Skip navigation

Dalam 2 bulan ini, 2 kali udah proyek personal saya, saya jalankan dan keduanya gagal. Keduanya merupakan sebuah proyek ambisius. Kesal karena gagal, itu pasti. Tapi untungnya, dibalik lamunan saya ketika saya memasang headphone saya dan memutar segelintir lagu, saya menyadari begitu besarnya pembelajaran yang telah saya dapatkan.

Saya bisa menjalankan proyek secara personal ini sebetulnya berakar murni dari rasa ingin tahu saya. Disokong oleh fasilitas di kampus saya tercinta, ITB, uang secukupnya, niat, dan semangat, semua itu bisa berjalan.

Proyek pertama saya, saya sebut “Project Xenoflora” dengan akar kata xenos yang berarti asing dan flora berarti tanaman. Fokus saya sebenarnya adalah ke tanaman yang sangat saya idam2kan untuk saya tanam: Rafflesia. Rasa ingin tahu yang berkembang seiring menelusuri konten internet dan berujung dengan menemukan kenalan dan teman baru yang sangat berpengalaman merupakan berkah buat saya. Tengah tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang Ketua Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu, Sofian yang ternyata punya hobi sama dengan saya (fotografi dan jalan2), sama Dr. Agus Susatya, seorang ahli Rafflesia dari Universitas Bengkulu. Mendengar cerita dari Mas Sofian, saya sejujurnya makin antusias untuk mengenal lebih lanjut bunga parasit itu. Ditambah obrolan suatu malam dengan Pak Agus (yang sebenarnya saya menemukan beliau karena buku yang beliau buat dan saya kebetulan dibawah info dari Ibu Sofi (Dra. Sofi Mursidawati, anggota LIPI Kebun Raya Bogor) saya diminta mencari “Pak Agus” (yang sebenarnya dicari adalah Dr. Lazarus Agus Sukamto)), saya jadi semakin semangat…

“Mas kalau berhasil (mencoba) di (tanaman) Rhizanthes, kemungkinan besar (saat dilakukan di) Rafflesia (akan) bisa. Dan kalau berhasil, (ini adalah) BREAK THROUGH, Langsung on the top” – SMS dari Pak Agus, 08 Juli 2012

Belum ada SEORANG PUN yang berhasil mengkultur jaringan tanaman parasit kebanggaan negeri kita yang mulai langka itu. Menjadi peneliti terhebat di dunia sekaligus penemu cara baru itu adalah mimpi terbesar saya. Membaca SMS itu ketika saya di dalam bus TransJakarta ke arah pulang itu adalah pembakar semangat saya malam itu. Namun sayang, apa daya saat itu saya belum bisa mencoba apa2. Kemudian saya pun menyusuri internet dan kembali melakukan studi pustaka, kebanyakan dengan buku referensi buatan Pak Agus tadi yang saya beli lewat Mas Sofian. Saya akhirnya menemukan literatur prosiding seminar karya Dr. Lazarus Agus. Di dalamnya beliau menjelaskan bahwa beliau mencoba mengkultur Rafflesia arnoldii dengan sampel biji dan jaringan kuncup muda. Sayang sekali, biji nampaknya mati karena diduga rekalsitran (harus tumbuh dengan sangat segera; dengan kata lain ga bisa dibawa2) dan jaringan mengalami pencoklatan yang diduga merupakan sekresi senyawa polifenol akibat oksidasi (Sukamto, 2001). Penasaran dan mencoba menelaah: Apa iya biji tanaman itu rekalsitran? Apa ada langkah yang dilupakan Pak Agus (Lazarus)? Apa ada faktor stress yang terjadi karena inisiasi? Saya menemukan jurnal Pak Agus (Lazarus) lain tentang pecoklatan pada kelapa, apa beliau mau mencoba lagi di Rafflesia? Kenapa Pak Agus (Lazarus) harus dengan segera mensterilisasi sampel jaringan langsung dengan senyawa merkuri (II) klorida/korosif sublimat dan ngga pake klorox dulu aja, sublimat itu kan juga racun buat sampel (Muna, et al., 1999). Saya gak menuduh atau mencerca, saya hanya penasaran kok.

Lalu saya pun mengunjungi Kebun Raya Bogor awal tahun ini dan akhirnya secara personal saya bertemu Bu Sofi di stand mekarnya Rafflesia patma. Saya pun secara langsung bertanya ke Bu Sofi. Beliau berkata bahwa beliau udah nyoba di berbagai media tumbuh tapi gagal, bahkan penyemaian biji pun masih gagal padahal katanya di Malaysia sudah ada yang berhasil (si ibu bilang bisa aja itu hoax, soalnya kenapa juga orang itu pelit amat ama metode dan ga pernah publish bahkan paten sekaligus?), sejauh ini yang berhasil baru dengan metode grafting (penyambungan; okulasi) batang inang Rafflesia yang diambil dari Pangandaran dan dibawa ke Kebun Raya Bogor untuk disambung ke tanaman inang yang ada di sana. Itupun setelah 4 tahun lamanya baru mekar. Jujur, saya yang penasaran masih kurang puas dengan jawaban Bu Sofi, saya akhirnya seminggu setelahnya membaca buku buatan sang penyemai benih yang katanya berhasil itu, Dr. Jamili Nais dengan buku “Rafflesia of The World”. Kaget, saya menemukan banyak penelitian… jurnal penelitian yang hanya ada di buku itu dan ga ada di mana2 lagi. Kemudian saya menyalin data2 yang saya rasa penting, misal tentang biji, perkecambahan pollen, sifat tumbuh, dan semacamnya dari buku itu. Untuk menyempurnakan teori yang ada, saya menemui guru SMU saya yang menhajar biologi dan seorang mentor kebanggaan saya sejak SMU, Pak Hari Prasetyo. Beliau yang di proyek tugas akhirnya melakukan penelitian kultur embryo kelapa kopyor ini memberi banyak masukan soal media tumbuh kepada saya. Pada akhirnya, saya menyusun proposal penelitian ke dosen saya, Bu Totik di kampus. Tapi beliau menolak, dengan alasan saya bakal lelah dan penelitian terlalu singkat. Wajar sih, saya mengajukan untuk pergi naik bus ke Bengkulu karena saya takut gak lolos di bandara dan bahkan ijin untuk mengambil sampel aja harus ada surat dari Departemen Kehutanan, LIPI, dan kampus saya sendiri (yang sebenernya paling gampang didapat kalo udah diterima dosen). Akhirnya saya pun memendam ide itu sampai suatu saat bisa terealisir.

Tak diduga, beberapa minggu setelah itu, salah satu teman saya, senior saya yang sedang kebetulan pergi ke Pangandaran untuk mengambil sampel untuk inventarisasi biota gak sengaja dapat potongan “ranting” yang ternyata adalah kuncup muda Rafflesia patma di inangnya. Itupun dia panik awalnya harus gimana. Sampai akhirnya saya bilang bawa dalam keadaan didalam tisu basah (karena saya kira dia bawanya mahkota, bukan kuncup), dan ternyata baru diperlihatkan ke saya 12 hari setelahnya dalam keadaan bau kentang busuk. Daripada dibuang sayang, mendingan langsung saya otak-atik aja. Saya waktu itu ngrasa kaget, sekaligus panik, senang, tapi bingung! Pas saya di lab, kebetulan di sana ada medium kultur Murashige-Skoog (MS) dengan senyawa asam indolbutirat (IBA) dan benzilaminopurin (BAP) untuk inisiasi kalus (jaringan belum terdiferensiasi yang biasanya diinduksi dari jaringan dewasa buar jaringan itu bisa diperbanyak) yang ternyata dilengkapi dengan karbon aktif di dalamnya. Karbon aktif berperan sebagai absorban senyawa polifenol yang menimbulkan pencoklatan. Awalnya saya takut kuncup itu sudah mati. Tapi begitu saya iris batang inangnya mendekati bagian kuncup, ternyata warna batangnya masih putih! Nice! Kemudian saya pun melakukan “manuver” tambahan dengan saya sterilisasi dengan api dan propineb, senyawa fungisida selama 1 jam setelah pencucian di bawah air mengalir.

Kemudian saya ke lab steril dengan laminar air flow table. Sebelumnya bahkan karena euforia, saya sampai menelpon 2 orang teman saya untuk minta doa biar proses ini berhasil. Kalimat Pak Agus (Susatya) tadi, dan kalimat dari teknisi lab saya, Bu Tita yang bilang bahwa ada tanaman yang justru harus lewat fase pencoklatan dulu baru kalusnya muncul, sama rasa penasaran membuat saya kemudian maju ke titik Vee 1 (istilah pilot, kondisi kecepatan minimal pesawat tak bisa berhenti lagi di atas landas pacu apapun yang terjadi, walau mesin rusak dan pesawat harus tetap terbang). Serius, seiring pisau scalpel saya ayunkan dan menebas sampel, saya kaget dan panik. Ini apa ya?? Apa saya lagi membelah tanaman dari planet lain??

_MG_6737

Saya mau nanya ama pembaca yang awam, tanaman Bumi mana coba yang bentuknya kayak gini pas dibelah??

Bayangan hipotesis saya pun buyar semuanya. Bingung saya mencari mana yang jaringan meristem (jaringan tumbuhan yang aktif membelah) dan harus saya isolasi. Akhirnya saya mencoba membelah bagian terdalam sampel dan memotong jaringannya ke medium tanam. Dua jam berlalu dan saya deg2an. Kemudian saya masukkan sampel ke lab penyimpanan kultur. Sejenak, saya menghela nafas sambil melihat penghuni lab yang cantik2. 2 jam kemudian, sebelum saya pulang, saya melihat apa yang saya tanam tadi di lab penyimpanan. Kaget saya, sampel mencoklat seperti yang dirujuk Pak Agus (Lazarus)! Bahkan di periode yang masih 2 jam!

Dua hari berlalu, pencoklatan semakin menyebar di media tumbuh. Wah, ternyata karbon aktif gak sanggup menyerap semua sekresi polifenolnya. Dua minggu kemudian, saya kembali setelah dapat info bahwa 4 jaringan dari 6 terkontaminasi jamur. Percaya diri, saya memindahkan 2 jaringan tersisa ke media MS IBA + Kinetin tanpa karbon (karena saya liat udah ga ada tanda2 pencoklatan lebih jauh lagi). Sayang banget, 1 minggu kemudian keduanya jamuran.

Photo-0244

Ini kapang atau salju dah…

Pelajaran yang saya dapat:

Ilmiah: Saya butuh senyawa antioksidan atau jaringan lain dan sampel harus segar! Biar gitu saya menduga bahwa polifenol yang dihasilkan menghambat pertumbuhan jamur. Kenapa? Jamur yang biasanya bisa tumbuh di media terkontaminasi bisa cuma dalam 2-3 hari, ini bisa bertahan sampai sebulan! Plus, sekresi polifenol yang menyebabkan pencoklatan cuma terjadi dalam beberapa hari. Artinya dalam beberapa hari itu harus diperlakukak khusus.

Moral: Ngotak-atik Rafflesia… biar gagal, totally worth it!

Screen Shot 2013-02-13 at 1.36.36 AM

Like a boss!

Satu bulan berlalu sejak saya memutuskan bahwa penelitian saya tentang Rafflesia bakal saya pending dan saya juga harus nyoba ke tanaman parasit yang minor dulu. Sayang banget kalo saya bawa sampel tanaman langka itu dan gagal. Saya butuh tanaman holoparasit yang lebih kecil buat saya coba di Proyek Xenoflora II nanti.

Saya pun kembali ke lab. Misi? 3 hal:

  1. Latihan menyemai biji Acacia di media MS sesuai arahan Bu Totik,
  2. Menyemai biji Welwitschia mirabilis, dan
  3. Menginisiasi kalus dari daun Amorphophallus titanum.

Soal nomer 2 dan 3, itu udah saya jelaskan di tulisan saya yang ini secara cukup detail dan saya sebut sebagai “Project Gigaflora” karena ukuran tanamannya yang besar2 dan unik itu dan dari 3 itu, 2 itu benar2 proyek saya sendiri. Dua minggu berlalu setelah momen di tulisan tadi. Saya pun menghela napas setelah melihat hasilnya…

  1. Tumbuh sempurna
  2. Masih belum tumbuh
  3. Jamuran

Untuk Amorphophallus di sini, saya jengkel setelah sadar bahwa insting saya yang gak tegaan ama sampel malah membuat si daun itu terkontaminasi. Klorox yang saya pake kurang kuat! Ah kesal!! Saya lebih kesal daripada kasus yang Rafflesia. Kenapa? Iya lah! Mending kalo yang Rafflesia jamurannya tertunda jadi pasti ada sesuatu, lah ini… TOTAL FAIL! Bahkan saya bisa ngeliat muka troll di atas kapang yang tumbuh di atas media…

avatar_6feb8634e3d0_128

Seolah kapangnya bilang: Masalah, bro??

Pelajaran yang diambil:

Ilmiah: Buat Amorphophallus, itu di atas udah disebut. Welwitschiastatus quo… belum tumbuh juga.

Moral: Amorphophallus…dan kapang sial itu… “Jangan remehkan keadaan yang awalnya kita kira biasa, padahal hal buruk… kejahatan bisa terjadi tidak hanya karena ada niat pelakunya, melainkan karena ada kesempatan. Waspadalah! WASPADALAH!” (comot dikit dari kata Bang Napi dah tuh) dan “Jangan pernah membiarkan kejahatan sekecil apapun untuk berkembang hanya karena ketidaktegaan kita”. Welwitschia… tanaman yang bahkan saya ga bersihin ulang, tapi adem2 aja, ga jamuran. Padahal di tanah bahkan jamuran/berpenyakit secara ga jelas. Jadi… “Kadang kita tidak boleh merasa gagal begitu kita merasa salah, karena kadang dibalik kegagalan ada keberhasilan dan pelajaran yang bahkan kita belum pernah tau.” Di luar Proyek Gigaflora ada tanaman Acacia… ini sih jelas tumbuh dan berhasil… “Segala sesuatu yang direncanakan dan mengikuti prosedur yang sudah dilakukan berkali2 dengan baik, maka akan berakhir baik.”

Moral utama cerita ini adalah sama seperti kata Thomas Alva Edison dalam menemukan bohlam lampu:

“Saya tidak gagal 2000 kali, saya hanya menemukan 2000 cara untuk tidak membuat bohlam lampu.”

– Thomas Alva Edison, penemu bohlam lampu.

Ya begitulah pembaca sekalian… Ayo kita nikmati foto kultur Acacia yang berhasil berkecambah ini dengan latar biji Welwitschia yang belum tumbuh…

_MG_8942

PS: Saya sengaja membuat sebagian data tidak disebutkan. Penelitian adalah persaingan, kawan!

PPS: Bedakan kapang dengan jamur. Dalam fungi, ada 3 macam, khamir yang bersel tunggal, jamur yang besar dan punya tubuh buah yang biasa kita liat, dan kapang yang kayak kapas bentuknya.

PPPS: Gambar terakhir kekecilan? Biar aja… saya ga mau Welwitschia yang belum tumbuhnya keekspos!

Referensi:

Muna, A.S., A.K. Ahmad, K. Mahmoud, K. Abdul-Rahman (1999). “In vitro propagation of a semi-dwarfing cherry rootstock.” Plant Cell. Tissue and Organ Culture 59: 203-208

Sukamto, L.A. (2001). “Upaya Menumbuhkan Rafflesia arnoldii Secara In Vitro.” Proceeding Seminar Nasional Puspa Langka Indonesia, Bogor 16 Juni 2001. ISBN/ISSN: 979-96901-0-2

Sumber gambar:

Rage Comics (udah umum di internet, ketik “Like a boss“, atau “trollface” dan “rage comics” aja untuk dapet komik gambar di atas).

Gambar kultur yang berjamur oleh Soraya Mahani.

Sisanya dokumentasi pribadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: