Skip navigation

Pembaca sekalian, kali ini saya cuma mau cerita hal yang gak penting.

Pagi ini, ada kecoa yang melintas di kamar saya. Saya sejujurnya bukan orang yang takut dengan kecoa, tapi 1 hal yang menarik penglihatan saya: di ujung belakang kecoa itu ada ooteka (kantung telur) siap lepas. Saya ga ambil pusing, saya mengambil sepatu saya buat saya tebas ke kecoa itu. Biasanya saya selalu membuang kecoa dalam keadaan hidup, kali ini kayaknya ngga. Kejadian lebay dalam mengejar dan melibas kecoa ini terjadi tadi pagi pas saya baru bangun untuk subuh (jam setengah 6an). Untuk memastikan kecoa mati, saya biarkan sepatu saya di atas kecoa itu.

Waktu berselang cukup lama, sekarang sudah jam 9 pagi. Ada perasaan ga enak pas saya ingin cepat2 memastikan kecoa itu mati, dan membuangnya. Saya ngerasa agak jahat sih sama kecoa itu karena saya ga ngasih dia kematian yang cepat, tapi mau gimana… saya ga mau ngebiarin kecoa itu gepeng di kamar saya dan ngebuat saya lebih repot lagi untuk membersihkan sisa2nya, terlebih lagi kandungan bakteri di dalam abdomen kecoa yang katanya mengandung patogen.

Satu hal yang membuat saya kaget ketika saya angkat sepatu yang menimpa kecoa itu: ternyata kecoa itu masih hidup biar dengan abdomen yang sebagian isinya udah keluar (maaf agak detail). Kaki bagian depan dan antena nya masih bergerak2. Akhirnya saya angkat kecoa itu dari antenanya, dan saya buang ke depan kamar saya. Depan kamar saya adalah lorong kosan yang alasnya lantai.

Saya terdiam lagi, berpikir apakah ini baik atau tidak. Jika saya biarkan, kecoa itu lama kelamaan tentu bakal mati. Antara mati karena dehidrasi atau terinjak. Saya ga tau apakah kecoa ini bisa mati kekurangan cairan vital seperti manusia (dalam hal ini cairan getah bening, tadi di bawah sepatu ada cairannya sih) atau mati kesakitan akibat sinyal rasa sakit terus menerus pada ganglion saraf. Ntah…

Tapi saya merasa ini bakal jadi kematian yang lama. Kosan saya ada di lantai 2, dan hanya berisi 4 orang. Semua masih tidur karena pagi ini cukup sejuk oleh guyuran hujan di luar sana. Ga ada yang bakal membuang kecoa ini atau menginjak kecoa ini.

Akhirnya saya ambil kecoa itu lagi dengan memegang antenanya, dan saya buang ke jalanan dari beranda. Jalanan itu becek dan hujan masih turun. Jumlah motor masih sedikit, mobil apalagi, dan orang yang lewat tidak terlalu banyak. Saya menebak pelan2 kecoa itu mati karena tidak bisa bernapas akibat spirakel udaranya terhambat air. Kalaupun masih kuat, harapan terakhir “eksekusi” kecoa ini ada di ban kendaraan yang lewat atau alas kaki para pejalan.

Terus apa yang terjadi? Ternyata kecoanya masih hidup! Wah… proses adaptasi ratusan juta tahun menunjukkan elastisitas cangkang kitin sang kecoa dan kemampuan survival nya. Meski isi perut ke mana2, dia masih menggerakan antena dan kaki depannya berkali2.

15 menit saya mengamati dari beranda atas. Motor dan mobil kebanyakan melintas tak mengenai si kecoa. Para pejalan kaki tidak ada satupun yang menginjaknya. Hmmm… keberuntungan si kecoa atau kewaspadaan yang lewat? Dari sekian banyaknya pengguna jalan, hanya 2 motor yang mengenai si kecoa. Itu pun dia masih hidup untuk yang pertama kali lewat!

Akhirnya saya pun masuk kamar. 20 menit kemudian saya keluar. Kecoa sudah tak berbentuk. Ntah ajaib, nampaknya pas saya masuk kamar mobil dan motor malah makin banyak jumlahnya. 1-2 jam kemudian, kecoa itu lenyap.

Saya berpikir untuk ini…

  1. Ternyata kuat juga ya kecoa itu… eksoskeleton yang elastis, dan sistem tubuh yang kuat walau tubuhnya rusak akibat terfragmentasi.
  2. Para pejalan kaki ternyata sesekali melihat ke apa yang dia injak, khususnya di waktu hujan. Jadi mereka bisa memilah jalan.
  3. Mungkin, apakah karena kecoa ini diberi kesempatan sesaat sebelum dia mati dengan cara yang cukup mengerikan (hampir dilindas dan sesak oleh air), ini adalah bukti bahwa serangga pun punya faktor keberuntungan? Lalu apa itu keberuntungan? Konon keberuntungan menurut Deddy Corbuzier adalah ketika kesiapan bertemu kesempatan. Kesiapan adalah ketika kita setiap saat harus bisa mempersiapkan diri sebaik2nya. Namun bagaimana jika kondisinya kita berada di rel kereta, nyaris mati? Apakah definisi kesiapan ini akan diubah? Atau definisi keberuntungan ini yang akan diubah?
  4. Dunia di luar kita, adalah medan eksekusi yang kejam. Ga usah nunggu dibunuh dengan ditembak atau diterkam binatang buas, kita keluar saja sudah berhadapan dengan jutaan kemungkinan yang bisa membunuh kita. Pertanyaannya, lalu apa yang kita harus persiapkan untuk itu? Kecoa itu pergi dari apapun lah sarangnya dengan telur berisi generasi siap menetas, tapi seluruhnya hancur oleh kompresi massa benda dikali gravitasi dan ditambah gaya mekanis yang diberikan kepadanya. Lingkungan itu kejam, lalu apa yang bisa kita lakukan agar kekejaman itu membuat kita beradaptasi jadi lebih baik?

Sekian pikiran random saya hari ini. Kesimpulannya: Agar lebih baik lagi di hidup, haruskah kita mengondisikan diri kita agar sebisa mungkin menyentuh keberuntungan, atau meresponkah kita kepada gilanya lingkungan secara total?

1397206_10152003472827154_222531308_o

*niru media2 pada umumnya* Ilustrasi kecoa mati.

Jangan sungkan buat komentar dengan random juga! :p

-AW-

Iklan

12 Comments

  1. Wkkwkwkwkw kok gue ngakak tapi keren lah xD

  2. Dengan adanya berita mengenai bahayanya kalo cacing2 diperut kecoa itu nempel di badan kita, saya jd ngeri2 sendiri. Trus apa solusinyaaa? Soalnya pagi ini pas saya bgn tidur dan jalan ke arah dapur, saya lihat jasad kecoa yg setengah utuh trus dipenuhi semut. Itu artinya isi2 dari perutnya udh keluar. Nah kalo isinya udh keluar, berarti cacingnya udh kemana mana. Bnr2 bkin parno 😨😷😩 how to clean it? Mohon bantuannya.

    • Kata saya sebagai anak biologi sih simpel: Berita2 itu suka lebay. Gini deh, cacing itu ada kemungkinannya di daging konsumsi sampe karpet dan kecoa. Tinggal bersihkan dengan sapu sisa kecoanya, terus lap pake karbol (pembersih lantai) juga cukup. Kalo buat kita ya beberapa bulan (6 kayaknya) minum obat cacing juga udah rekomendasi dokter kok.

      Santai aja. Soalnya ada dosen saya yg penelitiannya tentang kecoa, beliau punya ruangan khusus isinya kecoa dalam toples dan toplesnya ada belasan. Dia sakit? Ngga. Malah dia makin sukses dengan penelitiannya dan jadi professor muda…

        • dewi khoiro
        • Posted Januari 15, 2016 at 2:44 pm
        • Permalink

        Beneran nggak se horor itu? Aku suka merinding liat kecoa, apalagi klo uda di geprek pake sapu sampe gepeng, biasanya bersiin pake detol, tapi sekarang lagi abis, cara paling gampang dan ekonomis membersihkan bekas kecoa apa ya? Sabun cuci apa bisa? Suka kebayang ama bakteri yg katanya ada di perut kecoa

        • Adit W
        • Posted Januari 15, 2016 at 2:46 pm
        • Permalink

        Sabun aja cukup. Kali ya yakin cuci 3 kali aja :p

  3. Mas kalo kecoa nya ke injek trus mbersihinnya dari kaki gimana?

    • Cuci pake sabun aja…

  4. mas apakah ada buku spesifikasi dari kecoa tersebut?

  5. Kalo ga sengaja injak kecoa di dalam sepatu gimana? (Pas injak kecoa lagi pake kaos kaki) apa sepatunya masih boleh dipake? Atau di rendam dulu sepatunya? Sepatu kesayangan ^^

    • Setahu saya masih. Mungkin kasih antiseptik (Dettol) dulu terus jemur


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: