Skip navigation

Category Archives: Cerita

Ada banyak makanan2 unik di luar sana. Mulai dari pas saya bocah waktu itu makan ikan pari, pas saya mulai menjadi food blogger, hingga hari ini… di saat saya sudah berkelana 10 ribu kilometer ke Finlandia dan mencicipi sesuatu yang unik sampai sesuatu yang bisa kita sebut premium. Ada satu bahan makanan yang buat saya selalu punya tempat tersendiri di hati: jamur. Ah jamur doang, apa serunya sih? Bukan jamur doang, bukan sekedar soal jamurnya, tapi soal apa yang di dalam jamur itu.

Mengingat masa kecil, saya yang hobi banget main video game PS berjudul Harvest Moon, ada satu jamur yang menarik perhatian buat saya, jamur bernama truffle.

truffle-hm

Ini dari bentuknya, bukan truffle. Ini matsutake, jamur yang juga mahal. Ntah siapa yang nerjemahin jadi gitu!

Jamur ini memiliki nilai jual yang tinggi di game ini lho. Saya tumbuh dan masih bertanya2 itu apa. Hingga dekade 2000an akhir, baru saya tahu seberapa besar nilai jamur ini! Jamur ini per 1 kilogram bisa laku 3000 dolar Amerika hingga 30000 untuk truffle putih! Saya bersyukur udah beberapa kali nyicip. Sebagai topping pizza, tambahan buat kentang goreng, sampai IRISAN LANGSUNG di atas pasta. Emang, kenyataannya jamur ini emang spesial. Punya rasa yang mirip keju, telur, dan kadang bawang putih dengan tekstur agak keras kayak keju yang kering. Saya beberapa kali kepikiran gimana cara menanam jamur ini, sempat saya diajak di proyek penanaman jamur ini tapi sayangnya ga berlanjut.

Beberapa hari lalu (Jumat lalu, 23 Desember 2016)…

truffle-rino

Makjang… truffle all you can take!

Teman saya, Rino, pamer foto ketika dia makan di buffet salah satu hotel di Jakarta dan dia nyomot truffle. Truffle hitam… ntah, harusnya ini truffle hitam Perigord dari Perancis (Tuber melanosporum) yang satu kilogram nya 3000 dolar itu.

Buffet

Buffet

Buffet

Ya… kalian ga salah liat, buffet. Terus dia nanya, mendingan diapain. Saya bilang kalo saya bisa kultur pake media agar kentang dekstrosa (Potato Dextrose Agar, PDA), terus ditransfer ke pohon inang. Ya! Logikanya segampang itu kan?? Kita berhasil nantinya dan kita bisa kaya!! Saya pun akhirnya minta ama Rino… dan dikasih :v

truffle

Di atas tisu, sebelum dibungkus

Hmmm… saya mending buat PDA langsung atau saya ngontak Pak Nyoman ya… itu pikiran saya waktu itu. Pak Nyoman, Dr. Nyoman Pugeg Aryantha adalah dosen mikologi di ITB, dosen saya dan saat ini dekan SITH ITB. Kalau saya buat PDA, saya seenggaknya bisa mengkultur dan yang saya perlu lakukan tinggal nyari pohon yang pas, tapi itu peluangnya 50%… Kalau saya kirim ke Pak Nyoman, beliau pasti tahu apa yang harus dilakukan dong, cuma gimana ngirim ke Bandung? Di sisi lain, Rino bilang kalo dia mau investasi dana kalau emang bisa… kalo emang bisa…

Kalo pake JNE, berapa lama? Oke, akhirnya saya kirim chat WhatsApp ke beliau…

Saya: Assalamu’alaikum pak, maaf mengganggu. Saya dan teman saya di jakarta dapat “sampel segar” (truffle, foto di atas) ini pak di hotel. Sebaiknya di apakan ya pak?

(4 jam lebih kemudian)

Pak Nyoman: Wow fresh truffle… wah nothing we can do. Walau bisa mengisolasi, dia butuh tanaman inang sub temperata dan iklim juga tidak bisa di tropis

Saya: Kita tidak bisa pakai spesies analog di tropis pak?

PN: Climate juga tidak cocok

Saya: Truffle butuh dormansi ya pak?

PN: Iya sebagai umumnya ascomycete perlu masa dorman sclerotium

Kalo ahlinya sendiri udah ngomong gini dengan detail (beda ama kasus Rafflesia dulu karena soal teknis yang belum banyak, ini udah lebih banyak diketahui… apalagi truffle itu mikoriza), saya pun bingung mau apa. Terus saya ke dapur dan untuk buat PDA aja ga ada wadahnya (mana dapur saya jorok pula). Akhirnya saya memilih buat diamkan jamurnya dulu di dalam lipatan tisu, dan dimasukkan lagi dalam botol selai berisi beras kering yang udah saya sterilkan di oven microwave.

Empat hari kemudian…

Saya buka botol selainya… dan UDAH BAU TRUFFLE. Buset! Berapa banyak senyawa aromatik jamur ini?? Awalnya saya mengira kalo bau truffle ini hanya bisa menyebar lewat perantara cairan atau kontak langsung, yang menjelaskan bagaimana dalam jumlah sedikit aja dia bisa memberi aroma dan rasa ke makanan, atau buat menginfusi minyak zaitun satu botol (dengan potongan kecil aja). Tapi ternyata ini aromanya kuat banget sampe satu botol, sampe beras2nya, dan tisu2nya jadi bau truffle! (Wah anjir… beras terinfusi truffle ini bisa saya jual berapa ya??)

truffle-rice-flea

Bahkan kutu berasnya pun kena… yak, kutu seharga Rp 100 ribu!

Terus saya buka tisunya… sial! Udah mulai ada miselium jamur! Wah gawat!!

Akhirnya saya ambil yang tersisa dan belum jamuran, saya ambil minyak zaitun di dapur dan saya cemplungkan truffle nya ke sana.

truffle-oil

Minyak truffle… modal 70rb (minyaknya doang, truffle kan dikasih), untuk ngebuat benda 500rb!

Terus saya buka hari ini (tanggal 27 Desember 2016), wew! Minyaknya udah wangi truffle! Serius, berapa banyak senyawa aromatik di jamur ini??

…dan gimana kondisi jamur itu sendiri?

img_9397

Yha……

Ummmm… saya harus apa nih?? Saya harus apa?? SAYA HARUS A…… oke tenang2… mari kita buat medium PDA dadakan!

img_9398

Sugar, potato, and everything nice…

Oke, potong kentang, gula sedikit, air panas… rendam, tusuk2 kentangnya, tuang ke botol… oke, ga ada agar, jadilah kaldu kentang dekstrosa (Potato Dextrose Broth, PDB) versi dadakan!

img_9399

Masukkan potongan jamurnya!

Ummmm… yah… ntah lah…

(Bakal di update!)

-AW-

Iklan

I can’t believe it, it’s almost there! After all the time passed, the day after tomorrow, I’ll go to Finland. The longest flight I’ve ever have for around 15 hours from Jakarta, Indonesia to Amsterdam, Netherland. After that, for 4-5 hours, I’ll be transferred to another flight from Amsterdam to Helsinki, the capital city of Finland, then followed by travelling by bus, from Helsinki go westward to Turku. There, I’ll meet my supervisor bro-fessor, Prof. Parvez Alam.

You probably wondered how’s my feeling just right now…

My answer: Between nervous, afraid, and so happy…

Perhaps… writing all of this article, I put a lot of my prayers in it. How so?

Let me explain to you, one by one. I feel nervous, because… first and the main reason, it’s my farthest flight I’ve ever had, at night, and I also carrying my samples in my baggage, some mudskippers for my doctorate thesis. It’s all in my imagination, I know, what if they took it from me? What if they have to hold me in security for some time? Another thing is… I’m kinda acrophobia. I height the feel of falling by height. I love plane, you know? Putting these 2 together is paradoxical. Perhaps in my way, aside of trying to sleep, I’ll playing by myself by pretending as a pilot. That’s my favourite stuff. But then… I hate turbulence! My point is… I feel nervous of what might happen on the journey. I trust in God, for sure.

I feel afraid… because I hate uncertainty. Fortunately, I’ve grown and learn a lot since my undergraduate time. Before my departure, I acquired both gift and loss. Gifts, aside my scientific community, Xenobiota rose and its sound reach more connections from some students in Makassar, in University of Hasanudin to the ear of Hackteria director, Dr. Marc Dusseiller in Swiss, to CEO of Biofaction, Dr. Markus Schmidt. That’s the best achievement so far in term of scientific community and that occurred only less than 1 year! Later, I published 2 papers in one year! Next thing and the most important one, I have new girlfriend (name is hidden for now, until she told her parents then it’ll be okay), she’s caring, she’s as crazy as me, she’s talented, we talk less daily because we both busy with our own academical and scientific routines… but we talk in our own pattern. I love her so much. And for my loss, my parent divorced. Now my siblings are living with my dad. When I go, I will be away from them… my family and the young lady (I prefer to mention her by this, she’s no longer a little girl) that I love. I know that 9-10 months is long, but I believe it will be short.

Again, I hate and afraid of uncertainty. But I always put them in my prayers… my family, myself, and her… as my loved one. I prayed so hard, that they will be okay. And especially for her… I wish that one day in 3-5 years from now, I wish that I can marry her. Aameen to God. Other thing is, although I’m quite ambivert, I have extrovert side (that sometime can be annoying when I’m starting to share my problem in motor mouth). In a country as big as Finland, it’s only 5 millions of population in there. I’m afraid if I will be lonely. And lonely is my enemy, when I’m alone… I tend to be overthinking, and my mind will be truly chaos… and dark. I wish in an instant, I will meet new friends, and I mean it… friends. Those who I can share my problem with, not just the matter of hangout and for happy time. I’ll need that. A lot. Sleeping with my head full of questions is a nightmare.

Primal fear… a lot of story of my friends who lost their parents while they’re studying abroad. It’s a paranoia fuel… but all I can do is pray, and tell them to take care of themselves. For the rest, it’s all in my prayers.

Next, I’m afraid if I can’t make it for funding until next year. I really want some fundings for our researches in here, from European or Asian, or global fundings and scholarship… anything… anything but from my own country. I know Prof. Parvez always remind me to be open minded, but defeating my reluctance… and probably unexplained hatred for government and their affiliates in my country. Perhaps because they ignoring some scientists in here and from time to time, all I heard is corruption in bureaucracy, leachers and plagiarisms, I know there are good people… thus I believe, there’s something I hold really strong so then I refused to go for Indonesian scholarship, although I wish to try in time. Will I? I started to pissed when they heard that the university should be in top list. My university in Finland is not on their list. A person I know was saying that I have to go to the list of the best university. But for God’s sake… I go to Finland and trust on it, because my professor is proven to be really qualified and very open minded! I planned to make bigger link, even to that top universities in the world, so then they will say nothing more to me. I know, listening to all people are bad. Thankfully, I feel confidence on my move. My next moves between 2016 to 2020.

And then… I feel happy… of course! One of my deepest prayer in answered! I always wanted to go abroad to study. Learning a lot after passing “The Period of Great Learning” (Sept 2014 to Sept 2015), I want to make a massive network of international research, expanding Xenobiota, and making new network with chefs throughout the globe, starting in Finland! I will make a cool robot in the lab with Prof. Parvez and his team, meet new awesome scientists, outside… new cooks, new chefs. And probably I can learn to collect edible mushroom in the forest! I will cherish my moment, and I want to go to Japan in 2017, and to attend on Bio Fiction (probably in Vienna, Austria) in 2018. Japan… because it’s been my lifelong dream, aside of my current prayer so my girlfriend will be graduate soon and claimed her master degree in Nara, Japan, I wish to meet a scientist who’s become a wonderful contributor of my papers in Kagawa. Then, I want to learn about their cultures, their foods (I’m not an otaku… I’m a culture enthusiast), and I want to learn about how they raise their plants (melons, mangoes, and more). They have… special treatment on how they grow their foods and I wish to know their secrets. While in Europe… well, Europe is a core of ancient cultures in medieval. In Paris, I wish to visit the renown and legendary alchemist’s house of Nicolas Flammel! May I found something there? I’m curious!

You know… aside of my fear, all darkness in me… I still carry my child-self in me. Who think I’m a supreme overlord scientist, a wizard, and more. I carry my imaginations in me. All I wish, is when the time is come for me to go home and meet my family, then marry my girlfriend… I have tons of story to tell about. A new legend to share. Honestly, after married, we’re not intended to have a child directly after that. We want to walk and travel. Only then, the story of us will be matured.

All of these… are my loudest prayers and hope.

All I want is inner peace, not a spotlight. Let my thoughts and my masterpieces will be, but not me. Not my individual me. I want to sit down, enjoy my meal, while reading some trends in science… and culinary stuffs in a quiet cafe.

For those who think that all of these are idealistic bullshit and daylight wet dream… all I can say is go fuck yourself.

I believe what I want to believe. And I’ll be there to make my dreams, our dreams come true.

Bismillah… by the name of Allah…

All that can’t be spoken loudly in the air, will be whispered in the silence of prayer.

PS: After today, my blog articles… in both The Hungry Biologist and in here, can be both in English or Bahasa Indonesia for wide or specific audiences.

THB-Indonesia-Finland

-AW-

Mungkin di blog ini, sebelumnya… saya pernah membahas mengenai komunitas ini. Kali ini, saya akan bercerita lebih jelas tentangnya.

XBI Icon

Logo kami. Dibuat dengan sangat berkonsep oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Selama setahun ke belakang, banyak orang bertanya mengenai kami: Siapa sih kami? Apa visi kami? Nope… kami bukan komunitas yang saya bangun untuk menguasai dunia. Ya mungkin itu rencana sampingan (hehehe…) tapi bukan, menguasai dunia SAJA itu bukan agenda kami. Nama kami mungkin di beberapa orang yang mendengar emang agak ambigu. Xenos dalam bahasa Yunani artinya asing, bios artinya kehidupan. Visi awal kami memang berkutat pada pembuatan dan pencarian kehidupan2 yang tidak kita kenal. Tapi sekarang visi kami adalah mencari persepsi2 lain atas fenomena yang terjadi di dunia sains, khususnya biologi. Kita memandang sesuatu dari kacamata positif: Semua itu ada, karena susuatu yang tiada atau fiksional adalah ide yang belum terwujud atau sebenarnya terjadi di lini waktu semesta yang lain. Bingung? Bayangkan seolah semesta itu ga cuma satu. Ada semesta lain di mana api itu dingin, air mengalir ke atas, air itu menyalakan api, manusia itu berasal dari nenek moyang dinosaurus bukan primata, dan lain2. Kita kadang mengkotak2kan imajinasi dengan logika. Maka visi kami yang lain adalah menjembatani keduanya, dan kemudian berbagi ilmu atas “temuan” kami setelah kami “bertapa” di “kotak imajinasi” kami.

“Kalian gila ya?”

Mungkin ya… mungkin ngga. Dari kacamata siapa dulu? Konsep2 kami memang di luar konsep yang sebelumnya dianggap normal. Kami rela dianggap gila, cuma kalian harus tau apa itu gila dan kenapa kami senang dianggap beda.

Oke, saya ga mau cerita teknis atau kampanye. Kalian mau masuk sini? Itu urusan kalian dengan kami (khususnya saya) nanti ya.

Dari Ensiklo ke Xenocerebral ke Xenobiota

Waktu saya berumur 10 tahun, saya sudah merasa sok2an menjadi ilmuwan cilik. Saya sering eksperimen dengan tumbuhan dan saya suka sekali baca buku. Apalagi buku bergambar, saya orangnya visual kinestetika soalnya. Waktu itu saya punya teman2 di kelas 4 SD itu, saya akui… sejak dulu saya punya passion berlebih soal sains, dan saya suka ngebawa teman2 saya ke arah yang sama. Kelas 4, saya dan “geng” saya, hobi menggali tanah di sekolah… buat cari undur2 di pasir (larva dari serangga keluarga Myrmeleontidae) dan berharap menemukan kapak batu jaman Megalithikum di tanah.

axes-stones

Kapak batu (sumber gambar: geology.lnu.edu.ua)

Di ruang belajar saya waktu itu, saya kemudian membayangkan saya bisa menjadi ketua dari negara yang berjalan dengan azas sains yang saya namakan Ensiklo. Karena kemudian saya hidup pindah ke kota2 lain karena bapak urusan kerja, saya pun mengubur mimpi soal Ensiklo, karena dasarnya hanya sayalah yang memegangnya… teman2 saya ntah apapun yang mereka pikirkan tentang ide itu.

Waktu berjalan di masa akhir kuliah S1… saya memasang pseudonim diri saya, Xenocerebral. Entah, menulis nama dengan huruf X itu rasanya… keren! Akhirnya pseudonim ini menjadi “alter ego” saya di dunia maya. Nama itu sendiri artinya “otak yang asing”. Sekali lagi, saya suka dengan sains… apalagi sesuatu yang ga konvensional, ga umum. Lantas saya suka xenobiologi, dan astrobiologi.

Kemudian saya S2. Ide berawal dari bagaimana anak2 di biologi UGM di Yogya dengan kreatifnya membangun komunitas sains bernama SynBio UGM. Saya merasa… membangun komunitas di Yogya itu adalah ide bagus karena atmosfernya sangat ramah dan kondusif untuk berkumpul. Menumpang eksis dengan bantuan acara SynBio waktu itu, saya pun memperkenalkan konsep komunitas ini. Awalnya saya menyebut “Project Xenocerebral: Xenobiota”. Sounds badass, eh? Selesai saya bahas ide di depan bocah2 biologi UGM ini akhir tahun 2014, kami pun mengadakan kumpul perdana.

Untitled-1

Poster buat ngumpul. Masih pake logo Xenocerebral.

Dengan mimpi dan ide2, yang kadang anak2 ini pun masih rada bingung, sebelum presentasi SynBio UGM, saya nekat membuat grup dan setelah presentasi saya mengundang anak2 mahasiswa ini. Mereka yang awal di grup… ada Arfan (Biologi UB Malang 2012), Putri (Budidaya Pertanian UGM 2011), Agha (alumni Biologi UI 2008)… adalah mereka yang saya percaya berpotensi sebagai pemegang inti dari komunitas ini karena… Arfan, saya tau dia suka ide2 gila, Putri, dia saya anggap adik sendiri dan murid sendiri… saya banyak menanamkan ilmu ke kepala dia, dan Agha, dia adalah biang dari ilmu2 aneh di kepala saya, mulai dari biologi spekulatif sampai astrobiologi dari sejak saya lulus SMU. Setelah saya umumkan, mereka datang satu per satu ke grup sebelum grup ini saya jadikan grup tertutup… Ghea (Biologi UGM 2012), Nana (Biologi UGM 2012), Sahal (Biologi UGM 2013), Annisa Resa, Iim, Elory, Ahmad (Biologi UGM 2014). Dengan juga saya masukkan Sanka dan Nuha (Biologi UGM 2010) ke dalamnya biar rame…

Maka dengan segala casciscus yang saya keluarkan hari itu… tanggal 20 Februari 2015, Xenobiota pun lahir!

Soal logo… konsep gabungan DNA organik dan DNA sintetik itupun dirancang oleh Iman, kami pun sepakat menjadikannya logo yang kami banggakan. Oh iya, ga lama setelah kami berdiri… 1 anak dari jurusan Elektronika dan Instrumen angkatan 2013, Jaler… pun masuk. Dia satu2nya “gadgeteer” di komunitas ini.

Perjalanan Dimulai

Awalnya, kami hanyalah penebar konsep. Bahasan di dalam grup ga lebih dari sharing paper2 berbau astrobiologi, xenobiologi molekuler (tentang XNA dan asam nukleat ortogonal lainnya), biologi spekulatif, dan semacamnya. Saya ingat betul, hanya beberapa orang2 ini yang merespons, namun saya pada mereka yang secara rutin nongol buat komentar maupun cuma nge-like. Sistem kami waktu itu adalah “institusi bawah tanah” (apa coba) yah… anggap aja semacam “mock” dari Area 51. Maka secara konsep, tempat di mana kami berkumpul dan membahas ide2 gila, kami menamainya “Xenobiota Institute”. Namun istilah itu kami simpan hanya untuk kami, kenapa? Takut dianggap institusi ilegal dan ntar bayar ini itu, sama kedua… kepanjangan!

Capek dengan ngomongin konsep melulu… saya pun memutar otak. Saya mengundang mereka ke lab saya ketika saya mengerjakan tesis… waktu itu saya kemudian mengajarkan “workshop kilat” cara ekstraksi RNA, pembuatan cDNA, dan reaksi berantai polimerase (EN: Polymerase Chain Reaction, PCR). Ternyata seru! Ngeliat mereka2 ini senang, bisa mendapatkan ilmu baru, dan menyusup ke lab Pemuliaan Tanaman dan Genetika FAPERTA UGM di hari Sabtu itu sangat seru! Rasa puas ditambah… karena TIDAK semua orang di sini mendapatkan kesempatan bermain di lab untuk ekstraksi RNA. Alasan? Mahal! Saya kemudian merasa pendanaan pendidikan di universitas2 di Indonesia itu ga rata banget. Ketika di suatu institusi proyek sangat kencang, mendirikan iGEM adalah hal mudah, di sisi lain… jangankan menyentuh konsep biologi sintetika, ekstraksi gen aja adalah pekerjaan yang wah buat beberapa kalangan! Di UGM ini, ekstraksi RNA adalah kerjaan lab yang cukup elit… bahkan buat saya. Di ITB pas S1, ekstraksi RNA itu udah bagian dari praktikum rutin! Di sini… kerasa, ngekstrak 1 sampel itu saya harus merogoh kocek Rp 150 ribu… 50 untuk ekstrak RNA, 100 untuk pembuatan cDNA dengan enzim transkriptase balik. Tapi bersyukur, ilmu2 dari ITB itu bisa saya bawa ke sini… saya pun jadi suka pas ke ITB mengambil bahan2 kuliah dari dosen dan membagikannya ke anak2 Xeno (red: Xenobiota… biar gampang nyebutnya). Saya sebut, Protokol Prometheus. Dari Titan/Dewa Primordia Yunani yang membagikan api pengetahuan ke manusia pertama.

Lagi… saya senang melihat mereka tersenyum…

IMG_2813

Yeah… dengan ekstra duckface dari Elory…

Awalnya, saya agak pusing ketika dosen pembimbing saya menambahkan saya kerjaan buat ekstrak RNA… awalnya saya kesal kenapa ketika saya lulus ITB, biologi sintetika masuk di sana… awalnya saya bingung, kenapa biologi sintetika itu HARUS jadi iGEM…

Ternyata… everything leads to some reasons… including why I am standing here

IMG_3088

Kita pun makin rame…

Dengan “sok2an” mendirikan divisi yang kami sebut departemen yang terbagi jadi (dengan bahasa yang lebih manusiawi) biologi molekuler (kode: MXSB), bioteknologi dan postbiology sibernetika (ABPB), astrobiologi dan biologi antariksa (ABSB), biologi spekulatif (AXSB), dan proyek rahasia/kerjaan sektor X kami (MTTM), kami mulai berjalan dengan melakukan riset sederhana dengan bahan2 seadanya/konsep DIY (Do-It-Yourself) science dan biohacking (ngotak-atik materi biologi dengan bahan seadanya dan lab secukupnya… agak life hack untuk biologi). Personel kita bertambah 2 orang yang punya kekuatan ilmu yang unik, astrobiologi, bidang yang ga semua orang punya di UGM… mereka adalah Bintang dan Tius (Biologi UGM 2013). Dunia kami pun semakin luas dengan Misbah (Biologi ITS 2012) bergabung, dan Rifa (Neurosains Surya University 2014) juga bergabung. Sayangnya, hingga tulisan ini saya terbitkan, kami belum sempat banyak membuat proyek. Karena kami agak kesulitan gerak di luar UGM.

Saat itu… semua keran ide dibuka selebar2nya… lebih lebar dari mulut saya ketika makan Quad Burger (burger dengan 4 daging)… (apa sih Dit). Saking ngalirnya… khususnya dengan tuntutan buat batere tanah dari Sahal dan Ghifi (Mikro Pertanian UGM 2011) dan Arfan yang mulai ngasih ide terus tapi ga tau mau gimana mulainya… saya mulai garuk2 kepala. Ini juga yang kemudian ngebuat saya agak nutup diri beberapa jam dari Arfan. It’s likeI want to escape for a while… and can we talk ANYTHING but this first? I need a break.

Saya tau… akhirnya saya pun berusaha jalan pelan2…

Akhirnya proyek pertama kami… batere tanah (Soil Battery) yang berbasis sel bahan bakar mikrobia pun berjalan. Bagannya cuma tanah sawah yang gelap dan hangat (jangan tertukar sama kotoran sapi yang masih segar ya), pelat tembaga, pelat seng, toples, dan kabel. Oh ya… multimeter untuk mengukur. Konsepnya adalah pemanfaatan aliran elektron akibat reaksi redoks yang dilakukan mikroba tanah dan menjadi sumber listrik. Di jurnal, hanya 700 mV listrik yang dihasilkan…

Kami berhasil menghasilkan 1 V!! Cuma dari tanah! Mau liat bahasan lengkapnya, klik sini.

IMG_3206

Sedang dirakit…

Proyek kedua… ekstraksi DNA skala lab itu adalah kerjaan yang lumayan mahal! Bahkan dengan penggunaan protokol CTAB aja, saya menghabiskan Rp 50rb per sampel… sementara untuk tesis saya habis juga untuk proses trial and error sampai 80an sampel! Hampir di beberapa universitas yang mengajarkan biologi, ada protokol standar untuk ekstraksi DNA: Menggunakan sabun… iya, sabun! Tapi awalnya pertanyaan kami, terus gimana? Bisa ga hasil ekstraksi dengan sabun ini dipakai buat PCR? Karena kalau iya… ini bakal murah banget!

IMG_3822

Hasil ekstraksi DNA dari biji jagung… klik untuk memperbesar, itu yang putih2 itu adalah pita2 DNA yang terkompresi.

Ternyata jawabannya: BISA!

Waktu itu awalnya yang mengerjakan adalah saya, Ghea, Resa, Nana, Eka, percobaan pertama gagal… hal ini terjadi akibat inhibisi alkohol pada proses enzimatik ketika PCR. Akhirnya besoknya, saya mengulang prosedurnya… melibatkan pengeringan dan juga pemanasan yang tujuannya merusak adanya DNA nuklease/DNAse yang bisa saja ada pada suhu tinggi. Kemudian saya menambahkan satu bahan lagi… yang ternyata mahal… DNA hexamer primer.

Secara logika, jika heksamer ditambah, harusnya ada kemungkinan heksamer menempel secara acak dan membantu penggandaan/penyalinan DNA ketika PCR. Dengan primer STS ZmSh1 (Zea mays Shrunken1 – Gen pengkode enzim pada proses biosintesis sukrosa-pati, sukrosa sintase), ternyata kami dapat DNA nya dan bisa di PCR-kan!

11659347_1458154301169943_2677078233065035844_n

Ada pitanya lah ya… dan di DNA mentah, ternyata tanpa pemanasan… DNA jadi lebih pendek, diduga kena DNAse. Prosedurnya? Klik sini.

Bravo! Inilah tim kami…

IMG_3828

Abaikan yang depan…

Selama kerja… saya banyak memutar otak (buat nyari ide2 alternatif dan tambahan) bareng Ghea. Kami pengen, hanya dengan bahan2 seadanya dan pengerjaan singkat ini, kami bisa dapat banyak hal. Ekstrimnya dalam pengerjaan ini, kami bertapa di hari Sabtu di lab… sampai di taraf kami berdua kena omel Mbak Mus yang mau pakai mesin PCR. Yah, itu suatu cerita 🙂

Kemudian, penelitian DNA ini pun disempurnakan lagi datanya oleh Putri yang mencoba dengan variasi2 sabun, mulai sabun mandi, shampo, sampe sabun pel… protokolnya mirip, dan hasil bisa dilihat di sini.

Sebenarnya apa sih tujuan akhirnya? Kami ingin… kita bisa mengambil DNA dan memanipulasinya di manapun kita berada dengan cara yang mudah. Kalau perlu suatu saat kita bisa rekayasa genetika tanpa harus di lab atau kalo perlu bermain biologi sintetika. Ide ini… saya sebut “Gene Sorcery Protocol”.

Lalu… kami punya maskot baru: BAWANG bernama Onionie dengan nama akrab Dr. Onie.

XB - Happy Ied Mubarak

Versi Idul Fitri!

Kenapa bawang? Karena bawang berlapis2… seolah menyimpan rahasia. Awalnya ide ini gara2 saya sama Ghea sering ngomongin Deep Web yang menggunakan domain .onion yang hanya bisa dibuka dengan Tor. Kami berdua menduga bahwa ada informasi2 psycho atau gila tersembunyi di sana karena Deep Web identik dengan transaksi ilegal, organisasi kriminal, dan lain2… bahkan mungkin, ada konspirasi tersimpan di dalamnya. Sejaun ini sih… ternyata Deep Web cuma tempat pedofil ngumpul dan web nya banyak yang mati. Jadi… yah… krik2… Cuma, kami pun tetap mengidolakan bawang!

Hingga terpikir, buat kami membayangkan jika… kita mengambil listrik dari sumber makhluk hidup, tanpa membunuhnya… konsep ini diasumsikan menyempurnakan batere kentang dan lemon. Untuk itu, kami menggunakan: BAWANG! Kenapa? Bawang berlapis2, asumsinya dia akan cukup terpartisi sehingga jika 1 bagian dilukai, yang lain akan tetap hidup.

IMG_4178

3 bawang dalam rangkaian seri… 542 milivolt, lumayan!

20150728133318

…dan yang paling penting, bawangnya tumbuh!

Kami pun berpikir lebih jauh…

86551

Kami coba di talas…

11950303_10204753184821362_1137679172696712835_o

…di batang singkong…

105960

…pohon…

IMG_5403

…pohon di kuburan…

IMG_5404

…dan pohon yang dianggap keramat (di sini pohon beringin).

Apa yang kita inginkan?

  1. Cukup dengan kutipan kata “Sayang sekali pohon tidak menghasilkan wifi, hanya oksigen”. Ya benar, terus kita ga ngapa2in? Proyek bioelektrik ini bertujuan biar bagaimana kita mengambil listrik dari tumbuhan, sehingga nanti kita bisa pakai dari sumber ini untuk wifi, charger gadget, sampai lampu atau alat2 lain! Ini adalah bahan murah!
  2. Kenapa dengan kuburan dan pohon keramat? Pohon yang dikeramatkan diasumsikan memiliki “energi lebih besar”, secara hipotetikal pun mereka tidak ada yang berani ganggu… maka bagaimana mereka tumbuh dan menyerap nutrisi mereka akan optimal, asumsinya… listriknya akan lebih besar yang didapat. Ternyata sama juga sih sama pohon di luar kuburan.

Untuk proyek listrik ini, saya berterima kasih banget sama Jaler, Sahal, dan Ghifi (untuk yang batere tanah). Tanpa mereka, ide2 gila ini ga bakal jalan!

Suatu ketika, saya juga mulai berpikir untuk memperkenalkan tentang astronomi dan astrobiologi ke mereka. Dengan bantuan Bintang, malam itu ada Jaler, Ahmad, dan Ghea juga, kami belajar bagaimana mengetahui posisi mata angin dengan melihat bintang, identifikasi bintang umum dan konstelasi di langit, kemudian barulah saya ajarkan soal eksoplanet atau planet2 di luar tata surya, DAN kemungkinan ada tidaknya kehidupan di sana dengan kajian astrobiologi. Cukup “romantis” karena malam minggu kami semua menatap langit yang sama… *tsaaah*

Kemudian kompleksitas komunitas ini bertambah dengan masuknya guru (muda) saya yang mengajarkan saya Bahasa Jepang dan konsep semiotika bahasa, Rizki Mustafa Arisun (Sastra Jepang S2 UI 2012). Lengkap deh segala bahan2 kegilaan di sini!

Setelah 1 semester berkarya, kemudian kami memutuskan untuk “tur” ke 2 kota. Pertama: Makassar. Kampung halaman Ghea, Arfan, dan Ahmad. Kebetulan Arfan dan Ghea lagi pulang, saya ajak mereka ke Universitas Hasanudin.

IMG_4500

Lagi… abaikan yang depan…

Kami bertemu 4 mahasiswi dari sana dan kami sharing apa yang kami dapatkan. Ternyata di UNHAS mereka baru merintis perkembangan biologi molekuler. Kami juga bertemu Ibu Zaraswati Dwyana dan ngobrol2, serta kami berkata kalau kami diminta untuk mengajar atau sharing ilmu2 ini, kami siap.

Sebulan kemudian saya lulus S2.

Sebulan setelahnya… saya ke Bengkulu, ke tanah Rafflesia. Saya bertemu 3 anak Rekayasa Kehutanan SITH-R ITB 2012 dan 2013 yang 2 tertarik dengan Xenobiota, mereka adalah Reza, Shandy, dan Wahyu… berempat, kami ikut simposium internasional!

IMG_0649

Dari kiri: Wahyu, Reza, saya, Shandy.

IMG_0703

Saya, Reza, Wahyu, Shandy. Momen di mana saya seolah jadi dosen.

Di sini, kami berburu informasi mengenai puspa langka Indonesia: Rafflesia, hingga kami menemui para ahli Rafflesia: Bu Sofi Mursidawati, Pak Agus Susatya, Pak Edhi Sandra, dan Pak Jamili Nais. Alhamdulillah, di waktu yang sama… publikasi saya tentang Rafflesia pun TERBIT! Ini akan menjadi awal perkembangan bioteknologi Rafflesia yang sangat saya ingin mulai di Indonesia! Cuma yah, saya belum sempat bertemu lagi dengan mereka bertiga di Bandung/Jatinangor dan berbicara tentang ide2 gila seperti sama mereka yang di Yogya.

Perjalanan kami mencapai puncak pertama ketika kami bertemu dengan seorang MVP dari Hackteria Swiss, Dr. Marc R. Dusseiller yang bersamaan, kami nimbrung di acara yang dibuat oleh Bio-Faction, Austria di bawah Dr. Markus Schmidt (yap… orang yang di artikel2 sebelumnya saya sering sebut karena menjadi penulis ide tentang biologi sintetika dan xenobiologi serta XNA) dan koordinasi dengan Asisten Profesor dari NUS, Dr. Denisa Kera, acara itu… BIO-FICTION. Saya berbagi hasil2 penelitian kami mulai dari yang kami benar2 lakukan… hingga spekulatif…

XBI - AXSB - Aerohydrozoan XBI - AXSB - Zephyrophyta

Aerobiota adalah konsep jika di Jupiter ada kehidupan yang terbang, dan Zephyrophyta adalah konsep tumbuhan Kinetoautotrof.

Kemudian kami juga nonton pagelaran film pendek berisi konsep2 sains dan seni yang diputar di Vienna tahun 2014 lalu.

12036503_10207963089341884_9035770172877409003_n

Kerjasama dengan Hackteria Swiss, SynBio UGM, Permahami, dan BioArtNergy UGM.

“It’s just the very first page, not where the storyline ends” – Taylor Swift, lagu “Enchanted” di album “Speak Now”

Saya kehabisan kata2, karena tanpa dirasa… mereka telah menjadi bagian perjalanan saya di Yogya. Awalnya, saya semua serba sendiri dan berbicara sama teman2 S2, semua rasanya beda karena kita sama dewasa dan bahkan ada yang lebih dewasa dari saya. Sering saya pulang ke Jakarta karena kangen rumah. Setelah ketemu mereka, saya merasa nyaman di Yogya karena saya ngerasa punya orang2 yang begitu dekat dengan perjalanan hidup saya.

11391628_10153354406657154_3433753271932713027_n

Ketika saya seminar hasil tesis… Ghea dan Jaler pun dateng…

11800559_10153487524757154_3269875455344985594_n

Pas saya wisuda, Sahal dan Jaler pun dateng (lagi).

Saya bakal pergi buat S3 di Finlandia, mungkin saya meniggalkan mereka2 ini. Orang2 pada mikir, saya pergi… mereka gimana? Nggak… kami ga pecah. Buat saya, Xenobiota itu bukan cuma komunitas, tapi keluarga. Mereka berhasil memberikan sesuatu yang membuat saya merasa sangat dekat dengan mereka hingga saat ini. Dari Xenobiota komunitas GAMA Biosintetika di bawah Sahal pun lahir, dan koordinasi kami dengan UB, ITS, dan ITB pun masih baru dimulai.

Namun gimana kalau suatu saat setelah saya pergi pergerakan kami berhenti? Protokol Kapsul Bakteria. Saya akan membuat sistem inti tetap ada, komunikasi tetap ada, mau ada anggota baru… saya tahan kecuali mereka rela jadi spektator atau mau memberikan sumbangan ide dan mau melakukannya. Saya sendiri membuat mereka… angkatan pertama Xenobiota sebagai benih2, yang saya harap akan tumbuh ke manapun mereka akan pergi nantinya setelah lulus. Kami akan tetap membangun jaringan dari satu tempat ke tempat lain, satu institusi ke institusi lain. Kami ingin belajar ilmu yang saat ini kami hanya mendengarnya sayup2 dari berita dan buku.

Buat saya…

Dari Xenobiota, saya mendapatkan mereka yang saya anggap keluarga. Mereka yang saya anggap adik. Dan mereka yang saya anggap dekat.

Untuk kalian…

Biar saya pergi, tolong bawa nama Xenobiota sebagai atribut kalian. Saya ingin ketika kalian berhasil S2 ke luar negeri atau suatu saat jadi pendidik di daerah2, saya bisa menengok kalian dan kita berkolaborasi lagi dengan penelitian lebih seru lagi. Mimpi saya adalah melihat kalian berdiri sebagai orang2 yang penting dan berkontribusi untuk kemajuan sains dan seni di Indonesia dan dunia, menjadi orang yang membuka mata atas kemurnian sains, dan menjadi orang yang selalu menumbuhkan bibit rasa keingintahuan pada generasi selanjutnya. Doa saya, kalian bisa lanjut pendidikan kalian setinggi2nya, dan yuk… kita ketemu bareng di puncak dunia dan jadi inspirator… 🙂

-AW-

Pagi menjelang siang, saya duduk diam menunggu konsultasi laporan proyek dengan Pak Bambang, seorang dosen biologi UGM. Tiga bulan hitungan mundur dimulai sebelum saya terbang melanjutkan studi S3 Teknik Kimia di Åbo Akademi University, Turku, Finlandia dan saya akan meninggalkan sementara begitu banyak hal di Indonesia. Keluarga, teman2, kolega, bahkan pacar saya sendiri. Sendiri, menarik napas dan mendengarkan semua suara yang tertangkap di telinga di gedung biologi UGM ini membawa saya ke momen nostalgia. Ditambah kemarin malam dan beberapa saat waktu lalu… di Line, saya melihat anak2 Xenobiota yang kebanyakan adalah anak biologi UGM angkatan 2014 mulai mengeluh harus mengerjakan tugas laporan praktikum dan tugas yang menumpuk setelah melewati minggu UTS. Tak terkecuali pacar saya sendiri yang sedang melewati tahun akhirnya…

A: Kamu ntar bakal sibuk sampe malem yah?

G: Hmmm kayaknya sih iya, bakal penuh sampe malem… masih ada sisa laporan yang harus dikoreksi sama ngerjain laporan praktikum…

Yah… baiklah… .___.

Lantas… pagi ini… saya tiba2 kangen rasanya dengan kehidupan S1 saya. Saya kangen dengan datang pagi ke kampus, sudah “diterror” dengan soal pendahuluan alias pre-test pas jadi praktikan, ngerjain laporan praktikum dengan laptop sambil dengerin lagu, ATAU… ngerjain laporan praktikum yang panjangnya menyaingi sajadah saya karena disulam (di ITB dulu, 1 minggu sebelum praktikum, semua diagram alir sudah ditulis di buku yang disebut “jurnal” itu; laporan ditulis di buku yang sama, lantas ga bisa kalau halamannya ditambal manual dengan kertas buku). Tahun selanjutnya ketika jadi asisten praktikum, saya ingat H-1 harus briefing materi dengan dosen di ujung lorong SITH ITB, besoknya datang 1 jam lebih awal, berjas lab, alat udah stand by, saat praktikum… mata harus fokus ke materi, ke dosen, plus ke bocah2 di depan saya yang kadang urakan, kadang ribut, kadang kayang atau salto atau joget2 kayak belatung… malamnya, aduh, ini laporan niat apa nggak sih ngerjainnya?? (buat yang dulunya anak praktikan saya, Sisi, Dine, Lisa, Yesie, dkk… sabar ya) Intinya menguras energi! Itu masih biasa… seenggaknya untuk asprak lab se-Indonesia mungkin mengalami itu… APALAGI yang asprak lapangan!

Mungkin juga… hari ini adalah genap 6 tahun lalu kami kuliah lapangan super asik ke Bali Barat dan Kintamani.

“Dit, gimana sih rasanya jadi mahasiswa SITH ITB?”

Mau tau? Oke…

Tahun Pertama

SITH ITB angkatan 2007 itu adalah angkatan terakhir yang merasakan praktikum Biologi Umum, setelah kami adanya Konsep Biologi dan itu ga ada praktikum bahkan ga ada kuliah lapangan (kulap). Itu doang? Nope… seminggu kami dijajalkan dengan TIGA praktikum… Biologi Umum, Fisika Dasar, dan Kimia Dasar. Buat saya, tahun ini adalah mimpi buruk! Masih berusaha menyesuaikan kuliah, gagal move on sama gebetan pas SMU, kadang sotoy atau sok ngerasa bisa bahwa materi taun pertama (TPB ITB) ini sama dengan SMU, itu adalah jebakan Batman! Lantas IPK saya pun di bawah standar saat itu. Saya juga ga ngerti gimana dosen itu sangat heterogen dan kita harus paham satu2. Soal praktikum, saya untuk pertama kalinya pusing dengan bagaimana kakak2 asprak itu memberi arahan (karena ga semuanya jago ngomong plus ada yang tampangnya galak… mana asprak saat itu sama juga kakak tadis ospek himpunan… mereka kelar praktikum langsung pasang jaket himpunan di medan ospek! Mampus lah aku!). Dari semua itu, saya kagum sama Kak Yola (Biologi 2004) yang ngajar Biologi Umum-nya asik, sabar menghadapi kami, asik sebagai temen ngobrol, cuma… tiba2 dia ngasih nilai 40… hiks. Ngerasain kuliah lapangan pertama, munculah sesosok pria (naon) bernama Kang Arief alias Kang Meded (Biologi 2004) yang namanya masih bergaung di dunia biologi sistematik ITB sampai SEKARANG! Beliau… saya ga ngerti waktu itu, bisa apal sekian ratus nama latin tumbuhan LENGKAP hingga tingkat famili dan spesies!! Kemudian ada teman saya Okta (Biologi 2007 juga) yang ntah gimana ngerti gitu juga! Well, ada 7 manusia super yang ilmu biosistematika nya di atas rata2… mereka disebut TAXON 6… Kang Meded… tumbuhan, Kang Ezak (Biologi 2003)… tumbuhan juga, Teh Agri (Biologi 2004)… tumbuhan dan beberapa yang lain, Teh Mika (Biologi 2004)… sama kayak Teh Agri, Kang Andri (Biologi 2005)… serangga, dan sang ranger ke-6… Okta sendiri yang ngerti tumbuhan.

Kuliah lapangan BiUm kami ke Taman Buah Mekarsari dan Kebun Raya Cibodas-Gunung Gede-Pangrango. Ini untuk pertama kalinya saya bisa sangat deket dengan teman2 seangkatan saya! Mana dengan ultra random nya di penginapan bersama kami itu… ada ulat kecil yang menggantung bak tirai diberanda! Weks!! Cuma ga masalah… it’s fun! Walau saya ntah berapa kali jatuh kepleset di kulap itu…

1930055_19718342153_2180_n

Di air terjun di Gunung Gede-Pangrango. Kami potret bareng asprak kami, Teh Gita.

Setelah itu, tahun pertama berakhir. SITH 2007 terbagi jadi Biologi dan Mikrobiologi dengan rasio 70 dan 40. Saya selain pengalaman tadi, saya ngerasa ga puas dengan nilai2 di tahun ini! Untung, saya berhasil menambal nilai saya di semester berikutnya dan saya ga jadi DO. Antara tahun pertama dan kedua, saya jadi panitia penata tertib kelompok (Taplok) di program Inisiasi Keluarga Mahasiswa ITB (InKM) alias ospek kampus. Outcome setelahnya? Saya yang tadinya cuek dan pendiem, jadi lebih talkative bahkan ke anak SITH 2008 yang saat itu kayak bocah banget. Yah, saya suka liat junior2 saya yang lucu :3 #nopedo

Tahun Kedua

Tahun kedua itu seru dan merupakan transformasi awal kami sebagai peneliti. Tapi transformasi yang paling nyentrik adalah:

Cewek2 Biologi kalem + Proyek Anatomi Fisiologi Hewan (Anfiswan) + Praktikum Biologi Perkembangan Hewan (Perwan) –> Cewek Biologi Psycho

Awalnya “KYAAAAA tikus!!”

Akhirnya “MANA TUH TIKUS GW TIBAN!!”

Tahun kedua itu adalah sarana yang sangat psycho tapi seru (apa coba) buat kami, cuma merupakan definisi Holocaust buat tikus, mencit, marmut, dan katak/kodok. Bayangin! Waktu itu, di mata kuliah proyek Anfiswan, kami diajarkan bagaiman menyuntik mencit atau tikus dengan logam berat untuk diamati jaringannya, kemudian di praktikum biosistematik kami diajarkan untuk mengawetkan binatang dengan formalin! Soal prosesnya saya ga mau bilang karena saya bisa aja dituntut kaum vegan atau PETA. Demi sains… yeah saya setuju sama GLaDOS di Portal…

“For science, you monster”

Kuliah biosistematika, kami menjelajah Gunung Tangkuban Parahu dari puncak ke lereng dekat perkebunan. Saya merasakan buang air besar di WC yang ditinggalkan (penting ya Dit), dan juga merasakan makan buah beri liar di hutan sama batang begonia… thanks to Kang Meded. Terus kuliah besarnya ke Pantai Pangandaran, kami pertama kali diajari membuat awetan kupu2 di Ladang Cikamal yang terik dan ada rusanya. Saya keringetan sampai baju saya basah karena di sana sangat terik mataharinya meski lembab. Menariknya, saya sempat merasakan beli cumi goreng garing dengan CUMI SEGAR gara2 kelaparan akibat dari pagi evaluasi pengamatan DAN saya nyaris ketinggalan! Oke… itu ngaco…

1588_51360612153_9168_n

Kakak2 Asprak Biosistematika sedang absurd

1924160_41800287153_6346_n

Briefing di Puncak Tangkuban Parahu (Kulap Biosistematika 2)

1927606_45569777153_7396_n

Kuliah lapangan 3 di Pangandaran…

Oh iya, kemudian ada praktikum genetika. Di ITB, praktikum ini berkutat pada pengenalan kromosom, bermain2 sama lalat buah (Drosophila melanogaster) mutan berikut menyilangkannya dengan semena2, membiarkan medianya bau busuk, dan eter menyebar ke seisi ruangan dan buat mabok, ekstraksi DNA, dan sedikit pengenalan soal PCR.

Ada cerita seru di praktikum ini. Jadi ceritanya kami harus menyilangkan lalat buah (acara 3), akan tetapi… ternyata praktikum yang agendanya 2 minggu ini terpotong libur lebaran. Alhasil kami semua diminta ngelakuin di rumah (kampung halaman masing2) dengan perangkat lengkap, lalat yang disilangkan, media, sama bius (eter). Di kelompok, saya satu tim (1 kelompok dibagi2 per 2 orang) dengan teman saya Vina (biologi 2007). Kami dapat mutan miniature (sayapnya kecil banget sampe lalatnya ga bisa terbang) dan ebony (badannya hitam). Di Jakarta… setelah itu… semua jadi suram: eter menguap ke kamar, media mengering, lalat tewas. Terus gimana di laporan?? Tulisan di bawah ini disalin dari manuskrip laporan aslinya:

2.3.1 DATA KELOMPOK

Percobaan yang kami lakukan sekelompok bisa dibilang gagal. Saat kami membawa botol media berisi lalat ke kampung halaman kami saat liburan lebaran ini nampaknya mengalami masalah perbedaan kondisi dengan di Bandung. Lalat-lalat mutan miniature betina yang ada pada saya hanya bisa bertahan sesaat dan kemudian mati kena infeksi jamur. Kemudian larva pun tumbuh hingga menjadi F1. Kemudian masalah pun terulang saat dipindahkan ke botol media yang baru. Lalat pun terinfeksi jamur. Ditambah dengan suhu panas Jakarta, media pun mengering & suhu menjadi cocok untuk pertumbuhan bakteri. Itu ditandakan dengan adanya perubahan bau botol media yang awalnya berbau pisang agak beralkohol (karena adanya ragi) saat ini menjadi berbau busuk menyengat. Saya sempat ingin mengulang namun masalah yang sama menimpa botol induk, sehingga saya tidak bisa mengulang.

Sama halnya dengan lalat pasangan praktikum saya, Vina. Bedanya, yang merupakan lalat mutan miniature adalah lalat jantan. Dan setelah saya mengontak Vina, ternyata mengalami masalah yang sama; media yang mengering.

Ntah gimana yang asprak kami pikir setelah kami nulis ini… kayaknya sih laporan saya dicoret. Lupa saya dapat nilai berapa.

2433304-just_read_super

Diasumsikan ini adalah ekspresi asprak yang meriksa.

Selesai sesi itu, saya dengan kurang ajar nya minta lalat yang sisa dari teman2 saya. Saya buat media sendiri di rumah dengan tabung Erlenmeyer yang saya beli, pisang yang dilumatkan, dan busa dari sofa kosan saya yang berantakan. Lalatnya mutan miniature dan eyemissing (matanya kecil banget sampe ga bisa jalan stabil). Saya silangkan… saya lupa hasilnya gimana, cuma bayangin anaknya suram banget kalo mewarisi 2 mutasi induknya tadi.

1931038_39291722153_9034_n

Mutant Fly Farmer from The Abyss. Oh, BTW itu di kosan saya…

Semester berikutnya, kontras dengan sebelumnya, nuansanya lebih tentang tumbuhan karena kebanyakan kuliahnya adalah tentang tumbuhan seperti fisiologi tumbuhan, struktur dan perkembangan tumbuhan, dan proyek tumbuhan (Protum). Dengan kata lain… ini surga buat saya… seharusnya. Tapi bisa mengerti bahasa2 dosen DAN asprak di kuliah2 tumbuhan ini… rasanya cukup sulit! Kadang saya udah dengan yakinnya mikir A ternyata B, kadang mikir B ternyata A, gitu deh. Ga tau kenapa. Tapi ngerasain bermain dengan auksin (regulator tumbuh tumbuhan yang menyebakan sel memanjang ke bagian tunas dan ujung akar) dan juga ngerti soal cara kultur jaringan tumbuhan itu seru!

1923187_72066127153_5735371_n

Narsis lv: Rak Kuljar Tumbuhan.

2961_83963837153_3750449_n

Kuliah lapangan Protum di Lembang. Kami dikelilingi hijaunya tanaman selada aeroponik.

Yang sadis… biologi perkembangan hewan. Saya waktu itu dapat kelas Bu Marsel. Kuliah ini kadang mengandung nausea fuel atau bahkan nightmare fuel akibat body horror. Sesuai namanya, kita diajarkan bagaimana hewan tumbuh dari momen terbentuknya sel ovum dan sperma, pembentukan zigot, morula, blastula, gastrula, hingga neurula. Dari situ masih lucu. Yang ga lucu, momen ketika tahap perkembangan lanjut di mana bagian2 primordia tertentu gagal melipat, menutup, atau membentuk suatu organ… itu SANGAT HORROR! Dengan kata lain, kita melihat bagaimana janin cacat akibat proses perkembangan yang gagal atau akibat induksi kimia. Lantas, di bagian praktikum pun kami ada momen menyuntik tikus hamil dengan kadmium untuk melihat gimana anaknya gagal terbentuk. Oke… cukup. Legenda praktikum saat itu adalah Teh Tazy (Biologi 2005) yang sangat telaten memberi materi tambahan buat kami sebelum ujian dengan bahasa yang SUPER ASIK!

2209_62435507153_7863_n

Lihatlah senyum2 psikopat ini yang sedang membedah tikus… saya khawatir kalo ini dimasukin di FB lagi bisa jadi bahan gunjingan dan membuat kami terkenal. PS: Kiri dan kanan itu asprak saya waktu itu, Kak Hani dan Kak Randy.

1923187_68235502153_5939117_n

Ini adalah Teh Tazy… sedang menjelaskan pembentukan bumbung neural pada ayam… (kalo ga salah).

Selain yang disebutkan, ada praktikum biokimia dan kimia organik. Cuma cerita saya ga terlalu banyak karena yang saya inget cuma protein, asam amino, asam sulfat pekat, dan semacamnya. Damn you brain

Akhir tahun kedua… saya masih mikir kenapa saya ga nyantol2 sama cewek SITH 2008. Yeah, sekarang sih saya ngerti kenapa. Belum nyerah, akhirnya saya jadi ketua divisi pembina kelompok alias Binok di ospek HIMASITH Nymphaea atau PPN 2009 saat itu. Lanjut, saya jadi ketua divisi dokumentasi Pengenalan Ruang Organisasi Keluarga Mahasiswa (PROKM… nama lain di tahun itu buat INKM sih) yang merangkap pendiklat Taplok.

10400654_123226092153_6301188_n

Should I say more? (Ket: Itu anak2 SITH 2008)

Still… ga ada yang nyantol. Suram.

Tahun Ketiga

Tahun ketiga itu adalah tahun yang buat saya paling baper. Di semester ini ada kuliah proyek ekologi (disingkat Proeko) di mana  kami merasakan 3 kulap: Kulap kecil hanya di sekitar kampus termasuk kawasan Babakan Siliwangi di mana kami belajar menggunakan alat2 penelitian ekologi sederhana seperti sling hygrometer, Lamotte water sampler, Ekman grab, luxmeter, dan lain2. terus ke 3 lokasi kawasan Situ Lembang yang merupakan kawasan hutan dan hulu sungai, Curug (Air Terjun) Cimahi yang dekat desa dan airnya segar, dan Kali Pajagalan yang sangat suram dan kami bahkan dapat cacing sutra (indikator air kotor) dan “bom lokal yang mengapung”, SERTA… MEGA KULAP TAMAN NASIONAL BALI BARAT – GUNUNG BATUR KINTAMANI!!!

1934237_163260472153_4256570_n

Kelompok proyek ekologi saya… saat itu di daearah Situ Lembang.

1934237_163260577153_4633114_n

Versi seangkatan… di depan Situ Lembang (Ket: Situ itu artinya “danau”)

Saya ga bakal membahas kulap kecil dan sedang kami itu, cuma mega kulap kami ini… sangat indah, hingga beberapa orang di dalamnya cinlok. Bagaimana ya saya mendeskripsikannya?

Picture this: Kalian dikumpulkan SEANGKATAN pagi2 buta di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Udara sejuk, langit cerah, kita merasakan matahari terbit di waktu dosen kita memberi penjelasan awal dan kemudian foto bersama. Kemudian kita naik kereta ekonomi Bandung-Surabaya, Pasundan, dengan 1 gerbong semuanya tempat kita. Di dalamnya kita melihat aneka rupa wajah teman2 kita, dari yang makan terus, keliling ga jelas, tidur sampe ngiler, dengerin musik, cerita2 satu sama lain, main kartu, dengerin cerita masa muda Pak Gede dan Bu Endah, dan bahkan ada yang curcol… ada juga sih yang pacaran. Perjalanan kita dari pagi itu, melewati kota Yogya jam 4 sore, melewati Stasiun Solo Balapan jam 5 sore, dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng jam 12 malam. Sesampainya, kita bergegas dengan sigap memindahkan peti2 harta karun penelitian kita yang berisi binokuler hingga alat2 tadi dari kereta ke bus. Setelah seharian penuh di kereta yang anginnya dari jendela, kita naik bus AC yang membawa kita ke kawasan Pasir Putih… melewati malam, dan kita terbangun untuk sholat subuh dan juga sarapan pagi. Seusainya, kita lanjut… kita menyebrang Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Kita pun potret2 di atas kapal feri yang melintasi selat, langit saat itu berawan, tapi laut itu biru. Setelah menyebrang, tibalah kita di kantor pusat Taman Nasional Bali Barat (TNBB), di situ kita yang cowok menaruh barang2 di aula, dan yang cewek ke penginapan (sekali lagi… penginapan khusus kantor TNBB!). Siang itu, kita melihat lokasi penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) dan pengamatan burung. Pulang, kita ngantri mandi dan istirahat (yang cowok). Abis itu kita bebas…

1917890_185153867153_602080_n

Pagi itu di sebuah gerbong Kereta Pasundan.

1917890_185157262153_4945672_n

Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk.

1917890_185169397153_6519768_n

Kelakuan bocah2 di depan tempat penangkaran Jalak Bali.

1917890_185669412153_6433005_n

Jalak Bali.

Besoknya, kita pengamatan ke Teluk Gilimanuk setelah pagi itu hujan cukup deras. Kita duduk di atas terpal mengamati burung, disapa matahari terbit yang nongol di balik awan hujan, dan munculah pelangi ganda pagi itu. Masih kurang bagus? Kita pengamatan terumbu karang dengan melakukan snorkling di Pulau Menjangan… situs selam yang terkenal di dunia internasional yang berada di Bali Utara! Langit biru, air laut biru, angin sepoi2, dan hari yang cerah. Bintang laut, koral, dan kerang raksasa siap menyapa kalian di balik kacamata selam kalian! Tak jarang, momen2 ini dipakai foto2, bahkan ada asprak (sebut saja Kak Imam dan Kak Ira, Biologi 2006) yang sok2 foto pra-wedding lho! (PS: Terus mereka sekarang beneran nikah lho!!). Sepulangnya, kita istirahat, Pak Gede setelah de-briefing memutar video yang diambil pas nyelam. Kita ketawa2 bareng karena ada yang celananya menggelembung di bagian pantat. Besoknya lagi, kita jalan dengan bus lewat Pantai Lovina untuk melihat lumba2, namun sayang ga ada. Di bus, kita karaoke bareng… tanpa membedakan dosen, asprak, dan mahasiswa. Sampai di Gunung Batur, udara dingin, penasaran rasanya sama tempat penginapan malam itu. Ternyata, kita punya kenalan alumni yang buka resort bulan madu! Yang cewek dapat kamar resort berbentuk rumah panggung, asprak dan dosen di rumah resort dengan kolam renang di depannya dan Danau Kintamani di sisinya, yang cowok… kita dapat aula… yang menghadap Danau Kintamani langsung, bersebelahan dengan bar dan panggung rindik Bali. Di malam hari, tanpa polusi, ribuan bintang menyapa kita. Udara dingin bukanlah apa2 walau kita harus keluar untuk memasang perangkap cahaya dan Malaise trap.

1917890_185673297153_1397584_n

Mentari terbit di Teluk Gilimanuk.

1917890_185673307153_3674237_n

Pelangi ganda.

1917890_185673367153_955218_n

Pantai di Pulau Menjangan.

1917890_185211372153_2488303_n

Pengamatan siang itu.

1917890_185675917153_1268159_n

Sore hari di Resort Kedisan, Kintamani.

1917890_185389332153_2108568_n

Persiapan pengambilan sampel air.

1917890_185680177153_1205386_n

Mentari terbit di sekitar Gunung Batur.

1917890_185413412153_5386728_n

Pengamatan ekosistem sabana.

1917890_185425872153_4693965_n

Sampling terakhir di lereng gunung bagian hutan. Waktu itu sedang membuat plot pengukuran.

Paginya, setalah bangun menghirup udara segar di bawah sejuta bintang di langit subuh, kita mendaki Gunung Batur. Padang rumput yang coklat, matahari terbit, dan kebersamaan kita ketika berjalan. Sempurna. Memang, kita di sana mengambil data, cuma kita melakukannya dengan gembira di tengah keseriusan kita. Seusainya, kita pulang dan makan. Sorenya kita pengamatan di hutan Gunung Batur. Kita bisa melihat mata2 para asprak yang sangat kelelahan sore itu. Kitapun lelah, cuma ya sudah. Setelah sampel di tangan kita, kita turun bukit dan kembali ke penginapan dengan truk. Malam itu energi terkuras rasanya, dengan energi tersisa kita berusaha mengkompilasi sampel kita sebelum pulang esok hari. Pulang. Semua terasa begitu cepat. Seketika, Bu Endah menghentikan proses identifikasi sampel malam itu.

“Para praktikan proeko 2009, identifikasi dan kompilasi data malam ini kita hentikan saja. Saya rasa kita semua sudah sangat kelelahan dan besok masih ada serangkaian acara sebelum pulang. Kami para dosen dan segenap tim asisten mengucapkan terima kasih atas usaha kalian hari ini, dan dari kami… kami sudah mempersiapkan api unggun dan jagung bakar untuk kalian menikmati malam terakhir di sini sebelum pulang. Manfaatkan waktu yang tersisa bersama teman2 kalian, dan selamat malam”

Sekejap, rasa kantuk itu sirna. Kita semua menghangatkan diri di dekat api unggun dan menyantap jagung bakar bersama. Kita bermain game dan saling bercerita. Bahkan teman kita yang paling pendiam pun bisa bercerita dengan serunya. Beberapa orang bahkan terlihat cinloknya. Kita semua tertawa malam itu. Kita semua mengabadikannya dengan foto bersama.

1917890_185426017153_6335564_n

Malam api unggun.

1917890_185684802153_6541802_n

Pagi itu di Resort Kedisan.

1917890_185655207153_4376558_n

Foto di Kedisan.

1917890_185655257153_1277058_n

Ini… “Sesi Pemujaan (Sesat) Asisten oleh Praktikan”

1917890_185655282153_7759993_n

Para asisten dan dosen (cewek).

1917890_185655287153_7988375_n

Mencari masjid untuk jumatan di Kuta.

Esoknya, kita memberi persembahan kepada pemilik penginapan dan foto bersama di lokasi, dan foto bersama lagi di kaki Gunung Batur per kelompok plus asisten, foto bareng para asisten dan juga tim dosen beserta medik. Kitapun berjalan ke Pantai Kuta (walau yang cowok kepotong jumatan) dan membeli oleh2 sebelum lanjut pulang melewati kantor Taman Nasional Bali Barat. Sore itu di saat matahari terbenam, saya mendengarkan lagu “Lembayung Bali” oleh Saras Dewi… dan sedih rasanya berpisah dengan Bali…

“Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung Bali…”

Kembali… naik kapal feri malam itu, dan menuju Stasiun Surabaya Gubeng. Sesampainya waktu menunjukkan jam 1 pagi. Kita semua tidur di stasiun. Jam 4, kita sholat subuh dan mendengar cerita Pak Gede dan Bu Endah sembari menunggu kereta. Di kereta, yang tersisa adalah lelah, sampel pengamatan, dan memori yang tak akan terlupakan.

Saya menghela napas sesampainya di Stasiun Kiaracondong jam 11 malam itu dan ketika sampai di kosan, saya sedih karena merasa semua momen tadi yang kayak mimpi itu udah lewat. Time flies on one week. Besoknya… jreeeng!! Saatnya kompliasi data lagi… dan bau formalin menyengat hidung! Plus… laporan dengan data segunung…

Gilanya lagi, semester itu Proeko bukan satu2nya mata kuliah praktikum-proyek. Ada 1 lagi: Proyek Biologi Sel dan Molekuler (Probiselmol). Proyeknya cukup nyentrik! Ekstraksi RNA, kultur sel hewan, dan main2 sama sel purna dari tulang paha dan PLASENTA MANUSIA. Segala “permainan” di sini perlu sterilitas tinggi, baik dari alat2, lab, sampai kitanya sendiri (maksudnya perlengkapan SOP kita… anunya sih jangan steril lah ya!). Cukup seru rasanya walau juga was2 ketika bermain dengan sel hewan yang lebih bawel dari sel tumbuhan.

Semester selanjutnya… ada kuliah dengan praktikum terakhir (yaaah) kami, biologi perilaku. Kuliah ini adalah penyempurna segala sesuatu yang membuat kami jadi anak yang rada psycho. Gimana ngga? Kita main dengan kecoak cuma buat ngamatin perilakunya, terus ikan, sampai cacing pipih atau Planaria yang kita belah2 terus ternyata masih hidup dan jadi 2 dan 3 (tergantung ngebelahnya). Kuliah lapangan kami, pergi ke Pulau Peucang, salah satu pulau di ujung barat Pulau Jawa yang berbatasan dengan kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.

Kemudian ada satu lagi yang saat itu HANYA SAYA yang melakukannya: Menjadi pionir anak biologi yang ambil mata kuliah di program studi Astronomi, yaitu Astrobiologi. Saat ini, kita mungkin sering banget denger soal penemuan planet di luar tata surya yang identik dengan mencari kehidupan di luar sana… ya ga? Kuliah ini membekali kita tentang asal-usul kehidupan dan kondisi2 di luar angkasa sana yang mungkin mendukung kehidupan. Waktu itu, saya kuliah hanya bertiga dengan 2 orang anak teknik fisika 2005. Anehnya, kelas itu seharusnya buat S2! Hal berkesan adalah saya jadi sering sharing dengan dosen yang sekarang jadi salah satu panutan saya, Pak Taufiq Hidayat yang dulunya adalah ketua pengurus Observatorium Bosscha. Dasar oportunis, saya pun bilang beliau buat ijin pengamatan bintang malam2. Beruntung! Saya ditemui dengan Pak Mohammad Irfan, salah seorang astronom di Bosscha yang mengajarkan saya melihat benda langit saat itu dengan teleskop Unitron. Yah, walau ngarep buat pake teleskop Zeiss (yang gede itu) sih. Cuma seru ngeliat Saturnus, Mars, Venus, Alpha Centauri 1 dan 2, Sirius, dan lainnya saat itu! Bahkan, serasa anggota olimpiade astronomi, malam itu saya bermalam di Bosscha, hehehe. Beberapa bulan kemudian, saya sadar bahwa Pak Irfan itu dulu ada di film Petualangan Sherina sebagai figuran yang jadi astronom.

29411_415259352153_7296614_n

Di bawah Teleskop Raksasa Zeiss di Observatorium Bosscha.

Tahun ketiga… setelah 20 tahun 10 bulan 15 hari 19 jam 25 menit… saya akhirnya punya pacar! Sayangnya hanya bertahan 2 bulan karena faktor orang tua dia…

Tahun Keempat

Awal tahun keempat berawal dengan kegalauan (tsaaah), meski demikian… saya harus mengakui bahwa saya itu beruntung sekali di awal tahun keempat. Alasannya? Dapat dosen pembimbing Bu Totik Sri Mariani, saya pun ikut proyek ke Singapura tanpa saya perlu buat proposal penelitian! Menjalani penelitian di National Institute of Education (NIE) Nanyang Technological University (NTU) itu adalah cerita yang saya ga mungkin bakal lupakan. “Bermain” pistol partikel untuk transformasi menggunakan bubuk tungsten dan senyawa mutagen nitrosometilurea (NMU) pada 500 tunas Aglaonema untuk membuat tanaman merah putih itu menarik… dan kedengerannya sangat badass!

65128_473677237153_6918716_n

Penelitian skripsi dulu gan!

Di sisi lain, waktu itu akhirnya ngerasain jadi asprak Probiselmol. Tiap minggu kita nongkrong di ujung lorong lantai 3 untuk briefing asisten. Kadang, saya ngerasa ga signifikan karena selain saya orangnya kaliber nya cukup “dewa” untuk menjelaskan fenomena2 di kuliah ini. Tak terkecuali dosennya, Bu Marsel dan Bu Fenny. Kadang, pas waktunya praktikum berjalan saya bolak-balik nanya asisten lain atau Bu Fenny kalau bingung… makanya, saya ngerasa abal banget jadi asisten. Seenggaknya sampai saya ngerti konsepnya, begitu ngerti… yak, I have the game with me! Di sini saya berubah jadi asisten pelit nilai… (jangan ditiru ya dek).

58940_464390107153_158341_n

Asprak Probiselmol yang absurd… dengan praktikan bocah… yang jauh lebih absurd…

Sisa tahun keempat ini ga ada yang terlalu menonjol, kuliahnya gitu2 aja dan paling saya ambil 2 mata kuliah astronomi lagi: Eksplorasi Angkasa Luar dan Astronomi dan Lingkungan. Sedihnya, keduanya bahkan ga A kayak pas Astrobiologi. Sebagian besar di waktu tahun keempat ini teman2 udah pada sibuk di lab masing2. Momen ketemuan paling cadas adalah jadi SwaSTA (Mahasiswa Sibuk TA) yang datang sebagai momok mengerikan di ospek himpunan maupun kampus. Tahun keempat saya punya pacar waktu itu, dia anak biologi 2010. Tapi yah, bertahan 8 bulan. Kadang kalo ngobrol ama temen diejek, “Sebulan lagi lahir tuh Dit padahal”. Ya kali! Itu pun putusnya sebelum wisuda. Itu kemudian sempet jadi alasan saya ga ke ITB nyaris 1 tahun.

Lebay? I know… namanya juga masih labil. Sekarang mah… ya… ngga!

Waktu berlalu… lagi, sebentar lagi saya S3. Kangen rasanya dengan semua yang di atas. Kemarin S2 pun rasanya beda. Saya meneliti dalam tingkat profesional, fun? Itu iya, cuma rasanya beda. Ga kayak pas S1. Ga usah gitu, sekarang saya pacaran aja udah mikir gimana ntarnya. Ga haha hihi kayak dulu. Tapi bukan berarti saya ga menikmati. Cuma, jadi orang dewasa itu ribet ya, cuma itulah hidup. Kadang kita takut jadi dewasa, padahal tumbuh itu mutlak, dewasa itu hasil proses.

Biarkan deh, saya tersenyum mengingat cerita2 di atas.

Buat temen2 SITH 2007, kakak2 asisten, para dosen SITH, dan bocah2 2008 ke bawah… mendadak saya jadi kangen kalian deh…

-AW-

Wow, udah lama juga ya sejak saya nulis2 di blog ini! Whew!

Banyak hal udah terjadi. Semenjak momen perjalanan ke Malang-Jakarta-Bandung, saya bertemu dengan orang2 super yang kemudian mengeskalasi dan mengakselerasi perjalanan karir saya dengan sangat cepat!

Gimana ya saya mulai cerita? Hmmm. Di Bandung di bulan Oktober 2014 itu, saya 2 kali bermalam di rumah Pak Indra. Adalah kebanggaan buat saya bertemu seorang dosen yang sangat merangkul mahasiswanya, dan terlebih lagi fotonya muncul ketika tim iGEM ITB presentasi di UB. Kalian tahu? Kadang saya berpikir bahwa saya itu bisa menyerap dan menyalin aura semangat orang di sekitar saya! Lho kok? Malam itu saya cerita sekilas soal perjalanan saya di Malang ke Pak Indra, dan cerita sedikit tentang Xenobiologi dengan nunjukin paper garapan Dr. Markus Schmidt ke beliau. Kita sepakat bahwa paper itu ide gila. Yak, khususnya buat kita yang di Indo yang masih panas2nya dengan SynBio dan iGEM. Apalagi kemudian saya mendapatkan info bahwa iGEM team kita, dari UI dan ITB bawa 2 medali emas, UB dan UT Sumbawa bawa 2 perunggu. Yang buat cengok adalah perkataan guru saya (yang kayaknya saya ga perlu sebut demi kenyamanan bersama).

“Kok topik kalian kurang fun sih?”

Kurang fun disini adalah topiknya terkesan formal. Penelitian dan solusi, semua menjadi sebuah proyek dosen-mahasiswa yang judulnya ajeg buat ditulis di jurnal. Pelajaran sih, kayaknya ketika saya nanti mendirikan iGEM team buat UGM harus lebih freak artinya.

Seolah belum penuh apa yang saya “serap” selama di Bandung dari Pak Indra dan Joko (cerita2 dia soal ke Boston dan lain2), balik dari Jakarta, ternyata saya dipertemukan dengan seorang professor super nyentrik. Prof. (Adj) Parvez Alam nama beliau. Seseorang yang disebut Sanka sebagai seorang ahli biomimetika dari Finlandia. Gak nyangka, perjalanan hidup saya setelah bertemu beliau saat itu ternyata memasuki garis asimptot logaritmik positif dan ilmu yang bahkan membuat persepsi saya dengan profesor2 sebelumnya berubah total!

Selama meneliti di proyek beliau, saya belajar banyak hal. Khususnya soal spontanitas, inovasi, keberanian, semangat, kasih sayang, dan kegigihan. Ngobrol banyak dengan seorang petinggi Fighting For Lives yang bahkan kenal Cecep dan Yayan Ruhyan ini (asli greget parah!), saya menemukan sisi di diri saya yang mungkin tergerus usia sejak kecil. Gimana nggak, beliau yang menerbitkan 24 publikasi ilmiah selama beliau PhD dan sekitar 13 publikasi per tahun ini mengajarkan sesuatu: Caranya melakukan hal segila itu adalah dengan memulainya, ga ada yang lain! Menariknya, saya mendapatkan proyek penelitian dengan beliau di hari kedua kami baru bertemu!! Beliau adalah seorang professor dan dosen yang sejujurnya saya kagumi. Kemampuan beliau untuk mengubah ide jadi penelitian, kemampuan beliau untuk melihat suatu ide abstrak bahkan soal mitologi dan agama secara filosofi itu pantas saya acungkan jempol!

Dalam dua bulan, saya yang jujur merasa gitu2 aja… ya mungkin saya mentor SynBio UGM, cuma selain itu ya mungkin hidup saya garing, saya pun mendirikan Project Xenocerebral: Xenobiota Inisiative melibatkan adek kelas saya: Putri, Arfan, kemudian Wira, Vina, Gathot, Nadira (tapi kemudian saya coret karena jarang aktif, mungkin kalau dia mau masuk lagi baru saya tarik lagi).

XBI Icon

Versi akhir logonya. Hak cipta karya oleh Iman Satriaputra Sukarno.

Saya mengajarkan materi2 biologi sintetika, saya pun menyelipkan inisiasi Xenobiota di materi terakhir. Saya menjelaskan fokus kita di komunitas Xenobiota ini adalah ke arah astrobiologi, biologi sintetik, biologi spekulasi, bio-art, xenobiologi (dalam semua 2 artinya), hingga parapsikologi dan biomimetika balik (nanti saya bahas lain kali)! Dalam sekejap malam hari itu, 25 orang sah masuk grup! Kegilaan ini berlanjut hingga saya bertemu ketua tim iGEM UI, Siska Yuliana Sari dan mengajaknya ikut komunitas ini!

Di kelas penutup Prof. Parvez, beliau menunjukkan bahwa beliau meng-handle sekitar 5 proyek di Indonesia, dan masih ada lagi di luar sana. Proyek2 beliau ga main2! Dengan saya, beliau meneliti biomekanika dan histologi ikan glodok. Dengan Sanka, beliau meneliti diatom dan udang pistol yang mampu membuat gelembung dengan letupan berefek sonoluminesens dengan kecepatan 60 Km/h dan suhu 5000 K dan masih banyak lagi! Dalam dua bulan kami membelah pulau Jawa dari Pangandaran ke Surabaya dan Pamekasan, Madura dan kami bertemu orang2 random yang ga biasa kita temui di hari2 biasa.

Sepulangnya beliau, saya berpikir bahwa saya harus bisa lebih spontan dan inovatif lagi!

Yah, tahun 2014 itu… dari yang awalnya kepikiran buat paper jurnal tentang tesis doang, saya akhirnya buat paper spekulatif tentang penanaman tanaman di badan2 antariksa seperti Mars, Venus, Luna (bulan), dan Asteroid. Belum selesai! Oktober, paper saya bertambah 1: Pengamatan biomekanika ikan glodok.

Seiring waktu berjalan, Xenobiota Institute pun berhasil saya dirikan dengan utuh! Ide penelitian saya pun bertambah lagi! Dengan Arfan saya sedang berencana menggarap 2 paper: Interaksi XNA dengan DNA dan RNA serta polimerase natural secara proses interaksi dinamika molekuler, sama pembahasan ekstensi dogma sentral biologi molekuler dengan adanya XNA.

Berapa? 5…

Februari… Prof. Parvez memutuskan paper ikan glodoknya dibagi 2: Biomekanika dan histologi.

Jadi… 6…

Di kantong… saya masih ada 3 lagi, tentang kuljar non-aseptik dan Rafflesia. Rafflesia saya pikir bisa ditunda dulu, apalagi setelah penemuan paper Dr. Lazarus Agus Sukamto tahun 2010 yang akhirnya beliau berhasil menginduksi kalus Rafflesia arnoldii dengan penambahan senyawa pikloram (mau papernya? e-mail saya aja… mau meneliti? saya ikut kontribusi sini!) cuma belum berhasil membentuk embrio somatik. Kemudian ada tentang bioprinter sel tanaman…

Oke… 9… cukup! Kalau semuanya jadi… dalam setahun paper saya jadi 14 jika ditambah hasil pas S1.

Sekarang pun, Xenobiota Institute (XBI atau XI) sedang sibuk menginisasi tim iGEM UGM untuk XI team yang 2013-2014. Untuk anggota senior kayak Arfan, saya aktif mencari2 link ke luar sana. Saya sudah mengontak Prof. Dr. Jeff J. Doyle dan ternyata beliau ramah sekali. Beliau adalah pencetus protokol isolasi DNA tanaman dengan asam setil trimetil asetat (CTAB), anehnya paper beliau itu tidak ada di mana2. Untung beliau ngasih saya (mau? e-mail saya sini). Saya juga udah berhasil mengontak Dr. Philips Holliger, dan saya berharap bisa dapat masukan soal konferensi xenobiologi selanjutnya dan kolaborasi penelitian XNA. Terus juga secara singkat dengan Dr. John Cumbers dari NASA. Kemudian Afif mengingatkan saya untuk pelan2 dan hati2. Kayaknya saya perlu stop dulu.

Klimaksnya adalah kemudian, saya dengan Prof. Parvez dan temannya, Prof. Adolfo, saya sedang menyusun proposal penelitian untuk selanjutnya kalau tembus beasiswa (kali ini aamiin deh!) saya akan kuliah di Finlandia buat S3!

Di sisi lain… berhasil ketemu pihak media Yogya, review Kulinerologi si AW pun terekspansi ke level hotel bintang 4-5! Sekarang saya berhasil mencapai 91 artikel dan 70 ribu pembaca untuk blog saya satu itu! Makasih ya semua!

Terakhir… otak saya terpikir ide: Saya kayaknya mau buat blog lagi soal… review hotel!

Ide ini muncul setelah dalam 1 bulan saya udah nginep di 2 hotel (Hotel Ibis Style Malang dan Hotel Harper Yogya), dan bakal 1 lagi (Hotel Grand Aston). Penasaran, bisa gak ya? Hahahaha…

Ah, kenapa saya jadi hiperaktif gini?

Hmmm… saya lagi mau berbagi cerita yang cukup panjang. Semua berawal dari kegalauan pikiran dan perasaan dari Agustus hingga awal September lalu. Saya cerita ke kiri-kanan, saya ngobrol dengan teman2 saya, dan akhirnya saya pun menyadari bahwa di atas kesedihan hidup, pasti ada hal2 kebahagiaan yang belum terkuak. Awal Cerita (Yogyakarta – September 2014) Semua berawal dari rasa keingintahuan dan rencana yang sudah saya susun dari Agustus sebagai pelampiasan diri waktu itu. Saya mengontak akun Yogyakarta Culinary Community, dan via adik kelas saya, Putri, saya pun juga mendapatkan info bahwa ada komunitas biologi sintetika di UGM, tempat saya kuliah saat ini. “Tunggu… sebenarnya galau kenapa Dit?” mungkin itu pertanyaan pertama. Saya akan sedikit jujur… soal hasil penelitian tesis yang acakadut, masalah sedikit soal percintaan, dan rasa suntuk di mana saya ga tau mau apa lagi saat itu. Akumulasi… Berusaha pelan2 untuk mengikuti kata teman saya, Inez, buat ikut komunitas buat mencari energi positif, akhirnya saya melakukan kontak seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama, dan menyusun Protokol PROMETHEUS untuk misi ketika join tim Synthetic Biology UGM atau SynBio UGM. Apa sih rencana2 saat itu? Untuk Yogya Culinary Community:

  1. Mencari link ke restoran dan chef di Yogya
  2. Mencari link ke media di Yogya
  3. Mencari naungan untuk bidang blog makanan
  4. Mencari sponsor buat wisata kuliner
  5. Mencari teman2 sebidang dalam hal kuliner dan blog makanan

…dan Protokol PROMETHEUS. Singkatnya, Prometheus adalah dewa (dalam hal ini adalah titan) dalam legenda Yunani yang memberikan api pengetahuan dari para dewa kepada manusia walau pada akhirnya dia dihukum dan disiksa dalam keabadian untuk itu. Misi besar ini adalah mempelajari dan konversi ilmu yang saya dapatkan dari Bandung waktu itu, terima kasih Pak Indra (Dr. Indra Wibowo) dan Khrisna, untuk saya bawa ke teman2 di Yogya. Kenapa konversi? Kebutuhan komunitas itu beda… Menyadari bahwa saya mendapatkan “api” ilmu biologi sintetika dan biologi molekuler di ITB, saya merasa ingin membagikannya ke teman2 di UGM yang baru saja mau mendirikan komunitasnya (sementara di ITB sudah sangat jauh). Melakukan ini, saya menyadari bahwa semua itu memang ada alasannya… dan mungkin ini adalah takdir saya untuk ke Yogya yang saya tak sadari. Setelah beberapa lama… saya pun dikontak Mas Brian dan ternyata komunitas kuliner akan mengadakan kumpul2. Awalnya saya pikir bakal rame… ternyata di Yogya memang baru sedikit. Akhirnya untuk pertama kalinya, gathering komunitas itupun dilakukan di Dixie, Yogya pada tanggal 14 September lalu. Di sana, saya ketemu Mbak Rina dengan blog nya yang legendaris di Yogya, Lala yang SANGAT EKSPRESIF, Mas Adhi yang kalem, dan Mas Brian sendiri (yang diem2 garing parah). Alhamdulillah, kami dapat makan dengan voucher Rp 300.000,00 untuk ber-5! Kemudian kami ikut lomba blog di Cupuwatu Resto pada tanggal 21 September! Ga ada yang menang dari kami… tapi ya sudahlah. Di sana, kami ketemu anggota baru di komunitas, si cantik meganekko Clara yang menjadi idola di grup WA kami (ini semua gara2 Mas Brian), dan Mbak Ratna yang sangat nomaden.

IMG_9175

Dari kiri: Lala, saya, Clara, (atas) Mas Adhi, (bawah) Mbak Ratna, dan Mas Brian

Saat lomba… saya adalah penulis paling eksentrik…

IMG_9172

Ini pas lomba… yang super ngebingungin itu…

Kenapa saya eksentrik?? Karena sebenarnya kami per orang peserta hanya mendapatkan 1 makanan dan minuman saja. Namun buat saya, yang namanya review restoran itu… mana bisa kalo cuma makan 1 jenis dan ga nyoba kiri kanan?? Yak, saya akui, itu lomba teraneh yang pernah saya ikuti. Saya waktu itu memesan Malon BBQ dan Es Pelangi, kiri saya Lala memesan Malon Peking dan Es Campur Tape Ijo, kanan saya Clara  memesan Malon Bumbu Kuning dan Es Campur. Apa ntah saya memang ga bisa diem, saya pun jalan2 dan liat. Alhasil saya dapet sepiring nasi kebuli yang uenak… dan nyomotin 1 kaki Malon Halilintar ini…

IMG_9171

Kaki kanannya (dari arah sini) ilang!

Ah lupa… Malon atau Manuk Londo ini adalah burung puyuh impor dari Perancis yang disajikan di Cupuwatu. Pulang2 dari lomba, kami benar2 kelelahan (walau saya sempat internetan bentar di kampus). Kondisi under pressure, makan, dan nulis dalam waktu dengan konten yang diarahkan membuat saya kelelahan fisik dan pikiran. Normalnya, nulis 3 artikel pun bukan masalah buat saya, orang saya aja nulis 5 artikel buat majalah ShoppingMagz aja dulu cuek kok dalam 2-4 jam. Ini… cuma 1 artikel, saya udah lemes.

Di sisi lain, secara paralel… saya dan Putri akhirnya bertemu Nuha, anak biologi UGM 2010. Pertama kali ketemu, aura anak ini sangat berwibawa. Gak heran, secara reflek saya memanggilnya dengan prefiks, “Mas” ketika ketemu. Di Perpustakaan Pusat UGM, Nuha menjelaskan bahwa SynBio UGM sudah bertemu beberapa ahli dan kita mendapat arahan dalam hal DIY BIO (Do It Yourself Biology) yang memungkinkan kita membuat alat2 lab dengan murah dan mudah dan ga harus beli jutaan rupiah di toko lab, tapi bisa jauh lebih murah dengan rakitan sendiri dan komponen seadanya. Cuma kalimat saya untuk mereka, adalah biologi sintetika adalah konsep bioinformatika dan biologi molekuler, kita harus punya proyek terkait spesimen biologis karena kita bukan penjual alat2. 4 hari setelahnya, saya ketemu Sanka, anak bio UGM 2010 juga… cuma aura anak ini asik dan (kayaknya) agak urakan. Jadi… (sori San), dari awal saya manggil langsung nama… TAPI… setelah itu Nuha pun jadi saya panggil tanpa prefiks. Dengan kumpul sama Sanka, Ayu (bio UGM 11), Jaler dan Sahal (SI UGM 13), kita jadi tahu bahwa akan ada 2 ilmuwan luar yang akan mengunjungi kita nantinya di akhir tahun: Prof. Dr. Parvez Alam dari Finlandia yang ahli biomimetika, dan Dr. John Cumbers dari NASA yang pernah memegang iGEM. Hmmm… nampaknya saya perlu bertemu orang2 ini! Ah ya! Saya pun akhirnya menetapkan untuk ikut acara seminar di Malang yang diselenggarakan Universitas Brawijaya, terkait biologi sintetika dan juga pelatihan bioinformatika.

Di lain momen juga, berhubung saya sudah tidak ada kuliah (murni tinggal penelitian tesis dan seminar), saya pun dengan isengnya ikut kelas (sit in, tanpa absen dan daftar di KRS) di Fakultas Kehutanan UGM, yaitu kelas Silvikultur (Kelas V) dan saya pun bertemu seseorang bernama Ikhsan yang ternyata alumni Adik Irma Tebet, Jakarta dan teman sekelas sepupu saya, Anggit. Dunia memang sempit saudara2. Di kelas ini saya belajar bahwa di balik penebangan kayu, prosedur legal dan penanaman itu sangat panjang! Sekarang saya tau kalau penebangan ilegal itu separah apa dampaknya. Saya juga ikut kuliah Propagasi Vegetatif di fakultas yang sama. Saya jadi belajar proses dibalik stek, cangkok, dan semacamnya secara fisiologis. Keisengan saya belum selesai! Saya ikut sit in di Fakultas Filsafat UGM dan mengambil Bioetika, kemudian Metafisika/Ontologi, dan terakhir Filsafat Bahasa. Bioetika… karena saya penasaran bioetika dari sisi filsafat etika itu seperti apa padahal saya biasanya belajar dari sisi ilmiahnya. Metafisika… membahas realitas dan keberadaan… ini cukup dalem… tapi terima kasih Prof. Joko Siswanto… kuliah ini jadi dinamis dan kocak! Filsafat Bahasa… karena saya ingin mempelajari semiotika. Keingintahuan saya soal Semiotika berakar dari guru saya Rizki sensei di Jakarta. Ilmu mengenai pemahaman simbol dan tanda ini kemudian saya pelajari dengan ikut kelas di Fakultas Ilmu dan Bahasa UGM, kelas S2 Semiotika sebagai tambahan yang saya pelajari di Filsafat. Kelas itu… cukup berhasil membuat saya pusing melihat perombakan puisi Sapardi Djoko Damono… dekonstruksi untuk melihat deiksi (penunjuk subjek), tempat, ruangan, dll yang bahkan memakan waktu 2 jam sendiri. Untung di kelas itu ada 2 cewek hot (ampas lu Dit!)… yah seenggaknya ada pemandangan. Tapi dari tanggal 25, saya bakal menghilang untuk sebulan dari UGM demi misi ke Malang, Surabaya, Jakarta, dan Bandung!

Kisah Persahabatan dan Pengetahuan Yang Abstrak di Malang (26-28 September 2014)

Pagi tanggal 26, saya sudah tiba di Stasiun Lempuyangan dari jam 7:20 WIB untuk menunggu Sanka dan Ayu… kami bertiga yang berangkat duluan saat itu sementara yang lain ada kuliah dan praktikum sampai sore, baru menyusul. Sanka baru dateng jam 8 waktu itu. Serius… waktu itu adalah pertama kalinya saya naik kereta kelas Ekonomi. Jam 8:40 WIB, kami naik kereta Logawa ke Surabaya. Saya sebelahan tapi bersebrangan ama lorong sama Sanka, kanan saya ada Dira anak Arsitek UII 2010, seberang saya ada seorang ibu dan anaknya. Ayu ada di kursi lain karena ia memesan tiket sendiri. Sepanjang jalan, saya cerita kepada Sanka, Dira… yang mau mendaki Gunung Bromo (sehingga tujuan kita juga sama, ke Malang setelah transit di Stasiun Gubeng, Surabaya), dan ibu2 yang ceritanya SANGAT SANGAR! Gimana ngga? Ibu ini pernah merasakan tinggal di area konflik Timor Timur (sekarang Timor Leste), nyaris mati kena tembak gara2 pistol dipegang bocah, punya kemampuan pre-kognisi dan tau tanda2 kematian orang lain, pernah sendirian menghadapi preman demi nolong anaknya dan berhasil, ngelobi orang di atas perahu sehingga dapat tempat tidur, dan juga cerita soal anak2nya. Anak pertamanya perempuan… feminin dan pemalu, anak keduanya juga perempuan… tapi tomboy… dan anak ketiga nya adalah laki2… yang ternyata anak angkat, yang waktu itu ikut ke Jombang.

Sesampainya di Surabaya jam 14:45 WIB … kami langsung memesan tiket ke Malang. Ternyata, kami harus menunggu sampai jam setengah 7. Bingung, akhirnya kami makan di warung. Saya memesan ayam goreng tanpa nasi dan segelas soda gembira yang ternyata porsinya sangat gembira (gede). Ngobrol2 sampai jam setengah 5, kami pun ngemper di depan lobi stasiun. Dira dan para pendaki gunung pun ikut menunggu bersama kami. Alhamdulillah sore itu, dikasih roti sama teman dan senior Sanka waktu itu.

IMG_9219

Trio Leo SynBio UGM… nangkring di depan stasiun.

Jam 6, saya berpindah ke ruang tunggu karena akhirnya kami boleh masuk. Saya pun mendapat kabar dari Pak Indra bahwa Pak Sony (Dr. Sony Suhandono… legenda genetika dan biologi molekuler ITB yang membuat edible vaccine, vaksin hepatitis di pisang sehingga dengan cuma makan pisang, kita bebas hepatitis) akan ikut ke Malang. Wiiiii…

Akhirnya sore itu jam 18:40 WIB dengan kereta Penataran Ekspress, kami bertiga lanjut ke Malang dengan biaya Rp 25.000,00. Di Malang, kami tiba jam 21:30 WIB. Ayu dijemput saudaranya, sementara saya dan Sanka dijemput ketua dari SynBio UB/iGEM UB bernama Wira dan seorang panitia lain gadis manis berkerudung bernama Nira. Gak lama kemudian dan setelah ngobrol2 di jalan di atas motor bersama Wira… sambil menikmati sejuknya malam kota Malang dan indahnya taman Malang di bawah sorotan lampu jalanan yang berwarna kuning itu, kami tiba di penginapan KOSABRA.

Gak lama abis itu…

Saya (AW): San, makan lah yuk!

Sanka (IS): Yuk lah mas… ke mana tapi?

AW: Jalan aja dulu, ntar nemu…

(beberapa saat kemudian)

AW: Sepi amat ya… ini jalan raya kosong banget…

IS: Setauku Malang itu udah sepi dari jam 8an, mas

(ketemu kafe di kejauhan, ga jauh dari jalan keluar kompleks tempat penginapan)

AW: San, kayaknya asik tuh buat di blog saya… ke sana ga?

IS: Ayo aja lah mas!

Alhasil, saya dan Sanka makan malam ke restoran The Amsterdam. Suasananya rada ajaib. Para pelayan yang kayaknya mulai ngantuk gara2 pas saya nanya agak2 ga nyambung, lagu disko, dan cuma ada beberapa orang di sana… biar gitu, restoran itu sangat cozy dan enak buat duduk2. Ikut rekomendasi, akhirnya saya memesan Cheese Burger dan Sanka memesan Nasi Goreng Amsterdam… yang saya juga cicipi buat saya tulis di blog karena saya bertekat untuk mendapatkan tulisan dari kunjungan2 ini.

The Amsterdam - Cheese Burger

Inilah burger saya…

Puas makan (review ada di blog saya ya), kami pun pulang ke penginapan. Sampe malem, saya ngeracunin si Sanka sama video PewDiePie sama hal2 random apapun yang ada di laptop saya, tapi juga termasuk seminar XB di Genoa 2014 (XB: Xenobiology). Lewat jam 1 dini hari, saya baru ngantuk.

Esok paginya…

AW: San, anak2 yang lain udah pada nyampe?

IS: Mereka nyampe jam 4, lanjut mandi di stasiun…

AW: Gile…

Lagi, dijemput Wira dan Nira (wah berima)… kami pergi ke Universitas Brawijaya jurusan Biologi, tapi saya mampir ke toko dulu buat beli tiket kereta Penataran Ekspress buat besok. Si mbak2 yang melayani beli tiket itu… manis *plak*. Oke… tapi jujur, mata saya seger banget di Malang… pemandangannya bagus dengan penataan taman yang sangat bagus dan ga ada macet, dan “pemandangan” lainnya… sumpah… bening2… *oke stop*

Akhirnya kami ngumpul di UB dan khususnya Nuha lagi sibuk mempersiapkan presentasi pihak UGM. Setelah registrasi dan bayar (dan beli kaos), kami pun masuk ruangan…

IMG_9247

Dari kiri: Sanka, Nuha, Amel (Ghifi ketutupan), saya, dan Jaler. Mau seminar… narsis sikit dulu lah!

Seminar biologi sintetika pagi itu diisi oleh Pak Rifa’i (Muhaimin Rifa’i, S.Si, Ph.D.Med.Sc), dosen UB lulusan Meidai (Nagoya University) ini menjelaskan tentang biomedika khususnya tentang regulasi dari sel T-regulator yang bisa berguna untuk macam2 hal khususnya transplantasi karena sifatnya yang menekan pembelahan sel dan ini berpeluang untuk diamati lebih lanjut. Jeda, kemudian Pak Widodo (Widodo, Ph.D.Med.Sc) dosen UB lulusan S1 UB, S2 ITB, dan S3 Tsukuba University yang sempat berdiskusi singkat dengan saya mengenai peluang biologi sintetika tanaman. Beliau sangat luwes dalam menjelaskan definisi biologi sintetika yang menyangkut sistem biologis dan perbandingannya dengan rekayasa genetika yang ga lebih dari konsep rekayasa pada gen. Selesai itu, pihak SynBio ITB menjelaskan sistem deteksi aflatoksin dari Aspergilus niger pada kedelai yang menggunakan rekayasa pada bakteri Escherichia coli. Saya… ga bisa berkata apa2 melihat kemajuan penelitian mereka… fix, saya harus bertemu Pak Indra nanti di Bandung buat nyari ide dan diskusi! Terus, dilanjutkan dengan penjelasan Nuha soal DIY BIO, progress SynBio UB oleh Wira, dan video SynBio UI.

IMG_9257

Nuha sedang presentasi.

Abis itu? Sesi narsis…

IMG_9259

Saya dan teteh2 cantik dari S2 ITB…

IMG_9260

Sesi foto abis seminar yang formal…

IMG_9262

…dan yang gak formalnya…

Keluar seminar, kami makan siang dan menyempatkan diskusi dengan pihak SynBio UB dan ITB mengenai apa aja yang diperlukan. Ya… ternyata yang diperlukan adalah memang proyek dan publikasi sebelum selanjutnya kita lanjut ke fase yang lebih tinggi.

Abis diskusi, kita memutuskan buat jalan2…

IMG_9269

…dan narsis lagi!

SynBio UGM dan UB akhirnya memilih buat jalan2 (yang ITB balik, kayaknya mereka dapat tugas tambahan dari Pak Sony). Saya pun mengikuti ide Nira buat makan ke Burger Buto! Kami semua jalan keluar kampus (dan saya menikmati liat2 “pemandangan” di dalam kampus UB… dan pemandangan beneran di mana saya suka taman di kampus UB dan gedung2nya yang desainnya modern itu) dan kita lanjut naik angkot. Sejak momen ini… persepsi saya ke Nuha dan Sanka yang tadinya kalem dan berwibawa… Jaler, Ghifi, dan Sahal yang kalem dan senyum2 doang… Amel yang juga agak jaim… berubah total… bukan karena makanan… tapi karena…

Screen Shot 2014-10-01 at 3.55.47 PM

…minuman abstrak ini!!

10346516_10202874011517383_1422153747164465528_n

JREEEEENGG! *tulisan ini ga disponsori oleh Creso ataupun Burger Buto*

Dari kiri ke kanan: Sahal, Jaler, saya, Ghifi, Nuha, Sanka, (saya lupa namanya), Nira, Amel… dan yang motret, Putri.

Makan burger berukuran abnormal di Burger Buto (ada di blog saya lho), cerita Nuha sama Sanka tentang film Idiocracy, dan minum Creso yang berdampak ngakak tanpa alasan jelas (tanya Ghifi), ngebuat saya nyaris keram perut sore itu. Setelah puas makan, kita… beli Creso lagi dan nyegat angkot buat di-carter untuk nganterin Amel dan Putri ke kosan Nira, dan lanjut ke penginapan.

Malam itu, saya, Nuha, Sanka, Jaler, Ghifi, Sahal, dan Azza (anak bio UB) terkontaminasi otaknya gara2 nonton film Idiocracy. Setelah diusir mas2 penjaga buat nonton selanjutnya di kamar dan Azza akhirnya pulang… dan sampe film akhirnya abis, saya pun lanjut cerita2 sama Sahal dan Jaler sampe malem sebelum akhirnya pindah ke kamar… di mana Ghifi udah tepar. Gak lama, Sanka dateng dan juga tepar… saya menyusul sejam kemudian… jam 22:00 WIB waktu itu kalo ga salah.

Besoknya, kami datang ke workshop bioinformatika. Pagi itu kami makan di warung KOSABRA setelah check out dari penginapan.

IMG_9304

Makan pagi…

IMG_9306

“Mie Ayam Jamur” versi warung KOSABRA… bahkan saya bingung jamurnya di mana.

Saya ke UB bareng Wira karena saya harus nuker tiket pulang sementara yang lain naik angkot. Makasih yak temen2 yang bawa koper saya! Selanjutnya di UB… lab bioinformatika… kami belajar menggunakan aplikasi Pymol, Hex, dan Chimera untuk melihat konformasi protein dan interaksinya dengan zat2 tertentu.

IMG_9309

Mas Rizky sedang mengarahkan workshop.

Konyolnya, aplikasi itu agak memakan memori dan di komputer meja saya… aplikasinya crash. Akhirnya saya nengok punya Sanka dan Sahal aja. Setelah beres (jam 10:30 WIB), kami makan saya ketemu seseorang dari biologi ITS bernama Misbah yang tertarik soal biologi sintetika tapi di ITS belum ada. Namun diskusi kita terpotong akibat obrolan Creso sama Jaler, dkk. Abis itu, kami sholat dan satu persatu kami berpisah.

IMG_9313

Narsis lagi…

Nuha sama Sanka nunggu di lab karena mereka pulang sore naik bus, Putri diantar Nira ke terminal untuk pulang lebih awal, Amel, Sahal, Jaler, dan Ghifi naik kereta langsung ke Yogya. Saya pun diantar Wira ke stasiun… ngeliat jalan, saya rasa saya bakal kangen Malang. Jam 15:40 WIB… akhirnya kereta Penataran Ekspress pun tiba menjemput. Di jalan… saya duduk sendiri dan di seberang bangku ada 3 orang. Mengusir kejenuhan, saya mendengarkan lagu sambil melihat matahari terbenam di ufuk barat di langit biru yang cerah dan cakrawala yang terlihat jelas.

IMG_9319

Sore hari di Penataran Ekspress.

Menulis Ulang Masa lalu (Surabaya 28-30 Oktober 2014)

Setibanya di Stasiun Gubeng Surabaya, saya dijemput Pak Taqim. Beliau adalah juru mudi yang setia kerja di perusahaan tempat bapak saya kerja, Unilever, bahkan dari ketika dulu saya masih tinggal di Surabaya kelas 6 SD. Di perjalanan, saya pun mampir di toko yang sama ketika saya kelas 7-8 (1-2 SMP) suka mampir, Papaya di Margorejo buat beli kroket, onigiri, dan roti tuna. Abis itu mampir ke Togamas buat nayri buku Bioetika… hasilnya nihil dan saya langsung melanjutkan perjalanan. Saya malam itu menginap di kediaman Mbak Susi (saya manggilnya tante sih), beliau sangat baik dan mengenalkan ke 2 orang anaknya, Eka dan Iko. Eka saat ini sekolah… kelas 12 (3 SMU) IPS dan mau mengambil kuliah di jurusan Psikologi. Iko, adiknya adalah bocah yang sangat supel, ramah, dan jago main piano. Saya setelah disuguhi makan, saya menyeritakan banyak hal yang saya alami ketika kuliah untuk bekal Eka. Ketika waktu menunjukkan jam 21:30 (saya sampai di rumah jam 19:30, dan makan jam 20:00), saya masuk kamar, menyalakan AC, dan membuka laptop sebelum akhirnya tidur.

Esok harinya, Pak Taqim menjemput saya jam 9 pagi. Sejujurnya saya ga punya rencana apa2 di Surabaya karena sebenarnya saya hanya menunggu hari Selasa yang saya memesan di hari itu karena saya niat awalnya mengejar harga tiket pesawat lebih murah. Pagi itu… saya memutuskan untuk pergi ke sekolah SMP saya dulu… SMPN 13 Surabaya.

IMG_9336

Ini SMP saya lho dulu…

Saya ketemu Bu Ngateni (Wali kelas 7(1)F) yang dulu galak banget sama saya, terus Bu Endah (Wali kelas 8(2)B) yang sangat keibuan, dan Pak Har yang waktu itu menjabat wakil kepala sekolah… beliau kebapakan, tegas, tapi sangat ramah. Menariknya… sekolah di sini dikenai Rp 0 buat SPP!! Meski demikian guru2 ini bilang anak2 butuh motivasi lebih biar lebih rajin lagi. Setelah beberapa saat, saya jalan2 di lorong… saya inget jalan2 di sana beberapa belas tahun lalu sama sahabat2 saya Rino (bukan Rino yang di Jakarta), Alan, Bagus, dan Wahyu di sana.

IMG_9330

Lorong ini dulu ga sebagus ini…

IMG_9332

Pintu masuk kelas 8(2)B… dulu ga sekeren ini juga.

Penasaran… mereka ke mana ya sekarang?

AW: Pak… saya bingung… ke mana ya sahabat2 saya sekarang…

Pak Har: Kamu ke tata usaha aja, cek arsip angkatan kamu…

Akhirnya setelah mengecek nomer induk temen2 saya, saya pun dapet biodata tercatat mereka (dan juga beberapa cewek tercantik di kelas waktu itu… fufufufu) untuk saya potret dengan HP saya. Setelah itu… saya dengan Pak Taqim lanjut ke ITS. Awalnya saya mau ketemua Misbah, tapi ternyata saya lupa nyatat nomer kontak dia. Sampe sana, setelah dengan randomnya saya jalan2 ke depan HIMABIO ITS yang kosong, saya malah ngobrol2 sama 3 mahasiswa 2014 bernama Ika, Afif, dan Dicky. Mereka nampaknya tertarik dengan mikrobioteknologi. Saya pun cerita sekilas soal biologi sintetika, astrobiologi, dan… blog kuliner saya. Mereka malah jadi ngobrol soal makanan Korea. Hahaha… bzzz…

Dari sana, saya jajan ke Galaxy Mall. Saya makan di restoran rekomendasi Nadya (temen SD), di The Spaghetti’s dan makan makanan penutup di BlackBalls (keduanya segera di-review di blog). Abis itu, saya pergi ke 3 Togamas dan 1 toko buku Uranus. Buku Bioetika dan Metafisika itu nampaknya memang udah abis. Terus mampir toko, beli Creso, saya pun duduk2 di depan kompleks rumah Mbak Susi.

Langit biru…

10665797_10152746917087154_7129610180071647063_n

…dan Creso…

Baru saya neguk minuman ini… dengan randomnya saya dikontak orang India yang ngebaca blog saya. Saya cerita ke Sanka, dia langsung ngakak.

Malam itu, saya disuguhi Spaghetti Saus Ayam dan makan bareng Eka dan Iko, kedua ortu mereka belum pulang. Malam itu saya sempat mencari nama2 teman2 saya yang ada di database SMP tadi. Saya menemukan Rino… nampaknya akhirnya saat ini dia sudah kerja. Tapi ke mana yang lainnya? Setelah ngobrol soal fotografi sama Ichang dan soal bahan kimia pestisida sama Putri, saya tidur. Jam 20:00 WIB, saya terlalu capek… saya pun ketiduran sampai jam 2… dan lanjut sampai pagi

Hari terakhir di Surabaya, setelah sarapan dan sharing cerita sambil bilang kalo ada apa2 Eka atau Iko bisa bebas ngontak saya kapan aja, akhirnya saya pamit sama Mbak Susi dan diantar Pak Taqim ke Bandara Juanda. Setelah sampai di bandara, saya berpamitan sama Pak Taqim dan saya langsung masuk buat check in tiket saya di counter AirAsia. Bandara Juanda jauh berubah semenjak 2 tahun lalu, apalagi dari pas dulu pertama kali saya melihat pas masih tinggal di Surabaya.

PR saya di Jakarta adalah mempersiapkan materi kuliah biologi sintetika buat UGM dengan mengadaptasikan slide kuliah yang saya dapet di ITB (karena itu hak cipta Bu Maelita, Pak Sony, dan Pak Indra… akhirnya saya memutuskan buat versi baru yang bener2 saya tambahin materi terbaru untuk SynBio UGM), konsultasi ke Pak Indra, bertemu founder SynBio ITB Indra, Joko, dan Tonton di Bandung buat minta tips.

Setelah panggilan boarding penumpang pesawat penerbangan QZ-7693 dan tiket saya diperiksa petugas AirAsia yang cantik dan mukanya mirip Marzia (pacarnya Felix AKA PewDiePie), saya pun naik pesawat… dan dapat kursi nomor 30D nomor 2 dari belakang, dekat WC. Yah, sisi baiknya ini tempat mangkal pramugari… dan sebelah saya cuma 1 orang (tengahnya kosong). Sebelah saya… yah… cantik juga… cuma tampangnya agak angkuh. Ah sudahlah… saatnya liat peragaan keselamatan, dan saya pun pura2 jadi pilot di kursi saya sendiri…

Engine full thrust… 80 knots… Vee-one… Rotate… Positive climb, gear up…

…dan pesawat Airbus A320-300 dengan mesin ganda CFM series itu dengan berdaya dorong 76.000 lb itu pun mengudara dengan cepatnya dengan level ketinggian 360 dari SUB ke CGK.

(bersambung, kayaknya)

Ulang tahun… ada 2 makna: antara waktu hidup yang berkurang, dan sesuatu dalam hidup yang progresif bertambah. 2 ini memang sinergis, bukan sekedar melihat gelas setengah penuh atau kosong.

Pagi ini, saya masuk umur seperempat abad. Saya ingat bagaimana dulu ketika saya ulang tahun itu disoraki teman sekelas sampai akhir SMU, di kuliah… saya ingat bagaimana teman2 terdekat lah yang menyambut saya dan bahkan mereka lah yang memberi kejutan dan membelikan kue. Akhir kuliah, saya ingat pacar saya waktu itulah yang memberi saya selamat untuk pertama kali.

Sebenarnya saya ga mempermasalahkan siapa yang ada dan ingat di hari ultah saya itu. Pas kecil, saya pun termasuk orang yang malas mengadakan pesta. Baru kemudian pas cerita kuliah tadilah pemikiran saya bergeser karena yang ada di sisi saya adalah mereka yang spesial. Saya pun menyimpulkan, ultah adalah momen reflektif untuk melihat siapa yang benar2 ada buat kita.

Umur 25 tahun, mereka bilang di umur inilah plot twist salah satu yang terbesar dan mengubah persepsi hidup bakal ada. Saya ga ngerti, apa itu masalah percintaan, masalah pekerjaan, relasi sosial, keluarga, ya itu lah…

Saya penasaran, apa ya yang bakal saya lewati setelah hari ini?

-AW-

Berhubung ini adalah jaman2nya temen2 saya lagi seru2nya buat note karena tugas OSKM, saya jadi pengen flashback dikit…

“Pada konsepnya… kaderisasi adalah sebuah tuntutan ideal organisasi untuk memproses calon anggotanya. Ini bukan cuma penurunan nilai, implementasi nilai, ataupun asimilasi apalagi akulturasi dari suatu value yang ada dalam sebuah sistem organisasi. Ini adalah bagaimana core dari sistem itu, yaitu pemegang organisasi memaparkan visi dan misi nya yang penuh ego dan ambisius, untuk kemudian dibumikan dari sifat dasarnya yang melangit, lalu disebarkan sebagai harapan kepada anggotanya sebagai harapan dan mimpi dari organisasi untuk diteruskan… bahkan hingga kepemimpinan itu terus berganti. Singkatnya, kaderisasi adalah bagaimana harapan pendahulu diberikan ke penerus… konsep imortalitas tujuan…” – Pandangan singkat saya mengenai apa itu kaderisasi.

Ah, dari mana ya saya harus mulai. Dulu, saya masuk ITB dengan segala cerita yang heboh. Tapi menariknya lagi, segala cerita itu dimulai dari sebuah halaman cerita di hidup saya yang saya ingat sebagai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2007, ya itu adalah nama OSKM waktu itu. Singkat cerita, saya masuk kampus dengan 3000an mahasiswa baru lainnya, dan kemudian saya dikelompokkan dengan para penata tertib kelompok (taplok) dan karena sistem lingkar wacana yang mereka aplikasikan ini, saya pun punya teman2 dari multijurusan. Kagum sampe sekarang, salah satu teman saya yang paling eksis dan gokil adalah Tizar Bijaksana (Plano 2007, Eks Ketua Himpunan HMP, dan Eks Presiden KM ITB… eks di sini adalah mantan… bukan mantannya, itu beda kasus bung).

At Obonk For Rainy s B day (2)

Saya dan kelompok 67, batalyon 3 “Kinanti” PMB ITB 2007.

AHJR

Simbol 67: Kapak-Arit… untung bukan palu-arit.

Selama hampir 2 minggu itu, saya keliling2 kampus, lingkar wacana materi, ngeliat kegeblekan taplok gw yang 2-2nya cowok itu, dan ice breaking dengan konsep team building. Bersama Kak Fikar dan Kak Poso dari jurusan teknik perminyakan 2006 sebagai taplok kami, kami merasa sedih karena 2 taplok kami adalah cowok, ga cewek kece kayak di kelompok 66 saya jujur merasa terpanggil atas pernyataan…

“Taun depan jadi taplok ya!”

Kondisi kami di kelompok 67 itu sangat2 strategis. Gimana ngga? Komandan batalyon (danyon) kami ada di sebelah… di kelompok 66, Kak Rezky dari Teknik Geo 06. Sebelah kami, kelompok 68 ada Kak Lukman (seiring perkembangan jaman, “kak” ini pun terhapus… ini note aja sebelum nanti ke bawah lagi bingung kenapa jadi beda) dari Teknik Mesin 06 yang tengilnya parah, tapi kalimat2 kritisnya cadas (nyambung ke cerita di paragraf nanti). Secara kokologi, mungkin ini penyebab isi kelompok 67 ini pada jadi orang2 penting di kampus semua. Ah lupa, ditambah Kak Bengbeng… (Teknik Kimia 05, Eks Kahim HIMATEK)… yak, resep sempurna sekaligus “Matrix of Leadership” untuk kami (apa sih dit).

Setahun berlalu, di area boulevard ITB di akhir Mei pun dibuka perekrutan panitia awal. Karena rasa penasaran, saya pun daftar. Selanjutnya saya ga bakal cerita sedetail apa yang saya tulis di Facebook saya dari bagian 1, 2, 3, 4 itu. Tapi kalo mau tau, klik aja.

Singkat cerita, di bawah para eks-taplok 2006 yang kami kenal dengan nama angkatan taplok, Raka Pramesvara-Pramesvari itu, kami mendapatkan banyak pelajaran yang menarik. Di diklat, saya pun ketemu mereka2 lagi. Kak Fikar jadi wakil ketua divisi, Lukman juga (wakadiv yang satunya lagi). Strategisnya lagi, urutan kami adalah diklat divisi dulu baru ke diklat lapangan. Hasil? Ikatan divisi kami SANGAT-SANGAT KUAT dibanding OSKM setelahnya. Sistem diklat per kelompok yang disebut keluarga, per 5 keluarga dipegang ketua RT (asek Pak RT!). Diklat kami mulai dari gimana kita bisa mencari cerita dengan ngobrol sama orang2 random di Bandung, mulai dari tukang es goyobot, sampe mbak2 di mall yang manis (asek). Terus ada ke diskusi, debat, dan kreativitas… ini yang kami disuruh bawa koran yang kirain buat apa, sampe tiba2 Lukman pun bilang…

“Dandani ketua kelompok kalian pake koran itu!”

Dan saya pun kena… ntah anggota kelompok 9 “Project Pop” ini pada mager atau apa, saya pun jadi Hulk (AKA cuma tempel koran aja), sementara partner saya si Vanny (Teknik Industri 07) jadi Ibu Kartini. Hulk-Kartini adalah kombinasi terajaib yang pernah saya tau. Kelompok saya ini dibina oleh Kak Rezky (eks-danyon 3 taun lalu yang saya sebut di atas), dan ya… saya ketuanya.

AKER

Pendiklat dan ketua kelompok yang penuh modus ke lingkungannya.

AZWX

Keluarga 9 – Project Pop. Dari atas (searah jarum jam): Bimo (baju ijo), saya, Navi (Teknik Sipil 07), Manda (Teknik Material 07), Opi (Arsi 07), Dita (Plano 07), Riska (Matematika 07), Heidy dan Icha (Mikrobio 07), Yasir (Teknik Sipil 07), dan Kak Rezky.

Tapi jujur, saya sangat bangga sama kelompok 9 yang saya pimpin ini. Mereka inisiatif, kreatif, kompak, intinya… sangat bersenyawa dari hati ke hati (dampak kebanyakan baca komik Grey & Jingga nih saya). Saya memberi ide, semua langsung kasih masukan dan arahan, khususnya si Bimo (DKV 07) yang jadi konseptor. Kami menang 2 awards sekaligus! Pemenang drama calon taplok, dan grup dengan konsistensi kedatangan anggota terbanyak (22 orang, sementara grup lain ada yang cuma 3 orang sampe 15 orang). Momen Heartwarming lainnya? Adalah ketika Bimo yang paling urakan, dan kadang annoying itu ngirim SMS setelah drama taplok,

“Makasih ya semua, gw bangga sama kalian. Kelompok 10 jangan pecah ya sampe nanti pun!” (kurang lebih gini)

Ketua kelompok mana sih yang ga terharu?

Beririsan dengan diklat, suatu hari Lukman di akhir diklat bilang gini…

“Malam ini, gw menunggu kalian yang merasa ingin berkontribusi lebih!”

Panggilan apa kah itu? Sesi diklat perangkat. Perangkat taplok terdiri dari sistem multi-batalyon dengan satu regimen waktu itu adalah 4 batalyon, masing2 dipimpin 1 komandan, dan 2 wakil, semua di bawah komando langsung komandan lapangan (danlap… that orator guy).

Saya… lagi2 iseng dateng, dan lagi2 hoki. Modal datang jam 7 (harusnya jam 8), niat saya motret2 kampus, membuat saya terlihat paling niat. Diklat selanjutnya selalu malam hari dengan flow tinggi. Di bawah ketua diklat perangkat Kak Rezky, kami belajar cara suara perut yang baik, membuat improvisasi orasi, olah rasa (mempelajari sugesti singkat untuk ngatur mood), agitasi, sampai baris-berbaris. Akhir diklat, setelah kampanye diri saya yang ultimately crappy karena saya canggung, saya terpilih jadi wakil komandan batalyon 3, bareng Ihsan (Plano 07), di bawah komandan kami Filman (Teknik Informatika 07).

APFU

Batalyon 3 – Pujangga Langit (harusnya Punggawa Langit… tapi salah cetak, terus kita Yao Ming mode).

Me & The Battalion Flag

Wakil komandan batalyon 3… yang random.

Jadi seorang wakil yang berperan sebagai administrator batalyon (wakil lainnya pengatur flow barisan) dan ditemani 2 sekretaris dan 1 bendahara cantik (ahoooy!), saya pun jadi semangat. Ditambah, beda sama kasus sebelumnya yang saya punya taplok 2-2nya cowok, pasangan saya… 2-2nya cewek (kami ber 3 karena saya bakal mobile), Vanny dan Karmen (Teknil Lingkungan 07). Capek sih iya, takut pas berposisi menjaga barisan di bawah pelototan massa kampus juga iya, tapi rasanya semua itu pudar… ketika ada yang manggil “Kak” di kelompok dan mereka mau dengerin cerita sekaligus mau berbagi keceriaan kepada saya (aaaaawww).

Taplok, dengan nama angkatan Petrapijar (diambil dari “Petromak yang berpijar”) ini pun jadi kebanggaan tersendiri.

ZIXI

Kelompok 88 INKM 08 yang hepi!

Saya… adalah taplok, saya adalah wakil komandan, saya adalah… dengan kurang ajarnya juga adalah fotografer dokumentator acara yang walau diomelin Danlap Agam (SR 06) mulu, saya cuek!

Seperti sebelumnya sama Kak Fikar dan Kak Poso, kami selalu berusaha menjaga kontak interkelompok biar INKM (INKM atau Inisiasi Keluarga Mahasiswa adalah nama lain OSKM) udah beres. Kagum sampai sekarang, ngeliat beberapa dari mereka berdiri tegap dengan sinarnya yang gemerlap, Lyco (Teknik Informatika 08) jadi ketua himpunan HMIF dan sekarang jadi wirausawahan makanan yang cukup sukses, dan Bella (Teknik Geologi 08) udah terbang ke Osaka. Lainnya? Tenang, saya kagum selalu dengan kalian kok.

Setelah INKM, saya belajar… bahwa interaksi saya dan junior saya itu adalah pembelajaran saya untuk sosialisasi paling pas. Sejak SMU, saya itu pendiam dan hanya terbuka ke orang2 tertentu. INKM… memang memberi nilai2 ke anak2 baru, tapi juga memberikan pelajaran bermakna buat para taploknya.

Apa yang secara informal saya dapatkan? Saya untuk pertama kalinya di-surprise-in pas ulang tahun!

BOUM

Makasih temen2 keluarga 10 (plus Kak Rezky, Lukman, dan Fikar), ultah saya ke-19 jadi seru!

…dan 6 tahun setelahnya, saya… punya pacar (sekarang mantan) yang ternyata taplok kelompok 92 di batalyon 3 itu…

Setahun setelahnya, saya terpanggil lagi untuk aktif di OSKM. Kali ini, saya awalnya diundang diam2 ke rapat perdana oleh Ivan Bakot (Teknik Informatika 06) yang adalah ketua PROKM (namanya OSKM kali ini jadi Pengenalan Ruang dan Orientasi KM). Akibat salah ngomong (tapi saya bersyukur malah akhirnya), saya menjadi panitia dengan 2 kaki yang beda… satu saya adalah ketua divisi dokumentasi PROKM 09, dan di sisi lain saya adalah pendidik dan pelatih (pendiklat) panitia lapangan dan divisi taplok. Nama lain pendiklat adalah Wimaralaya (saya masih kurang tau apa artinya karena nama ini diceletuk terus sebagai wimarALAYa) dengan baju putih berlogo oranye, dan bidang, yang di atas divisi, bidang non lapangan sesi tambahan adalah Amurva Bhumi dengan baju ungu, berlogo kuning gambar merak, ketua… Elmo (Teknik Informatika 06).

129522997153

Kordinator Divisi Dokumentasi perangkap pendiklat.

Terus gimana diklat? Kondisi berbalik. Kali ini diklat panitia lapangan dulu, baru diklat divisi. Saya jadi dekat ke anak2 diklat lapangan daripada diklat taplok.

DQAF

Kelompok 43 diklat lapangan.

LBZV

Kelompok 18 diklat taplok.

Kondisi saya sebagai pendiklat cukup… kompleks. Setahun ke belakang, saya memang jadi dekat dengan angkatan 2008 dan saya punya 2 love interests di waktu2 itu. Kedekatan yang canggung ke 08, ditambah beberapa hal pada ospek himpunan jurusan membuat hubungan saya ke angkatan saya jadi setengah baik, setengah buruk. Menyegarkan diri lah saya di PROKM ini terlepas hektiknya jadi kordinator divisi juga. Tapi saya enjoy berbagi2 materi ke anak2 diklat saya. Saya pun juga masuk tim materi divisi untuk menjaga nilai yang diturunkan tetap pada koridornya (maklum, taplok terlalu abstrak, apalagi pendiklatnya).

125412527153

Pendiklat pada umumnya… wimarALAYa… hahaha!

Poin kebanggaan saya taun ini adalah saya bisa mengangkat 2 orang dari grup diklat divisi saya jadi perangkat batalyon, Ganar (Teknik Perminyakan 08) dan Thezard (Teknik Kimia 08) keduanya jadi wakil komandan batalyon 1 dan 2.

SOBS

Thezard, saya, dan Ganar.

Pembelajaran lain di PROKM ini adalah bagaimana mensinergiskan hal2 yang ga terduga dan hal2 berbeda jalur. Sebagai kordiv dokumentasi, saya menyelaraskan tim dokumentasi PROKM (saya dan tim) dengan unit Liga Film Mahasiswa di lapangan dalam pembagian kerja, dan menyeimbangkan saya sebagai dokumentator yang harus bisa meliput semua acara dan juga ada di acara divisi. It’s a magnum opus!

Yang saya dapatkan di akhir PROKM… gebetan baru *plak*, koneksi2 baru termasuk si Andi (SBM 08) yang ternyata punya peran pas saya jadi ketua unit himpunan Klub Fotografi Nymphaea. Saya jadi tau bahwa fotografer non unit di kampus itu ada banyak, termasuk dalam unit himpunan2 juga dan mereka pun jadi link saya. Dari PROKM ini pun saya punya rencana mendirikan unit Ganesha Memasak (yang gagal pada akhirnya).

Cerita tahun selanjutnya ga banyak… di INKM 2010, saya cuma datang sebagai bintang tamu.

ZCYH

Bintang tamu yang absurd.

Tepatnya saya sekalian liat pacar (mantan) saya sih. Hehehe. Cuma ya, ada rasa terharu ketika melihat beberapa anak diklat saya jadi pendiklat. Ga usah anak diklat secara spesifik, para MVP taplok Praba Amerta (nama taplok 2008) atau Mahabharata (nama mereka di diklat ini) yang muncul dan menjadi pendiklat memberi rasa kebanggaan.

OODE

Saya dan para Mahabharata… para pendiklat Antakusuma (taplok angkatan 09 di INKM 2010).

Tapi… wham moment saya adalah ketika saya memberi arahan kepada para Antakusuma yang sedang depresi karena waktu interaksi dikekang pihak rektorat bersama dengan para pendiklat lainnya untuk membuat base camp di luar kampus dan mewajibkan anak2 taplok mereka bawa baju ganti yang casual. Alhasil? Ini berhasil! Seluruh taplok dan 3000 anak baru berhasil punya interaksi non formal! Saya… yah, sekalian nemenin pacar waktu itu, karena kebetulan Antakusuma bajunya biru dan Petrapijar juga biru, saya pun menyusup ke kelompok 130 itu dan menularkan cerita2 kampus… sekaligus itu menjadi traktiran iseng ultah saya ke-21. Jujur, awalnya mahasiswa2 baru itu kaget… siapa saya… tapi lama2 mereka mau berbaur!

451205867153

Secara mendadak, kelompok 130 jadi punya 4 taplok.

Setelah INKM… momen2 asik adalah melihat mereka yang berubah wujud…

NULD

Kelompok 43… setelah jeda 1 tahun.

YIAL

Kelompok 88 setelah jeda 2 tahun…

XPZO

with dat feels saat kita melihat mereka udah punya jaket unit dan himpunan masing2.

Seru ya?

Setahun kemudian… saya dan para eks-Wimaralaya datang ke diklat Winaya Sunda (nama taplok OSKM 2011) sebagai swasTAplok (swasTA = mahasiswa sibuk TA, portmanteau dengan taplok) yang menjajal para calon taplok itu atas apa yang diajarkan di diklat dan sekaligus ajang interaksi para dedengkot ini ke mereka yang baru. Melihat para sesama pendiklat udah punya cerita2 gila di hidup mereka selama 2 taun itu rasanya sesuatu…

_MG_1339

Eks-Wimaralaya 2 tahun setelahnya.

Akhirnya saya pun lulus… saya menyempatkan kumpul dengan kelompok 43 diklat PROKM 09.

_MG_2145

Mereka… sudah besar… *apa*

Tahun 2012… saya ga berurusan sama OSKM…

Tahun 2013… pacar (mantan) saya taplok batalyon saya sendiri… terus di Yogya, saya ketemu Addy (Teknik Sipil 07) sang asisten wadanyon (alias wakil wakil komandan batalyon atau wawadanyon) batalyon 3, dan Faris (Plano 07) sang danyon batalyon 4 “Surya Kemuning” dan komandan lapangan PROKM 09.

_MG_4831

Faris, saya, dan Addy… di warung bubur kacang ijo seberang kosan saya.

Tapi ternyata… penularan kekuatan taplok ini belum selesai…

_MG_4785

Saya, Radian, dan Arif, taploknya Radian.

Saya pun manas2in bocah2 ini… Radian, Nabila, Yunda… 3 junior SMU saya untuk jadi taplok, dengan bantuan Arif (Teknim Perminyakan 2012)… taplok dengan nama angkatan Bumi Sudha (kedengarannya kayak “blum wisuda”… damn…).

Akhirnya saya pun puas denger Yunda (Kimia 13), Radian (SBM 13), Diheim (Rekayasa Hayati 13), dan Havif (Matematika 13) ikut diklat taplok, dan di jagad dunia FB mereka sibuk dengan postingan2 Note FB tentang tugas mereka. Sekarang, saya hanya menunggu cerita dari mereka, para Actias Arkamaya (nama taplok… kini mentor OSKM 2014). Yak, taplok ganti nama jadi mentor untuk adaptasi peran jadi lebih dalam.

Sekarang… saya pun juga mengejar mimpi dan cita2 saya sambil sesekali nyengir liat kalian di grup FB Keluarga Besar Taplok. Jangan kalian suruh saya buat move on, karena kalian adalah keluarga saya juga. Yah, skill komunikasi massal dan interaksi interpersonal membuat saya jadi gampang berbaur dengan siapapun dan bisa punya banyak teman di mana (walau sahabat adalah hal lain lagi). Bahkan saya jadi bisa nyantai ngobrol sama mereka yang dari luar negeri di Couchsurfing Yogya…

IMG_7246

Jaime, saya, dan Alison.

IMG_7298

Berta, saya, dan Roberto dari Spanyol.

Yah, naplok membuat saya makin PD ketemu orang baru. Ini jadi penting untuk nantinya kita bekerja dan menjaga link untuk karir kita. Ditambah lagi, kemampuan mengerti personalitas-temperamen di taplok pun membuat saya jadi cenderung bisa menulis dan berkarya dengan sepenuh hati dalam aspek apapun. Intinya… taplok itu adalah cerita yang ga akan abisnya… dan inspirasi tiada putus dari generasi ke generasi.

Untuk kalian yang pernah saya bimbing, jangan lupain semua momen2 kita ya!

Untuk kalian yang baru memulai cerita kalian… buat cerita terindah ya!

Pesan moral:

  1. Kaderisasi adalah media untuk mengabadikan mimpi dan visi yang sudah ada, berupa nilai… yang terus diadaptasikan, diseleksi, dan diturunkan; evolusi nilai yang terus diturunkan bagai konsep heritabilitas genetika pada gen makhluk hidup.
  2. “Kalian gak akan tau siapa dari orang asing yang kalian temukan, yang dia nantinya ternyata adalah mereka yang paling dekat hidupnya dengan kalian” – kalimat saya ke Arif & Radian.
  3. Apa yang kalian lakukan dengan sebaik mungkin, akan bergaung selamanya di suatu sistem.
  4. “Kebersamaan itu indah kawan!” – Kak Rusi, kordiv Raka Pramesvara/Pramesvari PMB 07, Wira Tresna (taplok) OSKM 2006.

Tambahan…

“Dit, mana sih mantan lo??”

Saya ga mau pasang… ntar ada yang nyengir2 di luar sana… :p

-AW-

Pagi ini… tepat di umur 24 tahun 11 bulan ini (yak sebulan lagi!). Saya tiba2 pengen berbagi buat yang bertanya ke saya,

“Dit, apa mimpi yang sekaligus cita2 terbesar lo sebagai ilmuwan atau yah… calon profesor nantinya?”

Ada 12… mungkin ini aneh karena angkanya kebetulan sama dengan “Twelve Labours of Hercules“, yak… ini kurang lebih…

1. Ingin menanam di luar angkasa dan tanah selain bumi.

1

Bersamaan dengan didengungkannya rencana SPX 2020 oleh NASA yang pada 2 bulan lalu masih merupakan proposal penelitian, saya sejujurnya ingin mencari kesempatan untuk bisa bergabung dengan mereka di rencana MPX (Mars Plant Experimentation) dan LPX (Lunar Plant Experimentation). Untuk itu saya saat ini masih membuat paper bersama seorang dosen saya yang memiliki keahlian di bidang astronomi, sebelum saya mencoba lebih lanjut mengontak NASA (harapannya kejelasan keberterimaan proposal penelitian mereka ke markas pusat NASA udah dalam kondisi diterima. Emang subjek mereka apa? Tanaman Arabidopsis thaliana dengan tolak ukur perubahan CO2. Tapi sejujurnya, saya seminimal2nya pengen menaruh tanaman saya (ntah biji atau kultur jaringan) di ISS (International Space Station). Atas majunya perkembangan usaha saya ini, saya sejujurnya mau bilang makasih sedalam2nya pada Nita yang ngedukung saya terus.

2. Ingin melakukan modifikasi pada protokol standar kultur jaringan tanaman sehingga kita bisa melakukannya dengan efisien dan bisa di mana saja.

2

Ide ini sudah saya pikirkan sejak tahun 2013 lalu dan baru menghangat lagi setelah saya bertemu Pak Kris. Begini, kalian ada yang nonton Doraemon? Kalian pernah lihat yang bagaimana Doraemon mengeluarkan alat berbentuk tabung terbuka, dia ambil 1 sampel tanaman (daun atau apapun) begitu aja, dimasukin ke tabung, boom! Tanaman identik pun tumbuh. Kontras dengan teknologi saat ini yang kita masih ambil sampel tanaman, bawa ke lab, nyalakan laminar, siapkan bahan, inisiasi secara steril, subkultur 3x, aklimatisasi, baru jadi. Lama oy! Ya, saya tau semuanya butuh proses. Tapi kenapa sejauh ini belum ada yang menemukan cara agar metode ini bisa diperingkas? Ketika saya bertemu dosen2 tertentu, mereka sibuk ke pengembangan sampelnya, bukan ke metodenya. Pola pikir konvergen, bukan divergen. Mimpi saya, nanti anak cucu kita ga perlu repot2 ke lab, cukup petik, tanam, tumbuh.

3. Ingin melakukan mikropropagasi pada tanaman RafflesiaRhizanthes, dan Sapria yang konon masih belum bisa dilakukan.

3

Kultivasi tanaman satu ini merupakan tantangan. Saya belum pernah usaha kultivasi tanaman holoparasit lain selain Cuscuta atau tali putri (Švubová & Blehová, 2013). Dengan telah dijelaskan sebelumnya bahwa telah dilakukan usaha kultur jaringan baik oleh Dra. Sofi Mursidawati (LIPI) dan Dr. Lazarus Agus Sukamto (LIPI) (Sukamto, 2001), hingga saya sendiri (Wicaksono, 2013) tapi seluruhnya berakhir dengan kematian sampel pasca pencoklatan. Saya yakin, kayaknya masih ada cara yang belum dilakukan.

4. Ingin merekayasa tanaman yang bisa tumbuh lebih cepat daripada aslinya.

4

Semua berawal dari ide adek kelas saya, Athena Syarifa atau yang dipanggil Rifa. Dia, di satu sesi kumpul pada tahun 2012 di ekstrakurikuler SMU saya, Al-Izhar Science Community (ASC), saya bertanya kepada yang lain dan jawaban dia lah yang paling konkrit dan membuat saya dapet ide. Akhirnya, dengan izin Rifa, saya pun berniat ngebawa ini ke penelitian saya nantinya (salah satu proposal S3 saya) dan ini adalah paper yang tanggal 10 Juli 2014 besok akan saya persembahkan kepada Dr. Ir. Widodo Hadisaputro sebagai makalah penelitian yang menjadi nilai ujian akhir saya. Jadi, thanks ya Fa… wish me luck!

Tapi tunggu, emang bisa? Saya nemu 2 paper menarik yaitu pada metode transgenik over-ekspresi dengan set gen AtAHA2 (fokus ke protein sintesis molekul energi, ATP), AtPHOT2 (protein Phototropin 2 yang merespon cahaya), AtKAT1 (protein saluran ion K+), AtAKT1 (protein transporter K+) (Wang, et al. 2014), dan pengurangan ekspresi enzim Ribulosa Bifosfat Karboksilase/Oksigenase (RuBisCO) untuk efisiensi pengikatan substrat CO2 yang berlimpah (biar ga rebutan) dengan metode antisens yang membuat terjadinya pembungkaman gen (Hudson, et al. 1992).

5. Ingin mempelajari apakah tanaman bisa benar2 memiliki pola bahasa non-verbal dan peradabannya sendiri.

5

Inspirasi ide ini didapat dari sang guru saya yang gila, Rizki Musthafa Arisun. Tapi kalian kepikiran ga? Bahwa di balik diamnya tanaman, bukan berarti mereka bisu kan? Mereka memiliki pola sistem yang beranalogi sistem saraf dengan auksin sebagai neurotransmitternya, jaringan vaskuler sebagai neuronnya, bagian anterior hewan teranalogi di bagian basal tanaman dan posterior di bagian apikal, kerennya lagi juga menurut Baluska, et al. (2006), otak tanaman adalah di akar. Akar memiliki intelenjensia yang menentukan ke mana tanaman harus “bergerak” mencari nutrisi. Tambahan, tanaman itu bisa “menjerit minta tolong” saat ada herbivora (Dicke & Baldwin, 2010) dan bahkan ternyata bisa memancing karnivora predator untuk menyerang herbivora, serta “bilang” ke tanaman lain yang masih aman buat siap2 produksi metabolit sekunder (Dicke, et al. 2003).

Tanaman dengan bahasa kimiawi alias non verbal ini, ternyata memiliki bahasa kompleks dalam komunitasnya. Mungkin, seperti di film Kamen Rider Gaim, di mana hutan Helheim bisa berusaha memanipulasi organisme yang lebih tinggi untuk proses penyebaran dan berperang buat mereka, hal itu bukan hal yang baru jika tanaman sudah beradaptasi sekian lama.

6. Ingin mengimplementasi nukleotida sintetik ke tanaman untuk produksi protein baru.

6

Tahun ini, kita digemparkan dengan penggunaan 2 nukleotida selain Adenin, Guanin, Timin, dan Sitosin, yaitu d5SICS (X) yang berpasangan dengan dNaM (Y) dan berhasil diterapkan pada Escherichia coli (Malyshev, et al. 2014). Mimpi saya, karena kita tahu bahwa tanaman adalah organisme pabrik raksasa, kita seharusnya bisa mengimplementasi sintesis protein non esensial yang kita perlukan dengan menaruh kode2 tambahan itu di tanaman atau mempelajari apa yang bisa dilakukan dengan penambahan kode basa nukleat tersebut.

7. Ingin mengeprint 3D tanaman yang berfungsi penuh.

7

Ide ini muncul udah lama dan diperhangat dengan diskusi di jaringan sosial, Quora, dengan Vikas Kukreja, mahasiswa bioteknologi dari Velore Institute of Technology, India. Terbayangkah kalian mencetak 3D tanaman kalian sendiri, dari sebuah gambar yang kalian inginkan, cetak, aktivasi, dan tanaman yang dicetak/print benar2 tumbuh? Keren ya kalo berhasil. Masalah yang perlu saya kejar adalah bagaimana perubahan wujud sel ketika diferensiasi tanaman yang perlu dipelajari (karena pada hewan udah jelas, proses dari totipotensi, ke pluripotensi, ke multipotensi, ke yang sangat spesifik… unipotensi, pada tanaman? semua sel adalah totipotensi kecuali sel2 mati pada xylem dan sklerenkim dan bisa berdediferensiasi kapan saja ketika diinduksi hormon tanaman sebagaimana riset oleh para pendahulu kultur jaringan, Murashige dan Skoog (1962). Yang lainnya, apakah efek penyusunan secara vertikal-multilapisan pada sel tanaman, apakah memiliki dampak? Ini perlu diteliti.

8. Ingin menanam jamur konsumsi yang mikoriza untuk tujuan produksi massal yang terkontrol.

8

Kalian tahu jamur matsutake (Tricoloma matsutake), jamur kantarel yang wangi aprikot (Cantharellus cibarius) dan truffle (Tuber spp)? Kenapa jamur2 mikoriza ini sampai sekarang ga bisa diproduksi massal ga seperti jamur tiram, merang, kuping, dll yang bisa booming kapan aja? Coba dipikir…

9. Ingin mempelajari kelebihan2 yang ada pada varietas tanaman atau jamur di dunia yang memiliki predikat sebagai bahan makanan termahal di dunia sehingga bisa diterapkan ke organisme konsumsi lain.

9

Kalian tahu kentang varietas La Bonnotte dari Perancis yang tumbuh pada lahan bersalinitas tinggi yang bahkan dipupuk dengan rumput laut yang konon rasanya sangat gurih dan per kilogramnya lebih dari 20 Euro? Kalian tau Melon Yubari, Semangka Densuke, Mangga Ooma? Varietas2 ini memiliki kehebatan, ntah mulai dari kemampuan tumbuh natural yang unik, dan pola perlakuan tanam yang beda, sehingga bisa dihargai lebih dari Rp 500rb per buah. Kalau ini bisa dipelajari dan diterapkan, kita bisa melakukan perbaikan tanam pada tanaman pangan lainnya, atau mencoba menanam varietas2 mahal itu sendiri!

10. Ingin menciptakan organisme baru dengan biologi sintetik.

10

Mimpi tergila saya yang rada play God. Menguasai kode genetika, biologi sintetika, xenobiologi, nilai2 estetika seni, kita bisa menciptakan makhluk hidup jenis baru dari nol!

11. Ingin mempelajari teknologi omika berbasis biologi sintetik dan xenobiologi.

11

Dengan terekstensinya basa nukleotida jadi 6 dan 160 potensi protein menjadi terbuka, ilmu genomika, transkriptomika, proteomika, hingga metabolomika pasti akan berubah. Saya penasaran bagaimana kode2 itu satu persatu terbuka menjadi asam2 amino baru yang ditranslasikan.

12. Ingin membalikkan proses translasi dari protein ke RNA.

12

Membaca jurnal oleh Nashimoto (2001), saya jadi penasaran: Bagaimana akhir penyempurnaan Dogma Sentral yang hanya tinggal pembalikan protein ke kode genetis saja? Saya berharap bisa berkontribusi dalam upaya satu ini. Karena bayangkan! Kalian berhasil membuat protein baru dengan metode pemotongan gen, penambahan gen, bagaimana kalau setelah jadi protein kita balikkan saja ke kode nukleotida, dan kita simpan. Kita bisa memproduksi tanpa harus melakukan pemotongan dan penambahan lagi! Efisien!

Terlepas dari 12 ini, ada beberapa yang minor… ada keinginan saya untuk membandingkan penggunaan iradiasi gamma dengan penggunaan sinar dari akselerator partikel untuk melihat perbedaan mutasi pada tanaman dan dampaknya, dan juga ada keinginan saya untuk menggunakan tanaman untuk mengekstrak logam mulia dari tanah. Penelitian2 ini sifatnya minor dan kalau kalian baca dan larinya ga lebih dari keisengan saya yang diakibatkan dari ketertarikan saya ke teori2 fisika partikel dan fitoekstraksi.

Ide2 yang gila ya? Ideal ya? Ya! Cuma saya percaya bisa ngelakuin ini semua, baik oleh saya sendiri, satu tim kolega saya, anak2 didik2 saya, sampai mungkin keturunan2 saya. Orang2 yang dengar mimpi ini cuma mangap, senyum, atau ketawa. Saya jadi inget kata teman saya, Putra, pas kumpul Couchsurfing Yogya kemarin:

“Kejar mimpi lo walau itu gila! Tau kapan mimpi lo dianggap gila? Itu adalah pas orang2 di sekitar lo ngetawain mimpi lo pas lo cerita. Tapi jangan peduliin! Keep going!”

Mimpi dan cita2 kita adalah punya kita, batas antara kita bisa atau tidak bukan ada di bisa atau tidaknya, tapi mau atau tidaknya kita bergerak dan mengusahakannya setiap hari hingga itu tercapai!

-AW-

—-

Referensi

Dicke, M. A.A. Agrawal, J. Bruin (2003). Plants talk, but are they deaf? Trends in Plant Science 8(9): 403-405.

Dicke, M., I.T. Baldwin (2010). The evolutionary context for herbivore-induced plant volatiles: beyond the ‘cry for help’. Trends in Plant Science 15(3): 167-175.

Hudson, G.S., J.R. Evans, S. von Caemmerer, Y.B.C. Arvidsson, T.J. Andrews (1992). Reduction of Ribulose-1,5-Biphosphate Carboxylase/Oxygenase Content by Antisense RNA Reduces Photosynthesis in Tobacco Plants. Plant Physiology 98: 294-302.

Malyshev, D.A., K. Dhami, T. Lavergne, T. Chen, N. Dai, J.M. Foster, I.R. Corrêa Jr, F.E. Romesberg (2014). A semi-synthetic organism with an expanded genetic alphabet. Nature 509(7500): 385-388.

Murashige, T., F.K. Skoog (1962). A revised medium for rapid growth and bio assays with tobacco tissue cultures. Physiologia Plantarum 15(3): 473-397.

Nashimoto, M. (2001). The RNA/Protein Symmetry Hypothesis: Experimental Support for Reverse Translation of Primitive Proteins. Journal of Theoretical Biology 209(2): 181-187.

Sukamto, L.A. (2001). Upaya Menumbuhkan Rafflesia arnoldii Secara In-Vitro. Prosiding Seminar Nasional Puspa Langka Indonesia p: 31-34.

Švubová, R., A. Blehová (2013). Stable transformation and actin visualization in callus cultures of dodder (Cuscuta europaea). Biologia g8(4): 633-640.

Wang, Y., K. Noguchi, N. Ono, S. Inoue, I. Terashima, T. Kinoshita (2014). Overexpression of plasma membrane H+-ATPase in guard cell promotes light-induced stomatal opening and enhances plant growth. Proceeding of The National Academy of Sciences 111(1): 533-538.

Wicaksono, A. (2013). Observation of Tissue Culture of Young Holoparasitic Rafflesia patma Knob In Activated Carbon Added Murashige-Skoog Medium. Scribd Document.

Ah, sudah lama rasanya saya ga nulis yang cenderung “normal”, maksudnya sesuatu yang bukan bahasan detail atas sesuatu selain masalah dan cerita di hidup saya sendiri. Anggap lah mungkin saya lagi pengen curhat dan cerita dengan sangat randomnya di pagi2 ini.

Pagi ini… saya merasa rada setengah gila… otak saya didominasi “Kulit manggis… kini ada ekstraknya…” Semprul!

Saya… pagi ini baru selesai ujian yang saya selesaikan cuma dalam 30 menit dari total 120 menit yang disediakan. Ujian pagi ini adalah ujian Dasar Pemuliaan Tanaman kelas B. Keluar ruangan, semua pada heboh dan sebagian memasang muka –> 😮

Saya bukan tipe orang yang ketika diberi soal esay, saya akan berpikir kembali untuk memperbaikinya. Alasan? Bakal nyoret2, buang2 tip x dan saya terbiasa sejak lama, apalagi di kampus saya ini ada dosen yang kalau di ujian ada coretan, nilai akhirnya langsung E. Ntah apa yang dipikirkan pak dosen satu itu lah. Oke, saya sedang puasa dan ga mau bahas orang lain, jadi mari kita kembali ke cerita awal.

Hidup saya… sedang cukup random akhir2 ini dan sejujurnya saya sedang membutuhkan kadar asam amino triptofan yang lumayan di tubuh saya untuk meningkatkan biosintesis hormon yang menyebabkan rasa bahagia, serotonin. Ntah, apakah ini dampak saya lagi agak menghemat sebelum pulang atau apa. Sekedar info, asam amino itu bisa didapat dari makan ikan laut khususnya salmon, keju, anggur, dan susu. Makanan yang secara notabene nya cukup berharga menengah ke atas. Saya belajar dari kesalahan saya pas S1 di mana saya cukup hedon dalam menggunakan uang bulanan saya. Sekarang? Saya sebisa mungkin hanya mengeluarkan Rp 50 ribu dan akan dikeluarkan dalam 2-3 hari sebelum saya menarik lagi dari ATM.

Kehidupan saya akhir2 ini, lagi cukup… random. Ga berantakan, ga menyedihkan, cuma ntah… saya merasa ada sesuatu yang kurang.

Mari kita bahas rutinitas saya di bulan ini, khususnya di bulan suci ini:

Dini hari, jam 2:40 AM saya makan sahur. Hingga hari di mana tulisan ini dibuat, saya setiap sahur hanya makan setengah potong roti besar dengan dimensi 30 cm x 2 cm x 10 cm berbentuk elipsoid berdasar rata. Orang2 mungkin mikir, ga kenyang apa Dit? Kenyang. Saya tiap sahur minum 400 – 600 mL, terus makan roti itu. Roti itu pun lengkap dengan serat karena roti jenis dengan tepung berwarna coklat (ntah dia wholemeal atau oat atau rye). Di atas roti ada taburan oat giling dan biji bunga matahari yang lumayan sebagai sumber protein dan vitamin E. Saya nonton Legend of Korra season terbaru, Book 3: Change, atau saya nonton Kamen Rider Gaim. Abis itu saya nunggu subuh, sholat, dan tidur. Di WC, kadang saya “nongkrong” sambil melihat teman saya… laba2 sutra yang kakinya panjang dan ramping itu makan serangga yang ngeganggu di kamar mandi saya. Nice job, bro… (maaf… saya lagi aneh dan ngomong sama laba2)

Pagi, biasanya kalo ga ada ujian (udah ga ada kuliah) saya tidur lagi setelah sekedar stretching dan menghirup udara pagi (yang kadang terganggu kalo tiba2 tetangga bakar sampah). Jam 9 an, kalo ga ada ujian, saya akhir2 ini dapat tugas 6 buah makalah. Sebenarnya bagi yang lain agak non-esensial gara2 kasus tahun lalu yang nilai keluar sebelum makalah dikumpulkan. Cuma, ntah saya merasa harus membuat makalah2 ini. Makalah2 ini adalah tentang laporan dari hasil praktikum kuliah Ilmu Biji. Ada 6: Poliembrioni, Vigor Biji, Viabilitas, Uji Tetrazolium, Deterioriasi Biji, dan Percobaan Mandiri. Konyolnya, percobaan 1 gagal gara2 salah perlakuan, vigor juga gagal, viabilitas ada datanya, uji tetrazolium ada datanya, biji di percobaan pencegahan deteroriasi pada jamuran, dan satunya lagi percobaan mandiri saya yang cukup spektakuler. Dengan kata lain, 3 dari 6. Ambisi gila saya membuat saya merasa harus bisa mensintesis dari data yang ada walau gagal sehingga meski dari data yang salah, analisis masih bisa didapat (walau jelas2 lain).

Masalahnya adalah, sebenarnya saya terlatih untuk berpikir cepat dalam menulis paragraf metodologi dan latar belakang, apalagi latar belakang tanpa pustaka. Cuma… ntah… saya merasa kurang mood dan rada malas akhir2 ini. Saya sejujurnya butuh motivasi lebih untuk ini.

Mungkin saya sudah membayangkan Jakarta. Pulang. Rumah. Di mana hati tertambat… yah… cinta… persahabatan… keluarga…

Tengah bulan ini, saya bakal mengalami ujian terbesar. Di kala ujian akademi saya sudah beres, ketika pengamatan jagung saya di ladang hampir beres, ketika tanggal 10 makalah harus selesai semua, laptop saya harus diservis sesegera saat itu. Laptop yang menjadi saksi segala percintaan, karir, dan perkembangan diri saya dari 11 Agustus 2011 ini, sudah berumur dan “kesehatan” batere nya hampir 10% dengan daya tahan setengah jam lebih saja (dari seharusnya 6 jam ketika 100%). Ketika laptop diservis, itu tandanya saya harus mencari aktivitas lain selama hampir 1 bulan yang melewati hari Idul Fitri dan hari ulang tahun saya itu. Mungkin saya perlu latihan menggambar2 kreatif lagi dengan Sketchbook saya. Soalnya tiap saya jalan2 dan memotret, telepon genggam saya memorinya hampir penuh.

Memasuki Agustus, saya berencana ikut kursus buat robot di Robota dekat kampus. Saya penasaran… semoga saya bisa buat robot yang nyentrik dan ekso-armor saya sendiri.

Menariknya lagi, saya bertemu banyak orang akhir2 ini. Komunitas Couchsurfing Yogya yang semakin rame dan heboh dengan gathering2 dan turis yang datang. Teman2 baru di Yogya, tempat2 baru untuk dikunjungi. Bahkan teman saya dan adek kelas saya, Putri, menemukan komunitas Synthetic Biology di Yogya. Ini menarik.

Agustus… saya harus menemukan langkah buat mencari kerja sampingan di Yogya, di majalah… saya pengen menjadi kontributor kuliner/FnB lagi…

Saya juga butuh memutuskan… ke mana saya abis ini. Pilihan bidang semakin banyak, dan tesis perlu dikerjakan dengan ketersediaan data. I have experiments to run, I have research to be done… for the people who are still alive…

Tapi… saya ntah merasa mau pulang…

(Ma, Pak, Rif)… Nit… Ki, Ji, No… gw kangen kalian…

-AW-

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life