Skip navigation

Siapa yang ngga tau istilah “Tugas Akhir” atau TA? Istilah ini kadang menjadi hal yang cukup mengerikan di mata para mahasiswa yang akan lulus. Bagi ada yang belum tau, TA adalah serangkaian proyek penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data yang akan ditulis di skripsi/tesis/disertasi, dan di cerita ini tentu aja… skripsi. Mendengar cerita teman saya, banyak yang mati2an kerja demi TA, gonta-ganti topik, revisi karena ga disetujui pembimbing. Gitu deh, horror kan? Terus gimana menurut saya? Ya buat saya ini adalah cerita paling epic yang menjadi titik ubah hidup saya! Kenapa? Karena saya penelitian TA nya di National Institute of Education – Nanyang Technological University (NIE-NTU), Singapura selama 1 minggu lebih! Dari cerita ini, saya akan menceritakan asal-muasal munculnya nama yang saya refer di blog ini sebelumnya yang juga menjadi drammatis personae di cerita ini: Dr. Totik Sri Mariani M.Agr (Bu Totik, dosen pembimbing TA saya; inisial di percakapan cerita ini: TSM), Dr. Any Fitriany (Bu Any, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, UPI, Bandung; kolega nya Bu Totik, inisial: AF), dan Associate Professor (Profesor Muda) Tet Fatt Chia (Prof. Chia, peneliti dan dosen NIE NTU, inisial: TFC).

Kita mulai perjalanan cerita ini! *jeng jeng jeng!!*

Saya di Singapura

Saya di samping Merlion. Ga usah nanya kenapa bajunya malah Bali. Foto ini diambil Bu Any.

Saya berangkat 1 Oktober 2010 ke Singapura. Kondisi saya agak kacau waktu itu. Momen saya putus dengan mantan pacar saya yang pertama akhir Agustus masih cukup segar di kepala saya. Malam sebelum pergi pun saya berharap pergi ke Singapura ini akan jadi “hiburan” tersendiri, dan saya pun memutar lagu di laptop saya, “Wake Me Up When September Ends” oleh Green Day. Terus bagaimana cerita saya bisa pergi ke Negeri Singa ini? Oke, flash back.

Bulan Mei 2010, saya masih semester 6 kuliah saya dan ada mata kuliah yang disebut Metodologi Penelitian (Metpen) yang di ujung kuliah ini kami dipersiapkan untuk menulis proposal tugas akhir. Tak terkecuali saya, yang dengan random-nya membuat proposal mengenai semangka tanpa biji. Proposal ini akan diajukan ke para dosen narasumber yang jadi dosen pembimbing tugas akhir. Saya yang baru tau penelitian saya adalah dengan Bu Totik, saya langsung menemui beliau… dan cukup absurd. Kenapa? Temen2 saya yang denger saya dibawah bimbingan beliau pada kaget. Beliau itu adalah dosen yang terkenal sangat pendiam terhadap para (plural ya) mahasiswa yang diajarnya sekalipun. Oke, lalu saya menemui beliau…

AW (saya): *ketok pintu* Permisi, bu…

TSM: Kamu ini siapa ya?

AW: Saya Adit, bu… bedasarkan pemberitahuan di dinding TU (Tata Usaha), ibu adalah dosen narasumber saya…

TSM: Oh, kita ketemu besok ya, saya sedang sibuk sekarang.

AW: Baik bu…

Besoknya saya pun menghadap beliau lagi, dan beliau membawa saya ke ruang rapat yang di dalamnya ada Bu Tita Puspita, teknisi Lab Fisiologi Tumbuhan yang super gaul dan legendaris, dan Bu Any. Baru saya duduk, Bu Totik langsung menjelaskan rencana penelitian kami yang akan dilakukan di Singapura. Dan dengan “lugunya”, saya bertanya…

AW: Bu, artinya penelitian kita akan dilakukan di Singapura?

TSM: Iya, betul…

Saya mencoba menahan rasa ga percaya  bercampur senang saya. Selepas kumpul, saya diskusi dengan Bu Tita dan beliau bilang bahwa sebaiknya saya ikut proyek beliau (Bu Totik) aja untuk TA saya. Wow, bahkan saya ga perlu ngajuin proposal! Lucky!!

Saya turun ke lantai dasar gedung kampus saya, dan semua pada ga percaya. Wajar… ini gila soalnya…

Setelahnya hingga saya berangkat, saya latihan inisiasi tanaman Aglaonema (itu, tanaman hias yang daunnya warna-warni) untuk kultur jaringan. What did you know? Gilanya adalah untuk ke Singapura ini saya perlu spesimen tanaman ini sebanyak 1000 tunas! Seribu, para pembaca sekalian… SERIBU! Tapi tenang, ini bukan 1000 candi… ini masih mungkin. Tapi ternyata ini hanya latihan yang Bu Totik minta saya untuk latihan agar saya bisa menguasai dasar metode kultur jaringan secara steril. Bu Tita lah yang dengan sakti dan cekatannya, bagai Kaminoan Cloners di Star Wars, mampu menginisiasi 1000 tunas lebih dalam eksten Mei-September 2010.  Saya pun mengamati laju pembentukan tunas (banyaknya tunas yang muncul dari 1 gugus tunas yang terpisah di setiap subkultur) dan membuat grafiknya untuk saya serahkan ke Bu Totik.

Memang apa sih penelitian ini? Jadi kami berencana mengamati proses mutagenesis (pembentukan mutan) tanaman Aglaonema yang diinduksi dengan senyawa kimia yang bernama N-nitrosometilurea (NMU); tadinya mau pakai etil metana sulfonat (EMS) tapi ga jadi karena diklaim kurang efektif. Lalu kenapa mutan? Kami berencana membuat Aglaonema var. Kochin menjadi berwarna merah putih dari tanaman induk yang berwarna merah dan hijau. Dengan kata lain kami ingin memblok gen yang mengenkripsi klorofil (pigmen hijau daun) dan antosianin (pigmen merah-biru di tanaman) secara mutagenesis acak.

Aglaonema Kochin

Aglaonema varietas Kochin yang murni, belum diubah. Dokumentasi pribadi.

Memang apa yang diharapkan dengan hasil penelitian ini? Tanaman ini adalah tanaman hias kan? Bayangkan aja, kita bisa jual di acara2 hari besar RI seperti 17 Agustus. Untuk ini kita perlu bangun nurseri, dan karena ini kita bisa menarik tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Lalu? Kita jual ke negara tetangga kita, Singapura, yang kemerdekaannya ga jauh dari tanggal itu, 9 Agustus. Dengan ekspor, kita mendapat devisa.

Kembali ke timeline awal. 1 Oktober, saya berangkat ke Singapura dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) sendiri, naik pesawat AirAsia ke Changi International Airport (SIN). Para dosen (Bu Totik & Bu Any) naik dari Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung (BOD). Tapi untunglah, saya bisa melawan rasa takut akibat acrophobia saya (takut ketinggian) karena baca doa, makan turkey sandwich, dan ultimately, a must-try, Uncle Chin’s Chicken Rice! Nasi dengan infusi kaldu ayam dan bumbu, dengan irisan ayam panggang yang berbumbu bawang putih, cabe (saya rasa cuma sedikit, kurang terasa), dan jahe yang khas yang di letakkan atas nasi. Memang rasanya agak kering karena ini adalah makanan pre-heat pesawat, cuma rasanya enak banget!! Saya merogoh kocek sekitar Rp 35 ribu rupiah, atau SGD 5.00. Tersedia di penerbangan Indonesia AirAsia (QZ).

Inflight Menu - Chicken Rice

That Epic Goodness. Gambar di crop dari sini.

Sesampainya di Changi, saya ambil barang, ketemu Bu Totik dan Bu Any, lalu naik taksi ke NTU. Rasanya cukup awkward buat saya, baru kali ini saya pergi untuk penelitian bareng dosen. Saya ngrasa terisolasi dari teman2 saya yang berada 700 Km di selatan sana. Perjalanan cepat naik taksi ini pun membuat saya berpikir, gimana ya biar gak galau? Secara random, taksi ini nyasar ke Nanyang Polytechnic karena misinformasi. Selang beberapa lama, tibalah kami di area NTU, Hall of Residence 8. Ini adalah kompleks asrama mahasiswa NTU. Bu Totik check in dan memberikan saya kabel LAN. Kami naik tangga, menyusuri lorong, naik tangga sampai lantai 3, dan tibalah kami di modul tamu asrama ini. Tempatnya cukup wah seperti apartmen mini. Ada dapur, mesin cuci, tempat jemuran dalam ruangan, ruang TV, meja makan, 2 kamar termasuk 1 master room untuk Bu Totik dan Bu Any, dan 1 single room buat saya. Di dalam kamar ada 1 AC, meja belajar, 1 tempat tidur personel, dan lucunya… ada kipas angin. Ada AC ada kipas angin… aneh juga pikir saya waktu itu. Kamar ada di lantai 2, ruang kumpul dan dapur tadi ada di lantai 1. Di pojokan lantai 1, di samping meja makan, dekat rak sepatu, ada pojok kosong yang ada colokan kabel LAN. Beberapa hari kedepan, itu akan jadi “tempat mojok” saya buat internetan. Beres unpacking, kami ke NIE buat menaruh kultur Aglaonema yang dibawa, makan (gila lah… kantinnya ada McD, Subway, KFC, dan Sakae Sushi! Lebih sakti lagi, McD nya lagi promo… mereka jual Double Fillet ‘o Fish, Double Chicken Burger, Double Cheeseburger, dan sadisnya… Mega Mac… Big Mac adalah burger susun 2, maka Mega Mac adalah Big Mac susun 2, 4 burger jadi satu! Tapi saya ga beli karena bakal mabok kekenyangan), lalu kemudian saya ke minimarket kampus buat beli adapter listrik lubang 3.

Noraknya… malam itu saya galau parah. Oke, lupakan soal ini… cukup tau clue nya aja.

Besoknya adalah momen yang gila. Pernah ga sih kalian terpikir jalan2 sama dosen saat nugas? Ya inilah momen yang saya alami! Tanggal 2 Oktober adalah hari Sabtu. Kami bertiga jalan2 ke Merlion dibawah langit biru dan cahaya matahari yang terik. Seenggaknya ditemani lagunya Miranda Cosgrove yang diputar di telinga saya pagi itu, “Raining Sunshine” (OST nya Cloudy With A Chance of Meatballs; film yang saya tonton pas saya di kamar, hari pertama ini). Sorenya, di social media, Plurk, di salah satu postingan rekan seangkatan saya, saya ketemu seorang gadis, adik kelas saya angkatan 2010. Lucunya, 2 bulan kemudian dia jadi pacar saya (sekarang mantan saya). Emang, kadang hal2 tak terduga bisa terjadi lho di hidup kita!

Besoknya, saya menemani ibu2 dosen ini ke Singapore Zoo. Cuacanya super lembab.

Crowned Stork

Ini adalah salah satu penghuni Singapore Zoo, African Crowned Stork. Hasil jepret sendiri.

Must-try menu? Coba Fish n’ Chip dan Sandwich di cafe mereka! Ah iya! Cobain jus di botol panjang yang aneh. Botolnya bisa disimpan buat suvenir lho!

Senin, 4 Oktober 2010. Penelitian dimulai! Untuk pertama kalinya, saya bertemu Prof. Chia. Hari pertama kami baru briefing dan di bawah bimbingan Prof. Chia, kami mulai menyentuh alat yang bernama particle gene gun (pistol partikel gen). Woohoo… ini sci-fi banget! Kerennya, alat ini dibuat atas spek permintaan Prof. Chia sendiri. Beda dengan gene gun konvensional yang menggunakan gas bertekanan tinggi, alat ini menggunakan mesiu sebagai sumber ledakan. Pelurunya? Serbuk tungsten (Wolfram, simbol tabel periodik W) yang tidak larut kemana2. Konsepnya sederhana, peluru direndam senyawa NMU dengan konsentrasi pengenceran yang sudah kami atur, lalu dimasukkan ke pelet nilon untuk ditembakkan ke atas jaringan tanaman dalam kondisi hampa udara (udara disedot pompa). Ternyata untuk penelitian saya memerlukan 500 tunas, karena 500 tunas lagi akan digunakan oleh Bu Totik dan Bu Any untuk percobaan mereka sendiri. Simpelnya, kami bekerja di 2 lab yang berbeda. 500 tunas ada di dalam sekitar 100-150 cawan petri plastik. Hari pertama secara personal saya memprediksi berapa jumlah optimal yang bisa saya kerjakan sehingga besoknya bisa saya tambah lagi eksekusi perlakuannya. Hari ini saya lakukan sekitar 20 penembakkan. Merasa mampu, besoknya saya naik hingga 30-35 penembakkan. Hari ini saya juga belajar bahwa di bawah bimbingan Bu Totik, saya makan 4 kali sehari: makan pagi, makan siang, makan sore, dan makan malam. Gratis sih… tapi makanannya di situ… gila2an. Alamat naik berat badan, ya… saya pun sepulangnya nambah 5 Kg dari 80 Kg jadi 85 Kg. Saya juga jadi tau bahwa Bu Totik itu jalannya cepat sekali. Bu Any pun setuju dan mengerti bahwa beliau yang lulusan Nagoya Daigaku (Meidai) ini melakukan semuanya dengan sangat cepat dan efisien. Perjalanan dari lab ke kantin NTU itu cukup menguras energi, karena perlu melewati tangga yang tinggi sekali di lorong.

Di Lab

Saya selama 5 hari itu. Di samping saya ada tabung “pistol partikel gen” itu. Dipotret Bu Any.

Selasa, 5 Oktober 2010. Masih sama dengan kuantitas penembakkan ditinggikan. Suasana di Lab of Molecular Genetics itu dingin dan sepi, saya pun memasang headphone. Pas makan siang, Prof. Chia ikut dengan kami untuk menunjukkan lokasi kantin yang jalannya “lebih manusiawi.” Percakapan seru terjadi…

TFC: Dr. Totik, do you know that there is a mycorrhiza that priced very expensive in this world?

TSM: What kind of mycorrhiza is it?

TFC: This mycorrhiza priced thousands of dollars for every kilograms!

TSM: Wow! What is it?

AW: *nimbrung mode: ON* Professor, is that mycorrhiza is truffle?

TFC: Correct! So you know about it, Adit?

Wow, I hit the jackpot! Pas makan siang kami jadi ngebahas jamur mikoriza legendaris bernama truffle ini dan tentang karya2 Prof. Chia lainnya. Ga nyangka, pengetahuan gw soal jamur ini dari game PS1 Harvest Moon kebawa ke sini. Sorenya di Hall of Residence 8.

TSM: Adit, nanti kamu ikut penelitian yang truffle ya…

AW: Wah, iya bu??

TSM: Iya, kamu kan ngerti soal jamur ini.

Wow… lagi… dapet proyek lagi… oke, saya ga mau komen soal ini.

Rabu, 6 Oktober 2010. Masih kayak kemarin. Malamnya si prof nraktir kami makan di Jurong Point. Makan dengan lengkap sampai makanan penutup, dan keliling2 untuk melihat hal2 unik. Si prof menjelaskannya ke kami di bagian jamu khas Cina.

Dinner w/ Prof

Makan Malam di Jurong Point. Kiri ke kanan: Prof. Chia, saya, Bu Any, Bu Totik.

Kamis sampai Jumat masih eksekusi perlakuan ke Aglaonema dan akhirnya selesai! Sembari mencari literatur pustaka skripsi dan menyusunnya, saya ingin menunjukkan kepada 2 dosen saya ini gimana rasa truffle itu. Akhirnya saya menemukan restoran bernama Spizza. Saya sudah pernah memesan sebelumnya di Indonesia dan tau bagaimana mengkustomisasi pesanan saya. Saya pesan yang mirip Pizza Margherita (cuma saus tomat), lalu saya minta extra black truffle ke atasnya. Truffle hitam ini sudah dihaluskan. Tapi rasanya yang unik, agak seperti keju ini masih terasa kuat.

Pizza Truffle

Truffle itu ada di bagian yang hitam itu. Foto oleh saya sendiri.

Selama weekend, saya menunjukkan pizza ini, ke Singapore Science Center (di sana saya sekaligus mencari oleh2 berupa Astronaut’s Ice Cream, coba cari di Google deh!) dan kemudian mencari oleh2 seperti coklat di Takashimaya bersama 2 ibu dosen ini. Mereka membeli sepatu, dan pas balik di Jurong Point, saya ngiri setengah mampus ketika Bu Totik beli iPad di depan saya!! Gyaaah!! Malam sebelum balik ini, lagu “For A Lifetime” nya Melee terdengar di headphone di mana laptop saya terhubung ke playlist tetangga saya. Hehehe…

Besoknya kami sebelum pulang mengambil kultur kami dan berfoto bareng di depan NIE-NTU…

Di Depan NIE

Dari Kiri ke Kanan: Saya, Prof. Chia, Bu Totik, Bu Any. Foto diambil oleh orang lewat yang kami minta tolong.

Saya pun dari Changi balik ke Jakarta (CGK) dan sampai rumah, ngedrop oleh2, terus naik travel ke Bandung untuk siap2 bimbingan lagi besoknya.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik kali ini:

  1. Banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita, khususnya di luar harapan yang berlebihan. Yang kita perlu lakukan adalah syukuri apa yang kita miliki dan berdoa sambil berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.
  2. Cintai ilmumu, maka ilmumu akan memberikan sesuatu kembali kepadamu.
  3. Banyak hal yang terjadi di luar persepsi kita. Ada orang yang pendiam, tapi ternyata baik. Oleh karena itu kita tidak boleh berburuk sangka. Dalam perjalanan kali ini, jujur saya melihat sisi Bu Totik yang orang2 lain jarang bisa lihat di kampus.
  4. Uang bukan segalanya, tapi uang adalah reward yang bisa diraih siapa saja selama mereka niat.

Sejak saat itupun, saya ga pernah ragu untuk terus mencari ilmu, melakukan penelitian2, dan bertanya kepada para ahli. Saya bersyukur sudah diberi pengalaman tak terlupakan seperti ini.

-AW-

Iklan

One Comment

  1. Reblogged this on gunawanhaliratblog and commented:
    gunawanhaliratblog


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: