Skip navigation

8 Agustus 2012 lalu, hari itu merupakan hari yang…  cukup random. Semua berawal dari rage comic yang berasal dari sini

Baklava, Food of Gods

Judul: “Baklava, The Food of The Gods” (Baklava, Makanan Para Dewa)

Saya pertama kali mendengar nama “baklava” itu sebagai makanan yang dibuat salah seorang kontestan acara Junior Masterchef Australia Season 1 babak penyisihan 50 besar. Ga terlalu menonjol di mata saya untuk saat itu karena bentuknya yang kayak kue biasa. Semua berubah menjadi penasaran setelah melihat komik di atas. Ditambah sebuah obrolan antara saya dan teman saya Annisa Kurnia Maulida (Icha) lewat Twitter yang kira2 gini:

gw: Cha, lo kan pernah exchange ke Turki kan? Baklava itu gimana sih?

Icha: Oh itu enak banget! Lo harus nyoba Dit!!

Serius… segitunya??

Saya pun suatu hari di bulan puasa tahun lalu itu pun mencoba mencari tahu resto2 Turki yang kemungkinan menjual baklava. Kemudian ada 2, yang pertama kayaknya bener2 berkelas dan mahal banget, yang kedua mahal banget… tapi kayaknya masih terjangkau. Akhirnya ga lama setelah itupun gw mulai menyusun rencana buat beli itu… dibungkus… buat buka puasa like a boss!

Alhasil saya pun beranjak ke sebuah restoran khas Turki di daerah dekat Senopati, Jakarta Selatan yang bernama Turkuaz. Restoran itu cukup unik, karena saat itu (ntah pas bulan puasa aja atau emang seperti itu terus) restoran itu buka dari jam 11 sampai jam 2 siang, dan kemudian jam 5 sampai 11 malam atau sampai jam 12 malam kalau akhir pekan. Seperti yang saya lakukan dengan sahabat saya Rino, saya kadang punya hoki untuk menerobos sebuah restoran di luar jam bukanya… dan… berhasil! Waktu itu saya datang jam setengah 4 sore. Saya memang sengaja pergi jam segitu karena mengejar langsung makan buka puasa di rumah.

Sebenarnya alasan mereka mengizinkan saya masuk adalah karena saya hanya beli untuk dibawa pulang atau take away. Beruntung, saya menemukan baklava di menu mereka! Kemudian saya berpikir, nampaknya saya perlu beli 1 menu makanan manis khas Turki lainnya; biar sekalian gitu. Alhasil saya membeli baklava dan 1 makanan lagi yang namanya pistachio kadayif. Untuk membelinya, saya merogoh kocek total Rp 110rb (baklava sekitar Rp 55rb dan kadayif Rp 45rb). Setelah mereka usai memanggang keduanya, saya pulang lewat jalur TransJakarta koridor 9 dan transit ke koridor 6 di Kuningan Barat. Sial, antrian di Kuningan Timur (sisi lain halte Kuningan Barat) penuh sekali, ditambah bus dari Dukuh Atas selalu penuh! Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, dengan kata lain 1 jam kurang menuju adzan maghrib. Mengantisipasi situasi, saya pun akhirnya naik ojek  ke rumah (dengan harga Rp 40rb… sadis…).

Sesampainya di rumah, hanya jeda beberapa menit kemudian, adzan pun dikumandangkan. Setelah meneguk air segar, saya pun membuka bungkus makanan yang saya bawa…

Baklava (1)

Di balik bungkus: Baklava

Baklava (2)

Baklava: Diperbesar

Saya pun ngiler… Melihat baklava yang ukurannya mini itu (sial, kirain besar!), terlihat renyah sekali, isi yang nampaknya enak dengan taburan kacang pistachio yang menggoda nurani (lebay). Saya pun mengambil satu tanpa berpikir panjang dan menggigitnya. HMMMMMHHH!! Saya nggak bohong, ini enak banget!! Kerenyahan lapisan pate phyllo yang bersambung dengan manisnya campuran kacang pistachio dan kacang tanah (kayaknya, soalnya kerasa gitu dan baklava itu isinya campuran kacang) itu benar2 membuat ketagihan! Sayang sekali… cuma ada 3. Yaaah… Sekedar info, baklava itu harusnya diberi air gula, tapi ini nampaknya antara sudah dituang sebelumnya, dikuaskan ke atas phyllo nya saat dipanggang, atau dicampur ke isinya. Yang jelas terasa lengket saat dipegang, cuma nggak basah banget.

Akhirnya saya pun membuka bungkusan kedua…

Kadayif (1)

Pistachio Kadayif: Setelah bungkus dibuka.

Hah… ini apa? Ini kayak parutan kelapa yang kering dan dipanggang. Penjelasannya sih ini phyllo pastry yang diremukkan. Penasaran, saya pun membuka bagian dalamnya dengan sendok. Terlihat ada lapisan yang terbuat dari kacang pistachio yang ditumbuk halus.

Kadayif (2)

Pistachio Kadayif: Setelah dibuka dengan sendok.

Penasaran, saya pun langsung mengarahkan sendok yang penuh dengan kadayif itu ke dalam mulut saya. Pertama2 rasanya kering dan tidak terlalu manis. Tapi jika kita biarkan agak lama di mulut, rasa manis (yang entah kenapa rasanya kayak kelapa) dan pistachio pun baru keluar perlahan dan memberikan rasa yang unik untuk saya. Untuk menghabiskannya, saya butuh minum beberapa kali karena rasanya kering sekali.

Tak lama kemudian, kedua makanan buka puasa saya yang wah ini pun habis. Lumayan… lain kali saya perlu nyoba yang lain kalau ada rezeki! Ada rekomendasi, pembaca sekalian? Tulis di komentar!

-AW-

Sumber gambar:

Baklava & Kadayif: Dokumentasi pribadi

Rage comic: http://ragecomics.com/c/8xik/baklava-the-food-of-the-gods

Iklan

6 Comments

  1. hi, aku “baklava lover” (whatsapp 0816 1415 424). Aku bisa share dirimu info baklava palestine, masih metode era nabi, freshly made in jakarta selatan, by baklava chef turun temurun baklava chef, dan pengalaman 20 tahun lebih. Manisnya sudah dikurangi sesuai iklim Jakarta. Terkadang dia ngak produksi, katanya karena pistachio kurang bagus. Alhamdullilah, pistachio udah ada katanya, buat menyambut ramadhan. Aku males saur kalo puasa, mmm….ternyata cukup makan 3-5 potong baklava yang size kecil, trus minum, bobok lagi, seharian aku full and energised. Happy…
    Semoga dirimu bisa perkenalkan aku dengan baklava lover lainnya.

  2. Kak, kalau mau coba baklava yang enak dan asli mesir, bisa langsung dicoba di piramidafood.com 081218222610

    • Terima kasih atas infonya. Tapi bukannya baklava asli Turki ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: