Skip navigation

Pizza adalah santapan Italia favorit saya yang paling enak kalo dimakan pas lagi ngumpul2, walau kadang2 saya makan sendiri. Biar greget gitu, hahaha. Dalam sejarah saya membeli pizza, bisa dibilang cukup banyak cerita yang saya lewati. Salah satunya adalah di Izzi Pizza.

Izzi Pizza saya akui kehebatannya di masa SMU saya dulu, sekitar tahun 2004-2005. Saya mengenal restoran ini dari iklan dan voucher yang disuguhkan dalam majalah televisi kabel. Untuk saat itu, saya mengakui sangat mengagumi restoran ini karena variasi dari pizza yang ada dengan topping yang beragam. Baru kali itu saya punya kesempatan membeli dan memakan langsung pizza dengan topping khas Italia dan Mediterrania lainnya seperti capersartichoke, anchovy, dan zaitun. Bahkan variasi kejunya sangat mantap! Saya akui, saya patut memberi resto ini bintang 4 setengah.

Tahun berganti, promo sudah ga ada lagi, keluarga saya mulai ga suka dengan harganya yang naik. Pernah kemudian saya penasaran ke sana pada tahun 2009 dan kaget bahwa variasi itu menurun drastis, bahkan harganya melambung tinggi. Pada saat itu juga, saya mendengar kabar bahwa ada restoran baru muncul yang namanya Pizza Marzano. Saya sempat mengunjunginya dan wow… jujur saya kaget bahwa rasanya 80-95% mirip dengan Izzi Pizza di awal2, bahkan beberapa jenis pizza yang sudah tidak ada di Izzi sekarang ada di sana.

Kemarin (5 Maret 2013), saya pun mencoba membeli pizza di Izzi Pizza lagi di cabang Pejaten (baru buka) setelah mendengar rumor bahwa resto ini banting harga dan menjual pizza-pasta dengan sangat murah karena (katanya) terancam bangkrut. Setelah ini, saya akan bercerita 2 hal: pertama adalah mengenai pelayanannya, kedua mengenai makanannya.

Untuk pelayanannya, saya jujur agak kecewa. Pertama, “mas2 manajer” datang dengan baju kaos, muka garang, dan kayak orang bingung. Saya awalnya mengira dia bukan siapa2. Lalu, setelah saya memesan, dia terlihat kurang yakin dalam menggunakan mesin gesek kartu untuk pembayaran dan karena itu saya diminta bayar dengan tunai. Ya, baiklah… kebetulan saya sudah mempersiapkan uang tunai. Saya memesan pizza Izzi Classico dan Beef n’ Izzi ukuran besar. Ngaconya, ga ada alat hitung seperti kasir yang digunakan untuk menghitung biaya total tercetak. Si manajer malah hampir bingung sendiri menghitung harganya. Saya pun menghitung dengan manual dalam otak, dan kemudian cuma beda Rp 2k kurang dengan hasil perhitungan kalkulator.

Sedihnya, mereka kehabisan jamur untuk Izzi Classico dan saya mengatakan bahwa itu tidak masalah, untung juga mereka mau menambah potongan daging sebagai gantinya. Yang lebih menyedihkan lagi, saya melihat mereka membuat garlic bread hanya dengan mengoleskan margarin dan bukan mentega di atas roti yang nampaknya sudah berumur di luar penyimpan (karena permukaannya agak terlihat keras dan alot). Oke, mungkin saya berburuk sangka dan mungkin itu adalah mentega (butter, bukan margarin) dengan bawang, soalnya saya ga liat sama sekali ada yang mengeluarkan bawang putih tumbuk atau segar untuk dicampur dengan mentega itu. Yang paling membuat saya kecewa adalah bagaimana mereka menyebut makanan pesanan pelanggan. Saya memesan fettuccine, dan mereka menyebutnya apa? Oke… maaf: Pecun (definisi Bahasa Indonesia: Pecun = PSK/Pekerja Seks Komersial). Hei! Kalo kalian mau menjual makanan, perlakukan makanan kalian sebagai barang berharga! Saya tahu makanan adalah hal yang biasa di pinggir jalan atau kalian tidak suka ama makanan2 di sini, cuma tolong ya… kalian pikir itu lucu saat kalian menyebutkannya di depan pelanggan? Ya… ada untungnya saya ga pake baju formal penuh, karena dengan seperti ini saya ga dianggap berduit dan tidak diprioritaskan; dianggap setara.

Setelah ini, peristiwa yang cukup komikal terjadi setelah seorang perempuan muda yang nampaknya pegawai di sekitar tempat itu dan berparas cantik, manis gitu, cukup lucu sih buat gw, hehehe. Jeda beberapa menit, pizza sudah mau jadi. Munculah percakapan yang kira2 seperti ini:

Chef 1: Eh udah mau jadi nih.

Chef 2: Mana dusnya??

Manajer: Eh iya2!

Chef 1: Ah lo bukannya nyiapin!

Alhasil dia pergi ke rak dus pizza yang agak tinggi dan letaknya ada di depan si mbak cantik (eaaa). Konyolnya, dus pizza ukuran besar ada di rak yang paling tinggi dan dia gak nyampe ke atas. Si mbak spontan ketawa kecil.

Manajer: Aduh, ga nyampe!

Saya: Sini mas saya bantu… *jinjit dan ngambil*

Manajer: *muka meme: Okay* Sip… makasih mas. 1 lagi ya…

Saya: Oke2…

Dengan saya jinjit dan sekali ngambil, si mbak makin ketawa. Gak lama kemudian semua makanan pun jadi. Saya pun membantu si chef 2 menutup kardus yang sudah berisi pizza. Lalu…

Saya: Mas, saosnya 3 aja ya… ga usah banyak2

Manajer: *ngebalikin saos, dan masukin 3 di masing2 dus*

Saya: Maksud saya 3 aja dari semuanya, mas

Mbak cantik: *ketawa kecil*

Manajer: *bingung sendiri* Eh, gw taro tali rafia di mana ya?? *jalan ke belakang, nyari2*

Saya: *muka nahan facepalm*

Daripada kelamaan, saya pikir pizza cukup mudah dibawa dengan kardusnya yang besar. Saya pun mengambil semuanya, dengan muka hampir menahan ketawa saya menoleh ke si mbak dan si mbak mau ketawa lagi pas saat saya jalan agak ngendap2 keluar. Si chef bilang ke manajer.

Chef 2: Eh udah ga usah, udah pergi tuh! Lo bilang makasih kek ama pelanggan ga mau nyusahin!

Sampai di motor, saya ketawa lepas. Aduh… ini tempat! Saya pun bergegas untuk pergi sambil membawa makanan pesanan saya tadi. Buat mas manajer, sori ya… saya kalo keliatan pengen pamer.

Oke, mengenai makanan. Saya takjub mengetahui bahwa harga pizza ukuran sedang dipatok harga Rp 24,9k (+ pajak = Rp 26k) dan ukuran besar Rp 29,9k (+ pajak = Rp 33k). Saya sedang lapar waktu itu dan kebetulan saya akan menginap di tempat teman saya Dwiki, jadi saya beli 2 pizza, 1 pasta (seharga Rp 19,9k atau Rp 22k plus pajak), dan 1 porsi garlic bread (roti bawang putih) seharga Rp 14,9k atau Rp 17k (plus pajak).

Mengenai rasa…

Izzi Classico Pizza

Izzi Classico

Izzi Classico, rasa sausnya oke. Tomatnya segar. Kejunya… gak yakin itu adalah mozzarella. Rasanya agak kuat dan tajam seperti parmesan… atau mungkin emmenthal? Yang saya kecewa cuma rasa sosis Italia itu gak segar. Rasanya gak jauh seperti sosis biasa yang ditaruh di dalam kulkas. Untungnya rasa itu itu cukup tersamar secara signifikan oleh rasa tomat dan keju. Peperoni nya rasanya kurang terasa.

Beef n' Izzi

Beef n’ Izzi

Untuk Beef n’ Izzi… soal rasa komponennya ga jauh beda ama dari di Izzi Classico. Sausnya… saus barbecue nya ntah kenapa kurang terasa pas.

Izzi Garlic Bread

Garlic Bread

Untuk makanan satu ini… rasanya aneh. Ga ada rasa bawangnya sama sekali. Udah nyangka sih setelah ngeliat si chef cuma ngolesin mentega dan terus ditaburin peterseli, bukan bawang putih. Roti yang saya rasa ini kayaknya adalah tipe focaccia kalo dilihat dari tekstur adonan roti dan bentuknya. Sayangnya, dugaan saya menyatakan bahwa roti ini tidak disimpan dengan baik sehingga rasanya agak apak. Ah sayang sih, menteganya udah cukup epic, salah satu mentega favorit saya. Dari aromanya, saya rasa itu mentega merk Elle n’ Vire yang wangi.

Fettuccine Con Funghi

Fettuccine con Funghi

Yang satu ini untungnya gak mengecewakan. Pasta kerasa al dente dan uniknya adalah rasa mentega (yang sama dengan di garlic bread itu) memancarkan rasa yang kuat dan jamurnya sendiri (jamur kancing) ntah bagaimana rasanya bisa keluar dengan kuat. Enak! Untuk roti di atasnya, mungkin kalau dikasih mentega dan tumbukan bawang putih bakal oke.

Yah… begitulah komentar saya. Sayang sih, saya melihat resto yang tadinya bintang 4 setengah jadi 2 setengah. Soal rasa okelah, pelayanannya yang kalo saya rasa mereka harus perbaiki jika mau maju. Tim di restoran yang baik, chef, manajer, dan pelayan seharusnya mengerti betul mengenai makanan di restoran itu, menghormati makanan mereka, dan bisa memberi senyuman yang santun kepada pembelinya. Semoga mereka bisa mengerti hal ini.

Tulisan ini… sekali lagi adalah ulasan saya dari pengalaman membeli di Izzi Pizza cabang Pejaten. Semoga yang lainnya bisa lebih baik dari ini karena sayang aja. Ini dulu termasuk restoran favorit saya dan saya harap namanya bisa bangkit menjadi lebih baik lagi di masa depan. 🙂

-AW-

Foto2 oleh: saya sendiri

Kamera thanks to: Ganesh Aji Wicaksono

Iklan

9 Comments

  1. habis terima sms dr izzi pejaten, saya googling lokasinya, dan dapet review nya pak adit.
    jadi galau nih pengen kesana atau enggak, karena di pancoran juga ada izzi pizza, tapi saya ragu masih promo atau enggak. soalnya kalo promo gini kan pas banget sama kantong anak kost-an.

    • Ini kayaknya promo yang semi permanen deh. Hehehe… saran saya, beli aja. Not bad kok buat “ngemil” pizza mereka… :p

        • rera
        • Posted Maret 22, 2013 at 9:03 pm
        • Permalink

        Lho ini saya di izzi tebet lho pak, dan promonya masih ada. Hahahah bahagia banget deh.. Nggak perlu jauh2 ke pejaten, di tebet pun promonya masih ada. Heeeee…

        • Adit W
        • Posted Maret 22, 2013 at 10:28 pm
        • Permalink

        Ah I see, saya juga liat di Kemang dan ada promo. Kayaknya itu berlaku di semua cabang deh… hehe…

        • rera
        • Posted Maret 22, 2013 at 10:36 pm
        • Permalink

        Sepertinya pak.. Selama masih ada spaghetti steak nya izzi, saya masih doyan kesana. Hahahahah.. :p

  2. https://adhityowicaksono.wordpress.com/2013/03/06/review-izzi-pizza/

    http://www.mail-archive.com/dharmajala@yahoogroups.com/msg07344.html

    gak lagi makan di izzi, penipuan dgn gambar, fatboy pizza gak sesuai promosi di disdus, chicken wing cuma 4 (di website ada 8), sprite 1.5LTR 15rb di website, dikasihnya yg ukuran 1LTR..

    gw sumpahin semoga SUCK-ses deh tuh perusahaan

    • Wah, di Izzi mana tuh?

        • fendy
        • Posted Mei 23, 2013 at 6:04 pm
        • Permalink

        wisma metropolitan

  3. Reblogged this on Kuliner-o-logi Si AW and commented:

    Soal Izzi Pizza dari blog yang satu lagi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: