Skip navigation

Halo pembaca! Aduh maaf ya saya ngebiarin blog ini vakum terlalu lama karena saya fokus ke blog saya yang tentang makanan dari kemaren akibat banyaknya review yang harus dibuat terkait kerjaan saya. Waktu itu saya juga mau nulis tentang aliran santōryu (3 pedang) tapi belum bisa karena belum sempat diuji coba lagi. So, well… saya rasa saya mau cerita tentang pengalaman unik saya dulu kemarin di bulan Juli. Ilmu pedang memang sudah merupakan ilmu lama yang diajarkan turun temurun. Tiap bagian dunia memiliki seni dan ajaran penggunaan serta filosofinya masing2. Waktu itu saya sudah menuliskan bagaimana petualangan saya dengan kendo (yang saat ini lagi mau lanjut di Yogya lagi dari Jakarta) dan kali ini,  saya akan menceritakan pengalaman lain dengan ilmu pedang (saya rasa sih) dan tidak dari timur dunia, melainkan dari barat. Apakah itu? Anggar… atau fencing.

Pedang Anggar

Saya lupa… ini floret atau degen ya…

Semua berawal dari mimpi saya di suatu malam. Saya ntah bagaimana mendapat pikiran yang mengatakan bahwa:

“Dit, lo udah nyoba aliran pedang Jepang, Kendo. Kenapa lo ga coba Anggar yang dari Eropa? Coba deh, lo tertarik menyelami dunia pedang kayak seorang swordsman sejati kan?”

Oke, saya bangun tidur. Hal itu anehnya masih nempel di kepala saya. Terekam dalam memori. Saya rasa ada benarnya juga. Saya pun iseng ngobrol ama bapak…

“Dit, tunjukkin antusias kamu sama hal2 baru. Coba aja. Jadikan sesuatu pengalaman baru. Kamu tertarik nyoba anggar? Why not? Buat diri kamu selalu penasaran.”

Singkat kata, oke… bapak ngajarin saya buat kepo. Ini di sisi lain, hal yang udah build in di kepala pacar saya (ups… kesebut deh Tus :p ).

Balik lagi, pagi itu pun saya memasang soundtrack epik di telinga saya sembari mencari info soal anggar di Jakarta. Ketik ini… ketik itu… BAM! Saya pun mendapatkan lokasi ini:

PB IKASI (Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia)

Stadion Gelora Bung Karno Pintu I. Senayan.

2425228_wNyOEYt9sIjoaOVGSj4EeFS9oFx_S_USfjsfo9US2Z4

Dalam pencarian sesuatu, saya biasanya akan terdorong mencari tempat yang bersangkutan terlebih dahulu, in other word… reconnaissance. Insting dasar saya yang suka jalan2. Siang hari itu, saya pun tiba. Pas masuk, suasananya ga seperti yang saya duga. Orang banyak yang duduk di sekitar tempat itu, tapi ga ada hawa2 yang menunjukkan bahwa orang2 ini berasal dari PB IKASI. Saya melihat tempat latihan, tapi kosong. Kemudian di kanan ada kantor IKASI, tapi saya bahkan ga yakin ini kantornya buka atau ngga. Sempat bertanya, akhirnya saya pun diajak ke kantor IKASI dan bertemu seorang bapak. Beliau memberi saya nomer seorang ibu bernama Rita, dan karena saya tau saya mau pindah ke Yogyakarta, saya pun mendapat beberapa nama. Sang bapak itu menyebutkan bahwa latihan diadakan hari Selasa dan Kamis pada jam 4 sore, lalu Sabtu jam 10 pagi.

Akhirnya saya mencoba ke sana… 2 kali… dan ga nemu mereka yang latihan. Akhirnya saya pun memberanikan diri mengontak Bu Rita…

AW: Permisi, apa benar ini dengan Bu Rita, ketua perkumpulan anggar di PB IKASI Jakarta? BR: Iya saya RITA anggar. Dengan siapa ya? Terima kasih AW: Nama saya Adit, saya waktu kemarin ke IKASI untuk mau bertanya2 soal latihan dan lain2nya. Kalau saya boleh tau, kapan saja ya sesi latihannya biar saya bisa ke sana? Soalnya saya tertarik untuk ikut BR: Ok Adit, kamu bisa datang hari Kamis jam 5 sore di hall PB anggar stadion Snayan? Kamu umur berapa? Tinggi? Rumah dan sekolah dimana? AW: Saya umur 23, tinggi 174 cm, rumah di Jakarta Selatan (Pasar Minggu) dan saya lagi mau S2 di UGM. Adakah hal lain yang perlu saya persiapkan? BR: Latihan anggar awal kali membosankan. Tapi kalau sudah bisa main sangat mengasikkan. Jadi kamu mau main harus sabar dan tekun dan rajin. Pakai baju olahraga dan latihan kamis sore di Stadion. Ok? AW: Oke, saya akan ke stadion hari kamis sore 🙂

Saya pun penasaran. Siapakah beliau ini? Yang jelas beliau pasti sudah punya nama karena beliau adalah ketua pelatih dan berada di PB IKASI pusat di Jakarta. Mencari nama beliau agak membutuhkan trik. Pas dapat, saya kaget.

Rita Hehanusa Piri

Ibu Gloria Florence Hehanusa, biasa dipanggil Rita Piri. Beliau adalah mantan atlet senior anggar yang sekarang menjadi pelatnas anggar. Wow… sekalinya saya bertemu orang baru, orang itu adalah MVP (Sumber: Kompas Olahraga)

Kaget, saya pun menaruh post di Facebook. Ternyata ada respon dari orang yang ga saya duga, senior saya di Biologi ITB, Agung Kusumanto. Dia nanya, kenapa saya kenal dia? Saya pun cerita kalo saya mau ikut anggar. Eh, ternyata Bu Rita ini pernah jadi pengurus asrama nya Agung! Wow… dunia sempit.

Kamis itu, saya menculik mengajak adek kelas sekaligus teman dekat saya, Radian Agusta (panggil aja Radian) buat ke sana ikut latihan. Masuk tempat latihan, saya disambut beberapa atlet anggar yang laki2. Yang perempuan di sisi lain, keliatannya masih muda dan rada pemalu. Ga bohong, anak2 itu masih keliatan di sekitar atau bawah bangku SMU. Saya pun ga bertemu Bu Rita, tapi saya bertemu 2 pelatih. Dua orang ibu paruh baya. Mereka awalnya menanyakan, saya tipe floret, degen, atau sabel? Saya bingung. Mereka bilang kalau begitu kami harus latihan dan biar nantinya kami ditentukan ke arah mana (walaupun jika kami mau memilih tipe pedang kami sendiri, tidak apa2).

Penjelasan singkat. Ada 3 jenis pedang di anggar:

  1. Floret atau foil. Bentuknya langsing dan bisa meliuk dengan mudah pas ditusuk. Pengguna pedang ini hanya bisa menyerang bagian torso poros tubuh lawan (ga boleh kena tangan, leher ke atas, dan kaki).
  2. Degen atau epée. Bentuknya segitiga langsing dan sudutnya tidak tajam. Pengguna pedang ini bisa menyerang seluruh tubuh lawan. Dengan kata lain, pelindung harus dipasang penuh ketika duel.
  3. Sabel atau sabre. Bentuknya segitiga beralur, agak tajam, dan kaku. Pengguna pedang ini hanya bisa menyerang bagian atas tubuh lawan (di atas pinggang).

 Saya persingkat cerita saya untuk ke beberapa minggu ke depan. Saya diajarkan stance dasar di anggar.

  1. Kaki dibuka 90˚dengan kaki kiri posisi normal, kaki kanan menghadap kanan.
  2. Kaki ditekuk. Tangan keduanya di belakang atau dipinggang (di level berikutnya tangan kanan ke depan, posisi memegang pedang). Kepala menghadap searah kaki kanan sebagai arah depan. Ini posisi anggar yang menjadi dasar untuk maju, mundur dan nyerang.
  3. Untuk maju, kaki kanan diangkat, maju dan diletakkan perlahan di bagian tumit, baru dijatuhkan bagian depannya dan bersama dengan kaki kiri diangkat dan maju satu langkah.
  4. Untuk mundur, kaki kiri diangkat, maju ke arah sebaliknya dari kaki kanan, dan diletakkan perlahan di tepi kaki bagian kanan, baru dijatuhkan bagian kirinya dan bersama dengan kaki kanan diangkat dan bergerak ke kaki kiri satu langkah.

Saya gak bohong, ini latihannya menguras keringat. Satu sesi dari jam 5 sampai jam 6 (waktu buka puasa waktu itu), bener2 bikin kering. Di tambah sebelum latihan, saya harus lari keliling GBK dulu (normalnya 2 keliling, tapi saya 1 keliling… karena saya menjaga stamina saya waktu itu biar ga kaget). Gerakannya pun beda dengan Kendo. Kendo meminta kaki kita dalam bergerak untuk diseret. Dalam anggar, gerakannya adalah melangkah dan ga boleh diseret. Seiring latihan, Rino pun ikut, plus seorang temen deket saya lagi yang juga antusias ama anggar bernama Tami Justisia atau Tami.  Saat latihan, kadang para atlet ini juga turut membantu dan memberi semangat, misalnya Sheila. Gadis SMP yang sangat antusias ini pernah mengajar kami dan nampaknya baru ketemu, dia langsung deket sama Tami, kayak kakak-adek aja. Hehe… lucu sih (as in cute) sih ngeliat mereka latihan dan ngobrol2 waktu itu (jangan mikir aneh2!). Saya, yang pernah merasakan menjadi pengajar, jiwa saya yang kadang capek atau suntuk sama hal2 sekitar kerjaan dan lain2 (biasa, anak muda) pun kembali tenang melihat senyum anak2 yang dari SD sampai udah atlet profesional itu memberi semangat, senyum dan tertawa bareng. Saya di satu sisi belajar bahwa ternyata inilah atlet. Mereka sama2 bersaing, tapi mereka juga melakukan aktivitas yang berat bareng2, dan karena satu tim… saling mendukung dan saling menjaga satu sama lain adalah hal yang esensial di sini. Suatu ketika, pada akhirnya Bu… eh Tante Rita (ya, kami semua dengan para pelatih memang sangat akrab, bahkan kami memanggilnya mami atau tante di sini) pun datang. Melihat saya latihan, beliau bilang saya harus semangat latihan rutin biar badan saya kurus. Saya bertanya…

AW: Hah? Iya gitu tante bisa kurus dengan gini?? TR: Iya lah! Kamu di sini kan bakal banyak gerak! AW: Penasaran tante, ini ga ngencangin otot perut tapi kan? Lebih ke kaki gitu… TR: Kata siapa, malah perut yang nahan beban kamu kan pas turun? AW: Oh gitu ya tante!

Wah, perut juga! Uhm… maklum, saya lagi berusaha ngurangin berat badan, selain buat jaga kesehatan, lumayan lah… ada sesuatu yang bisa saya pamerin ke pacar saya. Hehehe… Ada hal yang saya ingat dari ucapan Tante Rita kepada kami semua ketika menutup sesi latihan rutin:

“Saya percaya bahwa kalian bukan orang sembarangan. Anggar adalah olah raga yang memadukan otak dan otot. Kita jelas menggunakan otot untuk gerak dan menyerang. Otak kita gunakan untuk mengatur strategi kita untuk menyerang lawan. Tidak semua orang bisa bisa menyeimbangkan keduanya. Itulah mengapa saya percaya bahwa kalian adalah orang yang otaknya encer!”

Kami pun latihan rutin sampai Agustus tiba. Tami masih antusias, Radian pindah ke Bandung karena dia kuliah di SBM ITB angkatan 2013, saya sibuk ngurus Yogya, Rino? Dia ga terlalu mau mendalami. Suatu hari, Rino ngomong ke saya:

AM: Gw jujur lucu sih ngeliat lo. AW: Kenapa emang? AM: Ya lo baru sekarang2 ngambil bela diri dan baru ngerasain antusiasnya. AW: Ya udah sih No, gw tau lo udah tae kwon do dari SD. AM: Ngga, gw ngeliatnya lucu aja… lo baru ikut dan lo excited ngasih tau yang lain. Di satu sisi lo bisa keliatan jago, padahal belum. Orang bisa overestimate lo lho ntar. AW: Gini lah gw, No. Gw kalo antusias ama sesuatu ya gini. Gw emang kayak bocah. Gw suka, gw bilang ke orang2 sekitar gw. Emang lo liat anggar ini gimana? AM: Gw tertarik, tapi gw ga berniat ngedalamin sih. Beda sama lo. AW: Ha? Gw ikut ini iseng doang tau! AM: Hah?? Tapi lo kayaknya niat banget! AW: Lo kan yang ngajarin gw, No… keisengan akan membawa lo ke tempat yang lebih tinggi. Gw setuju. Tapi kalo gw, setelah gw iseng… gw akan memastikan gw punya sesuatu yang menunjukkan gw pernah antusias di situ, achievement untuk gw raih. Di Kendo, gw udah punya shinai, gw perlu latihan lagi biar dapet hakama dan gi terus dapet bogu. Gw ga berniat jadi atlet Kendo, tapi kalo gw bisa jadi… gapapa, karena gw juga bakal seneng. Buat gw seru, lo ngelakuin sesuatu yang lo suka dengan awal iseng, tapi lo bisa mendapatkan sesuatu dan nilai di situ. Begitu juga anggar, gw nanti bakal bisa punya pedangnya. Gw bisa ikut kejuaraan nasional dan menang? Itu bakal jadi sesuatu, No. Sesuatu yang sangat tinggi, dimulai dari keisengan doang! AM: Wah, asik! Hahaha… gw kirain lo ikut karena lo pengen serius banget. Eh, bener juga lo!

Saya pun belajar, ketika kaluan iseng… cobalah keisengan itu diarahkan, sehingga kalian mendapat achievement biar itu ga ada hubungannya ke kerjaan kalian atau apapun, tapi sebagai hobi. Lalu, jadikan achievement tadi mengarahkan diri kalian ke achievement lain! Di dunia kita hidup sekarang ini, hanya mereka yang tekun, niat, kreatif, gigih, dan inovatiflah yang akan bertahan di masa depan! Oke, kembali lagi. Di menjelang akhir pertemuan sebelum lebaran kemarin, Tante Rita menemui kami bertiga (saya, Rino, Tami, minus Radian). Beliau menentukan bahwa kami sebaiknya nanti jadi pemakai degen. Beliau melihat kami bakal bisa menyerang ke seluruh tubuh dan dengan degen kami tidak akan kesusahan untuk restriksi area serang. Saya senang saat Tante Rita udah menentukan ini. Setelah Lebaran, saya pun makin sibuk. Mengurus masuk UGM, artikel majalah yang harus saya kebut, dan urusan2 lain. Gak kerasa tiba waktunya saya buat ke Yogya. Rada sedih dan ga enak rasanya, bahkan saya belum pamit sama Tante Rita dan anak2 yang lain. Cuma saya kedepannya akan mencoba memegang selalu yang beliau beri kepada kami. Semangat, kemauan untuk berlatih, dan semoga aja… di Yogya, selain saya ikut Kendo, saya juga bisa ikut anggar lagi. Saya ga mau mengecewakan diri saya yang udah sejauh ini maju, dan harapan Tante Rita kepada saya. Terakhir saya ngomong ke Tami, bahkan beliau juga mau mencarikan tempat latihan untuk saya di Yogya. Saya tersentuh. Yah… insya Allah. Saya akan aktif lagi nantinya dengan menyeimbangkan dengan jadwal rutin saya! Tunggu aja yah, Tante Rita…

PS: Update 230315 – Jika kalian tertarik, saya menyarankan kalian buat datang ke Pengurus Besar IKASI di GBK dan mampir sendiri ke kantornya, atau datang sendiri ke latian dan menemui mereka. Saya merasa kurang nyaman memberikan nomor Tante Rita yang mungkin nambah sibuk akhir2 ini. Toh kalau kalian ke sana, kalian bisa dapat info lebih jelas atau mungkin bertemu beliau langsung.

-AW-

Iklan

32 Comments

  1. bisa minta no. telpnya ibu rita? kebetulan saya juga berminat fencing.

    • Boleh minta e-mail nya? Nanti akan saya kirim ke situ, karena saya ngerasa agak gak etis sih untuk nyebarin nomer di tempat umum gini. Hehehe…

  2. wow… saya juga tertarik pengen ikut latihan anggar. mas waktu itu latihannya berapa jam? trus latihannya hari apa? ada yg hari minggu gak? trus bayar gak? kalo iya, bayarnya berapa?

    maap ya banyak nanya hehehe

    • Saya latihan dari jam 5 sampe jam 7 sore buat Selasa dan Kamis. Satu lagi sebenarnya ada hari Sabtu, jam 9 kalo ga salah. Tapi saya ga ikutan.

      Waktu itu saya ga bayar karena ga dikasih tau detailnya sampe akhir.

      Saran saya, datang saja dulu 🙂

        • drin
        • Posted Januari 13, 2014 at 7:20 pm
        • Permalink

        kalo kamis doang bisa gak mas? waktu itu saya udah pernah dateng, cuma sepi gitu….
        makasih mas… ntar saya coba kesana lagi

        • Adit W
        • Posted Januari 13, 2014 at 7:35 pm
        • Permalink

        Seingat saya mereka (dan Bu Rita sendiri) cukup fleksibel soal jadwal. Saya dulu berpikir gini, karena saya cenderung anggar buat gerak & fun, bukan sepenuhnya profesional seperti mereka yang atlet di sana. Asal, tunjukkan semangat kita aja! 🙂

  3. mas, wktu latihan ada biaya yg keluar tdk. klo ada brpa y mas? pralatan dn sbgainya. sya tertarik ingin coba anggar. walpun sya blm pernah sma skli.

    • Saya waktu latihan masih bisa dikatakan sebentar. Saya jujur belum ngecek lagi. Saran saya langsung ke IKASI di Selasa/Kamis sore atau Sabty pagi aja. Mungkin bisa bertanya ke para pelatih secara langsung (kalo nanya ke atlet mereka juga ga tau karena mereka dibayari negara). Ikut aja, sekarang ada temen yg masih ikut kok (si Tami, yg saya tulis di atas) dan dia udah mulai pegang dagen nya dari kondisi latihan nol atau ga bisa sama sekali. Seru kok, dan cukup melatih otot 🙂

    • Ah lupa, kalo peralatan kayak pedang, siapkan uang di atas Rp 600rb

  4. makasih mas adit, oh ya, mas adit pnya no mba tami?? klo boleh aku mnta y mas, insyaallah mnggu2 ini sya mau main ksana.

    • Wah, kurang berani ngasih nomer dia. FYI, dia juga anggota, jadi mending ke sana buat ketemu pelatihnya langsung 🙂

  5. ya, insyaallah sma main ksana, makasih y mas.

    • Sama2, semoga lancar latihannya!

  6. Mas adit, kalau latihan anggar di jogja dimana ya? Saya tertwrik tp belum nemu2 tempatnya

    • Sejujurnya saya belum sempat survey buat yang di Yogya, baru tau nama dan kontak pengurus yang saya dapat dari PB IKASI, Senayan.

      Begitu…

  7. Boleh minta kontak pengurusnya itu mas?

    • Ummm kita bahas ini via e-mail aja ya? Saya gak mau share nomer kontak di sini. Hehe…

  8. Saya boleh minta nomer kamu or apapun itu konrak kamu?? Spy kita komunikasi. Ada yang mau saya tanyain ttg anggar. Penting. Thks.

    • Kontak saya bisa dilihat di halaman Tentang Penulis di atas. Trims! 🙂

        • Alay wina
        • Posted April 10, 2014 at 10:05 am
        • Permalink

        Thks. Btw ud saya email ya.

  9. Latihan Anggar di jogja ada di SMPN 2 Gamping yang berminat silahkan gabung aja

    • Saya tinggal di daerah UGM di Kaliurang, boleh tahu itu di sebelah mana dan cara ke sana bagaimana?

  10. Hi Adhityo,

    Saya adalah seorang murid Indonesia belajar di Singapura. Saya adalah seorang pemain anggar di sekolah saya dan sekolah saya akan mengadakan kompetisi anggar bernama Asian Varsity Fencing Championships di bulan Juli akhir. Kita ingin mengundang pemain pemain anggar dari berbagai sekolah besar di Asia dan saat mencari informasi tentang ikasi indonesia, saya melihat blogpost kamu tentang anggar. Dari sana saya melihat bahwa anda kenal dengan Ibu Gloria dan mungkin beberapa pemain anggar dari sekolah besar di Indonesia. Mungkinkan saya boleh mendapat kontak Ibu Gloria? Saya pingin sekali, sebagai seorang Indonesia yang bermain anggar untuk Indonesia ikut dengan kompetisi yang teman saya dan saya selanggari. Oleh karena itu, saya berharap kalo sampe saya bisa mengontak Ibu Gloria, mungkin saya bisa mengontak berbagai pemain anggar di Indonesia untuk mengikuti kompetisi ini. Untuk replynya saya telah mengontak kamu via facebook dan mungkin messagenya masuk ke folder ‘other’. Maaf telah mengganggu dan
    Terima kasih.

    Salam,

    Jas

  11. bro boleh minta no telp ibu rita? tertarik pgn belajar jg.. he he he. hrs lgsg beli equip gak ya?
    email sy jlepianda@gmail.com
    thanks a lot!

  12. Halo, Adit. Mau nanya no hp nya tante Rita nya dong. Dulu pernah belajar anggar pas sma terus vacuum skrg mau coba lanjut lg.
    Email saya urfanivini@gmail.com
    Thank You yaa

  13. haii..bisa minta nomor telp tante Rita anggar (inikah namanya?) email saya rika.anggarkusuma@gmail.com

  14. Ada, di SMPN 2 Gamping

  15. Kalo di jogja dimana ya bang?
    Aku tertarik ikut fencing nih!!!

  16. Beli pedang dan alat anggar lain nya dmn ya mas?
    Bisa di bantu email ke saya mas soalnya pusing bgt nyari nya
    Teku.ami9@gmail.com
    Thanks

    • Saya sendiri belum beli mas, bahkan sampai saya udah ga main lagi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: