Skip navigation

Sore ini, saya abis pergi sama temen saya ke Goethe Institut di kawasan Sam Ratulangi, Jakarta Pusat. Saya ama temen saya ini kejebak ujan, jadi kami neduh di Pasar Festival dan sorenya pas udah reda, kami cabut ke rumah saya. Teman saya namanya Ariananda Hariadi (Aria), lulusan biologi ITB 2008 (adek kelas saya). Obrolan sore ini jujur seru banget, mengupas aspek etologi (biologi perilaku) manusia atas kebudayaan di negara kita.

Aria awalnya mengupas ulang teori yang pernah gw dapet pas kuliah tentang metode alterasi perilaku atau conditioning berbasis restriction, reinforcement, reward and punishment yang dilakukan Ivan Pavlov. Lalu berlanjut ke pernyataan dari Sigmund Freud yang menyebutkan bahwa kita secara sadar hanya menggunakan 20% dari otak kognisi kita, sisanya adalah sistem kognisi rumit bawah sadar yang bisa berefek ke proses fisiologi tubuh (soal kaitan placebo effect dan evolusi kompleksitas manusia akan saya bahas lain waktu).

Dari konsep bawah sadar yang disebut tadi, Aria mulai menjelaskan tipografi dan persepsi manusia. Begini, tipografi atau ilmu tentang huruf dan tulisan ini sebenarnya berakar dari persepsi manusia. Ini menjadi alasan, adanya impresi yang berbeda ketika kita membaca tulisan dengan huruf atau font yang spesifik. Coba bayangkan, melihat font berdarah2 di majalah mistis akan membuat kita berpikir bahwa konten di dalamnya adalah hal2 menakutkan.

Kita bergeser ke konsep garis. Garis siku akan menimbulkan kesan tajam seperti pisau dan berbeda dengan garis lengkung yang lebih fleksibel. Konsep ini bisa kita kaitkan ke bagian dari budaya negeri ini: Batik. Batik tambal yang berbenuk kotak2 sebenarnya menyimpan makna bahwa pemakai sedang sakit. Garis2 di suatu pola batik bisa memberi impresi bahwa pemakai itu adalah orang yang kaku atau jika bersiku, pemakai bersifat tajam. Pola burung di batik bisa menyimbolkan kebijaksanaan dan akan memberi kesan simbolis saat dipakai seorang pemimpin.

Dari bahasan tentang kesan dan persepsi simbolis ini, jika kita lihat lebih dalam ternyata memiliki pesan dan sugesti tersendiri. Dengan ini, pernyataan2 takhayul kuno yang tersebar rata di budaya kita sebenarnya memiliki nilai kebenaran secara ilmiah, bukan hal mistis terkait pseudosains. Mengapa? Karena takhayul memberikan pesan tersirat! Coba ini: Berdiri di tengah pintu itu bisa menolak rejeki. Ayo kita telaah: Iya lah! Ngalangin jalan orang lewat! Terus: Banyak anak, banyak rejeki. Analisis: Sebenarnya iya jika kita melihat secara positif, mengapa? Jika kita punya anak, kita akan punya semangat lebih untuk mencari nafkah agar mereka semua tumbuh dengan baik. Bekerja dengan baik dan benar ditambah doa = insya Allah mendatangkan rejeki. Kan uangnya dipake buat keluarga, terus abis… Tapi dapet kan? Tapi serius… jangan kebanyakan buat anak. Indonesia udah penuh! Liat kan? Sebenarnya pesan2 takhayul ini berakar dari pemikiran orang2 sepuh di negara kita yang dengan bijak sudah tahu apa masalah yang ada di sekitar mereka dan mereka menyampaikannya kepada generasi muda secara implisit agar kita berpikir. Namun sayang, karena implisit kita jadi suka salah mengartikannya dan mengaitkannya dengan hal2 mistis atau malah dianggap remeh sehingga dilupakan.

Aria pernah mengunjungi seminar budaya dengan Dr. Bambang Hidayat (mantan ketua Observatorium Bosscha, astronomi ITB) dan Pak Bambang mengatakan bahwa sains dan seni harus bisa berjalan dengan seirama. Beliau juga menceritakan bahwa beliau pernah membaca jurnal buatan ilmuwan Belanda terbitan tahun 1930an tentang hutan angker di Indonesia. Menariknya ternyata makna angker di sini berbeda dengan hal2 berbau mistis yang di kepala kita kebanyakan. Angker diambil dari kata bahasa Belanda, anker yang dalam bahasa Indonesia adalah jangkar (anchor dalam bahasa Inggris). Lho, terus hubungannya apa? Hutan di kawasan yang disebut angker itu adalah hutan kunci dari penduduk lokal. Hutan itu merupakan area resapan air, cagar alam, dan dilindungi oleh penduduk setempat. Dengan kata lain, sebenarnya konsep hutan angker itu adalah hutan sakral yang dilindungi. Mungkin yang saya tangkap, karena dilindungi dan tidak boleh tersentuh ini lah persepsi orang2 mulai mengarah ke mana2.

Akhir diskusi saya dengan Aria menyimpulkan, ada banyak hal tersirat di balik budaya kita. Namun sayang orang saat ini terlalu berharap mendapatkan yang instan tanpa berpikir lebih dalam akan makna yang ada. Padahal, dibalik ketersiratan itu, terdapat nilai seni dan budaya yang ada turun temurun dan memiliki keindahan tersendiri. Kita bawa ke contoh nyata saat ini. Ingat lagu2 era 1990an? Lagu2 cinta buatan alm. Chrisye punya keindahan tersendiri. Misal ini lagu “Kisah Kasih di Sekolah”, dengarkan baik2 dan resapi liriknya:

Malu aku malu, pada semut merah

Yang berbaris di dinding, menatapku curiga

Seakan penuh tanya, “Sedang apa di sini?”

“Menanti pacar” jawabku

Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa

Kisah kasih di sekolah, dengan si dia

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah

Tidah kisah paling indah, kisah kasih di sekolah

Perhatikan, ga ada kalimat2 atau kata2 permohonan yang cengeng kan? Lagu ini membuat kisah cinta itu tinggi, indah, manis, dan wah. Berbeda dengan lagu2 sekarang yang “jujur”, merengek2, dan menunjukkan kelemahan seseorang karena cinta. Ya, saya akui cinta bisa membuat kita gila dan lemah kepada pasangan kita. Tapi sebetulnya, kelemahan itu tidak perlu ditontonkan. Kita ambil lagi contoh lagu ini:

Aku tahu ku takkan bisa, menjadi seperti yang engkau minta

Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba

Aku tahu dia yang bisa, menjadi seperti yang engkau minta

Namun selama aku bernyawa aku kan mencoba

Menjadi seperti yang kau minta

Liat? Cinta membuat kita mendapat inspirasi untuk menjadi lebih baik! Nggak jadi memble!

Pernyataan umum orang2, “Kok gitu sih, biar gimanapun kan itu karya anak bangsa kita!”

Saya bilang ke kalian yang ngomong gitu, “Sebelum ngomong, kenali dulu dong… bahwa orang2 sebelum kalian selalu mengajarkan kalian kebaikan dan kekuatan. Itulah budaya bangsa kita. Budaya ksatria! Kenali secara dalam nilai2 yang tersirat dari karya seni kita dulu, sebelum berkoar2.”

Memang, jujur saya secara personal tepok jidat ama generasi sekarang. Kecil2 diajarin cinta2an yang “frantically romantic“, padahal dulu kayaknya cinta itu hal yang lucu saat saya muda, cinta monyet mereka bilang. Terus ngebuat grup musik yang katanya karya anak bangsa, padahal kenyataannya karya itu karya serapan negara lain.

Jadi saya menganjurkan, yuk kita mengerti konsep yang udah ada dari dulu. Menarik kok, mempelajari nilai2 seni dan budaya peninggalan leluhur kita. Karena mereka udah tau, ada nilai tersimpan yang hanya terbuka oleh dunia bawah sadar mereka2 yang mau berpikir.

Iklan

2 Trackbacks/Pingbacks

  1. […] itu kadang terlupakan oleh kita, khususnya para pria (saya rasa, saya jujur cukup iya sih). Dari bahasan saya sebelumnya, bahkan ada simbol2 penting yang terlupakan oleh kita di kehidupan sehari2 yang sebenarnya bermakna […]

  2. […] belajar (baca ini), bahwa segala sesuatu karya manusia itu memiliki makna. Bahkan mitos, legenda, takhayul, dan mungkin misteri2 di sekitar kita itu semua ada penjabarannya (baca contohnya di sini) lho! Di […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Learning The Blues

Be blue, be smart

Bunny Eats Design

Happy things, tasty food and good design

Cooking in the Archives

Updating Early Modern Recipes (1600-1800) in a Modern Kitchen

sapereaude

Go ahead Universe, ping-pong Me as You please..

Jurnal Amdela

Saya menulis, maka Saya ada.

Mawi Wijna on WordPress

Just another Wijna's weblog

ARief's

just one of my ways to make history

mechacurious

curiosity on mechanical stuff, hobbies, and some more...

TOPGAN ORGANIZATION

TOPGAN organisasi yang turut membangun bangsa

ramdhinidwita

Please Correct Me If I am Wrong

Ganarfirmannanda's Blog

Just another WordPress.com weblog

My Life in Europe

because studying abroad isn't always about studying.

Silent Servant's Notes

Short Way to Serve Well

The Strangeman

Melihat Dunia Lewat Kacamata Pijar Riza Anugerah

Being Slaved by Figures

one figure at a time

the bakeshop

bread hunter + cycling + travelling + urban ecology + architecture + design

Catatan Perjalanan Sang Bayu

I know who I am. I know what I want. What about you?

Hari Prasetyo's Blog

Just super stories of my life

%d blogger menyukai ini: