Skip navigation

Tag Archives: komunitas

Mungkin di blog ini, sebelumnya… saya pernah membahas mengenai komunitas ini. Kali ini, saya akan bercerita lebih jelas tentangnya.

XBI Icon

Logo kami. Dibuat dengan sangat berkonsep oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Selama setahun ke belakang, banyak orang bertanya mengenai kami: Siapa sih kami? Apa visi kami? Nope… kami bukan komunitas yang saya bangun untuk menguasai dunia. Ya mungkin itu rencana sampingan (hehehe…) tapi bukan, menguasai dunia SAJA itu bukan agenda kami. Nama kami mungkin di beberapa orang yang mendengar emang agak ambigu. Xenos dalam bahasa Yunani artinya asing, bios artinya kehidupan. Visi awal kami memang berkutat pada pembuatan dan pencarian kehidupan2 yang tidak kita kenal. Tapi sekarang visi kami adalah mencari persepsi2 lain atas fenomena yang terjadi di dunia sains, khususnya biologi. Kita memandang sesuatu dari kacamata positif: Semua itu ada, karena susuatu yang tiada atau fiksional adalah ide yang belum terwujud atau sebenarnya terjadi di lini waktu semesta yang lain. Bingung? Bayangkan seolah semesta itu ga cuma satu. Ada semesta lain di mana api itu dingin, air mengalir ke atas, air itu menyalakan api, manusia itu berasal dari nenek moyang dinosaurus bukan primata, dan lain2. Kita kadang mengkotak2kan imajinasi dengan logika. Maka visi kami yang lain adalah menjembatani keduanya, dan kemudian berbagi ilmu atas “temuan” kami setelah kami “bertapa” di “kotak imajinasi” kami.

“Kalian gila ya?”

Mungkin ya… mungkin ngga. Dari kacamata siapa dulu? Konsep2 kami memang di luar konsep yang sebelumnya dianggap normal. Kami rela dianggap gila, cuma kalian harus tau apa itu gila dan kenapa kami senang dianggap beda.

Oke, saya ga mau cerita teknis atau kampanye. Kalian mau masuk sini? Itu urusan kalian dengan kami (khususnya saya) nanti ya.

Dari Ensiklo ke Xenocerebral ke Xenobiota

Waktu saya berumur 10 tahun, saya sudah merasa sok2an menjadi ilmuwan cilik. Saya sering eksperimen dengan tumbuhan dan saya suka sekali baca buku. Apalagi buku bergambar, saya orangnya visual kinestetika soalnya. Waktu itu saya punya teman2 di kelas 4 SD itu, saya akui… sejak dulu saya punya passion berlebih soal sains, dan saya suka ngebawa teman2 saya ke arah yang sama. Kelas 4, saya dan “geng” saya, hobi menggali tanah di sekolah… buat cari undur2 di pasir (larva dari serangga keluarga Myrmeleontidae) dan berharap menemukan kapak batu jaman Megalithikum di tanah.

axes-stones

Kapak batu (sumber gambar: geology.lnu.edu.ua)

Di ruang belajar saya waktu itu, saya kemudian membayangkan saya bisa menjadi ketua dari negara yang berjalan dengan azas sains yang saya namakan Ensiklo. Karena kemudian saya hidup pindah ke kota2 lain karena bapak urusan kerja, saya pun mengubur mimpi soal Ensiklo, karena dasarnya hanya sayalah yang memegangnya… teman2 saya ntah apapun yang mereka pikirkan tentang ide itu.

Waktu berjalan di masa akhir kuliah S1… saya memasang pseudonim diri saya, Xenocerebral. Entah, menulis nama dengan huruf X itu rasanya… keren! Akhirnya pseudonim ini menjadi “alter ego” saya di dunia maya. Nama itu sendiri artinya “otak yang asing”. Sekali lagi, saya suka dengan sains… apalagi sesuatu yang ga konvensional, ga umum. Lantas saya suka xenobiologi, dan astrobiologi.

Kemudian saya S2. Ide berawal dari bagaimana anak2 di biologi UGM di Yogya dengan kreatifnya membangun komunitas sains bernama SynBio UGM. Saya merasa… membangun komunitas di Yogya itu adalah ide bagus karena atmosfernya sangat ramah dan kondusif untuk berkumpul. Menumpang eksis dengan bantuan acara SynBio waktu itu, saya pun memperkenalkan konsep komunitas ini. Awalnya saya menyebut “Project Xenocerebral: Xenobiota”. Sounds badass, eh? Selesai saya bahas ide di depan bocah2 biologi UGM ini akhir tahun 2014, kami pun mengadakan kumpul perdana.

Untitled-1

Poster buat ngumpul. Masih pake logo Xenocerebral.

Dengan mimpi dan ide2, yang kadang anak2 ini pun masih rada bingung, sebelum presentasi SynBio UGM, saya nekat membuat grup dan setelah presentasi saya mengundang anak2 mahasiswa ini. Mereka yang awal di grup… ada Arfan (Biologi UB Malang 2012), Putri (Budidaya Pertanian UGM 2011), Agha (alumni Biologi UI 2008)… adalah mereka yang saya percaya berpotensi sebagai pemegang inti dari komunitas ini karena… Arfan, saya tau dia suka ide2 gila, Putri, dia saya anggap adik sendiri dan murid sendiri… saya banyak menanamkan ilmu ke kepala dia, dan Agha, dia adalah biang dari ilmu2 aneh di kepala saya, mulai dari biologi spekulatif sampai astrobiologi dari sejak saya lulus SMU. Setelah saya umumkan, mereka datang satu per satu ke grup sebelum grup ini saya jadikan grup tertutup… Ghea (Biologi UGM 2012), Nana (Biologi UGM 2012), Sahal (Biologi UGM 2013), Annisa Resa, Iim, Elory, Ahmad (Biologi UGM 2014). Dengan juga saya masukkan Sanka dan Nuha (Biologi UGM 2010) ke dalamnya biar rame…

Maka dengan segala casciscus yang saya keluarkan hari itu… tanggal 20 Februari 2015, Xenobiota pun lahir!

Soal logo… konsep gabungan DNA organik dan DNA sintetik itupun dirancang oleh Iman, kami pun sepakat menjadikannya logo yang kami banggakan. Oh iya, ga lama setelah kami berdiri… 1 anak dari jurusan Elektronika dan Instrumen angkatan 2013, Jaler… pun masuk. Dia satu2nya “gadgeteer” di komunitas ini.

Perjalanan Dimulai

Awalnya, kami hanyalah penebar konsep. Bahasan di dalam grup ga lebih dari sharing paper2 berbau astrobiologi, xenobiologi molekuler (tentang XNA dan asam nukleat ortogonal lainnya), biologi spekulatif, dan semacamnya. Saya ingat betul, hanya beberapa orang2 ini yang merespons, namun saya pada mereka yang secara rutin nongol buat komentar maupun cuma nge-like. Sistem kami waktu itu adalah “institusi bawah tanah” (apa coba) yah… anggap aja semacam “mock” dari Area 51. Maka secara konsep, tempat di mana kami berkumpul dan membahas ide2 gila, kami menamainya “Xenobiota Institute”. Namun istilah itu kami simpan hanya untuk kami, kenapa? Takut dianggap institusi ilegal dan ntar bayar ini itu, sama kedua… kepanjangan!

Capek dengan ngomongin konsep melulu… saya pun memutar otak. Saya mengundang mereka ke lab saya ketika saya mengerjakan tesis… waktu itu saya kemudian mengajarkan “workshop kilat” cara ekstraksi RNA, pembuatan cDNA, dan reaksi berantai polimerase (EN: Polymerase Chain Reaction, PCR). Ternyata seru! Ngeliat mereka2 ini senang, bisa mendapatkan ilmu baru, dan menyusup ke lab Pemuliaan Tanaman dan Genetika FAPERTA UGM di hari Sabtu itu sangat seru! Rasa puas ditambah… karena TIDAK semua orang di sini mendapatkan kesempatan bermain di lab untuk ekstraksi RNA. Alasan? Mahal! Saya kemudian merasa pendanaan pendidikan di universitas2 di Indonesia itu ga rata banget. Ketika di suatu institusi proyek sangat kencang, mendirikan iGEM adalah hal mudah, di sisi lain… jangankan menyentuh konsep biologi sintetika, ekstraksi gen aja adalah pekerjaan yang wah buat beberapa kalangan! Di UGM ini, ekstraksi RNA adalah kerjaan lab yang cukup elit… bahkan buat saya. Di ITB pas S1, ekstraksi RNA itu udah bagian dari praktikum rutin! Di sini… kerasa, ngekstrak 1 sampel itu saya harus merogoh kocek Rp 150 ribu… 50 untuk ekstrak RNA, 100 untuk pembuatan cDNA dengan enzim transkriptase balik. Tapi bersyukur, ilmu2 dari ITB itu bisa saya bawa ke sini… saya pun jadi suka pas ke ITB mengambil bahan2 kuliah dari dosen dan membagikannya ke anak2 Xeno (red: Xenobiota… biar gampang nyebutnya). Saya sebut, Protokol Prometheus. Dari Titan/Dewa Primordia Yunani yang membagikan api pengetahuan ke manusia pertama.

Lagi… saya senang melihat mereka tersenyum…

IMG_2813

Yeah… dengan ekstra duckface dari Elory…

Awalnya, saya agak pusing ketika dosen pembimbing saya menambahkan saya kerjaan buat ekstrak RNA… awalnya saya kesal kenapa ketika saya lulus ITB, biologi sintetika masuk di sana… awalnya saya bingung, kenapa biologi sintetika itu HARUS jadi iGEM…

Ternyata… everything leads to some reasons… including why I am standing here

IMG_3088

Kita pun makin rame…

Dengan “sok2an” mendirikan divisi yang kami sebut departemen yang terbagi jadi (dengan bahasa yang lebih manusiawi) biologi molekuler (kode: MXSB), bioteknologi dan postbiology sibernetika (ABPB), astrobiologi dan biologi antariksa (ABSB), biologi spekulatif (AXSB), dan proyek rahasia/kerjaan sektor X kami (MTTM), kami mulai berjalan dengan melakukan riset sederhana dengan bahan2 seadanya/konsep DIY (Do-It-Yourself) science dan biohacking (ngotak-atik materi biologi dengan bahan seadanya dan lab secukupnya… agak life hack untuk biologi). Personel kita bertambah 2 orang yang punya kekuatan ilmu yang unik, astrobiologi, bidang yang ga semua orang punya di UGM… mereka adalah Bintang dan Tius (Biologi UGM 2013). Dunia kami pun semakin luas dengan Misbah (Biologi ITS 2012) bergabung, dan Rifa (Neurosains Surya University 2014) juga bergabung. Sayangnya, hingga tulisan ini saya terbitkan, kami belum sempat banyak membuat proyek. Karena kami agak kesulitan gerak di luar UGM.

Saat itu… semua keran ide dibuka selebar2nya… lebih lebar dari mulut saya ketika makan Quad Burger (burger dengan 4 daging)… (apa sih Dit). Saking ngalirnya… khususnya dengan tuntutan buat batere tanah dari Sahal dan Ghifi (Mikro Pertanian UGM 2011) dan Arfan yang mulai ngasih ide terus tapi ga tau mau gimana mulainya… saya mulai garuk2 kepala. Ini juga yang kemudian ngebuat saya agak nutup diri beberapa jam dari Arfan. It’s likeI want to escape for a while… and can we talk ANYTHING but this first? I need a break.

Saya tau… akhirnya saya pun berusaha jalan pelan2…

Akhirnya proyek pertama kami… batere tanah (Soil Battery) yang berbasis sel bahan bakar mikrobia pun berjalan. Bagannya cuma tanah sawah yang gelap dan hangat (jangan tertukar sama kotoran sapi yang masih segar ya), pelat tembaga, pelat seng, toples, dan kabel. Oh ya… multimeter untuk mengukur. Konsepnya adalah pemanfaatan aliran elektron akibat reaksi redoks yang dilakukan mikroba tanah dan menjadi sumber listrik. Di jurnal, hanya 700 mV listrik yang dihasilkan…

Kami berhasil menghasilkan 1 V!! Cuma dari tanah! Mau liat bahasan lengkapnya, klik sini.

IMG_3206

Sedang dirakit…

Proyek kedua… ekstraksi DNA skala lab itu adalah kerjaan yang lumayan mahal! Bahkan dengan penggunaan protokol CTAB aja, saya menghabiskan Rp 50rb per sampel… sementara untuk tesis saya habis juga untuk proses trial and error sampai 80an sampel! Hampir di beberapa universitas yang mengajarkan biologi, ada protokol standar untuk ekstraksi DNA: Menggunakan sabun… iya, sabun! Tapi awalnya pertanyaan kami, terus gimana? Bisa ga hasil ekstraksi dengan sabun ini dipakai buat PCR? Karena kalau iya… ini bakal murah banget!

IMG_3822

Hasil ekstraksi DNA dari biji jagung… klik untuk memperbesar, itu yang putih2 itu adalah pita2 DNA yang terkompresi.

Ternyata jawabannya: BISA!

Waktu itu awalnya yang mengerjakan adalah saya, Ghea, Resa, Nana, Eka, percobaan pertama gagal… hal ini terjadi akibat inhibisi alkohol pada proses enzimatik ketika PCR. Akhirnya besoknya, saya mengulang prosedurnya… melibatkan pengeringan dan juga pemanasan yang tujuannya merusak adanya DNA nuklease/DNAse yang bisa saja ada pada suhu tinggi. Kemudian saya menambahkan satu bahan lagi… yang ternyata mahal… DNA hexamer primer.

Secara logika, jika heksamer ditambah, harusnya ada kemungkinan heksamer menempel secara acak dan membantu penggandaan/penyalinan DNA ketika PCR. Dengan primer STS ZmSh1 (Zea mays Shrunken1 – Gen pengkode enzim pada proses biosintesis sukrosa-pati, sukrosa sintase), ternyata kami dapat DNA nya dan bisa di PCR-kan!

11659347_1458154301169943_2677078233065035844_n

Ada pitanya lah ya… dan di DNA mentah, ternyata tanpa pemanasan… DNA jadi lebih pendek, diduga kena DNAse. Prosedurnya? Klik sini.

Bravo! Inilah tim kami…

IMG_3828

Abaikan yang depan…

Selama kerja… saya banyak memutar otak (buat nyari ide2 alternatif dan tambahan) bareng Ghea. Kami pengen, hanya dengan bahan2 seadanya dan pengerjaan singkat ini, kami bisa dapat banyak hal. Ekstrimnya dalam pengerjaan ini, kami bertapa di hari Sabtu di lab… sampai di taraf kami berdua kena omel Mbak Mus yang mau pakai mesin PCR. Yah, itu suatu cerita 🙂

Kemudian, penelitian DNA ini pun disempurnakan lagi datanya oleh Putri yang mencoba dengan variasi2 sabun, mulai sabun mandi, shampo, sampe sabun pel… protokolnya mirip, dan hasil bisa dilihat di sini.

Sebenarnya apa sih tujuan akhirnya? Kami ingin… kita bisa mengambil DNA dan memanipulasinya di manapun kita berada dengan cara yang mudah. Kalau perlu suatu saat kita bisa rekayasa genetika tanpa harus di lab atau kalo perlu bermain biologi sintetika. Ide ini… saya sebut “Gene Sorcery Protocol”.

Lalu… kami punya maskot baru: BAWANG bernama Onionie dengan nama akrab Dr. Onie.

XB - Happy Ied Mubarak

Versi Idul Fitri!

Kenapa bawang? Karena bawang berlapis2… seolah menyimpan rahasia. Awalnya ide ini gara2 saya sama Ghea sering ngomongin Deep Web yang menggunakan domain .onion yang hanya bisa dibuka dengan Tor. Kami berdua menduga bahwa ada informasi2 psycho atau gila tersembunyi di sana karena Deep Web identik dengan transaksi ilegal, organisasi kriminal, dan lain2… bahkan mungkin, ada konspirasi tersimpan di dalamnya. Sejaun ini sih… ternyata Deep Web cuma tempat pedofil ngumpul dan web nya banyak yang mati. Jadi… yah… krik2… Cuma, kami pun tetap mengidolakan bawang!

Hingga terpikir, buat kami membayangkan jika… kita mengambil listrik dari sumber makhluk hidup, tanpa membunuhnya… konsep ini diasumsikan menyempurnakan batere kentang dan lemon. Untuk itu, kami menggunakan: BAWANG! Kenapa? Bawang berlapis2, asumsinya dia akan cukup terpartisi sehingga jika 1 bagian dilukai, yang lain akan tetap hidup.

IMG_4178

3 bawang dalam rangkaian seri… 542 milivolt, lumayan!

20150728133318

…dan yang paling penting, bawangnya tumbuh!

Kami pun berpikir lebih jauh…

86551

Kami coba di talas…

11950303_10204753184821362_1137679172696712835_o

…di batang singkong…

105960

…pohon…

IMG_5403

…pohon di kuburan…

IMG_5404

…dan pohon yang dianggap keramat (di sini pohon beringin).

Apa yang kita inginkan?

  1. Cukup dengan kutipan kata “Sayang sekali pohon tidak menghasilkan wifi, hanya oksigen”. Ya benar, terus kita ga ngapa2in? Proyek bioelektrik ini bertujuan biar bagaimana kita mengambil listrik dari tumbuhan, sehingga nanti kita bisa pakai dari sumber ini untuk wifi, charger gadget, sampai lampu atau alat2 lain! Ini adalah bahan murah!
  2. Kenapa dengan kuburan dan pohon keramat? Pohon yang dikeramatkan diasumsikan memiliki “energi lebih besar”, secara hipotetikal pun mereka tidak ada yang berani ganggu… maka bagaimana mereka tumbuh dan menyerap nutrisi mereka akan optimal, asumsinya… listriknya akan lebih besar yang didapat. Ternyata sama juga sih sama pohon di luar kuburan.

Untuk proyek listrik ini, saya berterima kasih banget sama Jaler, Sahal, dan Ghifi (untuk yang batere tanah). Tanpa mereka, ide2 gila ini ga bakal jalan!

Suatu ketika, saya juga mulai berpikir untuk memperkenalkan tentang astronomi dan astrobiologi ke mereka. Dengan bantuan Bintang, malam itu ada Jaler, Ahmad, dan Ghea juga, kami belajar bagaimana mengetahui posisi mata angin dengan melihat bintang, identifikasi bintang umum dan konstelasi di langit, kemudian barulah saya ajarkan soal eksoplanet atau planet2 di luar tata surya, DAN kemungkinan ada tidaknya kehidupan di sana dengan kajian astrobiologi. Cukup “romantis” karena malam minggu kami semua menatap langit yang sama… *tsaaah*

Kemudian kompleksitas komunitas ini bertambah dengan masuknya guru (muda) saya yang mengajarkan saya Bahasa Jepang dan konsep semiotika bahasa, Rizki Mustafa Arisun (Sastra Jepang S2 UI 2012). Lengkap deh segala bahan2 kegilaan di sini!

Setelah 1 semester berkarya, kemudian kami memutuskan untuk “tur” ke 2 kota. Pertama: Makassar. Kampung halaman Ghea, Arfan, dan Ahmad. Kebetulan Arfan dan Ghea lagi pulang, saya ajak mereka ke Universitas Hasanudin.

IMG_4500

Lagi… abaikan yang depan…

Kami bertemu 4 mahasiswi dari sana dan kami sharing apa yang kami dapatkan. Ternyata di UNHAS mereka baru merintis perkembangan biologi molekuler. Kami juga bertemu Ibu Zaraswati Dwyana dan ngobrol2, serta kami berkata kalau kami diminta untuk mengajar atau sharing ilmu2 ini, kami siap.

Sebulan kemudian saya lulus S2.

Sebulan setelahnya… saya ke Bengkulu, ke tanah Rafflesia. Saya bertemu 3 anak Rekayasa Kehutanan SITH-R ITB 2012 dan 2013 yang 2 tertarik dengan Xenobiota, mereka adalah Reza, Shandy, dan Wahyu… berempat, kami ikut simposium internasional!

IMG_0649

Dari kiri: Wahyu, Reza, saya, Shandy.

IMG_0703

Saya, Reza, Wahyu, Shandy. Momen di mana saya seolah jadi dosen.

Di sini, kami berburu informasi mengenai puspa langka Indonesia: Rafflesia, hingga kami menemui para ahli Rafflesia: Bu Sofi Mursidawati, Pak Agus Susatya, Pak Edhi Sandra, dan Pak Jamili Nais. Alhamdulillah, di waktu yang sama… publikasi saya tentang Rafflesia pun TERBIT! Ini akan menjadi awal perkembangan bioteknologi Rafflesia yang sangat saya ingin mulai di Indonesia! Cuma yah, saya belum sempat bertemu lagi dengan mereka bertiga di Bandung/Jatinangor dan berbicara tentang ide2 gila seperti sama mereka yang di Yogya.

Perjalanan kami mencapai puncak pertama ketika kami bertemu dengan seorang MVP dari Hackteria Swiss, Dr. Marc R. Dusseiller yang bersamaan, kami nimbrung di acara yang dibuat oleh Bio-Faction, Austria di bawah Dr. Markus Schmidt (yap… orang yang di artikel2 sebelumnya saya sering sebut karena menjadi penulis ide tentang biologi sintetika dan xenobiologi serta XNA) dan koordinasi dengan Asisten Profesor dari NUS, Dr. Denisa Kera, acara itu… BIO-FICTION. Saya berbagi hasil2 penelitian kami mulai dari yang kami benar2 lakukan… hingga spekulatif…

XBI - AXSB - Aerohydrozoan XBI - AXSB - Zephyrophyta

Aerobiota adalah konsep jika di Jupiter ada kehidupan yang terbang, dan Zephyrophyta adalah konsep tumbuhan Kinetoautotrof.

Kemudian kami juga nonton pagelaran film pendek berisi konsep2 sains dan seni yang diputar di Vienna tahun 2014 lalu.

12036503_10207963089341884_9035770172877409003_n

Kerjasama dengan Hackteria Swiss, SynBio UGM, Permahami, dan BioArtNergy UGM.

“It’s just the very first page, not where the storyline ends” – Taylor Swift, lagu “Enchanted” di album “Speak Now”

Saya kehabisan kata2, karena tanpa dirasa… mereka telah menjadi bagian perjalanan saya di Yogya. Awalnya, saya semua serba sendiri dan berbicara sama teman2 S2, semua rasanya beda karena kita sama dewasa dan bahkan ada yang lebih dewasa dari saya. Sering saya pulang ke Jakarta karena kangen rumah. Setelah ketemu mereka, saya merasa nyaman di Yogya karena saya ngerasa punya orang2 yang begitu dekat dengan perjalanan hidup saya.

11391628_10153354406657154_3433753271932713027_n

Ketika saya seminar hasil tesis… Ghea dan Jaler pun dateng…

11800559_10153487524757154_3269875455344985594_n

Pas saya wisuda, Sahal dan Jaler pun dateng (lagi).

Saya bakal pergi buat S3 di Finlandia, mungkin saya meniggalkan mereka2 ini. Orang2 pada mikir, saya pergi… mereka gimana? Nggak… kami ga pecah. Buat saya, Xenobiota itu bukan cuma komunitas, tapi keluarga. Mereka berhasil memberikan sesuatu yang membuat saya merasa sangat dekat dengan mereka hingga saat ini. Dari Xenobiota komunitas GAMA Biosintetika di bawah Sahal pun lahir, dan koordinasi kami dengan UB, ITS, dan ITB pun masih baru dimulai.

Namun gimana kalau suatu saat setelah saya pergi pergerakan kami berhenti? Protokol Kapsul Bakteria. Saya akan membuat sistem inti tetap ada, komunikasi tetap ada, mau ada anggota baru… saya tahan kecuali mereka rela jadi spektator atau mau memberikan sumbangan ide dan mau melakukannya. Saya sendiri membuat mereka… angkatan pertama Xenobiota sebagai benih2, yang saya harap akan tumbuh ke manapun mereka akan pergi nantinya setelah lulus. Kami akan tetap membangun jaringan dari satu tempat ke tempat lain, satu institusi ke institusi lain. Kami ingin belajar ilmu yang saat ini kami hanya mendengarnya sayup2 dari berita dan buku.

Buat saya…

Dari Xenobiota, saya mendapatkan mereka yang saya anggap keluarga. Mereka yang saya anggap adik. Dan mereka yang saya anggap dekat.

Untuk kalian…

Biar saya pergi, tolong bawa nama Xenobiota sebagai atribut kalian. Saya ingin ketika kalian berhasil S2 ke luar negeri atau suatu saat jadi pendidik di daerah2, saya bisa menengok kalian dan kita berkolaborasi lagi dengan penelitian lebih seru lagi. Mimpi saya adalah melihat kalian berdiri sebagai orang2 yang penting dan berkontribusi untuk kemajuan sains dan seni di Indonesia dan dunia, menjadi orang yang membuka mata atas kemurnian sains, dan menjadi orang yang selalu menumbuhkan bibit rasa keingintahuan pada generasi selanjutnya. Doa saya, kalian bisa lanjut pendidikan kalian setinggi2nya, dan yuk… kita ketemu bareng di puncak dunia dan jadi inspirator… 🙂

-AW-

Iklan
Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life