Skip navigation

Magic and Science

 

Sir Arthur Charles Clarke adalah salah seorang penulis fiksi ilmiah paling terkenal dalam sejarah. Selain penulis, beliau adalah penemu dan seorang futuris, seorang ahli yang dengan menggunakan teori sains untuk secara sistematik memprediksi masa depan. Sepanjang hidup, beliau salah satunya terkenal dengan “Tiga Hukum Clarke” yang terdiri atas:

  1. Jika ada seorang peneliti terkenal yang sudah tua menyatakan bahwa sesuatu itu bisa terjadi, maka kemungkinan ia bisa diyakini benar. Namun jika ia menyatakan bahwa sesuatu itu tidak mungkin terjadi, maka ia sangat mungkin bisa salah.
  2. Satu2nya cara menemukan batas dari kemungkinan, adalah dengan sedikit melangkah menuju ketidakmungkinan.
  3. Suatu teknologi yang cukup maju, adalah tidak bisa dibedakan dengan kekuatan magis atau sihir.

Magis dan sains. Keduanya merupakan dua hal yang orang2 anggap sangat bertentangan. Bahkan di dalam agama samawi, kekuatan magis itu dilarang saat ini. Saya bisa bilang bahwa saya setuju untuk satu tipe magis tertentu. Maksudnya? Bagi saya, kekuatan magis itu ada dua macam, yang pertama adalah kekuatan yang berasal dari diri sendiri dan Tuhan, dan kekuatan yang berasal dari makhluk ketiga selain Tuhan. Mungkin sesuai yang pembaca tebak, saya lebih pro ke tipe pertama. Tipe pertama untuk saat ini bisa berasal dari tenaga dalam dan pernapasan, ataupun indera keenam yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita. Di sisi lain, tipe kedua biasanya lebih bersifat merusak karena melibatkan makhluk gaib yang di agama saya, Islam, disebut jin dan setan; larangan telah ditetapkan oleh Allah SWT karena bisa menyebabkan syirik (menduakan sosok Tuhan). Dari bahasan inipun, kita sudah bisa melihat mana yang bersifat alami dan mana yang berakar dari ambisi serta bisa membawa kearah lupa diri. Ya kan?

Di akhir tahun keempat kuliah saya, ketika saya pergi ke sebuah toko buku di pusat Jakarta, saya menemukan sebuah buku tentang proses pengembangan psikis untuk pemula. Penasaran, saya pun mencoba membacanya. Rasa takut memang pasti ada, tapi kemudian saya membaca tulisan dari penulis buku itu sendiri yang menyebutkan sesuatu yang intinya menyebutkan bahwa:

Kita semua memiliki kekuatan itu, adalah terserah kita jika kita ingin bisa menggunakannya atau membiarkan selamanya non aktif. Tolong diingat bahwa kekuatan ini ada pada diri kalian sendiri dan merupakan anugerah dari Tuhan, apakah kalian ingin menggunakannya untuk menolong orang lain, untuk membuat hidup jadi lebih baik, atau berbuat jahat, dan menghancurkan sesuatu, itu urusan kalian. Saya sudah memberi peringatan kepada kalian bahwa segala sesuatu yang baik akan membawa kebaikan dan sebaliknya, segala kejahatan bisa saja menghancurkan kalian sendiri.

Mungkin di antara kita hidup orang2 yang diberi kemampuan khusus oleh Sang Pencipta. Mungkin mereka bisa melihat dimensi lain, bisa melihat tempat lain, bisa menembus pikiran orang lain, atau bahkan mereka yang secara kontroversi bisa memanipulasi materi dengan pikiran mereka (kenapa saya bilang kontroversi, saya belum pernah melihat kasus ekstrim ini selain di TV, misalnya psikokinesis, pirokinesis, atau semacamnya). Ini tentu berbeda dengan dukun atau mereka yang mengaku memiliki jin yang membantu mereka.

Oke, bahasan kita bisa melenceng terlalu jauh nampaknya. Inti yang saya mau coba bahas adalah, mungkin salah satu alasan mengapa setelah era kenabian itu berakhir sihir itu dilarang adalah karena manusia dituntut Tuhan untuk menggunakan akalnya untuk menjelaskan SEGALA fenomena alam. Alam raya itu luas dengan jutaan fenomena yang bisa saja terjadi. Bahkan untuk kehidupan di muka planet Bumi ini pun belum semuanya telah ditemukan. Ada di kedalaman laut, makhluk2 yang bentuknya aneh. Bahkan ada hipotesis “biosfer bayangan” yang saya pernah jelaskan di sini, dan menjelaskan bahwa ada makhluk Bumi yang proses biokimianya sangat berbeda dengan kita yang normal (kita makhluk berbasis karbon). Intinya, masih sangat banyak hal asing di antara peradaban manusia ini yang belum bisa dijelaskan dengan akal sehat. Tapi, bukan sesuatu yang bijak menurut saya, jika kemudian kita mencoba memusnahkan mereka atau mengusir mereka seenaknya. Terlepas dari kepercayaan saya (di Al Qur’an, Surat Al-Kafiruun: 6, “Bagimulah agamamu, bagikulah agamaku”, dengan kata lain toleransi itu harus ada selama mereka punya paham untuk mereka sendiri dan tidak merusak kehidupan kita), saya rasa kita justru mulai perlu untuk mencari tahu kenapa hal2 magis itu bisa terjadi.

Kembali ke hukum ketiga Clarke di atas, teknologi yang cukup maju akan tidak bisa dibedakan dengan sihir. Iya lah! Bayangin aja kita bisa ke masa lalu, membawa mobil, lampu senter, dan gadget kebanggaan kita. Kita pasti bisa dipancung didepan balai kota karena dituduh penyihir! Contoh lain, bayangin Doraemon dari manga dengan judul sama buatan Fujiko Fujio. Doraemon datang dari abad ke-22 untuk menemui Nobi Nobita (di waktu manga itu terbit, yaitu sekitar tahun 1960-1970an). Ketika Doraemon mengeluarkan komputer portabel seperti TV di hadapan Nobita, Nobita sendiri terlihat sangat kagum, bahkan mungkin kita sendiri. Sekarang, 4 dekade lebih sudah terlewatkan dan kita ada di 1 abad sebelum era Doraemon. Sekarang bahkan kita sudah melihat komputer portabel yang kita akrab sebut dengan laptop dan bahkan bentuknya lebih canggih daripada yang ada di manga Doraemon! Benda itu sekarang bahkan dijual di mana2 dan bahkan dengan alat yang sama itu, sekarang saya menulis artikel ini sampai pembaca sekalian bisa membacanya.

Lihat? Menarik ya konsep ini. Kemudian, suatu hari saya berkelana di dunia maya dan tidak sengaja menemukan sebuah teori turunan hukum ketiga tadi. Hukum yang dibuat oleh orang secara anonim ini berbunyi:

Suatu hal magis yang cukup maju, adalah tidak bisa dibedakan dengan teknologi.

Atau bahkan ditambahkan di komik Girl Genius, menjadi:

Suatu hal magis yang cukup teranalisis, adalah tidak bisa dibedakan dengan sains.

Hukum ini bisa kita lihat merupakan hukum turunan atau mungkin pembalikan hukum ketiga Clarke. Saya jujur suka dengan ini!

Mungkin saat ini, kita justru harus membuka mata lebih lebar atas kejadian supranatural. Maksudnya? Iya… sekarang saya akan mencoba menjelaskan ini kepada pembaca sekalian. Pada sekitar tahun 1930, psikolog perseptual Karl Zener membuat kartu yang disebut “Kartu Zener” untuk melakukan percobaan dengan koleganya, J.B. Rhine untuk menguji kemampuan indera keenam seseorang terkait telepati, klervoyans (kemampuan melihat kondisi di tempat lain), dan psikometri (psikometri supranatural, kemampuan untuk “membaca” memori benda; memungkinkan pengguna kekuatan untuk mengetahui segala detail benda walau sudah rusak, dalam keadaan terbungkus, atau tertutup). Kartu ini ada 25 lembar seukuran kartu remi, dengan masing2 5 lembar 5 pola yang berbeda yang terdiri atas, kotak, lingkaran, tanda “+”, gambar bintang, dan pola ombak seperti di gambar berikut ini.

Screen Shot 2013-02-14 at 2.42.52 PM

5 pola pada Kartu Zener (bisa jadi acuan kalau pembaca mau membuat sendiri).

Cara ujinya adalah:

  1. Untuk menguji kemampuan telepati seseorang, seseorang yang diduga memiliki kemampuan telepati diminta memegang 25 lembar kartu yang sudah diacak urutannya. Orang normal di sisi lain yang berhadapan tapi tidak boleh melihat kartu yang dipegang si pemilik kemampuan telepati. Kemudian ada orang ketiga yang berperan sebagai pengamat dan membawa catatan. Pemegang kartu diminta membuka 1 kartu, mentransfer pikirannya yang menyebutkan pola apa yang sedang muncul dihadapannya ke orang normal di hadapannya. Pengamat mencatat apakah orang normal menyebutkan pola yang sama dengan si ahli telepati. Dari hasil yang didapat bisa diamati persentase keberhasilannya dan dianalisis.
  2. Untuk menguji kemampuan klervoyans seseorang, diperlukan jumlah orang yang sama dengan uji telepati dengan pastinya 1 orang yang akan diuji. Untuk kali ini, orang yang dianggap punya kemampuan klervoyans bukan pembaca kartu, justru kali ini orang normal lah yang memegang kartu. Pemegang membuka 1 kartu dan kemudian orang yang diuji diminta menyebutkan pola kartu yang dimaksud. Pengamat mencatat kesamaan pola yang muncul dan disebut, data kemudian diamati persentase keberhasilannya dan dianalisis.
  3. Untuk menguji kemampuan psikometri seseorang hanya perlu 1 orang uji dan 1 pengamat. Orang uji dihadapkan dengan tumpukan kartu yang diletakkan terbalik (pola ditutup). Orang uji kemudian diminta untuk mengambil kartu dalam keadaan tetap tertutup dan diminta menyebutkan pola apa yang muncul. Orang uji diperbolehkan menyentuh permukaan kartu. Setelah selesai kartu diserahkan kepada pengamat untuk dicocokkan. Hasil data yang didapat bisa diamati persentase keberhasilannya dan dianalisis.

Terlepas percobaan di atas, hasil tetap saja belum sepenuhnya ilmiah. Tapi ini setidaknya digunakan untuk mengkonfirmasi kepemilikan kemampuan supranatural tersebut. Untuk mencapai kebenaran ilmiah, mungkin orang uji perlu dicek otaknya dengan elektroensefalogram (EEG) untuk diuji aktivitas otaknya dan dibandingkan dengan orang normal. Atau mungkin bisa saja ada cara lain yang belum ditemukan saat ini metodenya.

Kenapa saya sekarang segini hebohnya membahas “mengilmiahkan hal magis” seperti ini? Karena saya bingung dengan masyarakat kita sekarang! Memang hal2 mistis ini merupakan bagian dari sejarah budaya, tapi di abad ke-21 ini seharusnya segala sesuatu itu mulai kita lihat dari aspek logika. Saat ini di negara kita film misteri yang bahkan dibuat secara low budget dianggap marak dimana2. Ya, itu terserah kalian kalau kalian mau menonton. Cuma hati2, semakin kalian terlarut dalam dunia mistis yang susah dijelaskan dan otak kalian berpikir bahwa “karena susah dijelaskan, maka tidak perlu dijelaskan”, maka otak kalian bisa beku. Kreativitas mati, dan keimanan pada Sang Pencipta akan mati. Karena saya percaya bahwa sebenarnya konsep suatu agama adalah membuat penganutnya untuk terus berpikir tentang SEGALA hasil ciptaan Tuhan.

Saya percaya bahwa peristiwa misterius di mana manusia terbakar tiba2 dan ahli pirokinesis bisa dijelaskan secara fisika tentang temperatur dan kimia yang saat ini belum bisa dijelaskan. Saya percaya bahwa makhluk2 gaib itu sebenarnya bisa jadi adalah makhluk hidup dari “biosfer bayangan” yang tercipta dengan basis tubuh berupa energi; memungkinkan mereka untuk bisa bergerak secepat cahaya, menembus ruang waktu, dan menguasai dualisme materi-energi sehingga nantinya menjelaskan fenomena ditemukannya benda2 asing di dalam tubuh manusia yang diduga terkena ilmu hitam. Saya percaya bahwa kemampuan persepsi ekstrasensorik (ESP) itu bisa jadi ada kaitannya dengan kemampuan prediksi cepat seorang manusia (kasus ini mungkin adalah versi ekstrim dari kemampuan seorang atlet badminton memprediksi lokasi bola sehingga bisa ia pukul dengan raket), atau jika dikaitkan dengan peristiwa astral travel yang menyebutkan konon jiwa seseorang bisa keluar masuk tubuh adalah karena sesuai dengan kepercayaan kita bahwa kita terdiri dari jiwa dan raga. Materi dan energi. Mungkin saja ada di antara kita yang bisa menguasai energi itu, dan kita tidak tahu caranya.

Ada banyak dugaan, dan saya sendiri bisa menduga lebih banyak hal lagi. Tapi kalau saya menduga tanpa teori yang cukup, orang mungkin bisa mengira saya asal sebut. Mau gimana lagi? Memang teknologi kita saat ini belum cukup tinggi untuk menganalisis hal2 magis. Mungkin suatu saat ketika manusia sudah bisa menemukan alasan2 untuk fenomena2 supranatural, bisa aja manusia2 superpower akan lahir. Beberapa di antaranya saat ini mungkin sudah bisa dijelaskan dengan sains seperti yang ada di artikel ini.

Di masa depan, siapa tau definisi penyihir itu berubah dari mereka yang membawa tongkat sihir dengan jubah besar itu menjadi mereka yang punya alat2 canggih dengan penemu alat2 itu memakai jas lab? Kita saat ini belum tau. Walaupun memang tidak semua teknologi yang terlalu gila, belum tentu bisa muncul di masa depan. Richard Dawkins pada tahun 1995 menyebutkan,

“Hukum ketiga Clarke tidak bekerja sebaliknya. Yang disebutkan bahwa “Suatu teknologi yang cukup maju adalah tidak bisa dibedakan dengan sihir” akan tidak berlaku pada “Suatu klaim kasus magis yang bisa disebutkan seseorang pada suatu waktu adalah tidak bisa dibedakan dengan teknologi yang maju dan akan muncul di masa depan”.

Sesuatu hal yang mengagetkan kita saat ini akan muncul di masa depan. Tapi begitu banyak hal yang mengagetkan kita saat ini tidak akan muncul di masa depan sama sekali.”

Itu benar juga. Begitu banyak hal yang diluar nalar kita saat ini. Ada yang netral, ada yang baik, ada yang buruk. Seperti kutipan perkataan yang saya dapat dari buku yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa kejahatan akan berimbas kejahatan. Saya juga berpikir bahwa, perlu waktu yang sangat lama untuk seorang manusia untuk memegang penuh kekuatan alam ini.

Karena saat manusia mulai mencoba meniru kekuatan Tuhan dan mulai merasa menjadi tuhan, ia akan hancur bersama dengan kekuatan yang dimilikinya. Manusia memang diminta berpikir akan segala ciptaan-Nya, tetapi saat ia mulai beralih untuk berpikir bagaimana Tuhan melakukan berkehendak atas ciptaan-Nya, maka manusia akan binasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: