Skip navigation

Pagi menjelang siang, saya duduk diam menunggu konsultasi laporan proyek dengan Pak Bambang, seorang dosen biologi UGM. Tiga bulan hitungan mundur dimulai sebelum saya terbang melanjutkan studi S3 Teknik Kimia di Åbo Akademi University, Turku, Finlandia dan saya akan meninggalkan sementara begitu banyak hal di Indonesia. Keluarga, teman2, kolega, bahkan pacar saya sendiri. Sendiri, menarik napas dan mendengarkan semua suara yang tertangkap di telinga di gedung biologi UGM ini membawa saya ke momen nostalgia. Ditambah kemarin malam dan beberapa saat waktu lalu… di Line, saya melihat anak2 Xenobiota yang kebanyakan adalah anak biologi UGM angkatan 2014 mulai mengeluh harus mengerjakan tugas laporan praktikum dan tugas yang menumpuk setelah melewati minggu UTS. Tak terkecuali pacar saya sendiri yang sedang melewati tahun akhirnya…

A: Kamu ntar bakal sibuk sampe malem yah?

G: Hmmm kayaknya sih iya, bakal penuh sampe malem… masih ada sisa laporan yang harus dikoreksi sama ngerjain laporan praktikum…

Yah… baiklah… .___.

Lantas… pagi ini… saya tiba2 kangen rasanya dengan kehidupan S1 saya. Saya kangen dengan datang pagi ke kampus, sudah “diterror” dengan soal pendahuluan alias pre-test pas jadi praktikan, ngerjain laporan praktikum dengan laptop sambil dengerin lagu, ATAU… ngerjain laporan praktikum yang panjangnya menyaingi sajadah saya karena disulam (di ITB dulu, 1 minggu sebelum praktikum, semua diagram alir sudah ditulis di buku yang disebut “jurnal” itu; laporan ditulis di buku yang sama, lantas ga bisa kalau halamannya ditambal manual dengan kertas buku). Tahun selanjutnya ketika jadi asisten praktikum, saya ingat H-1 harus briefing materi dengan dosen di ujung lorong SITH ITB, besoknya datang 1 jam lebih awal, berjas lab, alat udah stand by, saat praktikum… mata harus fokus ke materi, ke dosen, plus ke bocah2 di depan saya yang kadang urakan, kadang ribut, kadang kayang atau salto atau joget2 kayak belatung… malamnya, aduh, ini laporan niat apa nggak sih ngerjainnya?? (buat yang dulunya anak praktikan saya, Sisi, Dine, Lisa, Yesie, dkk… sabar ya) Intinya menguras energi! Itu masih biasa… seenggaknya untuk asprak lab se-Indonesia mungkin mengalami itu… APALAGI yang asprak lapangan!

Mungkin juga… hari ini adalah genap 6 tahun lalu kami kuliah lapangan super asik ke Bali Barat dan Kintamani.

“Dit, gimana sih rasanya jadi mahasiswa SITH ITB?”

Mau tau? Oke…

Tahun Pertama

SITH ITB angkatan 2007 itu adalah angkatan terakhir yang merasakan praktikum Biologi Umum, setelah kami adanya Konsep Biologi dan itu ga ada praktikum bahkan ga ada kuliah lapangan (kulap). Itu doang? Nope… seminggu kami dijajalkan dengan TIGA praktikum… Biologi Umum, Fisika Dasar, dan Kimia Dasar. Buat saya, tahun ini adalah mimpi buruk! Masih berusaha menyesuaikan kuliah, gagal move on sama gebetan pas SMU, kadang sotoy atau sok ngerasa bisa bahwa materi taun pertama (TPB ITB) ini sama dengan SMU, itu adalah jebakan Batman! Lantas IPK saya pun di bawah standar saat itu. Saya juga ga ngerti gimana dosen itu sangat heterogen dan kita harus paham satu2. Soal praktikum, saya untuk pertama kalinya pusing dengan bagaimana kakak2 asprak itu memberi arahan (karena ga semuanya jago ngomong plus ada yang tampangnya galak… mana asprak saat itu sama juga kakak tadis ospek himpunan… mereka kelar praktikum langsung pasang jaket himpunan di medan ospek! Mampus lah aku!). Dari semua itu, saya kagum sama Kak Yola (Biologi 2004) yang ngajar Biologi Umum-nya asik, sabar menghadapi kami, asik sebagai temen ngobrol, cuma… tiba2 dia ngasih nilai 40… hiks. Ngerasain kuliah lapangan pertama, munculah sesosok pria (naon) bernama Kang Arief alias Kang Meded (Biologi 2004) yang namanya masih bergaung di dunia biologi sistematik ITB sampai SEKARANG! Beliau… saya ga ngerti waktu itu, bisa apal sekian ratus nama latin tumbuhan LENGKAP hingga tingkat famili dan spesies!! Kemudian ada teman saya Okta (Biologi 2007 juga) yang ntah gimana ngerti gitu juga! Well, ada 7 manusia super yang ilmu biosistematika nya di atas rata2… mereka disebut TAXON 6… Kang Meded… tumbuhan, Kang Ezak (Biologi 2003)… tumbuhan juga, Teh Agri (Biologi 2004)… tumbuhan dan beberapa yang lain, Teh Mika (Biologi 2004)… sama kayak Teh Agri, Kang Andri (Biologi 2005)… serangga, dan sang ranger ke-6… Okta sendiri yang ngerti tumbuhan.

Kuliah lapangan BiUm kami ke Taman Buah Mekarsari dan Kebun Raya Cibodas-Gunung Gede-Pangrango. Ini untuk pertama kalinya saya bisa sangat deket dengan teman2 seangkatan saya! Mana dengan ultra random nya di penginapan bersama kami itu… ada ulat kecil yang menggantung bak tirai diberanda! Weks!! Cuma ga masalah… it’s fun! Walau saya ntah berapa kali jatuh kepleset di kulap itu…

1930055_19718342153_2180_n

Di air terjun di Gunung Gede-Pangrango. Kami potret bareng asprak kami, Teh Gita.

Setelah itu, tahun pertama berakhir. SITH 2007 terbagi jadi Biologi dan Mikrobiologi dengan rasio 70 dan 40. Saya selain pengalaman tadi, saya ngerasa ga puas dengan nilai2 di tahun ini! Untung, saya berhasil menambal nilai saya di semester berikutnya dan saya ga jadi DO. Antara tahun pertama dan kedua, saya jadi panitia penata tertib kelompok (Taplok) di program Inisiasi Keluarga Mahasiswa ITB (InKM) alias ospek kampus. Outcome setelahnya? Saya yang tadinya cuek dan pendiem, jadi lebih talkative bahkan ke anak SITH 2008 yang saat itu kayak bocah banget. Yah, saya suka liat junior2 saya yang lucu :3 #nopedo

Tahun Kedua

Tahun kedua itu seru dan merupakan transformasi awal kami sebagai peneliti. Tapi transformasi yang paling nyentrik adalah:

Cewek2 Biologi kalem + Proyek Anatomi Fisiologi Hewan (Anfiswan) + Praktikum Biologi Perkembangan Hewan (Perwan) –> Cewek Biologi Psycho

Awalnya “KYAAAAA tikus!!”

Akhirnya “MANA TUH TIKUS GW TIBAN!!”

Tahun kedua itu adalah sarana yang sangat psycho tapi seru (apa coba) buat kami, cuma merupakan definisi Holocaust buat tikus, mencit, marmut, dan katak/kodok. Bayangin! Waktu itu, di mata kuliah proyek Anfiswan, kami diajarkan bagaiman menyuntik mencit atau tikus dengan logam berat untuk diamati jaringannya, kemudian di praktikum biosistematik kami diajarkan untuk mengawetkan binatang dengan formalin! Soal prosesnya saya ga mau bilang karena saya bisa aja dituntut kaum vegan atau PETA. Demi sains… yeah saya setuju sama GLaDOS di Portal…

“For science, you monster”

Kuliah biosistematika, kami menjelajah Gunung Tangkuban Parahu dari puncak ke lereng dekat perkebunan. Saya merasakan buang air besar di WC yang ditinggalkan (penting ya Dit), dan juga merasakan makan buah beri liar di hutan sama batang begonia… thanks to Kang Meded. Terus kuliah besarnya ke Pantai Pangandaran, kami pertama kali diajari membuat awetan kupu2 di Ladang Cikamal yang terik dan ada rusanya. Saya keringetan sampai baju saya basah karena di sana sangat terik mataharinya meski lembab. Menariknya, saya sempat merasakan beli cumi goreng garing dengan CUMI SEGAR gara2 kelaparan akibat dari pagi evaluasi pengamatan DAN saya nyaris ketinggalan! Oke… itu ngaco…

1588_51360612153_9168_n

Kakak2 Asprak Biosistematika sedang absurd

1924160_41800287153_6346_n

Briefing di Puncak Tangkuban Parahu (Kulap Biosistematika 2)

1927606_45569777153_7396_n

Kuliah lapangan 3 di Pangandaran…

Oh iya, kemudian ada praktikum genetika. Di ITB, praktikum ini berkutat pada pengenalan kromosom, bermain2 sama lalat buah (Drosophila melanogaster) mutan berikut menyilangkannya dengan semena2, membiarkan medianya bau busuk, dan eter menyebar ke seisi ruangan dan buat mabok, ekstraksi DNA, dan sedikit pengenalan soal PCR.

Ada cerita seru di praktikum ini. Jadi ceritanya kami harus menyilangkan lalat buah (acara 3), akan tetapi… ternyata praktikum yang agendanya 2 minggu ini terpotong libur lebaran. Alhasil kami semua diminta ngelakuin di rumah (kampung halaman masing2) dengan perangkat lengkap, lalat yang disilangkan, media, sama bius (eter). Di kelompok, saya satu tim (1 kelompok dibagi2 per 2 orang) dengan teman saya Vina (biologi 2007). Kami dapat mutan miniature (sayapnya kecil banget sampe lalatnya ga bisa terbang) dan ebony (badannya hitam). Di Jakarta… setelah itu… semua jadi suram: eter menguap ke kamar, media mengering, lalat tewas. Terus gimana di laporan?? Tulisan di bawah ini disalin dari manuskrip laporan aslinya:

2.3.1 DATA KELOMPOK

Percobaan yang kami lakukan sekelompok bisa dibilang gagal. Saat kami membawa botol media berisi lalat ke kampung halaman kami saat liburan lebaran ini nampaknya mengalami masalah perbedaan kondisi dengan di Bandung. Lalat-lalat mutan miniature betina yang ada pada saya hanya bisa bertahan sesaat dan kemudian mati kena infeksi jamur. Kemudian larva pun tumbuh hingga menjadi F1. Kemudian masalah pun terulang saat dipindahkan ke botol media yang baru. Lalat pun terinfeksi jamur. Ditambah dengan suhu panas Jakarta, media pun mengering & suhu menjadi cocok untuk pertumbuhan bakteri. Itu ditandakan dengan adanya perubahan bau botol media yang awalnya berbau pisang agak beralkohol (karena adanya ragi) saat ini menjadi berbau busuk menyengat. Saya sempat ingin mengulang namun masalah yang sama menimpa botol induk, sehingga saya tidak bisa mengulang.

Sama halnya dengan lalat pasangan praktikum saya, Vina. Bedanya, yang merupakan lalat mutan miniature adalah lalat jantan. Dan setelah saya mengontak Vina, ternyata mengalami masalah yang sama; media yang mengering.

Ntah gimana yang asprak kami pikir setelah kami nulis ini… kayaknya sih laporan saya dicoret. Lupa saya dapat nilai berapa.

2433304-just_read_super

Diasumsikan ini adalah ekspresi asprak yang meriksa.

Selesai sesi itu, saya dengan kurang ajar nya minta lalat yang sisa dari teman2 saya. Saya buat media sendiri di rumah dengan tabung Erlenmeyer yang saya beli, pisang yang dilumatkan, dan busa dari sofa kosan saya yang berantakan. Lalatnya mutan miniature dan eyemissing (matanya kecil banget sampe ga bisa jalan stabil). Saya silangkan… saya lupa hasilnya gimana, cuma bayangin anaknya suram banget kalo mewarisi 2 mutasi induknya tadi.

1931038_39291722153_9034_n

Mutant Fly Farmer from The Abyss. Oh, BTW itu di kosan saya…

Semester berikutnya, kontras dengan sebelumnya, nuansanya lebih tentang tumbuhan karena kebanyakan kuliahnya adalah tentang tumbuhan seperti fisiologi tumbuhan, struktur dan perkembangan tumbuhan, dan proyek tumbuhan (Protum). Dengan kata lain… ini surga buat saya… seharusnya. Tapi bisa mengerti bahasa2 dosen DAN asprak di kuliah2 tumbuhan ini… rasanya cukup sulit! Kadang saya udah dengan yakinnya mikir A ternyata B, kadang mikir B ternyata A, gitu deh. Ga tau kenapa. Tapi ngerasain bermain dengan auksin (regulator tumbuh tumbuhan yang menyebakan sel memanjang ke bagian tunas dan ujung akar) dan juga ngerti soal cara kultur jaringan tumbuhan itu seru!

1923187_72066127153_5735371_n

Narsis lv: Rak Kuljar Tumbuhan.

2961_83963837153_3750449_n

Kuliah lapangan Protum di Lembang. Kami dikelilingi hijaunya tanaman selada aeroponik.

Yang sadis… biologi perkembangan hewan. Saya waktu itu dapat kelas Bu Marsel. Kuliah ini kadang mengandung nausea fuel atau bahkan nightmare fuel akibat body horror. Sesuai namanya, kita diajarkan bagaimana hewan tumbuh dari momen terbentuknya sel ovum dan sperma, pembentukan zigot, morula, blastula, gastrula, hingga neurula. Dari situ masih lucu. Yang ga lucu, momen ketika tahap perkembangan lanjut di mana bagian2 primordia tertentu gagal melipat, menutup, atau membentuk suatu organ… itu SANGAT HORROR! Dengan kata lain, kita melihat bagaimana janin cacat akibat proses perkembangan yang gagal atau akibat induksi kimia. Lantas, di bagian praktikum pun kami ada momen menyuntik tikus hamil dengan kadmium untuk melihat gimana anaknya gagal terbentuk. Oke… cukup. Legenda praktikum saat itu adalah Teh Tazy (Biologi 2005) yang sangat telaten memberi materi tambahan buat kami sebelum ujian dengan bahasa yang SUPER ASIK!

2209_62435507153_7863_n

Lihatlah senyum2 psikopat ini yang sedang membedah tikus… saya khawatir kalo ini dimasukin di FB lagi bisa jadi bahan gunjingan dan membuat kami terkenal. PS: Kiri dan kanan itu asprak saya waktu itu, Kak Hani dan Kak Randy.

1923187_68235502153_5939117_n

Ini adalah Teh Tazy… sedang menjelaskan pembentukan bumbung neural pada ayam… (kalo ga salah).

Selain yang disebutkan, ada praktikum biokimia dan kimia organik. Cuma cerita saya ga terlalu banyak karena yang saya inget cuma protein, asam amino, asam sulfat pekat, dan semacamnya. Damn you brain

Akhir tahun kedua… saya masih mikir kenapa saya ga nyantol2 sama cewek SITH 2008. Yeah, sekarang sih saya ngerti kenapa. Belum nyerah, akhirnya saya jadi ketua divisi pembina kelompok alias Binok di ospek HIMASITH Nymphaea atau PPN 2009 saat itu. Lanjut, saya jadi ketua divisi dokumentasi Pengenalan Ruang Organisasi Keluarga Mahasiswa (PROKM… nama lain di tahun itu buat INKM sih) yang merangkap pendiklat Taplok.

10400654_123226092153_6301188_n

Should I say more? (Ket: Itu anak2 SITH 2008)

Still… ga ada yang nyantol. Suram.

Tahun Ketiga

Tahun ketiga itu adalah tahun yang buat saya paling baper. Di semester ini ada kuliah proyek ekologi (disingkat Proeko) di mana  kami merasakan 3 kulap: Kulap kecil hanya di sekitar kampus termasuk kawasan Babakan Siliwangi di mana kami belajar menggunakan alat2 penelitian ekologi sederhana seperti sling hygrometer, Lamotte water sampler, Ekman grab, luxmeter, dan lain2. terus ke 3 lokasi kawasan Situ Lembang yang merupakan kawasan hutan dan hulu sungai, Curug (Air Terjun) Cimahi yang dekat desa dan airnya segar, dan Kali Pajagalan yang sangat suram dan kami bahkan dapat cacing sutra (indikator air kotor) dan “bom lokal yang mengapung”, SERTA… MEGA KULAP TAMAN NASIONAL BALI BARAT – GUNUNG BATUR KINTAMANI!!!

1934237_163260472153_4256570_n

Kelompok proyek ekologi saya… saat itu di daearah Situ Lembang.

1934237_163260577153_4633114_n

Versi seangkatan… di depan Situ Lembang (Ket: Situ itu artinya “danau”)

Saya ga bakal membahas kulap kecil dan sedang kami itu, cuma mega kulap kami ini… sangat indah, hingga beberapa orang di dalamnya cinlok. Bagaimana ya saya mendeskripsikannya?

Picture this: Kalian dikumpulkan SEANGKATAN pagi2 buta di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Udara sejuk, langit cerah, kita merasakan matahari terbit di waktu dosen kita memberi penjelasan awal dan kemudian foto bersama. Kemudian kita naik kereta ekonomi Bandung-Surabaya, Pasundan, dengan 1 gerbong semuanya tempat kita. Di dalamnya kita melihat aneka rupa wajah teman2 kita, dari yang makan terus, keliling ga jelas, tidur sampe ngiler, dengerin musik, cerita2 satu sama lain, main kartu, dengerin cerita masa muda Pak Gede dan Bu Endah, dan bahkan ada yang curcol… ada juga sih yang pacaran. Perjalanan kita dari pagi itu, melewati kota Yogya jam 4 sore, melewati Stasiun Solo Balapan jam 5 sore, dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng jam 12 malam. Sesampainya, kita bergegas dengan sigap memindahkan peti2 harta karun penelitian kita yang berisi binokuler hingga alat2 tadi dari kereta ke bus. Setelah seharian penuh di kereta yang anginnya dari jendela, kita naik bus AC yang membawa kita ke kawasan Pasir Putih… melewati malam, dan kita terbangun untuk sholat subuh dan juga sarapan pagi. Seusainya, kita lanjut… kita menyebrang Selat Bali dari Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Kita pun potret2 di atas kapal feri yang melintasi selat, langit saat itu berawan, tapi laut itu biru. Setelah menyebrang, tibalah kita di kantor pusat Taman Nasional Bali Barat (TNBB), di situ kita yang cowok menaruh barang2 di aula, dan yang cewek ke penginapan (sekali lagi… penginapan khusus kantor TNBB!). Siang itu, kita melihat lokasi penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) dan pengamatan burung. Pulang, kita ngantri mandi dan istirahat (yang cowok). Abis itu kita bebas…

1917890_185153867153_602080_n

Pagi itu di sebuah gerbong Kereta Pasundan.

1917890_185157262153_4945672_n

Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk.

1917890_185169397153_6519768_n

Kelakuan bocah2 di depan tempat penangkaran Jalak Bali.

1917890_185669412153_6433005_n

Jalak Bali.

Besoknya, kita pengamatan ke Teluk Gilimanuk setelah pagi itu hujan cukup deras. Kita duduk di atas terpal mengamati burung, disapa matahari terbit yang nongol di balik awan hujan, dan munculah pelangi ganda pagi itu. Masih kurang bagus? Kita pengamatan terumbu karang dengan melakukan snorkling di Pulau Menjangan… situs selam yang terkenal di dunia internasional yang berada di Bali Utara! Langit biru, air laut biru, angin sepoi2, dan hari yang cerah. Bintang laut, koral, dan kerang raksasa siap menyapa kalian di balik kacamata selam kalian! Tak jarang, momen2 ini dipakai foto2, bahkan ada asprak (sebut saja Kak Imam dan Kak Ira, Biologi 2006) yang sok2 foto pra-wedding lho! (PS: Terus mereka sekarang beneran nikah lho!!). Sepulangnya, kita istirahat, Pak Gede setelah de-briefing memutar video yang diambil pas nyelam. Kita ketawa2 bareng karena ada yang celananya menggelembung di bagian pantat. Besoknya lagi, kita jalan dengan bus lewat Pantai Lovina untuk melihat lumba2, namun sayang ga ada. Di bus, kita karaoke bareng… tanpa membedakan dosen, asprak, dan mahasiswa. Sampai di Gunung Batur, udara dingin, penasaran rasanya sama tempat penginapan malam itu. Ternyata, kita punya kenalan alumni yang buka resort bulan madu! Yang cewek dapat kamar resort berbentuk rumah panggung, asprak dan dosen di rumah resort dengan kolam renang di depannya dan Danau Kintamani di sisinya, yang cowok… kita dapat aula… yang menghadap Danau Kintamani langsung, bersebelahan dengan bar dan panggung rindik Bali. Di malam hari, tanpa polusi, ribuan bintang menyapa kita. Udara dingin bukanlah apa2 walau kita harus keluar untuk memasang perangkap cahaya dan Malaise trap.

1917890_185673297153_1397584_n

Mentari terbit di Teluk Gilimanuk.

1917890_185673307153_3674237_n

Pelangi ganda.

1917890_185673367153_955218_n

Pantai di Pulau Menjangan.

1917890_185211372153_2488303_n

Pengamatan siang itu.

1917890_185675917153_1268159_n

Sore hari di Resort Kedisan, Kintamani.

1917890_185389332153_2108568_n

Persiapan pengambilan sampel air.

1917890_185680177153_1205386_n

Mentari terbit di sekitar Gunung Batur.

1917890_185413412153_5386728_n

Pengamatan ekosistem sabana.

1917890_185425872153_4693965_n

Sampling terakhir di lereng gunung bagian hutan. Waktu itu sedang membuat plot pengukuran.

Paginya, setalah bangun menghirup udara segar di bawah sejuta bintang di langit subuh, kita mendaki Gunung Batur. Padang rumput yang coklat, matahari terbit, dan kebersamaan kita ketika berjalan. Sempurna. Memang, kita di sana mengambil data, cuma kita melakukannya dengan gembira di tengah keseriusan kita. Seusainya, kita pulang dan makan. Sorenya kita pengamatan di hutan Gunung Batur. Kita bisa melihat mata2 para asprak yang sangat kelelahan sore itu. Kitapun lelah, cuma ya sudah. Setelah sampel di tangan kita, kita turun bukit dan kembali ke penginapan dengan truk. Malam itu energi terkuras rasanya, dengan energi tersisa kita berusaha mengkompilasi sampel kita sebelum pulang esok hari. Pulang. Semua terasa begitu cepat. Seketika, Bu Endah menghentikan proses identifikasi sampel malam itu.

“Para praktikan proeko 2009, identifikasi dan kompilasi data malam ini kita hentikan saja. Saya rasa kita semua sudah sangat kelelahan dan besok masih ada serangkaian acara sebelum pulang. Kami para dosen dan segenap tim asisten mengucapkan terima kasih atas usaha kalian hari ini, dan dari kami… kami sudah mempersiapkan api unggun dan jagung bakar untuk kalian menikmati malam terakhir di sini sebelum pulang. Manfaatkan waktu yang tersisa bersama teman2 kalian, dan selamat malam”

Sekejap, rasa kantuk itu sirna. Kita semua menghangatkan diri di dekat api unggun dan menyantap jagung bakar bersama. Kita bermain game dan saling bercerita. Bahkan teman kita yang paling pendiam pun bisa bercerita dengan serunya. Beberapa orang bahkan terlihat cinloknya. Kita semua tertawa malam itu. Kita semua mengabadikannya dengan foto bersama.

1917890_185426017153_6335564_n

Malam api unggun.

1917890_185684802153_6541802_n

Pagi itu di Resort Kedisan.

1917890_185655207153_4376558_n

Foto di Kedisan.

1917890_185655257153_1277058_n

Ini… “Sesi Pemujaan (Sesat) Asisten oleh Praktikan”

1917890_185655282153_7759993_n

Para asisten dan dosen (cewek).

1917890_185655287153_7988375_n

Mencari masjid untuk jumatan di Kuta.

Esoknya, kita memberi persembahan kepada pemilik penginapan dan foto bersama di lokasi, dan foto bersama lagi di kaki Gunung Batur per kelompok plus asisten, foto bareng para asisten dan juga tim dosen beserta medik. Kitapun berjalan ke Pantai Kuta (walau yang cowok kepotong jumatan) dan membeli oleh2 sebelum lanjut pulang melewati kantor Taman Nasional Bali Barat. Sore itu di saat matahari terbenam, saya mendengarkan lagu “Lembayung Bali” oleh Saras Dewi… dan sedih rasanya berpisah dengan Bali…

“Andai ada satu cara tuk kembali menatap agung suryamu, lembayung Bali…”

Kembali… naik kapal feri malam itu, dan menuju Stasiun Surabaya Gubeng. Sesampainya waktu menunjukkan jam 1 pagi. Kita semua tidur di stasiun. Jam 4, kita sholat subuh dan mendengar cerita Pak Gede dan Bu Endah sembari menunggu kereta. Di kereta, yang tersisa adalah lelah, sampel pengamatan, dan memori yang tak akan terlupakan.

Saya menghela napas sesampainya di Stasiun Kiaracondong jam 11 malam itu dan ketika sampai di kosan, saya sedih karena merasa semua momen tadi yang kayak mimpi itu udah lewat. Time flies on one week. Besoknya… jreeeng!! Saatnya kompliasi data lagi… dan bau formalin menyengat hidung! Plus… laporan dengan data segunung…

Gilanya lagi, semester itu Proeko bukan satu2nya mata kuliah praktikum-proyek. Ada 1 lagi: Proyek Biologi Sel dan Molekuler (Probiselmol). Proyeknya cukup nyentrik! Ekstraksi RNA, kultur sel hewan, dan main2 sama sel purna dari tulang paha dan PLASENTA MANUSIA. Segala “permainan” di sini perlu sterilitas tinggi, baik dari alat2, lab, sampai kitanya sendiri (maksudnya perlengkapan SOP kita… anunya sih jangan steril lah ya!). Cukup seru rasanya walau juga was2 ketika bermain dengan sel hewan yang lebih bawel dari sel tumbuhan.

Semester selanjutnya… ada kuliah dengan praktikum terakhir (yaaah) kami, biologi perilaku. Kuliah ini adalah penyempurna segala sesuatu yang membuat kami jadi anak yang rada psycho. Gimana ngga? Kita main dengan kecoak cuma buat ngamatin perilakunya, terus ikan, sampai cacing pipih atau Planaria yang kita belah2 terus ternyata masih hidup dan jadi 2 dan 3 (tergantung ngebelahnya). Kuliah lapangan kami, pergi ke Pulau Peucang, salah satu pulau di ujung barat Pulau Jawa yang berbatasan dengan kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.

Kemudian ada satu lagi yang saat itu HANYA SAYA yang melakukannya: Menjadi pionir anak biologi yang ambil mata kuliah di program studi Astronomi, yaitu Astrobiologi. Saat ini, kita mungkin sering banget denger soal penemuan planet di luar tata surya yang identik dengan mencari kehidupan di luar sana… ya ga? Kuliah ini membekali kita tentang asal-usul kehidupan dan kondisi2 di luar angkasa sana yang mungkin mendukung kehidupan. Waktu itu, saya kuliah hanya bertiga dengan 2 orang anak teknik fisika 2005. Anehnya, kelas itu seharusnya buat S2! Hal berkesan adalah saya jadi sering sharing dengan dosen yang sekarang jadi salah satu panutan saya, Pak Taufiq Hidayat yang dulunya adalah ketua pengurus Observatorium Bosscha. Dasar oportunis, saya pun bilang beliau buat ijin pengamatan bintang malam2. Beruntung! Saya ditemui dengan Pak Mohammad Irfan, salah seorang astronom di Bosscha yang mengajarkan saya melihat benda langit saat itu dengan teleskop Unitron. Yah, walau ngarep buat pake teleskop Zeiss (yang gede itu) sih. Cuma seru ngeliat Saturnus, Mars, Venus, Alpha Centauri 1 dan 2, Sirius, dan lainnya saat itu! Bahkan, serasa anggota olimpiade astronomi, malam itu saya bermalam di Bosscha, hehehe. Beberapa bulan kemudian, saya sadar bahwa Pak Irfan itu dulu ada di film Petualangan Sherina sebagai figuran yang jadi astronom.

29411_415259352153_7296614_n

Di bawah Teleskop Raksasa Zeiss di Observatorium Bosscha.

Tahun ketiga… setelah 20 tahun 10 bulan 15 hari 19 jam 25 menit… saya akhirnya punya pacar! Sayangnya hanya bertahan 2 bulan karena faktor orang tua dia…

Tahun Keempat

Awal tahun keempat berawal dengan kegalauan (tsaaah), meski demikian… saya harus mengakui bahwa saya itu beruntung sekali di awal tahun keempat. Alasannya? Dapat dosen pembimbing Bu Totik Sri Mariani, saya pun ikut proyek ke Singapura tanpa saya perlu buat proposal penelitian! Menjalani penelitian di National Institute of Education (NIE) Nanyang Technological University (NTU) itu adalah cerita yang saya ga mungkin bakal lupakan. “Bermain” pistol partikel untuk transformasi menggunakan bubuk tungsten dan senyawa mutagen nitrosometilurea (NMU) pada 500 tunas Aglaonema untuk membuat tanaman merah putih itu menarik… dan kedengerannya sangat badass!

65128_473677237153_6918716_n

Penelitian skripsi dulu gan!

Di sisi lain, waktu itu akhirnya ngerasain jadi asprak Probiselmol. Tiap minggu kita nongkrong di ujung lorong lantai 3 untuk briefing asisten. Kadang, saya ngerasa ga signifikan karena selain saya orangnya kaliber nya cukup “dewa” untuk menjelaskan fenomena2 di kuliah ini. Tak terkecuali dosennya, Bu Marsel dan Bu Fenny. Kadang, pas waktunya praktikum berjalan saya bolak-balik nanya asisten lain atau Bu Fenny kalau bingung… makanya, saya ngerasa abal banget jadi asisten. Seenggaknya sampai saya ngerti konsepnya, begitu ngerti… yak, I have the game with me! Di sini saya berubah jadi asisten pelit nilai… (jangan ditiru ya dek).

58940_464390107153_158341_n

Asprak Probiselmol yang absurd… dengan praktikan bocah… yang jauh lebih absurd…

Sisa tahun keempat ini ga ada yang terlalu menonjol, kuliahnya gitu2 aja dan paling saya ambil 2 mata kuliah astronomi lagi: Eksplorasi Angkasa Luar dan Astronomi dan Lingkungan. Sedihnya, keduanya bahkan ga A kayak pas Astrobiologi. Sebagian besar di waktu tahun keempat ini teman2 udah pada sibuk di lab masing2. Momen ketemuan paling cadas adalah jadi SwaSTA (Mahasiswa Sibuk TA) yang datang sebagai momok mengerikan di ospek himpunan maupun kampus. Tahun keempat saya punya pacar waktu itu, dia anak biologi 2010. Tapi yah, bertahan 8 bulan. Kadang kalo ngobrol ama temen diejek, “Sebulan lagi lahir tuh Dit padahal”. Ya kali! Itu pun putusnya sebelum wisuda. Itu kemudian sempet jadi alasan saya ga ke ITB nyaris 1 tahun.

Lebay? I know… namanya juga masih labil. Sekarang mah… ya… ngga!

Waktu berlalu… lagi, sebentar lagi saya S3. Kangen rasanya dengan semua yang di atas. Kemarin S2 pun rasanya beda. Saya meneliti dalam tingkat profesional, fun? Itu iya, cuma rasanya beda. Ga kayak pas S1. Ga usah gitu, sekarang saya pacaran aja udah mikir gimana ntarnya. Ga haha hihi kayak dulu. Tapi bukan berarti saya ga menikmati. Cuma, jadi orang dewasa itu ribet ya, cuma itulah hidup. Kadang kita takut jadi dewasa, padahal tumbuh itu mutlak, dewasa itu hasil proses.

Biarkan deh, saya tersenyum mengingat cerita2 di atas.

Buat temen2 SITH 2007, kakak2 asisten, para dosen SITH, dan bocah2 2008 ke bawah… mendadak saya jadi kangen kalian deh…

-AW-

Iklan

2 Comments

  1. Dhiiiiiit!
    Ini postingannya bimin nostalgic banget laaah~~~

    • Hehehe… 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: