Skip navigation

Pertama2 selamat tahun baru 2014! Semoga tahun ini kita semua semakin produktif lagi! Aamiin…

Malam ini… saya dapat request dari seorang junior saya yang penasaran bagaimana saya bisa ngebut nulis paper dari dulu. Yah, emang ga ada salahnya berbagi tips sedikit. Gimana cara menghadapi TA yang konon menakutkan (TA termasuk penelitian dan papernya) Hehehe…

Pertama, saya suka menulis. Kedua, saya itu orangnya rada2 suka mendramatisasi. Maksud poin kedua dalam bahasa seorang teman saya adalah: Imajinasi saya dan kenyataan kadangkala bersatu dengan tinggal menjetikkan jari aja. Saya schizophrenic? Ngga… Suka mengkhayal? Iya… Mimpi mulu dong? Ga juga… saya selalu pakai mimpi saya untuk maju. Kalau gagal? Sebagai ilmuwan, saya sadar… walau kegagalan itu sakit, ada setiap hasil di kegagalan. Saya ngambil spesimen, saya tanam, ga tumbuh, saya masih bisa nulis teori kenapa tanaman itu ga tumbuh, dan di bagian saran… saya tinggal masukkan aja apa yang kira2 jadi dugaan solusi. Jadi, ketika saya mau buka lagi, saya tau mau nambahin apa. Singkat kata, hidup jangan dibuat susah!

Satu hal lagi… setelah baca ini, pembaca akan mengerti mengapa menggunakan jasa penulisan skripsi instan itu adalah salah…

Sekarang, dengan basic hal2 barusan, ayo kita melangkah ke permasalahan. Sebenarnya yang namanya tugas akhir alias TA itu… penelitian yang bisa jadi 2 tipe kan? Antara kita yang mengajukan proposal, atau kita ikut proyek dosen. Kalau proposal kita sendiri, pastikan penelitian yang kita ajukan adalah penelitian yang kita suka. Itu mutlak, dan tanpa kecuali. Kalau itu proyek dosen, harusnya kita cukup cermat bahwa kita memilih dosen narasumber tersebut karena beliau memiliki sebuah minat atas penelitian yang kita suka. Tahap satu ini beres, sekarang saatnya melangkah ke tahap selanjutnya: Eksekusi, yang terbagi jadi 2 tahap paralel – penulisan paper (skripsi, tesis, atau disertasi) dan penelitian di lapangan/lab.

Saya melihat tahap eksekusi itu bagaikan menjalankan sebuah misi di game. Dosen kita itu bagaikan NPC (Red: Non Playable Character) yang memberikan sebuah misi besar. Taruhlah dosen saya, Pak Aziz, atau Bu Totik waktu itu. Mereka memberikan misi yang panjang dan besar, dengan poin pengalaman (experience) yang tinggi. Sekarang, misi itu adalah menyilangkan 4 macam jagung untuk saya, diamati hasilnya baik secara visual (fenotip) atau molekuler (genotip). Kebetulan, saya belum pernah meneliti sedalam ini. Maka, dengan merasa bahwa saya bakal dapat hal seru dengan perjalanan penelitian ini, maka ini akan jadi bahan bakar penyemangat saya.

Kunci utama dalam misi ini, kita tentu sudah tahu dan kita punya tujuan masing2 (sesuai minat). Lalu kunci pendukung yang harus diingat adalah:

  1. Kerjakan dengan disiplin.
  2. Pastikan kita selalu bahagia.
  3. Sinkronisasikan gerak tubuh kita dengan stimulus tambahan.
  4. Tahu batas kekuatan tubuh.
  5. Beri hadiah kepada diri kita sendiri.
  6. Hargai setiap momen, biar kita mendapat sesuatu di ujungnya.

Oke, 6 poin di atas saya tulis tanpa negasi. Yang artinya saya ingin ini semua tertanam di kepala kita dengan murni (otak manusia itu tidak menerima negasi seperti kata tidak, jangan, dilarang, atau semacamnya… kalimat affirmasi itu adalah sugesti kuat untuk kita).

Kerjakan dengan disiplin. Menunda2 itu bukan sesuatu yang baik. Kecuali ini terkait poin 4 yang akan dibahas nanti. Kerjakan penelitian kita dengan deadline yang kita buat sendiri, bukan buatan dosen. Jujur, saya ingin liburan, saya ingin jalan2, saya ingin punya waktu sama teman2 saya. Tapi pilih mana? Sibuk dulu baru senang, atau senang dulu atau sibuk? Saya pilih pertama… karena saya udah merasakan ga enaknya jadi deadliner. Dari dulu… iya deadlining itu kompak karena banyak orang di sekitar kita yang begitu. Tapi masa kita mau terjebak di lingkaran setan rame2 terus? Saya sih ogah, dan saya mengajak pembaca sekalian buat maju. Lakukan semuanya dengan jadwalGunakan semua aplikasi komputer atau telepon yang tersedia, manfaatkan semua teknologi sebagai alat pengingat atau mempermudah langkah kita. Saya selalu atur deadline saya di aplikasi kalendar laptop yang tersinkronisasi ke telepon genggam saya dengan Cloud Storage System, begitu juga dengan pengingat (Reminder) dan notes. Untuk penelitian di lapangan, segera lakukan! Di tahap awal penulisan paper, saya selalu membuat kerangkanya terlebih dahulu. Yah… simpelnya, saya cuma nulis “Bab I – Pendahuluan” dan seterusnya sampai “Lampiran”. Hari selanjutnya, saya nulis sub-bab, misal “1.1 Latar Belakang” dan seterusnya. Selanjutnya, saya yakin kita pernah yang namanya “mengarang bebas” kan di ujian essai? Di sini lah bagian serunya. Karena saya emang suka membaca pas tahap sarjana (tugas paper menumpuk, buku referensi itu2 aja, tapi makin lama makin banyak), saya selalu ingat buku2 penting: Campbell et al. – Biologi Umum, Hartwell et al. – Genetika, Alberts – Biologi Sel, Madigan et al. – Mikrobiologi, Taiz & Zeiger – Fisiologi Tanaman. 4 buku ini selalu saya ingat. Kemudian, mengarang bebas lah sesuai pengetahuan yang kita punya, baik itu di bagian pendahuluan sampai bagian tinjauan pustaka. Tapi kosongkan bagian detail atau spesifik, misal kalau di saya mengenai jalur biosintesis dan taksonomi. Oke, kalau pembaca mengikuti langkah yang saya beri, harusnya kita udah sampai di bab 3 (Metodologi) dan progress sudah 30%. Sekarang, dengan karangan bebas yang sudah tersedia, cari jurnal atau buku yang kita anggap mendukung setiap kalimat2 kita. Kalau ada yang mendukung, kasih bubuhan pustaka di ujungnya… simpel (kayak: Wicaksono, 2013). Kalau ada yang kurang, tambahkan. Kalau ada yang salah, koreksi. Di akhir tahap ini, kita sudah 40-50%. Tinggal menunggu hasil. Laporkan ke dosen pembimbing, mereka pasti senang. Sambil menunggu hasil penelitian, kita sudah belajar banyak karena udah membuka banyak buku dan jurnal. Pesan moralnya: Secara psikologis, otak kita akan puas saat kita melihat apa yang kita kerjakan udah banyak. Buat banyak dulu, baru koreksi. Ini biar ga ngaret.

Pastikan kita selalu bahagia. INI PENTING! Semakin kita bahagia, semakin cepat kita bertindak. Hal ini disebabkan karena ketika kita bahagia, seluruh tubuh kita terafeksi. Pastikan kita selalu semangat, senang, tertantang, atau tertarik saat kita melakukan penelitian atau penulisan TA. Bahkan saya menganjurkan, kalo bisa pas di tahap ini… jatuh cinta aja sekalian. Heh? Ga bisa?? Yah… nasib… Hahahaha…

IMG_3568

Lihat, betapa kuatnya efek rasa senang dan cinta terhadap tubuh kita *tsaaah*.

Sinkronisasikan tubuh kita dengan stimulus tambahan. Yang saya maksud di sini bukanlah minuman berenergi, minuman ion, bahkan jamu. Tapi sesuatu yang lebih simpel lagi. Pas saya nulis, musik bisa memicu cepat-lambatnya saya menulis, seperti metronom bagi pianis. Ada 2 jenis lagu buat saya: Pertama, lagu untuk motorik, kedua, lagu pemicu memori. Kalau saya mau tenang nulisnya, ini kalau saya lagi nulis bagian yang bercerita banget (baca: latar belakang atau metodologi), saya putar lagunya Enya, Vanessa Mae, Karl Jenkins (Adiemus), atau Mike Oldfield. Mau cepat? Saya pasang lagunya Green Day, Linkin Park… itu ekstrimnya sih… tapi lagu kayak “You Belong With Me” nya Taylor Swift cukup ngasih energi, terus “Let It Go” (yang udah nonton Frozen pasti tau) nya Idina Menzel juga bisa. Ups… ini lagu2 saya cukup melankolis juga yak. Hahaha… Itu buat motorik, memori? Memori juga dibagi lagi jadi 2: Memori sebagai bahan utama, atau memori sebagai pendukung. Bahan utama… biasanya kalau kalian punya memori yang punya jembatan keledai atau nyambung2in lagu sebagai bahan pengingat (mnemonic), cari lagu yang bisa buat kalian ingat sama pas kalian belajar ama dosen, atau kuliah lapangan, untuk ingat detail2 penting. Untuk memori pendukung? Masa sih kalian ga punya lagu yang buat kalian senyum2 sendiri inget pacar, gebetan, saudara, temen2 deket, atau keluarga? Apa? Galau?? Ya jangan yang galau!

Tahu batas kekuatan tubuh. Beberapa waktu lalu, saya mendapat berita bahwa seorang mahasiswi Indonesia di Malaysia meninggal gara2 kerja non stop selama 3 hari. Kesimpulannya, istirahat itu penting. Usahakan tidur 1-3 jam. Ini biasanya disebut power nap. Kalau saya sih ga gini. Saya selalu pasang checkpoint. Terus tidur. Benar2 tidur. Tapi, di samping saya ada laptop yang saya hibernate atau nyalakan, tapi dalam kondisi sleep. Sehingga pas saya buka, jreeng! File kita masih ada, secara psikologis mengingatkan kita untuk terus melanjutkan.

Beri hadiah kepada diri kita sendiriReward and punishment. Nggak sih… reward-nya aja. Kenapa? Karena udah jelas, di sini punishment-nya adalah kalau kita telat. Gimana caranya dong? Nih ya… janjikan sama diri kita sendiri, kalau kerjaan kita udah sekian persen, kita boleh mendapatkan sesuatu. Misal saya, setelah 1 sub-bab, saya bisa beli makan. 1 sub-bab lagi, boleh nonton film seri kesukaan saya, dan seterusnya. Setelah ngerjain yang lebih besar lagi… misal kita berhasil buat 1 bab, pergi keluar… jalan2, atau main lah sana ke tempat temen. Lebih besar lagi deh, udah sampe 40% dari tadi 25%,  pulang ke Jakarta! *ini kalo saya lagi libur* Reward-nya banyak ya? Yah… siapa sih yang ga suka hadiah? Jadikan penghargaan ini sebagai motivasi, bukan alasan malas2an.

Hargai setiap momen, biar kita mendapat sesuatu di ujungnya. Saya pro sama pendapat bahwa bekerjalah sesuai bidang kita. Ya gini deh… saya kuliah di pertanian atau biologi. Saya harus buka jalan, bahwa nantinya saya bisa semakin ahli lagi di bidang ini. Terus, kenapa saya kemarin sempat banting setir ke bidang kuliner? Itu sih namanya hobi yang membangun yang saya temuin pas saya kelaparan nulis proposal penelitian. Fotografi? Siapa sih yang ga suka yang indah2? Motret bunga, motret bintang, bahkan motret seorang cewek senyum aja… *aduh* itu bisa jadi penyemangat. Ketika seseorang melihat isinya, orang lain akan terinspirasi. Lagi2, hobi yang membangun. Seiring kita menekuni bidang kita dengan senang dan pikiran terbuka, hal2 baru pasti akan datang dengan sendirinya kok.

Wah, kok detail TA nya cuma 1 poin ya yang intens? Karena emang gitu! Kita semua udah dapet tutorial, arahan, atau semacemnya dari dosen. Tapi kita punya sejuta alasan untuk ngaret, males2an, atau bahasa kerennya prokrastinasi. Tinggal itu aja yang perlu dibuang.

Lakukan semuanya dengan bahagia, iringi dengan cinta, infusi dengan semangat, maka hal yang rasanya berat akan jadi ringan, atau bahkan ga kerasa sama sekali. Karena ketika kita melakukan sesuatu dengan cinta, maka pekerjaan akan menjadi seperti hobi.

Jadi… udah bab berapa sekarang? Saya udah bab 3 di bulan 1 penelitian saya. Kok bisa lancar nulisnya? Karena… saya selalu jatuh cinta *plak* saya selalu menemukan semangat di tiap hal yang saya sukai.

Doain Juni udah beres yah!

-AW-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: