Skip navigation

Cerita ini saya masukkan ke blog ini (bukan blog Kulinerologi) karena ini lebih bercerita ke perjalanan saya, bukan ke minumannya. Kisah yang sudah sempurna mengenai minumannya nantinya akan dipublikasikan ke sana.

Semua berawal… dari kejadian sekitar 14 tahun lalu.

Sejujurnya, saya merasa beruntung karena saya hidup dalam keluarga saya yang bisa dibilang petualang, sejarawan… ya karena dulu alm. kakek (dari bapak saya) ikut berperang dalam perang sebelum kemerdekaan sehingga beliau memiliki banyak kisah di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, dan kisah2 itu menjadi kisah yang menarik untuk kami sekeluarga dengarkan ketika menyeruput teh di sore hari, dan keluarga saya pun menjaga tradisi2 lama, tapi tidak pula konservatif. Saya bisa bilang berada di generasi peralihan di negara ini. Sebelum generasi ’89 atau ’80 akhir, generasi yang ada kebanyakan adalah generasi lama yang konservatif sebagai mana yang mungkin kebanyakan orang tahu memiliki peraturan2 ketat dalam kehidupan, dan setelah generasi ini, era modernisasi dimulai. Mulai dimanjakan oleh teknologi, dan peraturan2 pun mulai melunak. Saya beruntung lahir di tahun 89.

Kembali lagi, dulu… suatu sore, saya ingat (alm) mbah kakung menaruh botol2 yang bentuknya unik (khususnya tutupnya) di meja makan di rumah. (Ket: AW: saya, RS: mbah saya, Roeslan Soeroso)

AW: Mbah, ini apa?

RS: Ini limun…

AW: Apa tuh?

RS: Cobain aja…

Percakapan barusan kurang lebih seperti itu, dari apa yang saya ingat. Saya pun menyodorkan gelas dan minum. Rasanya… seperti root beer, cuma beda. Yang saya ingat lagi, mbah sempat mampir ke restoran… ntah, sate? Soto? Atau apa? Yang saya ingat cuma bentuknya yang sangat kuno. Desain arsitektur kuno Indonesia yang khas dengan frame kayu, dan rumah makan itu ramai sekali. Hingga hari ini (Senin, 31 Maret 2014) saya ga ada ide itu di mana. Karena memori 1 dekade itu bisa dibilang memori kuno di kepala saya. Intinya, mbah membeli beberapa botol minuman itu di sana.

Satu setengah dekade berlalu, mbah udah meninggal, dan kehidupan berlanjut. Saya kuliah di S2 Pemuliaan Tanaman FAPERTA UGM sekarang. Sebagai food blogger, saya pun penasaran dengan memori tadi. Sampai saya mendapatkan, minuman yang saya minum dulu itu namanya limun sarsaparilla setelah melakukan browsing termasuk ke blog buatan Labib Akmal Basyar ini.

Sarsaparilla, pada dasarnya merupakan minuman yang diambil dari herba sarsaparilla (Smilax regelii, Killip & Morton) sebagai sumber rasa awal (namun sekarang dalam wujud essens saja), dan umumnya merupakan minuman berkarbonasi atau bersoda (dikenal sebagai limun). Perlu dibedakan dengan root beer, walaupun sarsaparilla merupakan salah satu dari komponen yang ditambahkan ke dalam root beer, selain ekstrak akar sassafras (Sassafras albidum), akar lycorice (Glycyrrhiza glabra), getah birch (Betula sp), dan banyak lagi. Minuman ini adalah minuman kesukaan kalangan bangsawan Jawa di masa lalu. Kemungkinan asalnya dibawa oleh para pedagang VOC di era kedudukannya di Indonesia. Saat ini, minuman ini merupakan minuman langka. Menurut blog ini, dari sekian banyak merk, yang tersisa kini hanya 3: Minerva, Ay Hwa, dan Indo Saparella (yang paling baru).

Rasa penasaran saya berawal pula dari kunjungan saya ke Sate Kuda Gondolayu.

skg-saparella-2  skg-saparella-1

Segelas sarsaparilla, merk Indo Saparella.

Membaca blog tadi dan mendapatkan alamat pembuatan sarsaparilla merk Indo Saparella ada di Jalan Magelang Km 6,1, sementara Ay Hwa berada di Jalan Pandega Marta no. 100. Wah, Jalan Pandega Marta masih berada di dalam lingkar pencarian saya karena dekat dengan kos saya.

Akhirnya saya pun mampir ke sana dengan motor dibonceng teman saya, Taufiq. Sayangnya, saya tidak dapat minuman ini karena limunnya langsung dijual ke sebuah daerah di Jalan Pasar Kembang (yang ketika saya tanya, saya ga ngerti itu di mana), tapi saya hanya dapat sirup sarsaparilla yang merupakan bagian dari Ay Hwa dengan merk Efata. Saya beli dengan harga sekitar Rp 18.000,00 satu botol besar. Buat yang tidak terbiasa, aromanya seperti balsam atau minyak pijat. Cuma rasanya enak!

Ay Hwa - Efata

Ini sirupnya, sudah dikasih air.

Yah, mungkin lain kali saya bisa mencari lagi, pikir saya.

Hampir sebulan kemudian, ketika bapak saya datang ke Yogya, saya pun kembali “dibangunkan” dari periode vakum saya dalam misi pencarian ini dengan minum sarsaparilla di Wisma MMUGM yang lagi dipromosikan. Harga, Rp 13.000,00.

IS - Glass

Kemasannya… merknya… familiar…

Saya pun juga menemukan sarsaparilla merk Indo Saparella ini di minimarket dekat kosan saya di daerah Jalan Agro. Wah, minuman ini bangkit ke kejayaannya lagi kah?

Akhirnya, hari ini… 31 Maret 2014 pagi ini saya memutuskan buat tracking restoran yang disebutkan memiliki minuman sarsaparilla selain merk itu: Ay Hwa di Soto Kadipiro, Jalan Wates, dan Minerva di Moro Seneng, Jalan Magelang. Bangun pagi, nugas sebentar di kampus, berangkat. Saya naik TransYogya koridor 3A hingga Ngabean dan saya berjalan ke pertigaan di arah utara tempat itu dan jalan melewati 1 pertigaan dan 1 perempatan ke arah barat. Saya menyebrang ke arah utara jalan. Tibalah saya ke Soto Kadipiro I. Tempatnya PERSIS seperti yang saya ingat di memori saya 1 setengah dekade lalu dengan deskripsi yang saya sebut tadi. Misi, datang, nyari minum, bayar, cabut.

AW: Permisi, di sini ada sarsaparilla?

Mbak2: Wah, maaf mas… habis…

Mas2: Wah iya mas… habis…

AW: Oke…

TIDAAAAAAAAAAAAK!! Oke, lebay… tapi serius, saya liat botol2 sarsaparilla merk Ay Hwa itu dan semuanya habis. Nggak sih, ada yang masih ada isinya, cuma saya ga berani mengambil risiko. Iya lah, itu sisa dari kapan coba??

Ay Hwa - Empty (1)  Ay Hwa - Empty (2)

Yah… habis…

Perhatikan bentuk kemasannya, itu benar2 dari apa yang saya ingat pas mbah saya beli. Botol kaca yang antik, label juga antik, dengan tutup keramik berkawat. Serius, ini kan distribusinya hanya terbatas, tapi tiap hari apa? Saya penasaran soalnya!

AW: Mbak, selain di sini ada di mana lagi ya?

Mbak2: Coba di seberang (Soto Kadipiro II) deh, mas…

AW: Sip, makasih, mbak…

Saya pun nyeberang… tapi yang mereka jual itu yang Indo Saparella. Saya pun keluar lagi. Bukannya saya anti sama merk ini, cuma karena ini yang paling terdistribusi luas, saya mikir mau belinya belakangan aja. Nanti pas udah mau pulang di minimarket dekat kosan.

Akhirnya saya menyebrang lagi dan jalan ke arah barat, di perempatan, saya belok ke kiri, jalan ke arah utara dan saya naik TransYogya koridor 2B setelah jalan sejauh 1.6 Km dari lokasi turun tadi. Saya pun turun di shelter portable Perempatan Jalan Magelang, menyeberang dan melangkah 150-250 m ke utara, saya pun menemukan restoran Moro Seneng. Misi sama, datang, pesan minum, bayar, pulang. Tambahan kali ini, lihat menu.

AW: Mas, ada sarsaparilla?

Mas2: Maaf mas, lagi habis… biasanya ada *jalan ke kardus Indo Saparella* tapi belum datang lagi… mau pesan yang lain?

AW: *lihat menu, makanannya ada yang dimasak dengan bahan yang tidak dianjurkan oleh agama saya…* Hmmm… nggak deh mas, makasih ya…

Di tempat tadi tidak ada tanda2 sarsaparilla merk Minerva. Berganti total ke Indo Saparella yang pabriknya dalam radius dekat kah?

Akhirnya saya pun pulang, jalan 1 Km ke timur, naik TransYogya dari shelter Hotel Santika di Jalan Jenderal Sudirman, saya naik koridor 3B dan turun di shelter portable MMUGM. Mampir minimarket, saya pun beli sebotol sarsaparilla dengan harga Rp 13,500.00. Yah, lumayan daripada pulang dengan tangan kosong.

IS - Tube

Satu2nya yang saya bawa siang ini.

Tiba di kosan, menaruh tas, bersandar di beranda. Teman kos saya, Tama dan Deni pun menghampiri saya.

Deni: Gimana kak? Dapet minumannya?

AW: Ini…

Deni: Oh, itu sih di kampus gw (di sekolah vokasi UGM) dijual, sama botolnya Rp 8000,00.

AW: Hah? Murah amat!

Deni: Emang itu berapa?

AW: Di minimarket Rp 13.500,00

Tama: Itu di Palembang juga dijual *nunjukin HP, ada minuman sarsaparilla… lupa merknya… botol kecil kayak botol obat*

AW: Oh iya…

Tama: Yang lo minum itu udah beda. Rasanya udah lebih deket ke root beer. Mungkin biar narik pasar kali, soalnya orang2 kan suka root beer. Yang asli ga gitu, lo pernah makan permen sarsaparilla kan? Kayak gitu…

Deni: Yang aromanya kayak balsem itu?

AW: Oh iya gw tau… *ke kamar, nunjukin bekas botol Efata, ngebuka biar mereka ngehirup* Kayak gini kan?

Tama: Iya…

Hmmm… kayaknya saya bener2 harus balik lagi ke Soto Kadipiro I kapan2. Sama saya ada yang miss, di Pasar Kembang no. 78 ada biro travel yang katanya jual merk Ay Hwa. Plus, di restoran Bale Raos di area dekat Alun-Alun Kidul Keraton, dijual minuman sarsaparilla dengan susu. Saya harus mencoba lain kali!

Penasaran… kapan ya ada waktu luang lagi buat nyari minuman ini lagi? (bersambung kapan2)

PS: Cerita seri Soda van Indonesië (Soda dari Indonesia) ini ada 2 bagian, bagian pertama merupakan seri tentang sarsaparilla, dan kedua nanti tentang kawista, soda khas Rembang. Jadi, tunggu aja kelanjutannya!

PPS: Terima kasih kepada bung Labib Akmal Basyar, yang walau tidak saya kontak terlebih dahulu, blognya cukup memberikan inspirasi, referensi lokasi, dan pembangkit kenangan atas minuman antik ini… 🙂

Detail perjalanan hari ini:

Rute Hari Ini

Peta oleh Maps (OS X – Mavericks), editing dengan Adobe Photoshop CS 5.

Rute biru = rute dengan jalan kaki, rute hijau = rute dengan TransYogya. Lama perjalanan hari ini: Berangkat dari Shelter KOPMA UGM Jam 8:45 WIB, sampai Soto Kadipiro Jam 10 WIB, sampai Moro Seneng Jam 10:30 WIB, sampai kembali di kosan jam 11:30WIB. Total 2 jam 45 menit.

Klik peta untuk memperbesar.

Info Lokasi Utama:

Soto Kadipiro I, Jalan Wates. Yogyakarta. Peta lokasi bisa dilihat di Foursquare.

Moro Seneng, Jalan Magelang no. 56. Peta lokasi bisa dilihat di Foursquare.

-AW-

Iklan

15 Comments

  1. Oooh, sarsaparilla ya? Saya juga kenal minuman ini dari simbah saya. Awalnya saya pikir ini semacam produk Root Beer jenis KW, hahaha, habis rasanya mirip. Simbah saya suka minuman gini.

    Oooh, dirimu nyari yang merk Ay Hwa toh? Udah nyobain mampir warung Sidosemi di Kotagede blum? Tiga tahun yang lalu aku pernah motret temenku si Indomielezat pas kami rame2 jajan di sini. Mungkin bisa jadi penyemangatmu? hehehe.

    http://imgur.com/fATsElz

    • Kak… temenin saya… ke sana dooong… butuh transportasi dan temen niih… huhu

  2. Saya cuma punya sepeda, masak dirimu tak bonceng? wekekeke. Dirimu naik Trans Jogja aja jalur 2A turun di halte Gedong Kuning (Dep. Kehutanan) terus jalan kaki deh 500-an meter ke Pasar Kotagede. Warung Sidoseminya itu 50 meter dari pasar.

    • Hemmmm… wew, oke deh kak… Waks, jauh juga…

  3. Mas klo d palembang beli nya di mana yaa

    • Wah, untuk sarsaparilla merk cap Badak itu… saya belum pernah ngecek lebih lanjut nih. Udah pernah survey si Google atau nanya2 ke Pasar Cinde atau di area Jembatan Ampera?

  4. kemaren nyoba yang indo saperella kebetulan ada stand di jec, tp sepertinya dl pernah ngerasaain minuman ini stelah dingat2 ternyata A&W, rasanya kok mirip. tp setelah baca ini jadi pengen mencoba limun ay hwa dan minerva,

    • A&W emang ngebuat soda sarsaparilla juga…

      Minerva udah ga ada, monggo coba yang Ay Hwa 🙂

  5. sepertinya peminat minuman ini masih ditemukan peradabannya karena rasa kangen dari sarsaparilla emang ga bisa di tangguhkan hahaha terimakasih info kali ini mas, saya lagi cari-cari info tentang limun sarsaparilla ini juga. ada ide untuk mengembangkan usaha berjualan minuman ini secara gerobakan agar mudah untuk dinikmati kembali. tulisan anda ini membuat saya jadi tersemangati untuk melanjutkan ide saya ini. besok kalo sudah terealisasikan insyaAllah saya kabari. maturnuwun nggih

    • Semoga dilancarkan ya, sori tulisan saya belum bisa lanjut lagi karena beberapa hal teknis… 🙂

  6. Kak, mau tanya yg minimarket yg jual saparella itu namanya apa? Deket mmugm? Temen saya liar kota afa yg mnta dikirimin soalmya, perlu banget infonya. Hehehe. Makasih ya kak sebelumnya

    • Itu di dalem Wisma MMUGM. Tapi kalo ga ada, banyak kok di Yogya. Di Malioboro (pasar) aja ada

  7. apa ada yang tau dimana jual akar sarsaparilla nya..? mohon info nya…. terimakasih….. 🙂

    • Wah maaf, kalau itu saya sendiri kurang yakin ada di Indonesia

  8. permen sarmento hahahah


3 Trackbacks/Pingbacks

  1. […] PS: Cerita sebelumnya klik ke sini. […]

  2. […] teman saya, yang menerbitkan artikel tentang salah satu minuman yang hampir punah di kota ini. Tulisan teman saya sangat menginspirasi saya untuk melakukan perburuan minuman langka ini di kota […]

  3. […] teman saya, yang menerbitkan artikel tentang salah satu minuman yang hampir punah di kota ini. Tulisan teman saya sangat menginspirasi saya untuk melakukan perburuan minuman langka ini di kota […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: