Skip navigation

GeM Logo

Hampir setiap kampus di Indonesia, apalagi kampus negeri, bisa dipastikan memiliki unit kegiatan mahasiswa atau UKM. Unit-unit ini berperan sebagai lembaga organisasi yang merangkul mahasiswa2 untuk kegiatan ekstra kurikuler di kampus, berbeda dengan himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) yang berperan sebagai pembina dan pengayom mahasiswa dalam urusan kokurikuler, karena HMJ berhubungan dengan bidang keprofesian fakultas atau jurusan. Di kampus saya misalnya, di Institut Teknologi Bandung (ITB). UKM jumlahnya ada sangat banyak, jenisnya pun juga beragam. Mulai dari agama, sosial, budaya, dan kesenian (tolong koreksi soal pembagian gugus2 ini). Selama 4 tahun saya kuliah, unit baru terkadang muncul di tiap tahunnya pada Open House Unit (OHU). Hingga, saya berpikir untuk membuatnya bersama rekan2 saya. Bagaimana caranya?

Yang jelas, syaratnya sudah pasti: ada anggota minimal 30 (seingat saya dengan minimal 5 atau berapa ya, jurusan yang beda), punya struktur organisasi, punya program kerja yang jelas, punya tempat aktivitas (paling susah), dan baru kemudian diajukan ke rektorat.

Dua orang rekan saya, satu di antaranya sama2 panitia Pengenalan Ruang dan Orientasi Keluarga Mahasiswa (PROKM) ITB 2009 menjadi penggagas berdirinya unit ini. Mimpinya adalah ingin membuat mahasiswa tau makanan sehat dan memperkenalkan cara memasak makanan (khususnya) ke mahasiswa ITB. Unit ini kami namakan Ganesha Memasak (GeM), dengan singkatan sebagai “pun” dari “gem” yang dalam bahasa Inggris artinya permata. Cuma selang 1-2 bulan setelah PROKM, yaitu sekitar Agustus-September, unit ini punya struktur. Mereka jelas jadi wakil dan ketua, beberapa teman lainnya dari PROKM juga pun maju sebagai sekretaris, bendahara, dan lain2. Saya? Perumus AD-ART (Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga, undang2 dasar untuk unit yang menentukan mekanisme perekrutan, pemilihan ketua, sistem ajar, keluarnya anggota, dll). Sayang sekali, itu cuma jadi wacana. Karena cuma 1-2 bulan ke depannya, ketika kami kembali termakan kesibukan, semua itu hilang. Satu persatu semuanya terdisintegrasi dan lebih sayangnya, ga ada yang merangkul. Saya pun ga bisa berbuat apa2 lagi. Saat itu saya juga mengiyakan. Kuliah proyek ekologi dengan 3 kali kuliah lapangan dan proyek biologi sel dan molekuler dengan 2 macam proyek saja sudah jadi beban skala besar. Dalam waktu sama, sudah ada beberapa anak angkatan 2009 udah berniat pada awalnya. Tapi akhirnya mereka pun hanya bisa dikecewakan.

Dua tahun berlalu. Di OHU 2011, saya pun bertemu 2 rekan saya tadi. Memasuki tahun keempat akhir, saya makin nganggur dan jam jalan2 saya selain skripsi membuat saya jadi makin bisa punya waktu buat icip2 makanan baru. Setelah sedikit bercanda, saya pun bilang sama dia bahwa saya masih mau GeM direalisasikan. Saya bertanya, dia pun juga masih mau sebenarnya. Tapi kali ini saya buat pengecualian, bahwa saya yang akan pegang penuh mekanisme pembentukannya. Tambahan dari saya, saya mengejar target bahwa anggota GeM bakal terpacu untuk menjelajahi kuliner di dunia, mendapatkan feel ketika masak, dan bisa menjadi pengamat kuliner juga. Jujur, untuk yang ketiga saya terinspirasi sama film favorit saya, Ratatouille. Ga nyangka, saya pun kerja hampir mirip kayak Anton Ego sekarang. Haha…

Dalam beberapa minggu kedepannya, saya berhasil “menerbangkan berita lewat angin” ke penjuru2 ITB. Menariknya, massa yang saya dapat mencapai 200an. Saya pun langsung berusaha melakukan inisiasi dan pertemuan pertama. Karena saya ingin mereka bertemu saya dan bisa diskusi. Kesalahan saya waktu itu sayangnya, saya melakukan seleksi anggota. Padahal seharusnya untuk unit baru, harusnya all open dulu baru nantinya terseleksi dengan sendirinya. Dari 200an, tersaring jadi 40an, sedihnya lagi, di rapat cuma datang belasan.

Kumpul pertama membahas ide awal dan persiapan untuk pemaparan AD-ART. Lalu pertemuan kedua tujuannya lebih ke pengakraban, lantas kami buka puasa bareng di D’Cost Bandung Indah Plaza.

_MG_1190

Inilah sesi “pertemuan” kedua.

Libur puasa, saya menugaskan mereka dengan proyek masak. Boleh bertim, hasil dipublikasikan ke Facebook grup unit. Jujur, saya salut dengan mereka yang niat masak. Pada akhirnya, saya dengan salah satu rekan saya memutuskan untuk memilih ketua unit. Karena dengan adanya simpul massa, diharapkan unit ini bisa punya struktur dan genggaman awal.

Maka ada 3 orang yang maju: Freyskania “Frey” Dairianta (2010), Gesti Saraswati (2010), dan Indera Aji Waskitho (2010). Lalu Indera mundur. Tersisalah 2 femme fatale itu. Setelah proses pemilihan yang kami lakukan, terpilihlah Gesti Saraswati, dari jurusan Planologi angkatan 2010 yang terpilih. Sekaligus proyek masakan buatan dia juga emang menang juara 1 dari penilaian kami.

GeM - Certificate - Gesti

Sertifikatnya udah ada lho.

Semua udah tersusun rapi, tapi semua berubah ketika saya wisuda dari ITB. Saya yang harus ke Jakarta, dan dua orang rekan saya tadi yang selalu sibuk dan susah dikontak plus kurang bisa masak pun membuat roda inisiasi unit ini berhenti. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan… akhirnya lagi2 rencana unit ini kandas. Jujur saya merasa sedih dan kecewa, bukan sekedar karena unit ini saya yang bentuk juga, tapi bayangkan mereka yang udah tersusun rapi konsepnya, udah ada ketua, tapi kemudian unit ini jadi ga jadi apa2. Di awalnya, saya kesal dan menyalahkan kedua orang rekan saya tadi. Mereka ide awal unit ini dari tahun 2009 itu, tapi kemudian mereka sendiri ga mau menggantikan saya atau seenggaknya mencari orang yang mau mengajarkan ke anggota soal kuliner. Berhentilah akhirnya mimpi itu. Saya jujur selama 1 tahun setelah itu saya menjadi antipati. Kenapa? Malu. Mereka sibuk? Ya kita semua di sini juga punya kesibukan masing2. Bahkan anggota2 ini. Semua sama sibuknya. Saya terlalu menyalahkan mereka? Ya saya rasa. Walaupun pelan2 saya berusaha untuk melupakan hal itu dan seharusnya saya bisa melakukan sesuatu. Tapi sayangnya saya ga bisa. Lulus dari ITB itu artinya saya harus berhadapan dengan dunia nyata. Mencari kerja dan mencari jalan untuk S2. Beruntung saya belum ada rencana nikah cepat2. Tapi saya bilang lagi, berat.

Setahun berjalan. Tahun 2012. Saya cuma bisa memperkaya diri sendiri soal ilmu kuliner. Saya sering masak dengan sohib saya si Dwiki dan Aji (dan kalo ke Singapura, Rino). Masak, potret, taro di FB dan socmed lain. Beruntung, saya pun belajar sesuatu dan apa yang saya kirimkan mendapat apresiasi yang bagus. FB saya berubah dari ke sekedar posting pribadi yang (galau) standar, lebih ke sharing. Saya pun belajar soal menguasai media secara pelan2 dan menarik massa. Beruntung juga, beberapa anggota lama GeM pun bisa mampir ke FB saya dan memberi apresiasi.

Tahun 2013, saya menghapus FB grup utama dari GeM, dan grup sekunder yang tadinya berguna untuk rekrutmen saya ubah jadi Forum Kuliner ITB. Sekedar open group para pecinta dunia kuliner di ITB untuk berbagi. Itu harapan saya.

Setelah saya menjadi kontributor online magazine ShoppingMagz.com, saya pun jadi lebih rajin menulis dan pelan2 saya berubah dari sekedar orang yang suka masak, jadi lebih ke arah penulis sesuatu tentang kuliner, food writer, dengan kata lain. Saya pun mendirikan blog kedua saya, AW Kulinerologi, dengan tujuan melatih kemampuan saya untuk menulis, dan menulis apa yang saya tidak saya bisa tulis di majalah: pandangan pribadi atas restoran dan tulisan yang lebih panjang. Saya pun kemudian mengundang teman2 saya untuk mampir ke blog itu. Hingga Frey pun saya invite. Kenapa dia aja? Karena seenggaknya cuma dia yang merespon ke postingan2 makanan saya. Invite di sini maksudnya saya undang langsung, yang lainnya juga saya undang kok, cuma ga saya samperin ke timeline nya secara langsung.

Frey pun membalas.

*pasang lagu: OST Pirates of The Caribbean 2 – Dead Man’s Chest: “Hello Beastie” -> yang scene bagian Capt. Barbossa muncul lagi di rumahnya Tia Dalma*

Screen Shot 2013-06-03 at 1.32.34 PM

Jadi… ada wacana bahwa unit itu akan mencoba bangkit lagi. Menarik… kali ini saya hanya mau turun sebagai tamu dan konsultan, biar mereka yang merancang dan saya ga mau ada campur tangan pendiri GeM lama juga. Kenapa? Saya mau GeM baru bangkit dengan idealisme yang lebih kuat.

Satu hal yang saya juga baru sadar, ternyata gaung dan gema soal pendirian GeM waktu itu di 2011 besar juga di ITB, jauh lebih besar daripada yang di tahun 2009. Bahkan denger2 majalah kampus ITB, Boulevard sempat menulis artikel soal ini. Wah…

Oke, dengan blog ini saya mengundang mahasiswa2 ITB yang mungkin punya cita2 sama kayak saya dan mau merealisasikan wacana dari Frey. Jika ada, kontak dia aja… atau seenggaknya kontak saya!

Menjadi mahasiswa, bukan berarti makan dengan kere lho. Tapi harusnya hanya dengan sepotong roti dan saus tomat, roti itu bisa aja jadi pizza!

Trivia: Kenapa nama blog itu Kulinerologi, bukan Kulinologi? Ini bukan saya salah kata. Sisipan “er” di situ kan artinya lebih, atau punya ekstensi (kayak “er” dan “est” di bahasa Inggris). Kenapa gak “est”? Karena jadi aneh ntar! Lagian saya mau lebih humble, dan dengan mencari yang lebih dan lebih, bukan langsung menjadi yang terbaik, saya ingin membawa pembaca ke bagaimana kita belajar menyelami dunia kuliner. Dengan tambahan, sentuhan, dan ekstensi seorang saya tentunya. :p

-AW-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: