Skip navigation

Kisah ini… menggambarkan betapa randomnya saya di hari ini, tanggal 31 Maret 2014 ini. Ntah, apa yang ada di pikiran saya sehingga saya sangat mobile hari ini. Mulai dari kisah sebelum ini ketika saya mencari sarsaparilla, berlanjut di sore hari tentang kisah yang akan saya ceritakan ini. Sejujurnya… kisah ini berakar dari blog sama yang saya baca waktu itu. Hanya berasal dari rasa penasaran saya atas minuman yang disebut “Sapaitu”, sarsaparilla dicampur susu. Lokasi? Di Balé Raos, lingkungan keraton. Nyalakan GPS dan Foursquare, saya pun beranjak dari kampus jam 16:20 WIB sore. Naik TransYogya koridor 3A, turun di Pojok Keraton Kulon, dan jalan kaki yang nampaknya hampir 2 Km. Yak, saya lelah. Cuma saya ga mau keluarkan uang sepeserpun, akhirnya saya pun jalan walau godaan besar sekali untuk naik becak.

Ah iya, kenapa saya tulis lagi di sini? Bukan ke Kulinerologi? Karena… ceritanya abstrak! Yah, saya tulis sih di sana, tapi cuma tentang makanannya, bukan apa yang saya alami keseluruhan di sana.

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati area yang saya bahkan ga tau sama sekali, akhirnya saya tiba di Balé Raos. Tempatnya megah… sangat megah. Tapi sangaaaat sepi. Saya pun masuk, walau dengan muka lusuh dan berkeringat, saya harap saya ga dianggap orang aneh.

AW: Mbak, ini… restorannya buka kan?

Mbak: Iya buka kok, mas.

AW: Bisa pakai debit Mandiri?

Mbak: Bisa mas…

AW: Oh, oke deh!

Mbak: Mau duduk di sebelah mana, mas?

AW: Di sebelah sana…

Saya pun mengambil kursi outdoor yang paling terang. Alasan? Di dalam nampaknya sudah dipesan, dan di tempat ini saya setidaknya bisa memotret dengan baik.

Sejujurnya, saya sangat suka dengan pelayanan di sini. Free flow water, dan ada hors d’ouvre (cemilan pembuka) keripik jagung.

IMG_5599

Sedaaaaap…

Prosedur standar saya: Duduk, lihat menu, cari yang unik tapi harga terjangkau, pesan, menunggu, siapkan Evernote Food (apps ini adalah senjata andalan saya untuk menyimpan referensi hidangan yang saya pesan), makanan datang, potret, masukkan Evernote Food, makan/minum dan nikmati, bayar, pulang!

Menu pun tiba di tangan saya. Saya pun takjub. Ah ya… nama restoran ini adalah Balé Raos Royal Cuisine Restaurant ketika saya buka di Foursquare. Seisi menu, saya melihat daftar makanan yang merupakan makanan kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono VI hingga X (yang incumbent menjabat saat ini). Mengenai harga… jujur saya kagum dengan harganya yang lumayan terjangkau untuk sebuah royal banquet. Akhirnya saya mau memesan makanan dan minuman…

AW: Mbak, saya pesan bistik jawa dan sarsaparilla ya…

Mbak: Maaf mas, sarsaparilla nya sold out… (artinya es sapaitu nya juga ga ada)

AW: Yah… oke deh, es lemon tea aja…

Saya dari tadi membaca menu lagi dan lagi. Saya mempelajari pola di sini. Nampaknya pada periode kesultanan ke-6 dan sebelumnya, sajian kuliner di sini masih agak kuat pengaruh Jawa nya. Masuk periode ke-8, pengaruh Belanda mulai kental. Yang menarik adalah pada periode kesultanan ke-9, di bawah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelumnya, saya pernah ke museum keraton bersama Aria dan Dwiki di tahun 2013 awal. Kami menemukan bahwa… Sri Sultan ke-9 ini, nampaknya orang yang sangat multi-talenta, dan multi-tasker sekali. Bagaimana tidak? Beliau disebutkan pernah menjabat 20 jabatan dalam 1 waktu (mak… saya ngejabat 4 posisi aja mabok… pas PROKM ITB 2009… jadi kadiv dokumentasi, pendiklat taplok, perangkat materi divisi taplok, dan pendiklat lapangan… ah, dan saya ketua unit Klub Fotografi Nymphaea saat itu, oke… 5). Tapi yang keren, beliau suka eksperimen dapur dan juga merupakan fotografer. Salut untuk Kanjeng Sultan ke-9!

_MG_9662

Bumbu masak milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX…

_MG_9660

…dan kamera2 milik beliau.

Di menu, saya melihat banyak makanan yang merupakan makanan kesukaan Kanjeng Sri Sultan ke-9, dan juga ada salah satu masakan racikan beliau. Pesanan saya ini, Bistik Jawa merupakan makanan kesukaan beliau juga lho!

Tak lama, pesanan saya pun datang… (khusus ini, gambar dan review-nya saya taruh di blog saya yang Kulinerologi, artikel mengenai Bistik Jawa, Bale Raos)

Asli… enak… saya jadi ingat dulu mbah putri (dari bapak) pernah masak bistik Jawa juga buat saya. Masaknya sederhana, daging has dalam ditumis dengan sedikit minyak, mentega, merica, garam, dan potongan bawang bombai. Setelah daging matang, angkat. Sisa di wajan ditambah air hingga menggenang, tambah sedikit kecap dan saus tomat. Tambah garam jika kurang asin, atau jika terlalu asin tambah gula dan air. Ini menjadi sausnya. Abis itu, santap deh! Untuk yang saya makan di Balé Raos ini, mereka menggunakan daging cincang, jadi kayak beef burger steak, lalu dengan kentang tumbuk yang dipadatkan, jagung muda, brokoli, dan wortel rebus dijadikan sayur (sisanya dibahas di blog sebelah).

Ah… mantap! Setelah makan, saya pun bayar.

AW: Mbak, mint bill nya dong…

*ga lama kemudian*

Mbak: Mas, maaf… untuk debit Mandiri minimal Rp 100rb, BCA yang lebih rendah…

AW: Mbak… kok gak bilang dari tadi? Di sini ATM di mana ya?

Mbak: *nanya temen2nya* Itu dekat Pasar Ngasem.

AW: Mbak, itu jauh… harusnya bilang dari tadi kalau ada minimalnya. Gini deh mbak, ada yang bisa antarkan saya naik motor ke ATM?

Mbak: *nanya temen2nya*

Mas: Mas, saya aja deh yang antarkan…

AW: Oke deh… dan mbak, gini aja deh, ini saya ada Rp 50rb, saya bayar yang Rp 15rb nya (dari total Rp 65rb) dulu, nanti Rp 50rb nya dari ATM dari mas ini aja ya…

Akhirnya (dengan sangat2 merepotkan) saya diantar si mas naik motor. Saya pun nanya2 soal sarsaparilla nya, dan ternyata mereka pakai Indo Saparella. Wow, emang ini lagi booming banget ya. Si mas nya nanya saya kos di mana, saya pun jawab di Kaliurang.

Akhirnya lagi, saya ngambil uang di ATM BRI (Aaaargh! Kena charge!) dan ngasih ke si masnya. Tapi saya… masih dudul lagi…

AW: Mas, boleh numpang antar sampai halte TransYogya yang dekat sini ga?

Mas: Boleh mas, yang mana? Yang itu ya?

AW: Iya, yang Ngabean di situ kan?

Mas: Oke deh…

Lalu saya kasihkan uangnya dan diantarkan masnya sampai lampu merah shelter Benteng Keraton Kulon, dan saya pun pulang naik TransYogya koridor 3B seperti biasa.

Oke, jujur saya tertarik sama restoran itu… tapi dengan saya udah merepotkan gini, saya jadi kabur dulu deh…

Pesan moral:

Buat restoran: Tolong kasih tahu pelanggan mengenai adanya charge (untuk kartu kredit) dan minimum payment (untuk kartu debit) sebelum pelanggan memesan. Apalagi jika card machine nya rusak. Kalian ga mau ketemu pelanggan seperti saya atau BAPAK SAYA yang lebih keras lagi… saya masih toleran walau nyusahin, bapak saya? Kalian dijamin diam, walau ada manajer di situ.

Buat pelanggan: Tolong siapkan uang lebih di dompet kalian sebelum jalan2! Cash over card, no exception.

Apapun deh, semoga Kanjeng Sri Sultan tidak tepok jidat membaca cerita saya ini.

-AW-

Iklan

One Trackback/Pingback

  1. […] Ekstensi tulisan terfokus kuliner dari blog Log si AW. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: