Lewati navigasi

Oke malam itu, sesampainya gue di Stasiun Tokyo, modem gue udah abis baterenya, kaki gue udah berat banget, gue jalan sambil nyeret di sana… lumayan Tokyo Drift *badum tss!!*

Oh iya! Sebelum balik, gue dengan isengnya beli… matsutake kombu! Matsutake adalah jamur termahal di Jepang, dan gue beli versi irisannya yang diawetin di dalam sachet campur rumput laut alias kombu.

truffle-hm

Ilustrasi. Sumber: Harvest Moon

Terus gue transit Yamanote Line lagi ke Ikebukuro dan astaga, gue salah kereta dan dapet rute terjauh. Untung keretanya udah sepi jadi bisa duduk. Sampe Ikebukuro, gue sekuat tenaga jalan ke apartemen.

Sampai di apartemen gue langsung ambruk. Beruntung sih karena gue ama Arif emang kebagian tidur di ruang depan, dia di sofa, gue di karpet. Gue ga mau di sofa karena harus ngelipet kaki. Gue udah prediksi kalo gue harus ngelurusin badan sesempurna mungkin karena gue besok masih ada perjalanan jauh lagi: Niigata.

Sebelumnya, “Kyoto itu tempat yang dingin di Jepang, ini karena kota ini dikelilingi gunung” kata Hosokawa sensei. “Wah kalo di Indonesia kayak Bandung” jawab gue. “Oh gitu yah…”

“…dan besok saya mau ke Niigata naik Shinkansen”

“Wah?? Kamu ke sana sendiri?? Di sana mah lebih dingin lagi! Sama Niigata itu kotanya tenang banget” Kayaknya sampai titik ini Hosokawa sensei makin bingung sama gue. Lagi.

Cerita misi ke Niigata ini berawal dari rasa kepo berlebih dan akut gue atas paper yang ditulis Nashimoto (2001). Gue bahkan mungkin dari tahun 2012an lalu udah berusaha mengontak beliau, tapi alamat di e-mail itu udah ga ada. Sampai kemudian gue dengan kemampuan stalking level yakuza pas jaman S1 itu akhirnya pada Oktober 2017 ini berhasil menemukan lokasi baru beliau: Niigata University of Pharmacy and Applied Life Sciences (NUPALS).

Translasi Balik (Reverse Translation) adalah sebuah bagian misterius di dogma sentral biologi molekuler yang dinyatakan Francis Crick pada tahun 1958. Kita tau aliran DNA ke RNA dan ke Protein. DNA bisa replikasi, DNA transkripsi jadi RNA, dan RNA translasi jadi polipeptida penyusun protein. Lalu konsep “dogma” ini mulai luntur karena semakin terekspos bagian yang lainnya, RNA bisa transkripsi balik (reverse transcription) jadi DNA, RNA sense bisa disalin jadi RNA antisense di virus. Sama ada ilmuwan US (McCarthy et al., 1965) dan Jepang (Uzawa et al., 2002) (yang gue belum sempet kontak) berhasil mentranslasikan DNA langsung jadi polipeptida di lab, dengan ribosom bakteri yang dimodif dengan antibiotik. Sementara proses replikasi protein, protein jadi RNA alias translasi balik ini, masih misteri, dan ga jarang banyak yang menganggap hal ini gak mungkin karena beberapa alasan.

Seenggaknya, sampai Nashimoto sensei menjadi peneliti pertama di dunia yang pernah melakukan percobaan paling dekat dengan translasi balik, beliau merancang rtRNA dan kompleks kodon stop (sebagai titik awal translasi balik, kebalikan translasi) untuk membalikkan polipeptida Arginin (Arg) menjadi kodon lagi. Mekler (1967) pernah mengusulkan upaya memasangkan polipeptida ke antigen dan tRNA buat ngebalikin lagi jadi mRNA (prinsipnya ngebalikin posisi asam amino di bawah, antikodon tRNA di atas, terus antikodonnya di-transkripsi balik – masalahnya ini bakal ga ngurut), tapi sayangnya ga sesuai kaidah kalo menurut Gounaris (2010).

…dan dengan alasan inilah, gue perlu rela jalan kaki lagi di Niigata. Sendiri.

Sampe…

“Mas, Arif besok ikut ya!” kata Arif. “Hah?? Lah uangnya??” tegur gue. “Ntar minta bapak, berapa sih ke Niigata?”

Malam itu, ini bocah asli sporadis banget. Gue cek kan, harga PP sekitar 22ribu yen. 2 jutaan rupiah lebih. Terus dia ke kamar bapak… dan dapet duitnya.

Pret. Di sisi lain gue bersyukur ya Allah, bokap ada rejeki lebih. Seenggaknya gue ga sendiri di Niigata yang bahkan terdengar lebih asing buat gue. Hosokawa sensei bilang di sana spesialis sushi karena dekat pelabuhan.

Day 4 – Pagi2 jam 8 gue sama Arif jalan ke Stasiun Ikebukuro. Kami jalan udah kayak orang2an sawah karena kaki udah ga memadai lagi buat jalan. Konyolnya, kita sampai di JR Office jam 10, terus si Arif dapat JR Pass 5 hari (kalo gue seminggu – ini gara2 paket ini lebih murah, 18ribu buat 5 hari ketimbang beli tiket PP)

“Oke, jadi kalian mau pesen bangku ke Niigata?” kata mbak operator.

“Iya, jam?” lanjutnya, “Sesegera mungkin kalo bisa”

“Hmmm… kereta selanjutnya jam 10:45, kalian pesan dari… Ueno (yang paling mungkin)?” Gue shock. Ini mepet gila! Stasiun di Jepang kan gede2! “O…oke…”

“Kalian abis ini keluar ruangan ini dari pintu sebelah sini aja, langsung turun, Yamanote Line jalur 5, kurang lebih 20 menit sampe Ueno, kalian langsung ke platform Shinkansen. Oke, selamat pagi!”

*nengok Arif* “CEPETAN CHUY!!”

Monsters_University_Late_Slug

Ilustrasi. Sumber: Monster University (Pixar)

Jadi di sebelah kantor JR ada jalan kecil lewat kafe yang dari situ bisa langsung nembus tangga ke bawah. Ntah lah si mbak ngeliat gue ama Arif kayak Teletubbies pake bakiak 17 Agustus yang tandem itu. Gue bersyukur kereta komuter di Jepang selalu ada per beberapa menit dan tibalah kami di Ueno jam 10:25. Bahkan kami masih sempat beli onigiri 3 bungkus.

Ga ada cerita dramatis kayak kemarin pas di Shinkansen, karena kaki kami udah kayak mau jebol. Kami naik Jōetsu Shinkansen (上越新幹線), kereta MAX Toki tujuan sampe Niigata (terminus).

Sesampainya, di luar hujan. “Oke Rif, kita udah bisa liat sushi ama donburi di sekeliling kita” Jadi ada toko2 bernuansa kayu tapi modern ngejual sushi di stasiun. Selain itu menu khas nya ada sasadango (笹団子, dango dibungkus daun bambu – bukan, bukan Sasa merk micin itu).

img_4846

Selamat datang di Niigata… di hari yang hujan

Karena waktu yang mepet dan ntah dudul, akhirnya kami malah beli takoyaki di stasiun (bukannya makan apa gitu yang lebih jelas). “Rif, kita makan sushi nanti aja pas balik! Sekarang kita transit dulu ke Shin’etsu Line dan sesuai petunjuk Nashimoto sensei, kita turun ke Furutsu” dan kami pun jalan ke peron kereta lokal (yang bahkan ada yang gerbongnya cuma 2, gue curiga ini kereta bakal ngebawa gue ke dunia digital terus nanti berantem ngelawan Lucemon).

Setengah jam kemudian…

img_4852

BRUH…

img_4850

…kenapa kita diturunin cuma sampe Niitsu??

Kami terdampar di Stasiun Niitsu yang lokasinya cuma beda SATU STASIUN LAGI sama Furutsu. Cuma ada gue, Arif, dan satu kakek2 yang turun. Konyolnya lagi, sinyal internet kami langsung melambat drastis. Udah. Waktu udah menunjukkan jam 2. Satu jam menuju waktu janjian sama Nashimoto sensei. Setelah kami baca jadwal lagi, akhirnya kami naik tangga dan nyeberang peron lagi. Akhirnya keretanya datang dan tibalah kami di Stasiun Furutsu. Gue sama Arif tercengang.

Furutsu_040710

Stasiun Furutsu… dan ini kecil… banget. Sumber: Wikipedia – Gambar oleh Hitam1200 di Wikipedia Jepang (ditransfer dari ja.wikipedia ke Commons., CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=52344601

Kami terdiam melihat stasiun itu. Setelah dari kemarin2 melihat stasiun2 besar Jepang, sekarang kami melihat stasiun kecil yang ntah gue tinggal ngebayangin ada Nobita atau Chibi Maruko Chan lewat. Oke2 cukup. Setelah kami jalan lagi, kami pun sadar suasana kota kecil nya kerasa banget. Tenang, bahkan mobil jarang lewat, sekalinya ada truk eh dia malah ngetem ke Family Mart buat minum kopi. Sungainya bersih, yang kurang cuma cuacanya yang lagi berawan, dan kaki kami yang kurang sehat. Bahkan kondisinya ramah banget, sampai ada warga lokal menunduk dan bilang “Konnichiwa! (Selamat siang!)” kami membungkuk dan membalas. Melihat jam, ternyata sudah jam 2:50 siang! Ah, ini ga bakal keburu, dikit lagi, tapi kaki udah lambat banget!

Tibalah kami di NUPALS. Sebuah kampus keren, kayak NTU, tapi di tengah… kota kecil, bahkan berbatasan langsung sama perumahan warga. Jalan ke kampus menanjak, sangat asri, bentuknya modernistik, dan satpamnya… mirip banget Takeshi Hongo (Kamen Rider Ichigo, versi bapak2 yang di Kamen Rider Taisen). Masuk kampus, saat itu jam 3:07 sore, gue nanya resepsionis yang nampaknya kesulitan bahasa Inggris, untung gue udah printscreen e-mail Nashimoto sensei. Sementara Arif nunggu di ruang tengah, gue lanjut jalan. Sampai di depan ruangan, kayaknya bel nya langsung aktif, ada orang yang pas gue tunjukin langsung menemukan gue ke Nashimoto sensei.

img_4855

Gue dan Sang Legenda

“Selamat datang di Niigata!” beliau langsung menyambut gue. Di pojok ruangan keprofesoran itu (di meja depan ada mahasiswa lagi nugas, lanjut ada profesor asosiat, baru ada tempat khusus beliau), beliau duduk di tempat yang dikelilingi buku dan berkas termasuk jurnal, dihadapkan dua komputer. Beliau lalu cerita bahwa ada beberapa orang yang sempat menyangkal ide beliau, tapi di saat yang sama laboratorium milik Szostak (penerima Nobel) sibuk membahas teori beliau. Saat ini beliau belum aktif meneliti itu lagi dan masih sibuk mengerjakan penelitian terkait RNA.

“Ya, saya berencana melakukan penelitian itu suatu waktu nanti sebelum saya mati!”

Di umur beliau yang sudah sepuh, beliau masih semangat banget dengan penelitian2 molekuler. Penelitian beliau tentang translasi balik bersinggungan dengan konsep asal-usul kehidupan di Bumi, sementara gue berusaha menarik lebih jauh karena gue menyebutkan bahwa translasi balik bisa berguna untuk beberapa hal, termasuk biologi evolusi – untuk analisis kekerabatan fenotip dari protein individu masa lalu dengan masa kini. Ada setidaknya 4 permasalahan terkait translasi balik:

  1. Reduksi informasi dari 64 kodon ke 20 asam amino. Nashimoto sensei menyelesaikan masalah ini dengan membalikan 20 asam amino ke 20 kodon saja. Meski terjadi pengurangan, mungkin suatu saat nanti bakal menggunakan kodon lebih banyak. Mungkin, menurut gue. Walau artinya aplikasi biologi evolusi jadi tidak bisa diterapkan.
  2. Variasi gugus R asam amino. Ada 20 variasi gugus R di asam amino, sementara hanya ada 4 nukleotida yang lebih seragam. Nashimoto sensei menyebutkan untuk menyelesaikan masalah ini dengan membuat rtRNA (reverse translation RNA) berbentuk huruf T yang memiliki lekukan yang pas dengan gugus R, dan ini dibuat dengan metode SELEX (Systematic evolution of ligands by exponential enrichment – Evolusi sistematik ligan dengan perbanyakan eksponensial) yang dengan kata lain sistem mutasi dan seleksi dalam skala besar namun mikro.
  3. Ikatan peptida yang lebih stabil daripada ikatan fosfodiester pada asam nukleat. Perlu fungsi seperti enzim protease untuk memecah ikatan protein.
  4. Struktur protein yang beragam, ada primer, sekunder, dan tersier. Protein perlu dibuat primer terlebih dahulu. Konon saat ini sudah ada metoda membalikkan protein ke struktur primer (gue belum nyari).

Selain itu beliau memprediksi penggunaan struktur mirip ribosom sebagai rangka gerak diperlukan untuk translasi balik berkecepatan tinggi, namun dalam skala normal belum diperlukan.

Gue pun cerita ke beliau kalau gue ada latar kuliah Astrobiologi di Indonesia yang artinya gue juga mempelajari asal-usul kehidupan. “Saya ga mengira ada orang yang antusias hal ini ada di Indonesia sampai saya lihat kamu di sini!”

“Perlu ada orang2 muda yang melakukan penelitian2 gila untuk menyumbangkan inovasi ke dunia ini!” tambah beliau. Gue di sisi lain cerita kalau gue mau kuliah di Kyoto, gue ga nyolot atau ga bermaksud menyebarkan aura kompetisi antar kampus, tapi gue mau jujur kalau gue juga fokus ke biotek tanaman yang akan membawa gue ke penelitian molekuler lanjutan. Gue menyerahkan CV sama draft paper gue “Wah ini bagus!” kata beliau sekilas melihat gambarnya. Ah, alhamdulillah!

Terus ada orang2 lain datang, beliau ngomong dalam bahasa Jepang yang bilang gue neliti Astrofisika (wat??) dan lain2, terus mereka ngasih gue kartu nama dan salaman!

Di sisi lain gue cerita kalo gue ke sini ama Arif, “Kenapa kamu ga ajak aja dia ke sini, dingin di luar!” Terus gue “Uh… sensei, ada wifi gak?” Ternyata wifi nya keok. Randomnya, gue dikasih 2 kupon makan (karena tau kami berdua) di Negi Bouzu, deket stasiun, restoran seafood dan menyajikan sushi!

img_4856

Rejeki

“Nanti kamu hati2 ya di Niigata, kalo malem katanya ada orang Korut yang nyulik anak2 muda” Gue kayak… WAT?? “Kamu nanti balik ke Furutsu kan ya? Eh tunggu! Bus kampus jam berapa??” Beliau mengecek jadwal dan nampaknya 20 menit lagi, beliau minta mahasiswanya nganter gue sama Arif ke tempat bus. Kami berpamitan, dan mahasiswa beliau (yang bahasa Inggris nya masih belum lancar tapi berani ngomong) pun nganterin gue sampe ruang tengah.

Gue pun ga memungkiri bahwa gue salah ngomong ke bocah ini karena gue bilang perut Arif besar (perut = Onaka, gue ketuker ama kenyang = Ippai, besar = ooki na) dan gue ngomongnya apa?

Ooki na oppai desu” (dada besar)

069

Gue saat itu

Walau akhirnya gue berusaha memperbaiki kalimat gue dan orang ini udah nahan ketawa2. Dia cerita kalo dia umurnya 25 tahun dan lagi meneliti PTGS (Post Transcriptional Gene Silencing – Pembungkaman gen pasca transkripsi) pake RNA.

Akhirnya bus tiba, setelah berdesak2an dan tiba di Niitsu, dan dilihat penumpang lain karena ada 2 makhluk asing berbadan besar naik bus di sana.

“Cewek2nya oke, mas”

“Pret…”

Dalam setengah jam, tibalah kami ke Stasiun Niigata lagi. Kami jalan ke Negi Bouzu dan pesan fine cut nigiri sushi sama eat and compare sea urchin dan kami abis 6000 yen (setelah diskon 1000 yen!). Ikannya seger2 banget dan ini enak banget, melebihi resto manapun di Jakarta (kecuali Sushi Masa).

Mau beli sasadango, eh udah pada tutup. Akhirnya kami lanjut naik Shinkansen sampe Ueno (Tokyo) dan lanjut ke Ikebukuro.

“Mas, laper, Sukiya dulu yuk”

“Chuy, jauh. Cari makan yang sambil jalan aja deh”

Arif pun ngarahin buat jalan lewat jalan seberang. Cuma beda sebrang jalan, dan area itu banyak area XX yang bahkan dijagain bodyguard. Gue ama Arif ngebut aja jalan kaki, ga mau terlibat.

Tapi masih sempet2nya beli makan di Lawson. Kami beli onigiri (lagi) sama sesuatu yang bentuknya kayak salmon panggang, dalam kemasan tertutup.

Akhirnya kami tiba di apartemen. Kami langsung unboxing salmon itu. Pas dibuka, ternyata itu onigiri… lagi…

Day 5 – Dua hari ke belakang, kalo kita ngomong pake bahasa game nya, kami udah melewati 2 misi kelas S (Super) untuk bidang sains bioteknologi. Hari ini, misi kelas S terakhir… makanan. Kami makan ikan segar di Pasar Tsukiji, selesai. Bonus, kami makan makhluk aneh: Nanas Laut.

img_4919-1

Bukan rumah SpongeBob

Cerita lengkapnya di sini. Mana ditambah kami beli melon Yubari yang terkenal muahal itu (worth it tapi sih ceritanya). Abis itu karena duit mulai tekor dan khawatir laper mata lagi, kami balik ke apartemen, menunggu hal yang kami paling tunggu sore itu. Me-review kunjungan ke restoran belut berbintang Michelin 1: Unagi Kabayaki Hashimoto (jangan ketuker ama sensei yang namanya cuma beda 1 huruf). Rumah sederhana, dengan kualitas level dunia. Cerita lengkap di sini.

Malam itu kami pulang dengan perasaan puas. Walaupun kurang senang karena besok udah mau pulang!

Day 6 – Pulang. Ga banyak cerita. Pulang, makan di bandara, sampe Jakarta hujan. Plus langsung disambut kemacetan. Warbyasah. Gue udah kangen sama Jepang, dengan segala keteraturannya. Gue berdoa, semoga suatu saat nanti ada rejeki belajar di sana. Aamiin…

Sementara itu, Hosokawa sensei ngirim e-mail ke gue. Intinya penelitian utama gue diganti jadi mawar dan laju fotosintesis (sama kayak penelitian Doi sensei), sama perlu segera ngisi form2. Cuma form2 apa aja? Terus, boleh ga gue nambah aspek molekuler di penelitian itu?

…dan Nashimoto sensei: Tulisan kamu udah oke, cuma perdalam lagi. Saya sudah SEMBILAN TAHUN berkutat dengan itu.

Mampus gue… tapi oke lah, gue udah bilang ama beliau kalau gue bakal improve paper itu pake studi pustaka. Kita lihat aja apakah ini bisa mengimbangi penelitian 9 tahun beliau.

Target gue tahun depan:

-20 publikasi paper

-Buku Rafflesia jadi

-Minimal 1 paper terhubung ke biologi sintetik/xenobio

-Ada harapan beasiswa ke Kyoto

Sisanya sekarang gue perlu berdoa dan berusaha lebih baik lagi. Sambil ngajar dan berbagi ilmu yang gue punya. Karena satu hal yang pasti, ilmu gue akan berkah kalo dibagi2. Khususnya ke murid2 gue. Jujur, doa gue salah satunya adalah bisa meet up mereka di luar negeri dalam konteks bisnis atau penelitian (bukan jalan2).

Sementara gue juga berdoa, buat Ghea, semoga beasiswa dia untuk membawa dia ke Kyushu University bakal dipermudah. Aamiin.

Semangat lah!

-AW-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead dear Beloved, ping-pong Me as You please..

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

Gesti Saraswati

A Personal Blog of Gesti Saraswati

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: