Skip navigation

Siang ini, saya mendapatkan kesempatan untuk makan di sebuah restoran yang berada di gedung Setiabudi One di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dan restoran itu bernama The Duck King. Sebelumnya saya mau ucapkan terima kasih banyak kepada bapak saya yang karena beliau, siang ini saya jadi bisa mencoba melihat makanan mewah khas Cina dari dekat walaupun dengan resiko diet saya gagal untuk sementara dan ga bakal jalan2 ke luar dalam 2 minggu ke depan.

Menu makanan pertama yang saya amati adalah salah satu makanan yang berasal dari Beijing, yaitu bebek Peking yang disantap dengan 3 cara. Awalnya saya cukup melihat dengan kondisi yang takjub, karena bebek itu tersaji dalam meja troli ukuran besar seperti di bawah ini…

Today's Duck

Serasa jadi kaisar (lebay mode: ON).

Sedikit mengecek informasi soal makanan yang akan saya makan satu itu, gambar di atas menunjukkan (searah jarum jam dari bebek) bebek Peking utuh, nampan porselen berbentuk bebek (gambar terpotong), piring kotak dengan pisau besar sangat tajam, saus hitam “momo” (asumsi saya mereka menggunakan peach) yang rasanya manis, saus mustard, saus hitam dan mustard dalam piringan besar, dan gula pasir. Setelah mendengan konfirmasi dari bapak saya, chef yang menangani bebek ini langsung “membedah” si bebek itu dengan cekatan.

Skinning The Duck

Bahkan ini lebih rapi dari pas saya membedah di lab (you don’t say!).

Penyajian pertama, chef menguliti si bebek dengan sangat profesional, rapi dan hati2 dengan menggunakan pisau besar tadi sehingga kulit terpisah dan dalam bentuk persegi. Dalam pembuatannya, bebek Peking sebelum dimasak dipompa dengan udara sehingga bagian kulit yang terpisah dengan lemak di tubuhnya yang tebal (karena bebek Peking diberi makan dengan cara khusus dan terjaga hingga memiliki kandungan lemak yang banyak di bawah kulitnya). Dengan demikian, kulit akan terpanggang sempurna dengan tekstur kering tetapi masih lembut saat digigit. Kembali lagi ke proses pengulitan. Setelah chef menguliti dengan sempurna, potongan kulit yang berbentuk persegi itu disajikan dengan gula pasir.

Duck Skin and Sugar

Kulit bebek dan gula pasir, siap disantap.

Penasaran, saya pun mencobanya dua kali: pertama dengan gula, kedua tanpa gula. Saat saya memakannya dengan gula, rasa yang masuk ke mulut saya cukup unik. rasa manis gula, rasa manis-gurih-asin di kulit bercampur; menjadikan rasa manis-gurih khas kulit bebek dengan rasa yang dalam. Saat saya memakannya tanpa gula, rasanya jadi beda… jadi agak hambar; rasanya memang sudah cukup kaya, tapi tidak rasanya tidak sesempurna dengan gula. Jujur ini pertama kalinya saya mencoba makan kulit bebek dengan gula. Kulit bebek yang terkaramelisasi saat dipanggang rasanya kering, tapi lemak di bawah kulit memperdalam rasa kulit tersebut.

Penyajian bebek tahap kedua, chef melanjutkan penyayatan daging bebek secara sagital dan menyusun daging dan sisa kulitnya (tapi kali ini digabungkan dengan daging) di nampan berbentuk bebek.

Fillet Duck

Sudah terlihat epic.

Setelah sebagian daging diambil, mbak asisten chef memulai pembuatan meat wrap, dan si chef membawa sisa bebek ke dapur untuk diolah. Bahan tambahan pun dihadirkan ke meja masak: kulit wrap yang dibuat dari tepung yang sudah terkukus, dan daun bawang.

Rolling in The Duck

It’s a wrap!

Kulit wrap dibentangkan, daging ditambahkan di atasnya, kemudian diberi saus, dan ditambah daun bawang. Kemudian kulit itu dilipat dan digulung.

Duck Roll

Jadilah seperti ini!

Makanan fase kedua dari menu bebek kali ini dimakan dengan 2 pilihan saus: saus momo yang rasanya manis, dan saus mustard kuning yang rasanya agak… menyengat seperti wasabi. Saya mencoba dengan kombinasi 2 saus itu sekaligus dan rasanya, cukup berputar2 dan menari2 di dalam rongga mulut saya. Saya rasa tepung untuk bagian kulit ini dibuat dari tepung terigu karena agak beda dengan rasa adonan kulit lumpia yang terbuat dari tepung beras. Kombinasi daun bawang, bebek, dan dua saus itu membuat saya serasa terbang. Ya… terbang… saus mustard itu cukup menendang saya seperti saat saya makan wasabi. Sensasinya sangat unik!

Fase ketiga dilakukan di dapur oleh chef, bebek tadi dipotong2 dan ditumis di atas wajan hingga agak kering dengan potongan cabe dan bawang putih. Maaf untuk yang ini saya lupa memotretnya. Rasanya sangat enak. Cabe yang berasimilasi dengan bebek yang digoreng dengan pas (tidak terlalu basah, tapi tidak kering) berpadu dengan harmonis di dalam mulut. Pedas, tapi enak… tidak pedas berlebihan. Kombinasinya juga pas, sehingga tidak ada elemen yang terlalu menonjol (bahkan rasa cabenya tidak terlalu mendominasi) kecuali bebeknya (pastinya karena bebek merupakan “tokoh utama” makanan ini).

Penasaran, saya pun memesan 1 makanan lagi… Siew Long Pao dengan 6 rasa. Terdiri atas rasa kepiting (pao putih), rasa Tom Yam (pao oranye), rasa keju (pao hijau), rasa hisit/sirip hiu (mampus saya kalo ketauan sama teman saya anak biologi kelautan!) dan rempah Cina (pao hitam), rasa pasta jamur truffle hitam (pao ungu), dan satu lagi yang berwarna pucat tapi saya lupa rasa apa. Makanan ini berasal dari Shanghai dan nama aslinya xiaolongbao (小籠包) yang artinya keranjang kecil yang dikukus. Dagingnya dari kepiting (yang saya rasakan).

6 Flavored Pao

Epic Pao Time!

Karena saya meremehkan (kurang ajar banget yak) dan menganggap yang lain itu biasa, saya hanya mengejar yang warna ungu dan hitam.

Truffle Duck Dumpling

Pao ungu, habis digigit.

Pao ungu. Saya mencoba memakannya dengan sepenuh hati. Bagaimana tidak? Pao ini berisi daging kepiting dengan tambahan jamur yang 2 tahun lalu hingga tahun lalu hampir menjadi spesimen saya di lab: jamur truffle hitam! Yah, walau saya juga tau bahwa truffle hitam Cina harganya murah, tapi ini buat saya adalah sesuatu sekali! Saat saya makan, rasanya lembut dan rasa jamurnya yang agak kayak bawang itu berkolaborasi dengan dagingnya secara sempurna. Mantab sekali!

Hisit and Chinese Herb Dumpling

Pao hitam, setelah digigit.

Pao hitam setelah digigit ternyata isinya lebih berair. Ternyata konsepnya unik sekali, sesuai deskripsinya yang berisi sup herba Cina ini benar2 menjadi sup di dalam pao ini ketika dikukus. Rasa herba yang tajam dan hisit/sirip ikan hiu yang punya cita rasa laut tersendiri unik bercampur dengan sangat mantab.

Belum puas, saya memesan salah satu makanan lagi. Ketan kukus dalam daun teratai dengan bebek yang dipotong dadu, dicampur kuning telur dan potongan kerang scallop dari Pasifik.

Duck in Lotus (1)

Terlihat elegan.

Kemudian saya membuka daun pembungkusnya. Saat dibuka, aroma daun teratai yang khas (soalnya sejak kecil saya suka main2 dengan daun tanaman air ini karena penasaran) keluar menyapa hidung saya.

Duck in Lotus (2)

Inilah isinya.

Rasanya agak seperti nasi tim dengan rasa yang beda karena kompilasi daging bebek, telur, dan kerang di dalamnya. Cukup nano2 kalau kata saya.

Terakhir, saya mencicipi makanan yang biasanya ada di resto2 Cina pada umumnya: Sapi lada hitam! Ya, saya percaya makan di restoran satu ini saya bisa merasakan sensasi yang berbeda dengan makan di resto konvensional.

Black Pepper Beef

Bentuknya sih biasa saja.

Secara penampilan sih saya bilang gak jauh beda dengan yang saya makan di resto2 lain. Yang kemudian membuat saya melotot saat saya makan itu adalah dagingnya! Saya memakan dagingnya (daging sapi) itu seolah seperti memakan daging steak yang dipanggang sempurna dengan sensasi hangus khas daging panggang; garing di luar, lembut sekali di dalam dan tidak ada lemak yang menahan. Kemudian saya memakan sayuran2nya. Ya, buat kalian yang nggak suka paprika… itu urusan kalian. Semua sayuran itu masih renyah! Bawang bombaynya tidak layu, paprika hijaunya masih terasa segar dan renyah, serta paprika merahnya masih manis! Oke, saya memejamkan mata dan saya berpikir. Pembuatannya pasti daging ditumis terlebih dahulu hingga kecoklatan, kemudian bumbu lada hitam dimasukkan, dan terakhir potongan sayurnya. Inilah yang membuat bumbu meresap sempurna ke dalam daging, daging termasak dengan sempurna, dan sayuran masih terasa rasa aslinya! Terkadang mereka yang lupa teknik ini mencampurkan semuanya begitu saja sehingga sayurannya kadang sudah layu atau dagingnya masih terlalu basah. Karena daging jika masih terlalu basah akan berasa kaldunya, sementara di sajian ini bumbunya lebih terasa dan rasa daging terkunci di dalam dagingnya yang sudah termasak dengan perfect timing di bagian luarnya.

Untuk makan di sini, pastinya saya gak berani sendirian karena faktor harga. 1 set bebek di atas itu dijual seharga Rp 385 ribu rupiah. Sementara harga makanan yang lain yang saya pesan cukup standar menengah keatas. Sejujurnya saya penasaran dengan kerang scallop yang mereka jual, terlebih lagi kerang abalonnya. Tapi kerang abalonnya dijual sekitar Rp 450 ribu.

Ya begitulah review makan siang saya. Sejujurnya saya masih miskin pengalaman dalam makan makanan oriental (karena biasanya makanan ini dijual di resto yang ada pas saya kelaparan dengan harga biasa dan saya ga peduli ama rasanya, hahaha) tapi saya hari ini mendapatkan pengalaman kuliner yang sangat menarik dan bisa jadi bahan referensi saya kedepan nantinya.

Kalau ada masukan, silahkan ditulis di kolom komentar!

Cheers!

-AW-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: