Skip navigation

Mumpung suasana masih cukup segar dengan segala kehebohan Ujian Nasional (UN), saya akan bahas masalah dunia pernilaian di sistem akademik kita bedasarkan sudut pandang saya sendiri.
Nilai & NIM

Rage comic: Nilai & NIM, buatan saya sendiri (emang udah ada yang posting di Kaskus, di YeahMahasiswa, atau di manapun kalo ada yang repost, kalo ga percaya cari aja di Google Search NIM ini (keyword: 10607032, NIM, ITB) salah satu yang muncul pasti nama saya!)

Oke kita mulai, percaya atau ngga… rata2 tiap saya ngobrol sama adek kelas saya, buat mereka yang namanya angka di nilai itu sangatlah penting, bahkan ada yang bilang “sakral.” Coba kita cek… saya beberapa saat lalu nanya ke beberapa responden (yang namanya ga bakal saya sebut)…

Anak SMP: Kalo aku nilainya jelek, mama bisa bunuh (baca: marah2) aku!

Anak SMU: Sumpah aku kesel nilainya jelek, masa aku kalah sama *temen anak ini*?? Padahal aku udah belajar mati2an!

Anak kuliahan: Nilai itu penting lah! Kalo IPK ntar jelek, mau kerja di mana coba??

Mari kita rangkum maknanya, bagi anak SMP nilai itu adalah bentuk presentasi yang bisa dipersembahkan kepada orang tua. Ya, saya tau rasanya kok. Apalagi pas saya SD dulu kalo nilai saya jelek, saya takutnya setengah mati. Soalnya saya ga bisa bohong dan pasti nunjukin nilai saya ke ortu begitu ada. Pulang sekolah, saya gemetaran. Pas SMP, saya pernah nyembunyiin nilai dulu, pas mood bapak atau mama saya udah bagusan, baru saya tunjukin. Respon saya setelah itu adalah secara otomatis duduk ke meja belajar dan belajar lagi.

Pas SMU, nilai itu adalah ajang kompetisi dan harga diri! Anak2 SMU adalah mereka yang sedang dalam tahap mencari jati dirinya. Karena itu, persaingan adalah sesuatu yang seru! Bersaing untuk apa? Untuk bisa jadi murid favorit guru, untuk bisa pamer ke lawan jenis dan begitu mereka kagum, mereka jadi pengen belajar sama kita (SAYA BANGET!), untuk bisa diakui sama temen2 (parahnya, bisa jadi… untuk bisa diakui sebagai sumber contekan ama temen), atau semacemnya. Puncaknya, nilai ini berguna untuk beasiswa bagi ada yang mau ambil demi biaya perguruan tinggi.

Bagaimana dengan era perkuliahan (S1)? Nilai2 itu adalah stok masa depan. Untuk mencari kerja, untuk mencari beasiswa S2, bahkan untuk melamar pasangan pun kadang perlu IPK!

Terus bagaimana? Buat saya… nilai itu lebih besar maknanya dari sebuah parameter kompetisi belaka!

Ada yang nonton film India yang judulnya 3 Idiots?

Threeidiots2

AAL IZZ WEEEELLL!

Rancho/Wangdu di sini mengajarkan kepada kita dan membuktikan sama si presiden kampus, Virus, bahwa hidup dengan kompetisi dengan sekedar beracuan nilai itu salah dengan cara meminta seisi kelas (termasuk si Prof. Virus) mencari dalam 30 detik arti kata FARHANITRATE & PRERAJULISATION di buku manapun! Hasilnya? Ga ada satupun yan bisa! *spoiler alert*

Rancho: “No one get the answer? Now rewind your life by a minute. When I asked this question, were you excited? Curious? Thrilled that you’d learn something new? Anyone? Sir? No… you all got into a frantic race. What’s the use of such method, even if you come first. Will your knowledge increase? No, just the pressure. This is a college, not a pressure cooker. Even a circus lion learns to sit on a chair in fear of the whip. But you call such a lion “well trained”, not “well educated”

Virus: “Hello! This is not a philosophy class! Just explain those two words!”

Rancho: “Sir, these words don’t exist. These are my friends’ name, Farhan & Raju.

Virus: “QUIET! Nonsense! Is this how you’ll teach engineering??”

Rancho: “No, sir. I wasn’t teaching you engineering. You’re an expert at that. I was teaching you how to teach and I’m sure one day you’ll learn. Because unlike you, I never abandon my weak students. Bye, sir!”

Lihat? Belajar itu harus berakar dari rasa suka atas bidang yang kita ambil. Sejak kita SMU, kita mungkin ada yang mengalami penjurusan ke kelas IPA, IPS, atau mungkin ada yang Bahasa. Di kuliah, kita sudah memilih fakultas dan jurusan di dalamnya dari awal. Memilih… kitalah yang memilih. Kalaupun kita terpaksa, salah jurusan akibat penjurusan oleh fakultas, diminta oleh orang tua. Ngga seharusnya kita semua meratapi. Hei, hidup ini bukan penyesalan! Hanya pembelajaran dari waktu ke waktu!

Saya sendiri, sudah mendalami bidang sains sejak SMU itu karena saya tumbuh di bawah ajaran almarhum kakek saya yang sejak kecil sudah mengajarkan astronomi dan biologi sederhana tentang kesehatan, bapak saya sendiri adalah lulusan teknik mesin walaupun sekarang menjadi sales director, beliau diwaktu saya kecil terbiasa memperbaiki alat2 di rumah, dan mama saya adalah seorang dokter gigi yang sejak kecil selalu peduli urusan gigi, makanan, dan obat2an saya. Itu saya… saya tau ga semua orang melewati ini. Tapi apa yang saya pelajari? Saya cinta dengan sains karena dengan sains saya merasa semakin dekat dengan pengetahuan di alam yang Allah berikan kepada kita semua. Ya, kadang nilai saya jelek. Saya akui NUN (Nilai Ujian Nasional) SMU saya pas2an, dan IPK saya juga. Tapi apa saya menyesalinya? Tidak… Saya bangga bisa dapat sesuatu di luar kebanyakan orang.

Saya mempelajari bahwa untuk bisa mencintai ilmu kita, kita harus membawanya dengan imajinasi. Simpelnya, saat kita jatuh cinta sama seseorang, kita pasti membayangkan orang itu berdua selamanya dengan kita dan semacamnya kan? Saya? Saya yang terus terang sejak kecil suka manga Jepang, Doraemon, Ninja Hatori, P-Man, beberapa seri Digimon, dan Cyborg Kurochan, lalu berlanjut dengan kecintaan saya terhadap beberapa seri fiksi ilmiah, Star Wars, Avatar (film), Alien Quadrilogy, The Island, StarCraft Series, Portal, Half Life dan sebagainya pun mempelajari bahwa mimpi kita dengan sains adalah gerbang masa depan. Coba bayangkan imajinasi Fujiko F. Fujio yang sudah membayangkan TV Waktu yang ukurannya sederhana di jaman 70an itu. Sekarang, kita ada laptop yang bahkan ukurannya lebih tipis, dan banyak orang yang punya, termasuk saya saat mengetik blog ini! Lihat, betapa kuatnya imajinasi seseorang! Bahkan game saja (misal Half Life dan StarCraft) itu banyak ide2 yang dituangkan di dalamnya dan menunggu untuk direalisasikan dengan sains atau dijabarkan dengan sains!

Saat kuliah, saya belajar bahwa seni-teknologi-sains adalah satu tubuh, sama dengan helm-baju zirah-pedang di medan pertempuran. Sains tanpa teknologi, ga ada gunanya kita belajar sains. Sains tanpa seni, kaku. Teknologi tanpa seni, ga laku! Maksudnya jadi apa? Ketika belajar sesuatu, bayangkanlah! Gunakan imajinasi kalian! Saat saya belajar fisika, saya membayangkan bagaimana konsep gauss gun, partikel yang lebih cepat dari cahaya, suhu terendah di alam semesta, lalu di kimia saya membayangkan apa yang terjadi jika struktur dasar kita bukan karbon tapi silikon, apa yang terjadi jika orbital ada lebih dari g (kan ada s, p, d, f untuk saat ini), dan di biologi… LEBIH BANYAK LAGI, dan inilah yang membuat saya kuliah di biologi. Kesimpulannya? Dari satu ilmu, satu teori, bayangkanlah apa yang bisa kita dapat, apa yang bisa kita genggam, jika ilmu itu semakin tinggi, hingga kita bisa melakukan apapun?? Bukankah imajinasi yang membawa kita ke masa depan dengan ilmu yang kita punya sekarang?

Selesai kuliah, saya menemui orang2 dengan latar berbeda. Bidang sosial dan sastra, orang2 ini menjadi teman terdekat saya juga. Saya mulai belajar (baca ini), bahwa segala sesuatu karya manusia itu memiliki makna. Bahkan mitos, legenda, takhayul, dan mungkin misteri2 di sekitar kita itu semua ada penjabarannya (baca contohnya di sini) lho! Di jaman dahulu, segala sesuatu dibuat dengan konsep yang wah! Berbeda dengan kita yang hidup dengan keinstanan dan terlena dengan makna yang serba praktis. Kita pun jadi mudah mengiyakan sebuah informasi. Kita tahu saat ini informasi yang kita dapat itu ada banyak dan belum semuanya benar!

Kembali lagi ke bahasan awal… maka dari itu, saya mau kita semua, memaknai ilmu yang kita dapatkan lebih dari sebuah nilai yang bertuliskan A, B, C, D, E, atau angka2! Ketahuilah apa yang kalian pelajari, maknanya, dampaknya, gunanya, sehingga ga jadi kosong. Senang hatilah jika kalian diajari sesuatu. Kita sebagai manusia dianugerahi kemampuan yang sangat banyak. Segala sesuatu ini bukan masalah bisa atau tidak, tapi mau atau tidak mau. Bapak saya pernah bilang…

“Ga ada yang susah di dunia ini, challenging iya… tapi ngga susah.”

Agama saya, Islam, mengajarkan bahwa segala ujian yang kita terima saat kita hidup itu ga akan melebihi batas kemampuan kita sendiri dan Allah meminta kita untuk selalu berpikir dan terus mencari tahu. Surat pertama di Al-Qur’an pun bunyinya “Iqra'” atau “Bacalah!” Agama lain saya rasa juga begitu. Atheis? Saya rasa orang2 atheis justru adalah mereka yang sangat kritis untuk mencari tahu. Masa kita yang beragama kalah?

Jadi, tolong gunakan rasa penasaran kalian untuk terus mencari. Bukan sekedar berkompetisi. Ketahuilah apa yang kalian pelajari. Cintailah, maka kalian akan mendapatkan makna dari ilmu kalian. Maka kalian akan tahu sebuah makna, lebih dari nilai di atas kertas yang terus jadi masalah di negara kita. Masa depan kalian itu lebih dari sekedar tulisan nilai UN kalian, kawan! Tapi nilai tunjukanlah bahwa nilai kalian itu tinggi, karena kalian mengerti, terlebih lagi menjadi ukuran cintanya kalian terhadap ilmu kalian!

Nilai 100 tersempurna didapat jika kalian belajar dan mengerti sekali apa yang kalian pelajari. Nilai 100 yang biasa hanyalah untuk mereka yang menganggap ilmu itu pelajaran yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri, keluar SMU atau kuliah menguap semuanya. Nilai 100 kalian adalah yang sempurna kan?

Jadilah insan terhebat yang menguasai sains, teknologi, dan seni, demi agama kalian. Kita butuh orang seperti ini di dunia demia masa depan yang lebih baik.

Tulisan di blog ini saya persembahkan buat adek2 kelas saya yang hebat yang baru dan akan UN nantinya, Gibran, Sarah, Afif, Galih, Abi, Albar, Umar, Vanny, Sajeela, Kinasih, Joma, Fattah, dkk. Serta untuk para guru saya di SMU yang luar biasa, Almh. Bu Yanti, Pak Hari Prasetyo, Pak Yosserin, dan Pak Gito. Yang karena mereka, kecintaan saya terhadap sains semakin tinggi!

Cheers!

AW

————-

Iklan: Baca majalah ini yak! Hehehe… ShoppingMagz #8 – Edisi April 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: