Skip navigation

Shiai

Shiai dengan bōgu ( = baju pelindung), saya aja masih belum boleh pake bōgu…

Langsung ke cerita, Taiyōmaru (太陽丸, Sang Lingkaran Matahari, lengkapnya sih Sabu-ku Taiyōmaru, さぶく太陽丸) di sini bukanlah nama orang, bukan nama anjing juga (kalo ada yang menyambungkannya ke nama anjing ninja di Ninja Hattori, Shishimaru). Itu adalah nama daitō shinai (大刀竹刀), pedang bambu panjang yang saya punya yang selalu menemani saya untuk latihan kendō. Ya, saya ikut kendō, aliran senjata pedang dari Jepang yang merupakan turunan dari kenjutsu. Kendō (剣道) sendiri secara bahasa terdiri dari ken (剣) dan (道) yang bisa diartikan menjadi pedang dan aliran/jalan filosofi.

Sejarah singkat sebagai latar belakang, saya ikut kendō sebenarnya ceritanya berawal dari ketertarikan sama ilmu pedang dan inspirasi dari Roronoa Zoro di manga One Piece. Saya dulu sempat mendaftarkan diri di ITB walau hanya ikut sebentar di unit kendō situ gara2 kewalahan sama kesibukan tahun pertama. Kurikulum ITB 2007 ada 3 praktikum untuk tahun persiapannya.  Waktu itu saya baru belajar kamae-samae (langkah mengeluarkan pedang ke posisi siap (kamae-tō) dan menaruhnya kembali ke posisi istirahat (samae-tō)), suri-ashi (すり足) atau menyeret kaki, yang menjadi dasar. Kemudian sempat belajar mengayun bambu (belum boleh pegang shinai) untuk pukulan men (面, ke arah ubun-ubun kepala dari topeng pelindung). Apa yang menjadi drive saya waktu itu masih sederhana: nyoba2, dan syukur2 bisa ngeluarin jurus keren. Lebih lagi, saya akhirnya tau ada yang namanya sistem pedang ganda atau nitōryu (二刀流). Senpai (atau senior) saya, Pandu, waktu itu bilang… yang jelas itu susah. Saya mengerutkan dahi. Masa sih?

Karena kesibukan kampus, akhirnya saya vakum… selama hampir 6 tahun. Ntah, mereka yang pernah ambil kendō bareng saya mungkin aja udah lupa. Bahkan para senpai saya.

Setelah 6 tahun, dan didorong untuk mulai lagi, saya pun bergabung ke klub latihan kendō di UI. Klub ini berencana untuk menjadi unit, tapi saya diajarkan para senpai yang ternyata lebih muda dari saya, Adit (angkatan 2009), Tama (sang ketua, 2010), Rinov (2010), Ian (2010), dan beberapa lainnya. Saya ikut bareng Dwiki dan Aji.

Setelah inisiasi suri-ashi lagi selama 2 pertemuan, latihan men, dan beberapa stance awal (duduk seiza, mokusō, dan rei). Tapi bersama klub ini, saya belajar teknik pemanasan yang baru saya dapatkan: gaya tebasan atas-bawah atau jōge suburi (上下素振り), sentakan ke arah ubun2 atau shomen suburi (書面素振り), tebasan semi-diagonal ke samping topeng pelindung atau sayumen suburi (白湯面素振り), dan tebasan atas bawah dengan cepat atau haya suburi (早素振り).

Selang beberapa bulan, saya pun dipertemukan dengan si Taiyōmaru. Setelah saya lepas segel merahnya, para senpai saya dan temen2 yang lain pada angkat shinai dan “ngajak kenalan”. Saya pun jadi motodachi (istilah kendō: dia yang berperan sebagai penahan tebasan untuk latihan tanpa melibatkan alat pelindung lengkap). Yeah, Taiyōmaru pun menjalankan peran pertamanya.

Waktu terus berjalan. Si pedang bambu ini saya sadari perlahan2 membawa saya ke pengetahuan dan filosofi yang lebih dalam. Tetap berpegang sama mimpi saya untuk bisa jadi kendoka nitoryu ntah kapan, tapi saya terbawa untuk semakin berusaha untuk bijak dalam berpikir.

Pelajaran pertama:

Ian: Saat nebas, jangan kelamaan mikir. Setelah hitungan kedua, bersamaan sama suri-ashi ke depan, langsung tebas!

Tebasan men itu butuh skill, presisi, kecepatan, dan tenaga untuk diterapkan. Kesalahan umum adalah orang lupa menarik badannya ke depan sebelum menebas, dan ada jeda antara mengayun shinai ke atas sebelum dilecutkan untuk men, seolah mikir dulu. Semua ini harus dengan spontan dan kecepatan. Waktu latihan waktu itu bareng Taiyōmaru, saya pun sadar. Dalam beberapa aspek hidup, saya kebanyakan mikir. Saya suka ragu di titik terakhir eksekusi. Sederhananya ini: Saya pernah mau memecahkan balok bata. Deedo, teman saya, mengarahkan saya bahwa memukul harus dengan hentakan bertenaga yang cepat. Saya? Awalnya saya cepat tapi melambat, seolah otak saya lebih mementingkan “Nanti sakit” atau “Nanti luka” atau semacamnya. Saya tidak boleh seperti ini. Saya harus bisa menjalankan apa yang harus saya jalankan. Saya harus lebih tegas.

Beruntung, walau masih harus tetap saya asah, saya makin spontan atas menjalankan ide2 di pikiran saya. Keraguan adalah lawan. Biar begitu, pemikiran tetap harus dilakukan, tapi sebelum eksekusi, bukan saat eksekusi.

Pelajaran kedua:

Adit-senpai: Lo mau nyoba pake men* kan?

Saya: Iya…

Adit-senpai: Oke, nih pake *sambil memakaikan men* Terus, pake kote** ya! Kita shiai***!!

Saya: APA??

Adit-senpai: Gantian lah, masa gw mulu yang jadi dummy?? Sekalian nyobain rasanya pukulan men kalo pake men. *nengok ke Tama* Tama, lo jadi jurinya ya!

Tama: Sip…

<akhirnya kami siap2>

Adit-senpai: Dit, kamae lo yang bener dong!

<mulai, kena 3 men, 1 kote, untung saya ga pake dō****, lebih parah lagi, kena tsuki*****>

Adit-senpai: Dit, kamae lo ngaco. Lo kebuka banget! Makanya gw bahkan bisa tsuki.

Tama: Lo kena kiai****** udah ciut yak?

Keterangan:

* = men (面) itu adalah topeng pelindung, pukulan men dianggap sah kalo kena ubun2 tanpa interupsi.

** = kote (小手) adalah sarung tangan pelindung, pukulan kote sah kalo kena bagian itu tanpa interupsi.

*** = shiai (試合) adalah pertarungan atau kompetisi dalam bahasa Jepang.

**** =  (胴) adalah pelindung perut dan dada, pukulan do sah kalo kena sisi kanan/kiri perut tanpa interupsi.

***** = tsuki (突き) adalah tusukan ke bagian tenggorokan lawan, biasanya akan kena bagian tenggorokan dari men, berguna buat mengancam lawan dan juga menjadi acuan bahwa pertahanan tengah kita bolong.

****** = kiai (気合い) adalah teriakan menyerang, saat melakukan tebasan men, kote, do, dan tsuki, kita harus menyebutkan ini atau kita ga dinilai juri saat shiai, selain itu juga ada teriakan yang mungkin kita tau seperti “Hiaaaaatt!!” sambil menyerang lawan yang jelas tujuannya adalah menjatuhkan mental lawan.

Tamparan keras buat saya, saya masih gampang terpengaruh oleh serangan psikologis. Gaya kamae saya yang menjadi dasar saja sudah salah, jelas aja Adit-senpai bisa nyerang dengan gampang. Apalagi kena tsuki, pertanda sempurna bahwa bahkan titik tengah saya udah bolong dan saya lengah.

Shiai sama Adit-senpai ini cukup gila. Taiyōmaru pun sampai renggang talinya. Beruntung dia gapapa.

Saya harus belajar untuk menguatkan mental dan bertekad keras untuk menjalankan apa yang harus saya lakukan, dan ga boleh gampang terdistraksi serangan psikologis dari sekitar saya yang berdampak ke goncangan emosi saya. Banyak dampak yang bisa dihasilkan dari ini.

Misal: Cowo mau nembak cw. Kalo mental dia hari itu udah jatuh dari saat dia ketemu saja dengan si cw, kayak si cw seolah ngeluarin kiai dengan suara indahnya dan instead of dengan tatapan mata yang menakutkan tapi dengan tatapan yang indah, well… sehebat apapun track PDKT, jangan harap semua berakhir baik.

Yeah, tapi itu cuma contoh kasus… fiktif. Tapi itulah, mental dalam pengerjaan sesuatu memang harus stabil. Lawan di hidup ini bukan cuma lawan yang mengancam kita, tapi pertanggungjawaban ke mereka yang butuh kita lindungi dan sayangi, dan kegigihan kita akan sesuatu akan selalu diuji.

Pelajaran ketiga:

Adit-senpai: Sekarang kita kakari (geiko) ya. 10 kali terus muter. Serangan men non stop. Serang, maju, balik badan, serang lagi, dan seterusnya. Ga boleh berhenti!!

Kakari geiko (素振り) adalah sesi latihan serangan intensif (terus menerus) dan pendek yang tujuannya adalah untuk melatih kesiagaan dan kesiapan, serta membangun jiwa dan stamina yang kuat.

Hari itu, baru kali ini saya ngerti. Agak obvious sih dan harusnya dari awal, cara menyerang utama dalam kendō kan adalah dengan tangan kiri. Saya harus genggam ujung shinai, si Taiyōmaru, dengan tangan kiri dengan kuat. Tangan kanan hanya mengarahkan.

Sepuluh kali masing2 (20 total) serangan men dengan kiai dan suri-ashi cepat ke Adit-senpai dan Rinov-senpai, itu bener2 capek. Saya sampai sesak napas, dan badan bagian kiri saya gemetaran. Memang mungkin karena saya masih belum biasa. FYI, suri-ashi itu yang mendorong adalah kaki kiri. Jadi bagian tubuh kiri saya kali ini benar2 diuji.

Saya jadi belajar sesuatu. Khususnya adalah ke fungsi kiai itu sendiri dan latihan short-term-focusing dan accuracy-power-gaining in second. Saat kita capek, ternyata teriakan kiai itu benar2 bisa mendorong kita untuk maju lagi. Wajar kalo kita bisa lihat di anime bahwa tokoh pemainnya yang sudah mau mati pun bisa menyerang dengan kuat dengan segala alasan yang membuatnya harus bertarung dalam satu serangan dan satu teriakan. Sisanya saya belajar bahwa kesigapan dalam waktu singkat itu penting. Apalagi dalam memimpin, baik memimpin diri, dan orang lain (tim). Jika kita lama dalam memutuskan, bisa aja semuanya berakhir berantakan.

Contoh kasus: Seorang pilot dalam keadaan darurat. Segala instrumen peringatan berbunyi, diri kita panik, pemandangan visual bisa saja berantakan. Tapi pilot harus tenang dan bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Mengendalikan pesawat, mengatur instrumen terbang, dan utamanya… mengendalikan situasi. Karena jika panik, nyawa ratusan penumpang bisa melayang termasuk kru dan dirinya sendiri. Dengan berpikir jernih dalam keadaan bahaya sekaligus, pilot ini bisa saja membalikkan situasi dan membuat para penumpang memberikan tepuk tangan setelah mendarat dengan tenang.

Hehe… sudah lumayan yang saya dapatkan. Semoga saya bisa dapatkan ilmunya lagi. Saya masih mau belajar kendō lagi sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi, dan saya ingin bisa nitōryu. Sesusah apapun kata senpai saya, biar saya sendiri yang menentukan seberapa susahnya itu. Terus maju, menyerang dan menyerang. Karena di kendō ada prinsip: 防御のための防御なし。(Ja: Bōgyo no tame no bōgyo nashi = tidak ada istilah bertahan untuk bertahan). Untuk bertahan, menyeranglah, atau majulah.

Kendō, yang jelas mengajarkan untuk menguatkan mental, menghormati lawan, membangkitkan kepercayaan diri, dan menjaga diri agar tetap rendah hati, bukan untuk menyerang dan menyakiti. Karena kenyataannya, shinai itu sendiri tidak dibuat untuk melukai lawan.

Taiyōmaru, tolong bawa saya ke sisa perjalanan saya. Semoga di tiap tebasan ke lawan, ada kebijaksanaan yang selalu bisa dipetik. Juga, pertemukan saya dengan saudara mu yang belum muncul… Tsukimaru (月丸, Sang Lingkaran Bulan).

-AW-

Iklan

2 Trackbacks/Pingbacks

  1. […] seni dan ajaran penggunaan serta filosofinya masing2. Waktu itu saya sudah menuliskan bagaimana petualangan saya dengan kendo (yang saat ini lagi mau lanjut di Yogya lagi dari Jakarta) dan kali ini,  saya akan menceritakan […]

  2. […] seni dan ajaran penggunaan serta filosofinya masing2. Waktu itu saya sudah menuliskan bagaimana petualangan saya dengan kendo (yang saat ini lagi mau lanjut di Yogya lagi dari Jakarta) dan kali ini,  saya akan menceritakan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: