Skip navigation

Tag Archives: kuliner

Saya mendadak pengen nulis soal ini karena sejujurnya udah lama banget mau nulis. Awalnya pengen nulis di blog sebelah “The Hungry Biologist”, tapi kayaknya saya mau bahas lebih umum deh. Pertama2, mari kita renungi gambar ini:

12105917_10153657328457154_1558432107850781961_n

“Kekinian” sumber gambar dari Path, kayaknya kalo dari watermark itu karya @Pinkinyo.

Di era milenial ini, saya merasa ironis. Kenapa? Sebenarnya saya sejak SMU udah tau betapa yang namanya tren di negara kita itu kadang jadi viral. Cuma dulu penyebarannya ga segampang sekarang semenjak internet menjadi media sosial yang setiap orang bisa akses kapanpun dan setiap orang punya andil sebagai penyebar berita. Kalian menemukan sesuatu, kalian potret, sebar di dunia maya, ada apresiasi, besoknya booming, dan setelah lama kemudian… ulangi dari awal.

Soal makanan… saya pun sekarang merasa cukup vakum dalam memberikan tulisan di blog. Kenapa? Saya kehabisan sesuatu buat saya tulis! Ketika tahun 2013 saya menjadi kontributor majalah, saya melihat… wah, ternyata jadi penulis dan jurnalis makanan itu seru, kita bisa ngasih komentar dan orang ngebaca. Terus berkembang jadi… wah, jadi kritikus seru ya, menantang buat kita bisa nyari tau atas apa yang kita mau kritik. Sekarang… saya harus nyari celah lagi, karena… everyone’s a critic now! Sekarang, karena faktor tren, segala sesuatu jadi homogen, dan kadang mau saya review pun hasilnya ga jauh beda. Mereka yang niat akan dapat poin bagus, mereka yang cenderung latah hasilnya akan minus atau saya ga akan tulis.

Bayangkan gini dari gambar di atas: Semenjak sebuah usaha martabak manis membuka konsep martabak dengan taburan coklat premium atau taburan2 ga umum lainnya atau… dengan campuran seperti teh hijau atau red velvet, sekarang bisnis martabak manis atau kue cubit dengan konsep serupa itu ada di mana. Jelekkah itu? Ngga kok… dari satu sisi. Walaupun sebut saja kadang saya ga nolak kalo ada yang ngasih saya martabak dengan Toblerone, saya ntah gimana masih menikmati martabak manis tradisional dengan keju, coklat, dan kacang dengan ekstra Wisjman butter yang harum. Karena, mungkin karena saya udah cukup tua ya… karena buat saya, martabak manis ya kayak gitu! Kalo martabak manis ditambah teh ijo atau lain2 jadinya di lidah saya bukan martabak manis! Saya tau kue Red Velvet yang merupakan kue coklat diberi warna merah oleh bit atau pewarna dengan icing krim keju. Tapi ya udah, itu kue yang beda. Jadi sekarang, ketika ada martabak A-Z membuka gerai martabak manis kekinian, saya akan bilang… “Buat martabak manis coklat, kacang, keju nya ya… nanti saya cek rasanya”

“Tapi kok kayaknya lo ga dukung banget sih Dit? Ini kan bentuk kreativitas!”

Awalnya kreatif, akhirnya latah. Gini deh, secara definisi… apa sih martabak manis? Kenapa bentuknya kayak gitu? Sejarahnya gimana? Emang saya tau? Ngga. Cuma memori pertama saya pas saya ditraktir om saya martabak manis tahun 1994 (saya masih 4 taun, pas TK nol kecil), martabak manis ya pake kacang, keju, coklat, dan mentega yang wangi. Gini, berapa dari mereka yang menjual makanan kekinian itu, tau kriteria dasarnya?

Ah mungkin saya ngomong gini, jadi ngerti kenapa seluruh dosen dan guru saya bilang… “Yang penting konsep, sisanya mau gimanapun terserah. Tapi tanpa konsep, semua itu nol”

Saya bingung dengan adanya pergeseran makna martabak manis itu… Yah, itu masih 1 masalah. Selanjutnya saya mau bahas gimana sekarang saya berusaha “berevolusi” dari penulis makanan yang mengulas restoran ke restoran, ke sesuatu yang lebih luas.

Sekarang, ada Zomato, ada Qraved, ada TripAdvisor, di belahan dunia lain ada Yelp, dan lain2. Perlahan2 saya bertanya, dengan media tadi, apa dong peran kami sebagai penulis makanan? Apa peran kami tergantikan karena semua orang berhak memberi kritik dan penilaian?

Setelah lama berpikir, ternyata jawabannya BELUM. Menariknya, dengan adanya media2 tadi, penulis makanan seharusnya sadar… peran mereka sebagai penyedia ilmu kuliner harus ditingkatkan. Ga bisa namanya kita hanya tau “Oh tempat ini enak karena blablabla… terus enak buat ngumpul”

Seorang penulis makanan, harus tahu apa yang mereka makan. Mulai dari konsepnya, sampai bagaimana versi paling enaknya itu kriterianya seperti apa, kita harus tahu melebihi orang awam. Itu mutlak. Bukan restorannya, bukan lokasinya. Kecuali kalian adalah penilai restoran. Kalau kalian hanya sebatas bisa merekomendasikan lokasi, semua orang juga bisa sekarang.

Wahai penulis makanan, jangan biarkan kalian ditanya “Makanan X yang enak di mana ya?” karena kalau begitu, apa bedanya kalian sama aplikasi smartphone? Buat diri kalian jadi orang yang membuat orang bertanya2, makanan X yang enak itu kayak gimana. Di mananya, itu biar mereka yang cari sendiri. Ini berlaku ketika kalian dengan teman kalian yang ga terlalu dekat, kecuali kalian sekarang lagi di mobil dan bingung mau makan apa. Perlahan2 mikir, saya kayaknya bakal lebih berkelana mencari konsep suatu makanan deh ketimbang ngulas restoran lagi. Makanan2 di daerah lain dan di negara lain.

Tren latah yang paling bahaya saat ini adalah: Budaya spons. Saya mau nanya sama kalian, kasih contoh minimal 3 jenis batik! Oh atau gini deh, bisa ga kalian nyanyiin 3 lagu daerah di Indonesia? Sebutkan bunyi Pembukaan Undang-Undang dasar 1945! Hal ironis ini digambarkan dengan sempurna oleh Nurfadli Mursyid di komik Tahilalats. Ya, boleh lah kalian ikut Halloween, terus ngasih coklat di Valentine (tolong jangan bahas ini dari sisi agama karena saya lagi ga bahas itu), atau pesta di Tahun Baru. Cuma tolong dong, kalian harus ingat dan belajar budaya kita sendiri. Ingat bumi kita yang kita pijak, jangan terlena melihat rumput tetangga, apalagi terlalu lama mendongak melihat langit. Kita boleh kebarat2an, ketimur2an, ketimurtengahan, keangkasaan (lo kira jadi orang Mars, Dit??), tapi kalian harus punya kebanggaan buat ke-Indo2an! Ini penting, karena suatu saat kalian akan di luar, kalian akan selalu membawa bendera kita. Ada profesi yang lebih dianggap di luar negeri daripada di sini. Gapapa kalian keluar dan kerja di sana, tapi jangan lupa buat berbagi ketika pulang di sini, atau membantu teman2 kita yang Indonesia yang belum mampu berkesempatan ke luar, dan tetap bersilaturahmi ketika sesama jadi perantau.

Ah… saya ngomong mulai ga jelas dan ngalor-ngidul.

Ya udah lah… bodo amat. Kalo bingung ya monggo baca lagi dari atas… :v

-AW-

Halo pembaca! Berhubung nanti malam kita memasuki tanggal 1 Ramadhan 1435 H, saya ingin mengucapkan mohon maaf atas kesalahan baik dalam kata2 ataupun lisan yang pernah terucap, semoga amal ibadah puasa kita yang merayakan bulan suci ini diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan baik. Aamiin…

Kali ini, cerita saya lebih ke tentang sebuah restoran berbasis pesan antar (delivery) di Bandung, yang saat ini sudah tidak ada. Masih ada kaitannya dengan bulan suci, resto satu ini meninggalkan banyak kesan untuk saya.

Pertama2, buat kalian… mahasiswa-mahasiswi, bagaimana persiapan puasa kalian dalam sisi material (maksudnya bahan pangan)? Apakah selama bulan Ramadhan ini kalian pesan katering rutin yang akan mengantarkan tiap sahur, apakah kalian memang suka jalan2 pas sahur sehingga kalian udah punya spot langganan atau restoran yang dituju, apakah kalian suka masak, atau… kalian jarang sahur? Apapun itu, saya yakin di tiap diri kalian yang kuliah di se-antero tanah air khususnya pasti punya cerita soal itu.

Termasuk saya… kisah makan sahur saya selama 4 tahun di masa kuliah S1 saya beda2 dulu di Bandung. Tahun pertama, saya memesan katering dari Kantin Koboy Cisitu. Saya sejujurnya males makan nasi buat katering, kenapa? Porsinya ga kira2… porsi di mana lauk dikit sementara nasi berlimpah. Saya soalnya kalau makan lebih suka banyak lauk daripada karbo. Jadi biasanya saya menggantinya dengan kentang atau ga pesan nasi sama sekali. Konyolnya, suka missed info ke mereka ini. Gimana? Tau2 dikasih nasi segudang, terus sisanya jamuran di kosan saya dan paling konyol dari soal katering… mereka pernah datang 5 menit sebelum imsak! Alhasil, setelah itu saya mengurungkan niat buat katering lagi di tahun selanjutnya.

Tahun kedua, saya memilih buat membeli bumbu nasi goreng kalengan rasa tuna kesukaan saya. Yah, ini adalah poin plus kosan saya yang ada di kawasan Cisitu Lama IX ini punya fasilitas asik berupa dapur, nasi bebas ambil, dan air minum dispenser (walau merknya ga jelas… dan konon jarang dibersihin). Alhasil saya pun masak tiap sahur… (walau kadang kelewat males jadi cuma makan roti… atau sahurnya bablas).

Tahun ketiga… ini yang akan menjadi highlight cerita saya kali ini.

400457_284589158255561_1240943883_n

Saat itu, di Bandung ada sebuah restoran yang udah saya sebutkan tadi bernama Farfalle Pasta. Restoran ini sangat unik karena tempatnya virtual; dengan kata lain kita hanya bisa memesan via telepon, SMS, dan bahkan kerennya… via teknologi Yahoo! Messenger (YM)! (terakhir di 2011 bahkan bisa pesan via website di mana PHD dan yang lain belum bisa fasilitas ini!). Dahsyatnya lagi, tidak ada minimum order payment, ga ada pajak harga (gw rasa harganya udah masuk pajak)… dan di atas segalanya, porsinya ga main2 DAN RASANYA ENAK BANGET! Resto satu ini mampu mengungguli restoran sekelas Pizza Hut (karena rasa masak-ulang nya kerasa banget… ga terlalu seger) dan bahkan Warung Pasta pada saat itu (yang terlalu berair… konsistensi creamy nya jelek). Andai Kulinerologi si AW sudah ada dari dulu, saya akan kasih cawang penuh (√√√√√). Bukan karena hanya rasanya yang hampir menyaingi makanan bintang lima, kreativitas menu, keunikan rasa, kemudahan dalam pemesanan, hingga feedback yang sangat positif membuat saya ga akan ragu memberi nilai penghormatan sebesar itu!

“Lo ga lebay kan, Dit? Emang makanannya gimana? Liat lah!”

Soal makanan, tempat ini menyediakan pasta sebagai makanan utamanya. Tersedia dalam porsi S (Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00), M (Rp 10.000,00 – Rp 13.000,00), L (~ Rp 15.000,00) (dan terakhir pesan ada XL… sekitar Rp 21.000,00 dan seinget saya ada XXL buat senampan penuh buat hajatan, Rp 50.000,00 an). Menunya tersedia mulai dari pasta otentik (Bolognese, Carbonara, Alfredo), hingga hasil kreativitas mereka sendiri. Walaupun yang kita dapat setelah sampai bentuknya ga sesuai yang di gambar, porsinya… gak main2!

dsc00966

Kurang lebih ini… porsi M, Spicy Tuna Sweet Fusili (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

“Dit… gw tau lo udah lupa mungkin… tapi dengan sisa2 memori yang mungkin masih ada… tolong deskripsiin dong gimana rasanya!”

Meh… bawa2 memori. Curcol sedikit, tahun ketiga kuliah akhir adalah momen pertama kali seumur hidup saya dapat pacar. Namun sayang perjalanannya ga mulus akibat ga direstui oleh ortu pacar (mantan) saya waktu itu. Thanks to Rino yang kebetulan waktu itu ada dan juga thanks to resto ini. Hubungannya? Ah saya lupa… hingga 2010, tempat ini menyediakan fasilitas pre-order untuk sahur! Catatannya, pesan pas malamnya atau maksimal jam 2 atau traffic antar nya bakal membludak.

Kesukaan saya… Fettucine Alfredo w/ Barbecue Mushroom…

421269_323718664342610_302239243_n

Maaak… kangen gw makan yang ini! (Sumber: Page FB)

Fettucine yang dimasak dengan saus krim dan mentega (butter), ditambah dengan potongan jamur kancing yang ditumis dengan saus barbecue dan bawang bombay. Rasanya? Susah dijabarkan dengan kata2. Rasa manis-spicy dari jamur dinetralisir dengan rasa mild dan gurih dari krim di pastanya. Hmmmmmmm~

Kedua, Spicy Tuna Sweet Fusili… yang satu ini emang agak pedes, manis, asam. Tuna dimasak dengan saus tomat, cabe, bawang putih, dan pasta fusilli. Nendang banget!

Ketiga… saya lupa, seinget saya… Fettucine w/ Creamy Rosemary Chicken. Ini dahsyat sih! Fettucine, dimasak dengan ayam yang udah ditumis, dikasih krim yang terinfusi herba rosemary yang wangi dan manis. Gileeeee!

Keempat, yang lucu… ada pasta kalo ga sala Fettucine with Choco Sauce. Ini manis. Pake saus krim coklat pake mentega, jadi rasanya manis2, asin, gurih gitu. Sempurna, dikasih keju mozzarella. Maaaaaak!

Bahkan… kelima… Spaghetti Bolognese nya sendiri… manis, dagingnya kerasa dan herba2 di dalamnya kerasa, ada oregano, rosemary, basil, dll. Rasa tomatnya juga ga main2!

Sekarang udah kebayang? Dengan harga yang asik, sahur saya jadi ga galau berkesan!

Komentar saya cuma satu waktu itu… ini restoran namanya “Farfalle”… kan artinya pasta kupu2… kok ga ada yang pake pasta kupu2?

Screen Shot 2014-06-28 at 9.48.04 AM

Ini lho!

Sampe sekitar 2011 awal (curcol lagi: ketika saya sama mantan kedua saya), saya (kami) suka memesan pasta2 dari Farfalle buat makan bareng. Lalu menjelang saya lulus, tempat ini udah ga bisa buat pesan sahur, dan… mereka buat restoran di kawasan Pasteur, Bandung. Awalnya, gw mikir… wah keren… dari delivery… ke resto!

Tapi sayangnya… itu ga bertahan lama. Awal 2012, mereka lenyap… ntah kenapa. Emang sih, saya udah di Jakarta.

Tahun 2014 ini… pas saya cek. Bahkan restorannya udah ga ada (di Foursquare ada, tapi lokasi ga ada di kenyataannya)…

Ternyata…

Screen Shot 2014-06-28 at 9.55.51 AM

2009-2013 (sumber cek: sini)

Domain Farfalle Pasta udah expired. Kenapa ya mereka tutup? Masa sih setelah buka, mereka jadi bangkrut?

Damn… jujur saya bakal kangen sama ini…

pasta

Dat website… (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

Walaupun beberapa gambarnya masih ada di Page FB mereka sih, cuma man… I miss to eat their pasta!

Serius… kalo ada yang tau ternyata saya salah (baca: ternyata masih ada), tolong kasih tau saya di komen ya! Saya pengen banget bisa makan ini lagi kalo saya ke Bandung. Banyak kenangan dengan saya makan makanan di sana.

Moral cerita:

  1. Di era yang serba sibuk ini, kayaknya bisnis makanan delivery bisa dibilang menjanjikan. Alasan? Ga perlu tempat besar untuk restoran, cuma butuh dapur dan kurir antarnya.
  2. Setiap orang pasti punya makanan yang memiliki kenangan saat makan… ntah karena keluarga, teman, pacar, mantan, istri, siapapun… itu lah kenapa makanan itu spesial buat saya. Terlebih lagi kalau dimasaknya dengan ide original dan dimasak sepenuh hati.

PS: Tahun keempat? Saya puasanya banyak di rumah saya karena tahun keempat di bulan Juli-Agustus skripsi saya udah beres (laptop ilang… terus saya putus ama mantan saya yang kedua *curcol*)

-AW-

Mengikuti rasa penasaran saya (lagi), perjalanan ini pun berlanjut. Cerita kedua saya ini terfokus ke pencarian, mencoba menentukan area distribusi, dan dalam sisi kuliner… mencoba rasanya.

Oke, jadi waktu itu saya dalam pencarian 1 hari itu saya tidak menemukan merk selain Indo Saparella (merk sarsaparilla terbaru). Alasan? Waktu itu di Soto Kadipiro I habis, di Bale Raos jualnya Indo Saparella padahal waktu itu saya penasaran sama merk lain yang lebih kuno, terus Kak Wijna (sang kakak kelas di SMU) bilang ada tapi di daerah Kotagede yang lebih jauh, sampai saya pun melanjutkan baca2 lagi. Saya menemukan petunjuk bahwa sarsaparilla merk Ay Hwa dijual di sebuah agen travel di daerah Pasar Kembang.

Hari Selasa (01 April 2014), hari itu saya mau ke Progo Dept. Store buat beli kipas akibat Yogya yang makin panas. Waktu itu saya pun teringat dengan lokasi untuk jual sarsaparilla Ay Hwa itu,

Jl. Pasar Kembang no. 78.

Akhirnya saya turun shelter TransYogya di dekat Jlagran Lor, bukan di Malioboro seperti biasanya.

Kesan pertama sama pertokoan di Jalan Pasar Kembang… susunan nomornya awalnya terlihat agak membingungkan tapi lama kelamaan terbaca polanya. Setelah nomornya mendekati angka 70an, saya pun mulai mempertajam penglihatan saya. Sampai mata saya mendeteksi adanya tumpukan botol Ay Hwa. Dengan muka (sok) polos dan kayak orang kepanasan (karena hari itu menurut Yahoo! Suhu Yogya lagi 33˚C dengan index UV 13 atau kondisi radiasi ekstrim), saya bilang, “Mas, di sini ada sarsaparilla ya? Berapa harganya?”

Akhirnya dengan merogoh kocek Rp 4 ribu, saya mencicipi “mbahe sarsaparilla” ini. Rasa sarsaparilla nya lebih dapat walau agak sedikit asam yang saya cukup familiar dengan minuman yang sodanya diinduksi secara tradisional. Sodanya memang lebih dikit sih.

Ay Hwa Sarsa

Akhirnya…

Setelah puas, saya jalan lagi. Kepikiran, karena kebetulan mau pulang dan om saya lagi mencari sarsaparilla, kenapa ga saya bawakan dari sini aja?

Jumat (04 April 2014), saya pun ke sana lagi buat membeli 4 botol untuk saya bawa ke Jakarta, kalau ada uang lebih (gawat, saya overspent di awal bulan ini) saya mau bawa 4 Ay Hwa dan 2 Indo Saparella ke Jakarta. Tapi ternyata… sarsaparilla nya habis. Alhasil, saya pun memesan minuman lain yang ada, limun (soda) leci rilisan Ay Hwa juga. Terus ada info yang membuat saya… “Heh??” Alasannya, inilah percakapan saya dengan pemilik sebuah usaha rental tersebut.

AW: Ya udah pak, jadi saya ke sini lagi kapan? Soalnya Selasa depan saya mau pulang.

Pak: Oh, biasanya Senin udah dateng kok. Panjenengan (Jawa Krama Inggil: Anda, bahasa terhalus dari “kamu”) pulang naik kereta, tha?

AW: Iya pak… hmmm… Senin ya…

Pak: Atau Selasa juga boleh.

AW: Tapi mepet sih pak. Senin deh. Oh iya, Rp 5000 ya kalau sama botol?

Pak: Lha ndak mas, 1 botolnya aja Rp 15 rb, isinya Rp 4 rb. Ya Rp 20 rb jadinya.

AW: HAH? Botolnya Rp 15 rb??

Pak: Iya mas, kalo leci ini, baru sama botolnya Rp 5rb.

AW: Kok beda ya pak?

Pak: Ya beda, ini pake botol baru yang harganya Rp 2rb aja. Sarsaparilla itu pake botol lama yang dibersihkan terus dipakai lagi.

Saya pun penasaran, sebotol limun leci Ay Hwa ini rasanya seperti sirup leci yang saya beli dari abang2 pas SD, esens nya kerasa dengan suntikan soda manual yang saya deskripsikan tadi. Botolnya baru, berbeda dengan botol buat sarsaparilla.

Ay Hwa Leci

Leci Ay Hwa… produk lain non sarsaparilla dari Ay Hwa selain sirop Efata.

Iya sih, botol sarsaparilla kawat tutupnya aja udah karatan dan keramik tutupnya kadang pecah. Saya pun nanya2, seberapa lama siklus cuci-isi-minum ini udah terjadi. Jawaban si bapaknya cukup membuat saya kaget. Dia meminta saya melakukan perhitungan matematis, mbah saya (Alm. Roeslan Suroso) lahir tahun 1927, beliau meninggal tahun 2002, dan sekarang tahun 2014. Asumsi si bapak ini tahun 1970an sudah minum dan mbah saya suka dari dulu, artinya diperkirakan mbah saya suka dari umur 15 tahunan, itu artinya tahun 1942, awal Perang Dunia Kedua dan Indonesia vs Jepang. Andai masih ada, mbah sekarang 87 tahun, dan sarsaparilla itu minuman khas bangsawan Yogya dari lama. Jadi dengan perkiraan A dari tahun 1942, artinya siklus itu sudah berjalan 72 tahun, atau perkiraan B dari tahun 1970 jadi 44 tahun. Oke, mendekati setengah abad. Box berisi botol diambil tiap minggu untuk dicuci, dan dikembalikan lagi. 1 tahun 52 minggu. Untuk A, 72 x 52 = 3744 siklus, dan B 2288 siklus. Itu sesuatu.

Ay Hwa Sarsa - Plug

Sangat… jadul… dan… okay…

Mereka menggunakan botol reuse untuk minuman2nya. Oke lah, saya percaya kok untuk hal kebersihannya. Untuk limun yang leci, si bapak bilang ini bisa pakai botol baru dengan tutup botol konvensional. Buat sarsaparilla, menggunakan botol bertutup kawat berkeramik. Saya nanya, botolnya nambah atau kurang? Beliau bilang cenderung ngurang. Logis, jika ada orang kayak saya yang pengen bawa ke luar, jelas berkurang. Lalu botol pecah.

Bukannya saya buruk sangka, khususnya ama orang sekarang. Jelas aja penjualannya kalah. Kenapa? Pertama, menggunakan kawat yang karatan ini, orang udah mikir… ini minuman apa dan aman gak? Kedua, orang sekarang menilai awal suatu produk dari ketertarikan desain kemasan yang beragam, melihat botol sarsaparilla yang tadi mungkin cuma orang yang punya mbah yang kayak saya yang bakal tetap beli, orang kota yang lain?

Sebenarnya gak ada yang salah dengan sistem reuse karena air galon kemasan pun juga menerapkan sistem ini. Kotor? Dalam distribusi, air galon kemasannya bisa lebih kotor2an ketimbang sarsaparilla ini. Ini sebenarnya adalah strategi penghematan sumber daya yang baik. Cuma kayaknya persepsi orang atas botolnya aja sih. Faktor desain seperti yang saya sebutkan tadi, untuk menarik minat konsumen muda era 2010an ini, kemasan harus dibuat semenarik mungkin, atau sebercerita mungkin. Bagian ini yang agak missing dari Ay Hwa sehingga kalah dengan Indo Saparella yang kemasannya unik, seperti botol potion dari game RPG.

Oke, itu pelajaran siang hari itu. Setelah satu jam ngobrol itu, saya pun beranjak. Baru menginjakkan kaki di bus, saya membuka blog lain internet dan menemukan pabrik sarsaparilla merk Manna ada di Jl. Dagen no. 60.

Akhirnya akibat rasa penasaran, sekaligus siang ini saya mikir mau ketemu temen dari Jakarta, Azza di stasiun, saya pun sehabis sholat jum’at kembali naik bus dan turun di shelter Malioboro II. Kebetulan cuma beberapa meter dari Jalan Dagen.

Setelah berjalan dan memperhatikan dengan seksama karena lagi2 pengurutan nomornya agak membuat saya bingung, saya pun ketemu bapak2 tukang becak.

Pak becak (PB): Mas mau nyari penginapan?

AW: Nggak kok pak, saya tinggal di Yogya.

PB: Oh iya, tha? Nyari apa kalo gitu mas?

AW: Ini pak, nomor 60 itu di mana ya?

PB: Itu… gedung itu…

AW: Itu yang tempat sarsaparilla itu?

PB: Limun itu? Oh itu tutup udah lama banget mas, udah 6 tahunan. Kayaknya pindah ke Semarang.

AW: Hah? Selama itu?? Terus itu sekarang jadi apa?

PB: Jadi hotel, itu… Hotel Dafam.

AW: Oh gitu, oke deh pak. Makasih ya pak!

PB: Sama2 mas…

Waduh, saya melupakan detail kalau tempat produksi Manna itu udah jadi hotel, atau saya kelewat penasaran ya. Ah ya sudah lah.

Keesokan harinya, saya lagi2 ke Moro Seneng setelah sarapan. Tujuan? Saya penasaran aja soal Minerva.

Sesampainya…

AW: *nunjukin gambar botol Minerva* Mas, di sini masih ada ini ga?

Mas: Wah, udah ga ada mas…

AW: Adanya yang sarsaparilla yang botol kecil ya?

Mas: Iya…

Okay. Artinya kemungkinan yang tersisa bener2 Ay Hwa dan Indo Saparella. Ini bener2 kayak persaingan mbah vs cucu. Sejujurnya, jangan sampai 2 minuman ini runtuh deh walau beda brand. Kenapa? Soalnya 2-2nya harapan terakhir sarsaparilla di Yogya ini. Indo Saparella udah jago dalam distribusi dan pengemasannya, Ay Hwa… belum… dan untuk mensupport sistemnya, dia membuat sirup dan minuman lain. Rada kayak Manna, cuma semoga ga tutup juga.

Selanjutnya, kayaknya perjalanan fase akhir saya soal sarsaparilla di Yogya bakal lebih ke pabriknya. Saya bakal coba main ke pabrik 2 perusahaan itu.

Yak, nantikan saja cerita saya selanjutnya! (bersambung)

PS: Cerita sebelumnya klik ke sini.

-AW-

Kisah ini… menggambarkan betapa randomnya saya di hari ini, tanggal 31 Maret 2014 ini. Ntah, apa yang ada di pikiran saya sehingga saya sangat mobile hari ini. Mulai dari kisah sebelum ini ketika saya mencari sarsaparilla, berlanjut di sore hari tentang kisah yang akan saya ceritakan ini. Sejujurnya… kisah ini berakar dari blog sama yang saya baca waktu itu. Hanya berasal dari rasa penasaran saya atas minuman yang disebut “Sapaitu”, sarsaparilla dicampur susu. Lokasi? Di Balé Raos, lingkungan keraton. Nyalakan GPS dan Foursquare, saya pun beranjak dari kampus jam 16:20 WIB sore. Naik TransYogya koridor 3A, turun di Pojok Keraton Kulon, dan jalan kaki yang nampaknya hampir 2 Km. Yak, saya lelah. Cuma saya ga mau keluarkan uang sepeserpun, akhirnya saya pun jalan walau godaan besar sekali untuk naik becak.

Ah iya, kenapa saya tulis lagi di sini? Bukan ke Kulinerologi? Karena… ceritanya abstrak! Yah, saya tulis sih di sana, tapi cuma tentang makanannya, bukan apa yang saya alami keseluruhan di sana.

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati area yang saya bahkan ga tau sama sekali, akhirnya saya tiba di Balé Raos. Tempatnya megah… sangat megah. Tapi sangaaaat sepi. Saya pun masuk, walau dengan muka lusuh dan berkeringat, saya harap saya ga dianggap orang aneh.

AW: Mbak, ini… restorannya buka kan?

Mbak: Iya buka kok, mas.

AW: Bisa pakai debit Mandiri?

Mbak: Bisa mas…

AW: Oh, oke deh!

Mbak: Mau duduk di sebelah mana, mas?

AW: Di sebelah sana…

Saya pun mengambil kursi outdoor yang paling terang. Alasan? Di dalam nampaknya sudah dipesan, dan di tempat ini saya setidaknya bisa memotret dengan baik.

Sejujurnya, saya sangat suka dengan pelayanan di sini. Free flow water, dan ada hors d’ouvre (cemilan pembuka) keripik jagung.

IMG_5599

Sedaaaaap…

Prosedur standar saya: Duduk, lihat menu, cari yang unik tapi harga terjangkau, pesan, menunggu, siapkan Evernote Food (apps ini adalah senjata andalan saya untuk menyimpan referensi hidangan yang saya pesan), makanan datang, potret, masukkan Evernote Food, makan/minum dan nikmati, bayar, pulang!

Menu pun tiba di tangan saya. Saya pun takjub. Ah ya… nama restoran ini adalah Balé Raos Royal Cuisine Restaurant ketika saya buka di Foursquare. Seisi menu, saya melihat daftar makanan yang merupakan makanan kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono VI hingga X (yang incumbent menjabat saat ini). Mengenai harga… jujur saya kagum dengan harganya yang lumayan terjangkau untuk sebuah royal banquet. Akhirnya saya mau memesan makanan dan minuman…

AW: Mbak, saya pesan bistik jawa dan sarsaparilla ya…

Mbak: Maaf mas, sarsaparilla nya sold out… (artinya es sapaitu nya juga ga ada)

AW: Yah… oke deh, es lemon tea aja…

Saya dari tadi membaca menu lagi dan lagi. Saya mempelajari pola di sini. Nampaknya pada periode kesultanan ke-6 dan sebelumnya, sajian kuliner di sini masih agak kuat pengaruh Jawa nya. Masuk periode ke-8, pengaruh Belanda mulai kental. Yang menarik adalah pada periode kesultanan ke-9, di bawah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelumnya, saya pernah ke museum keraton bersama Aria dan Dwiki di tahun 2013 awal. Kami menemukan bahwa… Sri Sultan ke-9 ini, nampaknya orang yang sangat multi-talenta, dan multi-tasker sekali. Bagaimana tidak? Beliau disebutkan pernah menjabat 20 jabatan dalam 1 waktu (mak… saya ngejabat 4 posisi aja mabok… pas PROKM ITB 2009… jadi kadiv dokumentasi, pendiklat taplok, perangkat materi divisi taplok, dan pendiklat lapangan… ah, dan saya ketua unit Klub Fotografi Nymphaea saat itu, oke… 5). Tapi yang keren, beliau suka eksperimen dapur dan juga merupakan fotografer. Salut untuk Kanjeng Sultan ke-9!

_MG_9662

Bumbu masak milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX…

_MG_9660

…dan kamera2 milik beliau.

Di menu, saya melihat banyak makanan yang merupakan makanan kesukaan Kanjeng Sri Sultan ke-9, dan juga ada salah satu masakan racikan beliau. Pesanan saya ini, Bistik Jawa merupakan makanan kesukaan beliau juga lho!

Tak lama, pesanan saya pun datang… (khusus ini, gambar dan review-nya saya taruh di blog saya yang Kulinerologi, artikel mengenai Bistik Jawa, Bale Raos)

Asli… enak… saya jadi ingat dulu mbah putri (dari bapak) pernah masak bistik Jawa juga buat saya. Masaknya sederhana, daging has dalam ditumis dengan sedikit minyak, mentega, merica, garam, dan potongan bawang bombai. Setelah daging matang, angkat. Sisa di wajan ditambah air hingga menggenang, tambah sedikit kecap dan saus tomat. Tambah garam jika kurang asin, atau jika terlalu asin tambah gula dan air. Ini menjadi sausnya. Abis itu, santap deh! Untuk yang saya makan di Balé Raos ini, mereka menggunakan daging cincang, jadi kayak beef burger steak, lalu dengan kentang tumbuk yang dipadatkan, jagung muda, brokoli, dan wortel rebus dijadikan sayur (sisanya dibahas di blog sebelah).

Ah… mantap! Setelah makan, saya pun bayar.

AW: Mbak, mint bill nya dong…

*ga lama kemudian*

Mbak: Mas, maaf… untuk debit Mandiri minimal Rp 100rb, BCA yang lebih rendah…

AW: Mbak… kok gak bilang dari tadi? Di sini ATM di mana ya?

Mbak: *nanya temen2nya* Itu dekat Pasar Ngasem.

AW: Mbak, itu jauh… harusnya bilang dari tadi kalau ada minimalnya. Gini deh mbak, ada yang bisa antarkan saya naik motor ke ATM?

Mbak: *nanya temen2nya*

Mas: Mas, saya aja deh yang antarkan…

AW: Oke deh… dan mbak, gini aja deh, ini saya ada Rp 50rb, saya bayar yang Rp 15rb nya (dari total Rp 65rb) dulu, nanti Rp 50rb nya dari ATM dari mas ini aja ya…

Akhirnya (dengan sangat2 merepotkan) saya diantar si mas naik motor. Saya pun nanya2 soal sarsaparilla nya, dan ternyata mereka pakai Indo Saparella. Wow, emang ini lagi booming banget ya. Si mas nya nanya saya kos di mana, saya pun jawab di Kaliurang.

Akhirnya lagi, saya ngambil uang di ATM BRI (Aaaargh! Kena charge!) dan ngasih ke si masnya. Tapi saya… masih dudul lagi…

AW: Mas, boleh numpang antar sampai halte TransYogya yang dekat sini ga?

Mas: Boleh mas, yang mana? Yang itu ya?

AW: Iya, yang Ngabean di situ kan?

Mas: Oke deh…

Lalu saya kasihkan uangnya dan diantarkan masnya sampai lampu merah shelter Benteng Keraton Kulon, dan saya pun pulang naik TransYogya koridor 3B seperti biasa.

Oke, jujur saya tertarik sama restoran itu… tapi dengan saya udah merepotkan gini, saya jadi kabur dulu deh…

Pesan moral:

Buat restoran: Tolong kasih tahu pelanggan mengenai adanya charge (untuk kartu kredit) dan minimum payment (untuk kartu debit) sebelum pelanggan memesan. Apalagi jika card machine nya rusak. Kalian ga mau ketemu pelanggan seperti saya atau BAPAK SAYA yang lebih keras lagi… saya masih toleran walau nyusahin, bapak saya? Kalian dijamin diam, walau ada manajer di situ.

Buat pelanggan: Tolong siapkan uang lebih di dompet kalian sebelum jalan2! Cash over card, no exception.

Apapun deh, semoga Kanjeng Sri Sultan tidak tepok jidat membaca cerita saya ini.

-AW-

Cerita ini saya masukkan ke blog ini (bukan blog Kulinerologi) karena ini lebih bercerita ke perjalanan saya, bukan ke minumannya. Kisah yang sudah sempurna mengenai minumannya nantinya akan dipublikasikan ke sana.

Semua berawal… dari kejadian sekitar 14 tahun lalu.

Sejujurnya, saya merasa beruntung karena saya hidup dalam keluarga saya yang bisa dibilang petualang, sejarawan… ya karena dulu alm. kakek (dari bapak saya) ikut berperang dalam perang sebelum kemerdekaan sehingga beliau memiliki banyak kisah di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, dan kisah2 itu menjadi kisah yang menarik untuk kami sekeluarga dengarkan ketika menyeruput teh di sore hari, dan keluarga saya pun menjaga tradisi2 lama, tapi tidak pula konservatif. Saya bisa bilang berada di generasi peralihan di negara ini. Sebelum generasi ’89 atau ’80 akhir, generasi yang ada kebanyakan adalah generasi lama yang konservatif sebagai mana yang mungkin kebanyakan orang tahu memiliki peraturan2 ketat dalam kehidupan, dan setelah generasi ini, era modernisasi dimulai. Mulai dimanjakan oleh teknologi, dan peraturan2 pun mulai melunak. Saya beruntung lahir di tahun 89.

Kembali lagi, dulu… suatu sore, saya ingat (alm) mbah kakung menaruh botol2 yang bentuknya unik (khususnya tutupnya) di meja makan di rumah. (Ket: AW: saya, RS: mbah saya, Roeslan Soeroso)

AW: Mbah, ini apa?

RS: Ini limun…

AW: Apa tuh?

RS: Cobain aja…

Percakapan barusan kurang lebih seperti itu, dari apa yang saya ingat. Saya pun menyodorkan gelas dan minum. Rasanya… seperti root beer, cuma beda. Yang saya ingat lagi, mbah sempat mampir ke restoran… ntah, sate? Soto? Atau apa? Yang saya ingat cuma bentuknya yang sangat kuno. Desain arsitektur kuno Indonesia yang khas dengan frame kayu, dan rumah makan itu ramai sekali. Hingga hari ini (Senin, 31 Maret 2014) saya ga ada ide itu di mana. Karena memori 1 dekade itu bisa dibilang memori kuno di kepala saya. Intinya, mbah membeli beberapa botol minuman itu di sana.

Satu setengah dekade berlalu, mbah udah meninggal, dan kehidupan berlanjut. Saya kuliah di S2 Pemuliaan Tanaman FAPERTA UGM sekarang. Sebagai food blogger, saya pun penasaran dengan memori tadi. Sampai saya mendapatkan, minuman yang saya minum dulu itu namanya limun sarsaparilla setelah melakukan browsing termasuk ke blog buatan Labib Akmal Basyar ini.

Sarsaparilla, pada dasarnya merupakan minuman yang diambil dari herba sarsaparilla (Smilax regelii, Killip & Morton) sebagai sumber rasa awal (namun sekarang dalam wujud essens saja), dan umumnya merupakan minuman berkarbonasi atau bersoda (dikenal sebagai limun). Perlu dibedakan dengan root beer, walaupun sarsaparilla merupakan salah satu dari komponen yang ditambahkan ke dalam root beer, selain ekstrak akar sassafras (Sassafras albidum), akar lycorice (Glycyrrhiza glabra), getah birch (Betula sp), dan banyak lagi. Minuman ini adalah minuman kesukaan kalangan bangsawan Jawa di masa lalu. Kemungkinan asalnya dibawa oleh para pedagang VOC di era kedudukannya di Indonesia. Saat ini, minuman ini merupakan minuman langka. Menurut blog ini, dari sekian banyak merk, yang tersisa kini hanya 3: Minerva, Ay Hwa, dan Indo Saparella (yang paling baru).

Rasa penasaran saya berawal pula dari kunjungan saya ke Sate Kuda Gondolayu.

skg-saparella-2  skg-saparella-1

Segelas sarsaparilla, merk Indo Saparella.

Membaca blog tadi dan mendapatkan alamat pembuatan sarsaparilla merk Indo Saparella ada di Jalan Magelang Km 6,1, sementara Ay Hwa berada di Jalan Pandega Marta no. 100. Wah, Jalan Pandega Marta masih berada di dalam lingkar pencarian saya karena dekat dengan kos saya.

Akhirnya saya pun mampir ke sana dengan motor dibonceng teman saya, Taufiq. Sayangnya, saya tidak dapat minuman ini karena limunnya langsung dijual ke sebuah daerah di Jalan Pasar Kembang (yang ketika saya tanya, saya ga ngerti itu di mana), tapi saya hanya dapat sirup sarsaparilla yang merupakan bagian dari Ay Hwa dengan merk Efata. Saya beli dengan harga sekitar Rp 18.000,00 satu botol besar. Buat yang tidak terbiasa, aromanya seperti balsam atau minyak pijat. Cuma rasanya enak!

Ay Hwa - Efata

Ini sirupnya, sudah dikasih air.

Yah, mungkin lain kali saya bisa mencari lagi, pikir saya.

Hampir sebulan kemudian, ketika bapak saya datang ke Yogya, saya pun kembali “dibangunkan” dari periode vakum saya dalam misi pencarian ini dengan minum sarsaparilla di Wisma MMUGM yang lagi dipromosikan. Harga, Rp 13.000,00.

IS - Glass

Kemasannya… merknya… familiar…

Saya pun juga menemukan sarsaparilla merk Indo Saparella ini di minimarket dekat kosan saya di daerah Jalan Agro. Wah, minuman ini bangkit ke kejayaannya lagi kah?

Akhirnya, hari ini… 31 Maret 2014 pagi ini saya memutuskan buat tracking restoran yang disebutkan memiliki minuman sarsaparilla selain merk itu: Ay Hwa di Soto Kadipiro, Jalan Wates, dan Minerva di Moro Seneng, Jalan Magelang. Bangun pagi, nugas sebentar di kampus, berangkat. Saya naik TransYogya koridor 3A hingga Ngabean dan saya berjalan ke pertigaan di arah utara tempat itu dan jalan melewati 1 pertigaan dan 1 perempatan ke arah barat. Saya menyebrang ke arah utara jalan. Tibalah saya ke Soto Kadipiro I. Tempatnya PERSIS seperti yang saya ingat di memori saya 1 setengah dekade lalu dengan deskripsi yang saya sebut tadi. Misi, datang, nyari minum, bayar, cabut.

AW: Permisi, di sini ada sarsaparilla?

Mbak2: Wah, maaf mas… habis…

Mas2: Wah iya mas… habis…

AW: Oke…

TIDAAAAAAAAAAAAK!! Oke, lebay… tapi serius, saya liat botol2 sarsaparilla merk Ay Hwa itu dan semuanya habis. Nggak sih, ada yang masih ada isinya, cuma saya ga berani mengambil risiko. Iya lah, itu sisa dari kapan coba??

Ay Hwa - Empty (1)  Ay Hwa - Empty (2)

Yah… habis…

Perhatikan bentuk kemasannya, itu benar2 dari apa yang saya ingat pas mbah saya beli. Botol kaca yang antik, label juga antik, dengan tutup keramik berkawat. Serius, ini kan distribusinya hanya terbatas, tapi tiap hari apa? Saya penasaran soalnya!

AW: Mbak, selain di sini ada di mana lagi ya?

Mbak2: Coba di seberang (Soto Kadipiro II) deh, mas…

AW: Sip, makasih, mbak…

Saya pun nyeberang… tapi yang mereka jual itu yang Indo Saparella. Saya pun keluar lagi. Bukannya saya anti sama merk ini, cuma karena ini yang paling terdistribusi luas, saya mikir mau belinya belakangan aja. Nanti pas udah mau pulang di minimarket dekat kosan.

Akhirnya saya menyebrang lagi dan jalan ke arah barat, di perempatan, saya belok ke kiri, jalan ke arah utara dan saya naik TransYogya koridor 2B setelah jalan sejauh 1.6 Km dari lokasi turun tadi. Saya pun turun di shelter portable Perempatan Jalan Magelang, menyeberang dan melangkah 150-250 m ke utara, saya pun menemukan restoran Moro Seneng. Misi sama, datang, pesan minum, bayar, pulang. Tambahan kali ini, lihat menu.

AW: Mas, ada sarsaparilla?

Mas2: Maaf mas, lagi habis… biasanya ada *jalan ke kardus Indo Saparella* tapi belum datang lagi… mau pesan yang lain?

AW: *lihat menu, makanannya ada yang dimasak dengan bahan yang tidak dianjurkan oleh agama saya…* Hmmm… nggak deh mas, makasih ya…

Di tempat tadi tidak ada tanda2 sarsaparilla merk Minerva. Berganti total ke Indo Saparella yang pabriknya dalam radius dekat kah?

Akhirnya saya pun pulang, jalan 1 Km ke timur, naik TransYogya dari shelter Hotel Santika di Jalan Jenderal Sudirman, saya naik koridor 3B dan turun di shelter portable MMUGM. Mampir minimarket, saya pun beli sebotol sarsaparilla dengan harga Rp 13,500.00. Yah, lumayan daripada pulang dengan tangan kosong.

IS - Tube

Satu2nya yang saya bawa siang ini.

Tiba di kosan, menaruh tas, bersandar di beranda. Teman kos saya, Tama dan Deni pun menghampiri saya.

Deni: Gimana kak? Dapet minumannya?

AW: Ini…

Deni: Oh, itu sih di kampus gw (di sekolah vokasi UGM) dijual, sama botolnya Rp 8000,00.

AW: Hah? Murah amat!

Deni: Emang itu berapa?

AW: Di minimarket Rp 13.500,00

Tama: Itu di Palembang juga dijual *nunjukin HP, ada minuman sarsaparilla… lupa merknya… botol kecil kayak botol obat*

AW: Oh iya…

Tama: Yang lo minum itu udah beda. Rasanya udah lebih deket ke root beer. Mungkin biar narik pasar kali, soalnya orang2 kan suka root beer. Yang asli ga gitu, lo pernah makan permen sarsaparilla kan? Kayak gitu…

Deni: Yang aromanya kayak balsem itu?

AW: Oh iya gw tau… *ke kamar, nunjukin bekas botol Efata, ngebuka biar mereka ngehirup* Kayak gini kan?

Tama: Iya…

Hmmm… kayaknya saya bener2 harus balik lagi ke Soto Kadipiro I kapan2. Sama saya ada yang miss, di Pasar Kembang no. 78 ada biro travel yang katanya jual merk Ay Hwa. Plus, di restoran Bale Raos di area dekat Alun-Alun Kidul Keraton, dijual minuman sarsaparilla dengan susu. Saya harus mencoba lain kali!

Penasaran… kapan ya ada waktu luang lagi buat nyari minuman ini lagi? (bersambung kapan2)

PS: Cerita seri Soda van Indonesië (Soda dari Indonesia) ini ada 2 bagian, bagian pertama merupakan seri tentang sarsaparilla, dan kedua nanti tentang kawista, soda khas Rembang. Jadi, tunggu aja kelanjutannya!

PPS: Terima kasih kepada bung Labib Akmal Basyar, yang walau tidak saya kontak terlebih dahulu, blognya cukup memberikan inspirasi, referensi lokasi, dan pembangkit kenangan atas minuman antik ini… 🙂

Detail perjalanan hari ini:

Rute Hari Ini

Peta oleh Maps (OS X – Mavericks), editing dengan Adobe Photoshop CS 5.

Rute biru = rute dengan jalan kaki, rute hijau = rute dengan TransYogya. Lama perjalanan hari ini: Berangkat dari Shelter KOPMA UGM Jam 8:45 WIB, sampai Soto Kadipiro Jam 10 WIB, sampai Moro Seneng Jam 10:30 WIB, sampai kembali di kosan jam 11:30WIB. Total 2 jam 45 menit.

Klik peta untuk memperbesar.

Info Lokasi Utama:

Soto Kadipiro I, Jalan Wates. Yogyakarta. Peta lokasi bisa dilihat di Foursquare.

Moro Seneng, Jalan Magelang no. 56. Peta lokasi bisa dilihat di Foursquare.

-AW-

Posting saya kali ini saya buat di blog ini karena… lebih banyak teori dan sesuatu yang sifatnya spekulatif (karena saya sendiri belum nyoba makanan2 di situ, dan beberapa bahan2 makanan di situ). Pagi ini, saya lagi mau iseng mengunjungi makanan2 ini lagi… karena pengen laper… dan penasaran.

Let’s see…

Ratatouille adalah film karya Disney Pixar yang sangat keren dan inspiratif buat saya. Film ini banyak memberikan ilham dalam bidang dunia kuliner buat saya, mulai dari bagaimana gambaran singkat penataan dapur haute cuisine, hingga kerasnya seorang kritikus makanan kepada restoran dan chef.

Screen Shot 2014-02-25 at 7.03.19 PM

…dan juga, film ini membuat saya ingin sekali pergi ke Perancis!

Mengenai makanan… ada 5 makanan yang ada di sini yang akan saya sorot…

Screen Shot 2014-02-25 at 6.27.51 PM

Jamur keju.

Hmmm… jamur chantarelle (dari bentuknya) adalah jamur yang biasa diburu di kawasan Eropa. Konon aromanya agak kayak peach, jamur ini favorit para chef di dapur. Ditambah keju… ntah saya belum ada gambaran keju apa, tapi kayaknya tipe keju keras yang aromanya kuat. Remy pada akhirnya bilang campuran yang kurang adalah saffron.

Saya cuma bisa mikir bahwa rasanya enak, kayak mushroom gratin (jamur, keju, krim). Dibuat bite size kayak gini kayaknya asik!

Screen Shot 2014-02-25 at 6.32.15 PM

Sup krim yang diracik Remy ini.

Masakan pertama Remy di dapur Gusteau. Ntah, awalnya apa… sup yang aromanya aneh, atau nyengat, atau bau…

Terus dikasih air lebih, daun thyme, keju, krim, bawang putih cincang, jamur kancing, daun bawang, sama ga tau yang terakhir itu apa yang ditambah sebelum Linguini memergoki Remy. Ntah, mungkin Remy ngasih air biar rasanya netral, krim buat meredam rasa biar jadi “mild”, nambah herba buat aroma, plus jamur… ya jamur itu punya properti menyerap komponen. Mungkin biar rasa “aneh” nya terkonsentrasi di jamur, dan rasa baru itu muncul? Hmmm… kayaknya rasanya bakal agak kayak sup krim jamur.

Screen Shot 2014-02-25 at 6.35.06 PM

Omelette buatan Remy.

Ini simpel sih. Omelette… dikasih potongan paprika (liat aja ada merah2nya), bawang (putih atau bombay), sama herba seperti basil yang dia comot dari kebun di seberang. Aromatik…

Screen Shot 2014-02-25 at 6.46.11 PM

Sweetbread A La Gusteau.

Nah, ini menarik. Sweetbread di sini, bukanlah roti. Sweetbread adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kelenjar2 pada sapi muda, atau kambing, atau domba… seperti kelenjar timus, pankreas, atau lambung, yang katanya memiliki rasa manis kalau dimasak. Di menu ini, digunakan lambung sapi muda yang sudah direndam terlebih dahulu (dengan bumbu pastinya), lalu dimasak dengan tentakel cumi2, dog rose (sejenis varietas bunga mawar) yang dihaluskan, telur geoduck, jamur putih kering, dan saus licorice-anchovy. Dijelaskan juga, sajian ini dianggap rasanya aneh bahkan sama Gusteau. Mari kita pikirkan…

Kayaknya Gusteau lagi eksperimen pas lagi buat ini…

Ah ya… dog rose itu sejenis bunga mawar yang katanya bisa dibuat sirop.

450px-Divlja_ruza_cvijet_270508

Ini bunganya (sumber: wiki)

Geoduck… kerang yang bentuknya aneh… banget. Ntah… terus diambil telurnya aja. Saya belum nyoba…

449px-Jrb_20081127_Mirugai_tsukiji_tokyo_japan_001

Aneh… (sumber: wiki)

Tambah saus licorice yang rasanya kayak mint… dicampur anchovy (kayak ikan teri, rasanya asin). Terus pakai tentakel cumi dan jamur kering. Wew… simfoni aroma dan rasa. Mungkin menu ini jadinya ngaco karena ga semua orang sanggup merasakan campuran itu. Lantas Remy ngasih saus yang dia olah dari minyak jamur truffle putih. Sausnya agak creamy… lagi, mungkin dengan ini rasanya jadi mild dan mengurangi rasa2 lain yang terlalu nano2.

Screen Shot 2014-02-25 at 6.59.24 PM

Ratatouille.

Nah, kalo Ratatouille buatan Remy yang bahkan sampai membuat Anton Ego terpana ini… diambil dari sajian modifikasi Ratatouille asli yang disebut Confit Byaldi. Resep bisa dicari di Youtube atau internet. Dibuat dari tomat, zucchini kuning dan hijau, dipanggang di atas saus tomat dan dimakan dengan saus kuning (saya belum nyoba). Kayaknya rasanya jadi versi lebih crispy atau dry nya Ratatouille karena sebagian sayuran pas dipanggang menyentuh saus tomat, sebagian menghadap ke atas (di bawah kertas).

Ah… ini yang saya dapet dari internet!

Saya pengen nyoba…

Jadi…

Gimana pendapat kalian?

-AW-

GeM Logo

Hampir setiap kampus di Indonesia, apalagi kampus negeri, bisa dipastikan memiliki unit kegiatan mahasiswa atau UKM. Unit-unit ini berperan sebagai lembaga organisasi yang merangkul mahasiswa2 untuk kegiatan ekstra kurikuler di kampus, berbeda dengan himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) yang berperan sebagai pembina dan pengayom mahasiswa dalam urusan kokurikuler, karena HMJ berhubungan dengan bidang keprofesian fakultas atau jurusan. Di kampus saya misalnya, di Institut Teknologi Bandung (ITB). UKM jumlahnya ada sangat banyak, jenisnya pun juga beragam. Mulai dari agama, sosial, budaya, dan kesenian (tolong koreksi soal pembagian gugus2 ini). Selama 4 tahun saya kuliah, unit baru terkadang muncul di tiap tahunnya pada Open House Unit (OHU). Hingga, saya berpikir untuk membuatnya bersama rekan2 saya. Bagaimana caranya?

Yang jelas, syaratnya sudah pasti: ada anggota minimal 30 (seingat saya dengan minimal 5 atau berapa ya, jurusan yang beda), punya struktur organisasi, punya program kerja yang jelas, punya tempat aktivitas (paling susah), dan baru kemudian diajukan ke rektorat.

Dua orang rekan saya, satu di antaranya sama2 panitia Pengenalan Ruang dan Orientasi Keluarga Mahasiswa (PROKM) ITB 2009 menjadi penggagas berdirinya unit ini. Mimpinya adalah ingin membuat mahasiswa tau makanan sehat dan memperkenalkan cara memasak makanan (khususnya) ke mahasiswa ITB. Unit ini kami namakan Ganesha Memasak (GeM), dengan singkatan sebagai “pun” dari “gem” yang dalam bahasa Inggris artinya permata. Cuma selang 1-2 bulan setelah PROKM, yaitu sekitar Agustus-September, unit ini punya struktur. Mereka jelas jadi wakil dan ketua, beberapa teman lainnya dari PROKM juga pun maju sebagai sekretaris, bendahara, dan lain2. Saya? Perumus AD-ART (Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga, undang2 dasar untuk unit yang menentukan mekanisme perekrutan, pemilihan ketua, sistem ajar, keluarnya anggota, dll). Sayang sekali, itu cuma jadi wacana. Karena cuma 1-2 bulan ke depannya, ketika kami kembali termakan kesibukan, semua itu hilang. Satu persatu semuanya terdisintegrasi dan lebih sayangnya, ga ada yang merangkul. Saya pun ga bisa berbuat apa2 lagi. Saat itu saya juga mengiyakan. Kuliah proyek ekologi dengan 3 kali kuliah lapangan dan proyek biologi sel dan molekuler dengan 2 macam proyek saja sudah jadi beban skala besar. Dalam waktu sama, sudah ada beberapa anak angkatan 2009 udah berniat pada awalnya. Tapi akhirnya mereka pun hanya bisa dikecewakan.

Dua tahun berlalu. Di OHU 2011, saya pun bertemu 2 rekan saya tadi. Memasuki tahun keempat akhir, saya makin nganggur dan jam jalan2 saya selain skripsi membuat saya jadi makin bisa punya waktu buat icip2 makanan baru. Setelah sedikit bercanda, saya pun bilang sama dia bahwa saya masih mau GeM direalisasikan. Saya bertanya, dia pun juga masih mau sebenarnya. Tapi kali ini saya buat pengecualian, bahwa saya yang akan pegang penuh mekanisme pembentukannya. Tambahan dari saya, saya mengejar target bahwa anggota GeM bakal terpacu untuk menjelajahi kuliner di dunia, mendapatkan feel ketika masak, dan bisa menjadi pengamat kuliner juga. Jujur, untuk yang ketiga saya terinspirasi sama film favorit saya, Ratatouille. Ga nyangka, saya pun kerja hampir mirip kayak Anton Ego sekarang. Haha…

Dalam beberapa minggu kedepannya, saya berhasil “menerbangkan berita lewat angin” ke penjuru2 ITB. Menariknya, massa yang saya dapat mencapai 200an. Saya pun langsung berusaha melakukan inisiasi dan pertemuan pertama. Karena saya ingin mereka bertemu saya dan bisa diskusi. Kesalahan saya waktu itu sayangnya, saya melakukan seleksi anggota. Padahal seharusnya untuk unit baru, harusnya all open dulu baru nantinya terseleksi dengan sendirinya. Dari 200an, tersaring jadi 40an, sedihnya lagi, di rapat cuma datang belasan.

Kumpul pertama membahas ide awal dan persiapan untuk pemaparan AD-ART. Lalu pertemuan kedua tujuannya lebih ke pengakraban, lantas kami buka puasa bareng di D’Cost Bandung Indah Plaza.

_MG_1190

Inilah sesi “pertemuan” kedua.

Libur puasa, saya menugaskan mereka dengan proyek masak. Boleh bertim, hasil dipublikasikan ke Facebook grup unit. Jujur, saya salut dengan mereka yang niat masak. Pada akhirnya, saya dengan salah satu rekan saya memutuskan untuk memilih ketua unit. Karena dengan adanya simpul massa, diharapkan unit ini bisa punya struktur dan genggaman awal.

Maka ada 3 orang yang maju: Freyskania “Frey” Dairianta (2010), Gesti Saraswati (2010), dan Indera Aji Waskitho (2010). Lalu Indera mundur. Tersisalah 2 femme fatale itu. Setelah proses pemilihan yang kami lakukan, terpilihlah Gesti Saraswati, dari jurusan Planologi angkatan 2010 yang terpilih. Sekaligus proyek masakan buatan dia juga emang menang juara 1 dari penilaian kami.

GeM - Certificate - Gesti

Sertifikatnya udah ada lho.

Semua udah tersusun rapi, tapi semua berubah ketika saya wisuda dari ITB. Saya yang harus ke Jakarta, dan dua orang rekan saya tadi yang selalu sibuk dan susah dikontak plus kurang bisa masak pun membuat roda inisiasi unit ini berhenti. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan… akhirnya lagi2 rencana unit ini kandas. Jujur saya merasa sedih dan kecewa, bukan sekedar karena unit ini saya yang bentuk juga, tapi bayangkan mereka yang udah tersusun rapi konsepnya, udah ada ketua, tapi kemudian unit ini jadi ga jadi apa2. Di awalnya, saya kesal dan menyalahkan kedua orang rekan saya tadi. Mereka ide awal unit ini dari tahun 2009 itu, tapi kemudian mereka sendiri ga mau menggantikan saya atau seenggaknya mencari orang yang mau mengajarkan ke anggota soal kuliner. Berhentilah akhirnya mimpi itu. Saya jujur selama 1 tahun setelah itu saya menjadi antipati. Kenapa? Malu. Mereka sibuk? Ya kita semua di sini juga punya kesibukan masing2. Bahkan anggota2 ini. Semua sama sibuknya. Saya terlalu menyalahkan mereka? Ya saya rasa. Walaupun pelan2 saya berusaha untuk melupakan hal itu dan seharusnya saya bisa melakukan sesuatu. Tapi sayangnya saya ga bisa. Lulus dari ITB itu artinya saya harus berhadapan dengan dunia nyata. Mencari kerja dan mencari jalan untuk S2. Beruntung saya belum ada rencana nikah cepat2. Tapi saya bilang lagi, berat.

Setahun berjalan. Tahun 2012. Saya cuma bisa memperkaya diri sendiri soal ilmu kuliner. Saya sering masak dengan sohib saya si Dwiki dan Aji (dan kalo ke Singapura, Rino). Masak, potret, taro di FB dan socmed lain. Beruntung, saya pun belajar sesuatu dan apa yang saya kirimkan mendapat apresiasi yang bagus. FB saya berubah dari ke sekedar posting pribadi yang (galau) standar, lebih ke sharing. Saya pun belajar soal menguasai media secara pelan2 dan menarik massa. Beruntung juga, beberapa anggota lama GeM pun bisa mampir ke FB saya dan memberi apresiasi.

Tahun 2013, saya menghapus FB grup utama dari GeM, dan grup sekunder yang tadinya berguna untuk rekrutmen saya ubah jadi Forum Kuliner ITB. Sekedar open group para pecinta dunia kuliner di ITB untuk berbagi. Itu harapan saya.

Setelah saya menjadi kontributor online magazine ShoppingMagz.com, saya pun jadi lebih rajin menulis dan pelan2 saya berubah dari sekedar orang yang suka masak, jadi lebih ke arah penulis sesuatu tentang kuliner, food writer, dengan kata lain. Saya pun mendirikan blog kedua saya, AW Kulinerologi, dengan tujuan melatih kemampuan saya untuk menulis, dan menulis apa yang saya tidak saya bisa tulis di majalah: pandangan pribadi atas restoran dan tulisan yang lebih panjang. Saya pun kemudian mengundang teman2 saya untuk mampir ke blog itu. Hingga Frey pun saya invite. Kenapa dia aja? Karena seenggaknya cuma dia yang merespon ke postingan2 makanan saya. Invite di sini maksudnya saya undang langsung, yang lainnya juga saya undang kok, cuma ga saya samperin ke timeline nya secara langsung.

Frey pun membalas.

*pasang lagu: OST Pirates of The Caribbean 2 – Dead Man’s Chest: “Hello Beastie” -> yang scene bagian Capt. Barbossa muncul lagi di rumahnya Tia Dalma*

Screen Shot 2013-06-03 at 1.32.34 PM

Jadi… ada wacana bahwa unit itu akan mencoba bangkit lagi. Menarik… kali ini saya hanya mau turun sebagai tamu dan konsultan, biar mereka yang merancang dan saya ga mau ada campur tangan pendiri GeM lama juga. Kenapa? Saya mau GeM baru bangkit dengan idealisme yang lebih kuat.

Satu hal yang saya juga baru sadar, ternyata gaung dan gema soal pendirian GeM waktu itu di 2011 besar juga di ITB, jauh lebih besar daripada yang di tahun 2009. Bahkan denger2 majalah kampus ITB, Boulevard sempat menulis artikel soal ini. Wah…

Oke, dengan blog ini saya mengundang mahasiswa2 ITB yang mungkin punya cita2 sama kayak saya dan mau merealisasikan wacana dari Frey. Jika ada, kontak dia aja… atau seenggaknya kontak saya!

Menjadi mahasiswa, bukan berarti makan dengan kere lho. Tapi harusnya hanya dengan sepotong roti dan saus tomat, roti itu bisa aja jadi pizza!

Trivia: Kenapa nama blog itu Kulinerologi, bukan Kulinologi? Ini bukan saya salah kata. Sisipan “er” di situ kan artinya lebih, atau punya ekstensi (kayak “er” dan “est” di bahasa Inggris). Kenapa gak “est”? Karena jadi aneh ntar! Lagian saya mau lebih humble, dan dengan mencari yang lebih dan lebih, bukan langsung menjadi yang terbaik, saya ingin membawa pembaca ke bagaimana kita belajar menyelami dunia kuliner. Dengan tambahan, sentuhan, dan ekstensi seorang saya tentunya. :p

-AW-

Siapa yang ngga tau istilah “Tugas Akhir” atau TA? Istilah ini kadang menjadi hal yang cukup mengerikan di mata para mahasiswa yang akan lulus. Bagi ada yang belum tau, TA adalah serangkaian proyek penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data yang akan ditulis di skripsi/tesis/disertasi, dan di cerita ini tentu aja… skripsi. Mendengar cerita teman saya, banyak yang mati2an kerja demi TA, gonta-ganti topik, revisi karena ga disetujui pembimbing. Gitu deh, horror kan? Terus gimana menurut saya? Ya buat saya ini adalah cerita paling epic yang menjadi titik ubah hidup saya! Kenapa? Karena saya penelitian TA nya di National Institute of Education – Nanyang Technological University (NIE-NTU), Singapura selama 1 minggu lebih! Dari cerita ini, saya akan menceritakan asal-muasal munculnya nama yang saya refer di blog ini sebelumnya yang juga menjadi drammatis personae di cerita ini: Dr. Totik Sri Mariani M.Agr (Bu Totik, dosen pembimbing TA saya; inisial di percakapan cerita ini: TSM), Dr. Any Fitriany (Bu Any, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, UPI, Bandung; kolega nya Bu Totik, inisial: AF), dan Associate Professor (Profesor Muda) Tet Fatt Chia (Prof. Chia, peneliti dan dosen NIE NTU, inisial: TFC).

Kita mulai perjalanan cerita ini! *jeng jeng jeng!!*

Saya di Singapura

Saya di samping Merlion. Ga usah nanya kenapa bajunya malah Bali. Foto ini diambil Bu Any.

Saya berangkat 1 Oktober 2010 ke Singapura. Kondisi saya agak kacau waktu itu. Momen saya putus dengan mantan pacar saya yang pertama akhir Agustus masih cukup segar di kepala saya. Malam sebelum pergi pun saya berharap pergi ke Singapura ini akan jadi “hiburan” tersendiri, dan saya pun memutar lagu di laptop saya, “Wake Me Up When September Ends” oleh Green Day. Terus bagaimana cerita saya bisa pergi ke Negeri Singa ini? Oke, flash back.

Bulan Mei 2010, saya masih semester 6 kuliah saya dan ada mata kuliah yang disebut Metodologi Penelitian (Metpen) yang di ujung kuliah ini kami dipersiapkan untuk menulis proposal tugas akhir. Tak terkecuali saya, yang dengan random-nya membuat proposal mengenai semangka tanpa biji. Proposal ini akan diajukan ke para dosen narasumber yang jadi dosen pembimbing tugas akhir. Saya yang baru tau penelitian saya adalah dengan Bu Totik, saya langsung menemui beliau… dan cukup absurd. Kenapa? Temen2 saya yang denger saya dibawah bimbingan beliau pada kaget. Beliau itu adalah dosen yang terkenal sangat pendiam terhadap para (plural ya) mahasiswa yang diajarnya sekalipun. Oke, lalu saya menemui beliau…

AW (saya): *ketok pintu* Permisi, bu…

TSM: Kamu ini siapa ya?

AW: Saya Adit, bu… bedasarkan pemberitahuan di dinding TU (Tata Usaha), ibu adalah dosen narasumber saya…

TSM: Oh, kita ketemu besok ya, saya sedang sibuk sekarang.

AW: Baik bu…

Besoknya saya pun menghadap beliau lagi, dan beliau membawa saya ke ruang rapat yang di dalamnya ada Bu Tita Puspita, teknisi Lab Fisiologi Tumbuhan yang super gaul dan legendaris, dan Bu Any. Baru saya duduk, Bu Totik langsung menjelaskan rencana penelitian kami yang akan dilakukan di Singapura. Dan dengan “lugunya”, saya bertanya…

AW: Bu, artinya penelitian kita akan dilakukan di Singapura?

TSM: Iya, betul…

Saya mencoba menahan rasa ga percaya  bercampur senang saya. Selepas kumpul, saya diskusi dengan Bu Tita dan beliau bilang bahwa sebaiknya saya ikut proyek beliau (Bu Totik) aja untuk TA saya. Wow, bahkan saya ga perlu ngajuin proposal! Lucky!!

Saya turun ke lantai dasar gedung kampus saya, dan semua pada ga percaya. Wajar… ini gila soalnya…

Setelahnya hingga saya berangkat, saya latihan inisiasi tanaman Aglaonema (itu, tanaman hias yang daunnya warna-warni) untuk kultur jaringan. What did you know? Gilanya adalah untuk ke Singapura ini saya perlu spesimen tanaman ini sebanyak 1000 tunas! Seribu, para pembaca sekalian… SERIBU! Tapi tenang, ini bukan 1000 candi… ini masih mungkin. Tapi ternyata ini hanya latihan yang Bu Totik minta saya untuk latihan agar saya bisa menguasai dasar metode kultur jaringan secara steril. Bu Tita lah yang dengan sakti dan cekatannya, bagai Kaminoan Cloners di Star Wars, mampu menginisiasi 1000 tunas lebih dalam eksten Mei-September 2010.  Saya pun mengamati laju pembentukan tunas (banyaknya tunas yang muncul dari 1 gugus tunas yang terpisah di setiap subkultur) dan membuat grafiknya untuk saya serahkan ke Bu Totik.

Memang apa sih penelitian ini? Jadi kami berencana mengamati proses mutagenesis (pembentukan mutan) tanaman Aglaonema yang diinduksi dengan senyawa kimia yang bernama N-nitrosometilurea (NMU); tadinya mau pakai etil metana sulfonat (EMS) tapi ga jadi karena diklaim kurang efektif. Lalu kenapa mutan? Kami berencana membuat Aglaonema var. Kochin menjadi berwarna merah putih dari tanaman induk yang berwarna merah dan hijau. Dengan kata lain kami ingin memblok gen yang mengenkripsi klorofil (pigmen hijau daun) dan antosianin (pigmen merah-biru di tanaman) secara mutagenesis acak.

Aglaonema Kochin

Aglaonema varietas Kochin yang murni, belum diubah. Dokumentasi pribadi.

Memang apa yang diharapkan dengan hasil penelitian ini? Tanaman ini adalah tanaman hias kan? Bayangkan aja, kita bisa jual di acara2 hari besar RI seperti 17 Agustus. Untuk ini kita perlu bangun nurseri, dan karena ini kita bisa menarik tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Lalu? Kita jual ke negara tetangga kita, Singapura, yang kemerdekaannya ga jauh dari tanggal itu, 9 Agustus. Dengan ekspor, kita mendapat devisa.

Kembali ke timeline awal. 1 Oktober, saya berangkat ke Singapura dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) sendiri, naik pesawat AirAsia ke Changi International Airport (SIN). Para dosen (Bu Totik & Bu Any) naik dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung (BOD). Tapi untunglah, saya bisa melawan rasa takut akibat acrophobia saya (takut ketinggian) karena baca doa, makan turkey sandwich, dan ultimately, a must-try, Uncle Chin’s Chicken Rice! Nasi dengan infusi kaldu ayam dan bumbu, dengan irisan ayam panggang yang berbumbu bawang putih, cabe (saya rasa cuma sedikit, kurang terasa), dan jahe yang khas yang di letakkan atas nasi. Memang rasanya agak kering karena ini adalah makanan pre-heat pesawat, cuma rasanya enak banget!! Saya merogoh kocek sekitar Rp 35 ribu rupiah, atau SGD 5.00. Tersedia di penerbangan Indonesia AirAsia (QZ).

Inflight Menu - Chicken Rice

That Epic Goodness. Gambar di crop dari sini.

Sesampainya di Changi, saya ambil barang, ketemu Bu Totik dan Bu Any, lalu naik taksi ke NTU. Rasanya cukup awkward buat saya, baru kali ini saya pergi untuk penelitian bareng dosen. Saya ngrasa terisolasi dari teman2 saya yang berada 700 Km di selatan sana. Perjalanan cepat naik taksi ini pun membuat saya berpikir, gimana ya biar gak galau? Secara random, taksi ini nyasar ke Nanyang Polytechnic karena misinformasi. Selang beberapa lama, tibalah kami di area NTU, Hall of Residence 8. Ini adalah kompleks asrama mahasiswa NTU. Bu Totik check in dan memberikan saya kabel LAN. Kami naik tangga, menyusuri lorong, naik tangga sampai lantai 3, dan tibalah kami di modul tamu asrama ini. Tempatnya cukup wah seperti apartmen mini. Ada dapur, mesin cuci, tempat jemuran dalam ruangan, ruang TV, meja makan, 2 kamar termasuk 1 master room untuk Bu Totik dan Bu Any, dan 1 single room buat saya. Di dalam kamar ada 1 AC, meja belajar, 1 tempat tidur personel, dan lucunya… ada kipas angin. Ada AC ada kipas angin… aneh juga pikir saya waktu itu. Kamar ada di lantai 2, ruang kumpul dan dapur tadi ada di lantai 1. Di pojokan lantai 1, di samping meja makan, dekat rak sepatu, ada pojok kosong yang ada colokan kabel LAN. Beberapa hari kedepan, itu akan jadi “tempat mojok” saya buat internetan. Beres unpacking, kami ke NIE buat menaruh kultur Aglaonema yang dibawa, makan (gila lah… kantinnya ada McD, Subway, KFC, dan Sakae Sushi! Lebih sakti lagi, McD nya lagi promo… mereka jual Double Fillet ‘o Fish, Double Chicken Burger, Double Cheeseburger, dan sadisnya… Mega Mac… Big Mac adalah burger susun 2, maka Mega Mac adalah Big Mac susun 2, 4 burger jadi satu! Tapi saya ga beli karena bakal mabok kekenyangan), lalu kemudian saya ke minimarket kampus buat beli adapter listrik lubang 3.

Noraknya… malam itu saya galau parah. Oke, lupakan soal ini… cukup tau clue nya aja.

Besoknya adalah momen yang gila. Pernah ga sih kalian terpikir jalan2 sama dosen saat nugas? Ya inilah momen yang saya alami! Tanggal 2 Oktober adalah hari Sabtu. Kami bertiga jalan2 ke Merlion dibawah langit biru dan cahaya matahari yang terik. Seenggaknya ditemani lagunya Miranda Cosgrove yang diputar di telinga saya pagi itu, “Raining Sunshine” (OST nya Cloudy With A Chance of Meatballs; film yang saya tonton pas saya di kamar, hari pertama ini). Sorenya, di social media, Plurk, di salah satu postingan rekan seangkatan saya, saya ketemu seorang gadis, adik kelas saya angkatan 2010. Lucunya, 2 bulan kemudian dia jadi pacar saya (sekarang mantan saya). Emang, kadang hal2 tak terduga bisa terjadi lho di hidup kita!

Besoknya, saya menemani ibu2 dosen ini ke Singapore Zoo. Cuacanya super lembab.

Crowned Stork

Ini adalah salah satu penghuni Singapore Zoo, African Crowned Stork. Hasil jepret sendiri.

Must-try menu? Coba Fish n’ Chip dan Sandwich di cafe mereka! Ah iya! Cobain jus di botol panjang yang aneh. Botolnya bisa disimpan buat suvenir lho!

Senin, 4 Oktober 2010. Penelitian dimulai! Untuk pertama kalinya, saya bertemu Prof. Chia. Hari pertama kami baru briefing dan di bawah bimbingan Prof. Chia, kami mulai menyentuh alat yang bernama particle gene gun (pistol partikel gen). Woohoo… ini sci-fi banget! Kerennya, alat ini dibuat atas spek permintaan Prof. Chia sendiri. Beda dengan gene gun konvensional yang menggunakan gas bertekanan tinggi, alat ini menggunakan mesiu sebagai sumber ledakan. Pelurunya? Serbuk tungsten (Wolfram, simbol tabel periodik W) yang tidak larut kemana2. Konsepnya sederhana, peluru direndam senyawa NMU dengan konsentrasi pengenceran yang sudah kami atur, lalu dimasukkan ke pelet nilon untuk ditembakkan ke atas jaringan tanaman dalam kondisi hampa udara (udara disedot pompa). Ternyata untuk penelitian saya memerlukan 500 tunas, karena 500 tunas lagi akan digunakan oleh Bu Totik dan Bu Any untuk percobaan mereka sendiri. Simpelnya, kami bekerja di 2 lab yang berbeda. 500 tunas ada di dalam sekitar 100-150 cawan petri plastik. Hari pertama secara personal saya memprediksi berapa jumlah optimal yang bisa saya kerjakan sehingga besoknya bisa saya tambah lagi eksekusi perlakuannya. Hari ini saya lakukan sekitar 20 penembakkan. Merasa mampu, besoknya saya naik hingga 30-35 penembakkan. Hari ini saya juga belajar bahwa di bawah bimbingan Bu Totik, saya makan 4 kali sehari: makan pagi, makan siang, makan sore, dan makan malam. Gratis sih… tapi makanannya di situ… gila2an. Alamat naik berat badan, ya… saya pun sepulangnya nambah 5 Kg dari 80 Kg jadi 85 Kg. Saya juga jadi tau bahwa Bu Totik itu jalannya cepat sekali. Bu Any pun setuju dan mengerti bahwa beliau yang lulusan Nagoya Daigaku (Meidai) ini melakukan semuanya dengan sangat cepat dan efisien. Perjalanan dari lab ke kantin NTU itu cukup menguras energi, karena perlu melewati tangga yang tinggi sekali di lorong.

Di Lab

Saya selama 5 hari itu. Di samping saya ada tabung “pistol partikel gen” itu. Dipotret Bu Any.

Selasa, 5 Oktober 2010. Masih sama dengan kuantitas penembakkan ditinggikan. Suasana di Lab of Molecular Genetics itu dingin dan sepi, saya pun memasang headphone. Pas makan siang, Prof. Chia ikut dengan kami untuk menunjukkan lokasi kantin yang jalannya “lebih manusiawi.” Percakapan seru terjadi…

TFC: Dr. Totik, do you know that there is a mycorrhiza that priced very expensive in this world?

TSM: What kind of mycorrhiza is it?

TFC: This mycorrhiza priced thousands of dollars for every kilograms!

TSM: Wow! What is it?

AW: *nimbrung mode: ON* Professor, is that mycorrhiza is truffle?

TFC: Correct! So you know about it, Adit?

Wow, I hit the jackpot! Pas makan siang kami jadi ngebahas jamur mikoriza legendaris bernama truffle ini dan tentang karya2 Prof. Chia lainnya. Ga nyangka, pengetahuan gw soal jamur ini dari game PS1 Harvest Moon kebawa ke sini. Sorenya di Hall of Residence 8.

TSM: Adit, nanti kamu ikut penelitian yang truffle ya…

AW: Wah, iya bu??

TSM: Iya, kamu kan ngerti soal jamur ini.

Wow… lagi… dapet proyek lagi… oke, saya ga mau komen soal ini.

Rabu, 6 Oktober 2010. Masih kayak kemarin. Malamnya si prof nraktir kami makan di Jurong Point. Makan dengan lengkap sampai makanan penutup, dan keliling2 untuk melihat hal2 unik. Si prof menjelaskannya ke kami di bagian jamu khas Cina.

Dinner w/ Prof

Makan Malam di Jurong Point. Kiri ke kanan: Prof. Chia, saya, Bu Any, Bu Totik.

Kamis sampai Jumat masih eksekusi perlakuan ke Aglaonema dan akhirnya selesai! Sembari mencari literatur pustaka skripsi dan menyusunnya, saya ingin menunjukkan kepada 2 dosen saya ini gimana rasa truffle itu. Akhirnya saya menemukan restoran bernama Spizza. Saya sudah pernah memesan sebelumnya di Indonesia dan tau bagaimana mengkustomisasi pesanan saya. Saya pesan yang mirip Pizza Margherita (cuma saus tomat), lalu saya minta extra black truffle ke atasnya. Truffle hitam ini sudah dihaluskan. Tapi rasanya yang unik, agak seperti keju ini masih terasa kuat.

Pizza Truffle

Truffle itu ada di bagian yang hitam itu. Foto oleh saya sendiri.

Selama weekend, saya menunjukkan pizza ini, ke Singapore Science Center (di sana saya sekaligus mencari oleh2 berupa Astronaut’s Ice Cream, coba cari di Google deh!) dan kemudian mencari oleh2 seperti coklat di Takashimaya bersama 2 ibu dosen ini. Mereka membeli sepatu, dan pas balik di Jurong Point, saya ngiri setengah mampus ketika Bu Totik beli iPad di depan saya!! Gyaaah!! Malam sebelum balik ini, lagu “For A Lifetime” nya Melee terdengar di headphone di mana laptop saya terhubung ke playlist tetangga saya. Hehehe…

Besoknya kami sebelum pulang mengambil kultur kami dan berfoto bareng di depan NIE-NTU…

Di Depan NIE

Dari Kiri ke Kanan: Saya, Prof. Chia, Bu Totik, Bu Any. Foto diambil oleh orang lewat yang kami minta tolong.

Saya pun dari Changi balik ke Jakarta (CGK) dan sampai rumah, ngedrop oleh2, terus naik travel ke Bandung untuk siap2 bimbingan lagi besoknya.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik kali ini:

  1. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita, khususnya di luar harapan yang berlebihan. Yang kita perlu lakukan adalah syukuri apa yang kita miliki dan berdoa sambil berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.
  2. Cintai ilmumu, maka ilmumu akan memberikan sesuatu kembali kepadamu.
  3. Banyak hal yang terjadi di luar persepsi kita. Ada orang yang pendiam, tapi ternyata baik. Oleh karena itu kita tidak boleh berburuk sangka. Dalam perjalanan kali ini, jujur saya melihat sisi Bu Totik yang orang2 lain jarang bisa lihat di kampus.
  4. Uang bukan segalanya, tapi uang adalah reward yang bisa diraih siapa saja selama mereka niat.

Sejak saat itupun, saya ga pernah ragu untuk terus mencari ilmu, melakukan penelitian2, dan bertanya kepada para ahli. Saya bersyukur sudah diberi pengalaman tak terlupakan seperti ini.

-AW-

Pizza adalah santapan Italia favorit saya yang paling enak kalo dimakan pas lagi ngumpul2, walau kadang2 saya makan sendiri. Biar greget gitu, hahaha. Dalam sejarah saya membeli pizza, bisa dibilang cukup banyak cerita yang saya lewati. Salah satunya adalah di Izzi Pizza.

Izzi Pizza saya akui kehebatannya di masa SMU saya dulu, sekitar tahun 2004-2005. Saya mengenal restoran ini dari iklan dan voucher yang disuguhkan dalam majalah televisi kabel. Untuk saat itu, saya mengakui sangat mengagumi restoran ini karena variasi dari pizza yang ada dengan topping yang beragam. Baru kali itu saya punya kesempatan membeli dan memakan langsung pizza dengan topping khas Italia dan Mediterrania lainnya seperti capersartichoke, anchovy, dan zaitun. Bahkan variasi kejunya sangat mantap! Saya akui, saya patut memberi resto ini bintang 4 setengah.

Tahun berganti, promo sudah ga ada lagi, keluarga saya mulai ga suka dengan harganya yang naik. Pernah kemudian saya penasaran ke sana pada tahun 2009 dan kaget bahwa variasi itu menurun drastis, bahkan harganya melambung tinggi. Pada saat itu juga, saya mendengar kabar bahwa ada restoran baru muncul yang namanya Pizza Marzano. Saya sempat mengunjunginya dan wow… jujur saya kaget bahwa rasanya 80-95% mirip dengan Izzi Pizza di awal2, bahkan beberapa jenis pizza yang sudah tidak ada di Izzi sekarang ada di sana.

Kemarin (5 Maret 2013), saya pun mencoba membeli pizza di Izzi Pizza lagi di cabang Pejaten (baru buka) setelah mendengar rumor bahwa resto ini banting harga dan menjual pizza-pasta dengan sangat murah karena (katanya) terancam bangkrut. Setelah ini, saya akan bercerita 2 hal: pertama adalah mengenai pelayanannya, kedua mengenai makanannya.

Untuk pelayanannya, saya jujur agak kecewa. Pertama, “mas2 manajer” datang dengan baju kaos, muka garang, dan kayak orang bingung. Saya awalnya mengira dia bukan siapa2. Lalu, setelah saya memesan, dia terlihat kurang yakin dalam menggunakan mesin gesek kartu untuk pembayaran dan karena itu saya diminta bayar dengan tunai. Ya, baiklah… kebetulan saya sudah mempersiapkan uang tunai. Saya memesan pizza Izzi Classico dan Beef n’ Izzi ukuran besar. Ngaconya, ga ada alat hitung seperti kasir yang digunakan untuk menghitung biaya total tercetak. Si manajer malah hampir bingung sendiri menghitung harganya. Saya pun menghitung dengan manual dalam otak, dan kemudian cuma beda Rp 2k kurang dengan hasil perhitungan kalkulator.

Sedihnya, mereka kehabisan jamur untuk Izzi Classico dan saya mengatakan bahwa itu tidak masalah, untung juga mereka mau menambah potongan daging sebagai gantinya. Yang lebih menyedihkan lagi, saya melihat mereka membuat garlic bread hanya dengan mengoleskan margarin dan bukan mentega di atas roti yang nampaknya sudah berumur di luar penyimpan (karena permukaannya agak terlihat keras dan alot). Oke, mungkin saya berburuk sangka dan mungkin itu adalah mentega (butter, bukan margarin) dengan bawang, soalnya saya ga liat sama sekali ada yang mengeluarkan bawang putih tumbuk atau segar untuk dicampur dengan mentega itu. Yang paling membuat saya kecewa adalah bagaimana mereka menyebut makanan pesanan pelanggan. Saya memesan fettuccine, dan mereka menyebutnya apa? Oke… maaf: Pecun (definisi Bahasa Indonesia: Pecun = PSK/Pekerja Seks Komersial). Hei! Kalo kalian mau menjual makanan, perlakukan makanan kalian sebagai barang berharga! Saya tahu makanan adalah hal yang biasa di pinggir jalan atau kalian tidak suka ama makanan2 di sini, cuma tolong ya… kalian pikir itu lucu saat kalian menyebutkannya di depan pelanggan? Ya… ada untungnya saya ga pake baju formal penuh, karena dengan seperti ini saya ga dianggap berduit dan tidak diprioritaskan; dianggap setara.

Setelah ini, peristiwa yang cukup komikal terjadi setelah seorang perempuan muda yang nampaknya pegawai di sekitar tempat itu dan berparas cantik, manis gitu, cukup lucu sih buat gw, hehehe. Jeda beberapa menit, pizza sudah mau jadi. Munculah percakapan yang kira2 seperti ini:

Chef 1: Eh udah mau jadi nih.

Chef 2: Mana dusnya??

Manajer: Eh iya2!

Chef 1: Ah lo bukannya nyiapin!

Alhasil dia pergi ke rak dus pizza yang agak tinggi dan letaknya ada di depan si mbak cantik (eaaa). Konyolnya, dus pizza ukuran besar ada di rak yang paling tinggi dan dia gak nyampe ke atas. Si mbak spontan ketawa kecil.

Manajer: Aduh, ga nyampe!

Saya: Sini mas saya bantu… *jinjit dan ngambil*

Manajer: *muka meme: Okay* Sip… makasih mas. 1 lagi ya…

Saya: Oke2…

Dengan saya jinjit dan sekali ngambil, si mbak makin ketawa. Gak lama kemudian semua makanan pun jadi. Saya pun membantu si chef 2 menutup kardus yang sudah berisi pizza. Lalu…

Saya: Mas, saosnya 3 aja ya… ga usah banyak2

Manajer: *ngebalikin saos, dan masukin 3 di masing2 dus*

Saya: Maksud saya 3 aja dari semuanya, mas

Mbak cantik: *ketawa kecil*

Manajer: *bingung sendiri* Eh, gw taro tali rafia di mana ya?? *jalan ke belakang, nyari2*

Saya: *muka nahan facepalm*

Daripada kelamaan, saya pikir pizza cukup mudah dibawa dengan kardusnya yang besar. Saya pun mengambil semuanya, dengan muka hampir menahan ketawa saya menoleh ke si mbak dan si mbak mau ketawa lagi pas saat saya jalan agak ngendap2 keluar. Si chef bilang ke manajer.

Chef 2: Eh udah ga usah, udah pergi tuh! Lo bilang makasih kek ama pelanggan ga mau nyusahin!

Sampai di motor, saya ketawa lepas. Aduh… ini tempat! Saya pun bergegas untuk pergi sambil membawa makanan pesanan saya tadi. Buat mas manajer, sori ya… saya kalo keliatan pengen pamer.

Oke, mengenai makanan. Saya takjub mengetahui bahwa harga pizza ukuran sedang dipatok harga Rp 24,9k (+ pajak = Rp 26k) dan ukuran besar Rp 29,9k (+ pajak = Rp 33k). Saya sedang lapar waktu itu dan kebetulan saya akan menginap di tempat teman saya Dwiki, jadi saya beli 2 pizza, 1 pasta (seharga Rp 19,9k atau Rp 22k plus pajak), dan 1 porsi garlic bread (roti bawang putih) seharga Rp 14,9k atau Rp 17k (plus pajak).

Mengenai rasa…

Izzi Classico Pizza

Izzi Classico

Izzi Classico, rasa sausnya oke. Tomatnya segar. Kejunya… gak yakin itu adalah mozzarella. Rasanya agak kuat dan tajam seperti parmesan… atau mungkin emmenthal? Yang saya kecewa cuma rasa sosis Italia itu gak segar. Rasanya gak jauh seperti sosis biasa yang ditaruh di dalam kulkas. Untungnya rasa itu itu cukup tersamar secara signifikan oleh rasa tomat dan keju. Peperoni nya rasanya kurang terasa.

Beef n' Izzi

Beef n’ Izzi

Untuk Beef n’ Izzi… soal rasa komponennya ga jauh beda ama dari di Izzi Classico. Sausnya… saus barbecue nya ntah kenapa kurang terasa pas.

Izzi Garlic Bread

Garlic Bread

Untuk makanan satu ini… rasanya aneh. Ga ada rasa bawangnya sama sekali. Udah nyangka sih setelah ngeliat si chef cuma ngolesin mentega dan terus ditaburin peterseli, bukan bawang putih. Roti yang saya rasa ini kayaknya adalah tipe focaccia kalo dilihat dari tekstur adonan roti dan bentuknya. Sayangnya, dugaan saya menyatakan bahwa roti ini tidak disimpan dengan baik sehingga rasanya agak apak. Ah sayang sih, menteganya udah cukup epic, salah satu mentega favorit saya. Dari aromanya, saya rasa itu mentega merk Elle n’ Vire yang wangi.

Fettuccine Con Funghi

Fettuccine con Funghi

Yang satu ini untungnya gak mengecewakan. Pasta kerasa al dente dan uniknya adalah rasa mentega (yang sama dengan di garlic bread itu) memancarkan rasa yang kuat dan jamurnya sendiri (jamur kancing) ntah bagaimana rasanya bisa keluar dengan kuat. Enak! Untuk roti di atasnya, mungkin kalau dikasih mentega dan tumbukan bawang putih bakal oke.

Yah… begitulah komentar saya. Sayang sih, saya melihat resto yang tadinya bintang 4 setengah jadi 2 setengah. Soal rasa okelah, pelayanannya yang kalo saya rasa mereka harus perbaiki jika mau maju. Tim di restoran yang baik, chef, manajer, dan pelayan seharusnya mengerti betul mengenai makanan di restoran itu, menghormati makanan mereka, dan bisa memberi senyuman yang santun kepada pembelinya. Semoga mereka bisa mengerti hal ini.

Tulisan ini… sekali lagi adalah ulasan saya dari pengalaman membeli di Izzi Pizza cabang Pejaten. Semoga yang lainnya bisa lebih baik dari ini karena sayang aja. Ini dulu termasuk restoran favorit saya dan saya harap namanya bisa bangkit menjadi lebih baik lagi di masa depan. 🙂

-AW-

Foto2 oleh: saya sendiri

Kamera thanks to: Ganesh Aji Wicaksono

8 Agustus 2012 lalu, hari itu merupakan hari yang…  cukup random. Semua berawal dari rage comic yang berasal dari sini

Baklava, Food of Gods

Judul: “Baklava, The Food of The Gods” (Baklava, Makanan Para Dewa)

Saya pertama kali mendengar nama “baklava” itu sebagai makanan yang dibuat salah seorang kontestan acara Junior Masterchef Australia Season 1 babak penyisihan 50 besar. Ga terlalu menonjol di mata saya untuk saat itu karena bentuknya yang kayak kue biasa. Semua berubah menjadi penasaran setelah melihat komik di atas. Ditambah sebuah obrolan antara saya dan teman saya Annisa Kurnia Maulida (Icha) lewat Twitter yang kira2 gini:

gw: Cha, lo kan pernah exchange ke Turki kan? Baklava itu gimana sih?

Icha: Oh itu enak banget! Lo harus nyoba Dit!!

Serius… segitunya??

Saya pun suatu hari di bulan puasa tahun lalu itu pun mencoba mencari tahu resto2 Turki yang kemungkinan menjual baklava. Kemudian ada 2, yang pertama kayaknya bener2 berkelas dan mahal banget, yang kedua mahal banget… tapi kayaknya masih terjangkau. Akhirnya ga lama setelah itupun gw mulai menyusun rencana buat beli itu… dibungkus… buat buka puasa like a boss!

Alhasil saya pun beranjak ke sebuah restoran khas Turki di daerah dekat Senopati, Jakarta Selatan yang bernama Turkuaz. Restoran itu cukup unik, karena saat itu (ntah pas bulan puasa aja atau emang seperti itu terus) restoran itu buka dari jam 11 sampai jam 2 siang, dan kemudian jam 5 sampai 11 malam atau sampai jam 12 malam kalau akhir pekan. Seperti yang saya lakukan dengan sahabat saya Rino, saya kadang punya hoki untuk menerobos sebuah restoran di luar jam bukanya… dan… berhasil! Waktu itu saya datang jam setengah 4 sore. Saya memang sengaja pergi jam segitu karena mengejar langsung makan buka puasa di rumah.

Sebenarnya alasan mereka mengizinkan saya masuk adalah karena saya hanya beli untuk dibawa pulang atau take away. Beruntung, saya menemukan baklava di menu mereka! Kemudian saya berpikir, nampaknya saya perlu beli 1 menu makanan manis khas Turki lainnya; biar sekalian gitu. Alhasil saya membeli baklava dan 1 makanan lagi yang namanya pistachio kadayif. Untuk membelinya, saya merogoh kocek total Rp 110rb (baklava sekitar Rp 55rb dan kadayif Rp 45rb). Setelah mereka usai memanggang keduanya, saya pulang lewat jalur TransJakarta koridor 9 dan transit ke koridor 6 di Kuningan Barat. Sial, antrian di Kuningan Timur (sisi lain halte Kuningan Barat) penuh sekali, ditambah bus dari Dukuh Atas selalu penuh! Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, dengan kata lain 1 jam kurang menuju adzan maghrib. Mengantisipasi situasi, saya pun akhirnya naik ojek  ke rumah (dengan harga Rp 40rb… sadis…).

Sesampainya di rumah, hanya jeda beberapa menit kemudian, adzan pun dikumandangkan. Setelah meneguk air segar, saya pun membuka bungkus makanan yang saya bawa…

Baklava (1)

Di balik bungkus: Baklava

Baklava (2)

Baklava: Diperbesar

Saya pun ngiler… Melihat baklava yang ukurannya mini itu (sial, kirain besar!), terlihat renyah sekali, isi yang nampaknya enak dengan taburan kacang pistachio yang menggoda nurani (lebay). Saya pun mengambil satu tanpa berpikir panjang dan menggigitnya. HMMMMMHHH!! Saya nggak bohong, ini enak banget!! Kerenyahan lapisan pate phyllo yang bersambung dengan manisnya campuran kacang pistachio dan kacang tanah (kayaknya, soalnya kerasa gitu dan baklava itu isinya campuran kacang) itu benar2 membuat ketagihan! Sayang sekali… cuma ada 3. Yaaah… Sekedar info, baklava itu harusnya diberi air gula, tapi ini nampaknya antara sudah dituang sebelumnya, dikuaskan ke atas phyllo nya saat dipanggang, atau dicampur ke isinya. Yang jelas terasa lengket saat dipegang, cuma nggak basah banget.

Akhirnya saya pun membuka bungkusan kedua…

Kadayif (1)

Pistachio Kadayif: Setelah bungkus dibuka.

Hah… ini apa? Ini kayak parutan kelapa yang kering dan dipanggang. Penjelasannya sih ini phyllo pastry yang diremukkan. Penasaran, saya pun membuka bagian dalamnya dengan sendok. Terlihat ada lapisan yang terbuat dari kacang pistachio yang ditumbuk halus.

Kadayif (2)

Pistachio Kadayif: Setelah dibuka dengan sendok.

Penasaran, saya pun langsung mengarahkan sendok yang penuh dengan kadayif itu ke dalam mulut saya. Pertama2 rasanya kering dan tidak terlalu manis. Tapi jika kita biarkan agak lama di mulut, rasa manis (yang entah kenapa rasanya kayak kelapa) dan pistachio pun baru keluar perlahan dan memberikan rasa yang unik untuk saya. Untuk menghabiskannya, saya butuh minum beberapa kali karena rasanya kering sekali.

Tak lama kemudian, kedua makanan buka puasa saya yang wah ini pun habis. Lumayan… lain kali saya perlu nyoba yang lain kalau ada rezeki! Ada rekomendasi, pembaca sekalian? Tulis di komentar!

-AW-

Sumber gambar:

Baklava & Kadayif: Dokumentasi pribadi

Rage comic: http://ragecomics.com/c/8xik/baklava-the-food-of-the-gods

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life