Skip navigation

Halo pembaca! Berhubung nanti malam kita memasuki tanggal 1 Ramadhan 1435 H, saya ingin mengucapkan mohon maaf atas kesalahan baik dalam kata2 ataupun lisan yang pernah terucap, semoga amal ibadah puasa kita yang merayakan bulan suci ini diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan baik. Aamiin…

Kali ini, cerita saya lebih ke tentang sebuah restoran berbasis pesan antar (delivery) di Bandung, yang saat ini sudah tidak ada. Masih ada kaitannya dengan bulan suci, resto satu ini meninggalkan banyak kesan untuk saya.

Pertama2, buat kalian… mahasiswa-mahasiswi, bagaimana persiapan puasa kalian dalam sisi material (maksudnya bahan pangan)? Apakah selama bulan Ramadhan ini kalian pesan katering rutin yang akan mengantarkan tiap sahur, apakah kalian memang suka jalan2 pas sahur sehingga kalian udah punya spot langganan atau restoran yang dituju, apakah kalian suka masak, atau… kalian jarang sahur? Apapun itu, saya yakin di tiap diri kalian yang kuliah di se-antero tanah air khususnya pasti punya cerita soal itu.

Termasuk saya… kisah makan sahur saya selama 4 tahun di masa kuliah S1 saya beda2 dulu di Bandung. Tahun pertama, saya memesan katering dari Kantin Koboy Cisitu. Saya sejujurnya males makan nasi buat katering, kenapa? Porsinya ga kira2… porsi di mana lauk dikit sementara nasi berlimpah. Saya soalnya kalau makan lebih suka banyak lauk daripada karbo. Jadi biasanya saya menggantinya dengan kentang atau ga pesan nasi sama sekali. Konyolnya, suka missed info ke mereka ini. Gimana? Tau2 dikasih nasi segudang, terus sisanya jamuran di kosan saya dan paling konyol dari soal katering… mereka pernah datang 5 menit sebelum imsak! Alhasil, setelah itu saya mengurungkan niat buat katering lagi di tahun selanjutnya.

Tahun kedua, saya memilih buat membeli bumbu nasi goreng kalengan rasa tuna kesukaan saya. Yah, ini adalah poin plus kosan saya yang ada di kawasan Cisitu Lama IX ini punya fasilitas asik berupa dapur, nasi bebas ambil, dan air minum dispenser (walau merknya ga jelas… dan konon jarang dibersihin). Alhasil saya pun masak tiap sahur… (walau kadang kelewat males jadi cuma makan roti… atau sahurnya bablas).

Tahun ketiga… ini yang akan menjadi highlight cerita saya kali ini.

400457_284589158255561_1240943883_n

Saat itu, di Bandung ada sebuah restoran yang udah saya sebutkan tadi bernama Farfalle Pasta. Restoran ini sangat unik karena tempatnya virtual; dengan kata lain kita hanya bisa memesan via telepon, SMS, dan bahkan kerennya… via teknologi Yahoo! Messenger (YM)! (terakhir di 2011 bahkan bisa pesan via website di mana PHD dan yang lain belum bisa fasilitas ini!). Dahsyatnya lagi, tidak ada minimum order payment, ga ada pajak harga (gw rasa harganya udah masuk pajak)… dan di atas segalanya, porsinya ga main2 DAN RASANYA ENAK BANGET! Resto satu ini mampu mengungguli restoran sekelas Pizza Hut (karena rasa masak-ulang nya kerasa banget… ga terlalu seger) dan bahkan Warung Pasta pada saat itu (yang terlalu berair… konsistensi creamy nya jelek). Andai Kulinerologi si AW sudah ada dari dulu, saya akan kasih cawang penuh (√√√√√). Bukan karena hanya rasanya yang hampir menyaingi makanan bintang lima, kreativitas menu, keunikan rasa, kemudahan dalam pemesanan, hingga feedback yang sangat positif membuat saya ga akan ragu memberi nilai penghormatan sebesar itu!

“Lo ga lebay kan, Dit? Emang makanannya gimana? Liat lah!”

Soal makanan, tempat ini menyediakan pasta sebagai makanan utamanya. Tersedia dalam porsi S (Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00), M (Rp 10.000,00 – Rp 13.000,00), L (~ Rp 15.000,00) (dan terakhir pesan ada XL… sekitar Rp 21.000,00 dan seinget saya ada XXL buat senampan penuh buat hajatan, Rp 50.000,00 an). Menunya tersedia mulai dari pasta otentik (Bolognese, Carbonara, Alfredo), hingga hasil kreativitas mereka sendiri. Walaupun yang kita dapat setelah sampai bentuknya ga sesuai yang di gambar, porsinya… gak main2!

dsc00966

Kurang lebih ini… porsi M, Spicy Tuna Sweet Fusili (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

“Dit… gw tau lo udah lupa mungkin… tapi dengan sisa2 memori yang mungkin masih ada… tolong deskripsiin dong gimana rasanya!”

Meh… bawa2 memori. Curcol sedikit, tahun ketiga kuliah akhir adalah momen pertama kali seumur hidup saya dapat pacar. Namun sayang perjalanannya ga mulus akibat ga direstui oleh ortu pacar (mantan) saya waktu itu. Thanks to Rino yang kebetulan waktu itu ada dan juga thanks to resto ini. Hubungannya? Ah saya lupa… hingga 2010, tempat ini menyediakan fasilitas pre-order untuk sahur! Catatannya, pesan pas malamnya atau maksimal jam 2 atau traffic antar nya bakal membludak.

Kesukaan saya… Fettucine Alfredo w/ Barbecue Mushroom…

421269_323718664342610_302239243_n

Maaak… kangen gw makan yang ini! (Sumber: Page FB)

Fettucine yang dimasak dengan saus krim dan mentega (butter), ditambah dengan potongan jamur kancing yang ditumis dengan saus barbecue dan bawang bombay. Rasanya? Susah dijabarkan dengan kata2. Rasa manis-spicy dari jamur dinetralisir dengan rasa mild dan gurih dari krim di pastanya. Hmmmmmmm~

Kedua, Spicy Tuna Sweet Fusili… yang satu ini emang agak pedes, manis, asam. Tuna dimasak dengan saus tomat, cabe, bawang putih, dan pasta fusilli. Nendang banget!

Ketiga… saya lupa, seinget saya… Fettucine w/ Creamy Rosemary Chicken. Ini dahsyat sih! Fettucine, dimasak dengan ayam yang udah ditumis, dikasih krim yang terinfusi herba rosemary yang wangi dan manis. Gileeeee!

Keempat, yang lucu… ada pasta kalo ga sala Fettucine with Choco Sauce. Ini manis. Pake saus krim coklat pake mentega, jadi rasanya manis2, asin, gurih gitu. Sempurna, dikasih keju mozzarella. Maaaaaak!

Bahkan… kelima… Spaghetti Bolognese nya sendiri… manis, dagingnya kerasa dan herba2 di dalamnya kerasa, ada oregano, rosemary, basil, dll. Rasa tomatnya juga ga main2!

Sekarang udah kebayang? Dengan harga yang asik, sahur saya jadi ga galau berkesan!

Komentar saya cuma satu waktu itu… ini restoran namanya “Farfalle”… kan artinya pasta kupu2… kok ga ada yang pake pasta kupu2?

Screen Shot 2014-06-28 at 9.48.04 AM

Ini lho!

Sampe sekitar 2011 awal (curcol lagi: ketika saya sama mantan kedua saya), saya (kami) suka memesan pasta2 dari Farfalle buat makan bareng. Lalu menjelang saya lulus, tempat ini udah ga bisa buat pesan sahur, dan… mereka buat restoran di kawasan Pasteur, Bandung. Awalnya, gw mikir… wah keren… dari delivery… ke resto!

Tapi sayangnya… itu ga bertahan lama. Awal 2012, mereka lenyap… ntah kenapa. Emang sih, saya udah di Jakarta.

Tahun 2014 ini… pas saya cek. Bahkan restorannya udah ga ada (di Foursquare ada, tapi lokasi ga ada di kenyataannya)…

Ternyata…

Screen Shot 2014-06-28 at 9.55.51 AM

2009-2013 (sumber cek: sini)

Domain Farfalle Pasta udah expired. Kenapa ya mereka tutup? Masa sih setelah buka, mereka jadi bangkrut?

Damn… jujur saya bakal kangen sama ini…

pasta

Dat website… (sumber gambar dari blog “the fairytale of tiarakami“)

Walaupun beberapa gambarnya masih ada di Page FB mereka sih, cuma man… I miss to eat their pasta!

Serius… kalo ada yang tau ternyata saya salah (baca: ternyata masih ada), tolong kasih tau saya di komen ya! Saya pengen banget bisa makan ini lagi kalo saya ke Bandung. Banyak kenangan dengan saya makan makanan di sana.

Moral cerita:

  1. Di era yang serba sibuk ini, kayaknya bisnis makanan delivery bisa dibilang menjanjikan. Alasan? Ga perlu tempat besar untuk restoran, cuma butuh dapur dan kurir antarnya.
  2. Setiap orang pasti punya makanan yang memiliki kenangan saat makan… ntah karena keluarga, teman, pacar, mantan, istri, siapapun… itu lah kenapa makanan itu spesial buat saya. Terlebih lagi kalau dimasaknya dengan ide original dan dimasak sepenuh hati.

PS: Tahun keempat? Saya puasanya banyak di rumah saya karena tahun keempat di bulan Juli-Agustus skripsi saya udah beres (laptop ilang… terus saya putus ama mantan saya yang kedua *curcol*)

-AW-

Iklan

3 Comments

  1. lagi kangen farfalle pasta, googling, terus nemu post ini paling atas.. penuh kenangan emang, langganan bgt jaman kuliah duluu hiks

  2. bangeeeett.. kangen banget.. soalnya dulu terakir kali makan di tokonya yang ada di samping dcrepes deket hotel permata T.T

  3. Ya ampun dr kemaren gw mencoba mengingat2 nama resto ini, yg selama gw kuliah bner2 jadi penolong kehidupan 😂
    Dan baru tau kalo udh tutup, jadi sedih.

    Thank you for the story. Dan penjabaran bbrp menu yg ngangenin. Dari sariwangi kirim ke cisitu meskipun cuma beberapa ribu juga mau. 😢 smoga skrg ada lagi krn udh ada goFood.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: