Skip navigation

Tag Archives: cerita

Ada banyak makanan2 unik di luar sana. Mulai dari pas saya bocah waktu itu makan ikan pari, pas saya mulai menjadi food blogger, hingga hari ini… di saat saya sudah berkelana 10 ribu kilometer ke Finlandia dan mencicipi sesuatu yang unik sampai sesuatu yang bisa kita sebut premium. Ada satu bahan makanan yang buat saya selalu punya tempat tersendiri di hati: jamur. Ah jamur doang, apa serunya sih? Bukan jamur doang, bukan sekedar soal jamurnya, tapi soal apa yang di dalam jamur itu.

Mengingat masa kecil, saya yang hobi banget main video game PS berjudul Harvest Moon, ada satu jamur yang menarik perhatian buat saya, jamur bernama truffle.

truffle-hm

Ini dari bentuknya, bukan truffle. Ini matsutake, jamur yang juga mahal. Ntah siapa yang nerjemahin jadi gitu!

Jamur ini memiliki nilai jual yang tinggi di game ini lho. Saya tumbuh dan masih bertanya2 itu apa. Hingga dekade 2000an akhir, baru saya tahu seberapa besar nilai jamur ini! Jamur ini per 1 kilogram bisa laku 3000 dolar Amerika hingga 30000 untuk truffle putih! Saya bersyukur udah beberapa kali nyicip. Sebagai topping pizza, tambahan buat kentang goreng, sampai IRISAN LANGSUNG di atas pasta. Emang, kenyataannya jamur ini emang spesial. Punya rasa yang mirip keju, telur, dan kadang bawang putih dengan tekstur agak keras kayak keju yang kering. Saya beberapa kali kepikiran gimana cara menanam jamur ini, sempat saya diajak di proyek penanaman jamur ini tapi sayangnya ga berlanjut.

Beberapa hari lalu (Jumat lalu, 23 Desember 2016)…

truffle-rino

Makjang… truffle all you can take!

Teman saya, Rino, pamer foto ketika dia makan di buffet salah satu hotel di Jakarta dan dia nyomot truffle. Truffle hitam… ntah, harusnya ini truffle hitam Perigord dari Perancis (Tuber melanosporum) yang satu kilogram nya 3000 dolar itu.

Buffet

Buffet

Buffet

Ya… kalian ga salah liat, buffet. Terus dia nanya, mendingan diapain. Saya bilang kalo saya bisa kultur pake media agar kentang dekstrosa (Potato Dextrose Agar, PDA), terus ditransfer ke pohon inang. Ya! Logikanya segampang itu kan?? Kita berhasil nantinya dan kita bisa kaya!! Saya pun akhirnya minta ama Rino… dan dikasih :v

truffle

Di atas tisu, sebelum dibungkus

Hmmm… saya mending buat PDA langsung atau saya ngontak Pak Nyoman ya… itu pikiran saya waktu itu. Pak Nyoman, Dr. Nyoman Pugeg Aryantha adalah dosen mikologi di ITB, dosen saya dan saat ini dekan SITH ITB. Kalau saya buat PDA, saya seenggaknya bisa mengkultur dan yang saya perlu lakukan tinggal nyari pohon yang pas, tapi itu peluangnya 50%… Kalau saya kirim ke Pak Nyoman, beliau pasti tahu apa yang harus dilakukan dong, cuma gimana ngirim ke Bandung? Di sisi lain, Rino bilang kalo dia mau investasi dana kalau emang bisa… kalo emang bisa…

Kalo pake JNE, berapa lama? Oke, akhirnya saya kirim chat WhatsApp ke beliau…

Saya: Assalamu’alaikum pak, maaf mengganggu. Saya dan teman saya di jakarta dapat “sampel segar” (truffle, foto di atas) ini pak di hotel. Sebaiknya di apakan ya pak?

(4 jam lebih kemudian)

Pak Nyoman: Wow fresh truffle… wah nothing we can do. Walau bisa mengisolasi, dia butuh tanaman inang sub temperata dan iklim juga tidak bisa di tropis

Saya: Kita tidak bisa pakai spesies analog di tropis pak?

PN: Climate juga tidak cocok

Saya: Truffle butuh dormansi ya pak?

PN: Iya sebagai umumnya ascomycete perlu masa dorman sclerotium

Kalo ahlinya sendiri udah ngomong gini dengan detail (beda ama kasus Rafflesia dulu karena soal teknis yang belum banyak, ini udah lebih banyak diketahui… apalagi truffle itu mikoriza), saya pun bingung mau apa. Terus saya ke dapur dan untuk buat PDA aja ga ada wadahnya (mana dapur saya jorok pula). Akhirnya saya memilih buat diamkan jamurnya dulu di dalam lipatan tisu, dan dimasukkan lagi dalam botol selai berisi beras kering yang udah saya sterilkan di oven microwave.

Empat hari kemudian…

Saya buka botol selainya… dan UDAH BAU TRUFFLE. Buset! Berapa banyak senyawa aromatik jamur ini?? Awalnya saya mengira kalo bau truffle ini hanya bisa menyebar lewat perantara cairan atau kontak langsung, yang menjelaskan bagaimana dalam jumlah sedikit aja dia bisa memberi aroma dan rasa ke makanan, atau buat menginfusi minyak zaitun satu botol (dengan potongan kecil aja). Tapi ternyata ini aromanya kuat banget sampe satu botol, sampe beras2nya, dan tisu2nya jadi bau truffle! (Wah anjir… beras terinfusi truffle ini bisa saya jual berapa ya??)

truffle-rice-flea

Bahkan kutu berasnya pun kena… yak, kutu seharga Rp 100 ribu!

Terus saya buka tisunya… sial! Udah mulai ada miselium jamur! Wah gawat!!

Akhirnya saya ambil yang tersisa dan belum jamuran, saya ambil minyak zaitun di dapur dan saya cemplungkan truffle nya ke sana.

truffle-oil

Minyak truffle… modal 70rb (minyaknya doang, truffle kan dikasih), untuk ngebuat benda 500rb!

Terus saya buka hari ini (tanggal 27 Desember 2016), wew! Minyaknya udah wangi truffle! Serius, berapa banyak senyawa aromatik di jamur ini??

…dan gimana kondisi jamur itu sendiri?

img_9397

Yha……

Ummmm… saya harus apa nih?? Saya harus apa?? SAYA HARUS A…… oke tenang2… mari kita buat medium PDA dadakan!

img_9398

Sugar, potato, and everything nice…

Oke, potong kentang, gula sedikit, air panas… rendam, tusuk2 kentangnya, tuang ke botol… oke, ga ada agar, jadilah kaldu kentang dekstrosa (Potato Dextrose Broth, PDB) versi dadakan!

img_9399

Masukkan potongan jamurnya!

Ummmm… yah… ntah lah…

(Bakal di update!)

-AW-

I can’t believe it, it’s almost there! After all the time passed, the day after tomorrow, I’ll go to Finland. The longest flight I’ve ever have for around 15 hours from Jakarta, Indonesia to Amsterdam, Netherland. After that, for 4-5 hours, I’ll be transferred to another flight from Amsterdam to Helsinki, the capital city of Finland, then followed by travelling by bus, from Helsinki go westward to Turku. There, I’ll meet my supervisor bro-fessor, Prof. Parvez Alam.

You probably wondered how’s my feeling just right now…

My answer: Between nervous, afraid, and so happy…

Perhaps… writing all of this article, I put a lot of my prayers in it. How so?

Let me explain to you, one by one. I feel nervous, because… first and the main reason, it’s my farthest flight I’ve ever had, at night, and I also carrying my samples in my baggage, some mudskippers for my doctorate thesis. It’s all in my imagination, I know, what if they took it from me? What if they have to hold me in security for some time? Another thing is… I’m kinda acrophobia. I height the feel of falling by height. I love plane, you know? Putting these 2 together is paradoxical. Perhaps in my way, aside of trying to sleep, I’ll playing by myself by pretending as a pilot. That’s my favourite stuff. But then… I hate turbulence! My point is… I feel nervous of what might happen on the journey. I trust in God, for sure.

I feel afraid… because I hate uncertainty. Fortunately, I’ve grown and learn a lot since my undergraduate time. Before my departure, I acquired both gift and loss. Gifts, aside my scientific community, Xenobiota rose and its sound reach more connections from some students in Makassar, in University of Hasanudin to the ear of Hackteria director, Dr. Marc Dusseiller in Swiss, to CEO of Biofaction, Dr. Markus Schmidt. That’s the best achievement so far in term of scientific community and that occurred only less than 1 year! Later, I published 2 papers in one year! Next thing and the most important one, I have new girlfriend (name is hidden for now, until she told her parents then it’ll be okay), she’s caring, she’s as crazy as me, she’s talented, we talk less daily because we both busy with our own academical and scientific routines… but we talk in our own pattern. I love her so much. And for my loss, my parent divorced. Now my siblings are living with my dad. When I go, I will be away from them… my family and the young lady (I prefer to mention her by this, she’s no longer a little girl) that I love. I know that 9-10 months is long, but I believe it will be short.

Again, I hate and afraid of uncertainty. But I always put them in my prayers… my family, myself, and her… as my loved one. I prayed so hard, that they will be okay. And especially for her… I wish that one day in 3-5 years from now, I wish that I can marry her. Aameen to God. Other thing is, although I’m quite ambivert, I have extrovert side (that sometime can be annoying when I’m starting to share my problem in motor mouth). In a country as big as Finland, it’s only 5 millions of population in there. I’m afraid if I will be lonely. And lonely is my enemy, when I’m alone… I tend to be overthinking, and my mind will be truly chaos… and dark. I wish in an instant, I will meet new friends, and I mean it… friends. Those who I can share my problem with, not just the matter of hangout and for happy time. I’ll need that. A lot. Sleeping with my head full of questions is a nightmare.

Primal fear… a lot of story of my friends who lost their parents while they’re studying abroad. It’s a paranoia fuel… but all I can do is pray, and tell them to take care of themselves. For the rest, it’s all in my prayers.

Next, I’m afraid if I can’t make it for funding until next year. I really want some fundings for our researches in here, from European or Asian, or global fundings and scholarship… anything… anything but from my own country. I know Prof. Parvez always remind me to be open minded, but defeating my reluctance… and probably unexplained hatred for government and their affiliates in my country. Perhaps because they ignoring some scientists in here and from time to time, all I heard is corruption in bureaucracy, leachers and plagiarisms, I know there are good people… thus I believe, there’s something I hold really strong so then I refused to go for Indonesian scholarship, although I wish to try in time. Will I? I started to pissed when they heard that the university should be in top list. My university in Finland is not on their list. A person I know was saying that I have to go to the list of the best university. But for God’s sake… I go to Finland and trust on it, because my professor is proven to be really qualified and very open minded! I planned to make bigger link, even to that top universities in the world, so then they will say nothing more to me. I know, listening to all people are bad. Thankfully, I feel confidence on my move. My next moves between 2016 to 2020.

And then… I feel happy… of course! One of my deepest prayer in answered! I always wanted to go abroad to study. Learning a lot after passing “The Period of Great Learning” (Sept 2014 to Sept 2015), I want to make a massive network of international research, expanding Xenobiota, and making new network with chefs throughout the globe, starting in Finland! I will make a cool robot in the lab with Prof. Parvez and his team, meet new awesome scientists, outside… new cooks, new chefs. And probably I can learn to collect edible mushroom in the forest! I will cherish my moment, and I want to go to Japan in 2017, and to attend on Bio Fiction (probably in Vienna, Austria) in 2018. Japan… because it’s been my lifelong dream, aside of my current prayer so my girlfriend will be graduate soon and claimed her master degree in Nara, Japan, I wish to meet a scientist who’s become a wonderful contributor of my papers in Kagawa. Then, I want to learn about their cultures, their foods (I’m not an otaku… I’m a culture enthusiast), and I want to learn about how they raise their plants (melons, mangoes, and more). They have… special treatment on how they grow their foods and I wish to know their secrets. While in Europe… well, Europe is a core of ancient cultures in medieval. In Paris, I wish to visit the renown and legendary alchemist’s house of Nicolas Flammel! May I found something there? I’m curious!

You know… aside of my fear, all darkness in me… I still carry my child-self in me. Who think I’m a supreme overlord scientist, a wizard, and more. I carry my imaginations in me. All I wish, is when the time is come for me to go home and meet my family, then marry my girlfriend… I have tons of story to tell about. A new legend to share. Honestly, after married, we’re not intended to have a child directly after that. We want to walk and travel. Only then, the story of us will be matured.

All of these… are my loudest prayers and hope.

All I want is inner peace, not a spotlight. Let my thoughts and my masterpieces will be, but not me. Not my individual me. I want to sit down, enjoy my meal, while reading some trends in science… and culinary stuffs in a quiet cafe.

For those who think that all of these are idealistic bullshit and daylight wet dream… all I can say is go fuck yourself.

I believe what I want to believe. And I’ll be there to make my dreams, our dreams come true.

Bismillah… by the name of Allah…

All that can’t be spoken loudly in the air, will be whispered in the silence of prayer.

PS: After today, my blog articles… in both The Hungry Biologist and in here, can be both in English or Bahasa Indonesia for wide or specific audiences.

THB-Indonesia-Finland

-AW-

Mungkin di blog ini, sebelumnya… saya pernah membahas mengenai komunitas ini. Kali ini, saya akan bercerita lebih jelas tentangnya.

XBI Icon

Logo kami. Dibuat dengan sangat berkonsep oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Selama setahun ke belakang, banyak orang bertanya mengenai kami: Siapa sih kami? Apa visi kami? Nope… kami bukan komunitas yang saya bangun untuk menguasai dunia. Ya mungkin itu rencana sampingan (hehehe…) tapi bukan, menguasai dunia SAJA itu bukan agenda kami. Nama kami mungkin di beberapa orang yang mendengar emang agak ambigu. Xenos dalam bahasa Yunani artinya asing, bios artinya kehidupan. Visi awal kami memang berkutat pada pembuatan dan pencarian kehidupan2 yang tidak kita kenal. Tapi sekarang visi kami adalah mencari persepsi2 lain atas fenomena yang terjadi di dunia sains, khususnya biologi. Kita memandang sesuatu dari kacamata positif: Semua itu ada, karena susuatu yang tiada atau fiksional adalah ide yang belum terwujud atau sebenarnya terjadi di lini waktu semesta yang lain. Bingung? Bayangkan seolah semesta itu ga cuma satu. Ada semesta lain di mana api itu dingin, air mengalir ke atas, air itu menyalakan api, manusia itu berasal dari nenek moyang dinosaurus bukan primata, dan lain2. Kita kadang mengkotak2kan imajinasi dengan logika. Maka visi kami yang lain adalah menjembatani keduanya, dan kemudian berbagi ilmu atas “temuan” kami setelah kami “bertapa” di “kotak imajinasi” kami.

“Kalian gila ya?”

Mungkin ya… mungkin ngga. Dari kacamata siapa dulu? Konsep2 kami memang di luar konsep yang sebelumnya dianggap normal. Kami rela dianggap gila, cuma kalian harus tau apa itu gila dan kenapa kami senang dianggap beda.

Oke, saya ga mau cerita teknis atau kampanye. Kalian mau masuk sini? Itu urusan kalian dengan kami (khususnya saya) nanti ya.

Dari Ensiklo ke Xenocerebral ke Xenobiota

Waktu saya berumur 10 tahun, saya sudah merasa sok2an menjadi ilmuwan cilik. Saya sering eksperimen dengan tumbuhan dan saya suka sekali baca buku. Apalagi buku bergambar, saya orangnya visual kinestetika soalnya. Waktu itu saya punya teman2 di kelas 4 SD itu, saya akui… sejak dulu saya punya passion berlebih soal sains, dan saya suka ngebawa teman2 saya ke arah yang sama. Kelas 4, saya dan “geng” saya, hobi menggali tanah di sekolah… buat cari undur2 di pasir (larva dari serangga keluarga Myrmeleontidae) dan berharap menemukan kapak batu jaman Megalithikum di tanah.

axes-stones

Kapak batu (sumber gambar: geology.lnu.edu.ua)

Di ruang belajar saya waktu itu, saya kemudian membayangkan saya bisa menjadi ketua dari negara yang berjalan dengan azas sains yang saya namakan Ensiklo. Karena kemudian saya hidup pindah ke kota2 lain karena bapak urusan kerja, saya pun mengubur mimpi soal Ensiklo, karena dasarnya hanya sayalah yang memegangnya… teman2 saya ntah apapun yang mereka pikirkan tentang ide itu.

Waktu berjalan di masa akhir kuliah S1… saya memasang pseudonim diri saya, Xenocerebral. Entah, menulis nama dengan huruf X itu rasanya… keren! Akhirnya pseudonim ini menjadi “alter ego” saya di dunia maya. Nama itu sendiri artinya “otak yang asing”. Sekali lagi, saya suka dengan sains… apalagi sesuatu yang ga konvensional, ga umum. Lantas saya suka xenobiologi, dan astrobiologi.

Kemudian saya S2. Ide berawal dari bagaimana anak2 di biologi UGM di Yogya dengan kreatifnya membangun komunitas sains bernama SynBio UGM. Saya merasa… membangun komunitas di Yogya itu adalah ide bagus karena atmosfernya sangat ramah dan kondusif untuk berkumpul. Menumpang eksis dengan bantuan acara SynBio waktu itu, saya pun memperkenalkan konsep komunitas ini. Awalnya saya menyebut “Project Xenocerebral: Xenobiota”. Sounds badass, eh? Selesai saya bahas ide di depan bocah2 biologi UGM ini akhir tahun 2014, kami pun mengadakan kumpul perdana.

Untitled-1

Poster buat ngumpul. Masih pake logo Xenocerebral.

Dengan mimpi dan ide2, yang kadang anak2 ini pun masih rada bingung, sebelum presentasi SynBio UGM, saya nekat membuat grup dan setelah presentasi saya mengundang anak2 mahasiswa ini. Mereka yang awal di grup… ada Arfan (Biologi UB Malang 2012), Putri (Budidaya Pertanian UGM 2011), Agha (alumni Biologi UI 2008)… adalah mereka yang saya percaya berpotensi sebagai pemegang inti dari komunitas ini karena… Arfan, saya tau dia suka ide2 gila, Putri, dia saya anggap adik sendiri dan murid sendiri… saya banyak menanamkan ilmu ke kepala dia, dan Agha, dia adalah biang dari ilmu2 aneh di kepala saya, mulai dari biologi spekulatif sampai astrobiologi dari sejak saya lulus SMU. Setelah saya umumkan, mereka datang satu per satu ke grup sebelum grup ini saya jadikan grup tertutup… Ghea (Biologi UGM 2012), Nana (Biologi UGM 2012), Sahal (Biologi UGM 2013), Annisa Resa, Iim, Elory, Ahmad (Biologi UGM 2014). Dengan juga saya masukkan Sanka dan Nuha (Biologi UGM 2010) ke dalamnya biar rame…

Maka dengan segala casciscus yang saya keluarkan hari itu… tanggal 20 Februari 2015, Xenobiota pun lahir!

Soal logo… konsep gabungan DNA organik dan DNA sintetik itupun dirancang oleh Iman, kami pun sepakat menjadikannya logo yang kami banggakan. Oh iya, ga lama setelah kami berdiri… 1 anak dari jurusan Elektronika dan Instrumen angkatan 2013, Jaler… pun masuk. Dia satu2nya “gadgeteer” di komunitas ini.

Perjalanan Dimulai

Awalnya, kami hanyalah penebar konsep. Bahasan di dalam grup ga lebih dari sharing paper2 berbau astrobiologi, xenobiologi molekuler (tentang XNA dan asam nukleat ortogonal lainnya), biologi spekulatif, dan semacamnya. Saya ingat betul, hanya beberapa orang2 ini yang merespons, namun saya pada mereka yang secara rutin nongol buat komentar maupun cuma nge-like. Sistem kami waktu itu adalah “institusi bawah tanah” (apa coba) yah… anggap aja semacam “mock” dari Area 51. Maka secara konsep, tempat di mana kami berkumpul dan membahas ide2 gila, kami menamainya “Xenobiota Institute”. Namun istilah itu kami simpan hanya untuk kami, kenapa? Takut dianggap institusi ilegal dan ntar bayar ini itu, sama kedua… kepanjangan!

Capek dengan ngomongin konsep melulu… saya pun memutar otak. Saya mengundang mereka ke lab saya ketika saya mengerjakan tesis… waktu itu saya kemudian mengajarkan “workshop kilat” cara ekstraksi RNA, pembuatan cDNA, dan reaksi berantai polimerase (EN: Polymerase Chain Reaction, PCR). Ternyata seru! Ngeliat mereka2 ini senang, bisa mendapatkan ilmu baru, dan menyusup ke lab Pemuliaan Tanaman dan Genetika FAPERTA UGM di hari Sabtu itu sangat seru! Rasa puas ditambah… karena TIDAK semua orang di sini mendapatkan kesempatan bermain di lab untuk ekstraksi RNA. Alasan? Mahal! Saya kemudian merasa pendanaan pendidikan di universitas2 di Indonesia itu ga rata banget. Ketika di suatu institusi proyek sangat kencang, mendirikan iGEM adalah hal mudah, di sisi lain… jangankan menyentuh konsep biologi sintetika, ekstraksi gen aja adalah pekerjaan yang wah buat beberapa kalangan! Di UGM ini, ekstraksi RNA adalah kerjaan lab yang cukup elit… bahkan buat saya. Di ITB pas S1, ekstraksi RNA itu udah bagian dari praktikum rutin! Di sini… kerasa, ngekstrak 1 sampel itu saya harus merogoh kocek Rp 150 ribu… 50 untuk ekstrak RNA, 100 untuk pembuatan cDNA dengan enzim transkriptase balik. Tapi bersyukur, ilmu2 dari ITB itu bisa saya bawa ke sini… saya pun jadi suka pas ke ITB mengambil bahan2 kuliah dari dosen dan membagikannya ke anak2 Xeno (red: Xenobiota… biar gampang nyebutnya). Saya sebut, Protokol Prometheus. Dari Titan/Dewa Primordia Yunani yang membagikan api pengetahuan ke manusia pertama.

Lagi… saya senang melihat mereka tersenyum…

IMG_2813

Yeah… dengan ekstra duckface dari Elory…

Awalnya, saya agak pusing ketika dosen pembimbing saya menambahkan saya kerjaan buat ekstrak RNA… awalnya saya kesal kenapa ketika saya lulus ITB, biologi sintetika masuk di sana… awalnya saya bingung, kenapa biologi sintetika itu HARUS jadi iGEM…

Ternyata… everything leads to some reasons… including why I am standing here

IMG_3088

Kita pun makin rame…

Dengan “sok2an” mendirikan divisi yang kami sebut departemen yang terbagi jadi (dengan bahasa yang lebih manusiawi) biologi molekuler (kode: MXSB), bioteknologi dan postbiology sibernetika (ABPB), astrobiologi dan biologi antariksa (ABSB), biologi spekulatif (AXSB), dan proyek rahasia/kerjaan sektor X kami (MTTM), kami mulai berjalan dengan melakukan riset sederhana dengan bahan2 seadanya/konsep DIY (Do-It-Yourself) science dan biohacking (ngotak-atik materi biologi dengan bahan seadanya dan lab secukupnya… agak life hack untuk biologi). Personel kita bertambah 2 orang yang punya kekuatan ilmu yang unik, astrobiologi, bidang yang ga semua orang punya di UGM… mereka adalah Bintang dan Tius (Biologi UGM 2013). Dunia kami pun semakin luas dengan Misbah (Biologi ITS 2012) bergabung, dan Rifa (Neurosains Surya University 2014) juga bergabung. Sayangnya, hingga tulisan ini saya terbitkan, kami belum sempat banyak membuat proyek. Karena kami agak kesulitan gerak di luar UGM.

Saat itu… semua keran ide dibuka selebar2nya… lebih lebar dari mulut saya ketika makan Quad Burger (burger dengan 4 daging)… (apa sih Dit). Saking ngalirnya… khususnya dengan tuntutan buat batere tanah dari Sahal dan Ghifi (Mikro Pertanian UGM 2011) dan Arfan yang mulai ngasih ide terus tapi ga tau mau gimana mulainya… saya mulai garuk2 kepala. Ini juga yang kemudian ngebuat saya agak nutup diri beberapa jam dari Arfan. It’s likeI want to escape for a while… and can we talk ANYTHING but this first? I need a break.

Saya tau… akhirnya saya pun berusaha jalan pelan2…

Akhirnya proyek pertama kami… batere tanah (Soil Battery) yang berbasis sel bahan bakar mikrobia pun berjalan. Bagannya cuma tanah sawah yang gelap dan hangat (jangan tertukar sama kotoran sapi yang masih segar ya), pelat tembaga, pelat seng, toples, dan kabel. Oh ya… multimeter untuk mengukur. Konsepnya adalah pemanfaatan aliran elektron akibat reaksi redoks yang dilakukan mikroba tanah dan menjadi sumber listrik. Di jurnal, hanya 700 mV listrik yang dihasilkan…

Kami berhasil menghasilkan 1 V!! Cuma dari tanah! Mau liat bahasan lengkapnya, klik sini.

IMG_3206

Sedang dirakit…

Proyek kedua… ekstraksi DNA skala lab itu adalah kerjaan yang lumayan mahal! Bahkan dengan penggunaan protokol CTAB aja, saya menghabiskan Rp 50rb per sampel… sementara untuk tesis saya habis juga untuk proses trial and error sampai 80an sampel! Hampir di beberapa universitas yang mengajarkan biologi, ada protokol standar untuk ekstraksi DNA: Menggunakan sabun… iya, sabun! Tapi awalnya pertanyaan kami, terus gimana? Bisa ga hasil ekstraksi dengan sabun ini dipakai buat PCR? Karena kalau iya… ini bakal murah banget!

IMG_3822

Hasil ekstraksi DNA dari biji jagung… klik untuk memperbesar, itu yang putih2 itu adalah pita2 DNA yang terkompresi.

Ternyata jawabannya: BISA!

Waktu itu awalnya yang mengerjakan adalah saya, Ghea, Resa, Nana, Eka, percobaan pertama gagal… hal ini terjadi akibat inhibisi alkohol pada proses enzimatik ketika PCR. Akhirnya besoknya, saya mengulang prosedurnya… melibatkan pengeringan dan juga pemanasan yang tujuannya merusak adanya DNA nuklease/DNAse yang bisa saja ada pada suhu tinggi. Kemudian saya menambahkan satu bahan lagi… yang ternyata mahal… DNA hexamer primer.

Secara logika, jika heksamer ditambah, harusnya ada kemungkinan heksamer menempel secara acak dan membantu penggandaan/penyalinan DNA ketika PCR. Dengan primer STS ZmSh1 (Zea mays Shrunken1 – Gen pengkode enzim pada proses biosintesis sukrosa-pati, sukrosa sintase), ternyata kami dapat DNA nya dan bisa di PCR-kan!

11659347_1458154301169943_2677078233065035844_n

Ada pitanya lah ya… dan di DNA mentah, ternyata tanpa pemanasan… DNA jadi lebih pendek, diduga kena DNAse. Prosedurnya? Klik sini.

Bravo! Inilah tim kami…

IMG_3828

Abaikan yang depan…

Selama kerja… saya banyak memutar otak (buat nyari ide2 alternatif dan tambahan) bareng Ghea. Kami pengen, hanya dengan bahan2 seadanya dan pengerjaan singkat ini, kami bisa dapat banyak hal. Ekstrimnya dalam pengerjaan ini, kami bertapa di hari Sabtu di lab… sampai di taraf kami berdua kena omel Mbak Mus yang mau pakai mesin PCR. Yah, itu suatu cerita 🙂

Kemudian, penelitian DNA ini pun disempurnakan lagi datanya oleh Putri yang mencoba dengan variasi2 sabun, mulai sabun mandi, shampo, sampe sabun pel… protokolnya mirip, dan hasil bisa dilihat di sini.

Sebenarnya apa sih tujuan akhirnya? Kami ingin… kita bisa mengambil DNA dan memanipulasinya di manapun kita berada dengan cara yang mudah. Kalau perlu suatu saat kita bisa rekayasa genetika tanpa harus di lab atau kalo perlu bermain biologi sintetika. Ide ini… saya sebut “Gene Sorcery Protocol”.

Lalu… kami punya maskot baru: BAWANG bernama Onionie dengan nama akrab Dr. Onie.

XB - Happy Ied Mubarak

Versi Idul Fitri!

Kenapa bawang? Karena bawang berlapis2… seolah menyimpan rahasia. Awalnya ide ini gara2 saya sama Ghea sering ngomongin Deep Web yang menggunakan domain .onion yang hanya bisa dibuka dengan Tor. Kami berdua menduga bahwa ada informasi2 psycho atau gila tersembunyi di sana karena Deep Web identik dengan transaksi ilegal, organisasi kriminal, dan lain2… bahkan mungkin, ada konspirasi tersimpan di dalamnya. Sejaun ini sih… ternyata Deep Web cuma tempat pedofil ngumpul dan web nya banyak yang mati. Jadi… yah… krik2… Cuma, kami pun tetap mengidolakan bawang!

Hingga terpikir, buat kami membayangkan jika… kita mengambil listrik dari sumber makhluk hidup, tanpa membunuhnya… konsep ini diasumsikan menyempurnakan batere kentang dan lemon. Untuk itu, kami menggunakan: BAWANG! Kenapa? Bawang berlapis2, asumsinya dia akan cukup terpartisi sehingga jika 1 bagian dilukai, yang lain akan tetap hidup.

IMG_4178

3 bawang dalam rangkaian seri… 542 milivolt, lumayan!

20150728133318

…dan yang paling penting, bawangnya tumbuh!

Kami pun berpikir lebih jauh…

86551

Kami coba di talas…

11950303_10204753184821362_1137679172696712835_o

…di batang singkong…

105960

…pohon…

IMG_5403

…pohon di kuburan…

IMG_5404

…dan pohon yang dianggap keramat (di sini pohon beringin).

Apa yang kita inginkan?

  1. Cukup dengan kutipan kata “Sayang sekali pohon tidak menghasilkan wifi, hanya oksigen”. Ya benar, terus kita ga ngapa2in? Proyek bioelektrik ini bertujuan biar bagaimana kita mengambil listrik dari tumbuhan, sehingga nanti kita bisa pakai dari sumber ini untuk wifi, charger gadget, sampai lampu atau alat2 lain! Ini adalah bahan murah!
  2. Kenapa dengan kuburan dan pohon keramat? Pohon yang dikeramatkan diasumsikan memiliki “energi lebih besar”, secara hipotetikal pun mereka tidak ada yang berani ganggu… maka bagaimana mereka tumbuh dan menyerap nutrisi mereka akan optimal, asumsinya… listriknya akan lebih besar yang didapat. Ternyata sama juga sih sama pohon di luar kuburan.

Untuk proyek listrik ini, saya berterima kasih banget sama Jaler, Sahal, dan Ghifi (untuk yang batere tanah). Tanpa mereka, ide2 gila ini ga bakal jalan!

Suatu ketika, saya juga mulai berpikir untuk memperkenalkan tentang astronomi dan astrobiologi ke mereka. Dengan bantuan Bintang, malam itu ada Jaler, Ahmad, dan Ghea juga, kami belajar bagaimana mengetahui posisi mata angin dengan melihat bintang, identifikasi bintang umum dan konstelasi di langit, kemudian barulah saya ajarkan soal eksoplanet atau planet2 di luar tata surya, DAN kemungkinan ada tidaknya kehidupan di sana dengan kajian astrobiologi. Cukup “romantis” karena malam minggu kami semua menatap langit yang sama… *tsaaah*

Kemudian kompleksitas komunitas ini bertambah dengan masuknya guru (muda) saya yang mengajarkan saya Bahasa Jepang dan konsep semiotika bahasa, Rizki Mustafa Arisun (Sastra Jepang S2 UI 2012). Lengkap deh segala bahan2 kegilaan di sini!

Setelah 1 semester berkarya, kemudian kami memutuskan untuk “tur” ke 2 kota. Pertama: Makassar. Kampung halaman Ghea, Arfan, dan Ahmad. Kebetulan Arfan dan Ghea lagi pulang, saya ajak mereka ke Universitas Hasanudin.

IMG_4500

Lagi… abaikan yang depan…

Kami bertemu 4 mahasiswi dari sana dan kami sharing apa yang kami dapatkan. Ternyata di UNHAS mereka baru merintis perkembangan biologi molekuler. Kami juga bertemu Ibu Zaraswati Dwyana dan ngobrol2, serta kami berkata kalau kami diminta untuk mengajar atau sharing ilmu2 ini, kami siap.

Sebulan kemudian saya lulus S2.

Sebulan setelahnya… saya ke Bengkulu, ke tanah Rafflesia. Saya bertemu 3 anak Rekayasa Kehutanan SITH-R ITB 2012 dan 2013 yang 2 tertarik dengan Xenobiota, mereka adalah Reza, Shandy, dan Wahyu… berempat, kami ikut simposium internasional!

IMG_0649

Dari kiri: Wahyu, Reza, saya, Shandy.

IMG_0703

Saya, Reza, Wahyu, Shandy. Momen di mana saya seolah jadi dosen.

Di sini, kami berburu informasi mengenai puspa langka Indonesia: Rafflesia, hingga kami menemui para ahli Rafflesia: Bu Sofi Mursidawati, Pak Agus Susatya, Pak Edhi Sandra, dan Pak Jamili Nais. Alhamdulillah, di waktu yang sama… publikasi saya tentang Rafflesia pun TERBIT! Ini akan menjadi awal perkembangan bioteknologi Rafflesia yang sangat saya ingin mulai di Indonesia! Cuma yah, saya belum sempat bertemu lagi dengan mereka bertiga di Bandung/Jatinangor dan berbicara tentang ide2 gila seperti sama mereka yang di Yogya.

Perjalanan kami mencapai puncak pertama ketika kami bertemu dengan seorang MVP dari Hackteria Swiss, Dr. Marc R. Dusseiller yang bersamaan, kami nimbrung di acara yang dibuat oleh Bio-Faction, Austria di bawah Dr. Markus Schmidt (yap… orang yang di artikel2 sebelumnya saya sering sebut karena menjadi penulis ide tentang biologi sintetika dan xenobiologi serta XNA) dan koordinasi dengan Asisten Profesor dari NUS, Dr. Denisa Kera, acara itu… BIO-FICTION. Saya berbagi hasil2 penelitian kami mulai dari yang kami benar2 lakukan… hingga spekulatif…

XBI - AXSB - Aerohydrozoan XBI - AXSB - Zephyrophyta

Aerobiota adalah konsep jika di Jupiter ada kehidupan yang terbang, dan Zephyrophyta adalah konsep tumbuhan Kinetoautotrof.

Kemudian kami juga nonton pagelaran film pendek berisi konsep2 sains dan seni yang diputar di Vienna tahun 2014 lalu.

12036503_10207963089341884_9035770172877409003_n

Kerjasama dengan Hackteria Swiss, SynBio UGM, Permahami, dan BioArtNergy UGM.

“It’s just the very first page, not where the storyline ends” – Taylor Swift, lagu “Enchanted” di album “Speak Now”

Saya kehabisan kata2, karena tanpa dirasa… mereka telah menjadi bagian perjalanan saya di Yogya. Awalnya, saya semua serba sendiri dan berbicara sama teman2 S2, semua rasanya beda karena kita sama dewasa dan bahkan ada yang lebih dewasa dari saya. Sering saya pulang ke Jakarta karena kangen rumah. Setelah ketemu mereka, saya merasa nyaman di Yogya karena saya ngerasa punya orang2 yang begitu dekat dengan perjalanan hidup saya.

11391628_10153354406657154_3433753271932713027_n

Ketika saya seminar hasil tesis… Ghea dan Jaler pun dateng…

11800559_10153487524757154_3269875455344985594_n

Pas saya wisuda, Sahal dan Jaler pun dateng (lagi).

Saya bakal pergi buat S3 di Finlandia, mungkin saya meniggalkan mereka2 ini. Orang2 pada mikir, saya pergi… mereka gimana? Nggak… kami ga pecah. Buat saya, Xenobiota itu bukan cuma komunitas, tapi keluarga. Mereka berhasil memberikan sesuatu yang membuat saya merasa sangat dekat dengan mereka hingga saat ini. Dari Xenobiota komunitas GAMA Biosintetika di bawah Sahal pun lahir, dan koordinasi kami dengan UB, ITS, dan ITB pun masih baru dimulai.

Namun gimana kalau suatu saat setelah saya pergi pergerakan kami berhenti? Protokol Kapsul Bakteria. Saya akan membuat sistem inti tetap ada, komunikasi tetap ada, mau ada anggota baru… saya tahan kecuali mereka rela jadi spektator atau mau memberikan sumbangan ide dan mau melakukannya. Saya sendiri membuat mereka… angkatan pertama Xenobiota sebagai benih2, yang saya harap akan tumbuh ke manapun mereka akan pergi nantinya setelah lulus. Kami akan tetap membangun jaringan dari satu tempat ke tempat lain, satu institusi ke institusi lain. Kami ingin belajar ilmu yang saat ini kami hanya mendengarnya sayup2 dari berita dan buku.

Buat saya…

Dari Xenobiota, saya mendapatkan mereka yang saya anggap keluarga. Mereka yang saya anggap adik. Dan mereka yang saya anggap dekat.

Untuk kalian…

Biar saya pergi, tolong bawa nama Xenobiota sebagai atribut kalian. Saya ingin ketika kalian berhasil S2 ke luar negeri atau suatu saat jadi pendidik di daerah2, saya bisa menengok kalian dan kita berkolaborasi lagi dengan penelitian lebih seru lagi. Mimpi saya adalah melihat kalian berdiri sebagai orang2 yang penting dan berkontribusi untuk kemajuan sains dan seni di Indonesia dan dunia, menjadi orang yang membuka mata atas kemurnian sains, dan menjadi orang yang selalu menumbuhkan bibit rasa keingintahuan pada generasi selanjutnya. Doa saya, kalian bisa lanjut pendidikan kalian setinggi2nya, dan yuk… kita ketemu bareng di puncak dunia dan jadi inspirator… 🙂

-AW-

Pagi menjelang siang, saya duduk diam menunggu konsultasi laporan proyek dengan Pak Bambang, seorang dosen biologi UGM. Tiga bulan hitungan mundur dimulai sebelum saya terbang melanjutkan studi S3 Teknik Kimia di Åbo Akademi University, Turku, Finlandia dan saya akan meninggalkan sementara begitu banyak hal di Indonesia. Keluarga, teman2, kolega, bahkan pacar saya sendiri. Sendiri, menarik napas dan mendengarkan semua suara yang tertangkap di telinga di gedung biologi UGM ini membawa saya ke momen nostalgia. Ditambah kemarin malam dan beberapa saat waktu lalu… di Line, saya melihat anak2 Xenobiota yang kebanyakan adalah anak biologi UGM angkatan 2014 mulai mengeluh harus mengerjakan tugas laporan praktikum dan tugas yang menumpuk setelah melewati minggu UTS. Tak terkecuali pacar saya sendiri yang sedang melewati tahun akhirnya…

A: Kamu ntar bakal sibuk sampe malem yah?

G: Hmmm kayaknya sih iya, bakal penuh sampe malem… masih ada sisa laporan yang harus dikoreksi sama ngerjain laporan praktikum…

Yah… baiklah… .___.

Lantas… pagi ini… saya tiba2 kangen rasanya dengan kehidupan S1 saya. Saya kangen dengan datang pagi ke kampus, sudah “diterror” dengan soal pendahuluan alias pre-test pas jadi praktikan, ngerjain laporan praktikum dengan laptop sambil dengerin lagu, ATAU… ngerjain laporan praktikum yang panjangnya menyaingi sajadah saya karena disulam (di ITB dulu, 1 minggu sebelum praktikum, semua diagram alir sudah ditulis di buku yang disebut “jurnal” itu; laporan ditulis di buku yang sama, lantas ga bisa kalau halamannya ditambal manual dengan kertas buku). Tahun selanjutnya ketika jadi asisten praktikum, saya ingat H-1 harus briefing materi dengan dosen di ujung lorong SITH ITB, besoknya datang 1 jam lebih awal, berjas lab, alat udah stand by, saat praktikum… mata harus fokus ke materi, ke dosen, plus ke bocah2 di depan saya yang kadang urakan, kadang ribut, kadang kayang atau salto atau joget2 kayak belatung… malamnya, aduh, ini laporan niat apa nggak sih ngerjainnya?? (buat yang dulunya anak praktikan saya, Sisi, Dine, Lisa, Yesie, dkk… sabar ya) Intinya menguras energi! Itu masih biasa… seenggaknya untuk asprak lab se-Indonesia mungkin mengalami itu… APALAGI yang asprak lapangan!

Mungkin juga… hari ini adalah genap 6 tahun lalu kami kuliah lapangan super asik ke Bali Barat dan Kintamani.

“Dit, gimana sih rasanya jadi mahasiswa SITH ITB?”

Mau tau? Oke…

Tahun Pertama

SITH ITB angkatan 2007 itu adalah angkatan terakhir yang merasakan praktikum Biologi Umum, setelah kami adanya Konsep Biologi dan itu ga ada praktikum bahkan ga ada kuliah lapangan (kulap). Itu doang? Nope… seminggu kami dijajalkan dengan TIGA praktikum… Biologi Umum, Fisika Dasar, dan Kimia Dasar. Buat saya, tahun ini adalah mimpi buruk! Masih berusaha menyesuaikan kuliah, gagal move on sama gebetan pas SMU, kadang sotoy atau sok ngerasa bisa bahwa materi taun pertama (TPB ITB) ini sama dengan SMU, itu adalah jebakan Batman! Lantas IPK saya pun di bawah standar saat itu. Saya juga ga ngerti gimana dosen itu sangat heterogen dan kita harus paham satu2. Soal praktikum, saya untuk pertama kalinya pusing dengan bagaimana kakak2 asprak itu memberi arahan (karena ga semuanya jago ngomong plus ada yang tampangnya galak… mana asprak saat itu sama juga kakak tadis ospek himpunan… mereka kelar praktikum langsung pasang jaket himpunan di medan ospek! Mampus lah aku!). Dari semua itu, saya kagum sama Kak Yola (Biologi 2004) yang ngajar Biologi Umum-nya asik, sabar menghadapi kami, asik sebagai temen ngobrol, cuma… tiba2 dia ngasih nilai 40… hiks. Ngerasain kuliah lapangan pertama, munculah sesosok pria (naon) bernama Kang Arief alias Kang Meded (Biologi 2004) yang namanya masih bergaung di dunia biologi sistematik ITB sampai SEKARANG! Beliau… saya ga ngerti waktu itu, bisa apal sekian ratus nama latin tumbuhan LENGKAP hingga tingkat famili dan spesies!! Kemudian ada teman saya Okta (Biologi 2007 juga) yang ntah gimana ngerti gitu juga! Well, ada 7 manusia super yang ilmu biosistematika nya di atas rata2… mereka disebut TAXON 6… Kang Meded… tumbuhan, Kang Ezak (Biologi 2003)… tumbuhan juga, Teh Agri (Biologi 2004)… tumbuhan dan beberapa yang lain, Teh Mika (Biologi 2004)… sama kayak Teh Agri, Kang Andri (Biologi 2005)… serangga, dan sang ranger ke-6… Okta sendiri yang ngerti tumbuhan.

Kuliah lapangan BiUm kami ke Taman Buah Mekarsari dan Kebun Raya Cibodas-Gunung Gede-Pangrango. Ini untuk pertama kalinya saya bisa sangat deket dengan teman2 seangkatan saya! Mana dengan ultra random nya di penginapan bersama kami itu… ada ulat kecil yang menggantung bak tirai diberanda! Weks!! Cuma ga masalah… it’s fun! Walau saya ntah berapa kali jatuh kepleset di kulap itu…

1930055_19718342153_2180_n

Di air terjun di Gunung Gede-Pangrango. Kami potret bareng asprak kami, Teh Gita.

Setelah itu, tahun pertama berakhir. SITH 2007 terbagi jadi Biologi dan Mikrobiologi dengan rasio 70 dan 40. Saya selain pengalaman tadi, saya ngerasa ga puas dengan nilai2 di tahun ini! Untung, saya berhasil menambal nilai saya di semester berikutnya dan saya ga jadi DO. Antara tahun pertama dan kedua, saya jadi panitia penata tertib kelompok (Taplok) di program Inisiasi Keluarga Mahasiswa ITB (InKM) alias ospek kampus. Outcome setelahnya? Saya yang tadinya cuek dan pendiem, jadi lebih talkative bahkan ke anak SITH 2008 yang saat itu kayak bocah banget. Yah, saya suka liat junior2 saya yang lucu :3 #nopedo

Tahun Kedua

Tahun kedua itu seru dan merupakan transformasi awal kami sebagai peneliti. Tapi transformasi yang paling nyentrik adalah:

Cewek2 Biologi kalem + Proyek Anatomi Fisiologi Hewan (Anfiswan) + Praktikum Biologi Perkembangan Hewan (Perwan) –> Cewek Biologi Psycho

Awalnya “KYAAAAA tikus!!”

Akhirnya “MANA TUH TIKUS GW TIBAN!!”

Tahun kedua itu adalah sarana yang sangat psycho tapi seru (apa coba) buat kami, cuma merupakan definisi Holocaust buat tikus, mencit, marmut, dan katak/kodok. Bayangin! Waktu itu, di mata kuliah proyek Anfiswan, kami diajarkan bagaiman menyuntik mencit atau tikus dengan logam berat untuk diamati jaringannya, kemudian di praktikum biosistematik kami diajarkan untuk mengawetkan binatang dengan formalin! Soal prosesnya saya ga mau bilang karena saya bisa aja dituntut kaum vegan atau PETA. Demi sains… yeah saya setuju sama GLaDOS di Portal…

“For science, you monster”

Kuliah biosistematika, kami menjelajah Gunung Tangkuban Parahu dari puncak ke lereng dekat perkebunan. Saya merasakan buang air besar di WC yang ditinggalkan (penting ya Dit), dan juga merasakan makan buah beri liar di hutan sama batang begonia… thanks to Kang Meded. Terus kuliah besarnya ke Pantai Pangandaran, kami pertama kali diajari membuat awetan kupu2 di Ladang Cikamal yang terik dan ada rusanya. Saya keringetan sampai baju saya basah karena di sana sangat terik mataharinya meski lembab. Menariknya, saya sempat merasakan beli cumi goreng garing dengan CUMI SEGAR gara2 kelaparan akibat dari pagi evaluasi pengamatan DAN saya nyaris ketinggalan! Oke… itu ngaco…

1588_51360612153_9168_n

Kakak2 Asprak Biosistematika sedang absurd

1924160_41800287153_6346_n

Briefing di Puncak Tangkuban Parahu (Kulap Biosistematika 2)

1927606_45569777153_7396_n

Kuliah lapangan 3 di Pangandaran…

Oh iya, kemudian ada praktikum genetika. Di ITB, praktikum ini berkutat pada pengenalan kromosom, bermain2 sama lalat buah (Drosophila melanogaster) mutan berikut menyilangkannya dengan semena2, membiarkan medianya bau busuk, dan eter menyebar ke seisi ruangan dan buat mabok, ekstraksi DNA, dan sedikit pengenalan soal PCR.

Ada cerita seru di praktikum ini. Jadi ceritanya kami harus menyilangkan lalat buah (acara 3), akan tetapi… ternyata praktikum yang agendanya 2 minggu ini terpotong libur lebaran. Alhasil kami semua diminta ngelakuin di rumah (kampung halaman masing2) dengan perangkat lengkap, lalat yang disilangkan, media, sama bius (eter). Di kelompok, saya satu tim (1 kelompok dibagi2 per 2 orang) dengan teman saya Vina (biologi 2007). Kami dapat mutan miniature (sayapnya kecil banget sampe lalatnya ga bisa terbang) dan ebony (badannya hitam). Di Jakarta… setelah itu… semua jadi suram: eter menguap ke kamar, media mengering, lalat tewas. Terus gimana di laporan?? Tulisan di bawah ini disalin dari manuskrip laporan aslinya:

2.3.1 DATA KELOMPOK

Percobaan yang kami lakukan sekelompok bisa dibilang gagal. Saat kami membawa botol media berisi lalat ke kampung halaman kami saat liburan lebaran ini nampaknya mengalami masalah perbedaan kondisi dengan di Bandung. Lalat-lalat mutan miniature betina yang ada pada saya hanya bisa bertahan sesaat dan kemudian mati kena infeksi jamur. Kemudian larva pun tumbuh hingga menjadi F1. Kemudian masalah pun terulang saat dipindahkan ke botol media yang baru. Lalat pun terinfeksi jamur. Ditambah dengan suhu panas Jakarta, media pun mengering & suhu menjadi cocok untuk pertumbuhan bakteri. Itu ditandakan dengan adanya perubahan bau botol media yang awalnya berbau pisang agak beralkohol (karena adanya ragi) saat ini menjadi berbau busuk menyengat. Saya sempat ingin mengulang namun masalah yang sama menimpa botol induk, sehingga saya tidak bisa mengulang.

Sama halnya dengan lalat pasangan praktikum saya, Vina. Bedanya, yang merupakan lalat mutan miniature adalah lalat jantan. Dan setelah saya mengontak Vina, ternyata mengalami masalah yang sama; media yang mengering.

Ntah gimana yang asprak kami pikir setelah kami nulis ini… kayaknya sih laporan saya dicoret. Lupa saya dapat nilai berapa.

2433304-just_read_super

Diasumsikan ini adalah ekspresi asprak yang meriksa.

Selesai sesi itu, saya dengan kurang ajar nya minta lalat yang sisa dari teman2 saya. Saya buat media sendiri di rumah dengan tabung Erlenmeyer yang saya beli, pisang yang dilumatkan, dan busa dari sofa kosan saya yang berantakan. Lalatnya mutan miniature dan eyemissing (matanya kecil banget sampe ga bisa jalan stabil). Saya silangkan… saya lupa hasilnya gimana, cuma bayangin anaknya suram banget kalo mewarisi 2 mutasi induknya tadi.

1931038_39291722153_9034_n

Mutant Fly Farmer from The Abyss. Oh, BTW itu di kosan saya…

Semester berikutnya, kontras dengan sebelumnya, nuansanya lebih tentang tumbuhan karena kebanyakan kuliahnya adalah tentang tumbuhan seperti fisiologi tumbuhan, struktur dan perkembangan tumbuhan, dan proyek tumbuhan (Protum). Dengan kata lain… ini surga buat saya… seharusnya. Tapi bisa mengerti bahasa2 dosen DAN asprak di kuliah2 tumbuhan ini… rasanya cukup sulit! Kadang saya udah dengan yakinnya mikir A ternyata B, kadang mikir B ternyata A, gitu deh. Ga tau kenapa. Tapi ngerasain bermain dengan auksin (regulator tumbuh tumbuhan yang menyebakan sel memanjang ke bagian tunas dan ujung akar) dan juga ngerti soal cara kultur jaringan tumbuhan itu seru!

1923187_72066127153_5735371_n

Narsis lv: Rak Kuljar Tumbuhan.

2961_83963837153_3750449_n

Kuliah lapangan Protum di Lembang. Kami dikelilingi hijaunya tanaman selada aeroponik.

Yang sadis… biologi perkembangan hewan. Saya waktu itu dapat kelas Bu Marsel. Kuliah ini kadang mengandung nausea fuel atau bahkan nightmare fuel akibat body horror. Sesuai namanya, kita diajarkan bagaimana hewan tumbuh dari momen terbentuknya sel ovum dan sperma, pembentukan zigot, morula, blastula, gastrula, hingga neurula. Dari situ masih lucu. Yang ga lucu, momen ketika tahap perkembangan lanjut di mana bagian2 primordia tertentu gagal melipat, menutup, atau membentuk suatu organ… itu SANGAT HORROR! Dengan kata lain, kita melihat bagaimana janin cacat akibat proses perkembangan yang gagal atau akibat induksi kimia. Lantas, di bagian praktikum pun kami ada momen menyuntik tikus hamil dengan kadmium untuk melihat gimana anaknya gagal terbentuk. Oke… cukup. Legenda praktikum saat itu adalah Teh Tazy (Biologi 2005) yang sangat telaten memberi materi tambahan buat kami sebelum ujian dengan bahasa yang SUPER ASIK!

2209_62435507153_7863_n

Lihatlah senyum2 psikopat ini yang sedang membedah tikus… saya khawatir kalo ini dimasukin di FB lagi bisa jadi bahan gunjingan dan membuat kami terkenal. PS: Kiri dan kanan itu asprak saya waktu itu, Kak Hani dan Kak Randy.

1923187_68235502153_5939117_n

Ini adalah Teh Tazy… sedang menjelaskan pembentukan bumbung neural pada ayam… (kalo ga salah).

Selain yang disebutkan, ada praktikum biokimia dan kimia organik. Cuma cerita saya ga terlalu banyak karena yang saya inget cuma protein, asam amino, asam sulfat pekat, dan semacamnya. Damn you brain

Akhir tahun kedua… saya masih mikir kenapa saya ga nyantol2 sama cewek SITH 2008. Yeah, sekarang sih saya ngerti kenapa. Belum nyerah, akhirnya saya jadi ketua divisi pembina kelompok alias Binok di ospek HIMASITH Nymphaea atau PPN 2009 saat itu. Lanjut, saya jadi ketua divisi dokumentasi Pengenalan Ruang Organisasi Keluarga Mahasiswa (PROKM… nama lain di tahun itu buat INKM sih) yang merangkap pendiklat Taplok.

10400654_123226092153_6301188_n

Should I say more? (Ket: Itu anak2 SITH 2008)

Still… ga ada yang nyantol. Suram.

Tahun Ketiga

Tahun ketiga itu adalah tahun yang buat saya paling baper. Di semester ini ada kuliah proyek ekologi (disingkat Proeko) di mana  kami merasakan 3 kulap: Kulap kecil hanya di sekitar kampus termasuk kawasan Babakan Siliwangi di mana kami belajar menggunakan alat2 penelitian ekologi sederhana seperti sling hygrometer, Lamotte water sampler, Ekman grab, luxmeter, dan lain2. terus ke 3 lokasi kawasan Situ Lembang yang merupakan kawasan hutan dan hulu sungai, Curug (Air Terjun) Cimahi yang dekat desa dan airnya segar, dan Kali Pajagalan yang sangat suram dan kami bahkan dapat cacing sutra (indikator air kotor) dan “bom lokal yang mengapung”, SERTA… MEGA KULAP TAMAN NASIONAL BALI BARAT – GUNUNG BATUR KINTAMANI!!!

1934237_163260472153_4256570_n

Kelompok proyek ekologi saya… saat itu di daearah Situ Lembang.

1934237_163260577153_4633114_n

Versi seangkatan… di depan Situ Lembang (Ket: Situ itu artinya “danau”)

Saya ga bakal membahas kulap kecil dan sedang kami itu, cuma mega kulap kami ini… sangat indah, hingga beberapa orang di dalamnya cinlok. Bagaimana ya saya mendeskripsikannya?

Picture this: Kalian dikumpulkan SEANGKATAN pagi2 buta di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Udara sejuk, langit cerah, kita merasakan matahari terbit di waktu dosen kita memberi penjelasan awal dan kemudian foto bersama. Kemudian kita naik kereta ekonomi Bandung-Surabaya, Pasundan, dengan 1 gerbong semuanya tempat kita. Di dalamnya kita melihat aneka rupa wajah teman2 kita, dari yang makan terus, keliling ga jelas, tidur sampe ngiler, dengerin musik, cerita2 satu sama lain, main kartu, dengerin cerita masa muda Pak Gede dan Bu Endah, dan bahkan ada yang curcol… ada juga sih yang pacaran. Perjalanan kita dari pagi itu, melewati kota Yogya jam 4 sore, melewati Stasiun Solo Balapan jam 5 sore, dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng jam 12 malam. Sesampainya, kita bergegas dengan sigap memindahkan peti2 harta karun penelitian kita yang berisi binokuler hingga alat2 tadi dari kereta ke bus. Setelah seharian penuh di kereta yang anginnya dari jendela, kita naik bus AC yang membawa kita ke kawasan Pasir Putih… melewati malam, dan kita terbangun untuk sholat subuh dan juga sarapan pagi. Seusainya, kita lanjut… kita menyebrang Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Kita pun potret2 di atas kapal feri yang melintasi selat, langit saat itu berawan, tapi laut itu biru. Setelah menyebrang, tibalah kita di kantor pusat Taman Nasional Bali Barat (TNBB), di situ kita yang cowok menaruh barang2 di aula, dan yang cewek ke penginapan (sekali lagi… penginapan khusus kantor TNBB!). Siang itu, kita melihat lokasi penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) dan pengamatan burung. Pulang, kita ngantri mandi dan istirahat (yang cowok). Abis itu kita bebas…

1917890_185153867153_602080_n

Pagi itu di sebuah gerbong Kereta Pasundan.

1917890_185157262153_4945672_n

Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk.

1917890_185169397153_6519768_n

Kelakuan bocah2 di depan tempat penangkaran Jalak Bali.

1917890_185669412153_6433005_n

Jalak Bali.

Besoknya, kita pengamatan ke Teluk Gilimanuk setelah pagi itu hujan cukup deras. Kita duduk di atas terpal mengamati burung, disapa matahari terbit yang nongol di balik awan hujan, dan munculah pelangi ganda pagi itu. Masih kurang bagus? Kita pengamatan terumbu karang dengan melakukan snorkling di Pulau Menjangan… situs selam yang terkenal di dunia internasional yang berada di Bali Utara! Langit biru, air laut biru, angin sepoi2, dan hari yang cerah. Bintang laut, koral, dan kerang raksasa siap menyapa kalian di balik kacamata selam kalian! Tak jarang, momen2 ini dipakai foto2, bahkan ada asprak (sebut saja Kak Imam dan Kak Ira, Biologi 2006) yang sok2 foto pra-wedding lho! (PS: Terus mereka sekarang beneran nikah lho!!). Sepulangnya, kita istirahat, Pak Gede setelah de-briefing memutar video yang diambil pas nyelam. Kita ketawa2 bareng karena ada yang celananya menggelembung di bagian pantat. Besoknya lagi, kita jalan dengan bus lewat Pantai Lovina untuk melihat lumba2, namun sayang ga ada. Di bus, kita karaoke bareng… tanpa membedakan dosen, asprak, dan mahasiswa. Sampai di Gunung Batur, udara dingin, penasaran rasanya sama tempat penginapan malam itu. Ternyata, kita punya kenalan alumni yang buka resort bulan madu! Yang cewek dapat kamar resort berbentuk rumah panggung, asprak dan dosen di rumah resort dengan kolam renang di depannya dan Danau Kintamani di sisinya, yang cowok… kita dapat aula… yang menghadap Danau Kintamani langsung, bersebelahan dengan bar dan panggung rindik Bali. Di malam hari, tanpa polusi, ribuan bintang menyapa kita. Udara dingin bukanlah apa2 walau kita harus keluar untuk memasang perangkap cahaya dan Malaise trap.

1917890_185673297153_1397584_n

Mentari terbit di Teluk Gilimanuk.

1917890_185673307153_3674237_n

Pelangi ganda.

1917890_185673367153_955218_n

Pantai di Pulau Menjangan.

1917890_185211372153_2488303_n

Pengamatan siang itu.

1917890_185675917153_1268159_n

Sore hari di Resort Kedisan, Kintamani.

1917890_185389332153_2108568_n

Persiapan pengambilan sampel air.

1917890_185680177153_1205386_n

Mentari terbit di sekitar Gunung Batur.

1917890_185413412153_5386728_n

Pengamatan ekosistem sabana.

1917890_185425872153_4693965_n

Sampling terakhir di lereng gunung bagian hutan. Waktu itu sedang membuat plot pengukuran.

Paginya, setalah bangun menghirup udara segar di bawah sejuta bintang di langit subuh, kita mendaki Gunung Batur. Padang rumput yang coklat, matahari terbit, dan kebersamaan kita ketika berjalan. Sempurna. Memang, kita di sana mengambil data, cuma kita melakukannya dengan gembira di tengah keseriusan kita. Seusainya, kita pulang dan makan. Sorenya kita pengamatan di hutan Gunung Batur. Kita bisa melihat mata2 para asprak yang sangat kelelahan sore itu. Kitapun lelah, cuma ya sudah. Setelah sampel di tangan kita, kita turun bukit dan kembali ke penginapan dengan truk. Malam itu energi terkuras rasanya, dengan energi tersisa kita berusaha mengkompilasi sampel kita sebelum pulang esok hari. Pulang. Semua terasa begitu cepat. Seketika, Bu Endah menghentikan proses identifikasi sampel malam itu.

“Para praktikan proeko 2009, identifikasi dan kompilasi data malam ini kita hentikan saja. Saya rasa kita semua sudah sangat kelelahan dan besok masih ada serangkaian acara sebelum pulang. Kami para dosen dan segenap tim asisten mengucapkan terima kasih atas usaha kalian hari ini, dan dari kami… kami sudah mempersiapkan api unggun dan jagung bakar untuk kalian menikmati malam terakhir di sini sebelum pulang. Manfaatkan waktu yang tersisa bersama teman2 kalian, dan selamat malam”

Sekejap, rasa kantuk itu sirna. Kita semua menghangatkan diri di dekat api unggun dan menyantap jagung bakar bersama. Kita bermain game dan saling bercerita. Bahkan teman kita yang paling pendiam pun bisa bercerita dengan serunya. Beberapa orang bahkan terlihat cinloknya. Kita semua tertawa malam itu. Kita semua mengabadikannya dengan foto bersama.

1917890_185426017153_6335564_n

Malam api unggun.

1917890_185684802153_6541802_n

Pagi itu di Resort Kedisan.

1917890_185655207153_4376558_n

Foto di Kedisan.

1917890_185655257153_1277058_n

Ini… “Sesi Pemujaan (Sesat) Asisten oleh Praktikan”

1917890_185655282153_7759993_n

Para asisten dan dosen (cewek).

1917890_185655287153_7988375_n

Mencari masjid untuk jumatan di Kuta.

Esoknya, kita memberi persembahan kepada pemilik penginapan dan foto bersama di lokasi, dan foto bersama lagi di kaki Gunung Batur per kelompok plus asisten, foto bareng para asisten dan juga tim dosen beserta medik. Kitapun berjalan ke Pantai Kuta (walau yang cowok kepotong jumatan) dan membeli oleh2 sebelum lanjut pulang melewati kantor Taman Nasional Bali Barat. Sore itu di saat matahari terbenam, saya mendengarkan lagu “Lembayung Bali” oleh Saras Dewi… dan sedih rasanya berpisah dengan Bali…

“Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung Bali…”

Kembali… naik kapal feri malam itu, dan menuju Stasiun Surabaya Gubeng. Sesampainya waktu menunjukkan jam 1 pagi. Kita semua tidur di stasiun. Jam 4, kita sholat subuh dan mendengar cerita Pak Gede dan Bu Endah sembari menunggu kereta. Di kereta, yang tersisa adalah lelah, sampel pengamatan, dan memori yang tak akan terlupakan.

Saya menghela napas sesampainya di Stasiun Kiaracondong jam 11 malam itu dan ketika sampai di kosan, saya sedih karena merasa semua momen tadi yang kayak mimpi itu udah lewat. Time flies on one week. Besoknya… jreeeng!! Saatnya kompliasi data lagi… dan bau formalin menyengat hidung! Plus… laporan dengan data segunung…

Gilanya lagi, semester itu Proeko bukan satu2nya mata kuliah praktikum-proyek. Ada 1 lagi: Proyek Biologi Sel dan Molekuler (Probiselmol). Proyeknya cukup nyentrik! Ekstraksi RNA, kultur sel hewan, dan main2 sama sel purna dari tulang paha dan PLASENTA MANUSIA. Segala “permainan” di sini perlu sterilitas tinggi, baik dari alat2, lab, sampai kitanya sendiri (maksudnya perlengkapan SOP kita… anunya sih jangan steril lah ya!). Cukup seru rasanya walau juga was2 ketika bermain dengan sel hewan yang lebih bawel dari sel tumbuhan.

Semester selanjutnya… ada kuliah dengan praktikum terakhir (yaaah) kami, biologi perilaku. Kuliah ini adalah penyempurna segala sesuatu yang membuat kami jadi anak yang rada psycho. Gimana ngga? Kita main dengan kecoak cuma buat ngamatin perilakunya, terus ikan, sampai cacing pipih atau Planaria yang kita belah2 terus ternyata masih hidup dan jadi 2 dan 3 (tergantung ngebelahnya). Kuliah lapangan kami, pergi ke Pulau Peucang, salah satu pulau di ujung barat Pulau Jawa yang berbatasan dengan kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.

Kemudian ada satu lagi yang saat itu HANYA SAYA yang melakukannya: Menjadi pionir anak biologi yang ambil mata kuliah di program studi Astronomi, yaitu Astrobiologi. Saat ini, kita mungkin sering banget denger soal penemuan planet di luar tata surya yang identik dengan mencari kehidupan di luar sana… ya ga? Kuliah ini membekali kita tentang asal-usul kehidupan dan kondisi2 di luar angkasa sana yang mungkin mendukung kehidupan. Waktu itu, saya kuliah hanya bertiga dengan 2 orang anak teknik fisika 2005. Anehnya, kelas itu seharusnya buat S2! Hal berkesan adalah saya jadi sering sharing dengan dosen yang sekarang jadi salah satu panutan saya, Pak Taufiq Hidayat yang dulunya adalah ketua pengurus Observatorium Bosscha. Dasar oportunis, saya pun bilang beliau buat ijin pengamatan bintang malam2. Beruntung! Saya ditemui dengan Pak Mohammad Irfan, salah seorang astronom di Bosscha yang mengajarkan saya melihat benda langit saat itu dengan teleskop Unitron. Yah, walau ngarep buat pake teleskop Zeiss (yang gede itu) sih. Cuma seru ngeliat Saturnus, Mars, Venus, Alpha Centauri 1 dan 2, Sirius, dan lainnya saat itu! Bahkan, serasa anggota olimpiade astronomi, malam itu saya bermalam di Bosscha, hehehe. Beberapa bulan kemudian, saya sadar bahwa Pak Irfan itu dulu ada di film Petualangan Sherina sebagai figuran yang jadi astronom.

29411_415259352153_7296614_n

Di bawah Teleskop Raksasa Zeiss di Observatorium Bosscha.

Tahun ketiga… setelah 20 tahun 10 bulan 15 hari 19 jam 25 menit… saya akhirnya punya pacar! Sayangnya hanya bertahan 2 bulan karena faktor orang tua dia…

Tahun Keempat

Awal tahun keempat berawal dengan kegalauan (tsaaah), meski demikian… saya harus mengakui bahwa saya itu beruntung sekali di awal tahun keempat. Alasannya? Dapat dosen pembimbing Bu Totik Sri Mariani, saya pun ikut proyek ke Singapura tanpa saya perlu buat proposal penelitian! Menjalani penelitian di National Institute of Education (NIE) Nanyang Technological University (NTU) itu adalah cerita yang saya ga mungkin bakal lupakan. “Bermain” pistol partikel untuk transformasi menggunakan bubuk tungsten dan senyawa mutagen nitrosometilurea (NMU) pada 500 tunas Aglaonema untuk membuat tanaman merah putih itu menarik… dan kedengerannya sangat badass!

65128_473677237153_6918716_n

Penelitian skripsi dulu gan!

Di sisi lain, waktu itu akhirnya ngerasain jadi asprak Probiselmol. Tiap minggu kita nongkrong di ujung lorong lantai 3 untuk briefing asisten. Kadang, saya ngerasa ga signifikan karena selain saya orangnya kaliber nya cukup “dewa” untuk menjelaskan fenomena2 di kuliah ini. Tak terkecuali dosennya, Bu Marsel dan Bu Fenny. Kadang, pas waktunya praktikum berjalan saya bolak-balik nanya asisten lain atau Bu Fenny kalau bingung… makanya, saya ngerasa abal banget jadi asisten. Seenggaknya sampai saya ngerti konsepnya, begitu ngerti… yak, I have the game with me! Di sini saya berubah jadi asisten pelit nilai… (jangan ditiru ya dek).

58940_464390107153_158341_n

Asprak Probiselmol yang absurd… dengan praktikan bocah… yang jauh lebih absurd…

Sisa tahun keempat ini ga ada yang terlalu menonjol, kuliahnya gitu2 aja dan paling saya ambil 2 mata kuliah astronomi lagi: Eksplorasi Angkasa Luar dan Astronomi dan Lingkungan. Sedihnya, keduanya bahkan ga A kayak pas Astrobiologi. Sebagian besar di waktu tahun keempat ini teman2 udah pada sibuk di lab masing2. Momen ketemuan paling cadas adalah jadi SwaSTA (Mahasiswa Sibuk TA) yang datang sebagai momok mengerikan di ospek himpunan maupun kampus. Tahun keempat saya punya pacar waktu itu, dia anak biologi 2010. Tapi yah, bertahan 8 bulan. Kadang kalo ngobrol ama temen diejek, “Sebulan lagi lahir tuh Dit padahal”. Ya kali! Itu pun putusnya sebelum wisuda. Itu kemudian sempet jadi alasan saya ga ke ITB nyaris 1 tahun.

Lebay? I know… namanya juga masih labil. Sekarang mah… ya… ngga!

Waktu berlalu… lagi, sebentar lagi saya S3. Kangen rasanya dengan semua yang di atas. Kemarin S2 pun rasanya beda. Saya meneliti dalam tingkat profesional, fun? Itu iya, cuma rasanya beda. Ga kayak pas S1. Ga usah gitu, sekarang saya pacaran aja udah mikir gimana ntarnya. Ga haha hihi kayak dulu. Tapi bukan berarti saya ga menikmati. Cuma, jadi orang dewasa itu ribet ya, cuma itulah hidup. Kadang kita takut jadi dewasa, padahal tumbuh itu mutlak, dewasa itu hasil proses.

Biarkan deh, saya tersenyum mengingat cerita2 di atas.

Buat temen2 SITH 2007, kakak2 asisten, para dosen SITH, dan bocah2 2008 ke bawah… mendadak saya jadi kangen kalian deh…

-AW-

Wow, udah lama juga ya sejak saya nulis2 di blog ini! Whew!

Banyak hal udah terjadi. Semenjak momen perjalanan ke Malang-Jakarta-Bandung, saya bertemu dengan orang2 super yang kemudian mengeskalasi dan mengakselerasi perjalanan karir saya dengan sangat cepat!

Gimana ya saya mulai cerita? Hmmm. Di Bandung di bulan Oktober 2014 itu, saya 2 kali bermalam di rumah Pak Indra. Adalah kebanggaan buat saya bertemu seorang dosen yang sangat merangkul mahasiswanya, dan terlebih lagi fotonya muncul ketika tim iGEM ITB presentasi di UB. Kalian tahu? Kadang saya berpikir bahwa saya itu bisa menyerap dan menyalin aura semangat orang di sekitar saya! Lho kok? Malam itu saya cerita sekilas soal perjalanan saya di Malang ke Pak Indra, dan cerita sedikit tentang Xenobiologi dengan nunjukin paper garapan Dr. Markus Schmidt ke beliau. Kita sepakat bahwa paper itu ide gila. Yak, khususnya buat kita yang di Indo yang masih panas2nya dengan SynBio dan iGEM. Apalagi kemudian saya mendapatkan info bahwa iGEM team kita, dari UI dan ITB bawa 2 medali emas, UB dan UT Sumbawa bawa 2 perunggu. Yang buat cengok adalah perkataan guru saya (yang kayaknya saya ga perlu sebut demi kenyamanan bersama).

“Kok topik kalian kurang fun sih?”

Kurang fun disini adalah topiknya terkesan formal. Penelitian dan solusi, semua menjadi sebuah proyek dosen-mahasiswa yang judulnya ajeg buat ditulis di jurnal. Pelajaran sih, kayaknya ketika saya nanti mendirikan iGEM team buat UGM harus lebih freak artinya.

Seolah belum penuh apa yang saya “serap” selama di Bandung dari Pak Indra dan Joko (cerita2 dia soal ke Boston dan lain2), balik dari Jakarta, ternyata saya dipertemukan dengan seorang professor super nyentrik. Prof. (Adj) Parvez Alam nama beliau. Seseorang yang disebut Sanka sebagai seorang ahli biomimetika dari Finlandia. Gak nyangka, perjalanan hidup saya setelah bertemu beliau saat itu ternyata memasuki garis asimptot logaritmik positif dan ilmu yang bahkan membuat persepsi saya dengan profesor2 sebelumnya berubah total!

Selama meneliti di proyek beliau, saya belajar banyak hal. Khususnya soal spontanitas, inovasi, keberanian, semangat, kasih sayang, dan kegigihan. Ngobrol banyak dengan seorang petinggi Fighting For Lives yang bahkan kenal Cecep dan Yayan Ruhyan ini (asli greget parah!), saya menemukan sisi di diri saya yang mungkin tergerus usia sejak kecil. Gimana nggak, beliau yang menerbitkan 24 publikasi ilmiah selama beliau PhD dan sekitar 13 publikasi per tahun ini mengajarkan sesuatu: Caranya melakukan hal segila itu adalah dengan memulainya, ga ada yang lain! Menariknya, saya mendapatkan proyek penelitian dengan beliau di hari kedua kami baru bertemu!! Beliau adalah seorang professor dan dosen yang sejujurnya saya kagumi. Kemampuan beliau untuk mengubah ide jadi penelitian, kemampuan beliau untuk melihat suatu ide abstrak bahkan soal mitologi dan agama secara filosofi itu pantas saya acungkan jempol!

Dalam dua bulan, saya yang jujur merasa gitu2 aja… ya mungkin saya mentor SynBio UGM, cuma selain itu ya mungkin hidup saya garing, saya pun mendirikan Project Xenocerebral: Xenobiota Inisiative melibatkan adek kelas saya: Putri, Arfan, kemudian Wira, Vina, Gathot, Nadira (tapi kemudian saya coret karena jarang aktif, mungkin kalau dia mau masuk lagi baru saya tarik lagi).

XBI Icon

Versi akhir logonya. Hak cipta karya oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Saya mengajarkan materi2 biologi sintetika, saya pun menyelipkan inisiasi Xenobiota di materi terakhir. Saya menjelaskan fokus kita di komunitas Xenobiota ini adalah ke arah astrobiologi, biologi sintetik, biologi spekulasi, bio-art, xenobiologi (dalam semua 2 artinya), hingga parapsikologi dan biomimetika balik (nanti saya bahas lain kali)! Dalam sekejap malam hari itu, 25 orang sah masuk grup! Kegilaan ini berlanjut hingga saya bertemu ketua tim iGEM UI, Siska Yuliana Sari dan mengajaknya ikut komunitas ini!

Di kelas penutup Prof. Parvez, beliau menunjukkan bahwa beliau meng-handle sekitar 5 proyek di Indonesia, dan masih ada lagi di luar sana. Proyek2 beliau ga main2! Dengan saya, beliau meneliti biomekanika dan histologi ikan glodok. Dengan Sanka, beliau meneliti diatom dan udang pistol yang mampu membuat gelembung dengan letupan berefek sonoluminesens dengan kecepatan 60 Km/h dan suhu 5000 K dan masih banyak lagi! Dalam dua bulan kami membelah pulau Jawa dari Pangandaran ke Surabaya dan Pamekasan, Madura dan kami bertemu orang2 random yang ga biasa kita temui di hari2 biasa.

Sepulangnya beliau, saya berpikir bahwa saya harus bisa lebih spontan dan inovatif lagi!

Yah, tahun 2014 itu… dari yang awalnya kepikiran buat paper jurnal tentang tesis doang, saya akhirnya buat paper spekulatif tentang penanaman tanaman di badan2 antariksa seperti Mars, Venus, Luna (bulan), dan Asteroid. Belum selesai! Oktober, paper saya bertambah 1: Pengamatan biomekanika ikan glodok.

Seiring waktu berjalan, Xenobiota Institute pun berhasil saya dirikan dengan utuh! Ide penelitian saya pun bertambah lagi! Dengan Arfan saya sedang berencana menggarap 2 paper: Interaksi XNA dengan DNA dan RNA serta polimerase natural secara proses interaksi dinamika molekuler, sama pembahasan ekstensi dogma sentral biologi molekuler dengan adanya XNA.

Berapa? 5…

Februari… Prof. Parvez memutuskan paper ikan glodoknya dibagi 2: Biomekanika dan histologi.

Jadi… 6…

Di kantong… saya masih ada 3 lagi, tentang kuljar non-aseptik dan Rafflesia. Rafflesia saya pikir bisa ditunda dulu, apalagi setelah penemuan paper Dr. Lazarus Agus Sukamto tahun 2010 yang akhirnya beliau berhasil menginduksi kalus Rafflesia arnoldii dengan penambahan senyawa pikloram (mau papernya? e-mail saya aja… mau meneliti? saya ikut kontribusi sini!) cuma belum berhasil membentuk embrio somatik. Kemudian ada tentang bioprinter sel tanaman…

Oke… 9… cukup! Kalau semuanya jadi… dalam setahun paper saya jadi 14 jika ditambah hasil pas S1.

Sekarang pun, Xenobiota Institute (XBI atau XI) sedang sibuk menginisasi tim iGEM UGM untuk XI team yang 2013-2014. Untuk anggota senior kayak Arfan, saya aktif mencari2 link ke luar sana. Saya sudah mengontak Prof. Dr. Jeff J. Doyle dan ternyata beliau ramah sekali. Beliau adalah pencetus protokol isolasi DNA tanaman dengan asam setil trimetil asetat (CTAB), anehnya paper beliau itu tidak ada di mana2. Untung beliau ngasih saya (mau? e-mail saya sini). Saya juga udah berhasil mengontak Dr. Philips Holliger, dan saya berharap bisa dapat masukan soal konferensi xenobiologi selanjutnya dan kolaborasi penelitian XNA. Terus juga secara singkat dengan Dr. John Cumbers dari NASA. Kemudian Afif mengingatkan saya untuk pelan2 dan hati2. Kayaknya saya perlu stop dulu.

Klimaksnya adalah kemudian, saya dengan Prof. Parvez dan temannya, Prof. Adolfo, saya sedang menyusun proposal penelitian untuk selanjutnya kalau tembus beasiswa (kali ini aamiin deh!) saya akan kuliah di Finlandia buat S3!

Di sisi lain… berhasil ketemu pihak media Yogya, review Kulinerologi si AW pun terekspansi ke level hotel bintang 4-5! Sekarang saya berhasil mencapai 91 artikel dan 70 ribu pembaca untuk blog saya satu itu! Makasih ya semua!

Terakhir… otak saya terpikir ide: Saya kayaknya mau buat blog lagi soal… review hotel!

Ide ini muncul setelah dalam 1 bulan saya udah nginep di 2 hotel (Hotel Ibis Style Malang dan Hotel Harper Yogya), dan bakal 1 lagi (Hotel Grand Aston). Penasaran, bisa gak ya? Hahahaha…

Ah, kenapa saya jadi hiperaktif gini?

Berhubung ini adalah jaman2nya temen2 saya lagi seru2nya buat note karena tugas OSKM, saya jadi pengen flashback dikit…

“Pada konsepnya… kaderisasi adalah sebuah tuntutan ideal organisasi untuk memproses calon anggotanya. Ini bukan cuma penurunan nilai, implementasi nilai, ataupun asimilasi apalagi akulturasi dari suatu value yang ada dalam sebuah sistem organisasi. Ini adalah bagaimana core dari sistem itu, yaitu pemegang organisasi memaparkan visi dan misi nya yang penuh ego dan ambisius, untuk kemudian dibumikan dari sifat dasarnya yang melangit, lalu disebarkan sebagai harapan kepada anggotanya sebagai harapan dan mimpi dari organisasi untuk diteruskan… bahkan hingga kepemimpinan itu terus berganti. Singkatnya, kaderisasi adalah bagaimana harapan pendahulu diberikan ke penerus… konsep imortalitas tujuan…” – Pandangan singkat saya mengenai apa itu kaderisasi.

Ah, dari mana ya saya harus mulai. Dulu, saya masuk ITB dengan segala cerita yang heboh. Tapi menariknya lagi, segala cerita itu dimulai dari sebuah halaman cerita di hidup saya yang saya ingat sebagai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2007, ya itu adalah nama OSKM waktu itu. Singkat cerita, saya masuk kampus dengan 3000an mahasiswa baru lainnya, dan kemudian saya dikelompokkan dengan para penata tertib kelompok (taplok) dan karena sistem lingkar wacana yang mereka aplikasikan ini, saya pun punya teman2 dari multijurusan. Kagum sampe sekarang, salah satu teman saya yang paling eksis dan gokil adalah Tizar Bijaksana (Plano 2007, Eks Ketua Himpunan HMP, dan Eks Presiden KM ITB… eks di sini adalah mantan… bukan mantannya, itu beda kasus bung).

At Obonk For Rainy s B day (2)

Saya dan kelompok 67, batalyon 3 “Kinanti” PMB ITB 2007.

AHJR

Simbol 67: Kapak-Arit… untung bukan palu-arit.

Selama hampir 2 minggu itu, saya keliling2 kampus, lingkar wacana materi, ngeliat kegeblekan taplok gw yang 2-2nya cowok itu, dan ice breaking dengan konsep team building. Bersama Kak Fikar dan Kak Poso dari jurusan teknik perminyakan 2006 sebagai taplok kami, kami merasa sedih karena 2 taplok kami adalah cowok, ga cewek kece kayak di kelompok 66 saya jujur merasa terpanggil atas pernyataan…

“Taun depan jadi taplok ya!”

Kondisi kami di kelompok 67 itu sangat2 strategis. Gimana ngga? Komandan batalyon (danyon) kami ada di sebelah… di kelompok 66, Kak Rezky dari Teknik Geo 06. Sebelah kami, kelompok 68 ada Kak Lukman (seiring perkembangan jaman, “kak” ini pun terhapus… ini note aja sebelum nanti ke bawah lagi bingung kenapa jadi beda) dari Teknik Mesin 06 yang tengilnya parah, tapi kalimat2 kritisnya cadas (nyambung ke cerita di paragraf nanti). Secara kokologi, mungkin ini penyebab isi kelompok 67 ini pada jadi orang2 penting di kampus semua. Ah lupa, ditambah Kak Bengbeng… (Teknik Kimia 05, Eks Kahim HIMATEK)… yak, resep sempurna sekaligus “Matrix of Leadership” untuk kami (apa sih dit).

Setahun berlalu, di area boulevard ITB di akhir Mei pun dibuka perekrutan panitia awal. Karena rasa penasaran, saya pun daftar. Selanjutnya saya ga bakal cerita sedetail apa yang saya tulis di Facebook saya dari bagian 1, 2, 3, 4 itu. Tapi kalo mau tau, klik aja.

Singkat cerita, di bawah para eks-taplok 2006 yang kami kenal dengan nama angkatan taplok, Raka Pramesvara-Pramesvari itu, kami mendapatkan banyak pelajaran yang menarik. Di diklat, saya pun ketemu mereka2 lagi. Kak Fikar jadi wakil ketua divisi, Lukman juga (wakadiv yang satunya lagi). Strategisnya lagi, urutan kami adalah diklat divisi dulu baru ke diklat lapangan. Hasil? Ikatan divisi kami SANGAT-SANGAT KUAT dibanding OSKM setelahnya. Sistem diklat per kelompok yang disebut keluarga, per 5 keluarga dipegang ketua RT (asek Pak RT!). Diklat kami mulai dari gimana kita bisa mencari cerita dengan ngobrol sama orang2 random di Bandung, mulai dari tukang es goyobot, sampe mbak2 di mall yang manis (asek). Terus ada ke diskusi, debat, dan kreativitas… ini yang kami disuruh bawa koran yang kirain buat apa, sampe tiba2 Lukman pun bilang…

“Dandani ketua kelompok kalian pake koran itu!”

Dan saya pun kena… ntah anggota kelompok 9 “Project Pop” ini pada mager atau apa, saya pun jadi Hulk (AKA cuma tempel koran aja), sementara partner saya si Vanny (Teknik Industri 07) jadi Ibu Kartini. Hulk-Kartini adalah kombinasi terajaib yang pernah saya tau. Kelompok saya ini dibina oleh Kak Rezky (eks-danyon 3 taun lalu yang saya sebut di atas), dan ya… saya ketuanya.

AKER

Pendiklat dan ketua kelompok yang penuh modus ke lingkungannya.

AZWX

Keluarga 9 – Project Pop. Dari atas (searah jarum jam): Bimo (baju ijo), saya, Navi (Teknik Sipil 07), Manda (Teknik Material 07), Opi (Arsi 07), Dita (Plano 07), Riska (Matematika 07), Heidy dan Icha (Mikrobio 07), Yasir (Teknik Sipil 07), dan Kak Rezky.

Tapi jujur, saya sangat bangga sama kelompok 9 yang saya pimpin ini. Mereka inisiatif, kreatif, kompak, intinya… sangat bersenyawa dari hati ke hati (dampak kebanyakan baca komik Grey & Jingga nih saya). Saya memberi ide, semua langsung kasih masukan dan arahan, khususnya si Bimo (DKV 07) yang jadi konseptor. Kami menang 2 awards sekaligus! Pemenang drama calon taplok, dan grup dengan konsistensi kedatangan anggota terbanyak (22 orang, sementara grup lain ada yang cuma 3 orang sampe 15 orang). Momen Heartwarming lainnya? Adalah ketika Bimo yang paling urakan, dan kadang annoying itu ngirim SMS setelah drama taplok,

“Makasih ya semua, gw bangga sama kalian. Kelompok 10 jangan pecah ya sampe nanti pun!” (kurang lebih gini)

Ketua kelompok mana sih yang ga terharu?

Beririsan dengan diklat, suatu hari Lukman di akhir diklat bilang gini…

“Malam ini, gw menunggu kalian yang merasa ingin berkontribusi lebih!”

Panggilan apa kah itu? Sesi diklat perangkat. Perangkat taplok terdiri dari sistem multi-batalyon dengan satu regimen waktu itu adalah 4 batalyon, masing2 dipimpin 1 komandan, dan 2 wakil, semua di bawah komando langsung komandan lapangan (danlap… that orator guy).

Saya… lagi2 iseng dateng, dan lagi2 hoki. Modal datang jam 7 (harusnya jam 8), niat saya motret2 kampus, membuat saya terlihat paling niat. Diklat selanjutnya selalu malam hari dengan flow tinggi. Di bawah ketua diklat perangkat Kak Rezky, kami belajar cara suara perut yang baik, membuat improvisasi orasi, olah rasa (mempelajari sugesti singkat untuk ngatur mood), agitasi, sampai baris-berbaris. Akhir diklat, setelah kampanye diri saya yang ultimately crappy karena saya canggung, saya terpilih jadi wakil komandan batalyon 3, bareng Ihsan (Plano 07), di bawah komandan kami Filman (Teknik Informatika 07).

APFU

Batalyon 3 – Pujangga Langit (harusnya Punggawa Langit… tapi salah cetak, terus kita Yao Ming mode).

Me & The Battalion Flag

Wakil komandan batalyon 3… yang random.

Jadi seorang wakil yang berperan sebagai administrator batalyon (wakil lainnya pengatur flow barisan) dan ditemani 2 sekretaris dan 1 bendahara cantik (ahoooy!), saya pun jadi semangat. Ditambah, beda sama kasus sebelumnya yang saya punya taplok 2-2nya cowok, pasangan saya… 2-2nya cewek (kami ber 3 karena saya bakal mobile), Vanny dan Karmen (Teknil Lingkungan 07). Capek sih iya, takut pas berposisi menjaga barisan di bawah pelototan massa kampus juga iya, tapi rasanya semua itu pudar… ketika ada yang manggil “Kak” di kelompok dan mereka mau dengerin cerita sekaligus mau berbagi keceriaan kepada saya (aaaaawww).

Taplok, dengan nama angkatan Petrapijar (diambil dari “Petromak yang berpijar”) ini pun jadi kebanggaan tersendiri.

ZIXI

Kelompok 88 INKM 08 yang hepi!

Saya… adalah taplok, saya adalah wakil komandan, saya adalah… dengan kurang ajarnya juga adalah fotografer dokumentator acara yang walau diomelin Danlap Agam (SR 06) mulu, saya cuek!

Seperti sebelumnya sama Kak Fikar dan Kak Poso, kami selalu berusaha menjaga kontak interkelompok biar INKM (INKM atau Inisiasi Keluarga Mahasiswa adalah nama lain OSKM) udah beres. Kagum sampai sekarang, ngeliat beberapa dari mereka berdiri tegap dengan sinarnya yang gemerlap, Lyco (Teknik Informatika 08) jadi ketua himpunan HMIF dan sekarang jadi wirausawahan makanan yang cukup sukses, dan Bella (Teknik Geologi 08) udah terbang ke Osaka. Lainnya? Tenang, saya kagum selalu dengan kalian kok.

Setelah INKM, saya belajar… bahwa interaksi saya dan junior saya itu adalah pembelajaran saya untuk sosialisasi paling pas. Sejak SMU, saya itu pendiam dan hanya terbuka ke orang2 tertentu. INKM… memang memberi nilai2 ke anak2 baru, tapi juga memberikan pelajaran bermakna buat para taploknya.

Apa yang secara informal saya dapatkan? Saya untuk pertama kalinya di-surprise-in pas ulang tahun!

BOUM

Makasih temen2 keluarga 10 (plus Kak Rezky, Lukman, dan Fikar), ultah saya ke-19 jadi seru!

…dan 6 tahun setelahnya, saya… punya pacar (sekarang mantan) yang ternyata taplok kelompok 92 di batalyon 3 itu…

Setahun setelahnya, saya terpanggil lagi untuk aktif di OSKM. Kali ini, saya awalnya diundang diam2 ke rapat perdana oleh Ivan Bakot (Teknik Informatika 06) yang adalah ketua PROKM (namanya OSKM kali ini jadi Pengenalan Ruang dan Orientasi KM). Akibat salah ngomong (tapi saya bersyukur malah akhirnya), saya menjadi panitia dengan 2 kaki yang beda… satu saya adalah ketua divisi dokumentasi PROKM 09, dan di sisi lain saya adalah pendidik dan pelatih (pendiklat) panitia lapangan dan divisi taplok. Nama lain pendiklat adalah Wimaralaya (saya masih kurang tau apa artinya karena nama ini diceletuk terus sebagai wimarALAYa) dengan baju putih berlogo oranye, dan bidang, yang di atas divisi, bidang non lapangan sesi tambahan adalah Amurva Bhumi dengan baju ungu, berlogo kuning gambar merak, ketua… Elmo (Teknik Informatika 06).

129522997153

Kordinator Divisi Dokumentasi perangkap pendiklat.

Terus gimana diklat? Kondisi berbalik. Kali ini diklat panitia lapangan dulu, baru diklat divisi. Saya jadi dekat ke anak2 diklat lapangan daripada diklat taplok.

DQAF

Kelompok 43 diklat lapangan.

LBZV

Kelompok 18 diklat taplok.

Kondisi saya sebagai pendiklat cukup… kompleks. Setahun ke belakang, saya memang jadi dekat dengan angkatan 2008 dan saya punya 2 love interests di waktu2 itu. Kedekatan yang canggung ke 08, ditambah beberapa hal pada ospek himpunan jurusan membuat hubungan saya ke angkatan saya jadi setengah baik, setengah buruk. Menyegarkan diri lah saya di PROKM ini terlepas hektiknya jadi kordinator divisi juga. Tapi saya enjoy berbagi2 materi ke anak2 diklat saya. Saya pun juga masuk tim materi divisi untuk menjaga nilai yang diturunkan tetap pada koridornya (maklum, taplok terlalu abstrak, apalagi pendiklatnya).

125412527153

Pendiklat pada umumnya… wimarALAYa… hahaha!

Poin kebanggaan saya taun ini adalah saya bisa mengangkat 2 orang dari grup diklat divisi saya jadi perangkat batalyon, Ganar (Teknik Perminyakan 08) dan Thezard (Teknik Kimia 08) keduanya jadi wakil komandan batalyon 1 dan 2.

SOBS

Thezard, saya, dan Ganar.

Pembelajaran lain di PROKM ini adalah bagaimana mensinergiskan hal2 yang ga terduga dan hal2 berbeda jalur. Sebagai kordiv dokumentasi, saya menyelaraskan tim dokumentasi PROKM (saya dan tim) dengan unit Liga Film Mahasiswa di lapangan dalam pembagian kerja, dan menyeimbangkan saya sebagai dokumentator yang harus bisa meliput semua acara dan juga ada di acara divisi. It’s a magnum opus!

Yang saya dapatkan di akhir PROKM… gebetan baru *plak*, koneksi2 baru termasuk si Andi (SBM 08) yang ternyata punya peran pas saya jadi ketua unit himpunan Klub Fotografi Nymphaea. Saya jadi tau bahwa fotografer non unit di kampus itu ada banyak, termasuk dalam unit himpunan2 juga dan mereka pun jadi link saya. Dari PROKM ini pun saya punya rencana mendirikan unit Ganesha Memasak (yang gagal pada akhirnya).

Cerita tahun selanjutnya ga banyak… di INKM 2010, saya cuma datang sebagai bintang tamu.

ZCYH

Bintang tamu yang absurd.

Tepatnya saya sekalian liat pacar (mantan) saya sih. Hehehe. Cuma ya, ada rasa terharu ketika melihat beberapa anak diklat saya jadi pendiklat. Ga usah anak diklat secara spesifik, para MVP taplok Praba Amerta (nama taplok 2008) atau Mahabharata (nama mereka di diklat ini) yang muncul dan menjadi pendiklat memberi rasa kebanggaan.

OODE

Saya dan para Mahabharata… para pendiklat Antakusuma (taplok angkatan 09 di INKM 2010).

Tapi… wham moment saya adalah ketika saya memberi arahan kepada para Antakusuma yang sedang depresi karena waktu interaksi dikekang pihak rektorat bersama dengan para pendiklat lainnya untuk membuat base camp di luar kampus dan mewajibkan anak2 taplok mereka bawa baju ganti yang casual. Alhasil? Ini berhasil! Seluruh taplok dan 3000 anak baru berhasil punya interaksi non formal! Saya… yah, sekalian nemenin pacar waktu itu, karena kebetulan Antakusuma bajunya biru dan Petrapijar juga biru, saya pun menyusup ke kelompok 130 itu dan menularkan cerita2 kampus… sekaligus itu menjadi traktiran iseng ultah saya ke-21. Jujur, awalnya mahasiswa2 baru itu kaget… siapa saya… tapi lama2 mereka mau berbaur!

451205867153

Secara mendadak, kelompok 130 jadi punya 4 taplok.

Setelah INKM… momen2 asik adalah melihat mereka yang berubah wujud…

NULD

Kelompok 43… setelah jeda 1 tahun.

YIAL

Kelompok 88 setelah jeda 2 tahun…

XPZO

with dat feels saat kita melihat mereka udah punya jaket unit dan himpunan masing2.

Seru ya?

Setahun kemudian… saya dan para eks-Wimaralaya datang ke diklat Winaya Sunda (nama taplok OSKM 2011) sebagai swasTAplok (swasTA = mahasiswa sibuk TA, portmanteau dengan taplok) yang menjajal para calon taplok itu atas apa yang diajarkan di diklat dan sekaligus ajang interaksi para dedengkot ini ke mereka yang baru. Melihat para sesama pendiklat udah punya cerita2 gila di hidup mereka selama 2 taun itu rasanya sesuatu…

_MG_1339

Eks-Wimaralaya 2 tahun setelahnya.

Akhirnya saya pun lulus… saya menyempatkan kumpul dengan kelompok 43 diklat PROKM 09.

_MG_2145

Mereka… sudah besar… *apa*

Tahun 2012… saya ga berurusan sama OSKM…

Tahun 2013… pacar (mantan) saya taplok batalyon saya sendiri… terus di Yogya, saya ketemu Addy (Teknik Sipil 07) sang asisten wadanyon (alias wakil wakil komandan batalyon atau wawadanyon) batalyon 3, dan Faris (Plano 07) sang danyon batalyon 4 “Surya Kemuning” dan komandan lapangan PROKM 09.

_MG_4831

Faris, saya, dan Addy… di warung bubur kacang ijo seberang kosan saya.

Tapi ternyata… penularan kekuatan taplok ini belum selesai…

_MG_4785

Saya, Radian, dan Arif, taploknya Radian.

Saya pun manas2in bocah2 ini… Radian, Nabila, Yunda… 3 junior SMU saya untuk jadi taplok, dengan bantuan Arif (Teknim Perminyakan 2012)… taplok dengan nama angkatan Bumi Sudha (kedengarannya kayak “blum wisuda”… damn…).

Akhirnya saya pun puas denger Yunda (Kimia 13), Radian (SBM 13), Diheim (Rekayasa Hayati 13), dan Havif (Matematika 13) ikut diklat taplok, dan di jagad dunia FB mereka sibuk dengan postingan2 Note FB tentang tugas mereka. Sekarang, saya hanya menunggu cerita dari mereka, para Actias Arkamaya (nama taplok… kini mentor OSKM 2014). Yak, taplok ganti nama jadi mentor untuk adaptasi peran jadi lebih dalam.

Sekarang… saya pun juga mengejar mimpi dan cita2 saya sambil sesekali nyengir liat kalian di grup FB Keluarga Besar Taplok. Jangan kalian suruh saya buat move on, karena kalian adalah keluarga saya juga. Yah, skill komunikasi massal dan interaksi interpersonal membuat saya jadi gampang berbaur dengan siapapun dan bisa punya banyak teman di mana (walau sahabat adalah hal lain lagi). Bahkan saya jadi bisa nyantai ngobrol sama mereka yang dari luar negeri di Couchsurfing Yogya…

IMG_7246

Jaime, saya, dan Alison.

IMG_7298

Berta, saya, dan Roberto dari Spanyol.

Yah, naplok membuat saya makin PD ketemu orang baru. Ini jadi penting untuk nantinya kita bekerja dan menjaga link untuk karir kita. Ditambah lagi, kemampuan mengerti personalitas-temperamen di taplok pun membuat saya jadi cenderung bisa menulis dan berkarya dengan sepenuh hati dalam aspek apapun. Intinya… taplok itu adalah cerita yang ga akan abisnya… dan inspirasi tiada putus dari generasi ke generasi.

Untuk kalian yang pernah saya bimbing, jangan lupain semua momen2 kita ya!

Untuk kalian yang baru memulai cerita kalian… buat cerita terindah ya!

Pesan moral:

  1. Kaderisasi adalah media untuk mengabadikan mimpi dan visi yang sudah ada, berupa nilai… yang terus diadaptasikan, diseleksi, dan diturunkan; evolusi nilai yang terus diturunkan bagai konsep heritabilitas genetika pada gen makhluk hidup.
  2. “Kalian gak akan tau siapa dari orang asing yang kalian temukan, yang dia nantinya ternyata adalah mereka yang paling dekat hidupnya dengan kalian” – kalimat saya ke Arif & Radian.
  3. Apa yang kalian lakukan dengan sebaik mungkin, akan bergaung selamanya di suatu sistem.
  4. “Kebersamaan itu indah kawan!” – Kak Rusi, kordiv Raka Pramesvara/Pramesvari PMB 07, Wira Tresna (taplok) OSKM 2006.

Tambahan…

“Dit, mana sih mantan lo??”

Saya ga mau pasang… ntar ada yang nyengir2 di luar sana… :p

-AW-

Ah, sudah lama rasanya saya ga nulis yang cenderung “normal”, maksudnya sesuatu yang bukan bahasan detail atas sesuatu selain masalah dan cerita di hidup saya sendiri. Anggap lah mungkin saya lagi pengen curhat dan cerita dengan sangat randomnya di pagi2 ini.

Pagi ini… saya merasa rada setengah gila… otak saya didominasi “Kulit manggis… kini ada ekstraknya…” Semprul!

Saya… pagi ini baru selesai ujian yang saya selesaikan cuma dalam 30 menit dari total 120 menit yang disediakan. Ujian pagi ini adalah ujian Dasar Pemuliaan Tanaman kelas B. Keluar ruangan, semua pada heboh dan sebagian memasang muka –> 😮

Saya bukan tipe orang yang ketika diberi soal esay, saya akan berpikir kembali untuk memperbaikinya. Alasan? Bakal nyoret2, buang2 tip x dan saya terbiasa sejak lama, apalagi di kampus saya ini ada dosen yang kalau di ujian ada coretan, nilai akhirnya langsung E. Ntah apa yang dipikirkan pak dosen satu itu lah. Oke, saya sedang puasa dan ga mau bahas orang lain, jadi mari kita kembali ke cerita awal.

Hidup saya… sedang cukup random akhir2 ini dan sejujurnya saya sedang membutuhkan kadar asam amino triptofan yang lumayan di tubuh saya untuk meningkatkan biosintesis hormon yang menyebabkan rasa bahagia, serotonin. Ntah, apakah ini dampak saya lagi agak menghemat sebelum pulang atau apa. Sekedar info, asam amino itu bisa didapat dari makan ikan laut khususnya salmon, keju, anggur, dan susu. Makanan yang secara notabene nya cukup berharga menengah ke atas. Saya belajar dari kesalahan saya pas S1 di mana saya cukup hedon dalam menggunakan uang bulanan saya. Sekarang? Saya sebisa mungkin hanya mengeluarkan Rp 50 ribu dan akan dikeluarkan dalam 2-3 hari sebelum saya menarik lagi dari ATM.

Kehidupan saya akhir2 ini, lagi cukup… random. Ga berantakan, ga menyedihkan, cuma ntah… saya merasa ada sesuatu yang kurang.

Mari kita bahas rutinitas saya di bulan ini, khususnya di bulan suci ini:

Dini hari, jam 2:40 AM saya makan sahur. Hingga hari di mana tulisan ini dibuat, saya setiap sahur hanya makan setengah potong roti besar dengan dimensi 30 cm x 2 cm x 10 cm berbentuk elipsoid berdasar rata. Orang2 mungkin mikir, ga kenyang apa Dit? Kenyang. Saya tiap sahur minum 400 – 600 mL, terus makan roti itu. Roti itu pun lengkap dengan serat karena roti jenis dengan tepung berwarna coklat (ntah dia wholemeal atau oat atau rye). Di atas roti ada taburan oat giling dan biji bunga matahari yang lumayan sebagai sumber protein dan vitamin E. Saya nonton Legend of Korra season terbaru, Book 3: Change, atau saya nonton Kamen Rider Gaim. Abis itu saya nunggu subuh, sholat, dan tidur. Di WC, kadang saya “nongkrong” sambil melihat teman saya… laba2 sutra yang kakinya panjang dan ramping itu makan serangga yang ngeganggu di kamar mandi saya. Nice job, bro… (maaf… saya lagi aneh dan ngomong sama laba2)

Pagi, biasanya kalo ga ada ujian (udah ga ada kuliah) saya tidur lagi setelah sekedar stretching dan menghirup udara pagi (yang kadang terganggu kalo tiba2 tetangga bakar sampah). Jam 9 an, kalo ga ada ujian, saya akhir2 ini dapat tugas 6 buah makalah. Sebenarnya bagi yang lain agak non-esensial gara2 kasus tahun lalu yang nilai keluar sebelum makalah dikumpulkan. Cuma, ntah saya merasa harus membuat makalah2 ini. Makalah2 ini adalah tentang laporan dari hasil praktikum kuliah Ilmu Biji. Ada 6: Poliembrioni, Vigor Biji, Viabilitas, Uji Tetrazolium, Deterioriasi Biji, dan Percobaan Mandiri. Konyolnya, percobaan 1 gagal gara2 salah perlakuan, vigor juga gagal, viabilitas ada datanya, uji tetrazolium ada datanya, biji di percobaan pencegahan deteroriasi pada jamuran, dan satunya lagi percobaan mandiri saya yang cukup spektakuler. Dengan kata lain, 3 dari 6. Ambisi gila saya membuat saya merasa harus bisa mensintesis dari data yang ada walau gagal sehingga meski dari data yang salah, analisis masih bisa didapat (walau jelas2 lain).

Masalahnya adalah, sebenarnya saya terlatih untuk berpikir cepat dalam menulis paragraf metodologi dan latar belakang, apalagi latar belakang tanpa pustaka. Cuma… ntah… saya merasa kurang mood dan rada malas akhir2 ini. Saya sejujurnya butuh motivasi lebih untuk ini.

Mungkin saya sudah membayangkan Jakarta. Pulang. Rumah. Di mana hati tertambat… yah… cinta… persahabatan… keluarga…

Tengah bulan ini, saya bakal mengalami ujian terbesar. Di kala ujian akademi saya sudah beres, ketika pengamatan jagung saya di ladang hampir beres, ketika tanggal 10 makalah harus selesai semua, laptop saya harus diservis sesegera saat itu. Laptop yang menjadi saksi segala percintaan, karir, dan perkembangan diri saya dari 11 Agustus 2011 ini, sudah berumur dan “kesehatan” batere nya hampir 10% dengan daya tahan setengah jam lebih saja (dari seharusnya 6 jam ketika 100%). Ketika laptop diservis, itu tandanya saya harus mencari aktivitas lain selama hampir 1 bulan yang melewati hari Idul Fitri dan hari ulang tahun saya itu. Mungkin saya perlu latihan menggambar2 kreatif lagi dengan Sketchbook saya. Soalnya tiap saya jalan2 dan memotret, telepon genggam saya memorinya hampir penuh.

Memasuki Agustus, saya berencana ikut kursus buat robot di Robota dekat kampus. Saya penasaran… semoga saya bisa buat robot yang nyentrik dan ekso-armor saya sendiri.

Menariknya lagi, saya bertemu banyak orang akhir2 ini. Komunitas Couchsurfing Yogya yang semakin rame dan heboh dengan gathering2 dan turis yang datang. Teman2 baru di Yogya, tempat2 baru untuk dikunjungi. Bahkan teman saya dan adek kelas saya, Putri, menemukan komunitas Synthetic Biology di Yogya. Ini menarik.

Agustus… saya harus menemukan langkah buat mencari kerja sampingan di Yogya, di majalah… saya pengen menjadi kontributor kuliner/FnB lagi…

Saya juga butuh memutuskan… ke mana saya abis ini. Pilihan bidang semakin banyak, dan tesis perlu dikerjakan dengan ketersediaan data. I have experiments to run, I have research to be done… for the people who are still alive…

Tapi… saya ntah merasa mau pulang…

(Ma, Pak, Rif)… Nit… Ki, Ji, No… gw kangen kalian…

-AW-

Halo pembaca! Berhubung nanti malam kita memasuki tanggal 1 Ramadhan 1435 H, saya ingin mengucapkan mohon maaf atas kesalahan baik dalam kata2 ataupun lisan yang pernah terucap, semoga amal ibadah puasa kita yang merayakan bulan suci ini diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan baik. Aamiin…

Kali ini, cerita saya lebih ke tentang sebuah restoran berbasis pesan antar (delivery) di Bandung, yang saat ini sudah tidak ada. Masih ada kaitannya dengan bulan suci, resto satu ini meninggalkan banyak kesan untuk saya.

Pertama2, buat kalian… mahasiswa-mahasiswi, bagaimana persiapan puasa kalian dalam sisi material (maksudnya bahan pangan)? Apakah selama bulan Ramadhan ini kalian pesan katering rutin yang akan mengantarkan tiap sahur, apakah kalian memang suka jalan2 pas sahur sehingga kalian udah punya spot langganan atau restoran yang dituju, apakah kalian suka masak, atau… kalian jarang sahur? Apapun itu, saya yakin di tiap diri kalian yang kuliah di se-antero tanah air khususnya pasti punya cerita soal itu.

Termasuk saya… kisah makan sahur saya selama 4 tahun di masa kuliah S1 saya beda2 dulu di Bandung. Tahun pertama, saya memesan katering dari Kantin Koboy Cisitu. Saya sejujurnya males makan nasi buat katering, kenapa? Porsinya ga kira2… porsi di mana lauk dikit sementara nasi berlimpah. Saya soalnya kalau makan lebih suka banyak lauk daripada karbo. Jadi biasanya saya menggantinya dengan kentang atau ga pesan nasi sama sekali. Konyolnya, suka missed info ke mereka ini. Gimana? Tau2 dikasih nasi segudang, terus sisanya jamuran di kosan saya dan paling konyol dari soal katering… mereka pernah datang 5 menit sebelum imsak! Alhasil, setelah itu saya mengurungkan niat buat katering lagi di tahun selanjutnya.

Tahun kedua, saya memilih buat membeli bumbu nasi goreng kalengan rasa tuna kesukaan saya. Yah, ini adalah poin plus kosan saya yang ada di kawasan Cisitu Lama IX ini punya fasilitas asik berupa dapur, nasi bebas ambil, dan air minum dispenser (walau merknya ga jelas… dan konon jarang dibersihin). Alhasil saya pun masak tiap sahur… (walau kadang kelewat males jadi cuma makan roti… atau sahurnya bablas).

Tahun ketiga… ini yang akan menjadi highlight cerita saya kali ini.

400457_284589158255561_1240943883_n

Saat itu, di Bandung ada sebuah restoran yang udah saya sebutkan tadi bernama Farfalle Pasta. Restoran ini sangat unik karena tempatnya virtual; dengan kata lain kita hanya bisa memesan via telepon, SMS, dan bahkan kerennya… via teknologi Yahoo! Messenger (YM)! (terakhir di 2011 bahkan bisa pesan via website di mana PHD dan yang lain belum bisa fasilitas ini!). Dahsyatnya lagi, tidak ada minimum order payment, ga ada pajak harga (gw rasa harganya udah masuk pajak)… dan di atas segalanya, porsinya ga main2 DAN RASANYA ENAK BANGET! Resto satu ini mampu mengungguli restoran sekelas Pizza Hut (karena rasa masak-ulang nya kerasa banget… ga terlalu seger) dan bahkan Warung Pasta pada saat itu (yang terlalu berair… konsistensi creamy nya jelek). Andai Kulinerologi si AW sudah ada dari dulu, saya akan kasih cawang penuh (√√√√√). Bukan karena hanya rasanya yang hampir menyaingi makanan bintang lima, kreativitas menu, keunikan rasa, kemudahan dalam pemesanan, hingga feedback yang sangat positif membuat saya ga akan ragu memberi nilai penghormatan sebesar itu!

“Lo ga lebay kan, Dit? Emang makanannya gimana? Liat lah!”

Soal makanan, tempat ini menyediakan pasta sebagai makanan utamanya. Tersedia dalam porsi S (Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00), M (Rp 10.000,00 – Rp 13.000,00), L (~ Rp 15.000,00) (dan terakhir pesan ada XL… sekitar Rp 21.000,00 dan seinget saya ada XXL buat senampan penuh buat hajatan, Rp 50.000,00 an). Menunya tersedia mulai dari pasta otentik (Bolognese, Carbonara, Alfredo), hingga hasil kreativitas mereka sendiri. Walaupun yang kita dapat setelah sampai bentuknya ga sesuai yang di gambar, porsinya… gak main2!

dsc00966

Kurang lebih ini… porsi M, Spicy Tuna Sweet Fusili (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

“Dit… gw tau lo udah lupa mungkin… tapi dengan sisa2 memori yang mungkin masih ada… tolong deskripsiin dong gimana rasanya!”

Meh… bawa2 memori. Curcol sedikit, tahun ketiga kuliah akhir adalah momen pertama kali seumur hidup saya dapat pacar. Namun sayang perjalanannya ga mulus akibat ga direstui oleh ortu pacar (mantan) saya waktu itu. Thanks to Rino yang kebetulan waktu itu ada dan juga thanks to resto ini. Hubungannya? Ah saya lupa… hingga 2010, tempat ini menyediakan fasilitas pre-order untuk sahur! Catatannya, pesan pas malamnya atau maksimal jam 2 atau traffic antar nya bakal membludak.

Kesukaan saya… Fettucine Alfredo w/ Barbecue Mushroom…

421269_323718664342610_302239243_n

Maaak… kangen gw makan yang ini! (Sumber: Page FB)

Fettucine yang dimasak dengan saus krim dan mentega (butter), ditambah dengan potongan jamur kancing yang ditumis dengan saus barbecue dan bawang bombay. Rasanya? Susah dijabarkan dengan kata2. Rasa manis-spicy dari jamur dinetralisir dengan rasa mild dan gurih dari krim di pastanya. Hmmmmmmm~

Kedua, Spicy Tuna Sweet Fusili… yang satu ini emang agak pedes, manis, asam. Tuna dimasak dengan saus tomat, cabe, bawang putih, dan pasta fusilli. Nendang banget!

Ketiga… saya lupa, seinget saya… Fettucine w/ Creamy Rosemary Chicken. Ini dahsyat sih! Fettucine, dimasak dengan ayam yang udah ditumis, dikasih krim yang terinfusi herba rosemary yang wangi dan manis. Gileeeee!

Keempat, yang lucu… ada pasta kalo ga sala Fettucine with Choco Sauce. Ini manis. Pake saus krim coklat pake mentega, jadi rasanya manis2, asin, gurih gitu. Sempurna, dikasih keju mozzarella. Maaaaaak!

Bahkan… kelima… Spaghetti Bolognese nya sendiri… manis, dagingnya kerasa dan herba2 di dalamnya kerasa, ada oregano, rosemary, basil, dll. Rasa tomatnya juga ga main2!

Sekarang udah kebayang? Dengan harga yang asik, sahur saya jadi ga galau berkesan!

Komentar saya cuma satu waktu itu… ini restoran namanya “Farfalle”… kan artinya pasta kupu2… kok ga ada yang pake pasta kupu2?

Screen Shot 2014-06-28 at 9.48.04 AM

Ini lho!

Sampe sekitar 2011 awal (curcol lagi: ketika saya sama mantan kedua saya), saya (kami) suka memesan pasta2 dari Farfalle buat makan bareng. Lalu menjelang saya lulus, tempat ini udah ga bisa buat pesan sahur, dan… mereka buat restoran di kawasan Pasteur, Bandung. Awalnya, gw mikir… wah keren… dari delivery… ke resto!

Tapi sayangnya… itu ga bertahan lama. Awal 2012, mereka lenyap… ntah kenapa. Emang sih, saya udah di Jakarta.

Tahun 2014 ini… pas saya cek. Bahkan restorannya udah ga ada (di Foursquare ada, tapi lokasi ga ada di kenyataannya)…

Ternyata…

Screen Shot 2014-06-28 at 9.55.51 AM

2009-2013 (sumber cek: sini)

Domain Farfalle Pasta udah expired. Kenapa ya mereka tutup? Masa sih setelah buka, mereka jadi bangkrut?

Damn… jujur saya bakal kangen sama ini…

pasta

Dat website… (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

Walaupun beberapa gambarnya masih ada di Page FB mereka sih, cuma man… I miss to eat their pasta!

Serius… kalo ada yang tau ternyata saya salah (baca: ternyata masih ada), tolong kasih tau saya di komen ya! Saya pengen banget bisa makan ini lagi kalo saya ke Bandung. Banyak kenangan dengan saya makan makanan di sana.

Moral cerita:

  1. Di era yang serba sibuk ini, kayaknya bisnis makanan delivery bisa dibilang menjanjikan. Alasan? Ga perlu tempat besar untuk restoran, cuma butuh dapur dan kurir antarnya.
  2. Setiap orang pasti punya makanan yang memiliki kenangan saat makan… ntah karena keluarga, teman, pacar, mantan, istri, siapapun… itu lah kenapa makanan itu spesial buat saya. Terlebih lagi kalau dimasaknya dengan ide original dan dimasak sepenuh hati.

PS: Tahun keempat? Saya puasanya banyak di rumah saya karena tahun keempat di bulan Juli-Agustus skripsi saya udah beres (laptop ilang… terus saya putus ama mantan saya yang kedua *curcol*)

-AW-

Mengikuti rasa penasaran saya (lagi), perjalanan ini pun berlanjut. Cerita kedua saya ini terfokus ke pencarian, mencoba menentukan area distribusi, dan dalam sisi kuliner… mencoba rasanya.

Oke, jadi waktu itu saya dalam pencarian 1 hari itu saya tidak menemukan merk selain Indo Saparella (merk sarsaparilla terbaru). Alasan? Waktu itu di Soto Kadipiro I habis, di Bale Raos jualnya Indo Saparella padahal waktu itu saya penasaran sama merk lain yang lebih kuno, terus Kak Wijna (sang kakak kelas di SMU) bilang ada tapi di daerah Kotagede yang lebih jauh, sampai saya pun melanjutkan baca2 lagi. Saya menemukan petunjuk bahwa sarsaparilla merk Ay Hwa dijual di sebuah agen travel di daerah Pasar Kembang.

Hari Selasa (01 April 2014), hari itu saya mau ke Progo Dept. Store buat beli kipas akibat Yogya yang makin panas. Waktu itu saya pun teringat dengan lokasi untuk jual sarsaparilla Ay Hwa itu,

Jl. Pasar Kembang no. 78.

Akhirnya saya turun shelter TransYogya di dekat Jlagran Lor, bukan di Malioboro seperti biasanya.

Kesan pertama sama pertokoan di Jalan Pasar Kembang… susunan nomornya awalnya terlihat agak membingungkan tapi lama kelamaan terbaca polanya. Setelah nomornya mendekati angka 70an, saya pun mulai mempertajam penglihatan saya. Sampai mata saya mendeteksi adanya tumpukan botol Ay Hwa. Dengan muka (sok) polos dan kayak orang kepanasan (karena hari itu menurut Yahoo! Suhu Yogya lagi 33˚C dengan index UV 13 atau kondisi radiasi ekstrim), saya bilang, “Mas, di sini ada sarsaparilla ya? Berapa harganya?”

Akhirnya dengan merogoh kocek Rp 4 ribu, saya mencicipi “mbahe sarsaparilla” ini. Rasa sarsaparilla nya lebih dapat walau agak sedikit asam yang saya cukup familiar dengan minuman yang sodanya diinduksi secara tradisional. Sodanya memang lebih dikit sih.

Ay Hwa Sarsa

Akhirnya…

Setelah puas, saya jalan lagi. Kepikiran, karena kebetulan mau pulang dan om saya lagi mencari sarsaparilla, kenapa ga saya bawakan dari sini aja?

Jumat (04 April 2014), saya pun ke sana lagi buat membeli 4 botol untuk saya bawa ke Jakarta, kalau ada uang lebih (gawat, saya overspent di awal bulan ini) saya mau bawa 4 Ay Hwa dan 2 Indo Saparella ke Jakarta. Tapi ternyata… sarsaparilla nya habis. Alhasil, saya pun memesan minuman lain yang ada, limun (soda) leci rilisan Ay Hwa juga. Terus ada info yang membuat saya… “Heh??” Alasannya, inilah percakapan saya dengan pemilik sebuah usaha rental tersebut.

AW: Ya udah pak, jadi saya ke sini lagi kapan? Soalnya Selasa depan saya mau pulang.

Pak: Oh, biasanya Senin udah dateng kok. Panjenengan (Jawa Krama Inggil: Anda, bahasa terhalus dari “kamu”) pulang naik kereta, tha?

AW: Iya pak… hmmm… Senin ya…

Pak: Atau Selasa juga boleh.

AW: Tapi mepet sih pak. Senin deh. Oh iya, Rp 5000 ya kalau sama botol?

Pak: Lha ndak mas, 1 botolnya aja Rp 15 rb, isinya Rp 4 rb. Ya Rp 20 rb jadinya.

AW: HAH? Botolnya Rp 15 rb??

Pak: Iya mas, kalo leci ini, baru sama botolnya Rp 5rb.

AW: Kok beda ya pak?

Pak: Ya beda, ini pake botol baru yang harganya Rp 2rb aja. Sarsaparilla itu pake botol lama yang dibersihkan terus dipakai lagi.

Saya pun penasaran, sebotol limun leci Ay Hwa ini rasanya seperti sirup leci yang saya beli dari abang2 pas SD, esens nya kerasa dengan suntikan soda manual yang saya deskripsikan tadi. Botolnya baru, berbeda dengan botol buat sarsaparilla.

Ay Hwa Leci

Leci Ay Hwa… produk lain non sarsaparilla dari Ay Hwa selain sirop Efata.

Iya sih, botol sarsaparilla kawat tutupnya aja udah karatan dan keramik tutupnya kadang pecah. Saya pun nanya2, seberapa lama siklus cuci-isi-minum ini udah terjadi. Jawaban si bapaknya cukup membuat saya kaget. Dia meminta saya melakukan perhitungan matematis, mbah saya (Alm. Roeslan Suroso) lahir tahun 1927, beliau meninggal tahun 2002, dan sekarang tahun 2014. Asumsi si bapak ini tahun 1970an sudah minum dan mbah saya suka dari dulu, artinya diperkirakan mbah saya suka dari umur 15 tahunan, itu artinya tahun 1942, awal Perang Dunia Kedua dan Indonesia vs Jepang. Andai masih ada, mbah sekarang 87 tahun, dan sarsaparilla itu minuman khas bangsawan Yogya dari lama. Jadi dengan perkiraan A dari tahun 1942, artinya siklus itu sudah berjalan 72 tahun, atau perkiraan B dari tahun 1970 jadi 44 tahun. Oke, mendekati setengah abad. Box berisi botol diambil tiap minggu untuk dicuci, dan dikembalikan lagi. 1 tahun 52 minggu. Untuk A, 72 x 52 = 3744 siklus, dan B 2288 siklus. Itu sesuatu.

Ay Hwa Sarsa - Plug

Sangat… jadul… dan… okay…

Mereka menggunakan botol reuse untuk minuman2nya. Oke lah, saya percaya kok untuk hal kebersihannya. Untuk limun yang leci, si bapak bilang ini bisa pakai botol baru dengan tutup botol konvensional. Buat sarsaparilla, menggunakan botol bertutup kawat berkeramik. Saya nanya, botolnya nambah atau kurang? Beliau bilang cenderung ngurang. Logis, jika ada orang kayak saya yang pengen bawa ke luar, jelas berkurang. Lalu botol pecah.

Bukannya saya buruk sangka, khususnya ama orang sekarang. Jelas aja penjualannya kalah. Kenapa? Pertama, menggunakan kawat yang karatan ini, orang udah mikir… ini minuman apa dan aman gak? Kedua, orang sekarang menilai awal suatu produk dari ketertarikan desain kemasan yang beragam, melihat botol sarsaparilla yang tadi mungkin cuma orang yang punya mbah yang kayak saya yang bakal tetap beli, orang kota yang lain?

Sebenarnya gak ada yang salah dengan sistem reuse karena air galon kemasan pun juga menerapkan sistem ini. Kotor? Dalam distribusi, air galon kemasannya bisa lebih kotor2an ketimbang sarsaparilla ini. Ini sebenarnya adalah strategi penghematan sumber daya yang baik. Cuma kayaknya persepsi orang atas botolnya aja sih. Faktor desain seperti yang saya sebutkan tadi, untuk menarik minat konsumen muda era 2010an ini, kemasan harus dibuat semenarik mungkin, atau sebercerita mungkin. Bagian ini yang agak missing dari Ay Hwa sehingga kalah dengan Indo Saparella yang kemasannya unik, seperti botol potion dari game RPG.

Oke, itu pelajaran siang hari itu. Setelah satu jam ngobrol itu, saya pun beranjak. Baru menginjakkan kaki di bus, saya membuka blog lain internet dan menemukan pabrik sarsaparilla merk Manna ada di Jl. Dagen no. 60.

Akhirnya akibat rasa penasaran, sekaligus siang ini saya mikir mau ketemu temen dari Jakarta, Azza di stasiun, saya pun sehabis sholat jum’at kembali naik bus dan turun di shelter Malioboro II. Kebetulan cuma beberapa meter dari Jalan Dagen.

Setelah berjalan dan memperhatikan dengan seksama karena lagi2 pengurutan nomornya agak membuat saya bingung, saya pun ketemu bapak2 tukang becak.

Pak becak (PB): Mas mau nyari penginapan?

AW: Nggak kok pak, saya tinggal di Yogya.

PB: Oh iya, tha? Nyari apa kalo gitu mas?

AW: Ini pak, nomor 60 itu di mana ya?

PB: Itu… gedung itu…

AW: Itu yang tempat sarsaparilla itu?

PB: Limun itu? Oh itu tutup udah lama banget mas, udah 6 tahunan. Kayaknya pindah ke Semarang.

AW: Hah? Selama itu?? Terus itu sekarang jadi apa?

PB: Jadi hotel, itu… Hotel Dafam.

AW: Oh gitu, oke deh pak. Makasih ya pak!

PB: Sama2 mas…

Waduh, saya melupakan detail kalau tempat produksi Manna itu udah jadi hotel, atau saya kelewat penasaran ya. Ah ya sudah lah.

Keesokan harinya, saya lagi2 ke Moro Seneng setelah sarapan. Tujuan? Saya penasaran aja soal Minerva.

Sesampainya…

AW: *nunjukin gambar botol Minerva* Mas, di sini masih ada ini ga?

Mas: Wah, udah ga ada mas…

AW: Adanya yang sarsaparilla yang botol kecil ya?

Mas: Iya…

Okay. Artinya kemungkinan yang tersisa bener2 Ay Hwa dan Indo Saparella. Ini bener2 kayak persaingan mbah vs cucu. Sejujurnya, jangan sampai 2 minuman ini runtuh deh walau beda brand. Kenapa? Soalnya 2-2nya harapan terakhir sarsaparilla di Yogya ini. Indo Saparella udah jago dalam distribusi dan pengemasannya, Ay Hwa… belum… dan untuk mensupport sistemnya, dia membuat sirup dan minuman lain. Rada kayak Manna, cuma semoga ga tutup juga.

Selanjutnya, kayaknya perjalanan fase akhir saya soal sarsaparilla di Yogya bakal lebih ke pabriknya. Saya bakal coba main ke pabrik 2 perusahaan itu.

Yak, nantikan saja cerita saya selanjutnya! (bersambung)

PS: Cerita sebelumnya klik ke sini.

-AW-

Kisah ini… menggambarkan betapa randomnya saya di hari ini, tanggal 31 Maret 2014 ini. Ntah, apa yang ada di pikiran saya sehingga saya sangat mobile hari ini. Mulai dari kisah sebelum ini ketika saya mencari sarsaparilla, berlanjut di sore hari tentang kisah yang akan saya ceritakan ini. Sejujurnya… kisah ini berakar dari blog sama yang saya baca waktu itu. Hanya berasal dari rasa penasaran saya atas minuman yang disebut “Sapaitu”, sarsaparilla dicampur susu. Lokasi? Di Balé Raos, lingkungan keraton. Nyalakan GPS dan Foursquare, saya pun beranjak dari kampus jam 16:20 WIB sore. Naik TransYogya koridor 3A, turun di Pojok Keraton Kulon, dan jalan kaki yang nampaknya hampir 2 Km. Yak, saya lelah. Cuma saya ga mau keluarkan uang sepeserpun, akhirnya saya pun jalan walau godaan besar sekali untuk naik becak.

Ah iya, kenapa saya tulis lagi di sini? Bukan ke Kulinerologi? Karena… ceritanya abstrak! Yah, saya tulis sih di sana, tapi cuma tentang makanannya, bukan apa yang saya alami keseluruhan di sana.

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati area yang saya bahkan ga tau sama sekali, akhirnya saya tiba di Balé Raos. Tempatnya megah… sangat megah. Tapi sangaaaat sepi. Saya pun masuk, walau dengan muka lusuh dan berkeringat, saya harap saya ga dianggap orang aneh.

AW: Mbak, ini… restorannya buka kan?

Mbak: Iya buka kok, mas.

AW: Bisa pakai debit Mandiri?

Mbak: Bisa mas…

AW: Oh, oke deh!

Mbak: Mau duduk di sebelah mana, mas?

AW: Di sebelah sana…

Saya pun mengambil kursi outdoor yang paling terang. Alasan? Di dalam nampaknya sudah dipesan, dan di tempat ini saya setidaknya bisa memotret dengan baik.

Sejujurnya, saya sangat suka dengan pelayanan di sini. Free flow water, dan ada hors d’ouvre (cemilan pembuka) keripik jagung.

IMG_5599

Sedaaaaap…

Prosedur standar saya: Duduk, lihat menu, cari yang unik tapi harga terjangkau, pesan, menunggu, siapkan Evernote Food (apps ini adalah senjata andalan saya untuk menyimpan referensi hidangan yang saya pesan), makanan datang, potret, masukkan Evernote Food, makan/minum dan nikmati, bayar, pulang!

Menu pun tiba di tangan saya. Saya pun takjub. Ah ya… nama restoran ini adalah Balé Raos Royal Cuisine Restaurant ketika saya buka di Foursquare. Seisi menu, saya melihat daftar makanan yang merupakan makanan kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono VI hingga X (yang incumbent menjabat saat ini). Mengenai harga… jujur saya kagum dengan harganya yang lumayan terjangkau untuk sebuah royal banquet. Akhirnya saya mau memesan makanan dan minuman…

AW: Mbak, saya pesan bistik jawa dan sarsaparilla ya…

Mbak: Maaf mas, sarsaparilla nya sold out… (artinya es sapaitu nya juga ga ada)

AW: Yah… oke deh, es lemon tea aja…

Saya dari tadi membaca menu lagi dan lagi. Saya mempelajari pola di sini. Nampaknya pada periode kesultanan ke-6 dan sebelumnya, sajian kuliner di sini masih agak kuat pengaruh Jawa nya. Masuk periode ke-8, pengaruh Belanda mulai kental. Yang menarik adalah pada periode kesultanan ke-9, di bawah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelumnya, saya pernah ke museum keraton bersama Aria dan Dwiki di tahun 2013 awal. Kami menemukan bahwa… Sri Sultan ke-9 ini, nampaknya orang yang sangat multi-talenta, dan multi-tasker sekali. Bagaimana tidak? Beliau disebutkan pernah menjabat 20 jabatan dalam 1 waktu (mak… saya ngejabat 4 posisi aja mabok… pas PROKM ITB 2009… jadi kadiv dokumentasi, pendiklat taplok, perangkat materi divisi taplok, dan pendiklat lapangan… ah, dan saya ketua unit Klub Fotografi Nymphaea saat itu, oke… 5). Tapi yang keren, beliau suka eksperimen dapur dan juga merupakan fotografer. Salut untuk Kanjeng Sultan ke-9!

_MG_9662

Bumbu masak milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX…

_MG_9660

…dan kamera2 milik beliau.

Di menu, saya melihat banyak makanan yang merupakan makanan kesukaan Kanjeng Sri Sultan ke-9, dan juga ada salah satu masakan racikan beliau. Pesanan saya ini, Bistik Jawa merupakan makanan kesukaan beliau juga lho!

Tak lama, pesanan saya pun datang… (khusus ini, gambar dan review-nya saya taruh di blog saya yang Kulinerologi, artikel mengenai Bistik Jawa, Bale Raos)

Asli… enak… saya jadi ingat dulu mbah putri (dari bapak) pernah masak bistik Jawa juga buat saya. Masaknya sederhana, daging has dalam ditumis dengan sedikit minyak, mentega, merica, garam, dan potongan bawang bombai. Setelah daging matang, angkat. Sisa di wajan ditambah air hingga menggenang, tambah sedikit kecap dan saus tomat. Tambah garam jika kurang asin, atau jika terlalu asin tambah gula dan air. Ini menjadi sausnya. Abis itu, santap deh! Untuk yang saya makan di Balé Raos ini, mereka menggunakan daging cincang, jadi kayak beef burger steak, lalu dengan kentang tumbuk yang dipadatkan, jagung muda, brokoli, dan wortel rebus dijadikan sayur (sisanya dibahas di blog sebelah).

Ah… mantap! Setelah makan, saya pun bayar.

AW: Mbak, mint bill nya dong…

*ga lama kemudian*

Mbak: Mas, maaf… untuk debit Mandiri minimal Rp 100rb, BCA yang lebih rendah…

AW: Mbak… kok gak bilang dari tadi? Di sini ATM di mana ya?

Mbak: *nanya temen2nya* Itu dekat Pasar Ngasem.

AW: Mbak, itu jauh… harusnya bilang dari tadi kalau ada minimalnya. Gini deh mbak, ada yang bisa antarkan saya naik motor ke ATM?

Mbak: *nanya temen2nya*

Mas: Mas, saya aja deh yang antarkan…

AW: Oke deh… dan mbak, gini aja deh, ini saya ada Rp 50rb, saya bayar yang Rp 15rb nya (dari total Rp 65rb) dulu, nanti Rp 50rb nya dari ATM dari mas ini aja ya…

Akhirnya (dengan sangat2 merepotkan) saya diantar si mas naik motor. Saya pun nanya2 soal sarsaparilla nya, dan ternyata mereka pakai Indo Saparella. Wow, emang ini lagi booming banget ya. Si mas nya nanya saya kos di mana, saya pun jawab di Kaliurang.

Akhirnya lagi, saya ngambil uang di ATM BRI (Aaaargh! Kena charge!) dan ngasih ke si masnya. Tapi saya… masih dudul lagi…

AW: Mas, boleh numpang antar sampai halte TransYogya yang dekat sini ga?

Mas: Boleh mas, yang mana? Yang itu ya?

AW: Iya, yang Ngabean di situ kan?

Mas: Oke deh…

Lalu saya kasihkan uangnya dan diantarkan masnya sampai lampu merah shelter Benteng Keraton Kulon, dan saya pun pulang naik TransYogya koridor 3B seperti biasa.

Oke, jujur saya tertarik sama restoran itu… tapi dengan saya udah merepotkan gini, saya jadi kabur dulu deh…

Pesan moral:

Buat restoran: Tolong kasih tahu pelanggan mengenai adanya charge (untuk kartu kredit) dan minimum payment (untuk kartu debit) sebelum pelanggan memesan. Apalagi jika card machine nya rusak. Kalian ga mau ketemu pelanggan seperti saya atau BAPAK SAYA yang lebih keras lagi… saya masih toleran walau nyusahin, bapak saya? Kalian dijamin diam, walau ada manajer di situ.

Buat pelanggan: Tolong siapkan uang lebih di dompet kalian sebelum jalan2! Cash over card, no exception.

Apapun deh, semoga Kanjeng Sri Sultan tidak tepok jidat membaca cerita saya ini.

-AW-

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life