Lewati navigasi

Tag Archives: kuljar

Pagi ini… tepat di umur 24 tahun 11 bulan ini (yak sebulan lagi!). Saya tiba2 pengen berbagi buat yang bertanya ke saya,

“Dit, apa mimpi yang sekaligus cita2 terbesar lo sebagai ilmuwan atau yah… calon profesor nantinya?”

Ada 12… mungkin ini aneh karena angkanya kebetulan sama dengan “Twelve Labours of Hercules“, yak… ini kurang lebih…

1. Ingin menanam di luar angkasa dan tanah selain bumi.

1

Bersamaan dengan didengungkannya rencana SPX 2020 oleh NASA yang pada 2 bulan lalu masih merupakan proposal penelitian, saya sejujurnya ingin mencari kesempatan untuk bisa bergabung dengan mereka di rencana MPX (Mars Plant Experimentation) dan LPX (Lunar Plant Experimentation). Untuk itu saya saat ini masih membuat paper bersama seorang dosen saya yang memiliki keahlian di bidang astronomi, sebelum saya mencoba lebih lanjut mengontak NASA (harapannya kejelasan keberterimaan proposal penelitian mereka ke markas pusat NASA udah dalam kondisi diterima. Emang subjek mereka apa? Tanaman Arabidopsis thaliana dengan tolak ukur perubahan CO2. Tapi sejujurnya, saya seminimal2nya pengen menaruh tanaman saya (ntah biji atau kultur jaringan) di ISS (International Space Station). Atas majunya perkembangan usaha saya ini, saya sejujurnya mau bilang makasih sedalam2nya pada Nita yang ngedukung saya terus.

2. Ingin melakukan modifikasi pada protokol standar kultur jaringan tanaman sehingga kita bisa melakukannya dengan efisien dan bisa di mana saja.

2

Ide ini sudah saya pikirkan sejak tahun 2013 lalu dan baru menghangat lagi setelah saya bertemu Pak Kris. Begini, kalian ada yang nonton Doraemon? Kalian pernah lihat yang bagaimana Doraemon mengeluarkan alat berbentuk tabung terbuka, dia ambil 1 sampel tanaman (daun atau apapun) begitu aja, dimasukin ke tabung, boom! Tanaman identik pun tumbuh. Kontras dengan teknologi saat ini yang kita masih ambil sampel tanaman, bawa ke lab, nyalakan laminar, siapkan bahan, inisiasi secara steril, subkultur 3x, aklimatisasi, baru jadi. Lama oy! Ya, saya tau semuanya butuh proses. Tapi kenapa sejauh ini belum ada yang menemukan cara agar metode ini bisa diperingkas? Ketika saya bertemu dosen2 tertentu, mereka sibuk ke pengembangan sampelnya, bukan ke metodenya. Pola pikir konvergen, bukan divergen. Mimpi saya, nanti anak cucu kita ga perlu repot2 ke lab, cukup petik, tanam, tumbuh.

3. Ingin melakukan mikropropagasi pada tanaman RafflesiaRhizanthes, dan Sapria yang konon masih belum bisa dilakukan.

3

Kultivasi tanaman satu ini merupakan tantangan. Saya belum pernah usaha kultivasi tanaman holoparasit lain selain Cuscuta atau tali putri (Švubová & Blehová, 2013). Dengan telah dijelaskan sebelumnya bahwa telah dilakukan usaha kultur jaringan baik oleh Dra. Sofi Mursidawati (LIPI) dan Dr. Lazarus Agus Sukamto (LIPI) (Sukamto, 2001), hingga saya sendiri (Wicaksono, 2013) tapi seluruhnya berakhir dengan kematian sampel pasca pencoklatan. Saya yakin, kayaknya masih ada cara yang belum dilakukan.

4. Ingin merekayasa tanaman yang bisa tumbuh lebih cepat daripada aslinya.

4

Semua berawal dari ide adek kelas saya, Athena Syarifa atau yang dipanggil Rifa. Dia, di satu sesi kumpul pada tahun 2012 di ekstrakurikuler SMU saya, Al-Izhar Science Community (ASC), saya bertanya kepada yang lain dan jawaban dia lah yang paling konkrit dan membuat saya dapet ide. Akhirnya, dengan izin Rifa, saya pun berniat ngebawa ini ke penelitian saya nantinya (salah satu proposal S3 saya) dan ini adalah paper yang tanggal 10 Juli 2014 besok akan saya persembahkan kepada Dr. Ir. Widodo Hadisaputro sebagai makalah penelitian yang menjadi nilai ujian akhir saya. Jadi, thanks ya Fa… wish me luck!

Tapi tunggu, emang bisa? Saya nemu 2 paper menarik yaitu pada metode transgenik over-ekspresi dengan set gen AtAHA2 (fokus ke protein sintesis molekul energi, ATP), AtPHOT2 (protein Phototropin 2 yang merespon cahaya), AtKAT1 (protein saluran ion K+), AtAKT1 (protein transporter K+) (Wang, et al. 2014), dan pengurangan ekspresi enzim Ribulosa Bifosfat Karboksilase/Oksigenase (RuBisCO) untuk efisiensi pengikatan substrat CO2 yang berlimpah (biar ga rebutan) dengan metode antisens yang membuat terjadinya pembungkaman gen (Hudson, et al. 1992).

5. Ingin mempelajari apakah tanaman bisa benar2 memiliki pola bahasa non-verbal dan peradabannya sendiri.

5

Inspirasi ide ini didapat dari sang guru saya yang gila, Rizki Musthafa Arisun. Tapi kalian kepikiran ga? Bahwa di balik diamnya tanaman, bukan berarti mereka bisu kan? Mereka memiliki pola sistem yang beranalogi sistem saraf dengan auksin sebagai neurotransmitternya, jaringan vaskuler sebagai neuronnya, bagian anterior hewan teranalogi di bagian basal tanaman dan posterior di bagian apikal, kerennya lagi juga menurut Baluska, et al. (2006), otak tanaman adalah di akar. Akar memiliki intelenjensia yang menentukan ke mana tanaman harus “bergerak” mencari nutrisi. Tambahan, tanaman itu bisa “menjerit minta tolong” saat ada herbivora (Dicke & Baldwin, 2010) dan bahkan ternyata bisa memancing karnivora predator untuk menyerang herbivora, serta “bilang” ke tanaman lain yang masih aman buat siap2 produksi metabolit sekunder (Dicke, et al. 2003).

Tanaman dengan bahasa kimiawi alias non verbal ini, ternyata memiliki bahasa kompleks dalam komunitasnya. Mungkin, seperti di film Kamen Rider Gaim, di mana hutan Helheim bisa berusaha memanipulasi organisme yang lebih tinggi untuk proses penyebaran dan berperang buat mereka, hal itu bukan hal yang baru jika tanaman sudah beradaptasi sekian lama.

6. Ingin mengimplementasi nukleotida sintetik ke tanaman untuk produksi protein baru.

6

Tahun ini, kita digemparkan dengan penggunaan 2 nukleotida selain Adenin, Guanin, Timin, dan Sitosin, yaitu d5SICS (X) yang berpasangan dengan dNaM (Y) dan berhasil diterapkan pada Escherichia coli (Malyshev, et al. 2014). Mimpi saya, karena kita tahu bahwa tanaman adalah organisme pabrik raksasa, kita seharusnya bisa mengimplementasi sintesis protein non esensial yang kita perlukan dengan menaruh kode2 tambahan itu di tanaman atau mempelajari apa yang bisa dilakukan dengan penambahan kode basa nukleat tersebut.

7. Ingin mengeprint 3D tanaman yang berfungsi penuh.

7

Ide ini muncul udah lama dan diperhangat dengan diskusi di jaringan sosial, Quora, dengan Vikas Kukreja, mahasiswa bioteknologi dari Velore Institute of Technology, India. Terbayangkah kalian mencetak 3D tanaman kalian sendiri, dari sebuah gambar yang kalian inginkan, cetak, aktivasi, dan tanaman yang dicetak/print benar2 tumbuh? Keren ya kalo berhasil. Masalah yang perlu saya kejar adalah bagaimana perubahan wujud sel ketika diferensiasi tanaman yang perlu dipelajari (karena pada hewan udah jelas, proses dari totipotensi, ke pluripotensi, ke multipotensi, ke yang sangat spesifik… unipotensi, pada tanaman? semua sel adalah totipotensi kecuali sel2 mati pada xylem dan sklerenkim dan bisa berdediferensiasi kapan saja ketika diinduksi hormon tanaman sebagaimana riset oleh para pendahulu kultur jaringan, Murashige dan Skoog (1962). Yang lainnya, apakah efek penyusunan secara vertikal-multilapisan pada sel tanaman, apakah memiliki dampak? Ini perlu diteliti.

8. Ingin menanam jamur konsumsi yang mikoriza untuk tujuan produksi massal yang terkontrol.

8

Kalian tahu jamur matsutake (Tricoloma matsutake), jamur kantarel yang wangi aprikot (Cantharellus cibarius) dan truffle (Tuber spp)? Kenapa jamur2 mikoriza ini sampai sekarang ga bisa diproduksi massal ga seperti jamur tiram, merang, kuping, dll yang bisa booming kapan aja? Coba dipikir…

9. Ingin mempelajari kelebihan2 yang ada pada varietas tanaman atau jamur di dunia yang memiliki predikat sebagai bahan makanan termahal di dunia sehingga bisa diterapkan ke organisme konsumsi lain.

9

Kalian tahu kentang varietas La Bonnotte dari Perancis yang tumbuh pada lahan bersalinitas tinggi yang bahkan dipupuk dengan rumput laut yang konon rasanya sangat gurih dan per kilogramnya lebih dari 20 Euro? Kalian tau Melon Yubari, Semangka Densuke, Mangga Ooma? Varietas2 ini memiliki kehebatan, ntah mulai dari kemampuan tumbuh natural yang unik, dan pola perlakuan tanam yang beda, sehingga bisa dihargai lebih dari Rp 500rb per buah. Kalau ini bisa dipelajari dan diterapkan, kita bisa melakukan perbaikan tanam pada tanaman pangan lainnya, atau mencoba menanam varietas2 mahal itu sendiri!

10. Ingin menciptakan organisme baru dengan biologi sintetik.

10

Mimpi tergila saya yang rada play God. Menguasai kode genetika, biologi sintetika, xenobiologi, nilai2 estetika seni, kita bisa menciptakan makhluk hidup jenis baru dari nol!

11. Ingin mempelajari teknologi omika berbasis biologi sintetik dan xenobiologi.

11

Dengan terekstensinya basa nukleotida jadi 6 dan 160 potensi protein menjadi terbuka, ilmu genomika, transkriptomika, proteomika, hingga metabolomika pasti akan berubah. Saya penasaran bagaimana kode2 itu satu persatu terbuka menjadi asam2 amino baru yang ditranslasikan.

12. Ingin membalikkan proses translasi dari protein ke RNA.

12

Membaca jurnal oleh Nashimoto (2001), saya jadi penasaran: Bagaimana akhir penyempurnaan Dogma Sentral yang hanya tinggal pembalikan protein ke kode genetis saja? Saya berharap bisa berkontribusi dalam upaya satu ini. Karena bayangkan! Kalian berhasil membuat protein baru dengan metode pemotongan gen, penambahan gen, bagaimana kalau setelah jadi protein kita balikkan saja ke kode nukleotida, dan kita simpan. Kita bisa memproduksi tanpa harus melakukan pemotongan dan penambahan lagi! Efisien!

Terlepas dari 12 ini, ada beberapa yang minor… ada keinginan saya untuk membandingkan penggunaan iradiasi gamma dengan penggunaan sinar dari akselerator partikel untuk melihat perbedaan mutasi pada tanaman dan dampaknya, dan juga ada keinginan saya untuk menggunakan tanaman untuk mengekstrak logam mulia dari tanah. Penelitian2 ini sifatnya minor dan kalau kalian baca dan larinya ga lebih dari keisengan saya yang diakibatkan dari ketertarikan saya ke teori2 fisika partikel dan fitoekstraksi.

Ide2 yang gila ya? Ideal ya? Ya! Cuma saya percaya bisa ngelakuin ini semua, baik oleh saya sendiri, satu tim kolega saya, anak2 didik2 saya, sampai mungkin keturunan2 saya. Orang2 yang dengar mimpi ini cuma mangap, senyum, atau ketawa. Saya jadi inget kata teman saya, Putra, pas kumpul Couchsurfing Yogya kemarin:

“Kejar mimpi lo walau itu gila! Tau kapan mimpi lo dianggap gila? Itu adalah pas orang2 di sekitar lo ngetawain mimpi lo pas lo cerita. Tapi jangan peduliin! Keep going!”

Mimpi dan cita2 kita adalah punya kita, batas antara kita bisa atau tidak bukan ada di bisa atau tidaknya, tapi mau atau tidaknya kita bergerak dan mengusahakannya setiap hari hingga itu tercapai!

-AW-

—-

Referensi

Dicke, M. A.A. Agrawal, J. Bruin (2003). Plants talk, but are they deaf? Trends in Plant Science 8(9): 403-405.

Dicke, M., I.T. Baldwin (2010). The evolutionary context for herbivore-induced plant volatiles: beyond the ‘cry for help’. Trends in Plant Science 15(3): 167-175.

Hudson, G.S., J.R. Evans, S. von Caemmerer, Y.B.C. Arvidsson, T.J. Andrews (1992). Reduction of Ribulose-1,5-Biphosphate Carboxylase/Oxygenase Content by Antisense RNA Reduces Photosynthesis in Tobacco Plants. Plant Physiology 98: 294-302.

Malyshev, D.A., K. Dhami, T. Lavergne, T. Chen, N. Dai, J.M. Foster, I.R. Corrêa Jr, F.E. Romesberg (2014). A semi-synthetic organism with an expanded genetic alphabet. Nature 509(7500): 385-388.

Murashige, T., F.K. Skoog (1962). A revised medium for rapid growth and bio assays with tobacco tissue cultures. Physiologia Plantarum 15(3): 473-397.

Nashimoto, M. (2001). The RNA/Protein Symmetry Hypothesis: Experimental Support for Reverse Translation of Primitive Proteins. Journal of Theoretical Biology 209(2): 181-187.

Sukamto, L.A. (2001). Upaya Menumbuhkan Rafflesia arnoldii Secara In-Vitro. Prosiding Seminar Nasional Puspa Langka Indonesia p: 31-34.

Švubová, R., A. Blehová (2013). Stable transformation and actin visualization in callus cultures of dodder (Cuscuta europaea). Biologia g8(4): 633-640.

Wang, Y., K. Noguchi, N. Ono, S. Inoue, I. Terashima, T. Kinoshita (2014). Overexpression of plasma membrane H+-ATPase in guard cell promotes light-induced stomatal opening and enhances plant growth. Proceeding of The National Academy of Sciences 111(1): 533-538.

Wicaksono, A. (2013). Observation of Tissue Culture of Young Holoparasitic Rafflesia patma Knob In Activated Carbon Added Murashige-Skoog Medium. Scribd Document.

Iklan

Buat para peneliti biologi atau pertanian yang berkonsentrasi ke budidaya jaringan, kadang kita suka terkendala dengan peracikan media kimiawi yang kadang campuran dan bahan stok nya bisa jadi hanya ada di lab atau harus memesan dahulu. Padahal sebenarnya, media ini bisa lho kita buat dari bahan yang sangat sederhana dan ada di sekitar kita!

Tulisan ini saya adaptasikan dari page Facebook milik Pak Novi Syatria dari Bengkulu dengan page usaha miliknya David Tissue Culture.

Sebagai referensi, media umum di lab kita adalah media Murashige-Skoog (MS), B5, Schenk-Hildebrandt (SH), Gamborg, dan lainnya. Media2 tersebut memiliki kandungan unsur hara (nutrisi) makro, mikro, vitamin, dan gula. Sisanya, untuk pemadat di sini menggunakan agar2 komersial.

Media pertama dibuat dengan menggunakan campuran pupuk Hyponex atau Gandasil D (note: Gandasil D merupakan pupuk perangsang daun, saya asumsikan memiliki sitokinin dan vitamin untuk ini di dalamnya).

Media Hyponex/Gandasil D atau Vitabloom D

  1. Siapkan air dalam gelas ukur sebanyak 500 mL.
  2. Untuk media 1 L, timbang Hyponex 2 gram, gula pasir 20 gram, dan agar 7-8 gram.
  3. Masukkan Hyponex/Gandasil D/Vitabloom D, gula, agar ke dalam gelas piala berisi air 500 mL satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 L. Masak campuran media hingga mendidih.
  4. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  5. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf

Sisanya, kita pun sebenarnya bisa memanfaatkan bahan2 dapur di sekitar kita. Siapkan kentang, ubi, tomat, dan air kelapa muda sebagai bahan dasar. Oh ya, karbon aktif atau arang aktif bisa kita peroleh dengan menggerus obat diare, Norit.

Media Berbahan Kentang atau Ubi (Untuk Kultur Jaringan Anggrek)

  1. Siapkan air dalam gelas ukur sebanyak 500 mL dan air kelapa muda sebanyak 150 mL (untuk media 1 L).
  2. Timbang 500 gram kentang, kupas, cuci, potong.
  3. Rebus kentang ke dalam 1.5 L air hingga menyusut 300 ml. Saring air rebusan kentang.
  4. Untuk larutan 1 L, timbang gula pasir 20 gram, agar bubuk 7-8 gram, dan arang aktif 0.5 gram .
  5. Masukkan air rebusan kentang, gula, agar, karbon aktif, air kelapa ke dalam gelas ukur kimia berisi air 500 mL satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 liter. Masak media hingga mendidih.
  6. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  7. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf.

Terakhir, media dengan kandungan unsur kalium atau potassium yang tinggi menggunakan pisang atau tomat. Kedua buah ini juga memiliki vitamin C atau asam askorbat yang berfungsi mengurangi kemungkinan pelepasan polifenol yang menyebabkan pencoklatan (browning) pada media.

Media Berbahan Tomat/Pisang Raja/Pisang Ambon

  1. Siapkan air dalam gelas piala sebanyak 500 ml dan air kelapa muda sebanyak 150 mL (untuk media 1 L)
  2. Timbang 300 gram tomat, potong dan keruk bijinya hingga menyisakan daging buahnya. Haluskan dengan blender, ambil sarinya dengan menyaring jusnya.
  3. Untuk media 1 L, timbang gula pasir 20 gram, agar 7-8 gram, dan karbon aktif 0.5 g.
  4. Masukkan air rebusan kentang, gula, agar, karbon aktif, air kelapa ke dalam gelas piala berisi air 500 ml satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 liter. Masak media hingga mendidih.
  5. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  6. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf.

Jadi… tertarik mau nyoba? Kultur jaringan ga seribet itu lho walau perlu ketelitian ekstra dalam pembuatannya!

-AW-

Kemarin saya berkunjung ke sebuah kedai kopi, Klinik Kopi, Yogya. Atmosfer mereka yang adem, di dalamnya saya pun bertemu dengan para pengunjung setia yang kerap berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada saya. Salah satu di antara yang saya temui adalah Bapak Kristio Budiasmoro atau Pak Kris, seorang dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan praktisi kultur jaringan. Sejujurnya saya senang dan sependapat dengan prinsip beliau. Beliau mengatakan bahwa kultur jaringan harus dibuat semudah mungkin dan sepraktis mungkin. Ternyata di luar kultur jaringan pun, beliau punya pengalaman2 yang unik!

 

Kultur Jaringan Tanpa Sterilisasi #4 – Modifikasi Protokol Untuk Inisiasi Di Luar Laminar dan Di Human

Oke, ini saya gabungkan artikel nomer 4 seri ini ke artikel ini sebagai lanjutan seri ke-3 sebelumnya…

Beberapa bulan lalu, beliau melakukan kultur jaringan di tengah hutan, dan metode yang sama akan dilakukan di akhir Juli atau Agustus nanti untuk mempropagasi Dipterocarpus di Nusa Kambangan.

Saya sempat bertanya kepada beliau, “Pak, memang tanaman itu cepat layu atau bagaimana sehingga bapak tidak bisa membawanya ke lab untuk inisiasi?”

Jawaban beliau, “Bukan masalah layu, kita harus ingat bahwa ketika kita membawa tanaman dari hutan, tanaman itu tidak sendiri. Pada waktu yang sangat cepat sekalipun, mikroba kontaminan bisa tumbuh dan akan semakin menyulitkan untuk disterilkan.”

Lalu, apa strategi beliau? Ini:

Untuk melakukan kuljar di hutan, siapkan plastik besar, sarung tangan, medium kultur, botol inisiasi, akuades, alat2 kultur standar (skalpel, cawan petri, dan pinset), dan satu barang paling esensial chlorox yang masih tersegel pada kemasannya. Pertama, percikkan chlorox dengan merata ke plastik besar, masukkan semua alat2 dan bahan ke dalam plastik tersebut. Lalu, ambil calon eksplan dengan sesegera mungkin dan masukkan ke botol inisiasi berisi klorox yang sudah diatur untuk proses inisiasi. Hal menarik di sini adalah proses ini tidak menggunakan pembakar Bunsen. Lakukan proses standar di dalam kantung plastik hingga pencucian dan pemindahan ke media. Beliau dalam proses ini lebih menyarankan menggunakan media cair karena lebih mengurangi kontak ke udara yang bisa saja terkontaminasi. Setelah proses beres, segel botol kultur. Hebatnya, beliau melaporkan bahwa hasilnya tidak terkontaminasi!

Selain ini, Pak Kris ini pernah melakukan inisiasi di lab, tapi di luar laminar air flow. Beliau cuma mengatakan bahwa kuncinya, “Bekerjalah di meja yang sudah disemprot chlorox, dan jangan bergerak lebih dari sejengkal dari api (di pembakar Bunsen)”

Setidaknya, ini adalah upaya protokoler atau metodologikal yang lebih efisien waktu dan lebih praktis walau masih menggunakan protokol aseptik, tapi kecepatan dan efisiensi metode ini perlu dikembangkan lagi.

 

Penggunaan Pisang Sebagai Media Kultur Jaringan

Sebetulnya ada banyak upaya untuk melakukan kultur jaringan tanpa menggunakan media kimiawi racikan di lab pada umumnya seperti Murashige-Skoog (MS), Schenk-Hildebrandt (SH), Gamborg, dll. Yang pernah saya dengar adalah menggunakan air kelapa, ubi, dan juga yang Pak Kris pernah coba adalah menggunakan pisang.

Dari cerita beliau, pisang diproses sebagai potongan (tidak dihaluskan). Saya sempat bertanya, “Memang ada apa dengan pisang? Ada auksin dan sitokinin, kandungan vitamin, atau apa?”

Jawaban beliau, “Pisang di sini punya kandungan potassium (kalium) yang bagus dan diperlukan sama tanaman eksplan. Saya pernah mencoba kuljar pakai media pisang, dan menariknya akar tanaman (eksplan)nya tumbuh mendekati potongan pisang.”

Menarik juga…

 

Penggunaan Kontroversial Human Blood Serum Sebagai Media Kultur Jaringan

Oke, cerita Pak Kris tentang penggunaan Human Blood Serum (HBS) ini cukup mengundang pertanyaan. Sederhana saja, “Kok bisa??”

Sayangnya, saya lupa menanyakan lebih lanjut mengenai alasan beliau memilih zat ini untuk tambahan ke media kultur beliau. Saya jadi belum tahu, apakah beliau memang lagi bereksperimen, atau ada kandungan tertentu yang beliau ingin lihat.

Menariknya (tapi saya belum mengeceknya)…

Pak Kris (KB): Jangan salah, mas… manusia juga menghasilkan auksin lho!

Saya (AW): Auksin?? Kelasnya apa pak? IAA?

KB: Iya, IAA… percaya atau nggak, di urin manusia pun ada auksinnya lho, makanya itu jadi salah satu alasan tanaman yang kena urin cukup bereaksi…

AW: Di urin??

KB: Iya ada sih, cuma hitungannya dalam ppm (part per million). Intinya tubuh manusia itu punya auksin… ntah ya, mungkin ini alasan bahwa manusia pun bisa “berinteraksi” dengan tanaman…

 

Kultivasi In-Vitro Tanaman Holoparasit

Ini yang membuat saya kagum. Beliau ternyata pernah mencoba kultivasi tanaman parasit juga secara in-vitro.

AW: Bapak pernah nyoba juga??

KB: Iya, pernah mas…

AW: Tanamannya holoparasit (parasit murni) pak? Apa ya? Cuscuta (tali putri, parasit tanaman teh yang kuning kayak benang itu)?

KB: Bukan… ada lagi… <beliau menyebutkan, tapi saya lupa apa… kalo gak salah ada “D” nya>

AW: Itu… jaringan apa yang bapak pakai?

KB: Oh, saya pakai bijinya…

Beliau menjelaskan, bahwa pada dasarnya perkecambahan biji tanaman holoparasit itu berbeda dari tanaman biji pada umumnya. Biji tanaman holoparasit itu memerlukan interaksi dengan jaringan tanaman inangnya untuk membentuk haustoria saat berkecambah. Haustoria adalah “akar” tanaman holoparasit yang tumbuh di jaringan inangnya.

Untuk itu, yang diperlukan adalah buah tanaman holoparasit yang segar dan mengandung biji hidup, dan jaringan tanaman inang yang sudah ditumbuhkan sebelumnya. Sayangnya, saya lupa bertanya, pada kondisi seperti apa jaringan inangnya? Berupa pucuk matang, pucuk muda, bisa berupa akar, atau bahkan kalus?

Prosedur inisiasi yang beliau lakukan, uniknya bahkan tidak memerlukan senyawa kimia. Lalu? Bakar permukaan buahnya sebentar, lalu ambil bijinya. Karena biji itu tersegel rapi di dalam buah, maka kemungkinan kontaminasi biji ini rendah sehingga buah cukup dibakar sebentar permukaannya. Kemudian biji tersebut dipindahkan (dengan protokol aseptik standar atau seperti yang dijelaskan di awal artikel ini) ke jaringan tanaman inang yang sudah dikultur sebelumnya.

Beliau mengatakan bahwa tanaman parasit tersebut pun tumbuh dengan baik!

Pendapat tambahan dari saya, namun peluang kesuksesan metode ini semua tergantung dengan sifat dan “kebandelan” tanaman parasitnya itu sendiri.

 

Tanaman Yang Kesepian

Hahaha… judulnya lucu, saya bilang seperti ini karena sesuai dengan perkataan Pak Kris sendiri.

KB: Mas, tahu gak tanaman itu bisa kesepian?

AW: Hah? Bagaimana pak?

KB: Iya, bisa…

Pak Kris berkata bahwa beliau punya tanaman anggrek. Tumbuhnya merana dan enggan berbunga. Tetapi ketika beliau menambahkan tanaman kedua yang baru beliau beli, anggrek itu pun “bahagia” dan mau berbunga dengan baik dan bahkan mekarnya bisa bersama2. Pak Kris menambahkan, “Mas kalau punya pohon apel juga gitu mas. Kalo ga mau berbuah, tanam lagi… atau pindahin ke kebunnya di Malang! Hahaha…”

Yah pak, ga mungkin juga saya gotong tanamannya jauh2 ke Malang…

 

Pohon Kola

Cerita terakhir… ini cukup kontroversial…

Jadi, ada pohon yang namanya pohon kola (Cola nitida). Pohon ini adalah asal dari minuman kola yang kita kenal sekarang.

Masalahnya, buah ini punya kandungan zat stimulan-afrodisiak yang membuat kita ngerasa kalem. Hmmm… agak kayak ganja, tapi dalam batas toleran (mungkin karena ga ada yang pake juga di sini). Buahnya konon rasanya pahit, tapi kalo dikunyah lama2 agak manis dan kayak kola. Tapi, karena kandungan itu lah, akhirnya minuman kola hanya menggunakan essens saat ini… atau juga menggunakan rasa alternatif dari pala (Myristica fragrans).

Walau sifatnya gitu, karena ga selebay ganja dan jamur psylocibin… saya jujur penasaran mau nyoba…

Begitulah! Seru yah! Kapan2 saya mau ngobrol2 lagi!

 

Tambahan, saya bakal nulis artikel turunan dari sini nantinya:

-Yang ini udah pasti, update lanjutan tentang KJTS

-Bahan media kuljar yang bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita

-HBS, tubuh manusia, sintesis auksin, dan komunikasi dengan tanaman

-Kultur tanaman parasit

-Komunikasi non-verbal pada tanaman di komunitasnya

-Pohon kola dan asal minuman kola

 

Nantikan artikel asik selanjutnya dan sesi obrolan lainnya!

-AW-

Bagian 3 dari seri kuljar tanpa sterilisasi… Saya waktu itu ke Singapura, berkenalan dengan seorang petani kota (urban farmer) bernama Derrick Ng. Beliau menjelaskan kepada saya:

“The only way to fight against pests, is by deter the pests, trick them, and starve them” “Satu2nya cara untung mengatasi hama (adalah), mengusir mereka, mengakali mereka, atau membuat mereka kelaparan.”

Merangkum artikel sebelumnya, jadi yang kita perlukan: mengoptimalisasi sterilisasi agar lebih cepat dan mudah dalam kondisi apapun, dan menjaga kultur tetap awet meski kontak dengan udara luar. Solusi yang ditawarkan: Membuat alat berpemanas/sterilisasi konstan untuk botol kultur atau botol inisiasi, membuat media antimikroba, atau menginokulasi bakteri kompetitif yang probiotik agar bakteri patogen tidak tumbuh di atas media. Atas solusi di atas, mari kita sorot poin kedua dulu: Membuat media antimikroba. Mengapa? Untuk melawan sesuatu, kita harus tahu apa yang kita mau lawan. Usul saya?

  1. Buat media Murashige-Skoog (MS) di cawan Petri, 5 cawan, 3 pengulangan. Pengulangan pertama dilakukan untuk eskposisi cawan terbuka berisi media di lab pembuatan media (lab stok), kedua untuk di area laminar airflow, dan ketiga di rak penyimpanan. Eksposisi 15 menit, cawan ditutup, diinkubasi pada 37˚C selama 3 hari, lalu diamati dengan mikroskop untuk identifikasi bakteri dan fungi. Pengujian 15 cawan ini dilakukan di beberapa tempat yang berbeda kalau bisa, mungkin 1 di universitas A, lalu di universitas B, lalu di balai pertanian A, dan seterusnya sehingga kita punya gambaran kondisi mikroba udara di beberapa tempat budidaya dengan kultur jaringan.
  2. Dengan cawan Petri dengan media MS juga sebanyak 5 buah, 3 pengulangan. Ambil 10 eksplan dari 10 jenis tanaman: Tanaman budidaya di ladang, tanaman budidaya di kebun, tanaman budidaya di rumah kaca, tanaman liar di jalanan, tanaman herba dari hutan. Pengujian triplo (tiga kali) dengan sampel berupa daun yang masih muda. Tanpa inisiasi dengan chlorox dan tween pada inisiasi ruangan terkontrol, mikroba jenis apa yang akan terbawa? Ini akan diamati.

Dari 2 perlakuan ini, kita akan dapat segudang data mikroba kontaminan Dari sini, kita bisa mulai bermain2 dengan antibiotik berkonsentrasi rendah untuk dimasukkan ke media MS, media agar kosong (kontrol positif), dan media MS tanpa antibiotik (kontrol negatif). Dengan mendapatkan konsentrasi yang bisa menghambat atau bahkan menahan pertumbuhan mikroba sama sekali, lalu diujikan pada eksplan tanaman 3 perlakuan: tanaman yang sudah disterilkan dan diinokulasi ke media dalam kondisi steril di laminar, tanaman yang sudah disterilkan pada kondisi bebas, dan tanaman yang tidak disterilkan. Dari sini kita bisa menguji protokol minimal buat tahap sterilisasi inisiasi: Apakah tanaman tetap minimal harus disterilisasi meski di kondisi bebas atau bisa dikultur tanpa sterilisasi? Dari pencarian solusi kedua ini, kita akan dapat media antimikroba tapi pro-tanaman yang termodifikasi dari media MS. Ah, mungkin sekarang saatnya kita masuk ke poin pertama dari bahasan solusi awal: mengoptimalisasi sterilisasi agar lebih cepat dan mudah dalam kondisi apapun. Sebenarnya fokus yang saya mau tekankan adalah bayangkan kita di hutan, kita mengambil sampel… katakanlah itu biji rekalsitran (harus ditanam saat itu juga atau bakal mati) atau tanaman yang rentan stress. Apa langkah awal kita? Normalnya, beberapa peneliti mengatakan, bawalah sampel tadi dalam tisu basah atau dalam botol berisi air. Pertanyaan di sini: Bisakah kita membawa media dari solusi kedua tadi untuk penerapan solusi pertama ini? Kalau iya, medianya harus padat atau cair? Rumusan idenya adalah, kalau cair… tanaman tetap mendapat nutrisi, mikroba anaerobik akan tertahan pertumbuhannya… secara hipotetik ya. Hasil pengujian ini, kita akan mendapatkan media yang akan saya sebut sebagai media eksplan darurat lapangan. Solusi poin ketiga, mikroba kompetitif tapi pro-tanaman. Mikroba kadang memiliki quorum sensing atau memberikan zat metabolit untuk menghambat yang lain. Quorum sensing biasanya pada bakteri, walau bakteri juga kadang bisa menghasilkan metabolit lain. Istilahnya, mikroba ini berinteraksi dengan senyawa kimia. Pertanyaannya? Dari isolat2 yang tadi kita ambil, adakah: Pertama, mikroba yang tumbuh di media, tapi tanaman bisa tetap tumbuh? Kedua, mikroba tumbuh di media dan tanaman malah tumbuh dengan lebih sehat? Ini tentunya harus dilakukan satu2 untuk pengujiannya. Dari sini, kita akan mendapatkan sesuatu yang saya sebut mikroba pro-phytal. Gabungkan ketiga solusi tadi, maka kita berhasil menemukan langkah awal penemuan media kultur jaringan di mana saja dan kapan saja. Sisanya, hanyalah penyempurnaan. Ntah, dari pengujian ini, berapa jurnal bisa dibuat dan dipublikasikan? Lumayan kan? Apalagi sampai tahap akhir dan dipatenkan? Mungkin ada yang berpikir, apakah saya bodoh dengan menyebarkan ini padahal saya bisa meneliti ini untuk saya sendiri? Hmmm… tidak juga, saya rasa ini bisa jadi proyek bersama dan apalagi jika ada yang mau membantu saya atau melibatkan saya… yah, tinggal kontak saya dan kita akan bisa diskusikan hal ini… Berminat? Sejujurnya ide ini masih bersifat diskrit… untuk kultur saat itu. Untuk kultur berkepanjangan dan terkait tanamannya sendiri, mungkin akan saya bahas lain kali. -AW-

Gambar

saya: Saya pengen buat metode untuk ngekultur jaringan langsung di alam tanpa sterilisasi…

Via: Emang bisa kak? Kan yang ada konta!

saya: Ya justru itu yang saya pengen coba… belum tau gimana caranya…

Via: Wah kalo bisa oke banget kak! Itu nolongin anak2 yang lagi TA banget!

Kultur jaringan tanaman itu metode mutakhir yang bener2 wah untuk memperbanyak tanaman. Gimana nggak? Bayangin kita bisa ngambil secuil daun, batang atau bagian tanaman lain yang masih hidup, kita proses sedemikian rupa, terus kita masukkan ke dalam media yang dipopulerkan oleh Murashige & Skoog (makanya nama media itu media MS). Cuma, satu masalahnya: Sterilisasi. Yang namanya media MS itu isinya nutrisi. Ga usah tanaman yang kita mau, jamur aja suka. Liat aja gambar di atas! Itu hasil kultur gw yang FAIL. Obrolan singkat gw dengan adek kelas gw di lab, Via, dan hampir sebulan sebelumnya dengan dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Dr. Any Fitriani (sebut aja Bu Any), sang botani yang sering saya ajak diskusi selain dosen saya sendiri itu, menyimpulkan bahwa sampai sekarang belum ada cara untuk secara terbuka (non lab) mengatasi masalah kontaminasi kultur itu. Terus gimana dong?? Ga tau… masih jadi angan2 buat gw, cita2 sih tepatnya, untuk saya bisa menanam tanaman dari secuplik daun, tinggal diletakkan di atas suatu tempat dan dalam jangka waktu tertentu, cuplikan daun tadi berkembang jadi tanaman utuh lagi. Ajaib, kayak di manga Doraemon. Tertarik? Saya sih banget! Taun ini, kalo saya ada waktu, saya mau nyoba nyampur2in bahan ama MS. Semoga aja ada pencerahan dalam 4 bulan ini… Foto oleh: Soraya Mahani (Oya)

Gambar

Kali ini, saya mau cerita tentang proyek personal saya yang saya lakukan di kampus. Saya ulangi lagi, proyek personal. Ya, personal. Pribadi. Tidak ada hubungannya dengan perintah dosen, terlebih lagi urusan kampus. Proyek yang saya lakukan ini saya sebut secara personal sebagai “Proyek Gigaflora” karena memang pada dasarnya melibatkan 2 tanaman yang berukuran raksasa di alam, yaitu tanaman langka khas gurun Namib yang bernama Welwitschia mirabilis (kita singkat saja jadi WM) dan bunga raksasa Amorphophallus titanum (AT).

Bagaimana saya bisa dapat kedua sampel tanaman tadi?? Ya… WM saya dapatkan karena keisengan saya di dunia maya. Sekitar 3-4 tahun lalu saya melakukan window shopping di eBay dan saya mendapati bahwa saya sedang melihat biji WM yang dijual seharga Rp 200 ribu dengan isi sebanyak 8 butir biji. Rasa penasaran saya menuntun saya untuk membeli, et voila! Saya pun membelinya. Empat dari total biji yang ada saya berikan kepada dosen saya Dr. Totik Sri Mariani (saya panggil Bu Totik), satu saya tanam namun nampaknya dimakan tikus, menyisakan tiga yang saya tanam di proyek ini. AT? Saya kemarin berkunjung ke Lembang, ketika saya sedang hunting foto, saya menemukan tanaman ini dan saya pun memetik daunnya.

Di lab, saya kemarin kebetulan membuat cukup medium tumbuh Murashige-Skoog (MS) tanpa zat tumbuh (jadi disebut MS 0) dan alhamdulillah, teman lab saya dan adik kelas saya, Via, ternyata menyimpan banyak media MS berzat tumbuh 2,4-D dan BAP di raknya yang sudah tak terpakai.

Target penelitian saya sih: WM berkecambah (ini dulu deh), dan AT membentuk jaringan anomali yang terkenal dengan sebutan kalus untuk nantinya saya amati pertumbuhannya. Pembentukan kalus memang perlu perlakuan tambahan, maka dari itu ya… saya menggunakan medium tumbuh dari Via. Ah, thanks banget Vi! Sekali minta, dapet 6 variabel sekaligus!

Proses inisiasinya kemarin agak berantakan ukarena kebentur masalah proses sterilisasi. Jadi sejujurnya saya pasrah saja. Pada WM, saya paling pasrah karena tidak saya ulangi sama sekali prosedurnya. Mau nanti jamuran atau berhasil (semoga sih), saya berdoa untuk yang terbaik. Untuk AT, untungnya saya bisa mengulangi prosedurnya. Semoga deh, 2 minggu lagi jadi kalus.

Keterangan gambar: Eksplan (potongan kultur) daun AT di atas medium MS dengan zat tumbuh

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

Gesti Saraswati

A Personal Blog of Gesti Saraswati

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life