Skip navigation

Category Archives: Blog

Wew, udah lama banget ya sejak terakhir saya nulis? Saya pengen nulis, tapi bingung mau nulis apa. Hahaha… dan kali ini, saya pengen nulis pake bahasa santai aja deh.

Ga nyangka yak… udah akhir 2016 aja. Sejujurnya buat saya, ini adalah tahun tergila dalam hidup saya. Kenapa? Ini adalah tahun paling random dan paling susah ditebak daripada semua tahun yang pernah saya lewatin. Mulai dari menapakkan kaki di Finlandia dan Jerman, sampai jadi bocah satu2nya dari Indonesia yang nongol di International Conference for Xenobiology 2 (XB2), Berlin, 24-26 Mei 2016 lalu.

Mungkin ada yang nanya, kok saya jadi jarang nulis di blog ini. Hmmm… gimana ya saya jawabnya. Bingung.

Kadang, pas saya nulis artikel blog ilmiah kayak dulu, saya sering masukin tulisan yang kontennya merupakan ide. Hal ini jadi perdebatan dalam diri saya apa saya harus nulis di blog atau buat ke tulisan yang lebih formal. Dilemanya adalah antara saya menyajikan ide di blog yang kesannya pertanggungjawaban referensinya rendah (walau saya selalu taro referensi di bawahnya, tapi hey, kalian ga mungkin mensitasi blog saya kan? yang ada kalian dimarahi dosen kalian atau asisten kalian), ditambah ide saya bisa aja dicuri orang dengan gampang… dan saya harus menulis dengan tenaga ekstra untuk nulis jurnal (yang sebenarnya ga masalah amat sih). Kalo kalian bingung dengan maksud tulisan saya yang berupa ide adalah ini:

Plant Bioprinting: Novel Perspective For Plant Biotechnology

Itu adalah tulisan saya tentang cara mencetak alias nge-print tumbuhan. Ya, kalian ga salah baca. Bayangin kalian punya printer dengan “tinta” berisi sel meristematik tumbuhan dan zat pengatur tumbuh (auksin, sitokinin, dll). Kalian pasti bisa mencetak tumbuhan dengan itu dong? Oke, awalnya saya mau taro di sini, di blog ini. Masalahnya, selain orang akan melihat ini sekedar sebagai ide gila (alias dipandang sebelah mata), kalaupun ada yang tertarik kalian akan bingung menjadikan ini referensi sebagai bahan karena ini cuma artikel blog. Sementara kalau dalam format jurnal di atas, kalian bisa dengan asoy-nya kalian nulis ini sebagai referensi kayak gini:

Wicaksono, A., Teixeira, J.A. and Silva, D., 2015. Plant Bioprinting: Novel Perspective For Plant Biotechnology. Journal of Plant Development22.

Jadi gitu deh, walau saya harus kerjasama dengan tenaga ahli (Dr. Teixeira da Silva adalah ahli tumbuhan yang tinggal di Jepang) dan menghadapi revisi lebih kejam daripada pas saya nulis skripsi dan tesis, cuma demi relevansi… why not?

Selain ide ilmiah, ide2 abstrak saya seperti ide yang berunsur fantasi (misal tentang saya role-playing sebagai sisi lain saya yang penyihir, Astrax) dan saya menulis “paper” dalam format beda, atau saat saya ada ide lain berupa karya seni, saya merasa bahwa saya harus menulis di media formal, misal di deviantART. Karya2 saya yang makanan pun juga masuk ke blog kedua saya, The Hungry Biologist.

Jadi pada akhirnya, yang tersisa di blog ini adalah… adalah… ya… ga lebih dari cerita2 pribadi, pengalaman, atau uneg2 ga jelas kayak gini.

Terus kenapa kamu ga tulis aja pengalaman kemarin pas di Finlandia?

Saya tau ada yang bakal nanya itu. Oke, sesuai judul tulisan ini, saya mau jelasin. Perjalanan 8 bulan di Finlandia dan Eropa secara umum itu emang mengesankan. Saya bisa aja ubah itu jadi cerita bersambung bertema pengalaman yang rada komedi. Masalahnya, ada beberapa cerita yang harus saya tutup alias sensor. Bukan karena saya melakukan tindakan ga sesuai peraturan, tapi ini menyangkut orang lain!

Beberapa hal yang kalian harus tau:

  1. Dosen pembimbing saya dipecat dengan alasan ga jelas. Pemberitahuannya bahkan H-1, jam 10 malam! Dia ga sendiri, seorang teknisi paling berbakat di lab kami (beliau memegang 11 instrumen dan 4 lab) juga kena pecat. Mungkin tepatnya PHK, karena penjelasan mereka adalah karena Finlandia memotong biaya anggaran ke kampus, otomatis kampus harus mengurangi pegawai. Pertanyaannya, kenapa harus orang paling kontributif kayak mereka??
  2. Setelah poin 1, sisi di mana saya telah melewati 4 bulan di sana, saya ga tau mau ke mana lagi. Semua profesor harus punya dana jelas sebelum merekrut mahasiswa. Saya telah mengajukan dana dari 11 lembaga dan semua menolak saya (kemarin saya dapat anggaran dari CIMO dan hanya 8 bulan, ngga penuh selama periode PhD saya). Kesulitan ini membuat saya berpikir harus pergi dari negara itu untuk mencari tempat untuk lanjut PhD, sekaligus dengan berat, saya jadi meragukan negara yang dielu2kan sebagai negara pendidikan terbaik di dunia itu. Oh, lagi, mulai 2017, Finlandia menarik biaya EUR 11,000 per tahun dari mahasiswa non Eropa, dengan kata lain, ga gratis lagi. Kalo kalian mau yang gratis, silahkan ke Jerman.
  3. Saya mungkin terbang ke Berlin untuk XB2, itu pengalaman mengesankan! Tapi ga semua ceritanya menurut saya oke buat diceritakan. Selain cerita soal kerennya xenobiologi yang mungkin saya bisa tulis nanti, saya melakukan kebodohan yang bikin malu diri saya sendiri! Misal, karena saya sendiri, saya ga tau mau ngobrol ke siapa, saya jadi ngekor salah satu ahli di sana (ngikutin terus), saya foto dengan dua ahli idola saya, tapi saya minta tolong ahli lain buat motret! (eugh), dan saya kena alergi selama di sana. Intinya, walau kedengaran lucu, saya rada malu, apalagi kalo nama mereka ditulis di blog ini juga.
  4. Kalau saya cerita, saya merasa cerita yang saya tulis bakal berakhir ngambang! Semua masih berjalan setelah saya pulang dari Finlandia. Gimana arah Xenobiota? Ke mana jadinya saya bakal ngisi waktu sebelum kuliah S3 lagi? Gimana perjuangan saya buat kuliah lagi dengan sekarang gagal LPDP? Semua masih dalam proses. Saya bukan orang yang akan cerita dengan banyak bumbu, saya selalu cerita apa adanya.

Yang jelas… saya akan belajar dan mencari ilmu tentang biologi molekuler dan xenobiologi. Soal Xenobiologi, mungkin saya pernah bahas di blog ini, tapi saya akan jelaskan lebih dalam nantinya, ntah segera, atau nanti di 2017.

Satu hal, terima kasih udah membaca tulisan2 saya di blog ini. Blog ini akan ditulis dengan Bahasa Indonesia selama itu bukan mencakup teman2 saya di luar sana (beda ama blog The Hungry Biologist yang akan pakai Bahasa Inggris). Blog ini akan saya isi dengan ulasan ilmu2 baru yang saya dapatkan secara umum (kalo secara khusus akan saya tulis di jurnal atau media formal) dan juga cerita perjalanan saya.

Itu dulu deh… udah banyak!

PS: Saya sering dikontak via e-mail soal anggar, saya ga bisa ngasih kontak sang pelatih lagi karena udah berjarak 3 tahun dan validitasnya udah ga jelas. Sebaiknya langsung ke PB IKASI aja di Gelora Bung Karno ya!

-AW-

Iklan

Halo pembaca semua! Aduh, maafkan saya yang udah lama banget ga ngepost. Banyak cerita yang mau saya ceritakan, cuma saya ga tau dari mana saya harus mulai!

Jadi, pertama saya mau bilang, bahwa alamat blog makanan saya, “The Hungry Biologist” pindah alamat dari sebelumnya:

awkulinerologi.wordpress.com

Jadi:

thehungrybiologist5889.wordpress.com

Jujur, pergantian alamat tanpa tautan ini merugikan saya karena flow viewer harian yang tadinya 200-300 turun drastis jadi 8-20 per hari. Ah sudahlah… saya mengganti ini biar kedepannya ga bingung dengan nama blog saya yang itu. Untuk The Hungry Biologist, selama itu trip makanan di luar negeri, artikel blog ditulis dalam bahasa Inggris, sementara untuk kunjungan dalam negeri akan saya tulis dengan bahasa Indonesia (kecuali kondisi spesial yang di mana saya harus dengan bahasa Inggris). Kalo blog ini? Senyamannya saya aja. Hahaha. Kayaknya dalam bahasa Indonesia yang bisa diubah di Google Translate deh kalo teman saya ada yang mau baca. Karena saya merasa cerita dengan bahasa Indonesia akan lebih cair, tapi mungkin ada momen saya pake bahasa Inggris juga. Hehehe…

Itu dulu paling. Cerita 6 bulan saya di Turku mungkin akan menyusul!

-AW-

Saya mendadak pengen nulis soal ini karena sejujurnya udah lama banget mau nulis. Awalnya pengen nulis di blog sebelah “The Hungry Biologist”, tapi kayaknya saya mau bahas lebih umum deh. Pertama2, mari kita renungi gambar ini:

12105917_10153657328457154_1558432107850781961_n

“Kekinian” sumber gambar dari Path, kayaknya kalo dari watermark itu karya @Pinkinyo.

Di era milenial ini, saya merasa ironis. Kenapa? Sebenarnya saya sejak SMU udah tau betapa yang namanya tren di negara kita itu kadang jadi viral. Cuma dulu penyebarannya ga segampang sekarang semenjak internet menjadi media sosial yang setiap orang bisa akses kapanpun dan setiap orang punya andil sebagai penyebar berita. Kalian menemukan sesuatu, kalian potret, sebar di dunia maya, ada apresiasi, besoknya booming, dan setelah lama kemudian… ulangi dari awal.

Soal makanan… saya pun sekarang merasa cukup vakum dalam memberikan tulisan di blog. Kenapa? Saya kehabisan sesuatu buat saya tulis! Ketika tahun 2013 saya menjadi kontributor majalah, saya melihat… wah, ternyata jadi penulis dan jurnalis makanan itu seru, kita bisa ngasih komentar dan orang ngebaca. Terus berkembang jadi… wah, jadi kritikus seru ya, menantang buat kita bisa nyari tau atas apa yang kita mau kritik. Sekarang… saya harus nyari celah lagi, karena… everyone’s a critic now! Sekarang, karena faktor tren, segala sesuatu jadi homogen, dan kadang mau saya review pun hasilnya ga jauh beda. Mereka yang niat akan dapat poin bagus, mereka yang cenderung latah hasilnya akan minus atau saya ga akan tulis.

Bayangkan gini dari gambar di atas: Semenjak sebuah usaha martabak manis membuka konsep martabak dengan taburan coklat premium atau taburan2 ga umum lainnya atau… dengan campuran seperti teh hijau atau red velvet, sekarang bisnis martabak manis atau kue cubit dengan konsep serupa itu ada di mana. Jelekkah itu? Ngga kok… dari satu sisi. Walaupun sebut saja kadang saya ga nolak kalo ada yang ngasih saya martabak dengan Toblerone, saya ntah gimana masih menikmati martabak manis tradisional dengan keju, coklat, dan kacang dengan ekstra Wisjman butter yang harum. Karena, mungkin karena saya udah cukup tua ya… karena buat saya, martabak manis ya kayak gitu! Kalo martabak manis ditambah teh ijo atau lain2 jadinya di lidah saya bukan martabak manis! Saya tau kue Red Velvet yang merupakan kue coklat diberi warna merah oleh bit atau pewarna dengan icing krim keju. Tapi ya udah, itu kue yang beda. Jadi sekarang, ketika ada martabak A-Z membuka gerai martabak manis kekinian, saya akan bilang… “Buat martabak manis coklat, kacang, keju nya ya… nanti saya cek rasanya”

“Tapi kok kayaknya lo ga dukung banget sih Dit? Ini kan bentuk kreativitas!”

Awalnya kreatif, akhirnya latah. Gini deh, secara definisi… apa sih martabak manis? Kenapa bentuknya kayak gitu? Sejarahnya gimana? Emang saya tau? Ngga. Cuma memori pertama saya pas saya ditraktir om saya martabak manis tahun 1994 (saya masih 4 taun, pas TK nol kecil), martabak manis ya pake kacang, keju, coklat, dan mentega yang wangi. Gini, berapa dari mereka yang menjual makanan kekinian itu, tau kriteria dasarnya?

Ah mungkin saya ngomong gini, jadi ngerti kenapa seluruh dosen dan guru saya bilang… “Yang penting konsep, sisanya mau gimanapun terserah. Tapi tanpa konsep, semua itu nol”

Saya bingung dengan adanya pergeseran makna martabak manis itu… Yah, itu masih 1 masalah. Selanjutnya saya mau bahas gimana sekarang saya berusaha “berevolusi” dari penulis makanan yang mengulas restoran ke restoran, ke sesuatu yang lebih luas.

Sekarang, ada Zomato, ada Qraved, ada TripAdvisor, di belahan dunia lain ada Yelp, dan lain2. Perlahan2 saya bertanya, dengan media tadi, apa dong peran kami sebagai penulis makanan? Apa peran kami tergantikan karena semua orang berhak memberi kritik dan penilaian?

Setelah lama berpikir, ternyata jawabannya BELUM. Menariknya, dengan adanya media2 tadi, penulis makanan seharusnya sadar… peran mereka sebagai penyedia ilmu kuliner harus ditingkatkan. Ga bisa namanya kita hanya tau “Oh tempat ini enak karena blablabla… terus enak buat ngumpul”

Seorang penulis makanan, harus tahu apa yang mereka makan. Mulai dari konsepnya, sampai bagaimana versi paling enaknya itu kriterianya seperti apa, kita harus tahu melebihi orang awam. Itu mutlak. Bukan restorannya, bukan lokasinya. Kecuali kalian adalah penilai restoran. Kalau kalian hanya sebatas bisa merekomendasikan lokasi, semua orang juga bisa sekarang.

Wahai penulis makanan, jangan biarkan kalian ditanya “Makanan X yang enak di mana ya?” karena kalau begitu, apa bedanya kalian sama aplikasi smartphone? Buat diri kalian jadi orang yang membuat orang bertanya2, makanan X yang enak itu kayak gimana. Di mananya, itu biar mereka yang cari sendiri. Ini berlaku ketika kalian dengan teman kalian yang ga terlalu dekat, kecuali kalian sekarang lagi di mobil dan bingung mau makan apa. Perlahan2 mikir, saya kayaknya bakal lebih berkelana mencari konsep suatu makanan deh ketimbang ngulas restoran lagi. Makanan2 di daerah lain dan di negara lain.

Tren latah yang paling bahaya saat ini adalah: Budaya spons. Saya mau nanya sama kalian, kasih contoh minimal 3 jenis batik! Oh atau gini deh, bisa ga kalian nyanyiin 3 lagu daerah di Indonesia? Sebutkan bunyi Pembukaan Undang-Undang dasar 1945! Hal ironis ini digambarkan dengan sempurna oleh Nurfadli Mursyid di komik Tahilalats. Ya, boleh lah kalian ikut Halloween, terus ngasih coklat di Valentine (tolong jangan bahas ini dari sisi agama karena saya lagi ga bahas itu), atau pesta di Tahun Baru. Cuma tolong dong, kalian harus ingat dan belajar budaya kita sendiri. Ingat bumi kita yang kita pijak, jangan terlena melihat rumput tetangga, apalagi terlalu lama mendongak melihat langit. Kita boleh kebarat2an, ketimur2an, ketimurtengahan, keangkasaan (lo kira jadi orang Mars, Dit??), tapi kalian harus punya kebanggaan buat ke-Indo2an! Ini penting, karena suatu saat kalian akan di luar, kalian akan selalu membawa bendera kita. Ada profesi yang lebih dianggap di luar negeri daripada di sini. Gapapa kalian keluar dan kerja di sana, tapi jangan lupa buat berbagi ketika pulang di sini, atau membantu teman2 kita yang Indonesia yang belum mampu berkesempatan ke luar, dan tetap bersilaturahmi ketika sesama jadi perantau.

Ah… saya ngomong mulai ga jelas dan ngalor-ngidul.

Ya udah lah… bodo amat. Kalo bingung ya monggo baca lagi dari atas… :v

-AW-

GeM Logo

Hampir setiap kampus di Indonesia, apalagi kampus negeri, bisa dipastikan memiliki unit kegiatan mahasiswa atau UKM. Unit-unit ini berperan sebagai lembaga organisasi yang merangkul mahasiswa2 untuk kegiatan ekstra kurikuler di kampus, berbeda dengan himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) yang berperan sebagai pembina dan pengayom mahasiswa dalam urusan kokurikuler, karena HMJ berhubungan dengan bidang keprofesian fakultas atau jurusan. Di kampus saya misalnya, di Institut Teknologi Bandung (ITB). UKM jumlahnya ada sangat banyak, jenisnya pun juga beragam. Mulai dari agama, sosial, budaya, dan kesenian (tolong koreksi soal pembagian gugus2 ini). Selama 4 tahun saya kuliah, unit baru terkadang muncul di tiap tahunnya pada Open House Unit (OHU). Hingga, saya berpikir untuk membuatnya bersama rekan2 saya. Bagaimana caranya?

Yang jelas, syaratnya sudah pasti: ada anggota minimal 30 (seingat saya dengan minimal 5 atau berapa ya, jurusan yang beda), punya struktur organisasi, punya program kerja yang jelas, punya tempat aktivitas (paling susah), dan baru kemudian diajukan ke rektorat.

Dua orang rekan saya, satu di antaranya sama2 panitia Pengenalan Ruang dan Orientasi Keluarga Mahasiswa (PROKM) ITB 2009 menjadi penggagas berdirinya unit ini. Mimpinya adalah ingin membuat mahasiswa tau makanan sehat dan memperkenalkan cara memasak makanan (khususnya) ke mahasiswa ITB. Unit ini kami namakan Ganesha Memasak (GeM), dengan singkatan sebagai “pun” dari “gem” yang dalam bahasa Inggris artinya permata. Cuma selang 1-2 bulan setelah PROKM, yaitu sekitar Agustus-September, unit ini punya struktur. Mereka jelas jadi wakil dan ketua, beberapa teman lainnya dari PROKM juga pun maju sebagai sekretaris, bendahara, dan lain2. Saya? Perumus AD-ART (Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga, undang2 dasar untuk unit yang menentukan mekanisme perekrutan, pemilihan ketua, sistem ajar, keluarnya anggota, dll). Sayang sekali, itu cuma jadi wacana. Karena cuma 1-2 bulan ke depannya, ketika kami kembali termakan kesibukan, semua itu hilang. Satu persatu semuanya terdisintegrasi dan lebih sayangnya, ga ada yang merangkul. Saya pun ga bisa berbuat apa2 lagi. Saat itu saya juga mengiyakan. Kuliah proyek ekologi dengan 3 kali kuliah lapangan dan proyek biologi sel dan molekuler dengan 2 macam proyek saja sudah jadi beban skala besar. Dalam waktu sama, sudah ada beberapa anak angkatan 2009 udah berniat pada awalnya. Tapi akhirnya mereka pun hanya bisa dikecewakan.

Dua tahun berlalu. Di OHU 2011, saya pun bertemu 2 rekan saya tadi. Memasuki tahun keempat akhir, saya makin nganggur dan jam jalan2 saya selain skripsi membuat saya jadi makin bisa punya waktu buat icip2 makanan baru. Setelah sedikit bercanda, saya pun bilang sama dia bahwa saya masih mau GeM direalisasikan. Saya bertanya, dia pun juga masih mau sebenarnya. Tapi kali ini saya buat pengecualian, bahwa saya yang akan pegang penuh mekanisme pembentukannya. Tambahan dari saya, saya mengejar target bahwa anggota GeM bakal terpacu untuk menjelajahi kuliner di dunia, mendapatkan feel ketika masak, dan bisa menjadi pengamat kuliner juga. Jujur, untuk yang ketiga saya terinspirasi sama film favorit saya, Ratatouille. Ga nyangka, saya pun kerja hampir mirip kayak Anton Ego sekarang. Haha…

Dalam beberapa minggu kedepannya, saya berhasil “menerbangkan berita lewat angin” ke penjuru2 ITB. Menariknya, massa yang saya dapat mencapai 200an. Saya pun langsung berusaha melakukan inisiasi dan pertemuan pertama. Karena saya ingin mereka bertemu saya dan bisa diskusi. Kesalahan saya waktu itu sayangnya, saya melakukan seleksi anggota. Padahal seharusnya untuk unit baru, harusnya all open dulu baru nantinya terseleksi dengan sendirinya. Dari 200an, tersaring jadi 40an, sedihnya lagi, di rapat cuma datang belasan.

Kumpul pertama membahas ide awal dan persiapan untuk pemaparan AD-ART. Lalu pertemuan kedua tujuannya lebih ke pengakraban, lantas kami buka puasa bareng di D’Cost Bandung Indah Plaza.

_MG_1190

Inilah sesi “pertemuan” kedua.

Libur puasa, saya menugaskan mereka dengan proyek masak. Boleh bertim, hasil dipublikasikan ke Facebook grup unit. Jujur, saya salut dengan mereka yang niat masak. Pada akhirnya, saya dengan salah satu rekan saya memutuskan untuk memilih ketua unit. Karena dengan adanya simpul massa, diharapkan unit ini bisa punya struktur dan genggaman awal.

Maka ada 3 orang yang maju: Freyskania “Frey” Dairianta (2010), Gesti Saraswati (2010), dan Indera Aji Waskitho (2010). Lalu Indera mundur. Tersisalah 2 femme fatale itu. Setelah proses pemilihan yang kami lakukan, terpilihlah Gesti Saraswati, dari jurusan Planologi angkatan 2010 yang terpilih. Sekaligus proyek masakan buatan dia juga emang menang juara 1 dari penilaian kami.

GeM - Certificate - Gesti

Sertifikatnya udah ada lho.

Semua udah tersusun rapi, tapi semua berubah ketika saya wisuda dari ITB. Saya yang harus ke Jakarta, dan dua orang rekan saya tadi yang selalu sibuk dan susah dikontak plus kurang bisa masak pun membuat roda inisiasi unit ini berhenti. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan… akhirnya lagi2 rencana unit ini kandas. Jujur saya merasa sedih dan kecewa, bukan sekedar karena unit ini saya yang bentuk juga, tapi bayangkan mereka yang udah tersusun rapi konsepnya, udah ada ketua, tapi kemudian unit ini jadi ga jadi apa2. Di awalnya, saya kesal dan menyalahkan kedua orang rekan saya tadi. Mereka ide awal unit ini dari tahun 2009 itu, tapi kemudian mereka sendiri ga mau menggantikan saya atau seenggaknya mencari orang yang mau mengajarkan ke anggota soal kuliner. Berhentilah akhirnya mimpi itu. Saya jujur selama 1 tahun setelah itu saya menjadi antipati. Kenapa? Malu. Mereka sibuk? Ya kita semua di sini juga punya kesibukan masing2. Bahkan anggota2 ini. Semua sama sibuknya. Saya terlalu menyalahkan mereka? Ya saya rasa. Walaupun pelan2 saya berusaha untuk melupakan hal itu dan seharusnya saya bisa melakukan sesuatu. Tapi sayangnya saya ga bisa. Lulus dari ITB itu artinya saya harus berhadapan dengan dunia nyata. Mencari kerja dan mencari jalan untuk S2. Beruntung saya belum ada rencana nikah cepat2. Tapi saya bilang lagi, berat.

Setahun berjalan. Tahun 2012. Saya cuma bisa memperkaya diri sendiri soal ilmu kuliner. Saya sering masak dengan sohib saya si Dwiki dan Aji (dan kalo ke Singapura, Rino). Masak, potret, taro di FB dan socmed lain. Beruntung, saya pun belajar sesuatu dan apa yang saya kirimkan mendapat apresiasi yang bagus. FB saya berubah dari ke sekedar posting pribadi yang (galau) standar, lebih ke sharing. Saya pun belajar soal menguasai media secara pelan2 dan menarik massa. Beruntung juga, beberapa anggota lama GeM pun bisa mampir ke FB saya dan memberi apresiasi.

Tahun 2013, saya menghapus FB grup utama dari GeM, dan grup sekunder yang tadinya berguna untuk rekrutmen saya ubah jadi Forum Kuliner ITB. Sekedar open group para pecinta dunia kuliner di ITB untuk berbagi. Itu harapan saya.

Setelah saya menjadi kontributor online magazine ShoppingMagz.com, saya pun jadi lebih rajin menulis dan pelan2 saya berubah dari sekedar orang yang suka masak, jadi lebih ke arah penulis sesuatu tentang kuliner, food writer, dengan kata lain. Saya pun mendirikan blog kedua saya, AW Kulinerologi, dengan tujuan melatih kemampuan saya untuk menulis, dan menulis apa yang saya tidak saya bisa tulis di majalah: pandangan pribadi atas restoran dan tulisan yang lebih panjang. Saya pun kemudian mengundang teman2 saya untuk mampir ke blog itu. Hingga Frey pun saya invite. Kenapa dia aja? Karena seenggaknya cuma dia yang merespon ke postingan2 makanan saya. Invite di sini maksudnya saya undang langsung, yang lainnya juga saya undang kok, cuma ga saya samperin ke timeline nya secara langsung.

Frey pun membalas.

*pasang lagu: OST Pirates of The Caribbean 2 – Dead Man’s Chest: “Hello Beastie” -> yang scene bagian Capt. Barbossa muncul lagi di rumahnya Tia Dalma*

Screen Shot 2013-06-03 at 1.32.34 PM

Jadi… ada wacana bahwa unit itu akan mencoba bangkit lagi. Menarik… kali ini saya hanya mau turun sebagai tamu dan konsultan, biar mereka yang merancang dan saya ga mau ada campur tangan pendiri GeM lama juga. Kenapa? Saya mau GeM baru bangkit dengan idealisme yang lebih kuat.

Satu hal yang saya juga baru sadar, ternyata gaung dan gema soal pendirian GeM waktu itu di 2011 besar juga di ITB, jauh lebih besar daripada yang di tahun 2009. Bahkan denger2 majalah kampus ITB, Boulevard sempat menulis artikel soal ini. Wah…

Oke, dengan blog ini saya mengundang mahasiswa2 ITB yang mungkin punya cita2 sama kayak saya dan mau merealisasikan wacana dari Frey. Jika ada, kontak dia aja… atau seenggaknya kontak saya!

Menjadi mahasiswa, bukan berarti makan dengan kere lho. Tapi harusnya hanya dengan sepotong roti dan saus tomat, roti itu bisa aja jadi pizza!

Trivia: Kenapa nama blog itu Kulinerologi, bukan Kulinologi? Ini bukan saya salah kata. Sisipan “er” di situ kan artinya lebih, atau punya ekstensi (kayak “er” dan “est” di bahasa Inggris). Kenapa gak “est”? Karena jadi aneh ntar! Lagian saya mau lebih humble, dan dengan mencari yang lebih dan lebih, bukan langsung menjadi yang terbaik, saya ingin membawa pembaca ke bagaimana kita belajar menyelami dunia kuliner. Dengan tambahan, sentuhan, dan ekstensi seorang saya tentunya. :p

-AW-

Shiai

Shiai dengan bōgu ( = baju pelindung), saya aja masih belum boleh pake bōgu…

Langsung ke cerita, Taiyōmaru (太陽丸, Sang Lingkaran Matahari, lengkapnya sih Sabu-ku Taiyōmaru, さぶく太陽丸) di sini bukanlah nama orang, bukan nama anjing juga (kalo ada yang menyambungkannya ke nama anjing ninja di Ninja Hattori, Shishimaru). Itu adalah nama daitō shinai (大刀竹刀), pedang bambu panjang yang saya punya yang selalu menemani saya untuk latihan kendō. Ya, saya ikut kendō, aliran senjata pedang dari Jepang yang merupakan turunan dari kenjutsu. Kendō (剣道) sendiri secara bahasa terdiri dari ken (剣) dan (道) yang bisa diartikan menjadi pedang dan aliran/jalan filosofi.

Sejarah singkat sebagai latar belakang, saya ikut kendō sebenarnya ceritanya berawal dari ketertarikan sama ilmu pedang dan inspirasi dari Roronoa Zoro di manga One Piece. Saya dulu sempat mendaftarkan diri di ITB walau hanya ikut sebentar di unit kendō situ gara2 kewalahan sama kesibukan tahun pertama. Kurikulum ITB 2007 ada 3 praktikum untuk tahun persiapannya.  Waktu itu saya baru belajar kamae-samae (langkah mengeluarkan pedang ke posisi siap (kamae-tō) dan menaruhnya kembali ke posisi istirahat (samae-tō)), suri-ashi (すり足) atau menyeret kaki, yang menjadi dasar. Kemudian sempat belajar mengayun bambu (belum boleh pegang shinai) untuk pukulan men (面, ke arah ubun-ubun kepala dari topeng pelindung). Apa yang menjadi drive saya waktu itu masih sederhana: nyoba2, dan syukur2 bisa ngeluarin jurus keren. Lebih lagi, saya akhirnya tau ada yang namanya sistem pedang ganda atau nitōryu (二刀流). Senpai (atau senior) saya, Pandu, waktu itu bilang… yang jelas itu susah. Saya mengerutkan dahi. Masa sih?

Karena kesibukan kampus, akhirnya saya vakum… selama hampir 6 tahun. Ntah, mereka yang pernah ambil kendō bareng saya mungkin aja udah lupa. Bahkan para senpai saya.

Setelah 6 tahun, dan didorong untuk mulai lagi, saya pun bergabung ke klub latihan kendō di UI. Klub ini berencana untuk menjadi unit, tapi saya diajarkan para senpai yang ternyata lebih muda dari saya, Adit (angkatan 2009), Tama (sang ketua, 2010), Rinov (2010), Ian (2010), dan beberapa lainnya. Saya ikut bareng Dwiki dan Aji.

Setelah inisiasi suri-ashi lagi selama 2 pertemuan, latihan men, dan beberapa stance awal (duduk seiza, mokusō, dan rei). Tapi bersama klub ini, saya belajar teknik pemanasan yang baru saya dapatkan: gaya tebasan atas-bawah atau jōge suburi (上下素振り), sentakan ke arah ubun2 atau shomen suburi (書面素振り), tebasan semi-diagonal ke samping topeng pelindung atau sayumen suburi (白湯面素振り), dan tebasan atas bawah dengan cepat atau haya suburi (早素振り).

Selang beberapa bulan, saya pun dipertemukan dengan si Taiyōmaru. Setelah saya lepas segel merahnya, para senpai saya dan temen2 yang lain pada angkat shinai dan “ngajak kenalan”. Saya pun jadi motodachi (istilah kendō: dia yang berperan sebagai penahan tebasan untuk latihan tanpa melibatkan alat pelindung lengkap). Yeah, Taiyōmaru pun menjalankan peran pertamanya.

Waktu terus berjalan. Si pedang bambu ini saya sadari perlahan2 membawa saya ke pengetahuan dan filosofi yang lebih dalam. Tetap berpegang sama mimpi saya untuk bisa jadi kendoka nitoryu ntah kapan, tapi saya terbawa untuk semakin berusaha untuk bijak dalam berpikir.

Pelajaran pertama:

Ian: Saat nebas, jangan kelamaan mikir. Setelah hitungan kedua, bersamaan sama suri-ashi ke depan, langsung tebas!

Tebasan men itu butuh skill, presisi, kecepatan, dan tenaga untuk diterapkan. Kesalahan umum adalah orang lupa menarik badannya ke depan sebelum menebas, dan ada jeda antara mengayun shinai ke atas sebelum dilecutkan untuk men, seolah mikir dulu. Semua ini harus dengan spontan dan kecepatan. Waktu latihan waktu itu bareng Taiyōmaru, saya pun sadar. Dalam beberapa aspek hidup, saya kebanyakan mikir. Saya suka ragu di titik terakhir eksekusi. Sederhananya ini: Saya pernah mau memecahkan balok bata. Deedo, teman saya, mengarahkan saya bahwa memukul harus dengan hentakan bertenaga yang cepat. Saya? Awalnya saya cepat tapi melambat, seolah otak saya lebih mementingkan “Nanti sakit” atau “Nanti luka” atau semacamnya. Saya tidak boleh seperti ini. Saya harus bisa menjalankan apa yang harus saya jalankan. Saya harus lebih tegas.

Beruntung, walau masih harus tetap saya asah, saya makin spontan atas menjalankan ide2 di pikiran saya. Keraguan adalah lawan. Biar begitu, pemikiran tetap harus dilakukan, tapi sebelum eksekusi, bukan saat eksekusi.

Pelajaran kedua:

Adit-senpai: Lo mau nyoba pake men* kan?

Saya: Iya…

Adit-senpai: Oke, nih pake *sambil memakaikan men* Terus, pake kote** ya! Kita shiai***!!

Saya: APA??

Adit-senpai: Gantian lah, masa gw mulu yang jadi dummy?? Sekalian nyobain rasanya pukulan men kalo pake men. *nengok ke Tama* Tama, lo jadi jurinya ya!

Tama: Sip…

<akhirnya kami siap2>

Adit-senpai: Dit, kamae lo yang bener dong!

<mulai, kena 3 men, 1 kote, untung saya ga pake dō****, lebih parah lagi, kena tsuki*****>

Adit-senpai: Dit, kamae lo ngaco. Lo kebuka banget! Makanya gw bahkan bisa tsuki.

Tama: Lo kena kiai****** udah ciut yak?

Keterangan:

* = men (面) itu adalah topeng pelindung, pukulan men dianggap sah kalo kena ubun2 tanpa interupsi.

** = kote (小手) adalah sarung tangan pelindung, pukulan kote sah kalo kena bagian itu tanpa interupsi.

*** = shiai (試合) adalah pertarungan atau kompetisi dalam bahasa Jepang.

**** =  (胴) adalah pelindung perut dan dada, pukulan do sah kalo kena sisi kanan/kiri perut tanpa interupsi.

***** = tsuki (突き) adalah tusukan ke bagian tenggorokan lawan, biasanya akan kena bagian tenggorokan dari men, berguna buat mengancam lawan dan juga menjadi acuan bahwa pertahanan tengah kita bolong.

****** = kiai (気合い) adalah teriakan menyerang, saat melakukan tebasan men, kote, do, dan tsuki, kita harus menyebutkan ini atau kita ga dinilai juri saat shiai, selain itu juga ada teriakan yang mungkin kita tau seperti “Hiaaaaatt!!” sambil menyerang lawan yang jelas tujuannya adalah menjatuhkan mental lawan.

Tamparan keras buat saya, saya masih gampang terpengaruh oleh serangan psikologis. Gaya kamae saya yang menjadi dasar saja sudah salah, jelas aja Adit-senpai bisa nyerang dengan gampang. Apalagi kena tsuki, pertanda sempurna bahwa bahkan titik tengah saya udah bolong dan saya lengah.

Shiai sama Adit-senpai ini cukup gila. Taiyōmaru pun sampai renggang talinya. Beruntung dia gapapa.

Saya harus belajar untuk menguatkan mental dan bertekad keras untuk menjalankan apa yang harus saya lakukan, dan ga boleh gampang terdistraksi serangan psikologis dari sekitar saya yang berdampak ke goncangan emosi saya. Banyak dampak yang bisa dihasilkan dari ini.

Misal: Cowo mau nembak cw. Kalo mental dia hari itu udah jatuh dari saat dia ketemu saja dengan si cw, kayak si cw seolah ngeluarin kiai dengan suara indahnya dan instead of dengan tatapan mata yang menakutkan tapi dengan tatapan yang indah, well… sehebat apapun track PDKT, jangan harap semua berakhir baik.

Yeah, tapi itu cuma contoh kasus… fiktif. Tapi itulah, mental dalam pengerjaan sesuatu memang harus stabil. Lawan di hidup ini bukan cuma lawan yang mengancam kita, tapi pertanggungjawaban ke mereka yang butuh kita lindungi dan sayangi, dan kegigihan kita akan sesuatu akan selalu diuji.

Pelajaran ketiga:

Adit-senpai: Sekarang kita kakari (geiko) ya. 10 kali terus muter. Serangan men non stop. Serang, maju, balik badan, serang lagi, dan seterusnya. Ga boleh berhenti!!

Kakari geiko (素振り) adalah sesi latihan serangan intensif (terus menerus) dan pendek yang tujuannya adalah untuk melatih kesiagaan dan kesiapan, serta membangun jiwa dan stamina yang kuat.

Hari itu, baru kali ini saya ngerti. Agak obvious sih dan harusnya dari awal, cara menyerang utama dalam kendō kan adalah dengan tangan kiri. Saya harus genggam ujung shinai, si Taiyōmaru, dengan tangan kiri dengan kuat. Tangan kanan hanya mengarahkan.

Sepuluh kali masing2 (20 total) serangan men dengan kiai dan suri-ashi cepat ke Adit-senpai dan Rinov-senpai, itu bener2 capek. Saya sampai sesak napas, dan badan bagian kiri saya gemetaran. Memang mungkin karena saya masih belum biasa. FYI, suri-ashi itu yang mendorong adalah kaki kiri. Jadi bagian tubuh kiri saya kali ini benar2 diuji.

Saya jadi belajar sesuatu. Khususnya adalah ke fungsi kiai itu sendiri dan latihan short-term-focusing dan accuracy-power-gaining in second. Saat kita capek, ternyata teriakan kiai itu benar2 bisa mendorong kita untuk maju lagi. Wajar kalo kita bisa lihat di anime bahwa tokoh pemainnya yang sudah mau mati pun bisa menyerang dengan kuat dengan segala alasan yang membuatnya harus bertarung dalam satu serangan dan satu teriakan. Sisanya saya belajar bahwa kesigapan dalam waktu singkat itu penting. Apalagi dalam memimpin, baik memimpin diri, dan orang lain (tim). Jika kita lama dalam memutuskan, bisa aja semuanya berakhir berantakan.

Contoh kasus: Seorang pilot dalam keadaan darurat. Segala instrumen peringatan berbunyi, diri kita panik, pemandangan visual bisa saja berantakan. Tapi pilot harus tenang dan bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Mengendalikan pesawat, mengatur instrumen terbang, dan utamanya… mengendalikan situasi. Karena jika panik, nyawa ratusan penumpang bisa melayang termasuk kru dan dirinya sendiri. Dengan berpikir jernih dalam keadaan bahaya sekaligus, pilot ini bisa saja membalikkan situasi dan membuat para penumpang memberikan tepuk tangan setelah mendarat dengan tenang.

Hehe… sudah lumayan yang saya dapatkan. Semoga saya bisa dapatkan ilmunya lagi. Saya masih mau belajar kendō lagi sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi, dan saya ingin bisa nitōryu. Sesusah apapun kata senpai saya, biar saya sendiri yang menentukan seberapa susahnya itu. Terus maju, menyerang dan menyerang. Karena di kendō ada prinsip: 防御のための防御なし。(Ja: Bōgyo no tame no bōgyo nashi = tidak ada istilah bertahan untuk bertahan). Untuk bertahan, menyeranglah, atau majulah.

Kendō, yang jelas mengajarkan untuk menguatkan mental, menghormati lawan, membangkitkan kepercayaan diri, dan menjaga diri agar tetap rendah hati, bukan untuk menyerang dan menyakiti. Karena kenyataannya, shinai itu sendiri tidak dibuat untuk melukai lawan.

Taiyōmaru, tolong bawa saya ke sisa perjalanan saya. Semoga di tiap tebasan ke lawan, ada kebijaksanaan yang selalu bisa dipetik. Juga, pertemukan saya dengan saudara mu yang belum muncul… Tsukimaru (月丸, Sang Lingkaran Bulan).

-AW-

Kalau pembaca sekalian suka membaca tulisan2 saya tentang makanan di blog ini, mampir aja ya ke blog buatan saya yang saya dedikasikan khusus tentang makanan:

http://awkulinerologi.wordpress.com

Blog ini sisanya akan saya isi dengan ide2 dari saya yang akan saya kirim begitu ada yang keluar di otak saya! Hehehe…

Enjoy!

-AW-

Sebenernya tulisan ini saya buat cuma sebagai tanda ucapan terima kasih saja untuk para pembaca yang setia mengikuti (following) blog ini atau secara random suka bolak-balik atau… mungkin suka nyasar ke sini? Ya apapun lah itu!

Intinya! Saya mau bilang terima kasih sebesar2nya karena kalian, saya yang udah lewat 44 post (tambah ini jadi 45), blog ini telah menembus angka 1000 hits!

Kedepannya, saya akan berusaha membagikan pengalaman2 saya, karya2 aneh dari otak saya, dan juga inspirasi2 yang bisa dibagikan kepada kalian, pembaca yang saya hormati.

Untuk rencana blog saya yang berbahasa Inggris itu… ummm… errr… sejujurnya saya ga tau mau kapan mulai nulisnya. Yang jelas kayaknya saya mengurungkan niat buat menulis ulang dari awal karena ternyata menerjemahkan satu saja udah makan waktu. Jadi untuk yang satu ini, saya mau minta maaf karena mengecewakan kalian…

For everything else, saya harap kalian tidak bosan buat baca2 blog saya ini terus!

Best Regards!

-AW-

—-

Iklan lagi aah: Baca majalah online satu ini ya! ShoppingMagz issue #8 – April 2013

Mumpung suasana masih cukup segar dengan segala kehebohan Ujian Nasional (UN), saya akan bahas masalah dunia pernilaian di sistem akademik kita bedasarkan sudut pandang saya sendiri.
Nilai & NIM

Rage comic: Nilai & NIM, buatan saya sendiri (emang udah ada yang posting di Kaskus, di YeahMahasiswa, atau di manapun kalo ada yang repost, kalo ga percaya cari aja di Google Search NIM ini (keyword: 10607032, NIM, ITB) salah satu yang muncul pasti nama saya!)

Oke kita mulai, percaya atau ngga… rata2 tiap saya ngobrol sama adek kelas saya, buat mereka yang namanya angka di nilai itu sangatlah penting, bahkan ada yang bilang “sakral.” Coba kita cek… saya beberapa saat lalu nanya ke beberapa responden (yang namanya ga bakal saya sebut)…

Anak SMP: Kalo aku nilainya jelek, mama bisa bunuh (baca: marah2) aku!

Anak SMU: Sumpah aku kesel nilainya jelek, masa aku kalah sama *temen anak ini*?? Padahal aku udah belajar mati2an!

Anak kuliahan: Nilai itu penting lah! Kalo IPK ntar jelek, mau kerja di mana coba??

Mari kita rangkum maknanya, bagi anak SMP nilai itu adalah bentuk presentasi yang bisa dipersembahkan kepada orang tua. Ya, saya tau rasanya kok. Apalagi pas saya SD dulu kalo nilai saya jelek, saya takutnya setengah mati. Soalnya saya ga bisa bohong dan pasti nunjukin nilai saya ke ortu begitu ada. Pulang sekolah, saya gemetaran. Pas SMP, saya pernah nyembunyiin nilai dulu, pas mood bapak atau mama saya udah bagusan, baru saya tunjukin. Respon saya setelah itu adalah secara otomatis duduk ke meja belajar dan belajar lagi.

Pas SMU, nilai itu adalah ajang kompetisi dan harga diri! Anak2 SMU adalah mereka yang sedang dalam tahap mencari jati dirinya. Karena itu, persaingan adalah sesuatu yang seru! Bersaing untuk apa? Untuk bisa jadi murid favorit guru, untuk bisa pamer ke lawan jenis dan begitu mereka kagum, mereka jadi pengen belajar sama kita (SAYA BANGET!), untuk bisa diakui sama temen2 (parahnya, bisa jadi… untuk bisa diakui sebagai sumber contekan ama temen), atau semacemnya. Puncaknya, nilai ini berguna untuk beasiswa bagi ada yang mau ambil demi biaya perguruan tinggi.

Bagaimana dengan era perkuliahan (S1)? Nilai2 itu adalah stok masa depan. Untuk mencari kerja, untuk mencari beasiswa S2, bahkan untuk melamar pasangan pun kadang perlu IPK!

Terus bagaimana? Buat saya… nilai itu lebih besar maknanya dari sebuah parameter kompetisi belaka!

Ada yang nonton film India yang judulnya 3 Idiots?

Threeidiots2

AAL IZZ WEEEELLL!

Rancho/Wangdu di sini mengajarkan kepada kita dan membuktikan sama si presiden kampus, Virus, bahwa hidup dengan kompetisi dengan sekedar beracuan nilai itu salah dengan cara meminta seisi kelas (termasuk si Prof. Virus) mencari dalam 30 detik arti kata FARHANITRATE & PRERAJULISATION di buku manapun! Hasilnya? Ga ada satupun yan bisa! *spoiler alert*

Rancho: “No one get the answer? Now rewind your life by a minute. When I asked this question, were you excited? Curious? Thrilled that you’d learn something new? Anyone? Sir? No… you all got into a frantic race. What’s the use of such method, even if you come first. Will your knowledge increase? No, just the pressure. This is a college, not a pressure cooker. Even a circus lion learns to sit on a chair in fear of the whip. But you call such a lion “well trained”, not “well educated”

Virus: “Hello! This is not a philosophy class! Just explain those two words!”

Rancho: “Sir, these words don’t exist. These are my friends’ name, Farhan & Raju.

Virus: “QUIET! Nonsense! Is this how you’ll teach engineering??”

Rancho: “No, sir. I wasn’t teaching you engineering. You’re an expert at that. I was teaching you how to teach and I’m sure one day you’ll learn. Because unlike you, I never abandon my weak students. Bye, sir!”

Lihat? Belajar itu harus berakar dari rasa suka atas bidang yang kita ambil. Sejak kita SMU, kita mungkin ada yang mengalami penjurusan ke kelas IPA, IPS, atau mungkin ada yang Bahasa. Di kuliah, kita sudah memilih fakultas dan jurusan di dalamnya dari awal. Memilih… kitalah yang memilih. Kalaupun kita terpaksa, salah jurusan akibat penjurusan oleh fakultas, diminta oleh orang tua. Ngga seharusnya kita semua meratapi. Hei, hidup ini bukan penyesalan! Hanya pembelajaran dari waktu ke waktu!

Saya sendiri, sudah mendalami bidang sains sejak SMU itu karena saya tumbuh di bawah ajaran almarhum kakek saya yang sejak kecil sudah mengajarkan astronomi dan biologi sederhana tentang kesehatan, bapak saya sendiri adalah lulusan teknik mesin walaupun sekarang menjadi sales director, beliau diwaktu saya kecil terbiasa memperbaiki alat2 di rumah, dan mama saya adalah seorang dokter gigi yang sejak kecil selalu peduli urusan gigi, makanan, dan obat2an saya. Itu saya… saya tau ga semua orang melewati ini. Tapi apa yang saya pelajari? Saya cinta dengan sains karena dengan sains saya merasa semakin dekat dengan pengetahuan di alam yang Allah berikan kepada kita semua. Ya, kadang nilai saya jelek. Saya akui NUN (Nilai Ujian Nasional) SMU saya pas2an, dan IPK saya juga. Tapi apa saya menyesalinya? Tidak… Saya bangga bisa dapat sesuatu di luar kebanyakan orang.

Saya mempelajari bahwa untuk bisa mencintai ilmu kita, kita harus membawanya dengan imajinasi. Simpelnya, saat kita jatuh cinta sama seseorang, kita pasti membayangkan orang itu berdua selamanya dengan kita dan semacamnya kan? Saya? Saya yang terus terang sejak kecil suka manga Jepang, Doraemon, Ninja Hatori, P-Man, beberapa seri Digimon, dan Cyborg Kurochan, lalu berlanjut dengan kecintaan saya terhadap beberapa seri fiksi ilmiah, Star Wars, Avatar (film), Alien Quadrilogy, The Island, StarCraft Series, Portal, Half Life dan sebagainya pun mempelajari bahwa mimpi kita dengan sains adalah gerbang masa depan. Coba bayangkan imajinasi Fujiko F. Fujio yang sudah membayangkan TV Waktu yang ukurannya sederhana di jaman 70an itu. Sekarang, kita ada laptop yang bahkan ukurannya lebih tipis, dan banyak orang yang punya, termasuk saya saat mengetik blog ini! Lihat, betapa kuatnya imajinasi seseorang! Bahkan game saja (misal Half Life dan StarCraft) itu banyak ide2 yang dituangkan di dalamnya dan menunggu untuk direalisasikan dengan sains atau dijabarkan dengan sains!

Saat kuliah, saya belajar bahwa seni-teknologi-sains adalah satu tubuh, sama dengan helm-baju zirah-pedang di medan pertempuran. Sains tanpa teknologi, ga ada gunanya kita belajar sains. Sains tanpa seni, kaku. Teknologi tanpa seni, ga laku! Maksudnya jadi apa? Ketika belajar sesuatu, bayangkanlah! Gunakan imajinasi kalian! Saat saya belajar fisika, saya membayangkan bagaimana konsep gauss gun, partikel yang lebih cepat dari cahaya, suhu terendah di alam semesta, lalu di kimia saya membayangkan apa yang terjadi jika struktur dasar kita bukan karbon tapi silikon, apa yang terjadi jika orbital ada lebih dari g (kan ada s, p, d, f untuk saat ini), dan di biologi… LEBIH BANYAK LAGI, dan inilah yang membuat saya kuliah di biologi. Kesimpulannya? Dari satu ilmu, satu teori, bayangkanlah apa yang bisa kita dapat, apa yang bisa kita genggam, jika ilmu itu semakin tinggi, hingga kita bisa melakukan apapun?? Bukankah imajinasi yang membawa kita ke masa depan dengan ilmu yang kita punya sekarang?

Selesai kuliah, saya menemui orang2 dengan latar berbeda. Bidang sosial dan sastra, orang2 ini menjadi teman terdekat saya juga. Saya mulai belajar (baca ini), bahwa segala sesuatu karya manusia itu memiliki makna. Bahkan mitos, legenda, takhayul, dan mungkin misteri2 di sekitar kita itu semua ada penjabarannya (baca contohnya di sini) lho! Di jaman dahulu, segala sesuatu dibuat dengan konsep yang wah! Berbeda dengan kita yang hidup dengan keinstanan dan terlena dengan makna yang serba praktis. Kita pun jadi mudah mengiyakan sebuah informasi. Kita tahu saat ini informasi yang kita dapat itu ada banyak dan belum semuanya benar!

Kembali lagi ke bahasan awal… maka dari itu, saya mau kita semua, memaknai ilmu yang kita dapatkan lebih dari sebuah nilai yang bertuliskan A, B, C, D, E, atau angka2! Ketahuilah apa yang kalian pelajari, maknanya, dampaknya, gunanya, sehingga ga jadi kosong. Senang hatilah jika kalian diajari sesuatu. Kita sebagai manusia dianugerahi kemampuan yang sangat banyak. Segala sesuatu ini bukan masalah bisa atau tidak, tapi mau atau tidak mau. Bapak saya pernah bilang…

“Ga ada yang susah di dunia ini, challenging iya… tapi ngga susah.”

Agama saya, Islam, mengajarkan bahwa segala ujian yang kita terima saat kita hidup itu ga akan melebihi batas kemampuan kita sendiri dan Allah meminta kita untuk selalu berpikir dan terus mencari tahu. Surat pertama di Al-Qur’an pun bunyinya “Iqra'” atau “Bacalah!” Agama lain saya rasa juga begitu. Atheis? Saya rasa orang2 atheis justru adalah mereka yang sangat kritis untuk mencari tahu. Masa kita yang beragama kalah?

Jadi, tolong gunakan rasa penasaran kalian untuk terus mencari. Bukan sekedar berkompetisi. Ketahuilah apa yang kalian pelajari. Cintailah, maka kalian akan mendapatkan makna dari ilmu kalian. Maka kalian akan tahu sebuah makna, lebih dari nilai di atas kertas yang terus jadi masalah di negara kita. Masa depan kalian itu lebih dari sekedar tulisan nilai UN kalian, kawan! Tapi nilai tunjukanlah bahwa nilai kalian itu tinggi, karena kalian mengerti, terlebih lagi menjadi ukuran cintanya kalian terhadap ilmu kalian!

Nilai 100 tersempurna didapat jika kalian belajar dan mengerti sekali apa yang kalian pelajari. Nilai 100 yang biasa hanyalah untuk mereka yang menganggap ilmu itu pelajaran yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri, keluar SMU atau kuliah menguap semuanya. Nilai 100 kalian adalah yang sempurna kan?

Jadilah insan terhebat yang menguasai sains, teknologi, dan seni, demi agama kalian. Kita butuh orang seperti ini di dunia demia masa depan yang lebih baik.

Tulisan di blog ini saya persembahkan buat adek2 kelas saya yang hebat yang baru dan akan UN nantinya, Gibran, Sarah, Afif, Galih, Abi, Albar, Umar, Vanny, Sajeela, Kinasih, Joma, Fattah, dkk. Serta untuk para guru saya di SMU yang luar biasa, Almh. Bu Yanti, Pak Hari Prasetyo, Pak Yosserin, dan Pak Gito. Yang karena mereka, kecintaan saya terhadap sains semakin tinggi!

Cheers!

AW

————-

Iklan: Baca majalah ini yak! Hehehe… ShoppingMagz #8 – Edisi April 2013

Siapa yang ngga tau istilah “Tugas Akhir” atau TA? Istilah ini kadang menjadi hal yang cukup mengerikan di mata para mahasiswa yang akan lulus. Bagi ada yang belum tau, TA adalah serangkaian proyek penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data yang akan ditulis di skripsi/tesis/disertasi, dan di cerita ini tentu aja… skripsi. Mendengar cerita teman saya, banyak yang mati2an kerja demi TA, gonta-ganti topik, revisi karena ga disetujui pembimbing. Gitu deh, horror kan? Terus gimana menurut saya? Ya buat saya ini adalah cerita paling epic yang menjadi titik ubah hidup saya! Kenapa? Karena saya penelitian TA nya di National Institute of Education – Nanyang Technological University (NIE-NTU), Singapura selama 1 minggu lebih! Dari cerita ini, saya akan menceritakan asal-muasal munculnya nama yang saya refer di blog ini sebelumnya yang juga menjadi drammatis personae di cerita ini: Dr. Totik Sri Mariani M.Agr (Bu Totik, dosen pembimbing TA saya; inisial di percakapan cerita ini: TSM), Dr. Any Fitriany (Bu Any, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, UPI, Bandung; kolega nya Bu Totik, inisial: AF), dan Associate Professor (Profesor Muda) Tet Fatt Chia (Prof. Chia, peneliti dan dosen NIE NTU, inisial: TFC).

Kita mulai perjalanan cerita ini! *jeng jeng jeng!!*

Saya di Singapura

Saya di samping Merlion. Ga usah nanya kenapa bajunya malah Bali. Foto ini diambil Bu Any.

Saya berangkat 1 Oktober 2010 ke Singapura. Kondisi saya agak kacau waktu itu. Momen saya putus dengan mantan pacar saya yang pertama akhir Agustus masih cukup segar di kepala saya. Malam sebelum pergi pun saya berharap pergi ke Singapura ini akan jadi “hiburan” tersendiri, dan saya pun memutar lagu di laptop saya, “Wake Me Up When September Ends” oleh Green Day. Terus bagaimana cerita saya bisa pergi ke Negeri Singa ini? Oke, flash back.

Bulan Mei 2010, saya masih semester 6 kuliah saya dan ada mata kuliah yang disebut Metodologi Penelitian (Metpen) yang di ujung kuliah ini kami dipersiapkan untuk menulis proposal tugas akhir. Tak terkecuali saya, yang dengan random-nya membuat proposal mengenai semangka tanpa biji. Proposal ini akan diajukan ke para dosen narasumber yang jadi dosen pembimbing tugas akhir. Saya yang baru tau penelitian saya adalah dengan Bu Totik, saya langsung menemui beliau… dan cukup absurd. Kenapa? Temen2 saya yang denger saya dibawah bimbingan beliau pada kaget. Beliau itu adalah dosen yang terkenal sangat pendiam terhadap para (plural ya) mahasiswa yang diajarnya sekalipun. Oke, lalu saya menemui beliau…

AW (saya): *ketok pintu* Permisi, bu…

TSM: Kamu ini siapa ya?

AW: Saya Adit, bu… bedasarkan pemberitahuan di dinding TU (Tata Usaha), ibu adalah dosen narasumber saya…

TSM: Oh, kita ketemu besok ya, saya sedang sibuk sekarang.

AW: Baik bu…

Besoknya saya pun menghadap beliau lagi, dan beliau membawa saya ke ruang rapat yang di dalamnya ada Bu Tita Puspita, teknisi Lab Fisiologi Tumbuhan yang super gaul dan legendaris, dan Bu Any. Baru saya duduk, Bu Totik langsung menjelaskan rencana penelitian kami yang akan dilakukan di Singapura. Dan dengan “lugunya”, saya bertanya…

AW: Bu, artinya penelitian kita akan dilakukan di Singapura?

TSM: Iya, betul…

Saya mencoba menahan rasa ga percaya  bercampur senang saya. Selepas kumpul, saya diskusi dengan Bu Tita dan beliau bilang bahwa sebaiknya saya ikut proyek beliau (Bu Totik) aja untuk TA saya. Wow, bahkan saya ga perlu ngajuin proposal! Lucky!!

Saya turun ke lantai dasar gedung kampus saya, dan semua pada ga percaya. Wajar… ini gila soalnya…

Setelahnya hingga saya berangkat, saya latihan inisiasi tanaman Aglaonema (itu, tanaman hias yang daunnya warna-warni) untuk kultur jaringan. What did you know? Gilanya adalah untuk ke Singapura ini saya perlu spesimen tanaman ini sebanyak 1000 tunas! Seribu, para pembaca sekalian… SERIBU! Tapi tenang, ini bukan 1000 candi… ini masih mungkin. Tapi ternyata ini hanya latihan yang Bu Totik minta saya untuk latihan agar saya bisa menguasai dasar metode kultur jaringan secara steril. Bu Tita lah yang dengan sakti dan cekatannya, bagai Kaminoan Cloners di Star Wars, mampu menginisiasi 1000 tunas lebih dalam eksten Mei-September 2010.  Saya pun mengamati laju pembentukan tunas (banyaknya tunas yang muncul dari 1 gugus tunas yang terpisah di setiap subkultur) dan membuat grafiknya untuk saya serahkan ke Bu Totik.

Memang apa sih penelitian ini? Jadi kami berencana mengamati proses mutagenesis (pembentukan mutan) tanaman Aglaonema yang diinduksi dengan senyawa kimia yang bernama N-nitrosometilurea (NMU); tadinya mau pakai etil metana sulfonat (EMS) tapi ga jadi karena diklaim kurang efektif. Lalu kenapa mutan? Kami berencana membuat Aglaonema var. Kochin menjadi berwarna merah putih dari tanaman induk yang berwarna merah dan hijau. Dengan kata lain kami ingin memblok gen yang mengenkripsi klorofil (pigmen hijau daun) dan antosianin (pigmen merah-biru di tanaman) secara mutagenesis acak.

Aglaonema Kochin

Aglaonema varietas Kochin yang murni, belum diubah. Dokumentasi pribadi.

Memang apa yang diharapkan dengan hasil penelitian ini? Tanaman ini adalah tanaman hias kan? Bayangkan aja, kita bisa jual di acara2 hari besar RI seperti 17 Agustus. Untuk ini kita perlu bangun nurseri, dan karena ini kita bisa menarik tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Lalu? Kita jual ke negara tetangga kita, Singapura, yang kemerdekaannya ga jauh dari tanggal itu, 9 Agustus. Dengan ekspor, kita mendapat devisa.

Kembali ke timeline awal. 1 Oktober, saya berangkat ke Singapura dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) sendiri, naik pesawat AirAsia ke Changi International Airport (SIN). Para dosen (Bu Totik & Bu Any) naik dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung (BOD). Tapi untunglah, saya bisa melawan rasa takut akibat acrophobia saya (takut ketinggian) karena baca doa, makan turkey sandwich, dan ultimately, a must-try, Uncle Chin’s Chicken Rice! Nasi dengan infusi kaldu ayam dan bumbu, dengan irisan ayam panggang yang berbumbu bawang putih, cabe (saya rasa cuma sedikit, kurang terasa), dan jahe yang khas yang di letakkan atas nasi. Memang rasanya agak kering karena ini adalah makanan pre-heat pesawat, cuma rasanya enak banget!! Saya merogoh kocek sekitar Rp 35 ribu rupiah, atau SGD 5.00. Tersedia di penerbangan Indonesia AirAsia (QZ).

Inflight Menu - Chicken Rice

That Epic Goodness. Gambar di crop dari sini.

Sesampainya di Changi, saya ambil barang, ketemu Bu Totik dan Bu Any, lalu naik taksi ke NTU. Rasanya cukup awkward buat saya, baru kali ini saya pergi untuk penelitian bareng dosen. Saya ngrasa terisolasi dari teman2 saya yang berada 700 Km di selatan sana. Perjalanan cepat naik taksi ini pun membuat saya berpikir, gimana ya biar gak galau? Secara random, taksi ini nyasar ke Nanyang Polytechnic karena misinformasi. Selang beberapa lama, tibalah kami di area NTU, Hall of Residence 8. Ini adalah kompleks asrama mahasiswa NTU. Bu Totik check in dan memberikan saya kabel LAN. Kami naik tangga, menyusuri lorong, naik tangga sampai lantai 3, dan tibalah kami di modul tamu asrama ini. Tempatnya cukup wah seperti apartmen mini. Ada dapur, mesin cuci, tempat jemuran dalam ruangan, ruang TV, meja makan, 2 kamar termasuk 1 master room untuk Bu Totik dan Bu Any, dan 1 single room buat saya. Di dalam kamar ada 1 AC, meja belajar, 1 tempat tidur personel, dan lucunya… ada kipas angin. Ada AC ada kipas angin… aneh juga pikir saya waktu itu. Kamar ada di lantai 2, ruang kumpul dan dapur tadi ada di lantai 1. Di pojokan lantai 1, di samping meja makan, dekat rak sepatu, ada pojok kosong yang ada colokan kabel LAN. Beberapa hari kedepan, itu akan jadi “tempat mojok” saya buat internetan. Beres unpacking, kami ke NIE buat menaruh kultur Aglaonema yang dibawa, makan (gila lah… kantinnya ada McD, Subway, KFC, dan Sakae Sushi! Lebih sakti lagi, McD nya lagi promo… mereka jual Double Fillet ‘o Fish, Double Chicken Burger, Double Cheeseburger, dan sadisnya… Mega Mac… Big Mac adalah burger susun 2, maka Mega Mac adalah Big Mac susun 2, 4 burger jadi satu! Tapi saya ga beli karena bakal mabok kekenyangan), lalu kemudian saya ke minimarket kampus buat beli adapter listrik lubang 3.

Noraknya… malam itu saya galau parah. Oke, lupakan soal ini… cukup tau clue nya aja.

Besoknya adalah momen yang gila. Pernah ga sih kalian terpikir jalan2 sama dosen saat nugas? Ya inilah momen yang saya alami! Tanggal 2 Oktober adalah hari Sabtu. Kami bertiga jalan2 ke Merlion dibawah langit biru dan cahaya matahari yang terik. Seenggaknya ditemani lagunya Miranda Cosgrove yang diputar di telinga saya pagi itu, “Raining Sunshine” (OST nya Cloudy With A Chance of Meatballs; film yang saya tonton pas saya di kamar, hari pertama ini). Sorenya, di social media, Plurk, di salah satu postingan rekan seangkatan saya, saya ketemu seorang gadis, adik kelas saya angkatan 2010. Lucunya, 2 bulan kemudian dia jadi pacar saya (sekarang mantan saya). Emang, kadang hal2 tak terduga bisa terjadi lho di hidup kita!

Besoknya, saya menemani ibu2 dosen ini ke Singapore Zoo. Cuacanya super lembab.

Crowned Stork

Ini adalah salah satu penghuni Singapore Zoo, African Crowned Stork. Hasil jepret sendiri.

Must-try menu? Coba Fish n’ Chip dan Sandwich di cafe mereka! Ah iya! Cobain jus di botol panjang yang aneh. Botolnya bisa disimpan buat suvenir lho!

Senin, 4 Oktober 2010. Penelitian dimulai! Untuk pertama kalinya, saya bertemu Prof. Chia. Hari pertama kami baru briefing dan di bawah bimbingan Prof. Chia, kami mulai menyentuh alat yang bernama particle gene gun (pistol partikel gen). Woohoo… ini sci-fi banget! Kerennya, alat ini dibuat atas spek permintaan Prof. Chia sendiri. Beda dengan gene gun konvensional yang menggunakan gas bertekanan tinggi, alat ini menggunakan mesiu sebagai sumber ledakan. Pelurunya? Serbuk tungsten (Wolfram, simbol tabel periodik W) yang tidak larut kemana2. Konsepnya sederhana, peluru direndam senyawa NMU dengan konsentrasi pengenceran yang sudah kami atur, lalu dimasukkan ke pelet nilon untuk ditembakkan ke atas jaringan tanaman dalam kondisi hampa udara (udara disedot pompa). Ternyata untuk penelitian saya memerlukan 500 tunas, karena 500 tunas lagi akan digunakan oleh Bu Totik dan Bu Any untuk percobaan mereka sendiri. Simpelnya, kami bekerja di 2 lab yang berbeda. 500 tunas ada di dalam sekitar 100-150 cawan petri plastik. Hari pertama secara personal saya memprediksi berapa jumlah optimal yang bisa saya kerjakan sehingga besoknya bisa saya tambah lagi eksekusi perlakuannya. Hari ini saya lakukan sekitar 20 penembakkan. Merasa mampu, besoknya saya naik hingga 30-35 penembakkan. Hari ini saya juga belajar bahwa di bawah bimbingan Bu Totik, saya makan 4 kali sehari: makan pagi, makan siang, makan sore, dan makan malam. Gratis sih… tapi makanannya di situ… gila2an. Alamat naik berat badan, ya… saya pun sepulangnya nambah 5 Kg dari 80 Kg jadi 85 Kg. Saya juga jadi tau bahwa Bu Totik itu jalannya cepat sekali. Bu Any pun setuju dan mengerti bahwa beliau yang lulusan Nagoya Daigaku (Meidai) ini melakukan semuanya dengan sangat cepat dan efisien. Perjalanan dari lab ke kantin NTU itu cukup menguras energi, karena perlu melewati tangga yang tinggi sekali di lorong.

Di Lab

Saya selama 5 hari itu. Di samping saya ada tabung “pistol partikel gen” itu. Dipotret Bu Any.

Selasa, 5 Oktober 2010. Masih sama dengan kuantitas penembakkan ditinggikan. Suasana di Lab of Molecular Genetics itu dingin dan sepi, saya pun memasang headphone. Pas makan siang, Prof. Chia ikut dengan kami untuk menunjukkan lokasi kantin yang jalannya “lebih manusiawi.” Percakapan seru terjadi…

TFC: Dr. Totik, do you know that there is a mycorrhiza that priced very expensive in this world?

TSM: What kind of mycorrhiza is it?

TFC: This mycorrhiza priced thousands of dollars for every kilograms!

TSM: Wow! What is it?

AW: *nimbrung mode: ON* Professor, is that mycorrhiza is truffle?

TFC: Correct! So you know about it, Adit?

Wow, I hit the jackpot! Pas makan siang kami jadi ngebahas jamur mikoriza legendaris bernama truffle ini dan tentang karya2 Prof. Chia lainnya. Ga nyangka, pengetahuan gw soal jamur ini dari game PS1 Harvest Moon kebawa ke sini. Sorenya di Hall of Residence 8.

TSM: Adit, nanti kamu ikut penelitian yang truffle ya…

AW: Wah, iya bu??

TSM: Iya, kamu kan ngerti soal jamur ini.

Wow… lagi… dapet proyek lagi… oke, saya ga mau komen soal ini.

Rabu, 6 Oktober 2010. Masih kayak kemarin. Malamnya si prof nraktir kami makan di Jurong Point. Makan dengan lengkap sampai makanan penutup, dan keliling2 untuk melihat hal2 unik. Si prof menjelaskannya ke kami di bagian jamu khas Cina.

Dinner w/ Prof

Makan Malam di Jurong Point. Kiri ke kanan: Prof. Chia, saya, Bu Any, Bu Totik.

Kamis sampai Jumat masih eksekusi perlakuan ke Aglaonema dan akhirnya selesai! Sembari mencari literatur pustaka skripsi dan menyusunnya, saya ingin menunjukkan kepada 2 dosen saya ini gimana rasa truffle itu. Akhirnya saya menemukan restoran bernama Spizza. Saya sudah pernah memesan sebelumnya di Indonesia dan tau bagaimana mengkustomisasi pesanan saya. Saya pesan yang mirip Pizza Margherita (cuma saus tomat), lalu saya minta extra black truffle ke atasnya. Truffle hitam ini sudah dihaluskan. Tapi rasanya yang unik, agak seperti keju ini masih terasa kuat.

Pizza Truffle

Truffle itu ada di bagian yang hitam itu. Foto oleh saya sendiri.

Selama weekend, saya menunjukkan pizza ini, ke Singapore Science Center (di sana saya sekaligus mencari oleh2 berupa Astronaut’s Ice Cream, coba cari di Google deh!) dan kemudian mencari oleh2 seperti coklat di Takashimaya bersama 2 ibu dosen ini. Mereka membeli sepatu, dan pas balik di Jurong Point, saya ngiri setengah mampus ketika Bu Totik beli iPad di depan saya!! Gyaaah!! Malam sebelum balik ini, lagu “For A Lifetime” nya Melee terdengar di headphone di mana laptop saya terhubung ke playlist tetangga saya. Hehehe…

Besoknya kami sebelum pulang mengambil kultur kami dan berfoto bareng di depan NIE-NTU…

Di Depan NIE

Dari Kiri ke Kanan: Saya, Prof. Chia, Bu Totik, Bu Any. Foto diambil oleh orang lewat yang kami minta tolong.

Saya pun dari Changi balik ke Jakarta (CGK) dan sampai rumah, ngedrop oleh2, terus naik travel ke Bandung untuk siap2 bimbingan lagi besoknya.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik kali ini:

  1. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita, khususnya di luar harapan yang berlebihan. Yang kita perlu lakukan adalah syukuri apa yang kita miliki dan berdoa sambil berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.
  2. Cintai ilmumu, maka ilmumu akan memberikan sesuatu kembali kepadamu.
  3. Banyak hal yang terjadi di luar persepsi kita. Ada orang yang pendiam, tapi ternyata baik. Oleh karena itu kita tidak boleh berburuk sangka. Dalam perjalanan kali ini, jujur saya melihat sisi Bu Totik yang orang2 lain jarang bisa lihat di kampus.
  4. Uang bukan segalanya, tapi uang adalah reward yang bisa diraih siapa saja selama mereka niat.

Sejak saat itupun, saya ga pernah ragu untuk terus mencari ilmu, melakukan penelitian2, dan bertanya kepada para ahli. Saya bersyukur sudah diberi pengalaman tak terlupakan seperti ini.

-AW-

Cuma sedikit info dari saya…

Sekarang saya dalam tahap mengerjakan blog saya dengan konten yang sama dalam bahasa Inggris di sini. Tujuannya, selain untuk memperluas kalangan pembaca, lumayan buat latihan menulis.

So, mampir2lah ke blog yang satu lagi… especially you who don’t understand Bahasa Indonesia, are mostly welcome!

Klik!

Keterangan: Blog ini sendiri ga bakal saya ubah kok…

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life