Skip navigation

Saya memutuskan buat menulis ini, setelah nampaknya orang2 melihat aneh status saya

Screen Shot 2014-09-13 at 8.03.01 PM

Hmmm… kontroversial kah? Saya sebenarnya ga melihat ada yang aneh. Beberapa minggu lalu, sebelum nonton Lucy, seorang teman dekat saya bertanya sama saya, “Film2 sekarang bahaya, nunjukkin kalo manusia terobsesi jadi tuhan.” Jawaban saya?

“Manusia akan mencari jalan untuk mengikuti jejak Penciptanya. Tapi manusia tidak akan pernah bisa menjadi Tuhan sampai kapanpun. Itu mengapa, selalu ada sang perantara di setiap agama. Mereka yang terpilih untuk menurunkan ilmu Tuhan, seperti travo pada listrik, sehingga manusia bisa mencernanya. Tapi mereka pun bukanlah Tuhan atau berlaku seperti Tuhan, mereka juga manusia, namun terpilih.”

Saya pun jujur dapat banyak hal setelah nonton Lucy. Terlepas dari asal2annya teori mengenai persentase otak yang disajikan, namun di film itu secara implisit menunjukkan apa batas antara manusia dengan segala potensinya dengan “sosok” yang Godlike karena memiliki sifat omnipotensi dan omnipresensi yang dimiliki.

michelangelo_-_creation_of_adam

Sekedar ilustrasi batas… “Creation” oleh Michelangelo.

Menurut saya, secara fisis Tuhan memegang 3 sifat: Omnipotensi, Omnipresensi, dan Omnisaintik. Omnibenevolensi itu lari ke sifat seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, dsb sehingga saya lepas dari aspek bahasan utama… karena juga 3 aspek itu adalah sesuatu yang manusia saling berburu untuk bisa menguasai dengan apa yang mereka punya. Ah tambahan, saya membahas ini secara universal, persepsi personal mengenai ini tapi semua orang boleh komentar soal ini. Intinya, saya ga mau bahas secara agama spesifik.

Omnipotensi… adalah aspek Maha Bisa atau Maha Kuasa. Ini adalah sifat yang menggambarkan entitas yang bisa menciptakan, menjaga, dan merusak sesuatu dari hal yang secara tak hingga kecil sampai tak hingga besarnya dalam periode sekejap ataupun berkala dengan semua berada di dalam kendali entitas itu sendiri. Entitas pemilik sifat ini bahkan memiliki jawaban atas pertanyaan paradoks di luar nalar…

“Jika entitas Omnipotent mampu menciptakan segalanya, bisakah ia menciptakan sesuatu yang tidak bisa ia hancurkan?”

Sampai kapanpun ini akan terus menjadi paradoks karena kita melihatnya sebagai manusia.

Untuk mencapai sifat ini, manusia sudah banyak melakukan hal seiring perkembangan teknologi yang mereka kembangkan sendiri. Kita bisa lihat secara signifikan betapa canggihnya ilmu fisika dan biologi saat ini, kita pun semakin dekat dengan penciptaan. Bedasarkan sekuens ilmu yang awalnya dari filsafat metafisika, astronomi, fisika, kimia, biologi, antropologi, sosiologi, dan seterusnya… dari bagaimana manusia merenung tentang bintang, kita bisa memegang kekuatan bintang! Ya, fusi nuklir… fusi 4 inti atom hidrogen menjadi 2 inti atom helium dengan energi yang dilepaskannya. Tahun 2012, kita pun menemukan Higgs Boson yang berkontribusi pada massa suatu zat, tinggal menunggu waktu kita akan bisa memanipulasi massa benda.

Biologi? Sebagai peneliti bioteknologi, dan sebagaimana tertulis di status Facebook saya… saya sudah menyebutkan. Sejak Miescher menemukan asam nukleat, Watson-Crick menjabarkan sifatnya, kita yang awalnya menguasai teori yang seabad sebelumnya dijelaskan Mendel bahkan kemudian menurut Hardy-Weinberg, lalu kita menguasai mutasi genetis dan epigenetis dengan kita mampu menggunakan mutagen dalam pemuliaan makhluk hidup. Tak lama, kita menguasai rekayasa genetika. Kita menemukan berbagai vektor transfer genetika, biolistik (bombardir partikel), bakteriotransfer, viral transfer, infeksi langsung, dan semacamnya. Awal dekade 2010, kita masuk kebangkitan biologi sintetika. Rekayasa genetika secara ekstrim di mana kita bisa mengubah rancang bangun makhluk hidup dari nol. Lahirnya Mycoplasma laboratorium di Craig Venter Institute adalah bukti nyatanya. Tahun 2014 ini, tengah dekade ini… di Genoa, Italia… dilakukan konferensi xenobiologi pertama di dunia. Ilmu ini memungkinkan kita suatu saat nanti untuk merancang dan membuat makhluk hidup dari nol dengan konformasi yang berbeda dari semua yang ada. Ah ya, sebelumnya saya pernah bahas mengenai xenobiologi sebagai ilmu biologi alien. Hal yang perlu kita ketahui, alien pun bisa kita buat. Suatu saat, sistem taksonomi, morfologi, anatomi, dan histologi akan bertambah dengan munculnya makhluk2 sintetis. Takut? Jangan… bersiap2 lah. Ingat bahwa di bawah nano masih ada piko, femto, dan seterusnya? Ya… di atas nanoteknologi ada pikoteknologi di mana kita diduga bahkan bisa merancang senyawa dan atom, dan femtoteknologi di mana kita merancang atom dengan penguasaan teknologi rekayasa sub-partikel.

Omnipresensi, adalah sifat yang mengacu bahwa entitas pemilik sifat ini ada di mana2, untuk setiap persepsi, dan lokasi. Pendekatan atas sifat ini ditandai dari majunya teknologi komunikasi dan transportasi manusia. Kita mengetahui bahwa semenjak teknologi ditemukannya gelombang radio oleh Guglielmo Marconi, lahirnya telepon oleh Alexander Graham Bell, penerbangan perdana oleh Wright bersaudara, kita sekarang menikmati dunia di mana segala sesuatu tidak ada batasnya. Internet ada di setiap tempat dalam wujud wireless frequency atau wifi dan hampir kita semua memiliki alat yang memanfaatkan sinyal itu. Kita terhubung satu sama lain bisa dengan video atau sekedar voice, jarak ribuan kilometer bukan menjadi halangan lagi. Pesawat semakin canggih dengan teknologi komputer yang luar biasa, dan mesin yang membawa kita terbang ribuan kilometer jaraknya. Penerbangan ke luar angkasa pun telah menjadi misi yang kita telah lakukan berkali2. Lalu? Kita masih menunggu pemanfaatan hologram untuk komunikasi. Kemudian kalau saya ga salah komunikator yang mengirimkan sensasi sentuhan berupa pelukan, bahkan aroma pun sudah berhasil ditemukan.

Hukum ketiga Arthur C. Clarke, teknologi yang sangat maju akan tak terbedakan dari sihir. Lalu bagaimana dengan fenomena parapsikologis, bilokasi atau multilokasi? Di atas kemampuan kleirvoyans dan proyeksi astral, konon kemampuan yang belum diuji kebenarannya menyebutkan ada beberapa orang mampu berada di dua lokasi sekaligus. Tapi bahasan parapsikologi akan saya bahas lain kali, intinya pemahaman kita untuk pendekatan ini masih kurang.

Dengan hologram super yang mampu mereplikasi diri lengkap dengan sensasi aroma dan suara nantinya, kita bisa berada di lebih dari 1 lokasi. Namun jurang pemisah antara multilokasi ke omnilokasi masih sangat sulit dijabarkan. Dengan teknologi komunikator implan yang memungkinkan kita untuk terkoneksi dengan orang di manapun, masih belum menjabarkan omnipresensi. Untuk mencapai ini, manusia harus mampu melebur ke dalam semesta. Gambarannya, di film Lucy, Lucy berubah menjadi biomassa, dan menghilang menjadi partikel2 Lucy. Apa mungkin kita harus menguasai perpindahan kesadaran (consciousness transfer) terlebih dahulu untuk memanipulasi lingkungan?

Terakhir, Omnisaintifik. Aspek ini adalah sifat Maha Mengetahui, mengetahui segala sesuatu baik sangat dekat secara tak hingga (lebih dari menempel; menjadi satu) atau jauh secara tak terhingga, besar atau kecil secara tak hingga, cepat secara tak hingga ataupun tiada gerakan. Entitas pemegang sifat ini mampu menjadi Setan Laplace (Laplace’s Demon) yang mampu menjawab aspek ketidakpastian Heisenberg ataupun persoalan Schrodinger; dengan kata lain… mampu mengetahui apapun, dimanapun, siapapun, bagaimanapun, dan mengapapun.

Pendekatan saat ini mungkin adalah aspek komunikasi terkait media sosial. Gimana ngga? Di Facebook, kita dapat berita dari lembaga berita ataupun orang lain. Kalimat “Setiap orang berpotensi jadi reporter” saat ini memang sudah bisa disahkan. Kita salah ngomong, kita masuk internet. Liat aja Flo dari FH UGM kemaren. Heboh, dari kejadian 1 orang.

Tapi mengenai pengetahuan, orang kadang ada yang haus dengan pengetahuan, tapi ada pengetahuan yang kita ga mau dapatkan. Takdir kematian kita atau orang yang kita cintai, jodoh kita atau orang lain, kita jelas bakal galau kan kalo tau? Tapi bagi entitas yang tidak memerlukan itu, maka pengetahuan2 itu gak lebih dari pengetahuan saja. Tidak ada keterkaitan emosi itu diperlukan jika seseorang menginginkan pendekatan langsung ke sifat omnisaintifik ini. Cuma… otak kita punya batas untuk mengetahui segala sesuatu. Untuk ini, kita perlu memperbesar daya simpan otak kita, ataupun memperbesar sesuatu yang menjadi otak kita. Memori transendental dengan kata lain.

Ah, ada lagi sebenarnya 1 sifat Tuhan: Abadi atau imortalitas. Manusia pun juga berusaha mengejar pengetahuan itu, kan? Mulai dari teknologi cryopreservation, sampai upaya untuk mentransfer isi otaknya ke dalam alat dan semacamnya. Tapi dari sini pertanyaannya, dengan memori kita abadi, apakah kita hidup? Apakah dengan memori kita abadi, kita telah merangkul imortalitas? Tapi yang saya sadari juga ada 1 hal: Keabadian juga bisa menjadi kutukan. Gimana ngga, mau kita ngeliat orang yang kita sayang mati lebih cepat dari kita dan terjadi berulang2 hingga akhir waktu?

Yah… memiliki 1 sifat di atas, kita belum menjadi Tuhan… bahkan sayangnya memiliki 3 itu pun kita belum menjadi Tuhan. Karena menjadi Tuhan memerlukan semua aspek yang bahkan hanya Tuhan yang tahu dan kita ga tau sekarang, sesuatu yang saya sendiri belum tahu. Itulah, kita sebagai manusia akan berusaha mencari ilmu Tuhan, tapi manusia akan menjadi gila kalau terlalu banyak bertanya dan berpikir mengenai cara menjadi Tuhan.

Kita tidak akan menjadi Tuhan, tidak bahkan untuk semesta yang kita buat sendiri. Meski demikian, kita ga punya hak untuk menahan pikiran para pencari Tuhan itu. Karena sebagian dari mereka ingin mencari titik terdekat antara dirinya dan Tuhannya.

-AW-

Iklan

3 Comments

  1. Out of the box!
    Suatu saat nanti bakal ada alat teleportasi, dan bisa jadi yang menjadi dasar pembuatannya adalah ilmu santet.
    Namun jika alat teleportasi tidak sempurna, maka partikel yang berpindah bisa jadi gak sempurna kayak di film Spongebob dimana si Sandy nemukan alat teleportasi tapi bisa buat Spongebob dan Squidward bergabung tubuhnya tak karuan.
    Izin share mas.

    Salam,
    Jaler Sekar Maji

    • Yep, teleportasi dan ilmu santet itu se-ide. Mengirimkan benda materi dari satu tempat ke tempat lain. Kenapa ga ada sih yang mau mempelajari secara ilmiah gimana benda itu terkirim? Kalo bisa kan nanti kayak Protoss di Starcraft yang markasnya dibangun dari tempat lain dan dikirim ke medan tempur kapanpun aja. Hahaha, kalo yang di Spongebob, saya ragu itu alat teleportasi sebenarnya. Itu bukannya Sandy mau buat alat untuk menggabungkan alat ya? Cuma kalo hal ini yang mirip adalah upaya teleportasi dalam Proyek Philadelphia: http://en.wikipedia.org/wiki/Philadelphia_Experiment

      Begitulah!

      Salam,

      AW

      • Hmm, benar juga ya. Dulu waktu SMA guru pembimbing penelitianku yang punya ide-ide gila pernah bilang kalau santet itu menarik untuk diteliti ditunjang dari teori-teori fisika, dan nanti main di rumus-rumus yang ada, sepertinya semakin menarik nih. Wah benar itu, berpikirlah seperti Nicola Tesla yang pernah bilang kalau suatu saat ada alat komunikasi yang dapat dibawa kemana-mana dan kata-kata tersebut sekarang telah jadi kenyataan. Alat teleportasi mas “Sandy shows SpongeBob how it works by teleporting an apple to Mrs. Puff’s desk. SpongeBob asks Sandy if it can transport him to the Krusty Krab. She allows him to try it. When he gets there, part of Squidward’s arm gets stuck in him.”(http://spongebob.wikia.com/wiki/SquidBob_TentaclePants. 14 September 2014. 22.58 WIB). Ngeri juga denger Proyek Philadelphia itu di bagian menghilang, muncul cahaya biru dan pindah sejauh 320km. Tapi ini aku lihat kok ada tulisan need citation, apakah ini hanya sebuah konspirasi? Mungkin kita butuh menyelam lebih dalam lagi di dunia maya yang lebih gelap jauh di dalam sana (deep web)

        Salam,
        Jaler Sekar Maji


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: