Skip navigation

Siapapun yang udah nonton salah satu film legendaris di penghujung 2012 yang disutradarai Rizal Mantovani yang diangkat dari novel yang tak kalah hebatnya karya Donny Dhirgantoro pada tahun 2005 yang berjudul “5 cm” pasti tau nama tempat ini. Sekedar spoiler, ini adalah tempat Zafran (Herjunot Ali) dan Ian (Igor Saykoji) mencoba lewati tanpa menengok kembali ke bawah sambil membayangkan Dinda (Pevita Pearce) dan Happy Salma demi mendapatkan cinta mereka, sampai Riani (Raline Shah) memanggil mereka dan menengoklah mereka kepadanya (dan gagal misinya).

Emang seperti apa sih tempat itu?

tanjakan cinta

Jalan (agak) lurus menanjak ini lah yang disebut Tanjakan Cinta. Jalan ini berada di sebelah barat Ranu Kumbala (Baca: Ranu Kumbolo) yang artinya danau tempat berkumpul. Gambar ini diambil dari sini.

Ada beberapa mitos yang mirip2, yang salah satunya menyebutkan bahwa dia yang bisa jalan terus sampai atas (ujung) tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang (arah danau) sambil membayangkan yang disukainya, maka cintanya akan berakhir bahagia. Sumber mitos kata artikel ini adalah…

“Konon, waktu itu, si cowok melewati tanjakan tersebut lebih dulu. Sementara calon istrinya kepayahan naik tanjakan itu, cowok tadi cuma melihat dari atas sambil foto-foto. Naas, pendaki cewek ini tiba-tiba pingsan dan jatuh terguling ke bawah, kemudian tewas.”

Wew… ceritanya agak naas ya…

Untuk kali ini saya akan membahas seperti ulasan sebelumnya tentang Beringin Kembar di Alun-Alun Selatan Keraton Yogyakarta, tapi karena saya belum pernah ke sini… maka saya akan menganalisis apa yang ada di mitos ini saja ya.

Sebenarnya konsep yang bisa kita simpulkan itu cukup sederhana. Saya tulis sekali lagi…

“Dia yang bisa jalan terus sampai atas (ujung) tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang (arah danau) sambil membayangkan yang disukainya, maka cintanya akan berakhir bahagia”

Saya elaborasikan… (maaf, saya lupa jenis kalimat majemuk yang saya dapat dari SMU, tolong koreksi ya)

  1. Kalimat majemuk subjek: Dia yang bisa
  2. Kalimat majemuk predikat: jalan terus sampai atas (ujung) tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang (arah danau) sambil membayangkan
  3. Objek: yang disukainya
  4. Keterangan akibat: maka cintanya akan berakhir bahagia

Saya akan sorot ke bagian ini:

  1. Jalan terus sampai atas
  2. Tanjakan
  3. Tanpa menoleh ke belakang
  4. Membayangkan yang disukainya
  5. Cintanya berakhir bahagia

Cinta, merupakan interaksi mutual antara 2 entitas, sesama manusia, manusia dan Tuhannya, manusia dan binatang, manusia dan tumbuhan, manusia dan alam, dan lain sebagainya. Saya akan sorot ke sesama manusia agar kalian, para pembaca bisa mencerna lebih gampang sebelum kalian bisa transcend ke yang lainnya dengan pengertian kalian sendiri, OK? 🙂

Di muka Bumi ini, bahkan secara fisika, kita tahu bahwa reaksi penyatuan (fusi) itu menghasilkan energi yang lebih besar dengan usaha yang kompleks, ketimbang pemisahan (fisi) yang bahkan memiliki defek (sisa) dari proses yang terjadi. Kita analogikan, untuk mencari calon pasangan yang akan menemani kita hingga akhir waktu nanti, kita perlu usaha yang besar. Berbeda dengan saat terjadi perceraian (semoga tidak terjadi pada saya dan para pembaca sekalian) atau putus atau saat kematian memisahkan. Pasti ada perasaan yang tersisa di masing2 kubu yang terpisah. Prosesnya pun bisa dihitung lebih cepat daripada saat bertemu, membuat komitmen, mempersiapkan pernikahan, menikah, dan sebagainya.

Saat kita menemui calon pasangan, untuk meyakinkannya, untuk meyakinkan orang tuanya, keluarganya, temannya, dan lain2 termasuk kita harus mulai usaha agar kita bisa hidup berdua, itu adalah sebuah usaha yang keras! Kita harus luruskan niat untuk terus maju dan berkomitmen.

Jalan yang kita lewati ini bagaikan tanjakan yang curam. Yah, walaupun di Tanjakan Cinta ini sekitar 45˚ katanya. Intinya, usaha ini bagaikan tanjakan. Banyak godaan, banyak keraguan, ga lain itu sebenarnya adalah pupuk atau cambuk yang bisa membuat kalian semakin kuat nantinya. Orang yang hebat akan menganggap hal2 sulit sebagai acuan semangat, bukan alasan untuk menyerah.

Tentu saja, karena komitmen ini sudah dibuat, tidak ada yang namanya menengok lagi ke belakang. Mengingat masa lalu, ragu2, itu adalah sebuah hal yang salah. Semua hal yang sudah didapat di hidup ini tidak perlu kita sesali, cukup jadikan bahan renungan agar kita bisa jadi lebih baik. Kutipan dari Walt Disney…

“Keep moving forward.”

Dengarkan lagu dari Rob Thomas yang judulnya “Little Wonders” dan perhatikan liriknya…

“Our lives are made in these small hours

These little wonders, these twists and turns of fate”

Waktu berjalan maju, walaupun kalian mengharapkan mesin waktu untuk mengembalikan kalian ke masa lalu dan mesin itu ada, percaya sama saya… paradox kausalitas akan membuat kalian ga akan bisa mengubah apa yang ada di masa lalu. Untuk itu, majulah. Berbuat hal yang baik, lebih baik, dan lebih baik. Lakukan hal yang positif demi menggapai apa yang kita inginkan. Ga ada gunanya menoleh ke belakang dan menyesali yang terjadi. Suatu hari, jika kalian sudah sukses, masa lalu adalah ga lebih dari kebodohan yang mungkin bisa membuat kita tertawa karena kita tau apa yang lebih baik dari itu.

“Comedy equals tragedy plus time.” – GLaDOS (Portal 2)

Membayangkan yang kalian sukai… ini adalah alasan kalian, kan? Untuk membahagiakan yang kita sukai, untuk bisa bersamanya, bukankah ini yang membuat kita berani maju sampai akhir? Ini kan yang akan bisa membuat kita senyum2 sendiri sambil terus maju?

Tentu saja… setelah melewati segalanya, jika Tuhan mengijinkan, semua akan berakhir bahagia. Jika Tuhanlah yang kalian cintai? Bukankah kebahagiaan tanpa akhir yang akan didapatkan?

Lihat? Sekali lagi kita bisa mempelajari bahwa ide dari legenda tempat ini cukup logis saat kita uraikan…

Semoga kita bisa menjadi pencinta yang terbaik untuk yang kita sayangi, untuk orang tua kita, (untuk yang muslim, untuk Rasul kita), dan utamanya untuk Tuhan kita (untuk yang muslim, saya akan langsung sebut saja… untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala)

Cheers, peace and love for you all!

-AW-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: