Skip navigation

The_Aura_of_Water_Droppings_by_VongneeseShaper5889

Yak, lagi2 saya membuka sesi obrolan. Jujur sih, saya lagi seneng banget diskusi ama orang dan lagi belum nemu ide buat ditulis dan dikembangin yang berasal dari diri sendiri. Mungkin berikutnya saya akan menemukan ide buat itu. Hehehe.

Obrolan kali ini, saya mendapat pelajaran menarik dari teman dekat saya bernama Anggraini Suwito yang akrab dipanggil Rey. Dia lulusan Raffles College of Art Singapura. Sambil menyeruput Red Velvet Latte, malam ini kami membahas soal pesan2 yang bisa ditangkap oleh tubuh secara tersirat atau di bawah kesadaran kita.

Menyambung dari posting saya sebelumnya tentang pemikiran keras saat di WC, Rey menyampaikan ke saya bahwa saat kita di WC dan diam, otak kita berada di kondisi theta. Kondisi seperti ini adalah kondisi di saat sugesti2 bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar (dengan kata lain, ini adalah kondisi yang ditrigger para ahli hipnotis untuk memberi perintah kepada targetnya). Menariknya adalah, kondisi seperti ini adalah kondisi yang bisa dimanfaatkan pasangan untuk menambah kemesraan hubungan mereka. Bingung kan? Saya juga awalnya. Caranya adalah dengan memasukkan pesan implisit positif ke dalam omongan.

Suami: *sedang bongkar muatan di WC*

Istri: Sayang, nanti mau makan apa?

Sepele emang. Mungkin bisa aja si suami mikir “Ini istri gw ngapain deh, gw lagi ngeden gini nanya2 gw” atau “Wah, istri gw baik bener pagi2 gini. Ada apaan yak?” Weits! Jangan mikir yang negatif dulu! Di sinilah justru sisi menariknya!

Dalam ajaran agama manapun, kita pasti diajari untuk bersikap lemah lembut kepada siapapun. Terlebih lagi kepada orang tua, pasangan, dan anak kita. Ternyata ucapan itu tidak bohong. Sekarang coba dipikir. Saat otak kita berada di kondisi theta dan siap menerima pesan2 apapun dan saat percakapan di atas terjadi, kata “Sayang” yang terucap lembut oleh sang istri akan terserap secara subconscious. Memberi pesan tersirat: Istriku baik dan sayang sama aku. See?

Lebih teraplikasi lagi, kalo dibisikkan ke telinga anak/adek/sepupu/pasangan/teman (iseng banget) kalo dia lagi mengigau. Kondisi otak saat itu terjadi juga pada kondisi theta. Rey memberi contoh di pengalaman dia tadi. Dia punya saudara yang masih kecil dan bandel. Suatu saat bocah itu tidur dan mengigau, Rey datang ke sisi si bocah, dari telinganya dia membisikkan pelan2:

Kamu itu anak yang baik, berbakti kepada orang tua, dan baik sama Rey.

Beberapa kali secara berulang2. Setelah beberapa kali, si bocah itu jadi lebih nurut. Wow. Mungkin sekarang saya ngerti, kenapa orang tua di jaman dulu biasa di sisi anaknya pas tidur, sambil ngelus2 kepala anaknya dan bilang kayak gitu, dan anaknya tumbuh nurut dan jadi anak yang baik ke mereka. Logis juga kalo di antara para pembaca ada yang nonton film kartun Dexter’s Laboratory di episode yang dia dengerin kaset pelajaran Bahasa Perancis semalaman (smabil tidur) dan saat kalimatnya nyangkut di “Omelette au fromage” (Pr: omelet keju), besoknya Dexter seharian cuma ingat ngomong itu doang!

Hal lain adalah bahasa tubuh. Adalah lebih efektif saat kita menatap mata lawan bicara kita dengan muka yang penuh perhatian, tutur kata yang lemah lembut, dan kalau perlu kontak tangan. Kontak tangan? Kita sebenarnya tau kok konsep ini. Gini deh: Saat kita di samping teman kita, teman kita ngotot, akan lebih ngena kalau kita menegur dia dengan nada yang lebih rendah intonasinya, bahasa yang sopan, dan dengan tangan menempel di bahu teman kita. Kalau di kasus yang Rey ceritakan, dia menegur bapak2 yang sedang merokok dengan sambil menempelkan tangannya di bahu si bapak itu (yang lagi duduk) dan bilang,

Pak, maaf, bisa dimatiin rokoknya?

Ah… apa ya… tadi kayaknya kalimatnya Rey lebih alus dari itu. Ya intinya gitu deh!

Kesimpulannya, pesan2 tersirat itu kadang terlupakan oleh kita, khususnya para pria (saya rasa, saya jujur cukup iya sih). Dari bahasan saya sebelumnya, bahkan ada simbol2 penting yang terlupakan oleh kita di kehidupan sehari2 yang sebenarnya bermakna penting untuk memberi sugesti positif kepada alam bawah sadar kita, sehingga kita bisa menjadi diri yang lebih baik. Kemudian, sikap santun dan lembut, akan selalu mengalahkan kekerasan lawan kita. Petarung aikido bisa dengan lembutnya membalikkan energi lawannya. Tetesan lembut air bisa melubangi batu karang. Kelembutan tutur kata kita, akan bisa meluluhkan hati yang beku.

Gambar: http://vongneeseshaper5889.deviantart.com/art/The-Aura-of-Water-Droppings-106215650

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: