Skip navigation

Screen Shot 2013-02-11 at 6.38.26 PM

Saya lagi pengen iseng nulis uneg2. Saya ntah kenapa merasa cara gampang saat ini untuk terkenal atau eksis itu adalah melakukan hal bodoh. Iya gak?

Saya mikir, sekarang itu ada acara yang sifatnya tidak mendidik, padahal niatnya adalah ingin melawak, orang2nya main fisik; berlagak seperti orang bodoh. Ingin jadi presiden, gampang… nyolot aja di media sosial. Bahkan yang gak sengaja, misal emang ntah seseorang ingin membuat sebuah film yang “epic”, tapi malah jadi terkenal karena dihujat massa. Lucunya, kemudian ada orang2 yang membuat kritik atas acara itu dan mencerca habis2an. Memang, sebenarnya mereka juga salah (media nya), tapi sadar gak para pembaca sekalian, bahwa faktor penentu ketenaran dan keberlangsungan media itu sebenarnya adalah massa itu sendiri termasuk kita? Ya… kita adalah bagian dari massa.

Sekarang, sebenarnya kita sudah hampir bisa dibilang memasuki era augmented reality, atau realita yang terhubung. Terhubung? Ya, antara virtual dan realita hampir susah dibedakan. Kalau pembaca gak percaya, jawab pertanyaan2 di bawah ini dengan ya/tidak:

  1. Anda punya media sosial Twitter. Kemudian Anda menemukan angka follower Anda berkurang. Menggunakan situs ini, Anda menemukan bahwa unfollower itu adalah sahabat Anda sendiri. Apakah Anda kesal?
  2. Anda punya media sosial Facebook. Kemudian  Anda mendapati bahwa seseorang yang begitu dekat dengan Anda melakukan proses “unfriend” sehingga Anda bukan teman dia lagi di Facebook. Apakah Anda gelisah?
  3. Anda lebih mengikuti dan aktif mencari serta mengkomentari berita aktual di sosial media yang disebar oleh teman2 Anda atau halaman yang Anda “Like”. Apakah itu benar?

Saya gak mau sok tau, tapi kalo jawaban di atas kebanyakan adalah “Ya”, maka pembaca sekalian bisa dianalogikan dengan sebuah sel saraf di antara sel2 saraf lain yang saling terjalin satu sama lain di dunia ini. Sistem Augmented reality bisa disebut sebagai sebuah kumpulan otak individu yang berkerja dan berinteraksi di sebuah sistem.

Kembali lagi ke soal media dan kebodohan. Kalau pembaca kurang suka dengan sebuah artikel atau acara atau seseorang di media, memberi mereka kritik menurut saya adalah cara yang salah, kecuali mereka terbukti langsung mendengar kritik para pembaca sekalian, atau pembaca kenal secara personal orang2 yang bersangkutan atau bekerja dibalik media itu. Lalu kita harus bagaimana? Jawabannya gampang! Apakah itu? Diam.

“Silence is golden”

Istilah kuno ini ternyata memang benar. Bahkan di agama kita, kita diajarkan untuk diam saat kita ingin melawan tapi tidak punya kekuatan atau bukti yang kuat. Perlu diperhatikan, bahwa diam di sini adalah ketika kita sudah mencari tahu dengan pasti mengenai apa yang kita kurang suka itu. Kesalahan besar adalah kita menjadi diam dan apatis jika kita membenci sesuatu, padahal segala sesuatu di dunia itu memiliki alasan untuk muncul. Adalah kewajiban kita untuk mencari tahu latar belakang munculnya sesuatu yang kita benci itu.

Kita ambil contoh: Ada tokoh A. Dia nyolot banget di media sosial. Terus kita bahas itu orang mati2an di media itu atau kita tonton dia terus2an sambil mencerca. Itu adalah langkah yang menurut saya kurang tepat. Langkah yang tepat adalah: keluar dari media yang berisi komen2 panas itu, dan matikan TV atau radio. Mulailah mencari mengapa orang itu annoying dan menyebalkan. Apa? Males?? Ya udah, mending diem! Kalau mau mencerca, ya udah di luar media aja (mending pas saat ngobrol ama temen). Karena apakah kalian tau bahwa dengan kita nongkrong di depan TV atau radio, kita bisa menambah angka pembaca/pendengar di stasiun TV/radio itu dan menaikkan nilai rating? Nilai rating naik, staff mereka menganggap topik tentang orang itu layak dikupas terus. Hasil? Kita tambah capek!

Lihat? Memang… hidup itu bukan sekedar iya atau tidak. Tapi apakah kita bergerak untuk melihat lebih luas, atau kita memilih diam dan tidak merusak sistem lebih lanjut. Sayang sekali, kita sering lupa dengan hal ini. Gak terkecuali saya sendiri…

Semoga kita bisa membuat peradaban kita menjadi peradaban yang cerdas di masa depan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: