agak ngendap2 keluar. Si chef bilang ke manajer.

Chef 2: Eh udah ga usah, udah pergi tuh! Lo bilang makasih kek ama pelanggan ga mau nyusahin!

Sampai di motor, saya ketawa lepas. Aduh… ini tempat! Saya pun bergegas untuk pergi sambil membawa makanan pesanan saya tadi. Buat mas manajer, sori ya… saya kalo keliatan pengen pamer.

Oke, mengenai makanan. Saya takjub mengetahui bahwa harga pizza ukuran sedang dipatok harga Rp 24,9k (+ pajak = Rp 26k) dan ukuran besar Rp 29,9k (+ pajak = Rp 33k). Saya sedang lapar waktu itu dan kebetulan saya akan menginap di tempat teman saya Dwiki, jadi saya beli 2 pizza, 1 pasta (seharga Rp 19,9k atau Rp 22k plus pajak), dan 1 porsi garlic bread (roti bawang putih) seharga Rp 14,9k atau Rp 17k (plus pajak).

Mengenai rasa…

Izzi Classico Pizza

Izzi Classico

Izzi Classico, rasa sausnya oke. Tomatnya segar. Kejunya… gak yakin itu adalah mozzarella. Rasanya agak kuat dan tajam seperti parmesan… atau mungkin emmenthal? Yang saya kecewa cuma rasa sosis Italia itu gak segar. Rasanya gak jauh seperti sosis biasa yang ditaruh di dalam kulkas. Untungnya rasa itu itu cukup tersamar secara signifikan oleh rasa tomat dan keju. Peperoni nya rasanya kurang terasa.

Beef n' Izzi

Beef n’ Izzi

Untuk Beef n’ Izzi… soal rasa komponennya ga jauh beda ama dari di Izzi Classico. Sausnya… saus barbecue nya ntah kenapa kurang terasa pas.

Izzi Garlic Bread

Garlic Bread

Untuk makanan satu ini… rasanya aneh. Ga ada rasa bawangnya sama sekali. Udah nyangka sih setelah ngeliat si chef cuma ngolesin mentega dan terus ditaburin peterseli, bukan bawang putih. Roti yang saya rasa ini kayaknya adalah tipe focaccia kalo dilihat dari tekstur adonan roti dan bentuknya. Sayangnya, dugaan saya menyatakan bahwa roti ini tidak disimpan dengan baik sehingga rasanya agak apak. Ah sayang sih, menteganya udah cukup epic, salah satu mentega favorit saya. Dari aromanya, saya rasa itu mentega merk Elle n’ Vire yang wangi.

Fettuccine Con Funghi

Fettuccine con Funghi

Yang satu ini untungnya gak mengecewakan. Pasta kerasa al dente dan uniknya adalah rasa mentega (yang sama dengan di garlic bread itu) memancarkan rasa yang kuat dan jamurnya sendiri (jamur kancing) ntah bagaimana rasanya bisa keluar dengan kuat. Enak! Untuk roti di atasnya, mungkin kalau dikasih mentega dan tumbukan bawang putih bakal oke.

Yah… begitulah komentar saya. Sayang sih, saya melihat resto yang tadinya bintang 4 setengah jadi 2 setengah. Soal rasa okelah, pelayanannya yang kalo saya rasa mereka harus perbaiki jika mau maju. Tim di restoran yang baik, chef, manajer, dan pelayan seharusnya mengerti betul mengenai makanan di restoran itu, menghormati makanan mereka, dan bisa memberi senyuman yang santun kepada pembelinya. Semoga mereka bisa mengerti hal ini.

Tulisan ini… sekali lagi adalah ulasan saya dari pengalaman membeli di Izzi Pizza cabang Pejaten. Semoga yang lainnya bisa lebih baik dari ini karena sayang aja. Ini dulu termasuk restoran favorit saya dan saya harap namanya bisa bangkit menjadi lebih baik lagi di masa depan. 🙂

-AW-

Foto2 oleh: saya sendiri

Kamera thanks to: Ganesh Aji Wicaksono

8 Agustus 2012 lalu, hari itu merupakan hari yang…  cukup random. Semua berawal dari rage comic yang berasal dari sini

Baklava, Food of Gods

Judul: “Baklava, The Food of The Gods” (Baklava, Makanan Para Dewa)

Saya pertama kali mendengar nama “baklava” itu sebagai makanan yang dibuat salah seorang kontestan acara Junior Masterchef Australia Season 1 babak penyisihan 50 besar. Ga terlalu menonjol di mata saya untuk saat itu karena bentuknya yang kayak kue biasa. Semua berubah menjadi penasaran setelah melihat komik di atas. Ditambah sebuah obrolan antara saya dan teman saya Annisa Kurnia Maulida (Icha) lewat Twitter yang kira2 gini:

gw: Cha, lo kan pernah exchange ke Turki kan? Baklava itu gimana sih?

Icha: Oh itu enak banget! Lo harus nyoba Dit!!

Serius… segitunya??

Saya pun suatu hari di bulan puasa tahun lalu itu pun mencoba mencari tahu resto2 Turki yang kemungkinan menjual baklava. Kemudian ada 2, yang pertama kayaknya bener2 berkelas dan mahal banget, yang kedua mahal banget… tapi kayaknya masih terjangkau. Akhirnya ga lama setelah itupun gw mulai menyusun rencana buat beli itu… dibungkus… buat buka puasa like a boss!

Alhasil saya pun beranjak ke sebuah restoran khas Turki di daerah dekat Senopati, Jakarta Selatan yang bernama Turkuaz. Restoran itu cukup unik, karena saat itu (ntah pas bulan puasa aja atau emang seperti itu terus) restoran itu buka dari jam 11 sampai jam 2 siang, dan kemudian jam 5 sampai 11 malam atau sampai jam 12 malam kalau akhir pekan. Seperti yang saya lakukan dengan sahabat saya Rino, saya kadang punya hoki untuk menerobos sebuah restoran di luar jam bukanya… dan… berhasil! Waktu itu saya datang jam setengah 4 sore. Saya memang sengaja pergi jam segitu karena mengejar langsung makan buka puasa di rumah.

Sebenarnya alasan mereka mengizinkan saya masuk adalah karena saya hanya beli untuk dibawa pulang atau take away. Beruntung, saya menemukan baklava di menu mereka! Kemudian saya berpikir, nampaknya saya perlu beli 1 menu makanan manis khas Turki lainnya; biar sekalian gitu. Alhasil saya membeli baklava dan 1 makanan lagi yang namanya pistachio kadayif. Untuk membelinya, saya merogoh kocek total Rp 110rb (baklava sekitar Rp 55rb dan kadayif Rp 45rb). Setelah mereka usai memanggang keduanya, saya pulang lewat jalur TransJakarta koridor 9 dan transit ke koridor 6 di Kuningan Barat. Sial, antrian di Kuningan Timur (sisi lain halte Kuningan Barat) penuh sekali, ditambah bus dari Dukuh Atas selalu penuh! Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, dengan kata lain 1 jam kurang menuju adzan maghrib. Mengantisipasi situasi, saya pun akhirnya naik ojek  ke rumah (dengan harga Rp 40rb… sadis…).

Sesampainya di rumah, hanya jeda beberapa menit kemudian, adzan pun dikumandangkan. Setelah meneguk air segar, saya pun membuka bungkus makanan yang saya bawa…

Baklava (1)

Di balik bungkus: Baklava

Baklava (2)

Baklava: Diperbesar

Saya pun ngiler… Melihat baklava yang ukurannya mini itu (sial, kirain besar!), terlihat renyah sekali, isi yang nampaknya enak dengan taburan kacang pistachio yang menggoda nurani (lebay). Saya pun mengambil satu tanpa berpikir panjang dan menggigitnya. HMMMMMHHH!! Saya nggak bohong, ini enak banget!! Kerenyahan lapisan pate phyllo yang bersambung dengan manisnya campuran kacang pistachio dan kacang tanah (kayaknya, soalnya kerasa gitu dan baklava itu isinya campuran kacang) itu benar2 membuat ketagihan! Sayang sekali… cuma ada 3. Yaaah… Sekedar info, baklava itu harusnya diberi air gula, tapi ini nampaknya antara sudah dituang sebelumnya, dikuaskan ke atas phyllo nya saat dipanggang, atau dicampur ke isinya. Yang jelas terasa lengket saat dipegang, cuma nggak basah banget.

Akhirnya saya pun membuka bungkusan kedua…

Kadayif (1)

Pistachio Kadayif: Setelah bungkus dibuka.

Hah… ini apa? Ini kayak parutan kelapa yang kering dan dipanggang. Penjelasannya sih ini phyllo pastry yang diremukkan. Penasaran, saya pun membuka bagian dalamnya dengan sendok. Terlihat ada lapisan yang terbuat dari kacang pistachio yang ditumbuk halus.

Kadayif (2)

Pistachio Kadayif: Setelah dibuka dengan sendok.

Penasaran, saya pun langsung mengarahkan sendok yang penuh dengan kadayif itu ke dalam mulut saya. Pertama2 rasanya kering dan tidak terlalu manis. Tapi jika kita biarkan agak lama di mulut, rasa manis (yang entah kenapa rasanya kayak kelapa) dan pistachio pun baru keluar perlahan dan memberikan rasa yang unik untuk saya. Untuk menghabiskannya, saya butuh minum beberapa kali karena rasanya kering sekali.

Tak lama kemudian, kedua makanan buka puasa saya yang wah ini pun habis. Lumayan… lain kali saya perlu nyoba yang lain kalau ada rezeki! Ada rekomendasi, pembaca sekalian? Tulis di komentar!

-AW-

Sumber gambar:

Baklava & Kadayif: Dokumentasi pribadi

Rage comic: http://ragecomics.com/c/8xik/baklava-the-food-of-the-gods

Siang ini, saya mendapatkan kesempatan untuk makan di sebuah restoran yang berada di gedung Setiabudi One di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dan restoran itu bernama The Duck King. Sebelumnya saya mau ucapkan terima kasih banyak kepada bapak saya yang karena beliau, siang ini saya jadi bisa mencoba melihat makanan mewah khas Cina dari dekat walaupun dengan resiko diet saya gagal untuk sementara dan ga bakal jalan2 ke luar dalam 2 minggu ke depan.

Menu makanan pertama yang saya amati adalah salah satu makanan yang berasal dari Beijing, yaitu bebek Peking yang disantap dengan 3 cara. Awalnya saya cukup melihat dengan kondisi yang takjub, karena bebek itu tersaji dalam meja troli ukuran besar seperti di bawah ini…

Today's Duck

Serasa jadi kaisar (lebay mode: ON).

Sedikit mengecek informasi soal makanan yang akan saya makan satu itu, gambar di atas menunjukkan (searah jarum jam dari bebek) bebek Peking utuh, nampan porselen berbentuk bebek (gambar terpotong), piring kotak dengan pisau besar sangat tajam, saus hitam “momo” (asumsi saya mereka menggunakan peach) yang rasanya manis, saus mustard, saus hitam dan mustard dalam piringan besar, dan gula pasir. Setelah mendengan konfirmasi dari bapak saya, chef yang menangani bebek ini langsung “membedah” si bebek itu dengan cekatan.

Skinning The Duck

Bahkan ini lebih rapi dari pas saya membedah di lab (you don’t say!).

Penyajian pertama, chef menguliti si bebek dengan sangat profesional, rapi dan hati2 dengan menggunakan pisau besar tadi sehingga kulit terpisah dan dalam bentuk persegi. Dalam pembuatannya, bebek Peking sebelum dimasak dipompa dengan udara sehingga bagian kulit yang terpisah dengan lemak di tubuhnya yang tebal (karena bebek Peking diberi makan dengan cara khusus dan terjaga hingga memiliki kandungan lemak yang banyak di bawah kulitnya). Dengan demikian, kulit akan terpanggang sempurna dengan tekstur kering tetapi masih lembut saat digigit. Kembali lagi ke proses pengulitan. Setelah chef menguliti dengan sempurna, potongan kulit yang berbentuk persegi itu disajikan dengan gula pasir.

Duck Skin and Sugar

Kulit bebek dan gula pasir, siap disantap.

Penasaran, saya pun mencobanya dua kali: pertama dengan gula, kedua tanpa gula. Saat saya memakannya dengan gula, rasa yang masuk ke mulut saya cukup unik. rasa manis gula, rasa manis-gurih-asin di kulit bercampur; menjadikan rasa manis-gurih khas kulit bebek dengan rasa yang dalam. Saat saya memakannya tanpa gula, rasanya jadi beda… jadi agak hambar; rasanya memang sudah cukup kaya, tapi tidak rasanya tidak sesempurna dengan gula. Jujur ini pertama kalinya saya mencoba makan kulit bebek dengan gula. Kulit bebek yang terkaramelisasi saat dipanggang rasanya kering, tapi lemak di bawah kulit memperdalam rasa kulit tersebut.

Penyajian bebek tahap kedua, chef melanjutkan penyayatan daging bebek secara sagital dan menyusun daging dan sisa kulitnya (tapi kali ini digabungkan dengan daging) di nampan berbentuk bebek.

Fillet Duck

Sudah terlihat epic.

Setelah sebagian daging diambil, mbak asisten chef memulai pembuatan meat wrap, dan si chef membawa sisa bebek ke dapur untuk diolah. Bahan tambahan pun dihadirkan ke meja masak: kulit wrap yang dibuat dari tepung yang sudah terkukus, dan daun bawang.

Rolling in The Duck

It’s a wrap!

Kulit wrap dibentangkan, daging ditambahkan di atasnya, kemudian diberi saus, dan ditambah daun bawang. Kemudian kulit itu dilipat dan digulung.

Duck Roll

Jadilah seperti ini!

Makanan fase kedua dari menu bebek kali ini dimakan dengan 2 pilihan saus: saus momo yang rasanya manis, dan saus mustard kuning yang rasanya agak… menyengat seperti wasabi. Saya mencoba dengan kombinasi 2 saus itu sekaligus dan rasanya, cukup berputar2 dan menari2 di dalam rongga mulut saya. Saya rasa tepung untuk bagian kulit ini dibuat dari tepung terigu karena agak beda dengan rasa adonan kulit lumpia yang terbuat dari tepung beras. Kombinasi daun bawang, bebek, dan dua saus itu membuat saya serasa terbang. Ya… terbang… saus mustard itu cukup menendang saya seperti saat saya makan wasabi. Sensasinya sangat unik!

Fase ketiga dilakukan di dapur oleh chef, bebek tadi dipotong2 dan ditumis di atas wajan hingga agak kering dengan potongan cabe dan bawang putih. Maaf untuk yang ini saya lupa memotretnya. Rasanya sangat enak. Cabe yang berasimilasi dengan bebek yang digoreng dengan pas (tidak terlalu basah, tapi tidak kering) berpadu dengan harmonis di dalam mulut. Pedas, tapi enak… tidak pedas berlebihan. Kombinasinya juga pas, sehingga tidak ada elemen yang terlalu menonjol (bahkan rasa cabenya tidak terlalu mendominasi) kecuali bebeknya (pastinya karena bebek merupakan “tokoh utama” makanan ini).

Penasaran, saya pun memesan 1 makanan lagi… Siew Long Pao dengan 6 rasa. Terdiri atas rasa kepiting (pao putih), rasa Tom Yam (pao oranye), rasa keju (pao hijau), rasa hisit/sirip hiu (mampus saya kalo ketauan sama teman saya anak biologi kelautan!) dan rempah Cina (pao hitam), rasa pasta jamur truffle hitam (pao ungu), dan satu lagi yang berwarna pucat tapi saya lupa rasa apa. Makanan ini berasal dari Shanghai dan nama aslinya xiaolongbao (小籠包) yang artinya keranjang kecil yang dikukus. Dagingnya dari kepiting (yang saya rasakan).

6 Flavored Pao

Epic Pao Time!

Karena saya meremehkan (kurang ajar banget yak) dan menganggap yang lain itu biasa, saya hanya mengejar yang warna ungu dan hitam.

Truffle Duck Dumpling

Pao ungu, habis digigit.

Pao ungu. Saya mencoba memakannya dengan sepenuh hati. Bagaimana tidak? Pao ini berisi daging kepiting dengan tambahan jamur yang 2 tahun lalu hingga tahun lalu hampir menjadi spesimen saya di lab: jamur truffle hitam! Yah, walau saya juga tau bahwa truffle hitam Cina harganya murah, tapi ini buat saya adalah sesuatu sekali! Saat saya makan, rasanya lembut dan rasa jamurnya yang agak kayak bawang itu berkolaborasi dengan dagingnya secara sempurna. Mantab sekali!

Hisit and Chinese Herb Dumpling

Pao hitam, setelah digigit.

Pao hitam setelah digigit ternyata isinya lebih berair. Ternyata konsepnya unik sekali, sesuai deskripsinya yang berisi sup herba Cina ini benar2 menjadi sup di dalam pao ini ketika dikukus. Rasa herba yang tajam dan hisit/sirip ikan hiu yang punya cita rasa laut tersendiri unik bercampur dengan sangat mantab.

Belum puas, saya memesan salah satu makanan lagi. Ketan kukus dalam daun teratai dengan bebek yang dipotong dadu, dicampur kuning telur dan potongan kerang scallop dari Pasifik.

Duck in Lotus (1)

Terlihat elegan.

Kemudian saya membuka daun pembungkusnya. Saat dibuka, aroma daun teratai yang khas (soalnya sejak kecil saya suka main2 dengan daun tanaman air ini karena penasaran) keluar menyapa hidung saya.

Duck in Lotus (2)

Inilah isinya.

Rasanya agak seperti nasi tim dengan rasa yang beda karena kompilasi daging bebek, telur, dan kerang di dalamnya. Cukup nano2 kalau kata saya.

Terakhir, saya mencicipi makanan yang biasanya ada di resto2 Cina pada umumnya: Sapi lada hitam! Ya, saya percaya makan di restoran satu ini saya bisa merasakan sensasi yang berbeda dengan makan di resto konvensional.

Black Pepper Beef

Bentuknya sih biasa saja.

Secara penampilan sih saya bilang gak jauh beda dengan yang saya makan di resto2 lain. Yang kemudian membuat saya melotot saat saya makan itu adalah dagingnya! Saya memakan dagingnya (daging sapi) itu seolah seperti memakan daging steak yang dipanggang sempurna dengan sensasi hangus khas daging panggang; garing di luar, lembut sekali di dalam dan tidak ada lemak yang menahan. Kemudian saya memakan sayuran2nya. Ya, buat kalian yang nggak suka paprika… itu urusan kalian. Semua sayuran itu masih renyah! Bawang bombaynya tidak layu, paprika hijaunya masih terasa segar dan renyah, serta paprika merahnya masih manis! Oke, saya memejamkan mata dan saya berpikir. Pembuatannya pasti daging ditumis terlebih dahulu hingga kecoklatan, kemudian bumbu lada hitam dimasukkan, dan terakhir potongan sayurnya. Inilah yang membuat bumbu meresap sempurna ke dalam daging, daging termasak dengan sempurna, dan sayuran masih terasa rasa aslinya! Terkadang mereka yang lupa teknik ini mencampurkan semuanya begitu saja sehingga sayurannya kadang sudah layu atau dagingnya masih terlalu basah. Karena daging jika masih terlalu basah akan berasa kaldunya, sementara di sajian ini bumbunya lebih terasa dan rasa daging terkunci di dalam dagingnya yang sudah termasak dengan perfect timing di bagian luarnya.

Untuk makan di sini, pastinya saya gak berani sendirian karena faktor harga. 1 set bebek di atas itu dijual seharga Rp 385 ribu rupiah. Sementara harga makanan yang lain yang saya pesan cukup standar menengah keatas. Sejujurnya saya penasaran dengan kerang scallop yang mereka jual, terlebih lagi kerang abalonnya. Tapi kerang abalonnya dijual sekitar Rp 450 ribu.

Ya begitulah review makan siang saya. Sejujurnya saya masih miskin pengalaman dalam makan makanan oriental (karena biasanya makanan ini dijual di resto yang ada pas saya kelaparan dengan harga biasa dan saya ga peduli ama rasanya, hahaha) tapi saya hari ini mendapatkan pengalaman kuliner yang sangat menarik dan bisa jadi bahan referensi saya kedepan nantinya.

Kalau ada masukan, silahkan ditulis di kolom komentar!

Cheers!

-AW-

Dhokla

Kali ini saya akan menulis tentang sebuah makanan lagi. Pertama, saya mau nanya nih kepada pembaca, pada nonton 3 Idiots kan? Film Bollywood terkenal yang satu itu emang sangat inspiratif. Ga cuma buat urusan kemahasiswaan, kreativitas, sains, persahabatan, ternyata film ini menjadi referensi makanan juga buat saya! Hah, kok bisa?? Inget scene ini?

Pia, Rancho, and Dhokla

Rancho (Wangdu): “Tunggu, makan dhokla dulu deh.”

Pia: “Kalian orang2 Gujarat lucu ya, tapi kok kenapa nama makanan kalian kedengarannya bahaya?”

Ini yang lebih keliatan lagi…

Dhokla n' Chutney

Makanan sederhana, pembasmi orang2 kikir (cuma yang nonton film 3 Idiots yang ngerti maksudnya).

Intinya, saya mau membahas makanan India yang bernama dhokla. Makanan khas India bagian barat ini katanya enak buat sarapan atau buat sesi ngemil. Makanan ini dibuat dari tepung kacang Arab yang difermentasikan. Untuk penyajian, dhokla biasanya lengkap dengan potongan daun ketumbar, biji ketumbar, cabe hijau (serasa makan tahu Sumedang), atau kadang dengan saus chutney yang terbuat dari yoghurt dan daun mint yang diblender.

Cerita soal gimana saya kok bisa makan makanan itu berasal dari perjalanan saya di Singapura. Pagi itu, saya bosan sekali dan memutuskan buat jalan2. Sebenarnya saya sedang menunggu waktu sore, karena saya diberi arahan dosen saya, Bu Totik untuk menghadap Prof. Tet Fatt Chia dari NIE NTU. Karena arahan tugas ini, saya akhirnya ke Singapura selama 3 hari dan tinggal di daerah sekitar jalan Thompson di sebuah apartmen. Bosan, pagi itu saya berkelana ke Ngee Ann City di Orchard Road untuk sekedar membeli buku bacaan dan referensi proyek penelitian saya, terus menuju misi saya secara personal di Singapura. Apa itu? Jalan2 dan cari makan? Bukan! Saya waktu itu mau beli DVD game Portal 2 di Sim Lim Square dekat kawasan Bugis dan Little India.

Karena waktu itu saya belum terlalu akrab dengan kawasan itu, saya pun turun dari bis di dekat pasar (harusnya saya cukup sampe MacKenzie Road terus jalan dikit, ini bablas sampe lewat perempatan utama). Tapi apa salahnya jalan2 dulu, toh waktu masih menunjukkan jam 10:40 pagi (waktu UTC + 8, Singapura, 1 jam lebih dulu dari Jakarta… janji dengan professor jam 3 sore). Akhirnya saya pun melangkah melintasi pasar yang aromanya cukup semerbak. Wangi dupa, bunga, dan bumbu2 India bercampur di udara. Menyadari bahwa saya jalan menjauhi lokasi tujuan, saya pun menyeberang untuk berjalan di trotoar seberangnya. Melihat2 ke sekitar, dan saya melihat sebuah kedai kecil India yang nampaknya menjual cemilan2. Saya melihat ada makanan mirip perkedel tapi agak mirip juga sama rempeyek (saya lupa apa namanya) dan di sebelahnya… ada dhokla! Penasaran, saya pun membelinya 2 potong. Harganya sekitar SGD 2 kalo gak salah per potong. Lucunya, saya beli ini serasa beli gorengan karena bungkusnya yang ala kadarnya.

1 jam kemudian, saya akhirnya berhasil membeli game yang saya mau dan kembali ke apartmen. Pas sekali, waktu makan siang!

Sambil memutar lagu “Aal Izz Well” yang merupakan lagu dari 3 Idiots, saya pun mencicipi makanan ini. Begitu saya keluarkan dari kemasan, makanan ini… teksturnya terasa seperti kue spons dan berminyak (bahkan minyaknya kemana2 di plastik pembungkusnya) dan baunya seperti… serius… baunya seperti tahu Sumedang yang abis digoreng! Beneran, lama2 saya menyebut ini tahu Sumedang khas India deh. Udah mirip, pake cabe ijo lagi makannya! Sekarang, saatnya mencoba rasanya.

Nyemm… hmm? Tekstur dalamnya juga seperti kue spons. Rasanya yang unik. Karena emang dibuat dari kacang juga (bukan kedelai tapi kacang Arab atau chickpea), rasanya emang seperti tahu Sumedang, lebih tepatnya bagian kulitnya yang gurih, tapi lebih manis dan dengan sedikit sentuhan rasa ketumbar. Awalnya memang agak aneh, tapi sejujurnya bikin nagih. Hmmm, sayang aja sih ga ada saus chutney seperti yang ada di dalam film.

Ternyata nyasar di tempat ini bisa nambah referensi makanan juga. Lumayan lah, lain kali saya mau coba main2 ke area lebih dalam lagi.

Gak nyangka, 3 Idiots emang nunjukkin ke saya kalo dhokla itu emang perlu dicoba dan emang rasanya unik juga!

_MG_8957

Tobiko (飛び子) adalah telur ikan terbang. Gunkan sushi (軍艦寿司) adalah variasi lain sushi dengan gunkan (軍艦) sendiri artinya kapal perang. Seperti yang kita bisa lihat bentuknya, nasi digulung nori membentuk wadah dengan tobiko di atasnya. Tobiko di sini sudah diberi wasabi sehingga warnanya berubah dari merah oranye ke hijau. Kurang disarankan untuk makan dengan soyu atau condiment lain.

Daisies and Weapons Journal

opinions, thoughts, experiences in a simple journal.

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

Gesti Saraswati

A Personal Blog of Gesti Saraswati

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life