Skip navigation

Tag Archives: biologi

Ada banyak makanan2 unik di luar sana. Mulai dari pas saya bocah waktu itu makan ikan pari, pas saya mulai menjadi food blogger, hingga hari ini… di saat saya sudah berkelana 10 ribu kilometer ke Finlandia dan mencicipi sesuatu yang unik sampai sesuatu yang bisa kita sebut premium. Ada satu bahan makanan yang buat saya selalu punya tempat tersendiri di hati: jamur. Ah jamur doang, apa serunya sih? Bukan jamur doang, bukan sekedar soal jamurnya, tapi soal apa yang di dalam jamur itu.

Mengingat masa kecil, saya yang hobi banget main video game PS berjudul Harvest Moon, ada satu jamur yang menarik perhatian buat saya, jamur bernama truffle.

truffle-hm

Ini dari bentuknya, bukan truffle. Ini matsutake, jamur yang juga mahal. Ntah siapa yang nerjemahin jadi gitu!

Jamur ini memiliki nilai jual yang tinggi di game ini lho. Saya tumbuh dan masih bertanya2 itu apa. Hingga dekade 2000an akhir, baru saya tahu seberapa besar nilai jamur ini! Jamur ini per 1 kilogram bisa laku 3000 dolar Amerika hingga 30000 untuk truffle putih! Saya bersyukur udah beberapa kali nyicip. Sebagai topping pizza, tambahan buat kentang goreng, sampai IRISAN LANGSUNG di atas pasta. Emang, kenyataannya jamur ini emang spesial. Punya rasa yang mirip keju, telur, dan kadang bawang putih dengan tekstur agak keras kayak keju yang kering. Saya beberapa kali kepikiran gimana cara menanam jamur ini, sempat saya diajak di proyek penanaman jamur ini tapi sayangnya ga berlanjut.

Beberapa hari lalu (Jumat lalu, 23 Desember 2016)…

truffle-rino

Makjang… truffle all you can take!

Teman saya, Rino, pamer foto ketika dia makan di buffet salah satu hotel di Jakarta dan dia nyomot truffle. Truffle hitam… ntah, harusnya ini truffle hitam Perigord dari Perancis (Tuber melanosporum) yang satu kilogram nya 3000 dolar itu.

Buffet

Buffet

Buffet

Ya… kalian ga salah liat, buffet. Terus dia nanya, mendingan diapain. Saya bilang kalo saya bisa kultur pake media agar kentang dekstrosa (Potato Dextrose Agar, PDA), terus ditransfer ke pohon inang. Ya! Logikanya segampang itu kan?? Kita berhasil nantinya dan kita bisa kaya!! Saya pun akhirnya minta ama Rino… dan dikasih :v

truffle

Di atas tisu, sebelum dibungkus

Hmmm… saya mending buat PDA langsung atau saya ngontak Pak Nyoman ya… itu pikiran saya waktu itu. Pak Nyoman, Dr. Nyoman Pugeg Aryantha adalah dosen mikologi di ITB, dosen saya dan saat ini dekan SITH ITB. Kalau saya buat PDA, saya seenggaknya bisa mengkultur dan yang saya perlu lakukan tinggal nyari pohon yang pas, tapi itu peluangnya 50%… Kalau saya kirim ke Pak Nyoman, beliau pasti tahu apa yang harus dilakukan dong, cuma gimana ngirim ke Bandung? Di sisi lain, Rino bilang kalo dia mau investasi dana kalau emang bisa… kalo emang bisa…

Kalo pake JNE, berapa lama? Oke, akhirnya saya kirim chat WhatsApp ke beliau…

Saya: Assalamu’alaikum pak, maaf mengganggu. Saya dan teman saya di jakarta dapat “sampel segar” (truffle, foto di atas) ini pak di hotel. Sebaiknya di apakan ya pak?

(4 jam lebih kemudian)

Pak Nyoman: Wow fresh truffle… wah nothing we can do. Walau bisa mengisolasi, dia butuh tanaman inang sub temperata dan iklim juga tidak bisa di tropis

Saya: Kita tidak bisa pakai spesies analog di tropis pak?

PN: Climate juga tidak cocok

Saya: Truffle butuh dormansi ya pak?

PN: Iya sebagai umumnya ascomycete perlu masa dorman sclerotium

Kalo ahlinya sendiri udah ngomong gini dengan detail (beda ama kasus Rafflesia dulu karena soal teknis yang belum banyak, ini udah lebih banyak diketahui… apalagi truffle itu mikoriza), saya pun bingung mau apa. Terus saya ke dapur dan untuk buat PDA aja ga ada wadahnya (mana dapur saya jorok pula). Akhirnya saya memilih buat diamkan jamurnya dulu di dalam lipatan tisu, dan dimasukkan lagi dalam botol selai berisi beras kering yang udah saya sterilkan di oven microwave.

Empat hari kemudian…

Saya buka botol selainya… dan UDAH BAU TRUFFLE. Buset! Berapa banyak senyawa aromatik jamur ini?? Awalnya saya mengira kalo bau truffle ini hanya bisa menyebar lewat perantara cairan atau kontak langsung, yang menjelaskan bagaimana dalam jumlah sedikit aja dia bisa memberi aroma dan rasa ke makanan, atau buat menginfusi minyak zaitun satu botol (dengan potongan kecil aja). Tapi ternyata ini aromanya kuat banget sampe satu botol, sampe beras2nya, dan tisu2nya jadi bau truffle! (Wah anjir… beras terinfusi truffle ini bisa saya jual berapa ya??)

truffle-rice-flea

Bahkan kutu berasnya pun kena… yak, kutu seharga Rp 100 ribu!

Terus saya buka tisunya… sial! Udah mulai ada miselium jamur! Wah gawat!!

Akhirnya saya ambil yang tersisa dan belum jamuran, saya ambil minyak zaitun di dapur dan saya cemplungkan truffle nya ke sana.

truffle-oil

Minyak truffle… modal 70rb (minyaknya doang, truffle kan dikasih), untuk ngebuat benda 500rb!

Terus saya buka hari ini (tanggal 27 Desember 2016), wew! Minyaknya udah wangi truffle! Serius, berapa banyak senyawa aromatik di jamur ini??

…dan gimana kondisi jamur itu sendiri?

img_9397

Yha……

Ummmm… saya harus apa nih?? Saya harus apa?? SAYA HARUS A…… oke tenang2… mari kita buat medium PDA dadakan!

img_9398

Sugar, potato, and everything nice…

Oke, potong kentang, gula sedikit, air panas… rendam, tusuk2 kentangnya, tuang ke botol… oke, ga ada agar, jadilah kaldu kentang dekstrosa (Potato Dextrose Broth, PDB) versi dadakan!

img_9399

Masukkan potongan jamurnya!

Ummmm… yah… ntah lah…

(Bakal di update!)

-AW-

Iklan

Sudah 3 tahun nampaknya setelah saya waktu itu ngebuat artikel blog saya yang pertama dan membahas xenobiologi. Oke, kita lihat sedikit…

  1. Artikel pertama saya (dibuat Feb 2013), saya nampaknya masih mendefinisikan xenobiologi sebagai ilmu yang secara spekulatif membahas kemungkinan seperti apa kehidupan yang asing, khususnya di luar angkasa dan sisi alternatif dari evolusi makhluk hidup yang ada. Acuan saya masih sederhana – buku2 Dougal Dixon (After Man, Man After Man, The New Dinosaurs, dan The Future is Wild), artikel2 Prof. Dirk Schulze-Makuch (yang tahun ini baru pensiun)
  2. Artikel kedua saya (dibuat Okt 2014), saya mulai membaca artikelnya Markus (Dr. Markus Schmidt, saya berani manggil nama karena udah pernah ketemuan, kita panggil aja Dr. Schmidt) dan juga mengacu ke beberapa hal yang dibahas di International Conference for Xenobiology (XB1) Genoa. Di sini, selain membahas dengan koridor spekulatif seperti yang pertama, saya menambahkan konsep xenobiologi modern yang berbasis molekuler. Aspek yang juga dibahas adalah kontainmen biologis dengan basis asam nukleat xenobiotika (XNA).

Sekarang, ternyata perkembangan ilmu pengetahuan itu sangat pesat! Sejujurnya sejak 2 tahun lalu itu, saya belajar lebih banyak lagi. Antara saya belajar dari buku Dr. David Darling dan Prof. Dirk Schulze-Makuch, belajar dari jurnal terbaru Dr. Schmidt, Dr. Vitor B. Pinheiro, dan Dr. Phil Holliger… yang beruntungnya saya temui langsung di International Conference for Xenobiology (XB2) Berlin tahun ini!

img_2016

Kebanggaan tahun ini!

Definisi dari Xenobiologi

Selain dengan pendekatan sains, saya juga akan masukkan pendekatan seni. Emang, xenobiologi itu apa??

Menurut Dr. Holliger:

“Creation of biomolecules and ultimately organisms with an expanded chemical repertoire not found elsewhere in nature”

“Pembuatan biomolekul dan secara utuhnya sebuah organisme dengan komponen kimia yang terekspansi dan tidak dapat dijumpai di alam” – komunikasi personal dengan beliau

Sementara di sisi lain,

“Xenobiology is basically an intersection of biology in general, astrobiology, and synthetic or artificial life”

“Xenobiologi pada dasarnya adalah titik temu biologi secara umum, astrobiologi, dan (sistem) kehidupan sintetik atau buatan” – Popa (2010)

Lalu, coba kita cari… xenobiologi itu sendiri adalah kata yang sudah kuno dan beberapa ilmuwan dan ahli sepakat kata itu berubah jadi eksobiologi, lalu astrobiologi. Terus, kok bisa ada biologi sintetik di sini dan astrobiologi? Hubungannya apa??

Oke, di jurnal yang sedang saya susun, saya akan punya definisi saya sendiri:

Xenobiologi adalah ilmu multidisiplin yang membahas kehidupan yang asing secara alami, mencakup kehidupan yang belum pernah kita temui atau masih hipotetikal, dan kehidupan yang asing, berbeda dengan yang alami, tercipta secara sintetik dengan campur tangan manusia

Atau, khusus di blog ini…

Xenobiologi adalah ilmu multidisiplin yang membahas kehidupan yang asing secara alami, mencakup kehidupan yang belum pernah kita temui atau masih hipotetikal, dan kehidupan yang asing, berbeda dengan yang alami, tercipta secara sintetik dengan campur tangan manusia. Definisi hipotetikal merangkul konsep filosofi ‘patafisis (semua fiksi yang diuraikan akan menjadi fakta) untuk makhluk asing dari seluruh multisemesta (multiverse), seluruh kemungkinan alur waktu (timeline), yang belum ditemui di semesta ini di bagian lain ruang angkasa, dan tersembunyi di dalam bumi. Definisi sintetik terletak dari makhluk asing yang tercipta dengan campur tangan manusia dengan bahan2 sintetik, sehingga sangat berbeda dengan makhluk yang ada secara alami

Sebelumnya, saya udah membuat “guideline” dari xenobiologi:

xenobiota-cover-3

Lima aspek xenobiologi

Sebenarnya ini cover dari page Xenobiota, tapi gambar ini bakal sangat membantu. Ehem… jadi ada lima aspek dari xenobiologi, yang sebelumnya saya hanya sebut 2 di artikel sebelumnya, sekarang menjadi:

  1. Kehidupan yang berada di segala kemungkinan multisemesta. Mencakup semua makhluk yang dianggap fiksional, termasuk makhluk mitologi (misal naga), makhluk dalam film (misal Pokemon), dan semacamnya. Konsep “fiksi” dianggap tidak ada dalam ‘patafisika. Kondisi – Spekulatif.
  2. Kehidupan yang berada di segala kemungkinan cabang alur waktu. Bagaimana kemungkinan evolusi makhluk hidup jutaan tahun mendatang? Bagaimana evolusi makhluk hidup jika dinosaurus tidak punah? Kondisi – Spekulatif.
  3. Kehidupan yang berada di dalam semesta ini, di bagian ruang angkasa yang belum terjangkau, dan spekulasi makhluk hidup jika mereka benar2 ada di planet/badan angkasa yang kita kenal. Misal, kehidupan di Mars, Jupiter, dll. Kondisi – Spekulatif, semi nyata (belum ditemukan).
  4. Kehidupan yang saat ini masih tersembunyi dan berada di Bumi. Mengikuti konsep hipotesis “shadow biosphere” yang dicetuskan Dr. Carol. E. Cleland dan Dr. Shirley D. Copley. Kondisi – Semi nyata
  5. Kehidupan sintetik yang memiliki komponen biokimia berbeda dengan organisme alami. Tercipta demikian agar memiliki batas untuk tidak berinteraksi secara genetik dengan organisme alami (biokontainmen). Kondisi – Sintetik.

Banyak juga yak… daripada ribet contoh langsung aja deh!

Xenobiologi – Segala Kemungkinan Kehidupan di Multisemesta (Omnibiota omniversalensis – Life in Alternate Universe)

Konsep yang pertama mencakup semua kemungkinan makhluk hidup di omnisemesta (semua multiversal, secara ruang). Sebut makhluk yang kalian di film, mulai dari Pokemon, Digimon, naga di Game of Thrones, naga di How to Train Your Dragon, dll. Sebagian menyebut mereka makhluk fiktif, yah… padahal dengan jumlah semesta (universe) yang secara teori bisa saja lebih dari satu (multiverse), siapa yang tahu kalo makhluk2 itu ada di semesta lain? Tiap semesta bisa aja punya kondisi konstanta fisika yang berbeda lho. Api yang dingin, gravitasi yang mendorong bukan menarik, pertumbuhan yang kebalik, dll. Cara gampang bayanginnya misal kayak Thor di Marvel Universe, yang dalam mitologi dianggap dewa, ternyata merupakan alien. Secara morfologi dan fisiologi bisa aja mereka berbeda dengan manusia, dan itu yang membuat mereka dianggap dewa. Atau, lihat ilustrasi dari game Portal 2 (Valve) ini:

screen-shot-2016-12-13-at-6-05-43-pm

Bayangkan di multisemesta, ada macam2 bumi karena konstanta fisikanya beda2. Ada bumi yang malam terus, siang terus, yang 90º miring, yang lebih kecil, yang datar, yang bentuknya kayak donat, atau piramida…

screen-shot-2016-12-13-at-6-05-49-pm

…dan masing2 “bumi” itu penghuninya bisa aja bukan manusia, tapi ikan yang pintar, cephalopoda, atau semacamnya (Gambar: Portal 2 – Valve)

Dengan pendekatan xenobiologi yang memungkinkan segala kumungkinan, kita bisa saja menggambar makhluk yang kita kenal sebagai berikut (klik untuk memperbesar – gambar oleh Christopher Stoll):

Xenobiologi – Segala Kemungkinan Perubahan Kehidupan di Sejarah Yang Ada (Alternative timeline)

Apa yang terjadi jika kepunahan dinosaurus 65 juta tahun lalu itu ga pernah terjadi? Apa mungkin mereka mengisi relung ekologis makhluk yang seharusnya ada sekarang? Skenario spekulatif ini sudah pernah digambarkan oleh paleontolog yang nyentrik, Dr. Dougal Dixon di bukunya “The New Dinosaurs”. Bayangin ankilosaurus seperti bison, atau pterosaurus seperti jerapah, kayak gini (klik untuk memperbesar):

 

Selain itu, kira2 bagaimana kehidupan di Bumi 200 juta tahun lagi? Dr. Dixon dan timnya membuat karya lebih ilmiah lagi di buku selanjutnya “The Future is Wild”, seperti ini (klik untuk memperbesar):

Penjabaran xenobiologis ini tidak terbatas segala skenario alternatif, yang bisa aja mengubah alur evolusi makhluk2 ini.

Xenobiologi – Makhluk Yang Mungkin Ada di Angkasa Luar Sana

Xenobiologi sendiri sebelumnya adalah sebuah istilah yang merupakan pendahulu dari astrobiologi, sebelum unsur astrokimia, astrogeologi, dan asal usul kehidupan dimasukkan. Beda dengan astrobiologi yang fokus ke kondisi lingkungan astronomis, xenobiologi fokus ke perkiraan makhluk hidup yang bisa ada di Mars, Europa, Titan, dan lain sebagainya. Saya akan menyertakan konsep makhluk autotrof alternatif selain pengguna cahaya dan kimia, konsep ini dibuat Prof. Dirk Schulze-Makuch dan rekan2nya, sebagai berikut (gambar dibuat ulang oleh saya sendiri, klik untuk memperbesar):

speculative-autotrophs

Termoautotrof (A), osmoautotrof (B), kinetoautotrof (C), dan magnetoautotrof (D)

Di Bumi, kita mengenal dua jenis autotrof: fotoautotrof (organisme yang mensintesis makanannya sendiri dengan cahaya) dan kemoautotrof (dengan kimia). Di planet lain, di mana cahaya dan kimia bukan hal yang dominan, bisa saja sumber lain digunakan seperti panas, gradien osmosis, gerakan, dan medan magnet, seperti gambar di atas.

Xenobiologi – Makhluk Yang Tersembunyi di Bumi

Konsep hipotesis “Shadow biosphere” yang dicetus Cleland and Copley pada tahun 2005 merupakan gambaran bahwa kehidupan asing bisa saja tersembunyi di Bumi, dan makhluk2 tadi belum tentu memiliki proses biokimia yang sama dengan kita. Bagaimana hal ini terjadi? Bisa aja mereka muncul akibat adaptasi lingkungan ekstrim dan proses spesiasi yang mengisolasi mereka secara geografis yang juga ekstrim, sehingga mereka benar2 langka dan tersamarkan. Hipotesis lain adalah kemungkinan adanya proses pembentukan makhluk hidup (biogenesis) yang berbeda secara proses atau waktu dari makhluk hidup yang ada sekarang, yaitu 5 milyar tahun lalu, hipotesis ini bisa disebut “Second Genesis” dan dibahas dalam jurnal buatan Davies dan Lineweaver pada tahun 2005. Proses2 hipotetikal ini memungkinkan untuk melahirkan makhluk2 lebih dari ekstremofil yang kita ketahui.

13876677_1654178768234161_6529910144602858176_n

Ansestral kehidupan kedua di Bumi?

Dulu kita nyaris menemukan organisme seperti ini yaitu mikroba Halomonas strain GFAJ-1 yang sempat dikira memanfaatkan arsenat untuk komponen asam nukleatnya menggantikan fosfat. Namun hal ini terbantahkan karena ternyata GFAJ-1 hanya organisme yang toleran dengan hidup di lingkungan arsenat berlimpah. Kita memiliki banyak organisme ekstremofil di planet ini termasuk Monocercomonoides, organisme eukaryota yang tidak memiliki mitokondria, namun sejauh ini belum ditemukan organisme dengan proses biokimia yang berbeda dengan kita. Tapi, melihat luasnya permukaan Bumi dan dalamnya kerak Bumi, bukan tidak mungkin ada tempat yang kita tidak tahu dan belum terpetakan, dan di sana terdapat kehidupan yang asing. Bahkan dengan definisi ini, makhluk gaib yang berbasis energi seharusnya termasuk kategori ini lho.

Xenobiologi – Makhluk Hidup Sintetik

Ini adalah definisi xenobiologi yang paling maju seperti yang sebelumnya dijelaskan oleh Dr. Holliger, dan disebutkan dalam jurnal Dr. Schmidt di tahun 2010. Xenobiologi yang merupakan level tertinggi dari ilmu biologi rekayasa (di atas rekayasa genetika dan biologi sintetika) ini diciptakan untuk memberi batasan antara makhluk hidup sintetik dan alami. Batasan ini bertujuan agar makhluk hidup sintetik ini tidak “mencemari” keragaman genetika organisme natural, dan pemisahan ini dilakukan dengan merekayasa asam nukleat xenobiotika (XNA) yang memisahkan mereka dari sistem alami DNA-RNA (Schmidt dan de Lorenzo, 2016; Torres et al., 2016) .

Screen Shot 2014-10-16 at 10.36.24 PM

Asam nukleat berbasis treosa (TNA) dan heksosa (HNA), contoh jenis XNA (Schmidt, 2010)

Selain itu, yang saya baca, organisme sintetik ini bisa dirancang untuk menghasilkan produk yang tidak disintesis makhluk hidup alami, misalnya integrasi basa nukleotida baru untuk introduksi asam amino baru, hingga introduksi jalur metabolisme baru seperti siklus Calvin ke mikroba seperti E. coli (dipaparkan Dr. Niv Antonovsky dari Weizmann Institute di XB2), dan mengubah siklus Calvin agar lebih efisien dalam mengikat karbon (Dr. Tobias Erb dan Dr. Anton Bar-Even dari Max Planck Institute di XB2).

Perkembangan sejauh ini, mereka masih terus melakukan pengujian, dan dipaparkan Dr. Vitor Pinheiro bahwa beliau dan tim nya termasuk kolaborasi dengan Dr. Phil Holliger akan menguji coba XNA ke makhluk hidup atau secara in vivo.

Saya sendiri dengan pacar saya, Ghea, dan dua dosen saya di Åbo Akademi University saat ini sedang membuat paper terkait xenobiologi, khususnya tentang XNA. Dalam setahun ke depan, kemungkinan saya juga akan membuat lagi. Menuju prakiraan XB3 tahun 2018, saya akan membawa 3 publikasi xenobiologi terkait XNA. Tentang apa itu? Tunggu aja tanggal mainnya 🙂

Membahas xenobiologi memang membuat kita menembus batas atau zona abu2 yang menghubungkan sains dengan seni sebagai data spekulatif. Empat dari lima komponen xenobiologi sendiri yang saya sebutkan (selain yang sintetik) merupakan biologi spekulatif semua. Tapi semua yang spekulatif ini sebenarnya akan menjadi nyata jika kita benar2 menemukan alien di luar sana dan menelitinya secara langsung.

“Omne possibile exegit existere”

“Semua hal yang mungkin menunggu untuk menjadi nyata” – Gottfried Wilhelm Leibniz dalam de Veritatibus Primis (1686), ungkapan yang menjadi motto XB2 Berlin

-AW-

Bibiografi:

Ambrogelly, A., Palioura, S. and Söll, D., 2007. Natural expansion of the genetic code. Nature chemical biology, 3(1), pp.29-35.

Antonovsky, N., Gleizer, S., Noor, E., Zohar, Y., Herz, E., Barenholz, U., Zelcbuch, L., Amram, S., Wides, A., Tepper, N., Davidi, D., Bar-On, Y., Bareia, T., Wemick, D.G., Shani, I., Malitsky, S., Jona, G., Bar-Even, A., and Milo, R., 2016. Sugar Synthesis from CO2 in Escherichia coli. Cell, 166(1), pp.115-125.

Cleland, C.E. and Copley, S.D., 2005. The possibility of alternative microbial life on Earth. International Journal of Astrobiology, 4(3-4), pp.165-173.

Darling, D. and Schulze-Makuch, D., 2016. The Extraterrestrial Encyclopedia. First Edition Design Publishing, New York.

Davies, P.C. and Lineweaver, C.H., 2005. Finding a second sample of life on Earth. Astrobiology, 5(2), pp.154-163.

Erb, T.J., Kiefer, P., Hattendorf, B., Günther, D. and Vorholt, J.A., 2012. GFAJ-1 is an arsenate-resistant, phosphate-dependent organism. Science,337(6093), pp.467-470.

Impey, C., 2011. The living cosmos: our search for life in the universe. Cambridge University Press, pp.189.

Karnkowska, A., Vacek, V., Zubáčová, Z., Treitli, S.C., Petrželková, R., Eme, L., Novák, L., Žárský, V., Barlow, L.D., Herman, E.K. and Soukal, P., 2016. A eukaryote without a mitochondrial organelle. Current Biology, 26(10), pp.1274-1284.

Kim, J.I. and Cox, M.M., 2002. The RecA proteins of Deinococcus radiodurans and Escherichia coli promote DNA strand exchange via inverse pathways. Proceedings of the National Academy of Sciences, 99(12), pp.7917-7921.

Lodders, K. 2010. Exoplanet Chemistry. In: Barnes, R. ed., 2010. Formation and evolution of exoplanets. Glasgow, John Wiley & Sons, pp.169.

Malyshev, D.A., Dhami, K., Lavergne, T., Chen, T., Dai, N., Foster, J.M., Corrêa, I.R. and Romesberg, F.E., 2014. A semi-synthetic organism with an expanded genetic alphabet. Nature, 509(7500), pp.385-388.

Mix, L.J., 2009. Life in Space: Astrobiology for Everyone. Harvard University Press, pp.4-5.

Muller, A.W. and Schulze-Makuch, D., 2006. Thermal energy and the origin of life. Origins of Life and Evolution of Biospheres, 36(2), pp.177-189.

Pinheiro, V.B., Taylor, A.I., Cozens, C., Abramov, M., Renders, M., Zhang, S., Chaput, J.C., Wengel, J., Peak-Chew, S.Y., McLaughlin, S.H. and Herdewijn, P., 2012. Synthetic genetic polymers capable of heredity and evolution. Science, 336(6079), pp.341-344.

Popa, R., 2010. Necessity, futility and the possibility of defining life are all embedded in its origin as a punctuated-gradualism. Origins of Life and Evolution of Biospheres, 40(2), pp.183-190.

Reaves, M.L., Sinha, S., Rabinowitz, J.D., Kruglyak, L. and Redfield, R.J., 2012. Absence of detectable arsenate in DNA from arsenate-grown GFAJ-1 cells. Science, 337(6093), pp.470-473.

Sagan, C. and Salpeter, E.E., 1976. Particles, environments, and possible ecologies in the Jovian atmosphere. The Astrophysical Journal Supplement Series, 32, pp.737-755.

Schmidt, M., 2010. Xenobiology: a new form of life as the ultimate biosafety tool. Bioessays, 32(4), pp.322-331.

Schmidt, M. and de Lorenzo, V., 2016. Synthetic bugs on the loose: containment options for deeply engineered (micro) organisms. Current opinion in biotechnology38, pp.90-96.

Schmitt-Kopplin, P., Gabelica, Z., Gougeon, R.D., Fekete, A., Kanawati, B., Harir, M., Gebefuegi, I., Eckel, G. and Hertkorn, N., 2010. High molecular diversity of extraterrestrial organic matter in Murchison meteorite revealed 40 years after its fall. Proceedings of the National Academy of Sciences,107(7), pp.2763-2768.

Schulze-Makuch, D. and Irwin, L.N., 2002. Energy cycling and hypothetical organisms in Europa’s ocean. Astrobiology, 2(1), pp.105-121.

Schulze-Makuch, D. and Irwin, L.N., 2008. Life in the universe: expectations and constraints. Springer Science & Business Media.

Stoeckenius, W., 1981. Walsby’s square bacterium: fine structure of an orthogonal procaryote. Journal of bacteriology, 148(1), pp.352-360

Taylor, A.I. and Holliger, P., 2015. Directed evolution of artificial enzymes (XNAzymes) from diverse repertoires of synthetic genetic polymers. Nature Protocols, 10(10), pp.1625-1642.

Taylor, A.I., Pinheiro, V.B., Smola, M.J., Morgunov, A.S., Peak-Chew, S., Cozens, C., Weeks, K.M., Herdewijn, P. and Holliger, P., 2015. Catalysts from synthetic genetic polymers. Nature, 518(7539), pp.427-430.

Torres, L., Krüger, A., Csibra, E., Gianni, E. and Pinheiro, V.B., 2016. Synthetic biology approaches to biological containment: pre-emptively tackling potential risks. Essays in Biochemistry60(4), pp.393-410.

Ward, P., and Brownlee D., 2000. Rare Earth: Why Complex Life is Uncommon in the Universe. Copernicus Book, New York.

Wolfe-Simon, F., Blum, J.S., Kulp, T.R., Gordon, G.W., Hoeft, S.E., Pett-Ridge, J., Stolz, J.F., Webb, S.M., Weber, P.K., Davies, P.C. and Anbar, A.D., 2011. A bacterium that can grow by using arsenic instead of phosphorus. Science, 332(6034), pp.1163-1166.

Pagi menjelang siang, saya duduk diam menunggu konsultasi laporan proyek dengan Pak Bambang, seorang dosen biologi UGM. Tiga bulan hitungan mundur dimulai sebelum saya terbang melanjutkan studi S3 Teknik Kimia di Åbo Akademi University, Turku, Finlandia dan saya akan meninggalkan sementara begitu banyak hal di Indonesia. Keluarga, teman2, kolega, bahkan pacar saya sendiri. Sendiri, menarik napas dan mendengarkan semua suara yang tertangkap di telinga di gedung biologi UGM ini membawa saya ke momen nostalgia. Ditambah kemarin malam dan beberapa saat waktu lalu… di Line, saya melihat anak2 Xenobiota yang kebanyakan adalah anak biologi UGM angkatan 2014 mulai mengeluh harus mengerjakan tugas laporan praktikum dan tugas yang menumpuk setelah melewati minggu UTS. Tak terkecuali pacar saya sendiri yang sedang melewati tahun akhirnya…

A: Kamu ntar bakal sibuk sampe malem yah?

G: Hmmm kayaknya sih iya, bakal penuh sampe malem… masih ada sisa laporan yang harus dikoreksi sama ngerjain laporan praktikum…

Yah… baiklah… .___.

Lantas… pagi ini… saya tiba2 kangen rasanya dengan kehidupan S1 saya. Saya kangen dengan datang pagi ke kampus, sudah “diterror” dengan soal pendahuluan alias pre-test pas jadi praktikan, ngerjain laporan praktikum dengan laptop sambil dengerin lagu, ATAU… ngerjain laporan praktikum yang panjangnya menyaingi sajadah saya karena disulam (di ITB dulu, 1 minggu sebelum praktikum, semua diagram alir sudah ditulis di buku yang disebut “jurnal” itu; laporan ditulis di buku yang sama, lantas ga bisa kalau halamannya ditambal manual dengan kertas buku). Tahun selanjutnya ketika jadi asisten praktikum, saya ingat H-1 harus briefing materi dengan dosen di ujung lorong SITH ITB, besoknya datang 1 jam lebih awal, berjas lab, alat udah stand by, saat praktikum… mata harus fokus ke materi, ke dosen, plus ke bocah2 di depan saya yang kadang urakan, kadang ribut, kadang kayang atau salto atau joget2 kayak belatung… malamnya, aduh, ini laporan niat apa nggak sih ngerjainnya?? (buat yang dulunya anak praktikan saya, Sisi, Dine, Lisa, Yesie, dkk… sabar ya) Intinya menguras energi! Itu masih biasa… seenggaknya untuk asprak lab se-Indonesia mungkin mengalami itu… APALAGI yang asprak lapangan!

Mungkin juga… hari ini adalah genap 6 tahun lalu kami kuliah lapangan super asik ke Bali Barat dan Kintamani.

“Dit, gimana sih rasanya jadi mahasiswa SITH ITB?”

Mau tau? Oke…

Tahun Pertama

SITH ITB angkatan 2007 itu adalah angkatan terakhir yang merasakan praktikum Biologi Umum, setelah kami adanya Konsep Biologi dan itu ga ada praktikum bahkan ga ada kuliah lapangan (kulap). Itu doang? Nope… seminggu kami dijajalkan dengan TIGA praktikum… Biologi Umum, Fisika Dasar, dan Kimia Dasar. Buat saya, tahun ini adalah mimpi buruk! Masih berusaha menyesuaikan kuliah, gagal move on sama gebetan pas SMU, kadang sotoy atau sok ngerasa bisa bahwa materi taun pertama (TPB ITB) ini sama dengan SMU, itu adalah jebakan Batman! Lantas IPK saya pun di bawah standar saat itu. Saya juga ga ngerti gimana dosen itu sangat heterogen dan kita harus paham satu2. Soal praktikum, saya untuk pertama kalinya pusing dengan bagaimana kakak2 asprak itu memberi arahan (karena ga semuanya jago ngomong plus ada yang tampangnya galak… mana asprak saat itu sama juga kakak tadis ospek himpunan… mereka kelar praktikum langsung pasang jaket himpunan di medan ospek! Mampus lah aku!). Dari semua itu, saya kagum sama Kak Yola (Biologi 2004) yang ngajar Biologi Umum-nya asik, sabar menghadapi kami, asik sebagai temen ngobrol, cuma… tiba2 dia ngasih nilai 40… hiks. Ngerasain kuliah lapangan pertama, munculah sesosok pria (naon) bernama Kang Arief alias Kang Meded (Biologi 2004) yang namanya masih bergaung di dunia biologi sistematik ITB sampai SEKARANG! Beliau… saya ga ngerti waktu itu, bisa apal sekian ratus nama latin tumbuhan LENGKAP hingga tingkat famili dan spesies!! Kemudian ada teman saya Okta (Biologi 2007 juga) yang ntah gimana ngerti gitu juga! Well, ada 7 manusia super yang ilmu biosistematika nya di atas rata2… mereka disebut TAXON 6… Kang Meded… tumbuhan, Kang Ezak (Biologi 2003)… tumbuhan juga, Teh Agri (Biologi 2004)… tumbuhan dan beberapa yang lain, Teh Mika (Biologi 2004)… sama kayak Teh Agri, Kang Andri (Biologi 2005)… serangga, dan sang ranger ke-6… Okta sendiri yang ngerti tumbuhan.

Kuliah lapangan BiUm kami ke Taman Buah Mekarsari dan Kebun Raya Cibodas-Gunung Gede-Pangrango. Ini untuk pertama kalinya saya bisa sangat deket dengan teman2 seangkatan saya! Mana dengan ultra random nya di penginapan bersama kami itu… ada ulat kecil yang menggantung bak tirai diberanda! Weks!! Cuma ga masalah… it’s fun! Walau saya ntah berapa kali jatuh kepleset di kulap itu…

1930055_19718342153_2180_n

Di air terjun di Gunung Gede-Pangrango. Kami potret bareng asprak kami, Teh Gita.

Setelah itu, tahun pertama berakhir. SITH 2007 terbagi jadi Biologi dan Mikrobiologi dengan rasio 70 dan 40. Saya selain pengalaman tadi, saya ngerasa ga puas dengan nilai2 di tahun ini! Untung, saya berhasil menambal nilai saya di semester berikutnya dan saya ga jadi DO. Antara tahun pertama dan kedua, saya jadi panitia penata tertib kelompok (Taplok) di program Inisiasi Keluarga Mahasiswa ITB (InKM) alias ospek kampus. Outcome setelahnya? Saya yang tadinya cuek dan pendiem, jadi lebih talkative bahkan ke anak SITH 2008 yang saat itu kayak bocah banget. Yah, saya suka liat junior2 saya yang lucu :3 #nopedo

Tahun Kedua

Tahun kedua itu seru dan merupakan transformasi awal kami sebagai peneliti. Tapi transformasi yang paling nyentrik adalah:

Cewek2 Biologi kalem + Proyek Anatomi Fisiologi Hewan (Anfiswan) + Praktikum Biologi Perkembangan Hewan (Perwan) –> Cewek Biologi Psycho

Awalnya “KYAAAAA tikus!!”

Akhirnya “MANA TUH TIKUS GW TIBAN!!”

Tahun kedua itu adalah sarana yang sangat psycho tapi seru (apa coba) buat kami, cuma merupakan definisi Holocaust buat tikus, mencit, marmut, dan katak/kodok. Bayangin! Waktu itu, di mata kuliah proyek Anfiswan, kami diajarkan bagaiman menyuntik mencit atau tikus dengan logam berat untuk diamati jaringannya, kemudian di praktikum biosistematik kami diajarkan untuk mengawetkan binatang dengan formalin! Soal prosesnya saya ga mau bilang karena saya bisa aja dituntut kaum vegan atau PETA. Demi sains… yeah saya setuju sama GLaDOS di Portal…

“For science, you monster”

Kuliah biosistematika, kami menjelajah Gunung Tangkuban Parahu dari puncak ke lereng dekat perkebunan. Saya merasakan buang air besar di WC yang ditinggalkan (penting ya Dit), dan juga merasakan makan buah beri liar di hutan sama batang begonia… thanks to Kang Meded. Terus kuliah besarnya ke Pantai Pangandaran, kami pertama kali diajari membuat awetan kupu2 di Ladang Cikamal yang terik dan ada rusanya. Saya keringetan sampai baju saya basah karena di sana sangat terik mataharinya meski lembab. Menariknya, saya sempat merasakan beli cumi goreng garing dengan CUMI SEGAR gara2 kelaparan akibat dari pagi evaluasi pengamatan DAN saya nyaris ketinggalan! Oke… itu ngaco…

1588_51360612153_9168_n

Kakak2 Asprak Biosistematika sedang absurd

1924160_41800287153_6346_n

Briefing di Puncak Tangkuban Parahu (Kulap Biosistematika 2)

1927606_45569777153_7396_n

Kuliah lapangan 3 di Pangandaran…

Oh iya, kemudian ada praktikum genetika. Di ITB, praktikum ini berkutat pada pengenalan kromosom, bermain2 sama lalat buah (Drosophila melanogaster) mutan berikut menyilangkannya dengan semena2, membiarkan medianya bau busuk, dan eter menyebar ke seisi ruangan dan buat mabok, ekstraksi DNA, dan sedikit pengenalan soal PCR.

Ada cerita seru di praktikum ini. Jadi ceritanya kami harus menyilangkan lalat buah (acara 3), akan tetapi… ternyata praktikum yang agendanya 2 minggu ini terpotong libur lebaran. Alhasil kami semua diminta ngelakuin di rumah (kampung halaman masing2) dengan perangkat lengkap, lalat yang disilangkan, media, sama bius (eter). Di kelompok, saya satu tim (1 kelompok dibagi2 per 2 orang) dengan teman saya Vina (biologi 2007). Kami dapat mutan miniature (sayapnya kecil banget sampe lalatnya ga bisa terbang) dan ebony (badannya hitam). Di Jakarta… setelah itu… semua jadi suram: eter menguap ke kamar, media mengering, lalat tewas. Terus gimana di laporan?? Tulisan di bawah ini disalin dari manuskrip laporan aslinya:

2.3.1 DATA KELOMPOK

Percobaan yang kami lakukan sekelompok bisa dibilang gagal. Saat kami membawa botol media berisi lalat ke kampung halaman kami saat liburan lebaran ini nampaknya mengalami masalah perbedaan kondisi dengan di Bandung. Lalat-lalat mutan miniature betina yang ada pada saya hanya bisa bertahan sesaat dan kemudian mati kena infeksi jamur. Kemudian larva pun tumbuh hingga menjadi F1. Kemudian masalah pun terulang saat dipindahkan ke botol media yang baru. Lalat pun terinfeksi jamur. Ditambah dengan suhu panas Jakarta, media pun mengering & suhu menjadi cocok untuk pertumbuhan bakteri. Itu ditandakan dengan adanya perubahan bau botol media yang awalnya berbau pisang agak beralkohol (karena adanya ragi) saat ini menjadi berbau busuk menyengat. Saya sempat ingin mengulang namun masalah yang sama menimpa botol induk, sehingga saya tidak bisa mengulang.

Sama halnya dengan lalat pasangan praktikum saya, Vina. Bedanya, yang merupakan lalat mutan miniature adalah lalat jantan. Dan setelah saya mengontak Vina, ternyata mengalami masalah yang sama; media yang mengering.

Ntah gimana yang asprak kami pikir setelah kami nulis ini… kayaknya sih laporan saya dicoret. Lupa saya dapat nilai berapa.

2433304-just_read_super

Diasumsikan ini adalah ekspresi asprak yang meriksa.

Selesai sesi itu, saya dengan kurang ajar nya minta lalat yang sisa dari teman2 saya. Saya buat media sendiri di rumah dengan tabung Erlenmeyer yang saya beli, pisang yang dilumatkan, dan busa dari sofa kosan saya yang berantakan. Lalatnya mutan miniature dan eyemissing (matanya kecil banget sampe ga bisa jalan stabil). Saya silangkan… saya lupa hasilnya gimana, cuma bayangin anaknya suram banget kalo mewarisi 2 mutasi induknya tadi.

1931038_39291722153_9034_n

Mutant Fly Farmer from The Abyss. Oh, BTW itu di kosan saya…

Semester berikutnya, kontras dengan sebelumnya, nuansanya lebih tentang tumbuhan karena kebanyakan kuliahnya adalah tentang tumbuhan seperti fisiologi tumbuhan, struktur dan perkembangan tumbuhan, dan proyek tumbuhan (Protum). Dengan kata lain… ini surga buat saya… seharusnya. Tapi bisa mengerti bahasa2 dosen DAN asprak di kuliah2 tumbuhan ini… rasanya cukup sulit! Kadang saya udah dengan yakinnya mikir A ternyata B, kadang mikir B ternyata A, gitu deh. Ga tau kenapa. Tapi ngerasain bermain dengan auksin (regulator tumbuh tumbuhan yang menyebakan sel memanjang ke bagian tunas dan ujung akar) dan juga ngerti soal cara kultur jaringan tumbuhan itu seru!

1923187_72066127153_5735371_n

Narsis lv: Rak Kuljar Tumbuhan.

2961_83963837153_3750449_n

Kuliah lapangan Protum di Lembang. Kami dikelilingi hijaunya tanaman selada aeroponik.

Yang sadis… biologi perkembangan hewan. Saya waktu itu dapat kelas Bu Marsel. Kuliah ini kadang mengandung nausea fuel atau bahkan nightmare fuel akibat body horror. Sesuai namanya, kita diajarkan bagaimana hewan tumbuh dari momen terbentuknya sel ovum dan sperma, pembentukan zigot, morula, blastula, gastrula, hingga neurula. Dari situ masih lucu. Yang ga lucu, momen ketika tahap perkembangan lanjut di mana bagian2 primordia tertentu gagal melipat, menutup, atau membentuk suatu organ… itu SANGAT HORROR! Dengan kata lain, kita melihat bagaimana janin cacat akibat proses perkembangan yang gagal atau akibat induksi kimia. Lantas, di bagian praktikum pun kami ada momen menyuntik tikus hamil dengan kadmium untuk melihat gimana anaknya gagal terbentuk. Oke… cukup. Legenda praktikum saat itu adalah Teh Tazy (Biologi 2005) yang sangat telaten memberi materi tambahan buat kami sebelum ujian dengan bahasa yang SUPER ASIK!

2209_62435507153_7863_n

Lihatlah senyum2 psikopat ini yang sedang membedah tikus… saya khawatir kalo ini dimasukin di FB lagi bisa jadi bahan gunjingan dan membuat kami terkenal. PS: Kiri dan kanan itu asprak saya waktu itu, Kak Hani dan Kak Randy.

1923187_68235502153_5939117_n

Ini adalah Teh Tazy… sedang menjelaskan pembentukan bumbung neural pada ayam… (kalo ga salah).

Selain yang disebutkan, ada praktikum biokimia dan kimia organik. Cuma cerita saya ga terlalu banyak karena yang saya inget cuma protein, asam amino, asam sulfat pekat, dan semacamnya. Damn you brain

Akhir tahun kedua… saya masih mikir kenapa saya ga nyantol2 sama cewek SITH 2008. Yeah, sekarang sih saya ngerti kenapa. Belum nyerah, akhirnya saya jadi ketua divisi pembina kelompok alias Binok di ospek HIMASITH Nymphaea atau PPN 2009 saat itu. Lanjut, saya jadi ketua divisi dokumentasi Pengenalan Ruang Organisasi Keluarga Mahasiswa (PROKM… nama lain di tahun itu buat INKM sih) yang merangkap pendiklat Taplok.

10400654_123226092153_6301188_n

Should I say more? (Ket: Itu anak2 SITH 2008)

Still… ga ada yang nyantol. Suram.

Tahun Ketiga

Tahun ketiga itu adalah tahun yang buat saya paling baper. Di semester ini ada kuliah proyek ekologi (disingkat Proeko) di mana  kami merasakan 3 kulap: Kulap kecil hanya di sekitar kampus termasuk kawasan Babakan Siliwangi di mana kami belajar menggunakan alat2 penelitian ekologi sederhana seperti sling hygrometer, Lamotte water sampler, Ekman grab, luxmeter, dan lain2. terus ke 3 lokasi kawasan Situ Lembang yang merupakan kawasan hutan dan hulu sungai, Curug (Air Terjun) Cimahi yang dekat desa dan airnya segar, dan Kali Pajagalan yang sangat suram dan kami bahkan dapat cacing sutra (indikator air kotor) dan “bom lokal yang mengapung”, SERTA… MEGA KULAP TAMAN NASIONAL BALI BARAT – GUNUNG BATUR KINTAMANI!!!

1934237_163260472153_4256570_n

Kelompok proyek ekologi saya… saat itu di daearah Situ Lembang.

1934237_163260577153_4633114_n

Versi seangkatan… di depan Situ Lembang (Ket: Situ itu artinya “danau”)

Saya ga bakal membahas kulap kecil dan sedang kami itu, cuma mega kulap kami ini… sangat indah, hingga beberapa orang di dalamnya cinlok. Bagaimana ya saya mendeskripsikannya?

Picture this: Kalian dikumpulkan SEANGKATAN pagi2 buta di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Udara sejuk, langit cerah, kita merasakan matahari terbit di waktu dosen kita memberi penjelasan awal dan kemudian foto bersama. Kemudian kita naik kereta ekonomi Bandung-Surabaya, Pasundan, dengan 1 gerbong semuanya tempat kita. Di dalamnya kita melihat aneka rupa wajah teman2 kita, dari yang makan terus, keliling ga jelas, tidur sampe ngiler, dengerin musik, cerita2 satu sama lain, main kartu, dengerin cerita masa muda Pak Gede dan Bu Endah, dan bahkan ada yang curcol… ada juga sih yang pacaran. Perjalanan kita dari pagi itu, melewati kota Yogya jam 4 sore, melewati Stasiun Solo Balapan jam 5 sore, dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng jam 12 malam. Sesampainya, kita bergegas dengan sigap memindahkan peti2 harta karun penelitian kita yang berisi binokuler hingga alat2 tadi dari kereta ke bus. Setelah seharian penuh di kereta yang anginnya dari jendela, kita naik bus AC yang membawa kita ke kawasan Pasir Putih… melewati malam, dan kita terbangun untuk sholat subuh dan juga sarapan pagi. Seusainya, kita lanjut… kita menyebrang Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Kita pun potret2 di atas kapal feri yang melintasi selat, langit saat itu berawan, tapi laut itu biru. Setelah menyebrang, tibalah kita di kantor pusat Taman Nasional Bali Barat (TNBB), di situ kita yang cowok menaruh barang2 di aula, dan yang cewek ke penginapan (sekali lagi… penginapan khusus kantor TNBB!). Siang itu, kita melihat lokasi penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) dan pengamatan burung. Pulang, kita ngantri mandi dan istirahat (yang cowok). Abis itu kita bebas…

1917890_185153867153_602080_n

Pagi itu di sebuah gerbong Kereta Pasundan.

1917890_185157262153_4945672_n

Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk.

1917890_185169397153_6519768_n

Kelakuan bocah2 di depan tempat penangkaran Jalak Bali.

1917890_185669412153_6433005_n

Jalak Bali.

Besoknya, kita pengamatan ke Teluk Gilimanuk setelah pagi itu hujan cukup deras. Kita duduk di atas terpal mengamati burung, disapa matahari terbit yang nongol di balik awan hujan, dan munculah pelangi ganda pagi itu. Masih kurang bagus? Kita pengamatan terumbu karang dengan melakukan snorkling di Pulau Menjangan… situs selam yang terkenal di dunia internasional yang berada di Bali Utara! Langit biru, air laut biru, angin sepoi2, dan hari yang cerah. Bintang laut, koral, dan kerang raksasa siap menyapa kalian di balik kacamata selam kalian! Tak jarang, momen2 ini dipakai foto2, bahkan ada asprak (sebut saja Kak Imam dan Kak Ira, Biologi 2006) yang sok2 foto pra-wedding lho! (PS: Terus mereka sekarang beneran nikah lho!!). Sepulangnya, kita istirahat, Pak Gede setelah de-briefing memutar video yang diambil pas nyelam. Kita ketawa2 bareng karena ada yang celananya menggelembung di bagian pantat. Besoknya lagi, kita jalan dengan bus lewat Pantai Lovina untuk melihat lumba2, namun sayang ga ada. Di bus, kita karaoke bareng… tanpa membedakan dosen, asprak, dan mahasiswa. Sampai di Gunung Batur, udara dingin, penasaran rasanya sama tempat penginapan malam itu. Ternyata, kita punya kenalan alumni yang buka resort bulan madu! Yang cewek dapat kamar resort berbentuk rumah panggung, asprak dan dosen di rumah resort dengan kolam renang di depannya dan Danau Kintamani di sisinya, yang cowok… kita dapat aula… yang menghadap Danau Kintamani langsung, bersebelahan dengan bar dan panggung rindik Bali. Di malam hari, tanpa polusi, ribuan bintang menyapa kita. Udara dingin bukanlah apa2 walau kita harus keluar untuk memasang perangkap cahaya dan Malaise trap.

1917890_185673297153_1397584_n

Mentari terbit di Teluk Gilimanuk.

1917890_185673307153_3674237_n

Pelangi ganda.

1917890_185673367153_955218_n

Pantai di Pulau Menjangan.

1917890_185211372153_2488303_n

Pengamatan siang itu.

1917890_185675917153_1268159_n

Sore hari di Resort Kedisan, Kintamani.

1917890_185389332153_2108568_n

Persiapan pengambilan sampel air.

1917890_185680177153_1205386_n

Mentari terbit di sekitar Gunung Batur.

1917890_185413412153_5386728_n

Pengamatan ekosistem sabana.

1917890_185425872153_4693965_n

Sampling terakhir di lereng gunung bagian hutan. Waktu itu sedang membuat plot pengukuran.

Paginya, setalah bangun menghirup udara segar di bawah sejuta bintang di langit subuh, kita mendaki Gunung Batur. Padang rumput yang coklat, matahari terbit, dan kebersamaan kita ketika berjalan. Sempurna. Memang, kita di sana mengambil data, cuma kita melakukannya dengan gembira di tengah keseriusan kita. Seusainya, kita pulang dan makan. Sorenya kita pengamatan di hutan Gunung Batur. Kita bisa melihat mata2 para asprak yang sangat kelelahan sore itu. Kitapun lelah, cuma ya sudah. Setelah sampel di tangan kita, kita turun bukit dan kembali ke penginapan dengan truk. Malam itu energi terkuras rasanya, dengan energi tersisa kita berusaha mengkompilasi sampel kita sebelum pulang esok hari. Pulang. Semua terasa begitu cepat. Seketika, Bu Endah menghentikan proses identifikasi sampel malam itu.

“Para praktikan proeko 2009, identifikasi dan kompilasi data malam ini kita hentikan saja. Saya rasa kita semua sudah sangat kelelahan dan besok masih ada serangkaian acara sebelum pulang. Kami para dosen dan segenap tim asisten mengucapkan terima kasih atas usaha kalian hari ini, dan dari kami… kami sudah mempersiapkan api unggun dan jagung bakar untuk kalian menikmati malam terakhir di sini sebelum pulang. Manfaatkan waktu yang tersisa bersama teman2 kalian, dan selamat malam”

Sekejap, rasa kantuk itu sirna. Kita semua menghangatkan diri di dekat api unggun dan menyantap jagung bakar bersama. Kita bermain game dan saling bercerita. Bahkan teman kita yang paling pendiam pun bisa bercerita dengan serunya. Beberapa orang bahkan terlihat cinloknya. Kita semua tertawa malam itu. Kita semua mengabadikannya dengan foto bersama.

1917890_185426017153_6335564_n

Malam api unggun.

1917890_185684802153_6541802_n

Pagi itu di Resort Kedisan.

1917890_185655207153_4376558_n

Foto di Kedisan.

1917890_185655257153_1277058_n

Ini… “Sesi Pemujaan (Sesat) Asisten oleh Praktikan”

1917890_185655282153_7759993_n

Para asisten dan dosen (cewek).

1917890_185655287153_7988375_n

Mencari masjid untuk jumatan di Kuta.

Esoknya, kita memberi persembahan kepada pemilik penginapan dan foto bersama di lokasi, dan foto bersama lagi di kaki Gunung Batur per kelompok plus asisten, foto bareng para asisten dan juga tim dosen beserta medik. Kitapun berjalan ke Pantai Kuta (walau yang cowok kepotong jumatan) dan membeli oleh2 sebelum lanjut pulang melewati kantor Taman Nasional Bali Barat. Sore itu di saat matahari terbenam, saya mendengarkan lagu “Lembayung Bali” oleh Saras Dewi… dan sedih rasanya berpisah dengan Bali…

“Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung Bali…”

Kembali… naik kapal feri malam itu, dan menuju Stasiun Surabaya Gubeng. Sesampainya waktu menunjukkan jam 1 pagi. Kita semua tidur di stasiun. Jam 4, kita sholat subuh dan mendengar cerita Pak Gede dan Bu Endah sembari menunggu kereta. Di kereta, yang tersisa adalah lelah, sampel pengamatan, dan memori yang tak akan terlupakan.

Saya menghela napas sesampainya di Stasiun Kiaracondong jam 11 malam itu dan ketika sampai di kosan, saya sedih karena merasa semua momen tadi yang kayak mimpi itu udah lewat. Time flies on one week. Besoknya… jreeeng!! Saatnya kompliasi data lagi… dan bau formalin menyengat hidung! Plus… laporan dengan data segunung…

Gilanya lagi, semester itu Proeko bukan satu2nya mata kuliah praktikum-proyek. Ada 1 lagi: Proyek Biologi Sel dan Molekuler (Probiselmol). Proyeknya cukup nyentrik! Ekstraksi RNA, kultur sel hewan, dan main2 sama sel purna dari tulang paha dan PLASENTA MANUSIA. Segala “permainan” di sini perlu sterilitas tinggi, baik dari alat2, lab, sampai kitanya sendiri (maksudnya perlengkapan SOP kita… anunya sih jangan steril lah ya!). Cukup seru rasanya walau juga was2 ketika bermain dengan sel hewan yang lebih bawel dari sel tumbuhan.

Semester selanjutnya… ada kuliah dengan praktikum terakhir (yaaah) kami, biologi perilaku. Kuliah ini adalah penyempurna segala sesuatu yang membuat kami jadi anak yang rada psycho. Gimana ngga? Kita main dengan kecoak cuma buat ngamatin perilakunya, terus ikan, sampai cacing pipih atau Planaria yang kita belah2 terus ternyata masih hidup dan jadi 2 dan 3 (tergantung ngebelahnya). Kuliah lapangan kami, pergi ke Pulau Peucang, salah satu pulau di ujung barat Pulau Jawa yang berbatasan dengan kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.

Kemudian ada satu lagi yang saat itu HANYA SAYA yang melakukannya: Menjadi pionir anak biologi yang ambil mata kuliah di program studi Astronomi, yaitu Astrobiologi. Saat ini, kita mungkin sering banget denger soal penemuan planet di luar tata surya yang identik dengan mencari kehidupan di luar sana… ya ga? Kuliah ini membekali kita tentang asal-usul kehidupan dan kondisi2 di luar angkasa sana yang mungkin mendukung kehidupan. Waktu itu, saya kuliah hanya bertiga dengan 2 orang anak teknik fisika 2005. Anehnya, kelas itu seharusnya buat S2! Hal berkesan adalah saya jadi sering sharing dengan dosen yang sekarang jadi salah satu panutan saya, Pak Taufiq Hidayat yang dulunya adalah ketua pengurus Observatorium Bosscha. Dasar oportunis, saya pun bilang beliau buat ijin pengamatan bintang malam2. Beruntung! Saya ditemui dengan Pak Mohammad Irfan, salah seorang astronom di Bosscha yang mengajarkan saya melihat benda langit saat itu dengan teleskop Unitron. Yah, walau ngarep buat pake teleskop Zeiss (yang gede itu) sih. Cuma seru ngeliat Saturnus, Mars, Venus, Alpha Centauri 1 dan 2, Sirius, dan lainnya saat itu! Bahkan, serasa anggota olimpiade astronomi, malam itu saya bermalam di Bosscha, hehehe. Beberapa bulan kemudian, saya sadar bahwa Pak Irfan itu dulu ada di film Petualangan Sherina sebagai figuran yang jadi astronom.

29411_415259352153_7296614_n

Di bawah Teleskop Raksasa Zeiss di Observatorium Bosscha.

Tahun ketiga… setelah 20 tahun 10 bulan 15 hari 19 jam 25 menit… saya akhirnya punya pacar! Sayangnya hanya bertahan 2 bulan karena faktor orang tua dia…

Tahun Keempat

Awal tahun keempat berawal dengan kegalauan (tsaaah), meski demikian… saya harus mengakui bahwa saya itu beruntung sekali di awal tahun keempat. Alasannya? Dapat dosen pembimbing Bu Totik Sri Mariani, saya pun ikut proyek ke Singapura tanpa saya perlu buat proposal penelitian! Menjalani penelitian di National Institute of Education (NIE) Nanyang Technological University (NTU) itu adalah cerita yang saya ga mungkin bakal lupakan. “Bermain” pistol partikel untuk transformasi menggunakan bubuk tungsten dan senyawa mutagen nitrosometilurea (NMU) pada 500 tunas Aglaonema untuk membuat tanaman merah putih itu menarik… dan kedengerannya sangat badass!

65128_473677237153_6918716_n

Penelitian skripsi dulu gan!

Di sisi lain, waktu itu akhirnya ngerasain jadi asprak Probiselmol. Tiap minggu kita nongkrong di ujung lorong lantai 3 untuk briefing asisten. Kadang, saya ngerasa ga signifikan karena selain saya orangnya kaliber nya cukup “dewa” untuk menjelaskan fenomena2 di kuliah ini. Tak terkecuali dosennya, Bu Marsel dan Bu Fenny. Kadang, pas waktunya praktikum berjalan saya bolak-balik nanya asisten lain atau Bu Fenny kalau bingung… makanya, saya ngerasa abal banget jadi asisten. Seenggaknya sampai saya ngerti konsepnya, begitu ngerti… yak, I have the game with me! Di sini saya berubah jadi asisten pelit nilai… (jangan ditiru ya dek).

58940_464390107153_158341_n

Asprak Probiselmol yang absurd… dengan praktikan bocah… yang jauh lebih absurd…

Sisa tahun keempat ini ga ada yang terlalu menonjol, kuliahnya gitu2 aja dan paling saya ambil 2 mata kuliah astronomi lagi: Eksplorasi Angkasa Luar dan Astronomi dan Lingkungan. Sedihnya, keduanya bahkan ga A kayak pas Astrobiologi. Sebagian besar di waktu tahun keempat ini teman2 udah pada sibuk di lab masing2. Momen ketemuan paling cadas adalah jadi SwaSTA (Mahasiswa Sibuk TA) yang datang sebagai momok mengerikan di ospek himpunan maupun kampus. Tahun keempat saya punya pacar waktu itu, dia anak biologi 2010. Tapi yah, bertahan 8 bulan. Kadang kalo ngobrol ama temen diejek, “Sebulan lagi lahir tuh Dit padahal”. Ya kali! Itu pun putusnya sebelum wisuda. Itu kemudian sempet jadi alasan saya ga ke ITB nyaris 1 tahun.

Lebay? I know… namanya juga masih labil. Sekarang mah… ya… ngga!

Waktu berlalu… lagi, sebentar lagi saya S3. Kangen rasanya dengan semua yang di atas. Kemarin S2 pun rasanya beda. Saya meneliti dalam tingkat profesional, fun? Itu iya, cuma rasanya beda. Ga kayak pas S1. Ga usah gitu, sekarang saya pacaran aja udah mikir gimana ntarnya. Ga haha hihi kayak dulu. Tapi bukan berarti saya ga menikmati. Cuma, jadi orang dewasa itu ribet ya, cuma itulah hidup. Kadang kita takut jadi dewasa, padahal tumbuh itu mutlak, dewasa itu hasil proses.

Biarkan deh, saya tersenyum mengingat cerita2 di atas.

Buat temen2 SITH 2007, kakak2 asisten, para dosen SITH, dan bocah2 2008 ke bawah… mendadak saya jadi kangen kalian deh…

-AW-

Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang gak pernah sama karena selalu berubah, khususnya ilmu biologi. Pada dasarnya pemahaman dari ilmu biologi akan mengantarkan kita pada konsep penciptaan dan pengertian atas kehidupan. Berkembang dari filsafat atas kehidupan, lahirnya ilmu pertanian, ilmu kedokteran, hingga bioteknologi muncul sebagai cabang ilmu baru. Bermain2 dengan rancang bangun kehidupan sekarang mungkin sudah menjadi hal yang lumrah, baik secara teoritis dan hipotetikal hingga aplikatif.

Sebelumnya saya pernah membuat artikel tentang suatu ilmu yang saya sendiri sebut sebagai xenobiologi pada tahun 2013. Di sana saya menyebutkan bahwa xenobiologi adalah bagian ilmu biologi yang membahas makhluk asing dengan penjabaran yang kita ketahui. Namun, seiring waktu berjalan dan meski cuma dalam 1 tahun, definisi itu berubah.

Semenjak konferensi ilmiah xenobiologi (XB1) di Genoa pada Mei 2014 ini, xenobiologi memiliki 2 makna:

  1. Xenobiologi dalam konteks biologi spekulasi yang menjadi preferensi awal saya, secara definisi saya kembangkan menjadi ilmu yang menjelaskan fenomena biologi yang ada pada organisme asing (alien) secara spekulatif menggunakan biologi atau bidang keilmuan yang sudah ada, atau dalam konteks pembahasan pengandaian atau patafisika (dekonstruksi alien).
  2. Xenobiologi dalam konteks biologi sintetik seperti yang ada di konferensi di Genoa itu atau saya prefer sebagai xenobioteknologi, adalah sebuah ilmu bagian dari bioteknologi yang merupakan pengembangan dari biologi sintetik. Dikemukakan oleh Markus Schmidt (2010) bahwa xenobiologi ini dianggap sebagai alat pengaman dan membuka peluang sebagai kanvas baru dalam kreasi sistem hidup baru yang benar2 baru dari nol. Arti keseluruhan: Ilmu yang membahas penerapan bioteknologi untuk membuat kehidupan yang benar2 baru dan sesuai rancangan yang kita buat, serta tidak bersinggungan dengan sistem hidup yang ada di bumi sebelumnya (alienisasi kreasi).

Xenobiologi dalam konsep pertama memang cenderung menerawang, pendekatan biologi yang diketahui (biology on life as we know it) dan pendekatan artistik memang perlu. Karena akar dari ide ini memang menjawab bagaimana alien yang digambarkan itu berfungsi dengan cara paling logis yang bisa diterima. Misal yang satu ini:

anatomica_draconis_by_katepfeilschiefter-d4i7aq5

Anatomi naga oleh Kate Pfeilschiefter.

Kita jelas tahu bahwa naga itu ga ada atau seenggaknya belum terbukti ada. Tapi kita bisa menggambarkannya dengan apa yang kita ketahui. Contoh lain:

Screen Shot 2014-10-17 at 8.53.45 AM

Anatomi Charmender (Pokemon), gambar dari Bustedtees.

Charmender dijelaskan dengan bagaimana ada organ penghasil api di tubuhnya dan segala komponen penyokong ignisi dari api.

Feeds_on_Sound_by_nJoo

Hewan pemakan suara oleh Andrew Hou.

Kali ini yang ditawarkan adalah konsep ilmiah. Makhluk di atas digambarkan sebagai makhluk yang memproses getaran suara menjadi sumber energinya (audioautotrof/kinetoautotrof). Disebutkan bahwa membran di antara lingkaran di sekitar tubuhnya menangkap getaran dan menjadikannya energi. Kemungkinannya adalah getaran itu diproses menjadi aliran energi.

Sebenarnya masih banyak contoh lain, lainnya adalah bagaimana penggambaran evolusi masa mendatang.

Sementara xenobiologi dari poin kedua digambarkan sebagai konsep pembuatan alien secara sintetik.

Screen Shot 2014-10-16 at 10.36.00 PM

Penjabaran xenobiologi oleh Schmidt (2010).

Schmidt menggambarkan bahwa xenobiologi ini menggabungkan konsep exobiologi (tepatnya di sini astrobiologi) yang membahas kemungkinan komponen biokimia penyusun kehidupan yang tidak umum, sistem kimia, asal usul pembentuk makhluk hidup, dan biologi sintetik yang sedang berkembang. Xenobiologi ini memberikan peluang untuk kita mendesain keseluruhan sistem organisme dari nol, pada kanvas yang kosong.

Tabel: Penyusun Nukleotida Alternatif (Schmidt, 2010)

Screen Shot 2014-10-16 at 10.36.40 PM

Screen Shot 2014-10-16 at 10.36.24 PM

Contoh rangka gula menggunakan treosa dan heksosa (Schmidt, 2010)

Kita memiliki DNA dan RNA yang memiliki komponen gula dasar deoksiribosa dan ribosa. DNA berguna sebagai penyimpan blueprint makhluk hidup. RNA sebagai molekul perantara yang membawa kode blueprint DNA untuk mengkode protein spesifik di ribosom untuk pembuatan protein. Penggunaan heksosa dalam HNA dan treosa dalam TNA akan membuat blueprint jenis baru atau disebut asam nukleat asing (XNA) di mana XNA akan menjadi “tak tampak” dalam sistem normal DNA-RNA. Sehingga “kreasi” menggunakan XNA dan sebagainya akan menjadi bebas untuk kita merancang sistem baru. Penyalinan dari DNA ke sistem baru XNA bisa diprediksi menjadi:

Screen Shot 2014-10-16 at 10.37.11 PM

(Schmidt, 2010)

Diagram A hingga H adalah 2 skema dalam penyalinan atau penggunaan XNA. A adalah sistem yang kita ketahui dengan B adalah XNA yang tidak berguna di sistem natural. Penggunaan rekayasa protein untuk membuat XNA replikase pada C membuat XNA mampu mereplikasi diri dengan XNTP (Xeno Nucleotida Tri Fosfat). Dari sistem C, kita bisa membuat sistem D di mana XNA bisa ditranskripsikan menjadi RNA sehingga pada E XNA akan menjadi sistem sintetik dalam ekspresi gen yang kemudian pada F kita mengeliminasi sistem natural (DNA) sehingga segala blueprint berasal dari XNA. Opsi lain adalah dari C ke sistem G di mana diciptakan molekul transkripsi analog RNA yang disebut X2NA dan sebagai analog dari ribosom dalam sintesis protein diciptakan xenosom sehingga pada H kita bisa melihat sistem yang benar2 baru.

Selama 4,5 miliar tahun, kehidupan di bumi sudah berkembang dan berevolusi dari nol ke kompleksitas maksimum. Dengan xenobiologi yang diusulkan Markus Schmidt ini, kita bisa dengan kata lain menciptakan “tunas baru” dari pohon kehidupan.

Screen Shot 2014-10-16 at 10.37.27 PM

“Pohon baru” dunia XNA (Schmidt, 2010)

Kita belum tahu dunia seperti apa yang akan tercipta dengan alien sintetik ini. Yang jelas, disebutkan juga bahwa perlu diciptakan sistem kendali untuk mencegah “bocornya” sistem sintetik ini ke sistem natural yang berisiko kerusakan sistem. Tapi yang jelas, lahirnya xenobiologi arti kedua ini memungkinkan para peneliti melepaskan ide gilanya dengan lebih bebas dengan kanvas baru sesuai banyaknya jenis XNA yang dibuat.

Secara filosofi, saya berpikir… manusia adalah makhluk yang menemukan hal asing dan menjadikannya hal biasa dan juga makhluk yang mengubah hal biasa menjadi hal baru yang cenderung asing.

Memang, dalam sains… kita tak akan lepas dari aspek estetika dan juga etika.

-AW-

Referensi:

Schmidt, M. (2010). Xenobiology: a new form of life as the ultimate biosafety tool. Bioessays 32(4): 322-331.

Hmmm… saya lagi mau berbagi cerita yang cukup panjang. Semua berawal dari kegalauan pikiran dan perasaan dari Agustus hingga awal September lalu. Saya cerita ke kiri-kanan, saya ngobrol dengan teman2 saya, dan akhirnya saya pun menyadari bahwa di atas kesedihan hidup, pasti ada hal2 kebahagiaan yang belum terkuak. Awal Cerita (Yogyakarta – September 2014) Semua berawal dari rasa keingintahuan dan rencana yang sudah saya susun dari Agustus sebagai pelampiasan diri waktu itu. Saya mengontak akun Yogyakarta Culinary Community, dan via adik kelas saya, Putri, saya pun juga mendapatkan info bahwa ada komunitas biologi sintetika di UGM, tempat saya kuliah saat ini. “Tunggu… sebenarnya galau kenapa Dit?” mungkin itu pertanyaan pertama. Saya akan sedikit jujur… soal hasil penelitian tesis yang acakadut, masalah sedikit soal percintaan, dan rasa suntuk di mana saya ga tau mau apa lagi saat itu. Akumulasi… Berusaha pelan2 untuk mengikuti kata teman saya, Inez, buat ikut komunitas buat mencari energi positif, akhirnya saya melakukan kontak seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama, dan menyusun Protokol PROMETHEUS untuk misi ketika join tim Synthetic Biology UGM atau SynBio UGM. Apa sih rencana2 saat itu? Untuk Yogya Culinary Community:

  1. Mencari link ke restoran dan chef di Yogya
  2. Mencari link ke media di Yogya
  3. Mencari naungan untuk bidang blog makanan
  4. Mencari sponsor buat wisata kuliner
  5. Mencari teman2 sebidang dalam hal kuliner dan blog makanan

…dan Protokol PROMETHEUS. Singkatnya, Prometheus adalah dewa (dalam hal ini adalah titan) dalam legenda Yunani yang memberikan api pengetahuan dari para dewa kepada manusia walau pada akhirnya dia dihukum dan disiksa dalam keabadian untuk itu. Misi besar ini adalah mempelajari dan konversi ilmu yang saya dapatkan dari Bandung waktu itu, terima kasih Pak Indra (Dr. Indra Wibowo) dan Khrisna, untuk saya bawa ke teman2 di Yogya. Kenapa konversi? Kebutuhan komunitas itu beda… Menyadari bahwa saya mendapatkan “api” ilmu biologi sintetika dan biologi molekuler di ITB, saya merasa ingin membagikannya ke teman2 di UGM yang baru saja mau mendirikan komunitasnya (sementara di ITB sudah sangat jauh). Melakukan ini, saya menyadari bahwa semua itu memang ada alasannya… dan mungkin ini adalah takdir saya untuk ke Yogya yang saya tak sadari. Setelah beberapa lama… saya pun dikontak Mas Brian dan ternyata komunitas kuliner akan mengadakan kumpul2. Awalnya saya pikir bakal rame… ternyata di Yogya memang baru sedikit. Akhirnya untuk pertama kalinya, gathering komunitas itupun dilakukan di Dixie, Yogya pada tanggal 14 September lalu. Di sana, saya ketemu Mbak Rina dengan blog nya yang legendaris di Yogya, Lala yang SANGAT EKSPRESIF, Mas Adhi yang kalem, dan Mas Brian sendiri (yang diem2 garing parah). Alhamdulillah, kami dapat makan dengan voucher Rp 300.000,00 untuk ber-5! Kemudian kami ikut lomba blog di Cupuwatu Resto pada tanggal 21 September! Ga ada yang menang dari kami… tapi ya sudahlah. Di sana, kami ketemu anggota baru di komunitas, si cantik meganekko Clara yang menjadi idola di grup WA kami (ini semua gara2 Mas Brian), dan Mbak Ratna yang sangat nomaden.

IMG_9175

Dari kiri: Lala, saya, Clara, (atas) Mas Adhi, (bawah) Mbak Ratna, dan Mas Brian

Saat lomba… saya adalah penulis paling eksentrik…

IMG_9172

Ini pas lomba… yang super ngebingungin itu…

Kenapa saya eksentrik?? Karena sebenarnya kami per orang peserta hanya mendapatkan 1 makanan dan minuman saja. Namun buat saya, yang namanya review restoran itu… mana bisa kalo cuma makan 1 jenis dan ga nyoba kiri kanan?? Yak, saya akui, itu lomba teraneh yang pernah saya ikuti. Saya waktu itu memesan Malon BBQ dan Es Pelangi, kiri saya Lala memesan Malon Peking dan Es Campur Tape Ijo, kanan saya Clara  memesan Malon Bumbu Kuning dan Es Campur. Apa ntah saya memang ga bisa diem, saya pun jalan2 dan liat. Alhasil saya dapet sepiring nasi kebuli yang uenak… dan nyomotin 1 kaki Malon Halilintar ini…

IMG_9171

Kaki kanannya (dari arah sini) ilang!

Ah lupa… Malon atau Manuk Londo ini adalah burung puyuh impor dari Perancis yang disajikan di Cupuwatu. Pulang2 dari lomba, kami benar2 kelelahan (walau saya sempat internetan bentar di kampus). Kondisi under pressure, makan, dan nulis dalam waktu dengan konten yang diarahkan membuat saya kelelahan fisik dan pikiran. Normalnya, nulis 3 artikel pun bukan masalah buat saya, orang saya aja nulis 5 artikel buat majalah ShoppingMagz aja dulu cuek kok dalam 2-4 jam. Ini… cuma 1 artikel, saya udah lemes.

Di sisi lain, secara paralel… saya dan Putri akhirnya bertemu Nuha, anak biologi UGM 2010. Pertama kali ketemu, aura anak ini sangat berwibawa. Gak heran, secara reflek saya memanggilnya dengan prefiks, “Mas” ketika ketemu. Di Perpustakaan Pusat UGM, Nuha menjelaskan bahwa SynBio UGM sudah bertemu beberapa ahli dan kita mendapat arahan dalam hal DIY BIO (Do It Yourself Biology) yang memungkinkan kita membuat alat2 lab dengan murah dan mudah dan ga harus beli jutaan rupiah di toko lab, tapi bisa jauh lebih murah dengan rakitan sendiri dan komponen seadanya. Cuma kalimat saya untuk mereka, adalah biologi sintetika adalah konsep bioinformatika dan biologi molekuler, kita harus punya proyek terkait spesimen biologis karena kita bukan penjual alat2. 4 hari setelahnya, saya ketemu Sanka, anak bio UGM 2010 juga… cuma aura anak ini asik dan (kayaknya) agak urakan. Jadi… (sori San), dari awal saya manggil langsung nama… TAPI… setelah itu Nuha pun jadi saya panggil tanpa prefiks. Dengan kumpul sama Sanka, Ayu (bio UGM 11), Jaler dan Sahal (SI UGM 13), kita jadi tahu bahwa akan ada 2 ilmuwan luar yang akan mengunjungi kita nantinya di akhir tahun: Prof. Dr. Parvez Alam dari Finlandia yang ahli biomimetika, dan Dr. John Cumbers dari NASA yang pernah memegang iGEM. Hmmm… nampaknya saya perlu bertemu orang2 ini! Ah ya! Saya pun akhirnya menetapkan untuk ikut acara seminar di Malang yang diselenggarakan Universitas Brawijaya, terkait biologi sintetika dan juga pelatihan bioinformatika.

Di lain momen juga, berhubung saya sudah tidak ada kuliah (murni tinggal penelitian tesis dan seminar), saya pun dengan isengnya ikut kelas (sit in, tanpa absen dan daftar di KRS) di Fakultas Kehutanan UGM, yaitu kelas Silvikultur (Kelas V) dan saya pun bertemu seseorang bernama Ikhsan yang ternyata alumni Adik Irma Tebet, Jakarta dan teman sekelas sepupu saya, Anggit. Dunia memang sempit saudara2. Di kelas ini saya belajar bahwa di balik penebangan kayu, prosedur legal dan penanaman itu sangat panjang! Sekarang saya tau kalau penebangan ilegal itu separah apa dampaknya. Saya juga ikut kuliah Propagasi Vegetatif di fakultas yang sama. Saya jadi belajar proses dibalik stek, cangkok, dan semacamnya secara fisiologis. Keisengan saya belum selesai! Saya ikut sit in di Fakultas Filsafat UGM dan mengambil Bioetika, kemudian Metafisika/Ontologi, dan terakhir Filsafat Bahasa. Bioetika… karena saya penasaran bioetika dari sisi filsafat etika itu seperti apa padahal saya biasanya belajar dari sisi ilmiahnya. Metafisika… membahas realitas dan keberadaan… ini cukup dalem… tapi terima kasih Prof. Joko Siswanto… kuliah ini jadi dinamis dan kocak! Filsafat Bahasa… karena saya ingin mempelajari semiotika. Keingintahuan saya soal Semiotika berakar dari guru saya Rizki sensei di Jakarta. Ilmu mengenai pemahaman simbol dan tanda ini kemudian saya pelajari dengan ikut kelas di Fakultas Ilmu dan Bahasa UGM, kelas S2 Semiotika sebagai tambahan yang saya pelajari di Filsafat. Kelas itu… cukup berhasil membuat saya pusing melihat perombakan puisi Sapardi Djoko Damono… dekonstruksi untuk melihat deiksi (penunjuk subjek), tempat, ruangan, dll yang bahkan memakan waktu 2 jam sendiri. Untung di kelas itu ada 2 cewek hot (ampas lu Dit!)… yah seenggaknya ada pemandangan. Tapi dari tanggal 25, saya bakal menghilang untuk sebulan dari UGM demi misi ke Malang, Surabaya, Jakarta, dan Bandung!

Kisah Persahabatan dan Pengetahuan Yang Abstrak di Malang (26-28 September 2014)

Pagi tanggal 26, saya sudah tiba di Stasiun Lempuyangan dari jam 7:20 WIB untuk menunggu Sanka dan Ayu… kami bertiga yang berangkat duluan saat itu sementara yang lain ada kuliah dan praktikum sampai sore, baru menyusul. Sanka baru dateng jam 8 waktu itu. Serius… waktu itu adalah pertama kalinya saya naik kereta kelas Ekonomi. Jam 8:40 WIB, kami naik kereta Logawa ke Surabaya. Saya sebelahan tapi bersebrangan ama lorong sama Sanka, kanan saya ada Dira anak Arsitek UII 2010, seberang saya ada seorang ibu dan anaknya. Ayu ada di kursi lain karena ia memesan tiket sendiri. Sepanjang jalan, saya cerita kepada Sanka, Dira… yang mau mendaki Gunung Bromo (sehingga tujuan kita juga sama, ke Malang setelah transit di Stasiun Gubeng, Surabaya), dan ibu2 yang ceritanya SANGAT SANGAR! Gimana ngga? Ibu ini pernah merasakan tinggal di area konflik Timor Timur (sekarang Timor Leste), nyaris mati kena tembak gara2 pistol dipegang bocah, punya kemampuan pre-kognisi dan tau tanda2 kematian orang lain, pernah sendirian menghadapi preman demi nolong anaknya dan berhasil, ngelobi orang di atas perahu sehingga dapat tempat tidur, dan juga cerita soal anak2nya. Anak pertamanya perempuan… feminin dan pemalu, anak keduanya juga perempuan… tapi tomboy… dan anak ketiga nya adalah laki2… yang ternyata anak angkat, yang waktu itu ikut ke Jombang.

Sesampainya di Surabaya jam 14:45 WIB … kami langsung memesan tiket ke Malang. Ternyata, kami harus menunggu sampai jam setengah 7. Bingung, akhirnya kami makan di warung. Saya memesan ayam goreng tanpa nasi dan segelas soda gembira yang ternyata porsinya sangat gembira (gede). Ngobrol2 sampai jam setengah 5, kami pun ngemper di depan lobi stasiun. Dira dan para pendaki gunung pun ikut menunggu bersama kami. Alhamdulillah sore itu, dikasih roti sama teman dan senior Sanka waktu itu.

IMG_9219

Trio Leo SynBio UGM… nangkring di depan stasiun.

Jam 6, saya berpindah ke ruang tunggu karena akhirnya kami boleh masuk. Saya pun mendapat kabar dari Pak Indra bahwa Pak Sony (Dr. Sony Suhandono… legenda genetika dan biologi molekuler ITB yang membuat edible vaccine, vaksin hepatitis di pisang sehingga dengan cuma makan pisang, kita bebas hepatitis) akan ikut ke Malang. Wiiiii…

Akhirnya sore itu jam 18:40 WIB dengan kereta Penataran Ekspress, kami bertiga lanjut ke Malang dengan biaya Rp 25.000,00. Di Malang, kami tiba jam 21:30 WIB. Ayu dijemput saudaranya, sementara saya dan Sanka dijemput ketua dari SynBio UB/iGEM UB bernama Wira dan seorang panitia lain gadis manis berkerudung bernama Nira. Gak lama kemudian dan setelah ngobrol2 di jalan di atas motor bersama Wira… sambil menikmati sejuknya malam kota Malang dan indahnya taman Malang di bawah sorotan lampu jalanan yang berwarna kuning itu, kami tiba di penginapan KOSABRA.

Gak lama abis itu…

Saya (AW): San, makan lah yuk!

Sanka (IS): Yuk lah mas… ke mana tapi?

AW: Jalan aja dulu, ntar nemu…

(beberapa saat kemudian)

AW: Sepi amat ya… ini jalan raya kosong banget…

IS: Setauku Malang itu udah sepi dari jam 8an, mas

(ketemu kafe di kejauhan, ga jauh dari jalan keluar kompleks tempat penginapan)

AW: San, kayaknya asik tuh buat di blog saya… ke sana ga?

IS: Ayo aja lah mas!

Alhasil, saya dan Sanka makan malam ke restoran The Amsterdam. Suasananya rada ajaib. Para pelayan yang kayaknya mulai ngantuk gara2 pas saya nanya agak2 ga nyambung, lagu disko, dan cuma ada beberapa orang di sana… biar gitu, restoran itu sangat cozy dan enak buat duduk2. Ikut rekomendasi, akhirnya saya memesan Cheese Burger dan Sanka memesan Nasi Goreng Amsterdam… yang saya juga cicipi buat saya tulis di blog karena saya bertekat untuk mendapatkan tulisan dari kunjungan2 ini.

The Amsterdam - Cheese Burger

Inilah burger saya…

Puas makan (review ada di blog saya ya), kami pun pulang ke penginapan. Sampe malem, saya ngeracunin si Sanka sama video PewDiePie sama hal2 random apapun yang ada di laptop saya, tapi juga termasuk seminar XB di Genoa 2014 (XB: Xenobiology). Lewat jam 1 dini hari, saya baru ngantuk.

Esok paginya…

AW: San, anak2 yang lain udah pada nyampe?

IS: Mereka nyampe jam 4, lanjut mandi di stasiun…

AW: Gile…

Lagi, dijemput Wira dan Nira (wah berima)… kami pergi ke Universitas Brawijaya jurusan Biologi, tapi saya mampir ke toko dulu buat beli tiket kereta Penataran Ekspress buat besok. Si mbak2 yang melayani beli tiket itu… manis *plak*. Oke… tapi jujur, mata saya seger banget di Malang… pemandangannya bagus dengan penataan taman yang sangat bagus dan ga ada macet, dan “pemandangan” lainnya… sumpah… bening2… *oke stop*

Akhirnya kami ngumpul di UB dan khususnya Nuha lagi sibuk mempersiapkan presentasi pihak UGM. Setelah registrasi dan bayar (dan beli kaos), kami pun masuk ruangan…

IMG_9247

Dari kiri: Sanka, Nuha, Amel (Ghifi ketutupan), saya, dan Jaler. Mau seminar… narsis sikit dulu lah!

Seminar biologi sintetika pagi itu diisi oleh Pak Rifa’i (Muhaimin Rifa’i, S.Si, Ph.D.Med.Sc), dosen UB lulusan Meidai (Nagoya University) ini menjelaskan tentang biomedika khususnya tentang regulasi dari sel T-regulator yang bisa berguna untuk macam2 hal khususnya transplantasi karena sifatnya yang menekan pembelahan sel dan ini berpeluang untuk diamati lebih lanjut. Jeda, kemudian Pak Widodo (Widodo, Ph.D.Med.Sc) dosen UB lulusan S1 UB, S2 ITB, dan S3 Tsukuba University yang sempat berdiskusi singkat dengan saya mengenai peluang biologi sintetika tanaman. Beliau sangat luwes dalam menjelaskan definisi biologi sintetika yang menyangkut sistem biologis dan perbandingannya dengan rekayasa genetika yang ga lebih dari konsep rekayasa pada gen. Selesai itu, pihak SynBio ITB menjelaskan sistem deteksi aflatoksin dari Aspergilus niger pada kedelai yang menggunakan rekayasa pada bakteri Escherichia coli. Saya… ga bisa berkata apa2 melihat kemajuan penelitian mereka… fix, saya harus bertemu Pak Indra nanti di Bandung buat nyari ide dan diskusi! Terus, dilanjutkan dengan penjelasan Nuha soal DIY BIO, progress SynBio UB oleh Wira, dan video SynBio UI.

IMG_9257

Nuha sedang presentasi.

Abis itu? Sesi narsis…

IMG_9259

Saya dan teteh2 cantik dari S2 ITB…

IMG_9260

Sesi foto abis seminar yang formal…

IMG_9262

…dan yang gak formalnya…

Keluar seminar, kami makan siang dan menyempatkan diskusi dengan pihak SynBio UB dan ITB mengenai apa aja yang diperlukan. Ya… ternyata yang diperlukan adalah memang proyek dan publikasi sebelum selanjutnya kita lanjut ke fase yang lebih tinggi.

Abis diskusi, kita memutuskan buat jalan2…

IMG_9269

…dan narsis lagi!

SynBio UGM dan UB akhirnya memilih buat jalan2 (yang ITB balik, kayaknya mereka dapat tugas tambahan dari Pak Sony). Saya pun mengikuti ide Nira buat makan ke Burger Buto! Kami semua jalan keluar kampus (dan saya menikmati liat2 “pemandangan” di dalam kampus UB… dan pemandangan beneran di mana saya suka taman di kampus UB dan gedung2nya yang desainnya modern itu) dan kita lanjut naik angkot. Sejak momen ini… persepsi saya ke Nuha dan Sanka yang tadinya kalem dan berwibawa… Jaler, Ghifi, dan Sahal yang kalem dan senyum2 doang… Amel yang juga agak jaim… berubah total… bukan karena makanan… tapi karena…

Screen Shot 2014-10-01 at 3.55.47 PM

…minuman abstrak ini!!

10346516_10202874011517383_1422153747164465528_n

JREEEEENGG! *tulisan ini ga disponsori oleh Creso ataupun Burger Buto*

Dari kiri ke kanan: Sahal, Jaler, saya, Ghifi, Nuha, Sanka, (saya lupa namanya), Nira, Amel… dan yang motret, Putri.

Makan burger berukuran abnormal di Burger Buto (ada di blog saya lho), cerita Nuha sama Sanka tentang film Idiocracy, dan minum Creso yang berdampak ngakak tanpa alasan jelas (tanya Ghifi), ngebuat saya nyaris keram perut sore itu. Setelah puas makan, kita… beli Creso lagi dan nyegat angkot buat di-carter untuk nganterin Amel dan Putri ke kosan Nira, dan lanjut ke penginapan.

Malam itu, saya, Nuha, Sanka, Jaler, Ghifi, Sahal, dan Azza (anak bio UB) terkontaminasi otaknya gara2 nonton film Idiocracy. Setelah diusir mas2 penjaga buat nonton selanjutnya di kamar dan Azza akhirnya pulang… dan sampe film akhirnya abis, saya pun lanjut cerita2 sama Sahal dan Jaler sampe malem sebelum akhirnya pindah ke kamar… di mana Ghifi udah tepar. Gak lama, Sanka dateng dan juga tepar… saya menyusul sejam kemudian… jam 22:00 WIB waktu itu kalo ga salah.

Besoknya, kami datang ke workshop bioinformatika. Pagi itu kami makan di warung KOSABRA setelah check out dari penginapan.

IMG_9304

Makan pagi…

IMG_9306

“Mie Ayam Jamur” versi warung KOSABRA… bahkan saya bingung jamurnya di mana.

Saya ke UB bareng Wira karena saya harus nuker tiket pulang sementara yang lain naik angkot. Makasih yak temen2 yang bawa koper saya! Selanjutnya di UB… lab bioinformatika… kami belajar menggunakan aplikasi Pymol, Hex, dan Chimera untuk melihat konformasi protein dan interaksinya dengan zat2 tertentu.

IMG_9309

Mas Rizky sedang mengarahkan workshop.

Konyolnya, aplikasi itu agak memakan memori dan di komputer meja saya… aplikasinya crash. Akhirnya saya nengok punya Sanka dan Sahal aja. Setelah beres (jam 10:30 WIB), kami makan saya ketemu seseorang dari biologi ITS bernama Misbah yang tertarik soal biologi sintetika tapi di ITS belum ada. Namun diskusi kita terpotong akibat obrolan Creso sama Jaler, dkk. Abis itu, kami sholat dan satu persatu kami berpisah.

IMG_9313

Narsis lagi…

Nuha sama Sanka nunggu di lab karena mereka pulang sore naik bus, Putri diantar Nira ke terminal untuk pulang lebih awal, Amel, Sahal, Jaler, dan Ghifi naik kereta langsung ke Yogya. Saya pun diantar Wira ke stasiun… ngeliat jalan, saya rasa saya bakal kangen Malang. Jam 15:40 WIB… akhirnya kereta Penataran Ekspress pun tiba menjemput. Di jalan… saya duduk sendiri dan di seberang bangku ada 3 orang. Mengusir kejenuhan, saya mendengarkan lagu sambil melihat matahari terbenam di ufuk barat di langit biru yang cerah dan cakrawala yang terlihat jelas.

IMG_9319

Sore hari di Penataran Ekspress.

Menulis Ulang Masa lalu (Surabaya 28-30 Oktober 2014)

Setibanya di Stasiun Gubeng Surabaya, saya dijemput Pak Taqim. Beliau adalah juru mudi yang setia kerja di perusahaan tempat bapak saya kerja, Unilever, bahkan dari ketika dulu saya masih tinggal di Surabaya kelas 6 SD. Di perjalanan, saya pun mampir di toko yang sama ketika saya kelas 7-8 (1-2 SMP) suka mampir, Papaya di Margorejo buat beli kroket, onigiri, dan roti tuna. Abis itu mampir ke Togamas buat nayri buku Bioetika… hasilnya nihil dan saya langsung melanjutkan perjalanan. Saya malam itu menginap di kediaman Mbak Susi (saya manggilnya tante sih), beliau sangat baik dan mengenalkan ke 2 orang anaknya, Eka dan Iko. Eka saat ini sekolah… kelas 12 (3 SMU) IPS dan mau mengambil kuliah di jurusan Psikologi. Iko, adiknya adalah bocah yang sangat supel, ramah, dan jago main piano. Saya setelah disuguhi makan, saya menyeritakan banyak hal yang saya alami ketika kuliah untuk bekal Eka. Ketika waktu menunjukkan jam 21:30 (saya sampai di rumah jam 19:30, dan makan jam 20:00), saya masuk kamar, menyalakan AC, dan membuka laptop sebelum akhirnya tidur.

Esok harinya, Pak Taqim menjemput saya jam 9 pagi. Sejujurnya saya ga punya rencana apa2 di Surabaya karena sebenarnya saya hanya menunggu hari Selasa yang saya memesan di hari itu karena saya niat awalnya mengejar harga tiket pesawat lebih murah. Pagi itu… saya memutuskan untuk pergi ke sekolah SMP saya dulu… SMPN 13 Surabaya.

IMG_9336

Ini SMP saya lho dulu…

Saya ketemu Bu Ngateni (Wali kelas 7(1)F) yang dulu galak banget sama saya, terus Bu Endah (Wali kelas 8(2)B) yang sangat keibuan, dan Pak Har yang waktu itu menjabat wakil kepala sekolah… beliau kebapakan, tegas, tapi sangat ramah. Menariknya… sekolah di sini dikenai Rp 0 buat SPP!! Meski demikian guru2 ini bilang anak2 butuh motivasi lebih biar lebih rajin lagi. Setelah beberapa saat, saya jalan2 di lorong… saya inget jalan2 di sana beberapa belas tahun lalu sama sahabat2 saya Rino (bukan Rino yang di Jakarta), Alan, Bagus, dan Wahyu di sana.

IMG_9330

Lorong ini dulu ga sebagus ini…

IMG_9332

Pintu masuk kelas 8(2)B… dulu ga sekeren ini juga.

Penasaran… mereka ke mana ya sekarang?

AW: Pak… saya bingung… ke mana ya sahabat2 saya sekarang…

Pak Har: Kamu ke tata usaha aja, cek arsip angkatan kamu…

Akhirnya setelah mengecek nomer induk temen2 saya, saya pun dapet biodata tercatat mereka (dan juga beberapa cewek tercantik di kelas waktu itu… fufufufu) untuk saya potret dengan HP saya. Setelah itu… saya dengan Pak Taqim lanjut ke ITS. Awalnya saya mau ketemua Misbah, tapi ternyata saya lupa nyatat nomer kontak dia. Sampe sana, setelah dengan randomnya saya jalan2 ke depan HIMABIO ITS yang kosong, saya malah ngobrol2 sama 3 mahasiswa 2014 bernama Ika, Afif, dan Dicky. Mereka nampaknya tertarik dengan mikrobioteknologi. Saya pun cerita sekilas soal biologi sintetika, astrobiologi, dan… blog kuliner saya. Mereka malah jadi ngobrol soal makanan Korea. Hahaha… bzzz…

Dari sana, saya jajan ke Galaxy Mall. Saya makan di restoran rekomendasi Nadya (temen SD), di The Spaghetti’s dan makan makanan penutup di BlackBalls (keduanya segera di-review di blog). Abis itu, saya pergi ke 3 Togamas dan 1 toko buku Uranus. Buku Bioetika dan Metafisika itu nampaknya memang udah abis. Terus mampir toko, beli Creso, saya pun duduk2 di depan kompleks rumah Mbak Susi.

Langit biru…

10665797_10152746917087154_7129610180071647063_n

…dan Creso…

Baru saya neguk minuman ini… dengan randomnya saya dikontak orang India yang ngebaca blog saya. Saya cerita ke Sanka, dia langsung ngakak.

Malam itu, saya disuguhi Spaghetti Saus Ayam dan makan bareng Eka dan Iko, kedua ortu mereka belum pulang. Malam itu saya sempat mencari nama2 teman2 saya yang ada di database SMP tadi. Saya menemukan Rino… nampaknya akhirnya saat ini dia sudah kerja. Tapi ke mana yang lainnya? Setelah ngobrol soal fotografi sama Ichang dan soal bahan kimia pestisida sama Putri, saya tidur. Jam 20:00 WIB, saya terlalu capek… saya pun ketiduran sampai jam 2… dan lanjut sampai pagi

Hari terakhir di Surabaya, setelah sarapan dan sharing cerita sambil bilang kalo ada apa2 Eka atau Iko bisa bebas ngontak saya kapan aja, akhirnya saya pamit sama Mbak Susi dan diantar Pak Taqim ke Bandara Juanda. Setelah sampai di bandara, saya berpamitan sama Pak Taqim dan saya langsung masuk buat check in tiket saya di counter AirAsia. Bandara Juanda jauh berubah semenjak 2 tahun lalu, apalagi dari pas dulu pertama kali saya melihat pas masih tinggal di Surabaya.

PR saya di Jakarta adalah mempersiapkan materi kuliah biologi sintetika buat UGM dengan mengadaptasikan slide kuliah yang saya dapet di ITB (karena itu hak cipta Bu Maelita, Pak Sony, dan Pak Indra… akhirnya saya memutuskan buat versi baru yang bener2 saya tambahin materi terbaru untuk SynBio UGM), konsultasi ke Pak Indra, bertemu founder SynBio ITB Indra, Joko, dan Tonton di Bandung buat minta tips.

Setelah panggilan boarding penumpang pesawat penerbangan QZ-7693 dan tiket saya diperiksa petugas AirAsia yang cantik dan mukanya mirip Marzia (pacarnya Felix AKA PewDiePie), saya pun naik pesawat… dan dapat kursi nomor 30D nomor 2 dari belakang, dekat WC. Yah, sisi baiknya ini tempat mangkal pramugari… dan sebelah saya cuma 1 orang (tengahnya kosong). Sebelah saya… yah… cantik juga… cuma tampangnya agak angkuh. Ah sudahlah… saatnya liat peragaan keselamatan, dan saya pun pura2 jadi pilot di kursi saya sendiri…

Engine full thrust… 80 knots… Vee-one… Rotate… Positive climb, gear up…

…dan pesawat Airbus A320-300 dengan mesin ganda CFM series itu dengan berdaya dorong 76.000 lb itu pun mengudara dengan cepatnya dengan level ketinggian 360 dari SUB ke CGK.

(bersambung, kayaknya)

Otak manusia itu luar biasa. Memiliki kapabilitas untuk menguasai aspek “mind over matter” yang legendaris itu yang mungkin ketika kita mendengarkannya, hal ini nampak sangat paranormal sekali. Di artikel ini, saya akan membahas aspek yang beda dengan bahasan2 saya sebelumnya. Sebelumnya, secara singkat saya pernah membahas tentang kemampuan yang sifatnya gifted walau bisa dibuka/dilatih dan penjelasannya sangat parapsikologis (gimana ngga, ada gitu penjelasan yang sudah konkrit soal psikrometri, telepati, klervoyans, dan semacamnya?), tapi kali ini ke arah yang lain. Beda dengan bagaimana cara berpikir positif yang menurut seri buku oleh Rhonda Byrne, The Secret (juga The Power dan The Magic) kita bisa bahkan mengubah bagaimana segala hal berjalan dan mempercepat kemampuan penyembuhan diri dari penyakit di atas rata2, ataupun kemampuan superpower yang terjadi akibat mutasi atau faktor internal (percaya atau ngga, hal versi simpel dari X-Men itu ada).  Bahasan kita kali ini lebih ke kekuatan pikiran yang bisa mengubah kontrol diri kita sendiri. Kebanyakan dari ini, saya dapatkan dari para pertapa di Asia Timur dan Selatan yang dengan fokus dan meditasi, konon dirinya bisa menguasai kebebasan dari berat (weightlessness), kebebasan dari makan dan minum, dan kemampuan meregulasi sistem internal tubuh yang seharusnya otonom. Yak, 3 ini dulu deh bahasan saya!

Kemampuan Bebas Berat (Weightlessness Levitation)

“Let go your worldly tether. Enter the void. Empty, and become wind (Lepaskan ikatan duniawimu. Masuki titik kehampaan. Kosong, dan jadilah angin” – Guru Laghima, pengendali angin yang hidup ribuan tahun silam menurut cerita The Legend of Korra, dibawa kembali oleh Zaheer.

Screen Shot 2014-08-23 at 9.51.00 AM

Oh ya… Spoiler alert!

Baru semalam saya menikmati 2 episode terakhir buku ketiga dari The Legend of Korra yang pada cerita itu, salah satu tokoh antagonis utama seri ini, Zaheer, berhasil menguasai teknik terbang setelah melepaskan pikirannya dari faktor duniawi (di film, dijelaskan sekilas setelah kekasihnya, P’Li mati, dan tidak ada hal yang mengikatnya lagi) Zaheer membebaskan pikirannya dan melayang di atas udara. Sebenarnya rumor yang terjadi di dunia nyata gak seekstrim itu juga sih. Kalau para pertapa Buddha benar2 bisa terbang dengan ilmu ini, dunia sudah gempar dari lama. Mereka sejauh berita, hanya melayang beberapa sentimeter (atau meter) dari tanah. Dibanding 2 hal bahasan saya yang setelah ini, topik “terbang” ini cenderung kontroversial dan saya sendiri skeptis sampai suatu hari saya bisa melihatnya sendiri.

Penjelasan saya? Ntah… fokus di meditasi di titik yang dalam, melepaskan segala pikiran, dan terbang.

Screen Shot 2014-08-23 at 9.53.57 AM

Disebutkan di halaman sumber, apakah sang pendeta benar2 bisa menguasai ilmu terbang atau hanya sekedar jago menjaga keseimbangan adalah misteri yang menarik.

Saya pun perlu mengerti, sekosong apa pikiran itu dan apa kendali yang dilepaskan? Karena kalau sangat kosong, orang mati pun juga kosong pikirannya. Apakah hanya sekedar faktor metafisis saja yang bermain dalam hal ini? Ntahlah…

Sumber:

Pravda.ru: Modern science still turns a blind eye on levitation.

News Irish News: Galway shoppers brought to a standstill as street performer causes a stir with levitation act.

Kemampuan Terbebas Dari Makan dan Minum

Pernah menjadi suatu bahasan mengenai pertapa India yang tidak makan dan minum selama 70 tahun bernama Prahlad Jani. 

Screen Shot 2014-08-23 at 10.04.29 AM

Guru Prahlad Jani (sumber di sini).

Disebutkan dari umur 11 tahun beliau mendapat pencerahan dan menjadi seorang “guru” spiritual. Percaya dalam meditasinya mendapatkan “elixir” nutrisi dari para dewa, ia tidak makan atau minum sedikitpun. Penelitian telah dilakukan pada tahun 2003 dan 2010. Keduanya melibatkan isolasi dari sang guru di ruang tersegel tapi terawasi (pada 2003 10 hari, pada 2010 14 hari). Kedua pengamatan menunjukkan bahwa beliau secara nyata menghasilkan urin di kantung kemihnya, namun tidak menjadi kencing. Begitu juga dilaporkan bahwa beliau tidak BAB. Pengamatan atas serum darah leptin (berperan menunjukkan bahwa badan sudah puas) dan ghrelin (kebalikannya… pemberi indikasi lapar) menunjukkan kemampuan adaptasi yang sangat tinggi dalam kondisi kelaparan dan dehidrasi. 

Saya setuju dalam hal jika pengamatan ini dilanjutkan, kemampuan manusia untuk mengembangkan metode hibernasi dalam kondisi perjalanan jauh yang interstelar atau dalam peperangan bisa diterapkan. Secara personal? Mungkin pengamatan fisiologis perlu dilakukan. Mungkin pengamatan osmoprotektan yang lazim seperti gula trehalosa yang berperan dalam proses hibernasi bisa dilihat.

Sumber:

Mail Online: The man who says he hasn’t eaten or drunk for 70 years: Why are eminent doctors taking him seriously?

The Times of India: Fast-hungry Mataji’s claim endorsed.

Kemampuan Mengendalikan Sistem Otonom Tubuh

Jika ada yang pernah nonton atau baca anime/manga One Piece, pasti tahu anggota Cipher Poll (CP) 9 yang bernama Kumadori. 

Screen Shot 2014-08-23 at 10.22.33 AM

CP 9 Kumadori.

Sekilas cerita, Kumadori disebutkan sebagai sennin (仙人), pertapa dalam legenda Jepang yang mampu mengendalikan organ otonom tubuh dari organ pencernaan sampai ujung rambut dan bisa hidup abadi. Di cerita pun, dia bisa memegang objek dengan rambutnya dan juga makan yang banyak lalu kemudian memprosesnya seketika. Cukup fiktif ya kedengarannya. Tapi ternyata meditasi terbukti membuat seseorang bisa mengatur minimal suhu tubuhnya.

Screen Shot 2014-08-23 at 10.29.40 AM

Pengamatan pada pertapa (sumber di sini).

Pada percobaan yang gambarnya kita bisa lihat di atas yang dilakukan di Normandia, Perancis, dilakukan pengamatan pada seorang pendeta yang melakukan meditasi. Dengan meditasi, ia mampu menaikkan suhu tubuhnya dan mengeringkan handuk basah yang diletakkan di pundaknya. Seorang Associate Professor dari Sekolah Kedokteran Universitas Harvard, Herbert Benson juga pernah mengamati seorang praktisi di India yang dengan meditasi mampu menurunkan proses metabolisme tubuhnya hingga 64%, mengurangi kebutuhan oksigen, proses metabolisme fisiologis, dan persepsi hingga 10-15% dalam kondisi tidur (pembanding) dan 17% pada meditasi. 

Jika kemampuan meditasi ini bisa diterapkan pada orang pada umumnya, seseorang bisa menekan kondisi tubuhnya jika terjadi keadaan darurat yang menyulitkannya untuk makan, minum, serta menurunkan kondisi stress pada dirinya.

Sumber: 

Harvard University Gazette: Meditation changes temperature – Mind controls body in extreme experiments.

Banyak hal yang dihadapi para peneliti di atas (yang telah mengamati, yang bukan baru sekedar mendapatkan rumor), antara lain adalah dana (tentu saja) dan ruangan yang sesuai dengan kondisi umum meditasi dan tidak berisik (karena alat2 medis bisa berisik) dan bisa mengurangi faktor bias pada pengamatan yang dibandingkan dengan klaim di tempat umum/tempat awal para pendeta. 

Pengamatan hal terkait “mind over body” ini sangat menarik dan saya sejujurnya ingin bisa melihat perkembangannya dari jurnal ilmiah. Semoga saja semakin ke depan, sains bisa mendekripsikan hal2 yang terjadi secara metafisika, bukan sekedar membantahkannya. Karena sains adalah art dan alat bantu. Kreatif, transendental, tidak hanya kaku walaupun sains menggunakan alat ukur yang empiris. Lihat negara kita. Masih banyak hal mistis, tapi malah tetap dipraktekkan. Mengapa tidak diamati daripada sekedar diperangi oleh agamawan radikal ataupun mereka yang mengaku ilmuwan/saintis/cendekiawan yang selalu berpikir ilmiah dan rasional?

Karena dibalik hal irrasionalitas, ada hal2 alami yang kita belum tahu. Menurut saya atas kalimat yang lagi2 saya dapat dari The Legend of Korra:

“Natural order is disorder (Ketataan dal am alam adalah ketidaktertataan)” – Zaheer.

Bukan berarti kita harus mengembalikan segala sesuatu yang teratur menjadi berantakan. Tapi bahwa hal keteraturan tertinggi di alam adalah hal yang abstrak, dan kasat mata. Hal inilah yang juga perlu dilihat lebih dekat jika kita ingin mengetahui bagaimana alam dan tubuh kita sendiri bekerja.

-AW-

Saya menulis artikel ini, saya mendapat ilham setelah membaca tulisan2 ini di Wikipedia: Picotechnology dan Femtotechnology.

Kita tentu sudah sangat paham mengenai Mikrobiologi. Keilmuan yang merupakan cabang ilmu Biologi yang terfokus ke mikroorganisme dan sel2. Sel yang merupakan unit fungsional terkecil makhluk hidup yang masih memiliki sifat hidup (metabolisme, reproduksi, dll) semua diamati dalam skala mikro ini. Mikro dijabarkan sebagai satu per sejuta. Jelas dalam hal ini bahasannya adalah masih makhluk hidup renik dan interaksinya.

Mari kita melangkah lebih jauh. Nanobiologi, ternyata sudah bisa terjabarkan di Wikipedia juga, baca yang Bionanoteknologi (karena Nanobioteknologi adalah penerapan komponen fisika nano yang secara teknologi ke sistem biologi, sementara Bionanoteknologi adalah penerapan teknologi terkait sistem biologi). Nano… satu per semilyar. Yang bisa dilakukan? Pembuatan rekayasa molekul lipida untuk skala rekayasa terkait obat2an (penerapan misel untuk terapi gen, dll), terus perakitan struktur nano dengan asam nukleat. Ini juga bisa menjadi penghubung ke biologi sintetika yang memanipulasi asam nukleat. Dengan pendekatan nano, manipulasi basa dan kreasi protein atau metabolit lain jadi lebih mungkin.

Lebih jauh lagi… apa yang bisa dilakukan? Pikobiologi… satu per setriliun. Pikotobiologi… menurut saya akan berguna untuk rekayasa menggunakan fisika kuantum untuk “merancang” senyawa yang berperan di sistem biologi. Kita kali ini main di level senyawa dan superatomik serta interatomik. Kira2 apa yang bisa dilakukan? Manipulasi logam untuk gugus prostetik enzim? Merancang ulang struktur DNA? Apa yang bisa kita coba? Masih banyak.

Femtobiologi… dengan femto satu per 10^15, atau skala atomik. Saya rasa ini mungkin bisa dipakai untuk rekayasa atom radioaktif untuk dipakai dan dilihat interaksinya ke sistem biologi.

Attobiologi dan seterusnya sebenarnya adalah ide gila saya. Skala atto (1 per 10^18) udah sangat kecil dan atomik. Mungkin bisa dipakai untuk penyempurnaan mikroskop? Penerapan gelombang untuk biologi? Atau mungkin mencari definisi kehidupan yang tidak kita ketahui?

Sebenarnya banyak hubungan antara satu disiplin ilmu dan lainnya. Itu semua tergantung bagaimana kita mencari jembatannya dan mau dibawa sejauh apa dengan kreativitas otak kita?

-AW-

Pagi ini… tepat di umur 24 tahun 11 bulan ini (yak sebulan lagi!). Saya tiba2 pengen berbagi buat yang bertanya ke saya,

“Dit, apa mimpi yang sekaligus cita2 terbesar lo sebagai ilmuwan atau yah… calon profesor nantinya?”

Ada 12… mungkin ini aneh karena angkanya kebetulan sama dengan “Twelve Labours of Hercules“, yak… ini kurang lebih…

1. Ingin menanam di luar angkasa dan tanah selain bumi.

1

Bersamaan dengan didengungkannya rencana SPX 2020 oleh NASA yang pada 2 bulan lalu masih merupakan proposal penelitian, saya sejujurnya ingin mencari kesempatan untuk bisa bergabung dengan mereka di rencana MPX (Mars Plant Experimentation) dan LPX (Lunar Plant Experimentation). Untuk itu saya saat ini masih membuat paper bersama seorang dosen saya yang memiliki keahlian di bidang astronomi, sebelum saya mencoba lebih lanjut mengontak NASA (harapannya kejelasan keberterimaan proposal penelitian mereka ke markas pusat NASA udah dalam kondisi diterima. Emang subjek mereka apa? Tanaman Arabidopsis thaliana dengan tolak ukur perubahan CO2. Tapi sejujurnya, saya seminimal2nya pengen menaruh tanaman saya (ntah biji atau kultur jaringan) di ISS (International Space Station). Atas majunya perkembangan usaha saya ini, saya sejujurnya mau bilang makasih sedalam2nya pada Nita yang ngedukung saya terus.

2. Ingin melakukan modifikasi pada protokol standar kultur jaringan tanaman sehingga kita bisa melakukannya dengan efisien dan bisa di mana saja.

2

Ide ini sudah saya pikirkan sejak tahun 2013 lalu dan baru menghangat lagi setelah saya bertemu Pak Kris. Begini, kalian ada yang nonton Doraemon? Kalian pernah lihat yang bagaimana Doraemon mengeluarkan alat berbentuk tabung terbuka, dia ambil 1 sampel tanaman (daun atau apapun) begitu aja, dimasukin ke tabung, boom! Tanaman identik pun tumbuh. Kontras dengan teknologi saat ini yang kita masih ambil sampel tanaman, bawa ke lab, nyalakan laminar, siapkan bahan, inisiasi secara steril, subkultur 3x, aklimatisasi, baru jadi. Lama oy! Ya, saya tau semuanya butuh proses. Tapi kenapa sejauh ini belum ada yang menemukan cara agar metode ini bisa diperingkas? Ketika saya bertemu dosen2 tertentu, mereka sibuk ke pengembangan sampelnya, bukan ke metodenya. Pola pikir konvergen, bukan divergen. Mimpi saya, nanti anak cucu kita ga perlu repot2 ke lab, cukup petik, tanam, tumbuh.

3. Ingin melakukan mikropropagasi pada tanaman RafflesiaRhizanthes, dan Sapria yang konon masih belum bisa dilakukan.

3

Kultivasi tanaman satu ini merupakan tantangan. Saya belum pernah usaha kultivasi tanaman holoparasit lain selain Cuscuta atau tali putri (Švubová & Blehová, 2013). Dengan telah dijelaskan sebelumnya bahwa telah dilakukan usaha kultur jaringan baik oleh Dra. Sofi Mursidawati (LIPI) dan Dr. Lazarus Agus Sukamto (LIPI) (Sukamto, 2001), hingga saya sendiri (Wicaksono, 2013) tapi seluruhnya berakhir dengan kematian sampel pasca pencoklatan. Saya yakin, kayaknya masih ada cara yang belum dilakukan.

4. Ingin merekayasa tanaman yang bisa tumbuh lebih cepat daripada aslinya.

4

Semua berawal dari ide adek kelas saya, Athena Syarifa atau yang dipanggil Rifa. Dia, di satu sesi kumpul pada tahun 2012 di ekstrakurikuler SMU saya, Al-Izhar Science Community (ASC), saya bertanya kepada yang lain dan jawaban dia lah yang paling konkrit dan membuat saya dapet ide. Akhirnya, dengan izin Rifa, saya pun berniat ngebawa ini ke penelitian saya nantinya (salah satu proposal S3 saya) dan ini adalah paper yang tanggal 10 Juli 2014 besok akan saya persembahkan kepada Dr. Ir. Widodo Hadisaputro sebagai makalah penelitian yang menjadi nilai ujian akhir saya. Jadi, thanks ya Fa… wish me luck!

Tapi tunggu, emang bisa? Saya nemu 2 paper menarik yaitu pada metode transgenik over-ekspresi dengan set gen AtAHA2 (fokus ke protein sintesis molekul energi, ATP), AtPHOT2 (protein Phototropin 2 yang merespon cahaya), AtKAT1 (protein saluran ion K+), AtAKT1 (protein transporter K+) (Wang, et al. 2014), dan pengurangan ekspresi enzim Ribulosa Bifosfat Karboksilase/Oksigenase (RuBisCO) untuk efisiensi pengikatan substrat CO2 yang berlimpah (biar ga rebutan) dengan metode antisens yang membuat terjadinya pembungkaman gen (Hudson, et al. 1992).

5. Ingin mempelajari apakah tanaman bisa benar2 memiliki pola bahasa non-verbal dan peradabannya sendiri.

5

Inspirasi ide ini didapat dari sang guru saya yang gila, Rizki Musthafa Arisun. Tapi kalian kepikiran ga? Bahwa di balik diamnya tanaman, bukan berarti mereka bisu kan? Mereka memiliki pola sistem yang beranalogi sistem saraf dengan auksin sebagai neurotransmitternya, jaringan vaskuler sebagai neuronnya, bagian anterior hewan teranalogi di bagian basal tanaman dan posterior di bagian apikal, kerennya lagi juga menurut Baluska, et al. (2006), otak tanaman adalah di akar. Akar memiliki intelenjensia yang menentukan ke mana tanaman harus “bergerak” mencari nutrisi. Tambahan, tanaman itu bisa “menjerit minta tolong” saat ada herbivora (Dicke & Baldwin, 2010) dan bahkan ternyata bisa memancing karnivora predator untuk menyerang herbivora, serta “bilang” ke tanaman lain yang masih aman buat siap2 produksi metabolit sekunder (Dicke, et al. 2003).

Tanaman dengan bahasa kimiawi alias non verbal ini, ternyata memiliki bahasa kompleks dalam komunitasnya. Mungkin, seperti di film Kamen Rider Gaim, di mana hutan Helheim bisa berusaha memanipulasi organisme yang lebih tinggi untuk proses penyebaran dan berperang buat mereka, hal itu bukan hal yang baru jika tanaman sudah beradaptasi sekian lama.

6. Ingin mengimplementasi nukleotida sintetik ke tanaman untuk produksi protein baru.

6

Tahun ini, kita digemparkan dengan penggunaan 2 nukleotida selain Adenin, Guanin, Timin, dan Sitosin, yaitu d5SICS (X) yang berpasangan dengan dNaM (Y) dan berhasil diterapkan pada Escherichia coli (Malyshev, et al. 2014). Mimpi saya, karena kita tahu bahwa tanaman adalah organisme pabrik raksasa, kita seharusnya bisa mengimplementasi sintesis protein non esensial yang kita perlukan dengan menaruh kode2 tambahan itu di tanaman atau mempelajari apa yang bisa dilakukan dengan penambahan kode basa nukleat tersebut.

7. Ingin mengeprint 3D tanaman yang berfungsi penuh.

7

Ide ini muncul udah lama dan diperhangat dengan diskusi di jaringan sosial, Quora, dengan Vikas Kukreja, mahasiswa bioteknologi dari Velore Institute of Technology, India. Terbayangkah kalian mencetak 3D tanaman kalian sendiri, dari sebuah gambar yang kalian inginkan, cetak, aktivasi, dan tanaman yang dicetak/print benar2 tumbuh? Keren ya kalo berhasil. Masalah yang perlu saya kejar adalah bagaimana perubahan wujud sel ketika diferensiasi tanaman yang perlu dipelajari (karena pada hewan udah jelas, proses dari totipotensi, ke pluripotensi, ke multipotensi, ke yang sangat spesifik… unipotensi, pada tanaman? semua sel adalah totipotensi kecuali sel2 mati pada xylem dan sklerenkim dan bisa berdediferensiasi kapan saja ketika diinduksi hormon tanaman sebagaimana riset oleh para pendahulu kultur jaringan, Murashige dan Skoog (1962). Yang lainnya, apakah efek penyusunan secara vertikal-multilapisan pada sel tanaman, apakah memiliki dampak? Ini perlu diteliti.

8. Ingin menanam jamur konsumsi yang mikoriza untuk tujuan produksi massal yang terkontrol.

8

Kalian tahu jamur matsutake (Tricoloma matsutake), jamur kantarel yang wangi aprikot (Cantharellus cibarius) dan truffle (Tuber spp)? Kenapa jamur2 mikoriza ini sampai sekarang ga bisa diproduksi massal ga seperti jamur tiram, merang, kuping, dll yang bisa booming kapan aja? Coba dipikir…

9. Ingin mempelajari kelebihan2 yang ada pada varietas tanaman atau jamur di dunia yang memiliki predikat sebagai bahan makanan termahal di dunia sehingga bisa diterapkan ke organisme konsumsi lain.

9

Kalian tahu kentang varietas La Bonnotte dari Perancis yang tumbuh pada lahan bersalinitas tinggi yang bahkan dipupuk dengan rumput laut yang konon rasanya sangat gurih dan per kilogramnya lebih dari 20 Euro? Kalian tau Melon Yubari, Semangka Densuke, Mangga Ooma? Varietas2 ini memiliki kehebatan, ntah mulai dari kemampuan tumbuh natural yang unik, dan pola perlakuan tanam yang beda, sehingga bisa dihargai lebih dari Rp 500rb per buah. Kalau ini bisa dipelajari dan diterapkan, kita bisa melakukan perbaikan tanam pada tanaman pangan lainnya, atau mencoba menanam varietas2 mahal itu sendiri!

10. Ingin menciptakan organisme baru dengan biologi sintetik.

10

Mimpi tergila saya yang rada play God. Menguasai kode genetika, biologi sintetika, xenobiologi, nilai2 estetika seni, kita bisa menciptakan makhluk hidup jenis baru dari nol!

11. Ingin mempelajari teknologi omika berbasis biologi sintetik dan xenobiologi.

11

Dengan terekstensinya basa nukleotida jadi 6 dan 160 potensi protein menjadi terbuka, ilmu genomika, transkriptomika, proteomika, hingga metabolomika pasti akan berubah. Saya penasaran bagaimana kode2 itu satu persatu terbuka menjadi asam2 amino baru yang ditranslasikan.

12. Ingin membalikkan proses translasi dari protein ke RNA.

12

Membaca jurnal oleh Nashimoto (2001), saya jadi penasaran: Bagaimana akhir penyempurnaan Dogma Sentral yang hanya tinggal pembalikan protein ke kode genetis saja? Saya berharap bisa berkontribusi dalam upaya satu ini. Karena bayangkan! Kalian berhasil membuat protein baru dengan metode pemotongan gen, penambahan gen, bagaimana kalau setelah jadi protein kita balikkan saja ke kode nukleotida, dan kita simpan. Kita bisa memproduksi tanpa harus melakukan pemotongan dan penambahan lagi! Efisien!

Terlepas dari 12 ini, ada beberapa yang minor… ada keinginan saya untuk membandingkan penggunaan iradiasi gamma dengan penggunaan sinar dari akselerator partikel untuk melihat perbedaan mutasi pada tanaman dan dampaknya, dan juga ada keinginan saya untuk menggunakan tanaman untuk mengekstrak logam mulia dari tanah. Penelitian2 ini sifatnya minor dan kalau kalian baca dan larinya ga lebih dari keisengan saya yang diakibatkan dari ketertarikan saya ke teori2 fisika partikel dan fitoekstraksi.

Ide2 yang gila ya? Ideal ya? Ya! Cuma saya percaya bisa ngelakuin ini semua, baik oleh saya sendiri, satu tim kolega saya, anak2 didik2 saya, sampai mungkin keturunan2 saya. Orang2 yang dengar mimpi ini cuma mangap, senyum, atau ketawa. Saya jadi inget kata teman saya, Putra, pas kumpul Couchsurfing Yogya kemarin:

“Kejar mimpi lo walau itu gila! Tau kapan mimpi lo dianggap gila? Itu adalah pas orang2 di sekitar lo ngetawain mimpi lo pas lo cerita. Tapi jangan peduliin! Keep going!”

Mimpi dan cita2 kita adalah punya kita, batas antara kita bisa atau tidak bukan ada di bisa atau tidaknya, tapi mau atau tidaknya kita bergerak dan mengusahakannya setiap hari hingga itu tercapai!

-AW-

—-

Referensi

Dicke, M. A.A. Agrawal, J. Bruin (2003). Plants talk, but are they deaf? Trends in Plant Science 8(9): 403-405.

Dicke, M., I.T. Baldwin (2010). The evolutionary context for herbivore-induced plant volatiles: beyond the ‘cry for help’. Trends in Plant Science 15(3): 167-175.

Hudson, G.S., J.R. Evans, S. von Caemmerer, Y.B.C. Arvidsson, T.J. Andrews (1992). Reduction of Ribulose-1,5-Biphosphate Carboxylase/Oxygenase Content by Antisense RNA Reduces Photosynthesis in Tobacco Plants. Plant Physiology 98: 294-302.

Malyshev, D.A., K. Dhami, T. Lavergne, T. Chen, N. Dai, J.M. Foster, I.R. Corrêa Jr, F.E. Romesberg (2014). A semi-synthetic organism with an expanded genetic alphabet. Nature 509(7500): 385-388.

Murashige, T., F.K. Skoog (1962). A revised medium for rapid growth and bio assays with tobacco tissue cultures. Physiologia Plantarum 15(3): 473-397.

Nashimoto, M. (2001). The RNA/Protein Symmetry Hypothesis: Experimental Support for Reverse Translation of Primitive Proteins. Journal of Theoretical Biology 209(2): 181-187.

Sukamto, L.A. (2001). Upaya Menumbuhkan Rafflesia arnoldii Secara In-Vitro. Prosiding Seminar Nasional Puspa Langka Indonesia p: 31-34.

Švubová, R., A. Blehová (2013). Stable transformation and actin visualization in callus cultures of dodder (Cuscuta europaea). Biologia g8(4): 633-640.

Wang, Y., K. Noguchi, N. Ono, S. Inoue, I. Terashima, T. Kinoshita (2014). Overexpression of plasma membrane H+-ATPase in guard cell promotes light-induced stomatal opening and enhances plant growth. Proceeding of The National Academy of Sciences 111(1): 533-538.

Wicaksono, A. (2013). Observation of Tissue Culture of Young Holoparasitic Rafflesia patma Knob In Activated Carbon Added Murashige-Skoog Medium. Scribd Document.

Saya menulis ini sebagai riset pustaka lanjutan dari percobaannya Pak Kris di artikel sebelumnya di mana beliau bilang bahwa di urin dan Human Blood Serum ada auksin nya.

Yak, singkat kalimat deduksinya… ternyata itu bener… secara teori.

Rujukan ke penelitian oleh Kögl dan Haagen-Smit (1931) menemukan hasil penelitian bahwa ditemukan senyawa yang disebut asam auksentriolat (auxentriolic acid) yang disebut juga auksin-a. Proses penemuan ini terjadi oleh proses fraksionisasi berulang2 pada urin manusia yang diasamkan dan diberi pelarut eter dan dipekatkan 21000 kali sehingga didapatkan auksin-a tersebut dan senyawa laktonnya. Auksin-a ini memiliki rumus C18H32O5 dan tepatnya (C13H23)CHOHCH2(CHOH)2COOH (Thimann, 2012).

Screen Shot 2014-05-10 at 6.18.05 PM

Auksin-a (Thimann, 2012)

Sejujurnya… bentuknya cukup ngebuat kaget saya. Kenapa? Jauh banget sama struktur asam indol-3-asetat (IAA), wujud senyawa kimia alami dari auksin tanaman, terus baru kemudian dari hasil ekstraksi berikutnya dari urin lagi oleh Kögl dan Haagen-Smit lagi, didapatkan IAA. Oke… jadi ada 2 auksin di badan manusia??

Screen Shot 2014-05-10 at 6.37.09 PM

IAA

Menariknya lagi, saya menemukan jurnal lanjutan lagi oleh Wieland, et al. (1954) dan mereka menemukan struktur kristal auksin yang sama dengan auksin-a. Tapi yang buat saya bingung adalah, kemudian ada sanggahan oleh jurnal tulisan Wildman (1997) yang menyebutkan bahwa banyak upaya reproduksi percobaan fraksionisasi urin tersebut berakhir gagal sehingga keberadaan auksin-a dan b (asam auksenolonat) yang ditemukan dari spesimen lain dianggap palsu atau hasil kecerobohan.

Sebetulnya ini nampaknya merupakan riset yang cukup menarik dan kontroversial. Tapi menurut saya, penelitian awal pada tahun 1930 itu akan cukup sulit untuk direka ulang, kecuali ditemukan sebuah protokol baru yang mempermudah penemuan. Alasan? Bayangkan saja, perilaku manusia jaman 1930 yang mungkin lebih disiplin dan makanannya masih bagus, dengan manusia tahun 2014 yang makanannya udah acak2an, ada fast food dan semacamnya. Bagaimana tidak berantakan?

Mengenai Human Blood Serum, saya hingga sekarang belum menemukan jurnal yang valid. Mungkin saya akan berdiskusi lagi dengan Pak Kris.

Soalnya, selain bisa mempelajari senyawa analog auksin dari manusia, kita bisa mempelajari pola kemiripan sel manusia dan tumbuhan, gen2 auksin yang asumsi saya merupakan gen vestigial dari proses evolusi manusia, atau jangan2 auksin punya peran lain di manusia? Siapa yang tahu!

Barangkali, jika pada manusia terbukti ada auksin… ini bisa jadi alasan lain bahwa pengaruh manusia ke persepsi tumbuhan itu bukan cuma ke efek getaran suara yang memicu peningkatan auksin tipe IAA (Zhu, et al. 2011), tetapi juga karena manusia sendiri “menyumbangkan” auksin kepada tumbuhan dan memicu interaksi. Karena menurut Baluška, et al. (2006), tanaman itu sebenarnya punya aspek analog seperti sistem saraf pada hewan, dengan auksin bekerja sebagai neurotransmiternya, dan jaringan vaskuler sebagai saraf, serta akar sebagai otak.

-AW-

Referensi:

Baluška, F., S. Mancuso, D. Volkmann (2006). “Communications in Plants: Neuronal Aspects of Plant Life”. Berlin: Springer-Verlag. pp: 19-35

Kögl F, Haagen-Smit A.J (1931) Über die Chemie des Wuchsstoffs. Proc Kon Akad Wetensch Amsterdam 34:1411–1416

Thimann, R.V. (2012). “The Action of Hormones in plants and invertebrates”. Elsevier pp: 11-12.

Wieland, O.P., R.S. de Ropp, J. Avener (1954). “Identity of Auxin in Normal Urine”. Nature 1954, 173: 776-777.

Wildman, S.G. (1997). “The auxin-A, B enigma: scientific fraud or scientific ineptitude?” Plant Growth Regulation 1997, 22: 37-68.

Zhu, J.R., S.R. Jiang, L.Q. Shen (2011). “Effects of Music Acoustic Frequency on Indoleacetic Acid in Plants”. Agricultural Science & Technology 2011, 12(12): 1749-1752.

Buat para peneliti biologi atau pertanian yang berkonsentrasi ke budidaya jaringan, kadang kita suka terkendala dengan peracikan media kimiawi yang kadang campuran dan bahan stok nya bisa jadi hanya ada di lab atau harus memesan dahulu. Padahal sebenarnya, media ini bisa lho kita buat dari bahan yang sangat sederhana dan ada di sekitar kita!

Tulisan ini saya adaptasikan dari page Facebook milik Pak Novi Syatria dari Bengkulu dengan page usaha miliknya David Tissue Culture.

Sebagai referensi, media umum di lab kita adalah media Murashige-Skoog (MS), B5, Schenk-Hildebrandt (SH), Gamborg, dan lainnya. Media2 tersebut memiliki kandungan unsur hara (nutrisi) makro, mikro, vitamin, dan gula. Sisanya, untuk pemadat di sini menggunakan agar2 komersial.

Media pertama dibuat dengan menggunakan campuran pupuk Hyponex atau Gandasil D (note: Gandasil D merupakan pupuk perangsang daun, saya asumsikan memiliki sitokinin dan vitamin untuk ini di dalamnya).

Media Hyponex/Gandasil D atau Vitabloom D

  1. Siapkan air dalam gelas ukur sebanyak 500 mL.
  2. Untuk media 1 L, timbang Hyponex 2 gram, gula pasir 20 gram, dan agar 7-8 gram.
  3. Masukkan Hyponex/Gandasil D/Vitabloom D, gula, agar ke dalam gelas piala berisi air 500 mL satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 L. Masak campuran media hingga mendidih.
  4. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  5. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf

Sisanya, kita pun sebenarnya bisa memanfaatkan bahan2 dapur di sekitar kita. Siapkan kentang, ubi, tomat, dan air kelapa muda sebagai bahan dasar. Oh ya, karbon aktif atau arang aktif bisa kita peroleh dengan menggerus obat diare, Norit.

Media Berbahan Kentang atau Ubi (Untuk Kultur Jaringan Anggrek)

  1. Siapkan air dalam gelas ukur sebanyak 500 mL dan air kelapa muda sebanyak 150 mL (untuk media 1 L).
  2. Timbang 500 gram kentang, kupas, cuci, potong.
  3. Rebus kentang ke dalam 1.5 L air hingga menyusut 300 ml. Saring air rebusan kentang.
  4. Untuk larutan 1 L, timbang gula pasir 20 gram, agar bubuk 7-8 gram, dan arang aktif 0.5 gram .
  5. Masukkan air rebusan kentang, gula, agar, karbon aktif, air kelapa ke dalam gelas ukur kimia berisi air 500 mL satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 liter. Masak media hingga mendidih.
  6. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  7. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf.

Terakhir, media dengan kandungan unsur kalium atau potassium yang tinggi menggunakan pisang atau tomat. Kedua buah ini juga memiliki vitamin C atau asam askorbat yang berfungsi mengurangi kemungkinan pelepasan polifenol yang menyebabkan pencoklatan (browning) pada media.

Media Berbahan Tomat/Pisang Raja/Pisang Ambon

  1. Siapkan air dalam gelas piala sebanyak 500 ml dan air kelapa muda sebanyak 150 mL (untuk media 1 L)
  2. Timbang 300 gram tomat, potong dan keruk bijinya hingga menyisakan daging buahnya. Haluskan dengan blender, ambil sarinya dengan menyaring jusnya.
  3. Untuk media 1 L, timbang gula pasir 20 gram, agar 7-8 gram, dan karbon aktif 0.5 g.
  4. Masukkan air rebusan kentang, gula, agar, karbon aktif, air kelapa ke dalam gelas piala berisi air 500 ml satu persatu diaduk hingga rata. Tambahkan air hingga mencapai 1 liter. Masak media hingga mendidih.
  5. Tuangkan media secara merata ke dalam botol-botol kultur jaringan. (Keterangan: Botol kecil sebanyak 10 mL, botol selai kecil sebanyak 20 mL, botol saus yang besar sebanyak 35 mL).
  6. Botol-botol yang sudah terisi media ditutup dengan menggunakan plastik dan karet. Media siap disterilisasi di dalam autoklaf.

Jadi… tertarik mau nyoba? Kultur jaringan ga seribet itu lho walau perlu ketelitian ekstra dalam pembuatannya!

-AW-

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life